CHAPTER 26

Bertahanlah meski rasanya menyakitkan. Kuatlah meski kau ingin menyerah.

Tapi, mudahkah semua itu dilakukan?

Bisakah ia bertahan setiap kali rasa sakit itu membuatnya ingin menyerah?

"Sudah terlalu malam, Deoryeonim. Sudah saatnya kita pulang," ajak Paman Han, sopir yang biasanya mengantar jemput Kyuhyun ke mana pun ia pergi.

"Sebentar lagi, Ahjussi. Aku masih ingin di sini," tolak Kyuhyun.

Matanya masih nanar menatap bangunan besar yang berdiri megah di hadapannya. Bangunan rumah yang selama lebih dari sepuluh tahun menjadi tempatnya tinggal dan bernaung.

"Sebentar lagi Tuan Cho pulang. Anda tentu tidak mau menimbulkan banyak masalah kan, Tuan Muda?" bujuk Paman Han lagi.

Sejak menjemput Kyuhyun pulang dari sekolah dua jam yang lalu, mereka ada di sini. Mengawasi rumah yang terlihat sepi dari luar. Kyuhyun ingin masuk ke dalam rumah itu, namun Paman Han berhasil mencegahnya. Ia takut Kyuhyun terlambat pulang seperti beberapa hari yang lalu. Ia juga tidak mau bermasalah dengan majikannya karena melanggar perintah untuk segera membawa Kyuhyun pulang ke rumah seusai sekolah.

"Kita pulang sekarang, Paman Han," ajak Kyuhyun kemudian yang membuatnya menarik napas lega.

Membujuk tuan muda kecilnya itu memang susah. Yang ada biasanya ia yang menyerah karena tidak kuasa menolak rengekan dan ancamannya.

"Kita bisa kembali lagi ke sini kapan-kapan, Tuan Muda. Tuan Cho sering pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri. Anda bisa mengunjungi rumah Anda lagi saat Tuan Cho tidak di rumah," hibur Paman Han.

Kyuhyun mengangguk. Paman Han memang baik. Ia selalu berusaha menuruti semua kemauannya. Kyuhyun sudah mengenal Paman Han sejak masih kecil. Paman Han dulu juga menjadi sopir pribadi ayahnya semasa masih hidup.

Di rumah Cho, Kyuhyun hanya bisa merasa nyaman karena ada Paman Han. Kakeknya sering pulang malam. Kyuhyun hanya bertemu dengan kakeknya itu saat makan pagi. Kyuhyun sebisa mungkin juga menghindari pamannya karena ia tak mau mencari masalah dengan pamannya itu. Kyuhyun tahu pamannya itu amat tidak meyukainya dan berharap Kyuhyun tidak ada di rumah itu.

Kyuhyun sering meminta tolong apa saja yang bahkan mungkin Paman Han merasa khawatir jika mengabulkannya. Hal sembunyi-sembunyi seperti ini hanya bisa Kyuhyun lakukan bersama Paman Han.

Kyuhyun memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran jok saat Paman Han melajukan mobil meninggalkan rumah keluarga Choi. Meski rasa rindunya tak tertahan lagi, namun ia berharap kapan-kapan ia bisa ke sana lagi. Hanya menatap dari seberang jalan pun, Kyuhyun sudah merasa senang.

"Tuan Muda, nampaknya Tuan Cho sudah pulang. Mobilnya ada di halaman," kata Paman Han sesampainya di rumah keluarga Cho.

Kyuhyun yang hampir terlelap pun terhenyak. Tak biasanya kakeknya itu pulang cepat. Biasanya beliau tiba di rumah menjelang tengah malam. Kyuhyun melirik jam tangannya, baru jam sepuluh lebih sedikit. Urgh, biasanya Kyuhyun selalu ada di rumah saat kakeknya itu pulang. Sekarang ia harus menyiapkan alasan yang masuk akal supaya kakeknya itu tidak merasa curiga.

Kyuhyun tersenyum sambil membolak-balikkan badanya di atas kasur empuknya yang selama beberapa bulan terakhir tak ditidurinya. Tangannya yang cekatan sedang memencet-mencet tombol PSP kesayangannya yang sekian lama sudah tak pernah dibelainya lagi.

"Berhenti tersenyum sendiri! Atau orang lain akan menganggapmu sudah gila," tegur Siwon.

"Kau menyebalkan, Hyung. Aku sedang senang. Jangan menggangguku!" sungut Kyuhyun.

Kepergian kakeknya selama empat hari ke Macau membuatnya merasa bebas. Ini malam kedua ia menginap di rumah keluarga Choi.

"Gigimu tak terasa kering karena terlalu banyak tersenyum kan?" goda Siwon.

Siwon merasa senang tentu saja. Kyuhyun yang mengejutkan seluruh keluarganya 2 hari yang lalu dengan kepulangannya yang tanpa pemberitahuan berhasil mengharu-birukan suasana rumah yang kosong. Ibunya yang selalu sedih terlihat lebih berseri-seri.

"Kau tetap menyebalkan, Hyung," kata Kyuhyun kesal.

Kakaknya itu tak berhenti menggodanya, membuatnya kesal dan cemberut. Belum lagi dengan tingkah Siwon yang keterlaluan bahkan memaksa tidur sekamar dengannya.

"Tapi kau merindukanku, kan? Meskipun kau selalu bilang aku menyebalkan, toh aku tetap Hyung nomor satu bagimu, kan?" ucap Siwon sambil memamerkan senyum lebarnya.

"Tentu saja tidak. Kalau aku punya hyung lebih dari satu, aku akan menempatkanmu di urutan terakhir!" balas Kyuhyun cepat.

Choi Siwon merengut mendengar jawaban Kyuhyun itu. Ia sudah merindukan adiknya itu setengah mati, namun Kyuhyun berlagak seolah-olah dirinya tak berarti apa-apa untuk dirindukan.

"Jadi, kau pulang hanya untuk eomma?" tanya Siwon sedih.

Tawa Kyuhyun hampir menyembur melihat wajah Siwon yang seperti orang kalah perang. Matanya berkaca-kaca dan raut wajah yang dibuat menyedihkan tak membuat Kyuhyun merasa iba malah ingin tertawa mengejeknya.

"Jangan bertingkah seperti anak kecil yang tidak mendapat mainan kesukaannya, Hyung! Sudah tidak pantas dengan badan besar dan berototmu," ejek Kyuhyun.

"Eomma sangat beruntung. Siapa pun mencarinya, siapa pun merindukannya. Jika eomma semenit saja tak terlihat semua orang akan ribut mencari keberadaannya. Apalah aku yang hanya remahan," ratap Siwon.

"Stop, berhenti sampai di sini! Arra, arra, aku juga merindukanmu, Hyung. Puas!" kata Kyuhyun.

"Aku tahu kau juga merindukanku!" teriak Siwon senang sambil memeluk Kyuhyun yang membuatnya kehabisan napas karena sesak.

"Kau mau membunuhku, Hyung? Kau tahu lenganmu itu seperti apa?" protes Kyuhyun sambil mengirup udara banyak-banyak.

"Mianhe, aku terlalu senang. Jadi, sampai berapa lama kau tinggal?" tanya Siwon.

"Kau mau mengusirku?" tanya Kyuhyun.

"Bukan itu. Aku hanya ingin tahu sampai berapa lama kau tinggal. Kalau kau tinggal di sini lagi selamanya, itu akan lebih bagus kan?" ralat Siwon.

"Harabeoji hanya 4 hari di Macau. Lusa aku sudah harus pulang. Aku tak mau kalau harabeoji sampai tahu aku menginap di sini selama beliau pergi," jawab Kyuhyun.

"Kau yakin tak ada yang mengadu pada harabeoji-mu kau tak pulang selama 3 hari?" tanya Siwon lagi.

"Semoga saja tidak. Paman Han bisa aku percaya. Asisten rumah tangga di rumah selama ini tak ada yang suka bermulut ember. Samchon juga sering bepergian. Aku jarang bertemu dengannya di rumah," jawab Kyuhyun.

"Semoga saja seperti itu. Aku tak mau menambah masalah dengan harabeoji-mu itu. Ia sangat keras kepala. Tak mau mendengar apa pun pendapat orang lain," keluh Siwon.

"Harabeoji memang keras, tapi sebenarnya ia baik. Hanya saja kriteria baik antara kita dan harabeoji memang berbeda," sahut Kyuhyun.

"Kau lebih bahagia tinggal di sana?" tanya Siwon.

Meskipun hati kecilnya menolak jika Kyuhyun suka tinggal bersama kakeknya itu, namun Siwon juga ingin adiknya itu merasa bahagia di mana pun ia berada.

"Kalau disuruh memilih tinggal di sini atau di rumah harabeoji, tentu aku lebih memilih tinggal di sini. Aku merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya di sini. Kalau aku boleh memilih, tentu aku ingin kita tinggal bersama-sama seperti dulu lagi, tapi, sekarang aku tak bisa memilih kan, Hyung?" ucap Kyuhyun.

Siwon mengangguk. Memang benar, kalau mereka bisa memilih tentu mereka akan memilih yang terbaik, namun itu tak mungkin apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Walau batinnya selalu berharap mereka bisa tinggal bersama lagi, namun ia harus menerima kenyataan bahwa mereka harus berpisah ruang dan jarak.

"Aish, sudahlah, untuk apa kita memikirkan tentang hal itu. Yang penting aku bebas selama beberapa hari ini. Aku bisa berkumpul dengan kalian lagi dan bermanja-manja seperti biasanya," kata Kyuhyun meriangkan suasana yang dirasanya sedikit kurang menyenangkan.

"Kau benar. Oke, jadi mulai malam ini aku akan tidur bersamamu. Kau boleh bermanja-manja denganku sampai kau puas, betul kan?" kata Siwon senang.

Kyuhyun tersenyum kecut. Bermanja denganh hyung-nya? Ia yakin hyung-nya itu akan memperlakukannya seperti anak yang masih balita. Meskipun sebal, namun Kyuhyun juga merasa senang. Ia senang karena ia bisa sedekat ini dengan keluarganya meskipun hanya untuk beberapa hari.

"Jadi, kau sekarang tinggal di rumah?" tanya Shim Changmin petang itu.

Tak seperti biasanya, Kyuhyun mencegatnya dan memaksanya bermain basket sepulang sekolah hari itu. Biasanya anak itu langsung pulang ke rumah. Sopirnya selalu sudah stand by di luar pintu gerbang sekolah setiap hari.

"Harabeoji pergi ke Macau. Jadi, aku bisa santai sejenak. Daripada aku sendirian di rumah, mending aku pulang," kata Kyuhyun sambil memasukkan bola basket yang dipegangnya ke dalam ring.

"Kau membuatku kaget ketika menyeretku ke sini. Aku pikir ada apa," kata Shim Changmin.

"Sopirmu?"

"Paman Han setiap hari masih mengantar jemputku. Setiap pagi ia menjemputku di rumah keluarga Choi dan mengantarku ke sana sepulang sekolah. Paman Han bisa diajak kerja sama, tenang saja," kata Kyuhyun.

"Berapa lama kakekmu pergi?" tanya Shim Changmin.

"Senin siang harabeoji pulang," jaab Kyuhyun.

"Kalau begitu hari Minggu besok kita bisa jalan-jalan. Aku yakin kau tak pernah bersenang-senang selama tiggal dengan kakekmu," ajak Shim Changmin antusias.

"Boleh, kita mau ke mana?" tanya Kyuhyun.

"Ada pertandingan basket di Jamsil hari Minggu nanti. Kita nonton, yuk! Minho pasti akan senang sekali," ajak Changmin.

"Ok, aku akan mengajak Ryeowook kalau begitu. Sudah lama aku tidak keluar dengan yang lain. Seperti tahanan rumah, hidupku hanya di sekolah dan rumah. Menyebalkan!" kata Kyuhyun senang.

"Harabeoji-mu tak pernah mengajakmu pergi?" tanya Shim Changmin.

"Hanya sekali harabeoji mengajakku makan malam dengan kolega-koleganya yang membosankan. Dan aku bersumpah itu adalah hal yang paling tidak menyenangkan, bahkan aku harus duduk semeja dengan Han Kaisoo dan orang tuanya, membuatku ingin muntah," kata Kyuhyun tak senang.

Shim Changmin hanya tertawa mendengar keluhan Kyuhyun itu. Tuan Muda Cho di depannya itu sepertinya belum sadar bahwa hal yang dianggapnya menyebalkan itu akan menjadi bagian dari hari-harinya saat ia menggantikan kakeknya nanti.

"Ha, kau bertemu dengan Han Kaisoo? Aku ingin tahu bagaimana rupanya saat bertemu denganmu di sana. Selama ini dia tak pernah memandangmu dan selalu mengejekmu. Begitu ia tahu kalau kau setara dengannya, aku sangat ingin tahu bagaimana wajahnya sekarang," kata Shim Changmin.

"Kau tanya padaku bagaimana rupanya? Dia masih saja pongah seperti biasanya. Dagunya masih diangkatnya tinggi-tinggi kalau melihatku. Dia memang tak sesombong dulu karena dua begundalnya tampaknya sudah mulai insyaf. Kau tahu, dia masih sempat marah-marah pada pelayan yang tak sengaja menjatuhkan sendok di pangkuannya. Kalau aku jadi pelayan itu, sudah aku guyur kepalanya itu dengan sup," kata Kyuhyun sebal.

"Tampaknya dia benar-benar membencimu sampai ke tulang sum-sumnya. Hati-hati saja, perusahaan kakekmu dan milik ayahnya bersaing kan? Jadi, siapa tahu kalian akan benar-benar bersaing sengit dan tak ada yang mau kalah," ingat Shim Changmin.

"Hah, aku tak akan kalah darinya. Ular semacamnya tak akan membuatku takut dan lari," sahut Kyuhyun.

"Itu bagus. Aku selalu suka sikapmu yang selalu optimis. Tidak seperti beberapa minggu terakhir yang murung dan tak punya semangat hidup. Semangat Cho, kau pasti bisa melalui semuanya ini!" kata Changmin memberi semangat.

"Terima kasih, Chwang! Kau memang teman yang baik," kata Kyuhyun tulus.

"Aku tahu itu. Ayo, Kyu, kalahkan aku kalau bisa!" teriak Changmin sambil merebut bola yang dipegang Kyuhyun.

Kyuhyun berlari mengejar Changmin dan tertawa senang. Ia senang bisa melewati harinya dengan kebebasan yang dirindukannya meskipun hanya untuk 4 hari.

Jamsil Indoor Stadium sangat ramai Minggu sore itu. Pendukung kedua tim mulai menyemut di luar pintu masuk stadion. Pintu stadion belum dibuka. Kyuhyun, Shim Changmin, Choi Minho, dan Kim Ryeowook menunggu di depan pintu gerbang.

Kim Ryeowook yang baru pertama kali itu ikut menonton pertandingan basket bersama ketiga temannya yang lain, merasa senang sekaligus takut. Berada di tengah-tengah keramaian seperti ini dan menonton pertandingan secara langsung merupakan pengalaman pertama baginya.

Cukup lama mereka berdiri menunggu pintu masuk dibuka. Kaki Kyuhyun rasanya sampai kesemutan karena terlalu lama berdiri. Ia ingin mencari bangku untuk duduk, tapi tampaknya tak ada bangku kosong yang bisa dipakainya duduk.

"Lama sekali. Perasaan tak pernah selama ini kita harus menunggu pintu dibuka," keluh Kyuhyun.

"Kita datang terlalu siang. Makanya kita harus lama menunggu," kata Choi Minho.

"Dan ide siapa kita datang siang-siang?" sindir Kyuhyun sambil menatap tajam temannya yang sering diejeknya berwajah mirip kodok itu.

"Kukira kita bisa jalan-jalan dulu. Kan sudah lama kita tidak pernah kumpul-kumpul seperti ini lagi," kelit Choi Minho sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Kyuhyun berdecak mendengar alasan Choi Minho itu. Siapa juga yang mau jalan-jalan di panas terik seperti ini.

Untungnya pintu terbuka tak lama kemudian. Kyuhyun dan teman-temannya antre dengan tertib dan memasuki stadion indoor itu. Mereka menunjukkan tiket yang berada dalam genggaman tangan mereka masing-masing, setelah itu mereka mencari tempat duduk sesuai dengan deretan nomor yang tertera pada tiket.

Mereka beruntung bisa mendapatkan tempat duduk yang strategis. Berterima kasihlah pada Choi Minho yang kakaknya bekerja sebagai staff di Jamsil sehingga mereka bisa mendapatkan tiket sesuai tempat duduk yang mereka inginkan.

Pertandingan dibuka oleh beberapa pertunjukan pembuka yang membuat suasana semakin meriah. Kyuhyun merasa senang. Dulu ia sering menonton basket, sepak bola atau baseball bersama teman-teman atau hyung-nya. Sekarang ia tak punya waktu untuk bersenang-senang.

Pertandingan berlangsung ketat sejak quarter pertama. Kedua tim saling menyerang dan berusaha mencetak angka untuk mengalahkan lawannya. Pertandingan berjalan seru. Kerongkongan Kyuhyun sampai terasa serak karena berteriak-teriak mendukung tim kesukaannya. Hatinya senang. Ia hanya ingin menikmati hari ini sepuas-puasnya.

Pertandingan quarter ketiga usai sudah. Waktu break terakhir pertandingan hari itu digunakan para penonton untuk menurunkan tensi agar suasana hati mereka tidak bertambah panas karena terbawa suasana pertandingan yang sengit.

Kyuhyun menenggak air mineralnya hingga tandas. Kerongkongannya terasa kering karena terlalu banyak berteriak-teriak. Ia duduk di samping Kim Ryeowook dan mengelap keringat yang menetes di dahinya.

"Pertandingan yang seru kan, Kim Ryeowook?" tanya Kyuhyun.

"Aku tak pernah menonton pertandingan olahraga seperti ini. Tapi, memang menyenangkan," jawab Kim Ryeowook.

"Lain kali kita nonton lagi. Aku ingin menontong pertandingan baseball. Biasanya aku pergi menonton baseball dengan appa dan Siwon hyung," ucap Kyuhyun.

"Aku tidak begitu paham dengan olahraga. Tapi, menonton pertandingan seperti ini membuatku tertarik dengan olahraga," sahut Kim Ryeowook.

"Dulu aku sering mengajakmu kelluar karena kau selalu sendirian dan hanya belajar. Sekarang gantian aku yang mengalami hal seperti itu. Hidupku hanya belajar di sekolah, belajar di rumah, atau ikut harabeoji ke pertemuan-pertemuan membosankan. Aku jadi tahu bagaimana hidup yang membosankan itu," kata Kyuhyun.

Kim Ryeowook tertawa mendengar ucapan Kyuhyun itu. Kyuhyun memang anak yang sangat aktif. Jadi, Kim Ryeowook maklum kalau Kyuhyun menganggap hidupnya saat ini sangat membosankan.

Kyuhyun merasa ponsel yang ada di dalam saku celananya bergetar. Ia mengambil ponselnya itu dan melihat siapa yang meneleponnya. Nama Paman Han tertera di layar ponselnya.

"Ada apa, Paman Han?" tanya Kyuhyun setengah berteriak.

"…."

"Apa, sekarang?" tanya Kyuhyun tak percaya. Dadanya berdegup kencang.

Gawat, benar-benar gawat. Kyuhyun cepat-cepat berdiri dari tempat duduknya dan menyambar tas punggung yang diletakkan di bawah kakinya.

"Aku harus pulang sekarang," kata Kyuhyun pada ketiga temannya yang menatapnya penuh tanda tanya.

"Ada apa?" tanya Shim Changmin ingin tahu.

"Aku harus cepat-cepat pulang. Ada perubahan rencana mendadak. Aku sudah harus sampai di rumah paling lambat tiga puluh menit lagi. Sampai ketemu lagi besok pagi," kata Kyuhyun.

Kyuhyun setengah berlari menuju pintu keluar. Meskipun ia merasa kesal, namun ia lebih dikuasai oleh perasaan panik saat ini. Ia harus pulang secepatnya. Ia tak punya waktu lagi.

TBC