Rambut Helen masih basah dan Helen terlalu malas untuk mengeringkannya dengan sempurna. Helen berjalan sempoyongan sebelum memilih untuk menjatuhkan diri dan memejamkan mata di sebuah sofa yang mengisi kamar yang ditempatinya. Dia dan Shion hampir seminggu berada di Suna, dan tiap harinya terasa melelahkan. Bukan, bukannya Helen tak suka berada di Suna hingga dia merasa lelah, tapi memang semua kegiatan dan persiapan menjelang pernikahan Gaara memang menguras tenaga.
Suara benda jatuh di atas tempat tidur memaksa Helen untuk membuka matanya. Helen mendengus karena hanya mendapati kakak angkatnya yang berambut pirang sedang berbaring dengan tangan dan kaki terentang.
"Tulangku hampir lepas." Shion mengeluh dan mencoba meniup anak rambutnya yang menempel di wajahnya.
"Mandi dulu pirang, kau membuat ranjangnya bau." Helen berkata sambil berjalan menuju ranjang.
"Hei! Kau juga pirang."
Oke, Helen hampir lupa kalau dua hari yang lalu dia baru saja kalah taruhan dengan Shion dan harus mengganti warna rambutnya menjadi pirang seperti Shion. Ya, sebenarnya tidak apa-apa mengingat pewarnaan rambut Helen yang terakhir sudah cukup lama dan memang sudah waktunya untuk Helen mengubah warna rambutnya. Masalahnya, Helen tak begitu suka rambut pirang. Dan dia jadi tak punya alasan untuk meledek rambut pirang Shion yang sangat dia banggakan itu, karena sekarang Helen juga… pirang.
"He-heii!" Shion protes saat dirasakannya kaki Helen menggusur dan menyuruhnya turun dari benda empuk yang ditidurinya. "Baiklah, baik… aku mandi sekarang." Shion mengalah dan Helen tersenyum puas.
Sekarang di ruangan ini hanya ada dia sendiri.
Helen berusaha untuk tidur, dalam perjalanan usahanya untuk tidur dia teringat dengan Shikamaru Nara. Shikamaru adalah satu-satunya orang Konoha yang mengenal Helen sejak kecil dan tahu apa yang terjadi padanya. Ya… tidak sepenuhnya tahu juga. Dan hari ini Helen bertemu dengannya.
"Lama tak jumpa, Hinata." Shikamaru menyapa dengan malas, tapi istrinya menyikut rusuknya dan membuat matanya melotot, entah karena sakit atau terkejut. Dia meralat ucapannya. "Maksudku, Helen."
"Helen or Hinata, it's okay." Helen menjawab dengan santai bahkan tertawa kecil. Temari ikut tertawa, sementara Shikamaru menaikkan alis kirinya, mencoba untuk tidak peduli kemudian ikut masuk ke dalam pembicaraan yang dikembangkan istrinya.
Saat berbincang dengan Temari dan Shikamaru, Helen tidak memikirkan hal itu, tapi sekarang dia mulai memikirkannya. Sejujurnya, dia sendiri tak menyangka akan menjawab Shikamaru sesantai itu. Dua tahun yang lalu, saat Helen tahu bahwa yang menikah dengan Temari adalah temannya sejak kecil dan saat sekolah dulu, Helen merasa sedikit cemas. Apalagi saat Shikamaru memanggilnya Hinata, Helen selalu meralat nama yang disebut Shikamaru. Helen sendiri tahu bahwa Shikamaru jelas tahu tentangnya, entah dari Temari atau memang otaknya yang terlalu cerdas. Apapun, yang jelas Helen selalu merasa cemas saat berdekatan dengan Shikamaru, juga cemas kalau-kalau nanti Shikamaru akan memberitahu Hyuuga dan Naruto tentangnya.
Helen tertawa, dan Shion yang baru saja masuk dibuat terkejut, Shion mengumpat tanpa suara. Oh sialan, Helen bisa menebak apa yang dikatakan oleh Shion walaupun dia sama sekali tak bersuara; Dasar kepala perak gila. Helen tertawa dengan tebakannya sendiri. Oh sebentar, dia sudah bukan kepala perak lagi. Dia sudah pirang!
Shion mengeluarkan erangan kesal di sela-sela kegiatan memakai krim malamnya. Penyebabnya? Helen yang lagi-lagi tertawa. Ya, Helen kembali tertawa, kali ini bukan karena menebak isi kepala Shion, tapi menertawakan dirinya yang dulu. Bodoh sekali dirinya dua tahun yang lalu karena merasa cemas. Dilihat darimanapun juga, Shikamaru jelas bukan tipe orang yang menyebarkan kabar tanpa berpikir, dan kalaupun Hyuuga atau Naruto tahu, lantas kenapa?
Naruto tak akan begitu peduli dengan eksistensi Helen, dan Hiashi Hyuuga sendiri bukan orang dengan keuangan yang bisa diremehkan, jika dia mau dia bisa saja mencari tahu tentang Helen dengan mudahnya. Tapi apa? Kehilangan satu anak tidak berguna tentunya tak membuat Hiashi mau bersusah payah menyeretnya pulang. Toh, yang mencabut semua fasilitasnya, yang tak menjawab sekata pun ucapan Helen, yang membuat Helen kelaparan, yang membuang Helen… adalah Hiashi.
Dan Helen tak menyesal karena sudah pergi.
Harus Helen akui, dia bisa bertemu dengan Shion, Sasori, Sabaku bersaudara, dan keluarganya yang lain jelas karena Hiashi. Karena Hiashi membuangnya. Dan Helen berterimakasih untuk itu.
Ah, otak Helen sudah mulai malas untuk berpikir tentang hal-hal rumit, dan matanya tak bisa menahan kantuk lagi.
"Shion-nee… alarm…" Helen berkata sebelum benar-benar terlelap. Dia tidak tahu Shion mendengarnya atau tidak. Jika iya, Shion pasti akan memasang alarm. Jika tidak, semoga saja dia tidak bangun kesiangan. Dia harus ikut mengawasi dan membantu Matsuri untuk memakai gaun pengantin besok pagi.
Dalam tidurnya Helen tersenyum.
Mungkin karena bahagia, bahwa akhirnya dia bisa merasa baik-baik saja memikirkan masa lalunya. Mungkin juga karena tidak tahu, bahwa luka yang belum sembuh betul bisa terbuka kapan saja saat terbentur, dan dalam hal ini bisa jadi yang membuatnya terbentur adalah penyebab luka itu sendiri; bagian masa lalunya.
.
.
Shion menatap kotak perhiasan yang terbuat dari kayu di tangannya. Kotak itu tidak terlalu besar, di permukaannya terdapat ukiran-ukiran rumit yang kalau Shion tak salah ingat, bercerita tentang untaian takdir. Bahwa takdir tak serta-merta "ada" begitu saja. Dia bukan hal yang sudah ditetapkan sejak manusia atau sesuatu itu belum lahir. Dia diuntai, oleh tiap pertemuan, tiap rasa, tiap pilihan –keputusan.
Shion membuka kotak kayu itu dengan perlahan, di dalamnya ada gelang dengan hiasan lonceng yang cukup mencolok dan terlihat aneh. Ukuran loncengnya tidak terlalu besar, cukup pas, tapi tetap mencolok dan memberikan kesan aneh. Namun ketika gelang itu sudah melingkar dengan pas di pergelangan tangan Shion, locengnya sama sekali tak terlihat aneh, justru terlihat unik dan memesona di saat yang bersamaan.
Shion mendekatkan tangannya ke telinga, mencoba mendengar suara lonceng yang menghiasi tangannya. Lalu Shion tertawa. Dia tidak bisa mendengar apapun. Tidak ada suara lonceng yang hanya bisa di dengar olehnya sejak usianya tujuh tahun dulu, ketika ibunya meninggal, dan dia diasuh oleh keluarga Akasuna.
Saat Shion mengatakan pada orang-orang bahwa Shion mendengar suara lonceng, orang-orang langsung menatapnya dengan aneh. Shion ingat saat dia menangis frustasi dengan suara lonceng yang selalu mengikutinya setiap detik, dan Shion ingat bahwa saat itu juga Chiyo-Baasama membelai rambutnya dan mengajarinya untuk menerima suara lonceng itu sebagai bagian dirinya. Dan mau tak mau, Shion akhirnya belajar menerima bahwa dia harus hidup dengan suara lonceng dari gelang yang dipakainya, karena tiap dilepas dari tangannya, hari itu juga Shion akan sakit dengan tiba-tiba.
Shion mungkin mengatakan bahwa dia sudah belajar menerima suara loceng aneh miliknya, tapi Shion tetap memendam rasa tersiksa, dia tak benar-benar menerimanya, rasa tersiksa yang dipendamnya secara tanpa sadar membuat Shion menjauhkan diri dari pergaulan dengan teman-teman sebayanya, dan membuatnya terkenal sebagai Shion bermulut pedas.
Namun untuk pertama kalinya akhirnya Shion tak mendengar suara lonceng. Itu adalah saat Naruto berhasil meyakinkannya bahwa dia bukan orang yang buruk dan bukan orang aneh. Lalu lonceng itu kembali berbunyi ketika Shion tak jadi pergi ke Konoha untuk merayakan ulang tahun Naruto. Dan kembali berhenti berbunyi ketika dia duduk bersebelahan di dengan Helen untuk pertama kalinya di dalam mobil Sasori.
Naruto dan Helen. Mereka membuat loncengnya tak lagi berbunyi. Shion tak mengerti takdir apa yang sedang diuntai olehnya, yang jelas, semoga tiap pilihan yang dia dan saudarinya ambil merupakan benang yang tepat.
Shion menatap gelang di tangannya dengan penuh perhatian, ah, sudah berapa lama Shion tak memakai gelang ini? Tiga tahun? Empat tahun? Shion tak begitu ingat. Dia memutuskan untuk melepas gelang peninggalan ibunya juga tanpa alasan yang jelas. Siapapun akan tertawa jika mendengar alasan Shion, untungnya –atau anehnya?– ketika Shion mengatakan pada Helen bahwa gelangnya seakan berbicara dan meminta agar diistirahatkan, Helen tidak tertawa.
Entahlah, Shion tak begitu suka memperumit pikirannya. Dia cukup melakukan apa yang dia ingin dan rasakan. Termasuk saat ini, ketika gelangnya meminta untuk dipakai. Shion pikir, dia akan kembali mendengar suara loncengnya seperti di hari ulang tahun Naruto dulu, tapi loncengnya tetap hening. Shion menatap Helen yang masih terbaring di tempat tidur. Ada keyakinan aneh yang muncul di dadanya. Shion tersenyum, kemudian menutup kotak kayu miliknya. Gelangnya masih melingkar di pergelangan tangannya.
Sambil bersenandung Shion mengambil gaun miliknya yang digantung bersebelahan dengan gaun milik Helen. Gaun milik Shion dan Helen adalah gaun yang menggunakan warna lilac sebagai warna dasarnya, dan warna putih sebagai motifnya. Shion tertawa kecil. Walaupun model gaun mereka berbeda, dengan warna dan motif kain yang sama, mereka akan benar-benar akan terlihat seperti anak kembar. Oh, jangan lupa rambut Helen yang juga sudah berwarna pirang. Shion tak sabar untuk segera berswafoto dengan Helen.
.
.
Helen tersenyum melihat taman tempat diadakannya resepsi (sekaligus pemberkatan) pernikahan Gaara dan Matsuri. Keluarga Sabaku memang gila. Dalam artian yang baik tentunya. Helen memang tahu bahwa Sabaku memiliki taman di kediamannya, hidup bertahun-tahun sebagai sepupu dari Sabaku juga memberikan Helen banyak kesempatan untuk mengunjungi rumah keluarga Sabaku, tentu melihat taman mereka termasuk salah satu bagian kunjungannya. Helen hanya tidak menyangka bahwa dekorasi pada hari-H akan semenakjubkan ini.
Pada hari biasa saja, taman Sabaku bersaudara sudah bisa dibilang menakjubkan bagi orang-orang di Suna. Di mana lagi bisa menemukan taman yang begitu hijau dan dipenuhi pohon dan bunga warna-warni di daerah panas dan kurang bersahabat dengan tumbuhan seperti Suna? Oh jangan lupa bahwa taman ini juga tidak akan terpengaruh oleh musim semi, musim panas, musim gugur, bahkan musim dingin sekali pun! Taman ini juga selalu terasa sejuk dan nyaman. Entah betapa rumit dan berapa banyaknya uang yang dihabiskan untuk merawat taman ini.
Dan hari ini, dekorasi meja, kursi dan bunga-bunga seakan menyatu dengan taman, benar-benar sempurna. Kecuali bunga dekorasi yang lepas dari kursi di belakang sana. Helen kemudian berjalan ke arah kursi yang hiasannya lepas. Tak jauh dari kursi itu ada anak-anak yang sedang berlarian, Helen bisa menebak alasan jatuhnya bunga dan daun dari kursi itu. Helen memungut bunga yang jatuh, dengan hati-hati dia memasang bunga ke sandaran belakang kursi.
Seorang laki-laki menyapanya ketika dia masih berusaha untuk menata bunga yang tadi berjatuhan.
"Shion…" katanya.
Alih-alih berbalik dan menatap lawan bicaranya, Helen justru memutar bola matanya dan melanjutkan pekerjaannya sambil menjawab 'bukan' dengan suara pelan.
"Shion?" Orang di belakang Helen kembali memanggilnya.
"Bukan. Aku Helen. Dia sedang bersama Matsuri, ok?" Kali ini suara Helen lebih kuat dan terdengar sedikit jengkel. Laki-laki itu tak beranjak, mungkin tidak percaya bahwa yang menjawabnya benar-benar bukan Shion.
Helen tak peduli sebenarnya. Ini sudah kali keenam orang salah mengenalinya sebagai Shion. Bahkan Kankuro-nii sekali pun! Hah! Sepertinya resep diet yang disarankan oleh dokter Yakushi tidak berhasil. Berat badannya belum seperti dulu, sehingga wajahnya mungkin semakin mirip dengan Shion yang memang memiliki rahang lebih tirus dibandingkan Helen (dengan berat badan sebelumnya). Ya, setahun belakangan Helen memang dalam diet yang diawasi oleh dokter Kabuto Yakushi setelah sebelumnya sempat masuk rumah sakit karena sering melewatkan jadwal makannya.
Harus Helen akui, dia cukup bersalah pada tubuhnya sendiri. Dua tahun yang lalu, kira-kira sebulan setelah menghadiri pernikahan Temari di Suna, Helen dan Shion mendapat tawaran kerjasama pembuatan kostum untuk salah satu grup dari negeri ginseng yang akan melakukan world tour (dan ini dari apa yang Helen ingat, tour tersebut merupakan tour sekaligus perpisahan karena mereka akan memutuskan untuk bubar dan pensiun sebagai grup). Kostum panggung untuk tiga belas orang dengan total kunjungan sebelas negara.
Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan karir mereka, Shion dan Helen, mereka juga ikut berpartisipasi dalam Paris Fashion Week. Belum lagi pekerjaan mereka seperti biasa.
Bisa bayangkan sesibuk apa mereka berdua?
Dan bisa bayangkan alasan Helen masuk rumah sakit?
Helen terlalu larut dalam pekerjaannya. Walaupun sudah sering mendapat omelan Shion karena sering melewatkan sarapan, makan siang hingga makan malamnya, Helen tetap saja lupa. Sampai akhirnya tubuhnya drop, karena sudah tidak kuat menahan kesibukan Helen yang menggila. Alat pencernaannya terluka, dia kehilangan banyak gizi juga berat badan, dan dengan kebiasaannya makannya yang sangat –jarang dan– tidak teratur sama sekali tidak membantu tubuhnya yang tidak mendapat nutrisi mencukupi.
Helen sendiri tak akan menyadari perubahan bentuk tubuhnya jika dia tidak masuk rumah sakit. Seperti tengkorak berjalan, kata Shion. Karena itulah selama setahun belakangan pola makannya diawasi oleh dokter Yakushi, walaupun pada kenyataannya lebih tepat jika dikatakan diawasi oleh Shion.
"Hyuuga-san…"
Helen membatu untuk sepersekian detik, meragukan apa yang telinganya dengar. Hyuuga? Apa suara yang berasal dari balik punggungnya itu benar-benar mengatakan Hyuuga? Helen langsung berdiri dan sialnya tubuhnya lansung membentur sosok dibelakangnya.
"Helen!" Oh tidak, Helen baru saja menabrak Gaara. Helen tersenyum meminta maaf.
Sosok lain yang berada bersama mereka tertawa kecil, dan mungkin karena merasa tidak enak sudah menertawakan Helen, dia berdehem dan mengembalikan perhatiannya kepada Gaara yang sebelumnya, "Sabaku…" Dia kemudian berjabat tangan dengan Gaara. "Selamat atas pernikahanmu."
"Terima kasih." Gaara menjawab dengan senyum lebar yang sangat jarang terlihat di wajahnya.
Kedua laki-laki itu kemudian tenggelam dalam percakapan tanpa memedulikan Helen yang seakan ditelan oleh pikirannya sendiri.
Wajah rupawan yang terlihat tidak asing…
Rambut panjang yang tergerai tanpa mengurangi kesan maskulin…
Tato di dahi…
Mata lavender yang menyerupai bulan…
Hyuuga. Di depannya berdiri seorang Hyuuga.
Helen… Helen hampir tidak bisa bernapas.
.
.
Laki-laki Hyuuga itu akhirnya menyadari bahwa Helen masih berdiri di sana.
"Ah, untuk yang tadi maafkan saya, anda benar-benar mirip dengan Shion. Um… Helen-san? Benarkan?" Dia menatap Helen sambil mengulurkan tangannya.
"T-tidak apa-apa…" lalu dengan perasaan tak karuan Helen menjabat uluran tangannya.
"Neji Hyuuga." Neji memperkenalkan dirinya. Helen tahu. Helen tahu. Helen tahu benar bahwa dia adalah Neji.
"Ehem," Gaara memberikan kode kepada Helen yang masih menjabat tangan Neji tapi tak kunjung mengatakan apapun.
Helen tersenyum kikuk. "Helen… Helen Akasuna."
Lalu entah kenapa sedetik kemudian Helen merasa sangat… salah? Ada apa ini?
"Akasuna?" Neji bertanya, ada nada tertarik di suaranya.
"I-iya…" Sialan! Kenapa Helen terbata-bata seperti ini?
"Terasa tidak asing dengan Akasuna? Dia adik Sasori."
"Aaa…" Neji mengangguk paham mendengar penjelasan Gaara. "Tak heran Akasuna-san sangat mirip dengan Shion."
"H-Helen saja. Jangan t-terlalu formal." Helen mengutuk perasaan bersalahnya yang semakin tak karuan.
"Aku tidak tahu Sasori dan Shion punya saudara lain." Kali ini Hyuuga Neji berbicara menghadap Gaara, sementara Gaara menatap Helen dengan sedikit ragu.
Helen tahu kenapa Gaara menatapnya seperti itu. Keluarga Sabaku benar-benar menerima dan memperlakukan dirinya sebagai sepupu, mereka juga tahu apa yang dialami oleh Helen, termasuk siapa nama Helen dan nama keluarganya sebelumnya. Walaupun demikian, mereka sebenarnya tidak tahu dari keluarga Hyuuga mana Helen berasal. Belum lagi sikap Helen yang agak sensitif dengan orang-orang yang berasal dari Konoha. Gaara mengkhawatirkan Helen.
Helen membalas tatapan Gaara dengan senyum terima kasih. Helen sangat beruntung bertemu orang-orang yang menjadi keluarganya saat ini.
"Aku adik angkat mereka, Hyuuga-san." Akhirnya… akhirnya Helen memberitahu orang selain bagian keluarga Akasuna dan Sabaku tentang hal ini.
Neji terlihat tidak percaya. Kenyataannya, Neji memang tidak percaya. Adik angkat? Lantas kenapa garis wajah dan warna mata bisa sangat mirip dan sama-sama memiliki rambut pirang seperti Shion?
Helen bisa membaca raut tidak percaya milik Neji dan juga milik Gaara. Neji tak percaya dia adik angkat Shion, dan Gaara tidak percaya karena Helen bisa seterbuka ini dengan… orang asing, –atau bukan?
Helen tertawa kecil.
"Sungguh. Aku baru menjadi saudara mereka sejak meninggalkan Konoha sembilan tahun yang lalu."
"Kalau boleh meralat Helen, kau mengganti nama secara resmi dan menjadi Akasuna baru sekitar tujuh setengah atau delapan tahun yang lalu."
"Oh shut up, Gaara." Helen memutar bola matanya.
"Language, lady."
"…"
Lalu Gaara dan Helen, keduanya tertawa.
O…kay... Neji sebenarnya masih tidak terlalu percaya, apalagi dengan kebiasaan memutar bola mata Helen sangat mirip dengan kebiasaan Shion, tapi rasa tidak percaya itu dikesampingkannya, ada yang lebih menarik perhatian Neji.
"Jadi Helen-san orang Konoha?" Neji bertanya, dan perhatian Helen dan Gaara kembali tertuju padanya.
"Hm, hm." Helen mengangguk sebagai balasannya. "Aku juga pernah bersekolah di Konoha Vocational High School, sama seperti Hyuuga-san."
Neji menatap Helen lekat-lekat, darimana Helen tahu? Apa dia mengenal Helen? Neji mencoba menggali ingatannya apa dia pernah melihat perempuan di depannya saat bersekolah dulu. Nihil. Neji tak ingat pernah melihat Helen.
"Tidak bisa mengingatku senpai?" Helen bertanya dengan nada jail yang dipelajarinya dari Shion.
Neji menggeleng. Kali ini menyerah. Lagi pula dia tidak benar-benar percaya.
"Baiklah…" Helen mengangkat kedua bahunya sekilas. "Dulu aku bersekolah di sana –"
"Helen!" Temari berteriak memanggil Helen, tangannya melambai mencari perhatian Helen, "Bantu aku sebentar."
"Sebentar Temari-nee." Helen menjawab panggilan Temari, kemudian menatap Gaara dan Neji untuk meminta maaf dan berpamitan.
Baru dua langkah meninggalkan Neji dan Gaara, Helen memutuskan untuk berbalik. Helen menatap Neji.
"Hinata."
Neji mengerutkan dahinya, rahangnya mengeras tanpa disadari saat mendengar kata Hinata dari mulut Helen.
"Dulu aku bersekolah di Konoha Vocational High School dengan nama Hinata." Helen menatap Neji dengan pandangan yang tak bisa diartikan oleh Neji atau pun oleh Gaara.
"Heleennn!" Temari kembali memanggil Helen. Helen tersenyum, kemudian berbalik menuju tempat Temari sedang berdiri menunggunya.
Neji terdiam untuk beberapa saat. Matanya masih menatap arah di mana Helen dan Temari lenyap dari pandangannya.
"Kau baik-baik saja, Hyuuga?" Gaara akhirnya berhasil menarik kesadaran Neji. Neji mengangguk, tapi tatapannya masih belum beralih.
"Kau mengenal Helen?" Gaara kembali bertanya.
"Mungkin…" Neji menjawab dengan tidak yakin. Hinata... Hanya satu Hinata yang pernah dikenal oleh Neji. "Boleh aku tahu tentang Helen?"
"Kau sudah menikah Hyuuga."
Neji menggeram mendengar jawaban Gaara. "Kau tahu maksudku bukan seperti itu." Neji menatap Gaara dengan tajam, Gaara membalas tatapannya dengan menyeringai.
"Aku tahu. Aku hanya memastikan." Gaara menatap Temari dan Helen yang kembali bersama beberapa orang yang membawa kue pernikahan yang berukuran cukup besar. Neji mengikuti arah tatapannya. "Aku peduli pada Helen. Aku tetap sepupunya, kau tahu?" Kali ini Gaara kembali menatap Neji.
Sepupu eh? Neji mencibir dalam hatinya.
"Lagipula aku tak punya hak memberitahu hal-hal pribadinya pada orang lain. Kau bisa bertanya pada Helen langsung jika mau, tentunya jika dia mau menjawab." Suara Gaara tiba-tiba berubah menjadi lebih tegas dan kalau Neji tak salah mengartikan nada suaranya, suara Gaara sarat akan peringatan.
"Baiklah, aku mengerti." Neji mengangguk paham sekalipun kepalanya sedang penuh oleh pertanyaan dan amarah yang muncul tiba-tiba, Neji mencoba menahannya dan menampilkan ekspresi tenang andalannya. Bagaimanapun ini hari bahagia Gaara, Neji menghormati Gaara, dan dia tak ingin merusak suasana. Setidaknya untuk hari ini, Neji menghindari benturan.
.
.
Vi' Beeb Beeb…
Akhirnya Hinata bertemu dengan Hyuuga juga. Awalnya ingin membuat pertemuan pertemuan pertama dengan orang konoha itu dengan Naruto atau Menma (milih Menma biar Hinata teringat Naruto gitu ya kan, tapi akhirnya saya memutuskan untuk tidak memunculkan Menma di cerita ini.) Dan bukannya Naruto, saya malah memunculkan Neji. (Shikamaru tidak masuk hitungan karena dia bagian Sabaku)
Saya juga menceritakan sedikit tentang Shion dan loncengnya. Maksa banget ya
Tapi yaudalah ya, bodo amat.
Kenapa pula dibagian karakter cerita ffn jadi Naruto duluan? Padahal dulu saya buatnya Hinata Shion duluan perasaan urutannya.
Dan… Skill nulis saya makin parah aja, Hiks….
29042019
