KNB © FUJIMAKI TADATOSHI
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Friendship, Family, Chilhood, Humor, Romance (maybe)
Kuroko Tetsuya, Momoi Satsuki, GoM, Aida Riko
(Chara mungkin bertambah di chapter selanjutnya)
Waning : FF orang labil. Nggak jelas. Typo. Humor gagal. Menjurus ke OOC. Non Baku.
.
.
Kenakalan Shogou
.
.
Di Kelas Pelangi ada satu anak—satu warna— yang kenakalannya melebihi perkumpulan aneh pengikut Tetsuya. Satu anak yang hobi membangkang tapi cukup tunduk pada sang ketua kelas. Riko bahkan memberinya perhatian lebih setara dengan Ryouta yang berisik, Atsushi yang hobi makan di dalam kelas, dan duo pesaing kedudukan ketua kelas Seijuurou dan Daiki.
Tapi anak ini sedikit lebih spesial.
Kata-katanya cukup kasar—Riko bahkan penasaran dari mana bocah lima tahun tahu kata-kata itu— dan sikapnya jauh lebih kasar. Dia tipe bocah yang ringan tangan pada temannya sendiri. Suka mencari gara-gara dengan hal sepele. Dan belakangan ini targetnya menjadi satu orang.
Si anak baru.
Yah, walau Tetsuya dan pengikutnya melindungi Ryou sebisa mereka, tapi dalam dua minggu terakhir kenakalannya mulai menjadi. Entah sudah berapa kali Ryou, Ryouta dan Kazunari dibuat menangis olehnya. Dalam kasus ini, Ryouta dan Kazunari dibuat menangis oleh bocah itu karena sudah membela Ryou.
Namanya Haizaki Shougo. Berambut abu-abu terang. Tingginya lumayan—Walau masih lebih tinggi Atsushi dan Shintarou.
"Anak itu membuat Ryouta menangis lagi?"
Riko mengangguk. Izuki adalah guru yang paling mengerti kondisi Riko karena sempat menggantikan Riko selasa lalu—saat Shougo membuat Ryou menangis tersiram pasir di taman bermain—saat Riko terpaksa absen.
"Hmm."
"Kali ini kenapa?"
"Dari yang Seijuurou katakan, Ryouta memarahi Shougo yang mengambil jatah biskuit Ryou tapi kemudian Shougo meremukan semua biskuitnya."
"Anak-anak itu.."
"Haha, mereka lucukan? Aku sampai bingung harus bagaimana membuat mereka akur. Kelas Matahari dan Kelas Bintang sepertinya tidak punya yang seperti itukan? Aku beruntung tahun ini."
"Riko kau baik-baik saja? Kau tampak benar-benar frustasi."
"Haha, iya aku frustasi. Tapi aku suka mereka bisa bersikap sebebas itu."
"Tapi kenakalan Shougo itu, harusnya kau memberi tahu orang tuanya."
"Nanti juga dia berubah. Bukan hanya Shougo yang nakal di Kelas Pelangi, Daiki dan Seijuurou juga. Ryouta juga walau dia cengeng."
"Kau tabah betul tahun ini ya?"
"Mau bagaimana lagi? Kelas Pelangi tahun ini benar-benar membuatku semangat mengajar. Mereka bocah-bocah yang unik."
—
"Shougo-kun!"
"Apa Ryou?"
"Maaf. Tapi tolong kembalikan crayon merahku. Aku belum selesai."
"Aku sudah bilangkan, aku pinjam sebentar."
"Tapi.."
"Shougo, kamu mulai lagi."
"Cih, jangan ikut campur, Sei."
"Kembalikan crayon-nya."
Crayon merah di tangannya dia buang ke sembarang arah. Membuat batangan itu patah dan mengotori lantai kelas. Ryou si pemilik menatap miris crayon miliknya yang dipatahkan temannya itu. Mencoba bertahan agar tidak menangis, tapi genangan air tercipta dengan sendirinya di pelupuk mata bocah coklat keabu-abuan itu.
"Ryou, pakai punyaku saja. Ini. Nanti akan aku adukan Shougo pada Riko sensei."
"Maaf. Terima kasih, Sei-kun."
"Sama-sama." Seijuurou menarik kursinya mengisi tempat di antara Ryou dan Tetsuya. "Aku duduk sini ya? Jaga-jaga biar Shougo nggak nakal lagi."
Ryou mengiyakan, begitu juga dengan Atsushi dan Tae. Tapi Tetsuya yang diajak bicara diam tidak menjawab—bahkan mungkin tidak mendengarkannya.
"Tetsuya."
"Apa, Sei-kun?"
"Kamu denger nggak?"
"Apa?"
"Huh.." Seijuurou mengendus kesal. Tapi sedetik kemudian dia kembali pamer senyum pada Tetsuya. "Bolehkan aku duduk disini? Sekalian jagain Ryou biar nggak diganggu Shougo."
"Boleh kok."
Tetsuya berdiri, membawa perakatan menggambarnya dan siap pergi.
"Mau keman Tetsu-chin?"
"Mau ke mejanya Shougo-kun. Mau bilangin dia biar nggak ganggu Ryou-kun lagi."
"Aku—"
"Sei-kun nggak usah ikut. Disini aja, jagain Ryou-kun dan yang lain."
Setelah mengatakan titahnya itu Tetsuya pergi menuju bangku kosong di samping Shougo—bangku milik Kazunari yang ditinggal pemiliknya ke tempat lain.
"Aku boleh duduk disinikan?"
"Mau ngapain?"
"Mau menggambar."
"Sana di tempatmu aja."
"Nggak ah, tempatku rame. Aku mau merahasiakan gambar ini dari temen-temen yang lain."
"Cih, sombong. Mentang-mentang disayang semua."
"Hah? Shougo-kun, siapa yang sombong?"
Shougo tidak menjawabnya. Bocah abu-abu terang itu memilih untuk diam dan mendiami si biru muda.
Shougo tahu kok, di kelas ini Tetsuya itu seperti tuan putri bahkan ratu, jadi Shougo juga sebisa mungkin tidak menganggu Tetsuya. Terlebih Tetsuya hampir tidak pernah membuat Shougo kesal seperti Ryouta dan Kazunari—kecuali fakta bahwa dia adalah tuan putri di kelas.
"Memangnya kamu gambar apa sih?"
Melirik awalnya tapi kemudian Shougo menoleh untuk memperjelas penglihatannya dengan apa yang Tetsuya gambar.
"Ini kita semua."
Kita semua yang dimaksud bocah itu adalah penghuni kelas pelangi. Semua ada di sana, semua termasuk Riko sensei dan Ryou si anak baru. Bahkan ada Shougo juga di sana.
"Oh." Hanya itu respon Shougo yang kemudian sibuk dengan gambarnya sendiri.
.
"Hei, Ryouta."
"A-apa?"
Ryouta langsung memasang kuda-kuda siap berkelahi tapi sebenarnya itu bertujuan agar dia siap lari.
"Kamu bawa coklat, kan? Sini buat aku."
Ryouta mengeluarkan coklat yang tersimpan di sakunya. Memandang tidak rela pada coklat kesukaannya itu. Padahal Ryouta sengaja menyimpannya agar bisa makan bersama Tetsuya, tapi karena Shougo..
"I-ini. Tapi bagi dua sama aku ya?"
"Heeh? Nggak mau."
Ryouta menarik balik coklat itu sebelum Shougo sempat mengambil dari tangannya. Memeluk sayang si coklat dengan wajah cemberut yang menghadap Shougo. "Kalau gitu nggak jadi aku kasih."
"Oooh, jadi kamu mau pelit sama temen ya?"
Ryouta bingung.
Dia dan Shougo ada di pinggir lapangan bermain. Sebenarnya Ryouta sedang bermain petak umpet dengan yang lain, tapi karena yang jaga itu Daiki, Ryouta jadi yang pertama tertangkap. Hanya ada satu alasan kenapa bisa begitu, karena Daiki dan Ryouta sering bersembunyi bersama. Jadi sama-sama tahu tempat sembunyi mereka. Dan.. tiba-tiba Shougo datang mengagetkannya. Meminta coklat Ryouta begitu saja. Tidak mau bagi dua pula.
"Ta-tapikan aku mau coklatnya juga. Shougo-kun yang pelit, nggak mau bagi dua. Lagian inikan coklat punya aku."
"Siniin nggak? Nanti aku marah loh."
"Nggak mau!"
"Aku pukul nih."
Ryouta sudah mundur untuk menghindar, matanya sempat terpejam karena takut. Tapi begitu sebuah tangan kecil menggandeng tangannya Ryouta kembali membuka matanya.
"Cih, curang. Dua lawan satu."
"Kamu yang curang. Beraninya cuma sama Ryouta. Sini coba pukul aku kalau berani."
Tanpa menjawab apa yang Daiki—pahlawan Ryouta hari ini— katakan Shougo melenggang pergi. Belum jauh, dari tempat bersembunyinya Tetsuya keluar.
"Tunggu dulu, Shougo-kun."
"Apa?" Sinis si bocah abu-abu itu.
"Aku juga punya coklat. Kamu mau punyaku?"
Shougo melihat ke belakangnya, Ryouta dan Daiki masih belum bergerak sekalipun mendengar tawaran Tetsuya itu. Biasanya mereka bakalan teriak-teriak iri—khusus untuk Ryouta— atau sok-sok jadi pahlawan yang membela Tetsuya dan melarang Tetsuya berbuat baik—yang ini khusus untuk Daiki dan Seijuurou. Tapi kali ini mereka hanya diam.
Shintarou, Takao dan Ryou juga ikut keluar dari tempat persembunyian mereka saat Tetsuya tiba-tiba menarik tangan Shougo untuk ikut ke kelas.
"Petak umpetnya udahan ya?" Seijuurou ikut keluar dari tempat persembunyian diikuti Atsushi yang asik makan chiki. Daiki menggeleng, melepas pegangannya dari tangan Ryouta lalu berlari menuju pohon di dekatnya dan mengabsen nama kawannya.
"Sei ketemu! Atsushi ketemu! Shintarou ketemu! Kazu ketemu! Ryou ketemu!" Lalu tertawa girang penuh kemenangan. "Aku menang!"
Tapi sayangnya tidak ada yang perduli dengan kegembiraan Daiki itu. Yang lain lebih memilih untuk menyusul Tetsuya dan Shougo ke dalam kelas.
"Hei, tunggu!"
.
"Oi, Kazu."
Kazunari menoleh dan mendapati Shougo yang bersembunyi di sela rak buku. Dia kaget karena itu tapi yang lebih mengagetkan lagi saat Shougo menariknya ikut bersembunyi.
"Shougo-chan, kamu mau apa?"
"Kamu lagi sembunyi dari Shintarou, kan? Sini aja sama aku."
"Nggak mau, ah."
Kazunari langsung merengsek keluar dari tempat bersembunyi dengan Shougo tadi. Di tangannya kaca mata milik Shintarou masih aman.
Tadi Kazunari iseng mencuri kaca mata Shintarou saat si empunya sedang serius menggambar. Akibatnya sekarang Shintarou mengejarnya menuntut kaca mata itu dikembalikan. Tapi Kazunari masih ingin main dengan Shin-chan-nya. Dikejar-kejar bocah hijau lumut itu adalah modus Kazunari agar Shintarou mau main dengannya.
Tapi tiba-tiba Shougo datang ingin membantunya bersembunyi.
"Nanti kamu nakal lagi." Begitu hardik Kazunari pada kawan yang cukup sering membuatnya meneteskan air dari mata—Kazunari tidak suka dibilang menangis. Itu terkesan lemah menurutnya.
"Sok tahu. Aku cuma mau bantu kamu ngumpet aja kok."
"Aku nggak percaya!"
Ekspresi Shougo langsung mengeras. Bocah abu-abu itu tidak punya niat jahat, tapi kawannya ini terus saja berprasangka buruk padanya. Kalau Shougo kesal boleh kan?
"Ih, dibilang aku cuma mau bantu kamu ngumpet. Nggak percayaan banget sih!"
"Habis biasanya Shougo-chan kan nakal."
"Kali ini nggak, kok."
"Aku tetep nggak percaya."
Karena Kazunari yang terus menolak Shougo jadi semakin kesal dan memaksa Kazunari untuk bersembunyi dengannya. Menarik tangan yang memegang kaca mata Shintarou dan membuat kaca matanya jatuh. Dan..
Krek.
..terinjak.
"Uwaa!"
"Kazu, kembalikan kaca mataku-nanodayo!"
Baik Kazunari maupun Shougo tidak ada yang menjawab saat Shintarou dengan sendirinya melihat kaca mata yang satu lensanya pecah karena terinjak Kazunari.
"Shin-chan, aku nggak sengaja. Maaf."
"KAZU!" Marah si hijau lumut. Teriakan itu memancing teman-teman yang lain untuk mendekat dan menyaksikan sendiri apa yang terjadi. "Kamu sih pake maenin kaca mataku segala. Sekarang pecahkan? Terus gimana?"
"Maaf." Kazunari menunduk takut karena hardikan kawan kesayangannya itu. "Tadi Shougo-chan menarik tanganku jadi kaca matanya jatuh dan terinjak. Maafkan aku, Shin-chan."
Suara Kazunari bergetar. Bocah itu hampir menangis kalau saja Riko tidak cepat datang.
Seperti biasa, Seijuurou si ketua kelas yang memanggilnya. Ketua kelas yang bisa diandalkan disaat genting.
"Ya sudah, nanti sensei yang jelaskan pada Mamanya Shintarou. Sekarang Shougo dan Kazunari minta maaf pada Shintarou." Itu kata Riko setelah mendengar penjelasan dari Kazunari.
"Maafkan aku, Shin-chan."
Shougo yang sejak awal hanya diam akhirnya buka mulut dan bilang maaf. Tidak tanggung dia juga memberikan Shintarou permen lolipop hasil memalak Atsushi sebagai permintaan maaf.
"Maaf, Shintarou."
.
"Shougo-kun, mau kemana?"
"Main di halaman belakang."
"Aku ikut ya?"
"Jangan."
"Kenapa?"
"Nanti yang lain marah."
"Siapa?"
Tetsuya baru akan mengikuti langkah Shougo saat tiba-tiba Ryouta dan Daiki menarik paksa Tetsuya untuk main di kotak pasir.
"Aku nggak mau main sama kalian, aku mau main sama Shougo-kun." Tolak Tetsuya pada dua bocah yang menyeretnya tadi. Dia membuat Shougo yang belum jauh dari sana mendengar itu dan berhenti. Menoleh pada Tetsuya dengan pandangan tidak percaya.
"Ih, kok gitu sih, Tetsuya-cchi?"
Tetsuya tidak menjawabnya.
"Nanti kamu dinakalin loh sama Shougo."
Masih cuek, Tetsuya mendekat pada Shougo di samping gedung kelasnya. "Ayo main." Katanya senang.
"Tetsu, kok kamu gitu sih? Dia itu nakal loh. Kemaren aja dia ngambil permen lolipopnya Atsushi terus bikin kaca mata Shintarou pecah. Nanti kalau dia bikin kamu nangis gimana?"
"Nggak kok. Shougo-kun baik sama aku."
"Tetsuya-cchi aneh! Temenan kok maunya sama anak nakal."
"Biarin. Lagian kalian berdua juga sering nakal. Berisik lagi."
Tetsuya menarik Shougo untuk pergi meninggalkan duo berisik itu tapi gagal. Shougo menolaknya.
"Sana main sama yang lain aja." Suruh Shougo galak.
Bocah abu-abu itu mulai kesal lagi. Teman-temannya yang lain selalu saja mengatakan hal buruk tentangnya.
"Shougo-kun, jangan kaya gitu. Kalau mau punya temen jangan kasar." Tetsuya menceramahi.
"Aku nggak mau punya temen."
"Tuh, dengarkan? Main sama kami aja, Tetsu."
"Nggak mau, aku mau main sama Shougo-kun. Kalau kalian ajak Shougo-kun juga aku baru mau."
Daiki dan Ryouta saling pandang. Mereka heran kenapa Tetsuya belakangan ini selalu mengikuti Shougo. Ada apa dengan si biru langit itu sebenarnya? Heran dengan sebegitu inginnya Tetsuya main dengan Shougo padahal Shougo itu terkenal nakal. Suka bikin yang teman-teman lain nangis. Kasar dan jahil juga.
"Tapi Tetsuya-cchi—"
"Udahlah, Tetsuya. Aku maen sendiri aja."
"Eh? Kok gitu?"
"Sana main sama yang lain. Jangan deket-deket aku lagi."
"Yuk, Tetsu."
"Nggak mau."
Tetsuya melepas paksa tangan Daiki yang mengajaknya. Dia justru berlari mengejar Shougo.
"Shougo-kun, tungguin aku."
"Sana main sama yang lain aja. Nanti kamu dikira ikut nakal kaya aku."
"Nggak apa-apa."
"Ih, keras kepala banget sih." Shougo menoleh kesal. "Aku bilang aku nggak mau. Sana jauh-jauh." Kemudian dia mendorong Tetsuya hingga bocah biru langit itu jatuh menghantam tanah.
"Oi, Shougo jangan kasar dong!"
Shougo diam saja saat Daiki dan Ryouta membentaknya tidak terima karena sudah membuat Tetsuya terisak. Dia bahkan masih diam di tempat saat Tetsuya dibawa pergi dua kawannya.
Bocah itu kembali menyesali sikap nakalnya.
—
"Maaf, Tetsuya."
"Nggak apa-apa."
"Kita.. masih temen, kan?"
"Tentu saja. Aku kan udah bilang semuanya juga temen, kok."
—
"Memangnya kamu gambar apa sih?"
Melirik awalnya tapi kemudian Shougo menoleh untuk memperjelas penglihatannya dengan apa yang Tetsuya gambar.
"Ini kita semua."
Kita semua yang dimaksud bocah itu adalah penghuni kelas pelangi. Semua ada di sana, semua termasuk Riko sensei dan Ryou si anak baru. Bahkan ada Shougo juga di sana.
"Oh." Hanya itu respon Shougo yang kemudian sibuk dengan gambarnya sendiri.
"Shougo-kun, sendiri bikin gambar apa?"
"Aku?" Shougo menyembunyikan gambarnya saat Tetsuya hendak melihatnya. "Rahasia." Katanya. Tapi sayang Tetsuya sudah lihat apa yang Shougo gambar.
"Ih, sama." Tetsuya kegirangan.
"Ng-nggak kok. Beda. Aku cuma bikin gambar asal."
"Bohong."
"Be-bener. Ini cuma asal."
"Nggak apa-apa deh kalau cuma asal juga. Aku tetep seneng Shougo-kun bikin gambar kaya gitu."
"Ma-makanya aku bilang ini cuma gambar asal."
"Aku ngerasa kaya kita temen deket sampe bisa bikin gambar yang sama."
"Ha?"
"Eh, tapi kita emang temen ya? Aku, Shougo-kun dan yang lain emang temen biarpun Shougo-kun sedikit nakal dan jahil. Kita semua temen. Hehehe.."
—
—
Ah! Akhirnya aku bisa ngelanjut lagi. Maaf ya ngaret banget.. aku sedikit sibuk akhir-akhir ini. Jadi nggak sempet buat keseringan nulis, udah gitu webe juga datang menyerang. Pokoknya maaf banget deh buat yang nungguin dan selalu nyempetin baca..
Aku cinta kalian pembacaku /peluk-cium untuk kalian/
Semoga yang ini menghibur ya, dan aku harap pada nyempetin buat nge-review juga.. hehe :D
Aku pamit-
