Di chapter ini aku nambahin beberapa fakta dan chara. Tapi itu cuma pendukung aja. Jalan cerita sama chara utamanya masih sama seperti yang kemarin.

Aku juha mau bilang terima kasih buat respon bagusnya. Jadi semangat nulis, hehe

KNB © FUJIMAKI TADATOSHI

Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)

Friendship, Family, Chilhood, Humor, Romance (maybe)

Kuroko Tetsuya, Momoi Satsuki, GoM, Aida Riko

(Cast mungkin bertambah di chapter selanjutnya)

Waning : FF orang labil. Nggak jelas. Typo. Humor gagal. Menjurus ke OOC. Non Baku.

.

.

Chap 2 : Guru Laki-laki

.

.

Musim semi di pagi hari selalu jadi hal yang mengesankan di TK Teiko. Tempat berkumpulnya anak-anak ajaib yang di salah satu distrik di Tokyo.

"Tetsu-kun!"

"Oi-oi Satsuki."

"Tetsu-kun apa kabar?"

"Aku baik."

"Cih, dia pura-pura nggak denger lagi.. Pagi, Tetsu."

"Pagi Daiki-kun."

.

"Berhenti."

"Kenapa?"

"Mama anter Ryouta sampe sini aja. Ryouta mau berangkat sendiri."

"Hah?"

"Da-dah Mama! .. Shintarou-cchi! Kazunari-cchi!"

.

"Sei-chin, pagi."

"Pagi Atsushi."

"Hari ini Sei-chin bawa bekal apa?"

"Bekal? Aku nggak tahu. Mama yang buat, aku belom liat juga."

"Oh, aku bawa Maiubo, mau?"

"Hehe, nggak ah."

Dua laki-laki beda ekspresi itu jadi semacam tontonan yang menarik saat mereka memasuki kelas. Jadi semacam badut dengan kostum kulit yang tak henti dikagumi bocah-bocah di sana.

Bahkan ketujuh bocah pelangi menjadikan dua laki-laki itu objek menarik di mata mereka.

"Ini Hyuuga sensei, guru olah raga kita." Riko memperkenalkan laki-laki berkaca mata yang memasang tampang seram-tapi-lucu di sisi kirinya.

"Yang ini Kiyoshi sensei. Kepala sekolah TK Teiko." Kali ini laki-laki yang tak hentinya tersenyum di sisi kanan Riko maju selangkah, sedikit menunduk dan menyapa para murid baru di kelasnya. Kelas Pelangi.

Ah ya, ini mungkin penting untuk diketahui. TK Teiko tidak hanya punya satu kelas tapi tiga. Kelas Bintang, Kelas Matahari dan Kelas Pelangi. Semuanya terbagi rata dengan masing-masing kelas terisi enam belas anak—yah, harusnya begitu. Tapi tahun ini kelas pelangi hanya diisi dengan lima belas kepala mungil. Jadi jelas Riko bukan satu-satunya guru di TK ini. Ada dua guru lain. Dua guru laki-laki.

"Pagi~" nada yang dibuat-buat seolah lembayun angin pantai itu cukup membuat kelas semakin sunyi. "Jadi.."

Kepala-kepala kecil di sana mendongak demi memfokuskan mata pada si kepala sekolah.

"..siapa ketua kelasnya?"

"Seijuurou!"

"Yang mana orangnya?"

Dia yang ditunjuk menatap Kiyoshi bingung. Dalam otak bocah bersurai merah cerah itu sedang menebak-nebak apa yang akan dibebankan kepala sekolah padanya.

"Seijuurou-kun bisa maju?"

Tanpa banyak bicara Seijuurou berdiri. Posisinya yang ada di tengah-tengah tadi—diapit Tetsuya dan Ryouta— membuat beberapa kawan lain harus bergeser demi memberi jalan pada di ketua kelas.

"Seijuurou-kun tahu cara memimpin kelas?"

Dia tahu.

"Tidak." Bohongnya.

"Aida sensei belum mengajari?" Seijuurou menggeleng. Mempertahankan raut polos pada wajahnya. "Baiklah. Akan sensei ajari."

Riko dan Hyuuga mundur dan membiarkan Kiyoshi untuk memberi beberapa pengetahuan bagi si ketua kelas di depan teman-temannya sendiri.

Bukan hal aneh sebenarnya melihat Kiyoshi mengajari salah satu anak di TK. Tapi melihat Seijuurou yang diajar saat ini tampak cuek, mereka merasa sedikit iba pada kepala sekolah mereka.

Biasanya—sebelumnya— setiap ada kesempatan bagi Kiyoshi mengajar langsung seperti ini, anak yang diajar akan tampak antusias. Posisinya sebagai kepala sekolah dan pembawaannya yang bagai lembayu angin pantai itu bisa membuat anak ajarnya mudah akrab padanya. Tapi kali ini..

"Bisa?"

Seijuurou hanya mengangguk. Dia memberi instruksi pada teman-temannya langsung di hadapan Kiyoshi dan itu terlihat lebih baik dari apa yang Kiyoshi ajarkan.

"Bagus. Seijuurou memang hebat." Tapi setidaknya, pujian itu masih bisa membuat si bocah bersurai merah itu membusungkan dada penuh rasa bangga.

"Sensei."

"Ya?"

Daiki yang ada di barisan paling belakang mengangkat tangannya kemudian berdiri. "Aku mau coba jadi ketua kelas."

Kini seluruh perhatian terarah pada si biru berkulit gelap itu. Tanpa menunggu jawaban bocah itu maju, berdiri di sisi Seijuurou dan memberi senyum cerah lengkap dengan gigi putih yang kontas dengan kulitnya.

Dia melakukan apa yang tadi Kiyoshi ajarkan pada Seijuurou dan mendapat respon yang sama seperti yang Seijuurou dapat.

"Tuh, lihat Satsuki. Aku bisakan?"

"Seijuurou-cchi masih lebih baik dari pada Daiki-cchi, iyakan?" Shintarou dan Atsushi yang duduk di dekat Ryouta mengangguk setuju. Satsuki juga meminta Daiki untuk kembali duduk.

Memang Seijuurou ketua kelasnya, Daiki juga memilihnya di depan kelas waktu itu. Tapi setelah beberapa hari Daiki mulai berubah pikiran. Seijuurou suka seenaknya bertingkah dan dia tidak suka itu. Pake bawa-bawa gelar ketua kelas lagi.

"Kalau begitu aku akan jadi ketua kelas kedua. Kalau Sei tidak masuk aku akan menggantikannya. Gimana, Sei?"

"Nggak usah. Aku bisa sendiri." Seijuurou tersenyum mengejek. Ada kesan merendahkan yang langsung membuat Daiki kesal.

"Kamu nggak capek kalau cuma sendiri?"

"Nggak."

Menahan malu Daiki memilih untuk kembali ke barisan belakang. Mengendus kesal karena jawaban singkat Seijuurou yang menyebalkan menurutnya.

"Sabar saja, Dai-chan. Kamu memang masih kalah dari Sei-kun."

"Rentangkan tangan kalian. Jangan sampai menyentuh tangan teman di samping ya?"

"IYA!"

Hyuuga tersenyum senang saat anak-anak kelas pelangi terlihat semangat menyambut hari pertama pelajaran olah raga mereka. Walau harus ada sedikit keributan tentang siapa yang harus memimpin salam saat Hyuuga datang tadi.

Daiki masih ingin menjadi ketua kelas cadangan yang sewaktu-waktu bisa mengambil alih tempat Seijuurou dan berkuasa seperti kawan merahnya itu.

"Ikuti gerakan sensei ya?" Riko ada disana, berdiri di samping Hyuuga dan ikut bergerak seperti yang Hyuuga contohkan.

Sesekali matanya melirik pada kepala-kepala warna-warni yang—lagi-lagi—memilih berbaris paling belakang.

Katakan saja mereka itu seperti geng yang otomatis tercipta di kelas pelangi. Riko tidak akan membantahnya. Itu memang yang terjadi.

Setelah beberapa hari, tujuh bocah berwarna rambut mencolok itu, ditambah satu bocah bersurai hitam yang terus melekat pada si hijau lumut, sudah membuat suatu perkumpulan setiap kali ada kegiatan kelompok. Memilih ada di belakang barisan dengan kelompok mereka sendiri. Berbuat sesuka mereka.

"Tetsu, yang benar itu begini."

"Oh, iya. Terima kasih, Daiki-kun."

"Tetsu-kun, aku sudah benar belum?"

"Hah? Aku nggak tahu."

"Tetsuya-cchi, sini-sini."

"Jangan asal tarik, Ryouta! Sini saja di sampingku, Tetsuya."

"Kalian berisik-nanodayo. Tetsuya jangan pindah-pindah. Sini saja."

"Eeh? Aku gimana Shin-chan?"

Riko tahu betul kalau ada satu muridnya dianggap begitu spesial. Kuroko Tetsuya memang punya sedikit keunikan jika dibanding yang lain. Belum lagi tubuhnya yang kecil jika di banding tubuh bocah laki-laki seumurannya. Itu membuat Tetsuya dapat banyak perhatian seperti halnya adik bayi yang baru lahir dalam keluarga besar.

Semua ingin mendapat perhatian Tetsuya. Semua ingin membuat Tetsuya senang.

"Tetsuya, sini maju."

Riko tahu betul kalau enam warna lain menatap tidak suka padanya karena ajakan itu. Tapi dari pada nantinya mereka bertengkar dan Hyuuga marah, lebih baik seperti ini.

"Kita buat lomba lari, mau?"

"Mau!"

Seijuurou langsung melangkah maju dari barisan paling belakang. Dia memimpin teman-temannya untuk berbaris menjadi tiga barisan tanpa perlu diperintah. Dan setelah itu dia kembali pada barisan paling belakang. Berjajar dengan Daiki dan Tetsuya.

"Aku akan menang-ssu!"

"Huh, aku juga tidak mau kalah-nanodayo."

"Ah, aku malas. Sei-chin, aku nggak ikut boleh nggak ya?"

"Harus ikut, Atsushi."

"Ah, tapi lari bikin keringetan, males ah."

"Bilang aja kamu takut kalah. Iyakan? Ngaku aja."

"Dai-chin, sok tahu. Aku emang males. Nanti keringetan, bau."

"Atsushi-kun, Ryouta-kun, Shintarou-kun, itu udah giliran kalian."

Dan berkat Tetsuya ketiga bocah itu langsung bersiap. Atsushi juga terpaksa ikut walau pada akhirnya dia justru jalan dan membiarkan Ryouta sibuk berteriak pada Shintarou untuk menunggunya.

"Shintarou-cchi tunggu-ssu! Ih, tunggu dong-ssu! Atsushi-cchi juga, kenapa malah jalan? Inikan lomba lari-ssu!"

"Ah, males."

Mereka tidak perduli dengan bagaimana Riko dan Hyuuga memperhatikan mereka. Bahkan di baris terakhir, Daiki sedang menantang Seijuurou.

"Aku akan mengalahkanmu."

"Coba saja kalau bisa."

Mereka berbicara seolah tidak ada Tetsuya di tengah-tengah mereka.

"Oke, sudah siap?" Ketiganya mengangguk. Membuat kuda-kuda sesuai keinginan masing-masing. Begitu peluit ditiup, Daiki dan Seijuurou langsung berlari. Daiki lebih unggul di awal tapi terbalap di pertengahan. Mereka hampir mendapat hasil seri kalau saja Ryouta tidak berteriak..

"Tetsuya-cchi!"

..kemudian berlari berlawanan arah dengan Daiki dan Seijuurou.

Bukan hanya Ryouta yang lari, setelah itu Riko dan Hyuuga juga berlari melawan arah Daiki dan Seijuurou, disusul teman-teman yang lain. Mereka mengerubungi Tetsuya yang terjatuh tersandung kakinya sendiri.

Bocah berpucuk biru langit itu tidak menangis walau jelas wajahnya memerah, matanya mulai berkaca-kaca dan menahan sakit dari lutut yang lecet.

"Ayo ikut sensei. Kita obati lukanya." Hyuuga langsung menggendong Tetsuya dan tidak memberikan sedikit waktupun bagi bocah pelangi yang lain untuk menghawatirkan kawan mereka itu.

"Yang lain boleh istirahat. Main di luar, tapi tidak boleh keluar sekolah. Mengerti?"

"Mengerti!"

"Terus gimana-ssu? Tetsuya-cchi pasti sakit-ssu."

Ryouta jongkok bersama teman-temannya yang lain. Membuat sebuah lingkaran aneh dan bermain ranting. Daiki dan Seijuurou sudah benar-benar lupa tentang persaingan mereka. Tetsuya yang jatuh tadi menyadarkan keduanya kalau mereka ceroboh.

Mereka merasa tidak bisa menjaga teman mereka. Ceroboh, kan?

"Tetsu-kun, tadi pasti mau nangis."

Dan Satsuki, satu-satunya gadis disana justru menangis mengingat luka lecet di lutut Tetsuya. "Itu pasti sakit. Nanti kalau Tetsu-kun nggak bisa jalan gimana? Dia nggak bisa main sama kita gimana?"

"Iya. Gimana-ssu? Kalian nggak sedih ya?"

"Dianya aja nggak nangis-nanodayo. Kenapa kalian yang nangis?"

"Shin-chan, kalo mau ikut nangis juga nggak apa-apa."

"Aku nggak mau nangis-nanodayo!"

"Cukup!" Mereka diam. Satsuki dan Ryouta juga berhenti nangis. "Lebih baik kita lihat Tetsu di ruang kesehatan."

"Tapi Aida sensei bilang tadi, nggak boleh masuk ke ruang kesehatan. Dai-chin nggak denger ya?"

Iya, memang Riko tadi memperingati mereka untuk tidak datang ke ruang kesehatan. Riko tahu betul kalau bocah warna-warni itu akan membuat kekacauan lagi walau niatnya baik. Untuk melihat teman mereka.

"Denger kok!"

"Terus?"

"Maksud aku, kita sembunyi-sembunyi. Gimana, Sei?" Daiki menoleh pada Seijuurou yang sejak tadi diam memperhatikan setiap kata teman-temannya. "Kamu juga harus tanggung jawab dan merasakan sakit."

Entah apa maksud dari kalimat terakhir Daiki, Seijuurou sendiri tidak paham. Tapi dia setuju untuk sembunyi-sembunyi mendatangi Tetsuya di ruang kesehatan.

"Tapi.."

Mereka baru akan berdiri saat Kazunari—bocah yang selalu mengikuti Shintarou— menginstruksi lagi.

"Kenapa Kazu?" Kazunari menoleh pada Shintarou di sampingnya, dan bukannya pada Daiki yang bertanya.

"Ruang kesehatan itu adanya di samping ruang guru."

Benar.

"HA-AH." Mereka mendesah bersama. Lupa pada fakta paling menyulitkan bagi mereka itu. "Terus gimana dong-ssu?"

"Kita buat kelompok." Seijuurou merampas ranting di tangan Kazunari. Di pasir dia menulis nama Ryouta, Satsuki, dan Daiki dalam satu baris, lalu namanya, Atsushi, Shintarou, dan Kazunari di baris lain.

"Kalian pergi ke ruang guru dan buat perhatian di sana sampai sekiranya aku dan yang lain bisa masuk ruang kesehatan."

"Oi Sei! Yang bener aja! Masa aku yang nyari perhatian!"

"Iya-ssu. Kenapa nggak Seijuurou-cchi aja? Aku juga mau lihat Tetsuya-cchi tahu!"

Dengan mudahnya Seijuurou memukul kepala Ryouta dan Daiki menggunakan ranting hasil rampasan di tangannya. "Kalau aku, sensei pasti langsung curiga. Kalian kan yang paling berisik."

"Ha? Kazu sama Shintarou juga suka berisik, Atsushi juga bisa. Kenapa harus aku?"

"Daiki, kalau mau ikut tinggal bilang aja. Nggak usah pura-pura nggak suka diperintah gitu. Kamu jadi kaya Shin-chan tahu, iyakan, Shin-chan?"

"Diem deh, Kazu!"

"Oke."

Shintarou menarik Atsushi di sampingnya untuk berdiri. Dia mengajak anak itu ke toilet. "Aku kebelet pipis nih, temenin yuk?"

"Eeh? Kenapa aku? Kan ada Kazu-chin."

"Iya, Shin-chan. Sama aku aja."

"Nggak mau. Aku maunya sama Atsushi aja-nanodayo. Sama kamu aku nggak suka." Dia menatap Seijuurou di hadapannya. Memberi isyarat kalau dia akan pergi. "Aku tunggu kalian di dalem-nanodayo."

"Eum, hati-hati Shintarou."

Sementara yang lain bingung maksud perkataan Shintarou barusan, Seijuurou justru berlari mengambil bola yang terlempar ke arah mereka.

"Oi Sei!"

"Apa?"

"Kok kamu malah main sih? Tetsu-nya gimana?"

"Tunggu sebentar lagi."

"Tunggu?" Mereka melirik bingung satu sama lain. Sampai Kazunari tertawa dan menghampiri Seijuurou lalu mengatakan, "Aku tahu. Aku pernah lihat cara ini di tivi."

"Cara apa-ssu?" Ryouta mendekat dan memaksa Seijuurou untuk cerita. Dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan temennya itu. "Aku masih TK-ssu. Aku nggak ngerti yang kaya begini-ssu. Mama selalu larang aku nonton sinetron soalnya."

Satsuki juga mengangguk setuju dengan Ryouta. "Aku bingung." Katanya.

"Nanti habis ini kamu ke toilet, Ryouta. Kita kumpul di sana." Ryouta masih bingung. Matanya menatap Kazunari yang mengangguk setuju dan Daiki yang berguman mengerti. Sekarang tinggal dia yang belum mengerti.

"Hah, kenapa? Aku takut ke toilet sendiri. Nanti kalau ada hantu toilet gimana-ssu?"

"Shin-chan dan Atsushi ada di sana, kok. Tenang aja. Nanti kalau semua udah kumpul di toilet kita tinggal diam-diam ke ruang kesehatan. Kan kalau dari toilet kita nggak lewat ruang guru."

Butuh waktu sekitar tiga puluh detik bagi Ryouta untuk paham hal itu. Dan sekalipun sudah paham, "Tapi aku takut ke toilet sendiri-ssu."

Matanya langsung berkaca-kaca, dia berusaha untuk tidak menangis, tapi memikirkan kalau dia akan ke toilet sendiri sedang yang lain bisa berdua dia jadi takut.

"Oke-oke, aku pergi sama kamu. Jangan nangis yang penting, Ryouta. Nanti sensei malah dateng kesini."

"Terus aku yang sendiri, Dai-chan?"

"Satsuki kan perempuan, masa ke toilet sama laki-laki." Ryouta mengangguk semangat. Setuju dengan apa yang Kazunari katakan.

Gadis itu cemberut kesal, tapi tidak bisa membantah. Dia tahu diri kalau apa yang Kazunari katakan memang benar.

"Kalau gitu aku sama Ryouta pergi duluan ya?" Daiki berjalan lebih dulu menuju pintu masuk TK mereka.

"Awas jangan sampe ketahuan sensei." Ingat Seijuurou dan langsung disambut teriakan. "Tenang aja-ssu!" Dari Ryouta yang menggandeng tangan Daiki.

Setelah kedatangan Daiki dan Ryouta, hanya tinggal menunggu Seijuurou dan Kazunari menyusul. Sejak awal mereka memang tidak ingin mengajak Satsuki.

Alesan mereka sama, Satsuki cuma mengganggu. Berisik pula.

Ini akan jadi ajang cari-perhatian-di-depan-Tetsuya yang cuma bisa diikuti mereka para laki-laki. Satsuki cuma pengganggu.

"Semua udah disini, kan?" Seijuurou langsung mengintruksi begitu masuk toilet.

"Sudah-ssu!"

"Jangan berisik, Ryouta. Nanti sensei tahu-nanodayo."

"Oh iya. Maaf-maaf."

"Terus gimana, Sei?" Daiki berjalan ke arah pintu toilet, membukanya untuk mengintip keadaaan. "Kalau kelamaan nanti Satsuki keburu dateng."

"Ayo, sekarang juga nggak apa-apa. Tapi Atsushi.." Atsushi yang dari tadi berdiri diam, sibuk dengan jajanan di tangannya menoleh.

"Kenapa?"

"Jajanannya simpen dulu. Nanti ketahuan sama sensei."

Bocah bongsor itu mengangguk. Menutup mulut bungkus jajanannya dengan satu genggaman tangan. Mengusap area sekitar bibir yang belepotan dengan remah Maiubo-nya.

"Shin-chan, jangan jauh-jauh ya?" Kazunari datang dan langsung menggandeng tangan Shintarou. Tersenyum lebar seolah itu wajar.

"Kamu juga jangan sampe ketinggalan, jalannya jangan lelet." Shintarou ikut menggenggam tangan Kazunari dan menarik bocah yang lebih pendek darinya itu untuk berjalan di belakangnya setelah Seijuurou, Daiki dan Ryouta keluar dari persembunyian mereka.

Berjalan mengendap-endap menuju ruangan khusus di samping ruang guru dan berbisik pada temannya agar tidak berisik.

Nyatanya, karena berbisik itu mereka justru membuat koridor yang sunyi jadi penuh bisik-bisik aneh.

Langkah-langkah kecil sarat akan kehati-hatian yang mereka lakukan sejak tadi sudah ketahuan sebenarnya. Ada seseorang yang berdiri tersenyum memperhatikan tingkah mereka.

"Ih, Daiki-cchi, jangan ijek kaki aku dong! Sakit-ssu!"

"Ssst! Ryouta jangan berisik."

"Maaf-maaf."

"Shin-chan, jangan lepas tangan aku, loh."

"Jangan berisik-nanodayo. Aku nggak bakal lepas, kok."

"Sei-chin.."

Mereka masih berjalan mengendap-endap. Tinggal beberapa meter sampai pintu ruang kesehatan bisa mereka geser terbuka.

"Sei-chin..."

"Apa sih Atsushi?" Bocah merah itu masih sibuk mengawasi sekitar. Tidak menoleh pada temannya yang ada di belakangnya.

Seijuurou adanya di depan barisan, paling depan, memimpin yang lain dan Atsushi ada di baris paling belakang.

"Sei-chin.."

"Apa sih, Atsushi?"

"Kita ketahuan."

Mereka semua menoleh bersamaan. Di samping Atsushi seorang guru laki-laki tersenyum menyapa mereka. "Lagi apa?"

"Izuki sensei?"

"Iya, Kazu."

Kali ini fokus mereka tertuju pada Kazunari yang mengenal guru laki-laki itu.

"Sensei lagi apa?"

"Kalian lagi apa?"

Tidak ada yang menjawab. Ryouta justru sibuk bertanya pada Daiki dan Shintarou tentang siapa Izuki sensei itu.

"Aku guru kelas bintang, Ryouta. Kenapa?"

"Ng-nggak-ssu. Cuma penasaran aja."

Izuki berjalan melewati mereka, berhenti di depan pintu ruang kesehatan, bertingkah seperti penjaga pintu itu. Penghalang kalau dari sisi para bocah.

"Kalian mau ganggu Tetsuya, kan?"

"Nggak-ssu!" Ryouta langsung membantah. Bocah bersurai kuning itu memajukan bibir tidak suka karena tuduhan sang guru. "Kami cuma mau lihat keadaan Tetsuya-cchi, kok."

"Kami hanya ingin memastikan kalau Tetsuya tidak menangis-nanodayo."

"Oh, khawatir ya?"

"NGGAK!" Sahut mereka kompak.

Izuki tersenyum menahan tawa. Kazunari yang sejak tadi memberi sinyal untuk meloloskan kawan-kawannya itu juga masih dihiraukannya. Bocah-bocah yang menarik.

"Kalau gitu nggak perlu dilihat. Tetsuya nggak nangis, kok. Dia juga baik-baik aja."

"Aku nggak percaya." Si biru tua menyahuti. Berjalan melewati si merah dan berdiri di hadapan Izuki. "Aku mau lihat sendiri kalau Tetsu baik-baik aja."

"Tapi nanti kamu bisa ngeganggu dia."

"Kami nggak mau ganggu Tetsu-chin, kok, sensei. Cuma mau lihat aja. Aku juga mau kasih jajananku biar dia cepat sembuh." Senyum Izuki melebar saat si ungu mengeluarkan bungkus jajanan yang sejak tadi disembunyikan di balik badan. Benar-benar menarik, Izuki jadi ingin memperhatikan mereka terus.

"Izuki sensei."

"Kenapa, Kazu?"

"Sensei jangan bilang-bilang sama Aida sensei, loh. Nanti aku aduin sama papa juga."

"Iya, nanti aku aduin, ayahku juga." Seijuurou tidak mau kalah andil. "Ayahku orang hebat loh, sensei."

Ingin hati Izuki terus mempermainkan mereka. Tapi melihat mata satu persatu dari mereka yang seolah berdoa agar Izuki segera minggir dari depan pintu, Izuki menyerah. Mereka akan tetap berusaha untuk menemui Tetsuya sekeras apapun Izuki dan guru lain menghalangi.

"Baiklah, tapi sensei punya syarat."

"Apa?" Disaat seperti ini mereka bisa menyamakan nada mereka dan harap-harap cemas bersama.

"Jangan berisik. Jangan bikin kacau. Jangan sampai ketahuan Aida sensei dan Hyuuga sensei juga. Gimana?"

Senyum sumringah mengembang di wajah-wajah berpucuk warna-warni itu. Mereka mengangguk kompak dan mengiyakan. Jadi dengan senang hati Izuki bukakan juga pintu ruang kesehatan.

Dimulai dari Daiki, Seijuurou, Ryouta, Shintarou, Kazunari dan terakhir Atsushi. Mereka masuk tanpa banyak suara dan langsung melihat kawan mereka yang disembunyikan para guru sejak sejam lalu.

Kuroko Tetsuya, bocah berkulit putih seputih porselen mahal, berambut biru seperti langit siang yang cerah itu sedang asik membaca buku cerita bergambar di salah satu ranjang ruangan itu. Tapi keasikannya terganggu oleh kawan-kawannya.

"Kalian ngapain kesini?" Itu pertanyaan tanpa nada yang mengalir lurus langsung menembus dada enam bocah laki-laki warna-warni di sana.

"Tetsu, kamu nggak apa-apa? Lututmu?"

Si biru langit menunjukan lututnya yang sudah terbalut perban. "Nggak apa-apa, kok."

"Tetsu-chin, ini buat kamu." Si ungu kini maju mendekat. Menyodorkan bungkus jajanan di tangannya pada si biru langit. "Cepet sembuh ya?"

"Terima kasih, Atsushi-kun." Tetsuya menerimanya. Memberi seulas senyum untuk Atsushi dan jajanannya.

"Lagi baca apa, Tetsuya? Boleh ikut baca lagi?" Seijuurou ikut maju. Tidak mau kalah dari dua temannya. Dia bahkan langsung memanjat tempat Tetsuya dan duduk di samping Tetsuya.

"Oh, ini cerita Shirayuki-hime."

"Tetsu-cchi aku juga mau tahu ceritanya-ssu. Bacakan ya?" Ryouta memanjat tempat di sisi lain Tetsuya. Disusul Daiki yang ikut duduk di samping Ryouta.

"Sepertinya itu cerita yang bagus-nanodayo." Kali ini Shintarou ikut naik tapi pada ranjang lainnya yang berhadapan dengan ranjang Tetsuya. Di susul Kazunari dan Atsushi, yang meminta Tetsuya untuk membacakan cerita Snow White versi Jepang itu.

"Izuki sensei mau dengar juga?" Kazunari mengintrupsi sebelum Tetsuya memulai cetitanya.

"Tidak, sensei hanya ingin pastikan kalau kalian tidak melanggar syarat yang sensei minta tadi." Setelah menggusap pelan pucuk Kazunari ditinggalkannya ruang berbau obat itu.

Izuki cukup tahu diri untuk tidak mengganggu acara menjenguk bocah-bocah itu.

"Setidaknya mereka bisa menepati janji mereka untuk tidak berisik, tidak sampai ketahuan Riko dan Hyuuga."

"Loh, mereka dimana sih? Di toilet laki-laki nggak ada. Di toilet perempuan juga. Jangan-jangan mereka ninggalin aku? Terus ketahuan sama sensei. Terus di hukum. Uuh, makanya jangan suka ninggalin orang! Dai-chan, bodoh."

Huwa, aku seneng banget.. nggak nyangka bakal banyak yang ngerespon positif FF ini. Makasih buat yang ngasih Review, Favorite dan nge-Follow.. yang Sider juga terima kasih banget..

Aku bales semua review disini aja ya, hehe ^^

ReiTaBe : Duh, makasih banget Rei-chan udah suka ini FF, reviewnya juga makasih.. iya pasti aku lanjut kok.. :)

EmperorVer : Makasih udah suka dan ninggalin review.. iya Kuroko mah emang udah dari lahir lucu, minta dicubit pake tang /dilempar gunting Akashi/ Oke aku lanjut. Semangat!

Nyanko Kawaii : Tapi nggak kemanisan kan-ssu? Takut Nyanko-cchi kena diabetes jadinya-ssu /eh?/apa coba?/author gaje!/

Dhia484 : Darou ne.. silahkan di tunggu, aku jadi semangat nulis kalo ada yang nunggu.. hehe, makasih reviewnya :)

Riven Eve Akashi : duh jangan lirik aku.. masih pengen idup aku, masih pengen bikin banyak momen kalahnya Akashi /gunting melayang/

ObeyCarly : sama, aku juga suka harem!kuroko.. makasih reviewnya ya :)

Ayuni Yuukinojo : cadel ya? Iya sih, emang jadi bikin lebih imut. Tapi bukannya nggak mau, aku belom bisa, soalnya aku nggak terlalu teliti sama yang kaya gitu, takutnya malah jadi aneh. Di TK tempatku juga nggak ada anak cadel, jadi bingung harus cari inspirasi sama modelnya. Tapi nanti aku coba buat kalau cuma untuk guest di FF ini.. makasih Review dan sarannya kakak :)

ratnakartik : oke aku lanjut kok.. aku juga suka harem!kuroko.. hehe polos banget malah.. trims reviewnya ya :)

PreciousPanda : Iya, biasa lah kalo dari lahir udah punya bakat jadi rebutan mah emang gitu. Reviewnya makasih ya :)

Sienna Araxie : kyaaa ada yang manggil senpai ke aku, duh berasa gimana gitu. Makasih favfol-nya, reviewnya juga ya.. silahkan ditunggu juga lanjutannya yang lain.. :)

Ketemu di chap selanjutnya ya~ Aku pamit..

Atma Venusia.