KNB © FUJIMAKI TADATOSHI

Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)

Friendship, Family, Chilhood, Humor, Romance (maybe)

Kuroko Tetsuya, Momoi Satsuki, GoM, Aida Riko

(Cast mungkin bertambah di chapter selanjutnya)

Waning : FF orang labil. Nggak jelas. Typo. Humor gagal. Menjurus ke OOC. Non Baku.

.

.

Chap 3 : Teman Baru

.

.

"Pendaftaran? Tapi tahun ajaran baru sudah lewat sebulan. Tidak apa-apa?"

Riko ada di sana saat Koganei—guru Kelas Matahari— menerima tamu di ruang guru.

Seorang ibu cantik yang menuntun bocah laki-laki bersurai coklat keabu-abuan.

"Tidak apa-apa. Dia ingin mulai sekolah tahun ini. Umurnya juga sudah cukup, tapi karena sempat sakit saat awal tahun ajaran aku jadi tidak bisa mendaftarkannya."

Bocah yang tampak malu-malu itu mengingatkan Riko pada Ryouta di kelasnya. Hari pertama Ryouta datang juga bertingkah seperti bocah itu. Memegang kuat ujung baju ibunya, sedikit bersembunyi di belakang kaki jenjang sang ibu.

Matanya bulat dengan bulu mata yang lumayan lentik. Kalau memang akan masuk, anak itu pasti akan masuk kelas Riko. Riko yakin betul tentang tebakannya.

"Kalau begitu silahkan isi form ini. Kalau sudah besok bisa datang untuk langsung ikut kelas." Koganei menyerahkan satu berkas pendaftaran. Riko juga ikut mendekat pada ibu dan si anak. Memberikan seragam TK pada anak baru yang kemungkinan besar akan masuk kelasnya itu.

"Namamu siapa?"

"Maaf."

"Eh? Kenapa minta maaf?"

"Aku.."

"Kita punya teman baru hari ini.." jeda yang Riko beri itu diisi dengan pandangan penuh menuju seorang anak laki-laki bersurai coklat keabu-abuan yang masuk di waktu yang hampir sama dengan Riko. Ibu bocah coklat keabu-abuan itu hanya mengantar sampai pintu kelas dan tampaknya akan menunggu di sana hari ini. "Ayo kenalkan namamu."

Bocah itu tampak ragu. Dia mendongak pada Riko kemudian menoleh pada ibunya dan terakhir baru menatap lima belas kawan baru yang menantinya di kelas itu. Tangannya meremas ujung seragam biru muda yang ia kenakan. "Maaf." Itu kata pertama yang diucapkan si bocah.

Riko mendelik, begitu juga dengan bocah-bocah lain di Kelas Pelangi.

"Aku Sakurai Ryou. Salam kenal teman-teman." Kemudian dia menunduk. Matanya kembali mengarah pada sang Ibu di pintu kelas. Wanita itu bertepuk tangan menyemangati walau hanya sendiri.

Yah, Riko sadar betul arti peranan itu.

"Nah, mulai hari ini Ryou akan jadi teman kita. Semuanya harus baik sama Ryou. Jangan nakal. Mengerti?"

Seruan kompak yang menjawan "Iya." Membuat senyum lega wanita di pintu kelas bisa Riko lihat.

"Kalau begitu Ryou duduk di meja itu." Riko menunjuk meja Tetsuya, Atsushi dan seorang anak perempuan bernama Ootsubo Tae—yang kebutulan memang menyisakan satu bangku kosong.

Setelah Ryou duduk di tempatnya, Riko memulai kelas seperti biasa dengan Seijuurou sebagai pembuka yang membawa teman-temannya untuk mengucap salam.

"Sekarang Ryou-chin yang ini. Yang satunya Ryouta-chin." Tetsuya yang diajak berbicara hanya mengangguk-angguk acuh. Dia sendiri tidak begitu paham kenapa sejak awal Atsushi mendengan nama Ryou, bocah bongsor itu langsung bingung.

"Ada dua Ryou-chin." Katanya. Dan saat dapat keputusan untuk membedakan nama kedua orang itu, kini dia tampak sumringah sendiri.

"Maaf." Ryou mengintrupsi. "Aku mau pipis." Wajah yang langsung disembunyikan dalam tunduk itu membuat Tetsuya, Atsushi dan Tae menahan tawa.

Jelas mereka tidak berani tertawa. Takut Ryou memangis. Hanya itu alasannya.

"Ayo aku temani." Tetsuya yang kebetulan duduk di hadapannya langsung berdiri. Bocah biru langit itu sedikit berputar dan langsung menggaet tangan Ryou.

"Sensei." Katanya mengintrupsi kegiatan Riko.

Kelas sedang sibuk dengan tanah liat warna-warni yang Riko bagikan untuk di bentuk sesuai kreasi mereka saat Tetsuya mengangkat tangannya dan memanggil Riko. Menyedot semua perhatian langsung ke arahnya.

"Ya, kenapa Tetsuya?"

"Aku mau ijin antar Ryou-kun ke toilet."

Awalnya Riko sedikit heran, tapi kemudian dia mengijinkan dua bocah itu meninggalkan kelas. Tapi belum lewat satu menit Tetsuya dan Ryou keluar kelas ada lagi yang mengintrupsi Riko.

"Sensei!"

"Kenapa Ryouta?"

"Aku mau ke toilet-ssu."

"Aku akan menemani Ryouta-nanodayo."

Dan kali ini tanpa menunggu kaya 'ya' atau sekedar anggukan dari Riko dua bocah itu melenggang meninggalkan kelas.

Belum berhenti sampai di sana.

"Sensei aku juga mau ke toilet." Kali ini sang ketua kelas dan bocah yang terobsesi jadi ketua kelas cadangan—Seijuurou dan Daiki— yang mengintursi kompak. Ada persaingan sengit yang tertangkap mata Riko.

Keduanya berdiri dan siap untuk langsung pergi tanpa menunggu persetujuan Riko. Tapi, "Sensei, aku juga."

"Apa Satsuki?"

"Aku juga mau ikut ke toilet dengan Dai-chan."

Salah. Ini salah.

"Tunggu." Riko berjalan ke arah pintu. Menahan ketiga bocah yang tujuan utamanya langsung Riko ketahui. Apa lagi kalau bukan Tetsuya.

"Mau apa ke toilet ramai-ramai? Satsuki juga, masa mau ikut ke toilet laki-laki?" Mereka diam. Saling pandang dan tampak bingung. "Nanti dulu, tunggu sampai Tetsuya dan Ryou kembali."

"Eeh? Aku mau ke toilet karena ingin ikut Tetsu-kun." Satsuki menyuarakan tujuan utamanya yang sama sekali tidak mengagetkan bagi Riko.

"Nah, itu Tetsuya dan Ryou sudah kembali." Di belakangnya Ryouta dan Shintarou membuntuti. "Kalau Daiki dan Seijuurou mau ke toilet silahkan. Sudah sensei ijinkan."

"Tidak jadi." Kata mereka kompak.

Mereka kembali ke meja masing-masing dengan raut kesal. Saling menyalahkan dengan suara berbisik.

Sampai saat ini Riko heran dengan semua murid di kelasnya. Mereka murid baik tapi juga bisa berubah nakal dalam sekejap. Dan semua itu hanya karena satu anak bersurai biru langit yang—Riko akui sendiri— sangat manis. Belum lagi tingkat kepolosan bocah itu yang ada di bawah rata-rata.

Seperti boneka hidup yang ingin selalu diajak main. Itu mungkin penggambaran paling tepat untuk Tetsuya.

"Sensei, aku dan Ryou-kun sudah kembali." Dia mengatakan itu setelah duduk di bangkunya. Bocah bersurai ungu yang duduk di sampingnya tadi tidak ikut bertingkah seperti yang lain. Tidak seperti biasanya. Tapi mungkin itu ada baiknya.

"Ini Atsushi-kun." Sebungkus permen gula-gula disodorkan oleh si biru langit pada si ungu. "Terima kasih sudah menjaga bangku aku dan Ryou-kun."

Riko tercengang. Riko salah.

Tetsuya bukannya polos. Bocah itu hanya menyembunyikan sifat aslinya dalam wajah yang tampak polos.

"Yang hijau itu namanya Shintarou-kun. Yang di belakangnya Kazunari-kun. Terus yang kuning dan cengeng itu Ryouta-kun."

"Iya-iya. Betul. Terus siapa lagi yang Ryou-kun tahu?"

Tetsuya dan Ryou serta dua teman satu meja mereka masih belum meninggalkan meja. Tetsuya bilang akan membantu Ryou untuk kenal teman-teman satu kelas pada hari pertama dan ini yang mereka lakukan.

Main tebak-tebakan nama teman setelah dua kali Tetsuya mengenalkan yang lain pada Ryou.

"Aku siapa, Ryou-chin?"

"Atsushi-kun."

"Wah, Ryou-chin tahu namaku."

"Kalau aku Ryou?"

"Tae-chan."

"Yey."

"Yang ini Tetsuya-kun." Ryou melingkarkan tangannya pada leher Tetsuya dan memeluk sang teman senang. "Tetsuya-kun, teman baikku."

.

Di sisi lain ruangan ada enam warna yang diam-diam memperhatikan. Walau masih bocah, mereka tahu betul caranya untuk membuat orang lain merasa terintimidasi oleh aura mereka. Tapi Ryou si anak baru itu masuk daftar pengecualian.

"Ih, dia peluk-peluk Tetsuya-cchi. Bikin kesel-ssu."

"Dia itu cuma cari perhatian-nanodayo."

"Tapi nggak apa-apakan, Shin-chan? Kamu juga suka cari perhatian Tetsuya."

"Diam deh, Kazu!"

"Terus gimana ini Sei? Kamu nggak ngebolehin aku sama Satsuki deket-deket mereka. Kenapa sih?"

"Kita tunggu sampe Tetsuya yang dateng sama kita. Dia pasti bakal ngenalin Ryou sama kita."

"Tapi kalau nggak gimana-ssu?"

"Pasti. Tunggu aja."

.

"Shintarou-kun sini deh." Tetsuya menggerakan tangannya meminta dia yang namanya dipanggil untuk mendekat.

Shintarou sih seneng-seneng aja dipanggil. Tapi Kazunari yang ikut membuntutinya dan tatapan iri dari teman-teman yang lain membuat Shintarou sedikit risih.

"Kenapa-nanodayo?"

"Ryou-kun mau kenalan sama kamu." Dan perkenalan singkat terjadi untuk mereka bertiga—Ryou, Shintarou dan Kazunari.

"Shintarou-kun bulu matanya bagus ya?" Ryou memuji dengan mata yang terfokus pada si bocah berkaca mata. Bahkan wajahnya mendekat dan membuat Shintarou terpaksa mundur.

"O-oi!" Shintarou mendorong pelan Ryou agar menjauh.

"Eh, Ryou-chan juga mikir begitu? Aku juga udah sering bilang sama Shin-chan. Tapi dia nggak perduli." Karena Kazunari mata Tetsuya dan Atsushi yang tidak begitu memperhatikan bulu mata Shintarou kini terfokus pada bulu hitam lentik yang mempercantik mata si hijau lumut.

"Ih, iya loh." Tetsuya mengimbuhi. Tangan kecil nan mungil miliknya bergerak ingin menyentuh, tapi Shintarou justru mundur.

Bocah hijau lumut itu malu setengah mati karena dikerubungi empat teman laki-lakinya.

"Eh, kenapa? Aku sama Tetsu-chin cuma mau liat lebih jelas. Mau buka kaca mata Shinta-chin."

"Ng-nggak boleh."

"Kenapa, Shin-chan?"

"Nggak apa-apa. Cuma nggak boleh aja."

Tetsuya, Atsushi, Kazunari dan Ryou saling pandang sesaat sebelum mereka tertawa kompak. "Shintarou-kun lucu ya?"

Tetsuya dan yang lain mengangguk setuju dengan apa yang Ryou katakan. Membuat Shintarou semakin salah tingkah. Tapi..

Pada akhirnya mereka berempat justru membuat empat warna di tempat lain merengut kesal.

"Sebel-ssu!"

"Berisik Ryouta!"

"Habis Tetsuya-cchi pilih kasih. Emang Daiki-cchi nggak sebel?"

"Sebel banget. Tapi liat tuh."

Daiki menunjuk Seijuurou yang asik memainkan gunting kertas dan membuat sampah di belakang mereka. "Emang kamu berani bikin si ketua kelas marah?"

Ryouta dan Satsuki menggeleng kompak. Pada kenyataanya mau seperti apa juga, tetap saja Seijuurou adalah pemimpin mereka. Bergerak tanpa kordinasi si ketua sama saja ingin menjadi musuh bocah merah dengan aura menyeramkan saat marah.

"Eh, liat-liat itu. Tetsu-kun keluar kelas."

Kuning, biru tua dan merah menoleh ke arah yang ditunjuk si merah muda. Tetsuya keluar kelas diikuti Shintarou, Atsushi, Kazunari dan tentunya teman baru mereka.

"Ikutin yuk."

Daiki tersenyum lebar saat Seijuurou mengangguk dalam diam. Ada rasa bangga akan kemenangannya yang bisa membuat si ketua kelas mau mengukutinya.

"Mereka mau kemana sih? Riko sensei kan bilang nggak boleh main di belakang sekolah." Daiki mendumel gelisah. Takut tiga orang yang mengikutinya berhianat saat mereka tertangkap guru. Menuduh Daiki yang mengajak—walau memang itu kenyataannya.

Keempatnya berhenti saat kelompok yang mereka ikuti berhenti pada satu pojok bagian belakang gedung. Mengelilingi sebuah kardus besar yang terlindungi sebuah selimut. Dan saat mereka bisa melihat apa isi kardus itu, keempatnya menegak diam untuk beberapa detik pertama.

Satu hal yang ada dalam pikiran mereka. Satu hal yang pasti sama.

Mirip Tetsuya.

"Anak anjing?" Ryouta keluar dari acara sembunyi-sembunyinya, mengagetkan kelompok yang dia buntuti tadi. "Kenapa ada anak anjing disini-ssu?"

"Eh? Kalian lagi apa? Pasti ngikutin aku lagi." Dan tuduhan tepat sasaran itu merobohkan kepercayaan diri keempat bocah penguntitnya. "Kalian selalu deh. Tapi nggak apa-apa deh."

"Tapi Tetsu, anak anjing itu punya siapa?"— Daiki.

"Tetsuya, itu anak anjing kamu?"— Seijuurou.

"Tetsu-kun punya anak anjing?"— Satsuki.

Tetsuya menggeleng. "Ini bukan anak anjingku. Yang menemukan memang aku, tapi Atsushi-kun yang paling sering kasih makan dia."

"Ini anak aku dan Tetsu-chin." Begitu kata Atsushi. Entah sengaja atau tidak, tapi melupakam kata 'anjing' di belakang kata 'anak' membuat yang lain geram. Tapi hebatnya Atsushi tidak perduli dengan pancaran iri penuh dendam karena kalah darinya yang teman-temannya lempar, Atsushi tetap memeluk sayang kawan biru langitnya itu. Menggebu kendera perang bagi yang lain.

"Liat aja, mirip Tetsu-chin, kan?"

Tetsuya mengangkat anak anjing itu dan kembali membuat satu pikiran serupa memenuhi isi kepala bocah-bocah yang lain.

Imutnya!

Bahkan Ryou dan Kazunari berpikir seperti itu.

"Eh, Tetsu aku boleh ikut merawatnya mulai sekarang?"

"Tentu saja boleh, Daiki-kun."

"Aku juga mau-ssu!"

"Boleh kok, Ryouta-kun. Sei-kun dan Satsuki juga boleh kalau mau. Iyakan Atsushi-kun?"

Atsushi berdehem membuat empat temannya itu mengendus kesal.

Sial aku benar-benar kalah dari Atsushi. Itu yang ada dalam pikiran empat bocah penguntit itu.

"Aku ajak Shintarou-kun, Kazunari-kun dan Ryou-kun juga karena mau kenalin anak anjing ini sama kalian."

Seijuurou, Daiki, Ryouta dan Satsuki kembali berpikir kalau sebenarnya Tetsuya itu pilih kasih. Tapi tidak bisa marah. Tidak boleh marah juga. Mereka sama-sama tidak mau jadi musuh Tetsuya.

"Tetsuya, siapa namanya?"

"Nama ya?" Tetsuya dan Atsushi saling pandang kemudian menggeleng kompak. "Belum ada."

"Jah, gimana kalau namanya Tetsuya Nigou? Habis anak anjing itu mirip Tetsuya-kun."

Kemudian saran Ryou itu mulai menuai kontra dan pro dalam hati bocah-bocah di sana. Di satu sisi mereka setuju, tapi ada sedikit rasa tidak terima karena si anak baru yang sudah mencuri perhatian Tetsuya yang memberikan saran cemerlang itu.

"Aku setuju dengan Ryou-chin."

"Aku juga-nanodayo."

"Karena Shin-chan setuju aku juga setuju."

"Aku sih ikut Tetsu-kun aja."

"Aku juga terserah Tetsuya-cchi."

Dan yang tersisa hanya dua orang berharga diri tinggi di sana. Tetsuya dan anak anjing itu juga tampak menanti jawaban keduanya.

"Yah, kalau Tetsuya suka aku setuju saja. Kan, Daiki?"

"Un. Aku terserah kau sajalah, Tetsu."

Segaris senyum—yang benar-benar jarang terlihat—merekah di wajah putih bak porselin Tetsuya. Membuat mereka yang memandangnya sempat menahan nafas saking kagetnya.

"Uwah, Tetsuya-cchi senyum."

"Tetsu-kun, manis sekali."

"Aku sampai menahan nafasku saking kagetnya-nanodayo."

"Aku juga, Shin-chan."

"Habis aku senang. Sekarang anak anjing ini punya nama dan teman selain aku dan Atsushi-kun."

.

"Tetsuya-kun, terima kasih."

"Sama-sama Ryou-kun."

Uwah aku minta maaf kalo up date yang ini sedikit terlambat. Lagi rada sibuk karena ngurus bocah-bocah pemberi inspirasiku yabg pada mau UN sih.. hehe /alesan/

Buat Rie Lyca, Ayuni Yuukinojo, PreciousPanda, Dhia484, Riven Eve Akashi yang udah review tapi belom sempet aku bales, terima kasih dan maafku untuk kalian.. buat yang FavFol juga terima kasih banyak.. dan buat yang sudah baca juga terima kasih..