KNB © FUJIMAKI TADATOSHI
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Friendship, Family, Chilhood, Humor, Romance (maybe)
Kuroko Tetsuya, Momoi Satsuki, GoM, Aida Riko
(Cast mungkin bertambah di chapter selanjutnya)
Waning : FF orang labil. Nggak jelas. Typo. Humor gagal. Menjurus ke OOC. Non Baku.
.
.
Chap 6 : Tugas menggambar cita-cita
.
.
Dua hari lalu Riko memberi tugas untuk menggambarkan apa cita-cita mereka. Kebanyakan terlihat antusias, bahkan si biru langit yang menjadi incaran banyak warna. Tapi ada satu warna yang terlihat tidak berminat dengan tugas itu, dan alasannya; aku bingung.
Riko sudah coba bertanya kenapa ia bingung, dan jawabannya sungguh diluar dugaan.
"Ayahku bisa membuat cita-citaku tercapai dengan mudah. Jadi aku bingung."
Riko paham betul maksudnya apa. Bocah itu ingin bisa meraih cita-citanya tanpa bantuan sang ayah, sekalipun dapat bantuan dari ayahnya ia ingin buktikan kalau cita-citanya adalah pencapaiannya—bukan berkat ayah berduit yang berdiri di belakangnya.
Ia—bocah itu, adalah Akashi Seijuurou. Ketua kelas pelangi yang merangkap jadi ketua geng pecinta Tetsuya.
"Baru kali ini aku lihat Sei jadi seperti itu."
"Ternyata jadi anak serba bisa juga merepotkan ya?" Riko menganggu setuju. Apa yang Izuki katakan memang benar.
Padahal biasanya Seijuurou ada di baris terdepan dan terlihat unggul, tapi kali ini bocah merah itu tampak bingung dan sedikit minder pada teman-temannya yang dengan mudah menentukan ingin menjadi apa mereka di masa depan nanti.
"Padahal aku yakin dia akan jadi penerus ayahnya." Itu pendapat Koganei.
"Menjadi penerus ayahnya tidak bisa dikatakan sebagai cita-cita saat ini. Itu sudah pasti karena dia adalah anak satu-satunya."
"Hmm. Riko benar. Kecuali jika dia punya adik laki-laki nanti, sudah dipastikan kalau Sei pasti akan jadi penerus Akashi Masaomi dalam hal bisnis."
"Lalu kalian mau apa? Tugas menggambar cita-cita itu tugas sederhana, biarkan saja dia memilih ingin jadi apa."
Riko dan Koganei mengangguk setuju dengan yang di katakan Izuki. Menggambar cita-cita itu tugas seder hana untuk bocah TK seperti mereka. Beda cerita kalau yang Riko minta adalah mengisi koisioner masa depan yang biasanya menjadi momok menakutkan bagi anak-anak SMA tahun terakhir.
Lagi pula apapun yang mereka gambar saat ini belum tentu benar-benar menjadi tujuan hidup mereka ke depannya nanti. Siapa yang tahu lima tahun dari sekarang atau sepuluh tahun dari sekarang mereka menemukan hal lain yang ingin mereka lakukan.
"Kau benar juga. Lebih baik di biarkan saja dulu untuk saat ini."
Seijuurou menggaruk kepalanya lagi. Shougo dan Kazunari yang sedang menggambar di depannya jadi tidak bisa fokus karena kegusaran Seijuurou itu. Dan yang lebih menarik perhatian keduanya adalah buku gambar kosong di hadapan Seijuurou.
Teman-teman di kelas semuanya tahu kalau Seijuurou adalah anak paling rajin—selain Shintarou dan Tetsuya, selalu mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik, mendapat pujian dari Riko-sensei dan tidak lupa menyombongkan kehebatannya itu pada Daiki dan Ryouta kemudian. Tapi kali ini dia ikutan mengerjakan PR di kelas bersama dengan mereka.
Shougo dan Kazunari baru ingat dengan PR menggambar cita-cita karena begitu masuk kelas mereka mendengar yang lain memamerkan cita-cita dan gambar masing-masing. Kalau ada yang sama, mereka mulai sibuk sendiri, ada juga yang belaga sok-sokan hebat seperti Ryouta dan Daiki yang membanggakan cita-cita mereka.
"Aku mau jadi pilot-ssu. Bisa mengendarai pesawat dan terbang, lalu keluar negeri gratis juga. Hebatkan? Kata mama pilot itu pekerjaan yang keren-ssu." Ryouta melipat kedua tangan kecilnya di depan dada dan tersenyum bangga karena apa yang ibunya katakan tentang cita-citanya.
"Kalau aku mau jadi polisi. Aku ini larinya cepat, kuat dan berani, jadi polisi adalah cita-cita yang paling cocok untukku." Kali ini Daiki yang dengan bangganya duduk di atas mejanya dan menunjukan gambar polisi yang dia buat kemarin malamnnya.
Mereka berdua membuat teman-teman yang lain ber-waw riah. Bahkan Tetsuya juga termasuk di dalamnya. Membuat keduanya jadi semakin sombong.
"Lalu Shintarou-kun, cita-citamu apa?" Kazunari menoleh mendengar nama teman favoritnya itu. Dia tidak bisa meninggalkan mejanya sekarang tapi ingin tahu jawaban dari pertanyaan Tetsuya pada Shintarou barusan. Karena jawaban itu akan sangat menentukan cita-cita macam apa yang akan Kazunari gambar nantinya.
Shintarou membuka buku gambarnya, menunjukan gambar yang dia buat. "Aku ingin jadi dokter-nanodayo." Yang lain kembali ber-waw ria. Daiki dan Ryouta mulai merasa tersaingi dengan jawaban Shintarou itu. "Waktu mama masih di rumah sakit setelah adik-adikku lahir, aku sering menemani mama dan melihat banyak dokter. Mereka semua hebat-nanodayo, mereka bisa buat orang sakit jadi sembuh. Aku ingin jadi seperti mereka-nanodayo."
Shintarou mendapat tepuk tangan dari teman-temannya. Kazunari juga jadi dapat ide cita-cita apa yang ingin dia gambar. Tapi belum sempat menyelesaikan gambarnya Riko sudah masuk ke dalam kelas dan meminta kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Sudah mengerjakan PR yang sensei perintahkan?" sebagian besar menyahut sudah, tapi Riko tahu bertul ada berberapa yang belum selesai. "Ada yang belum mengerjakan?"
Butuh beberapa saat sampai akhirnya Seijuurou mengangkat tangannya. "Aku belum, sensei." Dia membuat kelas tiba-tiba senyap. Teman-temannya yang lain kaget melihat ketua kelas mereka yang biasanya ingin selalu tampil menonjol kini justru jadi setara dengan Shougo dan Kazunari yang terkenal pemalas.
"Tidak apa-apa, untuk yang belum bisa diselesaikan di kelas saat istirahat dan waktu bermain. Tapi ingat setelah makan siang harus sudah selesai. Nanti kalian maju satu persatu dan memperkenalkan cita-cita kalian pada teman kalian."
Seijuurou mengangguk, Kazunari dan Shougo juga mengiyakan hal yang sama.
Begitu waktunya istirahat dan bermain Seijuurou yang sibuk mempersiapkan alat menggambarnya di kagetkan dengan kehadiran si biru laut yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Sei-kun, apa yang kau gambar?"
Malu. Seijuurou menundukan kepalanya saaat menjawab petanyaan sederhana dari Tetsuya. "Aku belum menggambar."
"Kenapa?"
"Aku bingung."
Ada jeda yang cukup membuat Seijuurou semakin minder. Tetsuya pasti sudah menggambar cita-citanya, bahkan bocah macam Daiki dan Ryouta juga sudah menggabar cita-cita mereka, tapi kenapa Seijuurou masih tidak bisa menentukan cita-ticanya. Dia bingung dengan dirinya sendiri.
"Bingung?" Seijuurou mengangguk. "Memangnya Sei-kun tidak punya cita-cita?"
Tidak bisa menjawab, Seijuurou sampai tidak berani mengangkat kepalanya dan melihat kearah teman yang paling dia suka di sampingnya. Buku gambar kosong di depannya juga terlihat menakutkan bagi Seijuurou, mengingat apa yang Riko-sensei katakan tadi membuatnya semakin bingung apa yang harus dia gambar.
"Tidak apa-apa, kok." Tetsuya meraih tangannya, menggemam tangan yang sejak tadi terkepal meremas celananya. "Tidak punya cita-cita juga tidak apa-apa. Sei-kun yang sekarang juga sudah hebat."
Seijuurou baru sadar kalau yang ada di dekatnya bukan hanya Tetsuya. Daiki, Ryouta, Shintarou, Satsuki, Atsushi dan Kazunari kini berdiri mengelilinginya. Bahkan ada Shougo juga.
"Kau selalu jadi yang terbaik di kelas." —Shougo.
"Pintar berhitung seperti Shin-chan." —Kazunari.
"Sudah bisa membaca kanji." —Satsuki.
"Bisa bahasa inggris juga." —Atsushi.
"Larimu juga cepat-ssu, seperti Daiki-cchi." —Ryouta.
"Sudah bisa main piano seperti Izuki-sensei." —Daiki.
"Sei-kun juga ketua kelas pelangi. Jadi tidak apa-apa tidak punya cita-cita. Apapun yang Sei-kun gambar pasti bisa terjadi. Karena kau itu hebat."
Shintarou di sisi lainnya menyodorkan kota crayon. "Tidak perlu bingung-nanodayo."
"Teman-teman terima kasih. Sekarang aku tahu apa yang ingin aku gambar."
Setelah itu Seijuurou pamit untuk menggambar cita-citanya. Dia bilang tidak ingin menunjukannya dulu pada siapa-siapa. Jadi Tetsuya dan yang lain terpaksa meninggalkannya sendirian selama waktu istirahat dan bermain.
Mereka pikir, toh nanti setelah makan siang Seijuurou akan menunjukan gambarnya dan menceritakan cita-citanya di depan semua teman satu kelas.
Sesuai janji Riko setelah makan siang semua murid di kelas pelangi akan maju satu persatu untuk menujukan gambar cita-cita mereka. Banyak sudah tidak sabaran untuk menunjukan gambarnya jadi setelah selesai makan siang beberapa dari mereka langsung menarik Riko menuju kelas.
Tidak perduli dengan teguran Izuki dan Koganei yang melarang mereka berlarian di lorong, mereka terlihat senang. Bahan tidak ada kabar satu dari mereka yang membuat orah hari ini.
Sebenarnya Riko penasaran ada apa dengan mereka, tapi begitu masuk kelas dan melihat sang ketua kelas kembali mengobrol dengan kawan-kawannya dengan percaya diri, walau hanya sedikit Riko mengerti seberapa berpengarusnya seorang Akashi Seijuurou di kelasnya.
"Jadi apa semuanya sudah menggambar cita-cita kalian?"
Mereka menjawab 'ya' dengan kompak. Kazunari dan Ryouta bahkan berteriak kencang saking semangatnya.
Menyenangkan melihat kelas yang bersemangat seperti ini, dan melegakan juga melihat mereka yang tadinya kesulitan sudah melalui masalah mereka dengan bantuan dari teman-teman mereka sendiri. Ada rasa bangga luar biasa dalam diri Riko kepada anak-anak di kelasnya ini.
"Baiklah siapa yang ingin maju duluan?"
Ryouta langsung mengangkat tangannya. Setelah di persilahkan dia maju ke depan kelas. Seperti yang dia lakukan pagi tadi, dia menunjukan gambarnya dan mejelaskan seberapa hebat cita-citanya sebagai pilot itu. Dia bahkan menambahkan, "Kalau aku sudah jadi pilot nanti, akan aku ajak Riko-sensei dan teman-teman untuk ke luar negri."
Dia mendapat banyak pujian dan tepuk tangan dari yang lain.
Setelah Ryouta disusul dengan Daiki yang maju. Tidak jauh berbeda dengan yang Ryouta dapat, Daiki juga mendapat banyak tepuk tangan dan pujian.
Kemudian satu persatu dari yang lain maju, silih berganti sampai akhirnya Satsuki juga maju dan memamerkan gambarnya. "Aku ingin menjadi seorang ibu. Memasak untuk keluarga, menyiapkan keperluan keluarga, menjaga rumah dan membantu anakku belajar. Aku ingin menjadi seorang ibu seperti ibuku."
Tidak kalah seperti dua temannya yang maju pertama, Satsuki juga mendapat tepuk tangan yang meriah dari teman-temannya. Setelah satsuski giliran Atsushi yang memamerkan gambar cita-citanya.
"Aku ingin menjadi juru masak hebat." Tidak ada yang kagum mendengarnya, semua seperti sudah bisa menebak kalau Atsushi akan mengatakan itu. Tapi dia tetap mendapat tepuk tangan yang meriah setelah mengatakan, "Kalau aku sudah punya restoran sendiri aku akan teraktir kalian semua."
Setelah Atsushi kembali duduk giliran Shintarou yang maju. Sedikit berbeda dengan yang Ryouta dan Daiki dapat, setelah dua kali menjelaskan cita-citanya Shintarou tetap mendapat sambutan yang lebih meriah ketimbang yang dia dapat pagi tadi. Riko bahkan menambahkan pujian untuk Shintarou.
"Cita-citamu sangat mulia." Dan membuat bocah berkacamata itu tersenyum bangga.
"Selanjutnya siapa yang mau maju?"
"AKU!" Kazunari langsung berjalan ke depan kelas. Ada senyum yang dia tahan sebelum dia menunjukan gambarnya, kemudian setelah gambarnya dia tunjukan senyum lebarnya lepas. "Aku ingin menjadi seorang suster."
Seisi kelas hening saat itu juga. Tapi beberapa saat kemuadian riuh dengan tawa, banyak yang mengatai dia bodoh. Tapi Kazunari tidak paham kenapa dirinya di tertawakan seperti itu.
"Kazunari, kenapa aku ingin menjadi suster? Itu pekerjaan yang biasanya dilakukan perempuan."
"Berarti aku tidak bisa menjadi suster?"
"Bukan begitu. Kau bisa, tapi untuk laki-laki lebih baik menyebutnya dengan perawat, jangan suster."
"Baiklah, aku ingin jadi perawat." Lagi, seisi kelas tertawa.
"Alasannya?" Riko memberi isyarat pada yang lain untuk tenang dan mendengarkan apa yang ingin Kazunari katakan di hadapan mereka. Kadang Riko tidak paham dengan pola pikir anak yang satu ini, dia bisa jadi begitu ajaib seperti sekarang ini.
"Karena Shin-chan ingin menjadi dokter. Aku ingin terus bersama dengan Shin-chan, jadi jalau cita-citaku sebagai perawat aku bisa terus bersama dengan Shin-chan."
Riko paham seberapa lengketnya keponakan Izuki Shun ini dengan si hijau itu, jadi jawaban ini tidak mengagetkan lagi baginya. Dan hebatnya Kazunari masih terus di tertawakan setelah kembali ke bangkunya. Dia bahkan di marahi oleh Shintarou yang sepertinya malu.
"Baiklah, siapa lagi?"
Shougo tiba-tiba berdiri dan berjalan ke depan. Dia membuat yang lain terdiam hanya dengan pergerakan kecilnya itu. Kesan anak nakalnya masih belum hilang bahkan setelah sering bermain dengan Tetsuya dan pengikutnya.
"Aku ingin menjadi pemadam kebakaran." Tidak banyak yang bersuara, tapi reaksi teman-temannya yang lain cukup menunjukan seberapa terkejutnya mereka dengan cita-cita bocah paling nakal di kelas pelangi itu. "Pemadam kebakaran itu hebat, selain bisa memadamkan api mereka juga bisa menolong banyak orang yang kesusahan, mereka bahkan bisa menolong kucing yang terjebak di pohon. Mereka pemberani dan kuat. Aku ingin menjadi seperti mereka dan menolong banyak orang."
Butuh beberapa detik sampai kelas riuh dengan tepuk tangan dan pujian untuk cita-cita yang mulia Shougo barusan. Seperti saat Shintarou, Riko memberinya pujian tambahan tentang seberapa mulia cita-citanya itu.
Satu per satu dari mereka terus maju dan menyisakan dua warna yang paling mencolok di kelas.
"Tinggal Seijuurou dan Tetsuya, siapa yang mau maju duluan?"
"Aku, sensei." Seijuurou maju dan membawa buku gambarnya dengan percaya diri. Kekhawatiran Riko tentang anak itu sirnah sudah setelah dia berdiri dengan senyum bangga di hadapan teman-temannya yang lain. Dia menunjukan gambarnya, dan memperkenalkan cita-citanya dengan rasa percaya diri yang sama seperti yang biasa dia tunjukan di hadapan kelas.
"Aku ingin menjadi seperti ayahku." Itu katanya. "Dia adalah orang yang hebat, bisa memimpin banyak orang, menguasai banyak bahasa, pintar dalam musik, hebat dalam olahraga, di hormati banyak orang dan mereka selalu bilang kalau ayahku adalah orang sukses. Aku ingin menjadi orang sepertinya suatu saat nanti, dan menjadi kebanggan dari orang-orang disekitarku seperti ayah. Aku akan berusaha untuk menjadi seperti ayahku."
Tepuk tangan yang tidak kalah meriah menjadi hadiah untuk Seijuurou yang akhirnya menemukan cita-citanya.
Dan yang terakhir maju adalah warna yang menjadi idola dari warna-warna meriah di dalam kelas itu. Semua mata memperhatikan Tetsuya dengan seksama, mereka penasaan dengan cita-cita dari anak laki-laki paling pendiam di kelas itu.
"Aku ingin menjadi seperti Riko-sensei." Gambarnya dia tunjukan, itu adalah gambar mereka semua satu kelas dan Riko yang berdiri sedikit lebih ke kanan. "Aku ingin menjadi seorang guru yang bisa membantu muridnya seperti Riko-sensei."
Hanya itu yang dia katakan tapi kelas langsung riuh dengan tepuk tangan teman-temannya. Riko yang masih sedikit kaget dengan cita-cita Tetsuya tidak sempat mengatakan apa-apa pada Tetsuya, tapi hatinya senang bukan main. Ini pertama kalinya bagi Riko mendengar cita-cita yang menjadikannya sebagai acuan.
"Cita-cita kalian semua hebat. Sensei bangga, dan akan sesei doakan semoga kalian bisa menjadi seperti apa yang kalian inginkan. Sekarang ayo kita tempel gambar kalian di dinding belakang itu."
Dengan penuh semangat mereka berebut tempat untuk menempelkan gambar mereka di dinding yang sudah Riko kosongkan untuk gambar mereka hari ini. Saat itu, saat yang lain sibuk dengan gambar mereka masing-masing, Riko mendekati Tetsuya yang justru menunggu di belakang kesibukan teman-temannya.
"Kenapa Tetsuya ingin menjadi seperti sensei?"
"..karena Riko sensei adalah orang yang bisa membuat banyak orang hebat, seperti polisi, pilot, dokter, juru masak, pemadam kebakaran, bahkan seorang ibu dan orang sukses. Aku ingin menjadi orang sehebat Riko sensei dan mengajari mereka caranya menjadi orang-orang hebat juga."
Seulas senyum dan usapan di surai biru muda milik Tetsuya menjadi hadiah dari rasa terima kasih Riko pada bocah ini. "Tetsuya pasti bisa, sensei yakin."
"Terima kasih, sensei." Kemudian dia pergi bergabung dengan teman-temannya yang sudah menyisikan tempat untuk Tetsuya menempelkan gambarnya.
Dalam hari Riko benar-benar berharap semoga cita-cita yang mereka gambar akan menjadi kenyataan. Dengan begitu, kenangan indah hari ini suatu saat bisa dia ceritakan pada anak-anak lain yang mungkin akan menadapat inspirasi dari semua warna-warna kesayangan Riko di kelas ini.
0o0
Lama tak jumpa.
Karena kangen sama imajinasi anak-anak itu, akhirnya aku putuskan untuk nulis lanjutan dari draf udah lama terlupakan.
Semoga berkenan untuk main-main lagi sama GPW.
Bye.
