(I)

Naruto meraih smartphone yang sejak sore tadi dinonaktifkannya. Handuk masih tersampir di bahunya. Pesan dari Gaara adalah hal pertama yang diperiksanya, tiga foto terlampir mengisi kolom percakapan mereka. Foto pertama adalah foto kado pernikahan yang dikirimkan oleh Naruto. Naruto mendecih, dia sangat kesal karena tidak bisa menghadiri acara penting sahabatnya sendiri. Salahkan sekretarisnya yang memberitahu jadwal dengan mendadak di saat Naruto sedang bersiap untuk pergi ke Suna. Salahkan juga dirinya yang sudah terlalu sering menjadwalkan ulang pertemuan dengan kliennya satu ini.

Foto kedua adalah foto Gaara dan Matsuri bersama tamu-tamu yang hadir di acara pernikahan mereka, sangat ramai. Naruto bahkan harus memperbesar foto tersebut agar dapat melihat dengan jelas orang-orang di dalamnya. Dia dapat mengenali beberapa orang Konoha yang dikenalnya ikut hadir di sana. Neji Hyuuga adalah salah satunya. Naruto kembali mendecih. Menyebut nama Hyuuga bahkan hanya dalam kepalanya sendiri pun selalu memberikan perasaan tak nyaman yang benar-benar menyebalkan.

Foto ketiga merupakan foto keluarga, tentunya dengan orang yang lebih sedikit dibandingkan foto sebelumnya. Naruto hampir mengenal semua yang di dalamnya. Ya, hampir. Naruto bisa mengenali Sabaku bersaudara, Shion dan kakak laki-lakinya, Nara Shikamaru, juga sepasang suami-istri yang dengan sekali lihat pun Naruto bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah orang tua dari Matsuri. Namun Naruto sama sekali tak mengenal perempuan pirang yang berdiri di sebelah Shion. Naruto kembali memperbesar foto di hadapannya, sehingga layar smartphonenya menampilkan dengan jelas wajah perempuan pirang tersebut.

Ada hal aneh yang tiba-tiba mengganggu Naruto. Naruto tak mengerti.

Naruto kembali menatap wajah perempuan di samping Shion, dan mulai membandingkan keduanya. Sekilas mereka terlihat sama. Naruto hampir tidak bisa membedakan mereka jika saja dia tidak melihat gelang yang melingkar di pergelangan tangan Shion dan mata mereka. Ya… matanya, walaupun lagi-lagi terlihat sama – oke ralat, mirip, entah kenapa mereka terasa berbeda.

Naruto mulai mengabaikan perasaan aneh yang menjalarinya, dia akhirnya memutuskan untuk membuka salah satu media sosialnya. Satu setengah jam kemudian Naruto akhirnya melihat foto yang diunggah oleh Shion sekitar 3 jam yang lalu. Media sosial memang racun yang bisa membunuh waktu perlahan! Naruto harusnya tidur saat ini, ini sudah terlalu larut. Namun foto yang diunggah Shion sudah terlanjur mengusik rasa penasarannya.

Foto Shion bersama perempuan pirang yang ada di foto keluarga tadi, kali ini hanya ada mereka berdua yang sedang duduk berdampingan di ruangan terbuka. Shion dan perempuan itu tersenyum menghadap kamera, ada hiasan bunga dan daun di meja mereka. Naruto berani bertaruh mereka mengambil foto itu saat di pernikahan Gaara.

Sudah ada 367 komentar dan 65098 likes. Naruto menggeleng, tak heran, saat remaja dulu Shion memang sempat menjadi model iklan yang cukup terkenal, dan walaupun memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai model, Shion masih cukup terkenal terlebih lagi saat dia terjun di dunia fashion.

Naruto membaca caption dari foto tersebut.

For the first time in forever…

Naruto tak mengerti maksudnya. Bukan artinya, paham? Ayolah, saat sekolah dulu bahasa inggris Naruto memang payah, tapi bahasa inggrisnya sudah (sedikit) lebih baik sekarang. Dengan iseng Naruto membaca kolom komentar Shion.

-OMG OMG IS SHE HELEN? FOR REAL?!

-HELEN?!

Baiklah… dengan membaca dua komentar teratas saja sekarang Naruto tahu bahwa perempuan yang bersama Shion itu bernama Helen. Naruto juga sepertinya pernah mendengar Gaara menyebut nama Helen beberapa kali. Masalahnya, siapa Helen - Helen ini? Ah iya, saat pernikahan Shikamaru dulu sepertinya Naruto juga pernah mendengar nama Helen. Perempuan yang tidak enak badan dan hanya ikut berfoto sekali. Naruto memang tak sempat berkenalan dan berbicara dengannya, tapi bagaimana Naruto bisa lupa?

-daviddave: Did she lose another bet? XD

Naruto kembali membaca komentar di bawah foto tadi. Komentar yang barusan dibaca Naruto itu menampilkan balasan Shion.

-shionnnakasuna: Yessssssss…

-helennnakasuna: … No

-daviddave: helennnakasuna Oh you cant lie, honey

-helennnakasuna: For picture, no.

-shionnnakasuna: For hair, yes.

-daviddave: I CANT BELIEVE IT! Helen akasuna allows you to post her face?!

-daviddave: SHE DIDN'T EVEN UPLOAD ANY PICTURE OF HER FACE IN HER OWN ACCOUNT!

-shionnnakasuna: YEP! XD

-daviddave: …

-daviddave: …

-helennnakasuna: -_-

Naruto tak mengerti rasa penasaran macam apa yang menariknya setelah dia membaca percakapan mereka bertiga hingga memutuskan mengunjungi akun helennnakasuna yang ikut berkomentar tadi.

Akunnya diprivat.

Naruto mengumpat. Lalu terkejut atas kelakuannya barusan. Wow, kenapa reaksi Naruto bisa seaneh ini?

Naruto akhirnya memutuskan untuk mengunjungi akun milik Shion, ada ratusan unggahan foto. Naruto tahu, harusnya Naruto berhenti menggulir layar smartphone-nya untuk melihat foto-foto di akun mantan pacarnya, –demi apapun ini akun mantan pacarnya! Bagaimana jika nanti Naruto tidak sengaja memberikan like di foto lama Shion?!

Tapi Naruto tak kunjung berhenti.

Akun Shion didominasi oleh fotonya sendiri. Ya, memangnya apa yang diharapkan Naruto? Eh sebentar. Naruto kembali ke barisan foto yang barusan dilewatkannya. Ada tiga foto perempuan berambut biru gelap yang wajahnya ditutupi oleh stiker berbentuk bunga. Naruto membuka foto tersebut mulai dari yang paling kiri.

Ada Shion yang duduk bersama perempuan berambut biru kelam sebahu yang wajahnya tertutup stiker. Tak ada caption. Tak ada kolom komentar. Hanya ada sebuah tag yang berada tepat di tengah stiker bunga –helennnakasuna. Hah! Sudah Naruto duga! Memangnya apa yang kau duga, hm, Naruto?

Naruto menekan tombol kembali, lalu membuka foto yang berada ditengah. Kali ini hanya ada Helen. Iya, Naruto yakin itu Helen, lagi pula tag di tengah stiker bunga itu juga berkata demikian. Melihat tempatnya, Naruto yakin Helen sedang berada di kamar dan baru saja bangun tidur, rambut biru gelap sebahu miliknya tampak berantakan. Kali ini Naruto sedikit menyayangkan setengah wajahnya yang tertutup stiker. Dari kerutan dahinya yang terlihat, Naruto bisa menebak kalau Helen sedang kesal saat Shion mengambil fotonya. Berani bertaruh, Helen pasti terlihat sangat menggemaskan jika stiker itu tidak menutupi wajahnya. Eh? Astaga! Naruto ingin membaca komentar, tapi lagi-lagi Naruto tak mendapati kolom komentar.

Naruto membuka foto yang paling kanan di barisan foto tadi. Ada seorang laki-laki dan perempuan berdiri berdampingan di foto tersebut. Sebuah rasa kesal tiba-tiba muncul tanpa diundang. Laki-laki itu bertubuh tinggi, dia mengenakan celana denim dan kaos longgar berwarna hitam. Salah satu tangannya menyentuh topi baseball yang menutupi kepalanya, dari bagian yang tak tertutup topi, mencuat rambut pirang pucat. Tangannya yang menyentuh ujung topi baseball itu menutupi sebagian besar wajahnya yang menghadap perempuan di sebelahnya, tapi tak bisa menutupi raut senang dan cengiran di wajahnya.

Di sebelah laki-laki itu berdiri Helen. Dia hanya setinggi dada laki-laki itu. Helen terlihat mengenakan kemeja berwarna biru gelap dengan lengan kemeja transparan yang dihiasi bunga-bunga kecil. Sebagai bawahan dia memakai rok berwarna putih. Kedua tangannya memegang tas kecil yang menggunakan bahan juga warna yang sama seperti denim yang dipakai laki-laki di sebelahnya. Rambut sebahunya jatuh tergerai, di kepalanya ada jepit rambut berwarna putih.

Dia sangat menggemaskan. Astaga apa yang baru saja kau pikirkan Naruto! Naruto mengutuk isi kepalanya. Naruto kembali menatap foto di depannya. Stiker bunga kali ini lebih kecil dan hanya menutup mulut dan sebagian kecil hidung Helen, Naruto bisa melihat kalau kepala Helen sedikit di miringkan dan mata 'tersenyum'nya tampak melirik ke atas –ke arah wajah laki-laki di sampingnya.

Beh, Naruto tiba-tiba tambah kesal. Tapi kenapa? Kenapa Naruto merasa kesal hanya karena foto dua orang asing? Tidak mungkin kan Naruto tiba-tiba suka pada perempuan yang baru saja dilihatnya di foto? Iya, tidak mungkin.

Lalu kenapa Naruto sekarang malah mengunjungi akun laki-laki yang ditandai Shion itu? Dan, hei! Akunnya tidak dikunci!

Isi akunnya tak banyak, hanya beberapa foto tentang action figure umm… DC? –fix, kemungkinan besar Naruto tidak akan akrab dengan laki-laki ini, dan foto liburan bersama teman-temannya. Oh, fotonya bersama Helen yang tadi berada di akun Shion juga ada! Naruto kesal. Tapi anehnya Naruto tetap melihat-lihat foto di akun laki-laki itu. Naruto berhenti di satu foto yang terlihat mirip dengan foto profil akun laki-laki itu saat ini. Naruto membuka foto tersebut. Napas Naruto tertahan, foto ini terlihat sangat… menakjubkan? Entahlah. Naruto tak begitu mengerti fotografi, tapi sebuah siluet perempuan yang duduk memegang pensil yang menempel di pelipisnya, vas bunga, buku-buku di dekatnya, dan cahaya jingga yang menerobos masuk ke ruangan, semua yang tertangkap di foto ini berhasil mencuri decak kagum dari seorang Naruto Uzumaki.

My ethereal golden hour...

Di bawah caption terdapat komentar dari… Helen.

-helennnakasuna: Hey, Stalker!

-daviddave: Oh..ow! Apa sekarang kau akan melaporkanku pada polisi? XD

-helennnakasuna: Woah, sudah bisa bahasa jepang ternyata? Aku tidak tahu kau bisa mempelajari bahasa jepang dengan cepat. Kau benar-benar ingin berkencan denganku ya? Hahahaha…

-daviddave: Oh my gosh! You ruin my translator, y'know? -_-

-helennnakasuna: LOL

Naruto membaca caption dari foto tersebut sekali lagi.

My ethereal golden hour...

Apa laki-laki ini adalah kekasih Helen?

Dia juga sempat menyebut Helen 'Honey' di foto yang diunggah Shion hari ini kan? Ugh, kenapa Naruto sampai mengingat hal tidak penting seperti ini? Naruto tidak benar-benar suka Helen kan? Demi apapun, Helen bahkan tidak mengenalnya! Mereka belum pernah bicara dan mengenalkan diri satu sama lain. Astaga, jangan-jangan bilang kalau ini efek dari Naruto yang menjomblo selama empat tahun? Atau memang iya? Astaga!

AstagaAstagaAstagaAstagaAstagaAstagaAstagaAstagaaaaaaaaaaaa…

.


.

(II)

Helen mencoba mengganti posisi tidurnya untuk kesekian kalinya. Dia sama sekali tidak bisa tidur. Shion sudah menegurnya berkali-kali karena tak bisa tenang juga, hingga akhirnya kesabaran Shion habis dan memutuskan untuk pindah ke kamar yang ditempati oleh Sasori. Helen menghembuskan napasnya dengan kasar. Apa sebenarnya yang dia mau? Dia sudah memutuskan untuk tidak lagi merahasiakan masa lalunya jika ada orang yang bertanya, namun kenapa setelah dia memberitahu Neji bahwa dia adalah Hinata, dia justru merasa gelisah?

Karena Neji tidak bertanya!

Tapi Neji mengajaknya berkenalan!

Dan dia sudah mengenalkan diri sebagai Helen! Bukan –dia memang Helen! Tapi dia juga Hinata!

Arrghhhh… kenapa ini justru terasa makin memberatkan kepala?

Helen tahu, menyimpan rahasia siapa dirinya di masa lalu sangat tidak baik bagi kesehatan mentalnya. Tapi Helen memang tidak menyimpan apapun! Dia adalah Hinata. Dia adalah Helen. Dia sudah bisa menerima masa lalunya, oke? Dia sudah tidak mempersalahkan Shikamaru yang memanggilnya Hinata, dia bahkan juga sudah mengatakan pada Neji bahwa dia adalah Hinata.

Omong-omong, bagaimana Neji bisa mengenal Shion ya? Helen lupa bertanya pada Shion. Shion juga tak pernah bilang kalau dia mengenal Hyuuga selain dirinya. Eh, sebentar, memangnya dia masih Hyuuga? Jangan mulai Helen!

Ugh, Helen benci saat dirinya tak bisa tidur seperti ini. Dia menjadi cemas tanpa alasan, memikirkan banyak hal secara acak dan semakin jauh dari rasa kantuknya.

Apa Helen akan baik-baik saja?

Bagaimana jika di Konoha nanti orang-orang bertanya dia siapa? Ya! Dia dan Shion akan ke Konoha dua hari lagi, sangat mungkin jika dia bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya dulu. Sangat mungkin jika bertemu dengan Kiba, Shino, dengan… Naruto. Dan Sakura. Dan Neji (lagi). Dan Hiashi! Ah, dan Hanabi juga.

Jika Helen bertemu dengan mereka… Apa yang harus Helen lakukan?

Menyapa mereka?

Seperti… "Hai Hanabi, wah, kau sudah besar ya. Ngomong-ngomong aku kakakmu –Hinata, sekarang aku lebih suka nama Helen. Senang bertemu denganmu!" Begitu?

Atau lebih baik jika Helen pura-pura tak mengenal mereka? Tidak-tidak, dia sudah sempat memberitahu Neji! Bagaimana kalau Neji sudah memberitahu Hiashi, Hanabi, bahkan juga Naruto? Eh sebentar, memangnya Neji percaya kalau Helen adalah Hinata?

Ugh… Helen butuh tidur dan mengistirahatkan pikirannya yang mulai tak beraturan. Pil tidur terdengar sangat menggiurkan.

Tidak. Tidak. Tidak boleh! dr. Yakushi bilang, pil tidur hanya boleh digunakan untuk keadaan yang menurut Helen darurat. Helen sudah jauh lebih baik dari dulu. Helen bisa mengatasi ini.

Tapi kantuk tak kunjung datang, dan Helen tetap tidak mau menelan pil tidurnya, Helen lebih memilih untuk terbangun sepanjang malam hingga menyambut fajar.

Helen membunuh waktunya dengan menggambar berbagai pola di atas sketchbook yang diberikan oleh Dave dua hari sebelum keberangkatan Helen ke Suna. Helen bisa saja menggambar di tablet-nya, tapi untuk beberapa waktu tertentu Helen lebih suka saat menggambar di atas kertas, merasakan tekstur kertas setiap kali jarinya menggoreskan warna.

Helen tertawa. Jika saja orang lain melihat kebiasaannya yang tertawa tiba-tiba, orang itu sudah pasti menganggapnya gila. Walaupun suara tawa Helen cukup pelan bahkan kadang tak terdengar, tetap saja, Helen terlalu sering tertawa tiba-tiba. Ya, tapi mau bagaimana lagi? Helen sendiri tak bisa mengendalikan pikirannya yang tiba-tiba melompat ke masa junior high-nya dulu.

Dia tiba-tiba teringat tugas kelompok biologi yang mengharuskannya berpasangan dengan Sai. Siapa yang tidak kenal Sai, ngomong-ngomong? Anak baru yang mulutnya pedas luar biasa, bahkan Naruto yang dikenal mudah mengakrabkan diri dengan orang-orang tanpa memandang usia dan status sosial terlihat tidak menyukai Sai. Dan sialnya –atau justru untungnya, dia yang pemalu dan susah mengendalikan diri dari rasa gugup justru berpasangan dengan Sai.

Helen dan –oh sebentar, agak aneh rasanya menceritakan masa lalunya memakai nama Helen.

Hinata dan Sai mendapat tugas untuk mempresentasikan tentang fase-fase dalam siklus menstruasi lengkap dengan gambar tiap fase serta ovarium juga uterus-nya. Jelas akan mudah jika Sai mau mengikuti saran Hinata untuk mencetak tiap gambar yang bisa di dapat dari internet atau pustaka dengan ukuran besar, tapi Sai justru bersikeras ingin menggambarnya. Itu adalah satu titik di mana kesabaran Hinata tampak diuji untuk pertama kalinya.

Hinata mengalah, dari apa yang Hinata dengar Sai cukup bagus dalam menggambar, jadi mungkin tidak apa-apa. Hinata bisa mengandalkan Sai karena menggambar sama sekali bukan hal yang menarik minat Hinata.

"APA YANG K–" Hinata hampir meledak. Okay, Helen tertawa lagi saat ini. Hinata hampir meledak melihat apa yang dilakukan Sai pada kertas ukuran besar yang mereka beli.

"Apa?" Sai bertanya dengan polosnya. Sangat polos, tanpa rasa bersalah, yang entah membuat Hinata bingung karena harus memaafkan Sai atau justru meluapkan kekesalannya yang menjadi-jadi.

Hinata akui Sai sangat berbakat dalam menggambar atau mungkin lebih tepatnya melukis, dengan aliran yang tidak begitu Hinata ingat namanya. Sai berbakat, tapi tidak dengan menggambar rahim yang harusnya bisa dengan mudah membuat orang lain paham saat mereka presentasi besok paginya. Ini bagus, tapi terlalu berwarna! Dan membuat bingung!

Sore itu juga, Sai berhasil membuat Hinata menjadi orang yang sangat cerewet dan tak berhenti mengomelinya.

"Wah! Harusnya kau ikut Klub Seni Rupa juga, Hinata!" –adalah kalimat yang diucapkan Sai (masih dengan wajah minim ekspresinya) saat Hinata menyelesaikan gambar yang mereka butuhkan di jam sebelas malam. Terima kasih kepada Neji yang tidak di rumah, jika dia ada di rumah mungkin tugas mereka tidak akan selesai secepat itu karena Neji akan bolak-balik memperhatikan mereka dan bertanya yang 'aneh-aneh' pada Sai.

"Aku serius. Kemampuan menggambarmu bisa ditingkatkan lagi di sana." Kali ini Sai kembali bersuara. Barusan itu Sai memujinya dan menyuruhnya meningkatkan skillnya atau justru mengoloknya dan menyuruhnya untuk meningkatkan skillnya?

"Lagipula menggambar itu menyenangkan, kau tahu?"

Hinata menatap Sai dengan aneh. Sai mungkin agak aneh, juga bermulut pedas, dan terkadang tak punya perasaan, tapi kalimat terakhir dari Sai itu terdengar sangat jujur juga dipenuhi rasa bahagia. Hinata menatap Sai dengan lekat-lekat. Ada banyak coretan spidol yang tanpa sengaja tertoreh di wajah putih Sai. Hinata tertawa.

"Apa?"

Hinata menggeleng setelah tawanya mereda, "Sekolah kita tak punya Klub Seni Rupa."

Untuk pertama kalinya Hinata melihat Sai menyeringai, "Bukan berarti di Konoha tidak ada."

Dan sejak itu, di luar jam dan hari sekolah Hinata berteman dengan Sai secara akrab. Ya karena entah mengapa di sekolah rasanya mereka tak bisa mengekspresikan diri mereka dengan bebas seperti versi diri mereka di Klub Seni Rupa. Kalau saja saat itu Hinata tidak sedang menyukai Naruto, mungkin Hinata dan Sai sudah berakhir menjadi sepasang kekasih.

Uh-uh, tapi mereka memang sepasang 'kekasih' sih, walau hanya saat kegiatan klub. Salahkan klub yang agak gila itu karena terkadang mengharuskan mereka berkarya berpasangan serta membuat kondisi memalukan seperti: berkencan (mencari inspirasi dengan memosisikan diri sebagai sepasang kekasih), juga harus saling memanggil sayang –eww.. kalau diingat lucu juga.

Klub yang terlihat bodoh dan aneh, tapi menyenangkan. Hinata cukup menikmati pertemanannya dengan Sai juga dengan orang-orang di Klub Seni Rupa (rahasia konoha) –klub yang juga mengenalkannya pada Sasori.

Ah, kenangan…

.


.

(III)

Lampu ruangan yang tiba-tiba menyala membuat Neji tersentak, dia sama sekali tidak menyadari saat Hiashi masuk dan sudah berdiri di dekatnya, tepat di hadapan saklar lampu.

"Helen Akasuna?" Hiashi membaca kata kunci pada mesin pencarian yang diketik Neji, pandangannya penuh tanda tanya. Banyak artikel yang muncul sebagai rekomendasi, dan beberapa tampaknya sudah dibaca oleh Neji, terlihat dari warna judulnya yang berubah warna.

"…Helen."

Neji terlalu bingung, benaknya menimbang dengan matang-matang jawaban bagaimana yang harus diberikannya pada paman yang sudah dianggap bahkan dipanggilnya ayah, dan yang keluar dari mulutnya hanya satu kata; Helen.

"Helen?" Hiashi kembali bertanya, dia mulai menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan oleh keponakan yang telah dianggapnya anak ini. Neji hanya diam, matanya hanya menatap salah satu gambar yang terbingkai di atas meja, tapi Hiashi bisa jamin, pandangan Neji sama sekali tidak fokus –ikut terbawa arus pikirannya.

Lalu dalam beberapa detik Hiashi bisa melihat bahwa mata khas Hyuuga milik Neji membesar, kaget, seakan-akan baru saja menemukan hal besar yang tidak pernah disangka-sangka. Neji menjulurkan tangannya, meraih gambar yang sedari tadi dipandangnya kemudian melepas bingkai serta kacanya.

Bahu Neji merosot, raut wajahnya terlihat kecewa begitu menemukan huruf latin H di pojok kanan kertas. Hanya H. H untuk Hinata. Neji tiba-tiba mengingat saat Hinata mengatakan hal itu.

H untuk Hinata.

Bukan Helen.

"H untuk Hinata..." Neji bergumam, meyakinkan dirinya sendiri, dan memang bergumam untuk dirinya sendiri, tapi sayangnya suara gumaman Neji masih cukup untuk di dengar oleh Hiashi yang masih berdiri di sampingnya.

Hiashi kemudian mengambil gambar yang sudah berada di atas meja, mulai memperhatikan gambar gerbang kuil keluarga Hyuuga yang dibuat oleh Hinata. Hiashi tahu gambar ini dibuat oleh Hinata, tapi Hiashi sama sekali tak tahu apa yang dicari oleh Neji dari gambar ini. Mungkin jika Hiashi memperhatikan gambar di tangannya ini, dia bisa tahu apa yang menganggu puteranya hingga pukul dua dini hari saat ini.

Neji mengikuti arah tangan Hiashi yang mengambil gambar dari meja di depannya, merasa sangat tidak sopan karena mengabaikan Hiashi walaupun tanpa sengaja. Dan saat gambar itu sejajar dengan dada Hiashi yang sedang berdiri, napas Neji tertahan.

Hiashi lagi-lagi kebingungan, tapi dengan cepat akhirnya Hiashi mengetahui hal yang membuat napas Neji tertahan. Di sini. Di balik gambar yang sedang digenggamnya, lagi-lagi tertulis huruf latin yang jika sekilas terlihat seperti untaian hiasan. Di belakang gambar gerbang kuil keluarga Hyuuga ini, tertulis… Helen.

Hiashi sudah bisa menduga apa yang mengganggu Neji hingga lewat tengah malam seperti ini.

Hanya saja, Hiashi tak tahu harus bereaksi seperti apa, pun begitu dengan Neji yang seakan kehilangan kemampuan berbicara.

Hinata?


15052019