KNB © FUJIMAKI TADATOSHI
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Friendship, Family, Childhood, Humor, Romance (maybe)
Kuroko Tetsuya, Momoi Satsuki, GoM, Aida Riko
(Chara mungkin bertambah di chapter selanjutnya)
Waning : FF orang labil. Nggak jelas. Typo. Humor gagal. Menjurus ke OOC. Non Baku.
.
.
Kakak dan Adik
.
.
Belakangan ini Riko sering melihat dua dari murid-muridnya selalu pulang sedikit lebih sore. Alasannya satu dan sama.
Menunggu kakak menjemput.
Dua anak itu adalah Miyaji Yuuya dan Ootsubo Tae. Mereka selalu pulang berdua karena kebetulan—bener-bener kebetulan—kakak mereka adalah teman sekelas yang sama-sama punya tugas untuk menjemput adik mereka pulang sekolah dan memastikan si adik pulang dengan aman.
"Tae, Yuuya, kakak kalian belum dateng?"
Keduanya menggeleng. Yang tersisa dari anak muridnya hanya dua bocah tadi dan Tetsuya yang memang hari ini dititipkan pada Riko karena orang tua bocah itu sedang ada acara sampai sore.
Itu bukan hal aneh. Riko dan guru-guru lain juga tidak heran jika ada orang tua yang minta tolong untuk menjadi babysister dari anak mereka saat sibuk. Lagi pula yang dititipkan adalah Tetsuya, bocah paling anteng di kelas. Buku saja sudah cukup untuk menemani bocah itu.
"Masuk saja dulu. Biar sensei yang tunggu di sini. Kalau terus di luar nanti kalian kedinginan, hujannya deras juga."
Keduanya menurut dan kembali ke dalam kelas. Bersama dengan Tetsuya mereka jadi saling bercerita tentang kakak masing-masing. Membuat si biru langit menunjukan ekspresi aneh. Semacam rasa iri.. mungkin?
—
"Shintarou, Papa kamu dateng buat jemput."
Seisi kelas langsung menjadikan seorang pria berkaca mata dan penampilan rapih yang berdiri di pintu kelas menjadi fokus mereka. Papanya Shintarou. Mirip Shintarou!
"Loh, kok Papa jemput aku sekarang?"
Shintarou mendekat. Bocah itu bingung tapi setelah sang Ayah mengatakan sesuatu, bocah itu langsung berlari mengambil tasnya di bangku. Dia bahkan hanya sempat menjawab satu dari banyak pertanyaan Ryouta.
"Mau kemana-ssu?"
"Lihat adik-adikku-nanodayo."
Lalu pergi meninggalkan kelas. Menyisakan banyak tanda tanya di kepala bocah-bocah yang lain.
"Sensei!" Seijuurou mengangkat tangannya. Mengintrupsi dan menjadikan dirinya fokus baru di kelas itu. "Kenapa Shintarou pulang duluan?"
"Oh itu." Riko berjalan ke depan kelas. "Hari ini adiknya Shintarou lahir jadi Papanya datang menjemput agar Shintarou bisa cepat bertemu dengan adik-adiknya."
Semuanya ber-oh ria menyambut kabar bahagia itu. Mereka bahkan mulai menebak-nebak apa jenis kelamin adik Shintarou.
"Riko sensei!"
Tetsuya mengangkat tangannya. Kali ini bocah biru langit itu yang mengintrupsi dan membuat seisi kelas menatapnya. "Memang adiknya Shintarou laki-laki atau perempuan?"
"Oh, kata Papanya Shintarou, Mamanya Shintarou melahirkan anak kembar. Satu laki-laki dan satu perempuan."
"Itu artinya Shintarou langsung punya dua adik?"
"Iya, Tetsuya. Kenapa?"
"Nggak."
Bocah itu langsung menunduk. Melanjutkan origami yang sedang dibuatnya saat Riko mengintrupsi kelas dengan kedatangan Ayahnya Shintarou tadi. Bocah yang berperan seperti matahati di tata surya untuk Kelas Pelangi itu menjadi satu-satunya yang tidak ikut membicarakan tentang adik kembar Shintarou. Bahkan saat Ryou dan Tae yang begitu bersemangat berceloteh meminta pendapat Tetsuya kira-kira siapa nama adik kembar Shintarou, bocah laki-laki mungil itu hanya menjawab sekenanya.
"Tetsu-chin kenapa?"
"Nggak apa-apa kok, Atsushi-kun. Origamiku tidak jadi-jadi dari tadi. Aku jadi sebal!"
"Oh, mau aku ajari?"
"Nggak usah. Aku bikin sendiri aja."
.
Riko bukannya tidak sadar dengan sikap aneh Tetsuya, tapi hanya bingung apa sebabnya. Bocah biru langit itu bukan anak yang mudah terpengaruh oleh lingkungan—tidak pernah terlihat seperti itu tepatnya.
Kuroko Tetsuya itu selain minim ekspresi juga termasuk murid pendiam. Sulit untuk membedakan saat bocah itu bersemangat dengan saat bocah itu marah. Tapi kali ini Riko tahu ada yang salah dengan satu muridnya itu.
Kenapa? Riko juga tidak tahu.
"Insting guru, mungkin?" Begitu yang Riko katakan pada Izuki dan Koganei saat istirahat makan siang.
"Tetsuya sepertinya terganggung dengan sesuatu. Tapi aku tidak tahu itu apa."
"Coba tanyakan. Kasihan kalau dia terus memikirkannya sendiri."
"Iya, Izuki dan aku akan bantu bilang pada orang tuanya jika itu dibutuhkan."
"Haha, tidak perlu. Aku bisa sendiri, kok."
.
Tanpa mereka tahu tiga warna—kuning, merah, dan biru tua—mendengar percakapan itu.
Bukan-bukan. Ryouta, Daiki dan Seijuurou bukan sengaja menguping pembicaraan guru mereka. Mereka memang anak nakal jika itu berkaitan dengan Tetsuya, tapi mereka juga tidak akan berani melakukan hal seperti itu. Tiga bocah itu hanya tidak sengaja mendengarnya setelah cuci tangan dan melewati ruang guru. Tapi karenanya mereka langsung saling pandang.
Tanpa aba-aba ketiganya buru-buru lari ke kelas dan membuat Izuki harus memperingati mereka untuk tidak berlari di koridor.
Ada satu hal yang sama-sama terlintas di kepala ketiganya. Saatnya mencari perhatian Tetsuya!
Begitu sampai di kelas mereka langsung mendekati Tetsuya tapi—
"Shintarou-kun, nama adik-adikmu siapa?"
—kawan mereka itu tampak tidak ingin di dekati saat ini.
"Tsubaki dan Sakura."
"Oh, mereka pasti sangat manis ya?"
"Um. Saat menangis suara mereka sangat keras-nanodayo. Semalam saja saat aku menginap di rumah sakit karena Sakura menangis aku sampai bangun. Sudah begitu Tsubaki ikut bangun dan menangis juga-nanodayo."
"Wah, terdengar menyenangkan."
"Kamu harusnya lihat sendiri-nanodayo. Tsubaki dan Sakura itu benar-benar manis."
"Aku jadi ingin punya adik juga."
Baik Ryouta, Daiki maupun Seijuurou tidak ada yang berani menyela pembicaraan itu. Shintarou tampak terlalu bersemangat menceritakan adik-adiknya dan Tetsuya juga tampak ingin tahu tentang adik-adiknya Shintarou.
"Tetsuya mau lihat Tsubaki dan Sakura?"
"Eh, boleh?"
"Boleh, kok. Nanti sore aku dan Papa mau jemput Mama dan mereka pulang. Habis pulang sekolah Tetsuya main saja ke rumah-nanodayo."
"Bener?"
"Iya. Tapi.." Shintarou menatap tiga bocah yang berdiri di belakang Tetsuya sengit. "Jangan berisik-nanodayo."
Tiga bocah di belakang Tetsuya menegak. Pandangan tidak suka yang Shintarou kirim barusan seperti sindiran bagi mereka. Parahnya Tetsuya juga ikut menoleh ke arah mereka dan menatap mereka dengan mata polos yang pasti artinya jauh lebih menyakitkan dari sindiran Shintarou tadi.
"Iya. Aku nggak bakal berisik, kok. Lagian cuma aku yang bakal dateng sama Shintarou-kun."
JDERR!
Ryouta, Daiki dan Seijuurou pasrah sudah. Belum sempat bilang ingin ikut saja mereka sudah ditolak.
.
"Tae-chan, nggak pulang?"
"Aku lagi nungguin Taisuke Onii-chan."
"Oh~ Yuuya-kun juga ya?"
"Iya. Tetsuya sendiri kenapa belum pulang?"
"Lagi tunggu Papa jemput. Hari ini aku bilang sama Papa mau dateng ke rumah Shintarou buat lihat Tsubaki dan Sakura, terus Papa bilang mau nemenin."
Tiga bocah itu ada di taman bermain halaman depan TK. Mengobrol seperti beberapa hari lalu saat Yuuya dan Tae telat dijemput kakak mereka karena hujan deras. Ketiganya tampak akrab, tapi ada satu mata yang seperti menyimpan perasaan berbeda.
"Shintarou-kun bilang katanya dia dan adik-adiknya punya bintang kelahiran yang sama. Mereka kalau sudah besar pasti dekat ya?"
"Iya, Mamaku bilang, aku dan Taisuke Onii-chan juga dekat karena bulan lahir kami sama."
"Aku sama Onii-san tetep deket, kok, walaupun tanggal lahir kami jauh."
"Katanya Shintarou-kun juga udah beresin kamar buat adik-adiknya. Nanti kalau sudah besar mau satu kamar."
"Aku dan Onii-san juga sudah satu kamar. Mama bilang kalau saudara itu harus berbagi, jadi waktu aku masuk TK Onii-san mau berbagi kamar sama aku."
"Kalau aku nggak satu kamar sama Taisuke Onii-chan, tapi tiap malem kami selalu ngerjain PR sama-sama. Kadang-kadang Taisuke Onii-chan juga nemenin aku di kamar sampe tidur kalau Mama sama Papa pulang malam."
"Iya, Kiyoshi Onii-san juga. Haha, kakak kita mirip ya, Tae?"
"Iya. Mereka juga temen sekelas, kaya kita. Seneng jadinya ada yang sama."
"Eh-eh, itu mereka dateng. Onii-chan!"
Tae mengangkat tangannya, melambai pada dua anak laki-laki dengan seragam bebas yang berjalan masuki halaman TK. Satunya yang lebih tinggi dan besar berambut hitam cepak—Tetsuya tebak itu kakaknya Tae— lalu satunya yang lebih kurus berambut kuning kecoklatan mirip Yuuya—yang ini pasti kakaknya Yuuya— mendekati mereka.
"Yuuya, ayo pulang. Aku sudah beli sossis, nanti kita makan berdua di rumah."
"Hore!"
"Onii-chan, aku nggak dibeliin?"
"Beli, kok. Ini. Ayo."
Tetsuya diam di tempat saat dua kawannya mendekati dua bocah SD yang datang menjemput mereka. Bocah biru langit itu iri melihat Tae dan Yuuya.
"Eeh, temen kalian nggak ikut pulang?" Taisuke menoleh pada Tetsuya yang duduk diam memperhatikan keakraban mereka berempat.
"Tetsuya lagi nungguin Papanya. Dia mau ke rumah Shintarou buat lihat adik-adiknya Shintarou."
"Eeh~ yang kemarin kalian ceritain itu ya?"
"Iya."
"Tetsuya, kami pulang duluan ya?" Tetsuya mengangguk, membalas lambaian tangan Yuuya dan Tae yang perlahan menjauh meninggalkannya. Samar-samar Tetsuya bisa mendengar betapa semangatnya Tae dan Yuuya bercerita pada kakak mereka tentang adik-adik Shintarou. Tentang persamaan mereka yang punya saudara.
Di tempatnya Tetsuya hanya memasang tampang datar seperti biasa, menyembunyikan perasaan irinya pada kawan-kawan yang punya saudara. Adik atau kakak.
Sebenarnya Tetsuya bukan satu-satunya yang masih belum punya saudara. Daiki, Seijuurou, Atsushi dan Satsuki juga anak satu-satunya sampai saat ini. Tapi tidak tahu kenapa Tetsuya benar-benar ingin punya saudara melihat Tae, Yuuya, Shintarou dan Ryouta.
Punya adik atau punya kakak itu benar-benar berbeda dengan jadi anak satu-satunya. Kalau punya adik ada yang bisa di banggakan setiap kali adiknya bisa melalukan sesuatu, kalau punya kakak juga bisa membanggakan setiap kali kakaknya berbuat sesuatu. Itu yang membuat Tetsuya iri.
Tetsuya juga ingin punya saudara yang bisa diajak main di rumah, saudara yang nemenin Tetsuya waktu buat PR, saudara yang bisa diajak makan bareng atau saudara yang sekedar bisa diceritain sama temen sekelas.
"Papa, Tetsuya pengen punya adik."
—
"Dia bilang begitu?"
"Iya, syukurnya dia terbuka sama orang tuanya. Kalau tidak, aku juga tidak akan tahu bagaimana menanganinya di kelas."
"Oh. Baguslah, dia hanya merasa kesepian di rumah. Itu artinya kau harus buat dia senang di sekolah dan bisa merasa lebih baik saat di rumah."
"Hm. Akan aku cari tahu caranya nanti."
.
Seijuurou, Daiki dan Ryouta langsung berlari ke kelas saat mereka lihat Riko bangun dari bangkunya di ruang guru.
Untuk hari ini ketiga bocah itu nekat menguping sepanjang istirahat demi mendengar apa yang sebenarnya kawan baik mereka rasanya beberapa hari belakangan. Dan setelah tahu jawabannya mereka bertiga justru hampir ketahuan.
"Uh, untung sempet lari-ssu. Aku tadi takut banget ketahuan-ssu."
Ryouta langsung duduk di tempatnya, bersebelahan dengan Midorima yang sibuk menggambar keluarganya lengkap dengan si kembar. Daiki dan Seijuurou juga ada di sana, berdiri menghadap Ryouta yang sama-sama terengah-engah karena berlari.
"Kalian habis dari mana? Kok, kelihatannya cape banget-nanodayo."
"Nggak dari mana-mana, kok. Abis dari toilet, terus balap lari ke kelas." Bohong Seijuurou. Daiki dan Ryouta juga otomatis mengangguk mengikuti apa kata pemimpin mereka.
"Oh. Jangan lari di koridor-nanodayo. Nanti kena marah sensei, loh."
"Iya-iya." Sahut ketiganya bersamaan. Lalu mereka membuat sebuah lingkaran kecil di pojok kelas. Meninggalkan Shintarou menggambar sendiri lagi.
"Kita harus apa-ssu?"
"Sei, kamu punya ide nggak?"
"Aku juga bingung. Aku juga belum punya adik."
"Kita bertiga emang nggak punya adik-ssu. Yang punya kan cuma.." Tiga-tiganya menoleh pada Shintarou yang masih sibuk menggambar. "Tapi malah sibuk sendiri."
Ada nada sinis yang langsung membuat telinga si hijau gatal dan menoleh. "Apa?"
"Nggak. Kamu kayanya sibuk banget sampe nggak sadar kalau ada temen yang lagi sedih." Daiki yang menjawab kali ini. Dan seperti sebelumnya dua yang lain mengangguk otomatis. Setuju.
"Siapa-nanodayo?"
"Tets—" Mulut Daiki langsung dibekap Seijuurou dan Ryouta. Mata mereka mengintimidasi si biru tua dengan acaman yang seolah berbunyi itu-rahasia-kita-bertiga-bodoh.
"Tetsuya-chan kenapa?"
Ketambahan orang lagi. Kazunari mengambil tempat di samping Shintarou dan memfokuskan matanya pada tiga bocah yang biasanya bermusuhan itu.
Sebenarnya bukan hanya Kazunari yang merasa aneh melihat Ryouta, Daiki dan Seijuurou akur. Teman-teman yang lain, guru bahkan Tetsuya juga merasa ada yang aneh. Pasti ada yang tiga bocah—tiga warna—paling ajaib itu rencanakan. Entah apa. Tapi mungkin saja menarik.
"Nggak kenapa-napa-ssu." Ryouta langsung menarik dua kawannya menjauhi Shintarou dan Kazunari. Takut rencana mereka ketahuan yang lain dan berujung kegagalan mereka merebut hati Tetsuya.
"Terus kita harus gimana? Sei punya ide nggak?"
Daiki membuka dengan pertanyaan untuk si ketua kelas yang belakangan ini kurang menunjukan aksinya.
Seijuurou mengeleng. "Aku bingung." Katanya. "Aku juga belum punya adik. Kakak juga nggak punya."
"Aku kakak ada dua. Tapi perempuan dua-duanya-ssu."
"Terus emang kalau ada yang punya kakak atau adik kita bisa apa?" Daiki bingung. Ryouta juga. Satu-satunya yang paham fungsi saudara saat ini hanya Seijuurou.
"Kan Tetsuya ingin punya saudara. Kalau kita punya kakak atau adik kita bisa berbagi sama dia. Ajak dia main di rumah kita."
Daiki dan Ryouta bergumam menyuarakan "Oh" kompak dan mengangguk paham.
"Terus?"
"Nanti kalau sudah begitu, kita pasti bisa sering main sama Tetsuya."
Ryouta dan Daiki mengangguk paham. Ketiganya diam. Kemudian memperhatikan Tetsuya di tempat duduknya.
"Oh!" Ryouta memecah. "Aku ajak Tetsuya-chii menginap di rumahku saja-ssu."
"Lalu aku dan Sei?"
"Nggak boleh ikut." Si kuning berlaga sombong. "Biar aku bisa tidur berdua sama Tetsuya-chii saja-ssu."
Daiki dan Seijuurou hampir menjadikan Ryouta mainan baru mereka kalau saja suara Kazunari yang memanggil Tetsuya tidak mengalihkan perhatian ketiganya.
"Sini-sini." Kazunari di samping Shintarou menggerakan tangan. Memberi isyarat mendekat.
"Kenapa?"
"Nanti pulang sekolah main ke tempat Shin-chan, yuk."
"Heh? Tapi ada adik bayinya Shintarou. Kasihan kalau berisik."
"Nggak apa-apa. Kita mainnya sama mereka, kok. Iyakan, Shin-chan?"
Shintarou mengangguk. Matanya melirik tiga kawan warna-warninya yang lain. Seolah pamer saat Tetsuya mendekatinya dan tampak sangat senang.
"Mama bilang boleh, kok, kalau mau main."
"Yey!"
Kazunari dan Tetsuya berjingkrak senang tanpa perduli pandangan miris dari Daiki, Ryouta dan Seijuurou di sisi lain.
Sial.
"Kalau kalian mau ikut juga boleh-nanodayo. Tapi jangan berisik ya?"
Daiki, Ryouta dan Seijuurou saling pandang sebelum akhirnya mereka ikut berjingkrak senang bersama Kazunari dan Tetsuya.
Syukur saja Shintarou masih berbaik hati pada mereka.
—
—
Hufff~ akhirnya bisa lanjut lagi nulis GPW. Nggak tau kenapa kemaren-kemaren kaya webe gitu kalau udah buka word buat ngelanjut ini. Padahal kalau nulis yang lain bisa-bisa aja. Tapi syukur bisa lanjut. Maaf ya kalo lama (kalo ada yang) nunggu. Dan maaf juga nggak bias bales satu-saru reviewnya.. waktuku terbatas /GOMEN/
