Sabtu kemarin Riko sudah mengumumkan pada rapat orang tua dan guru dalam rangka hari anak, pementas TK Teiko musim panas nanti kelasnya—Kelas Pelangi—akan menampilkan drama. Belum ditentukan akan seperti apa dramanya, tapi ternyata banyak orang tua dari muridnya yang setuju akan itu. Terutama ibunya Ryouta dan Ryou.
Dua ibu itu juga yang membuat kelasnya ramai senin pagi ini. Semua membicarakan tentang drama yang Ryouta dan Ryou dengar dari ibu mereka.
Semua! Dan itu artinya tidak ada yang terlewatkan. Bahkan anak senakal Shogo dan semalas Atsushi sekalipun.
"Riko sensei!"
"Ya, Seijuurou?"
"Memangnya bener ya kalau kita mau main drama?"
"Ah, itu—"
"Sensei!"
"Apa, Satsuki?"
"Dramanya tentang apa?"
"Ah, kalau itu—"
"Sensei-sensei."
"Iya, apa Ryouta?"
"Dramanya yang ada putri sama pangeran, kan-ssu?"
Dan masih banyak pertanyaan lain yang mereka ajukan pada Riko untuk tahu lebih banyak tentang drama yang mereka dengar. Terpaksa, sungguh terpaksa, Riko menjanjikan akan cerita setelah makan siang. Demi ketenangan kelas, terpaksa Riko melakukan itu.
—
KNB © FUJIMAKI TADATOSHI
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Friendship, Family, Chilhood, Humor, Romance (maybe)
Kuroko Tetsuya, Momoi Satsuki, GoM, Aida Riko
(Cast mungkin bertambah di chapter selanjutnya)
Waning : FF orang labil. Nggak jelas. Typo. Humor gagal. Menjurus ke OOC. Non Baku.
.
.
Chap : Bermain Drama Bag 1 (Pembagian Peran)
.
.
—
Satsuki terus saja membual tentang cerita putri salju yang ingin sekali dia mainkan. Dia bilang, "Aku akan jadi putrinya dan Tetsu-kun akan jadi pangerannya. Jadi nanti Tetsu-kun akan menciumku agar aku bangun lagi." Dan semua langsung terpengaruh.
Terutama beberapa warna ajaib disana.
Mendapat ciuman Tetsuya tiba-tiba menjadi prioritas mereka.
"Memangnya cerita Putri Salju itu seperti apa-ssu?" Ryouta yang pertama bertanya. Si kuning satu itu sudah tidak bisa tenang karena membayangkan bisa mencium pipi mulus milik Tetsuya. Dia bahkan tertawa geli sendiri setelah membayangkan jika dirinya si pangeran dan Tetsuya si putri.
"Buku ceritanya ada, kok."
Daiki dan Seijuurou mengikuti langkah Satsuki dan Ryouta menuju rak buku di pojok ruangan itu. Mereka berempat membacanya bersama dan berfantasi dengan satu orang yang sama.
Sedangkan Atsushi, Shintarou dan Ryou justru sibuk membuat Tetsuya tidak mendengar ocehan empat temannya yang lain. Mereka setuju saja jika dramanya nanti menggunakan cerita itu, tapi sedikit takut juga kalau membayangkan Seijuurou, Daiki, Ryouta dan Satsuki sampai berebut peran demi mendapat ciuman Tetsuya.
(Baiklah, mungkin dalam kasus Satsuki akan jadi sedikit berbeda. Tapi tetap sama. Semua mengincar Tetsuya.)
Belum lagi Shougo yang asik menulis sesuatu dan diam saja di mejanya. Shintarou sampai meminta Kazunari untuk mengawasi anak itu karena takut dia berbuat sesuatu yang membahayakan teman-temannya—kecuali Tetsuya tentu saja.
"Tetsu-chin, kalau benar akan main drama, kamu maunya drama apa?"
"Apa saja. Aku ingin main drama yang kita semua bisa bermain."
"Oh~ berarti kalau Putri Salju tidak masalah, kan?"
"Tidak apa-apa. Aku suka juga dengan cerita itu. Atsushi-kun sendiri maunya drama apa?"
"Yang penting nggak bikin susah."
"Shintarou-kun, bagaimana?"
"Aku terserah kalian saja-nanodayo."
—
"Shougo-kun, kamu nulis apa, sih?"
"Jangan lihat."
Kazunari mundur ketakutan melihat reaksi keras dari Shougo yang langsung menutup bukunya, bahkan sedikit menggebrak meja. Lalu mata tajam yang seolah memaki marah padanya, Kazunari hampir menangis kalau tidak ingat tadi Shintarou bilang untuk berani pada Shougo.
"Tenang saja, kalau dia nakal akan aku marahi dia nanti." Karena itu Kazunari tidak bisa berhenti tersenyum sambil memperhatikan apa yang Shougo lakukan di depannya.
Diam-diam bocah kesayangan guru Kelas Bintang itu juga berharap kalau cerita Putri Salju yang akan dipilih gurunya. Tentu saja dengan penempatan peran yang berbeda dari yang lain.
Inginnya Kazunari; dia sendiri menjadi si putri dan Shintarou yang jadi pangerannya. Jadi nanti dia bisa dapat ciuman dari Shintarou.
"Oi, Kazu."
"A-apa, Shougo-kun?"
"Temani aku ke ruang guru sebentar."
"Hah? Buat apa?"
"Ayo ikut aja."
Antara takut dan penasaran, akhirnya Kazunari menurut dan ikut dengan Shougo. Dalam hati bocah itu berdoa semoga Shintarou sadar kalau dia keluar kelas dengan anak paling nakal dan segera menyusulnya.
—
Riko sedang pusing memikirkan janjinya pada murid Kelas Pelangi saat sepasang bocah yang paling tidak terduga akan datang bersama menemuinya—Shougo dan Kazunari—masuk ruang guru. Dengan lagak santainya Shougo memberikan selembar kertas bertuliskan peran dalam drama.
"Di kelas semua ingin memainkan drama Putri Salju. Iyakan, Kazu?" Begitu katanya.
(Kazunari hanya mengangguk setuju.)
Riko membaca dengan seksama tulisan ceker ayam bocah abu-abu itu dan tersenyum kemudian. Sedikit tidak menyangka kalau anak paling nakal di kelasnya yang akan memberi hidayah disaat terjepit janji pada muridnya sendiri. Belum lagi dengan keberadaan Kazunari di samping bocah itu.
Riko yakin betul kalau memang benar drama Putri Salju adalah yang terbaik, dan kalau di ingat-ingat perannya cukup banyak. Bisa melibatkan semua muridnya di kelas.
"Baiklah. Akan Sensei pikirkan. Sekarang kembali saja dulu ke kelas."
"Sungguh?" Dia tampak antusias, dan Riko tahu betul alasannya.
Semua pasti karena Kuroko Tetsuya.
Tapi kalau begitu Riko harus membuat siasat untuk melindungi si biru langit itu.
"Iya. Sensei akan siapkan semuannya. Sekarang kembali saja dulu ke kelas. Setelah makan siang nati Sensei akan jelaskan semuanya."
"Baiklah. Ayo, Kazu." Dia menarik tangan Kazunari dan menggeret paksa (dengan perasaan senang) teman yang paling sering ia bully itu saat keluar.
Sejujurnya Putri Salju sudah sempat terpikir oleh Riko tadi, tapi mengingat jumlah murid perempuannya ada empat Riko menghapusnya demi menghindari perselisihan. Namun berbeda jika seperti ini ceritanya.
Shougo mungkin nakal, tapi dia bukan pembohong. Riko yakin Kelas Pelangi memang ingin memainkan drama Putri Salju itu. Jadi akan lebih baik jika ada sedikit perubahan di dramanya.
Ah, dan ingatkan Riko untuk mengamankan Tetsuya dari warna lain yang sedang mengincarnya.
—
Suasana kelas langsung penuh bisik-bisik tapi terjaga ketenangannya begitu Riko masuk sambil membawa kotak dengan enam belas gulungan berbeda warna. Semua ada di tempatnya masing-masing dan tampak sangat menantikan kabar apa yang kiranya akan Riko bagi padanya. Semua jadi anak baik, dan sungguh sial bagi Riko karena harus tahu alasan sesungguhnya kenapa sikap anak-anak Kelas Pelangi jadi begitu baik.
Sedikit kecewa sebab itu bukan karena dirinya, tapi senang juga melihat antusiasme mereka menyambut usulannya. Baru kali ini Riko merasa senang menyambut pementasan hari anak awal musim panas nanti.
"Jah, sensei sudah putuskan kalau peran dalam drama nanti akan kita undi. Satu persatu maju ke depan dan ambil gulungan ini." Dimulai dari Seijuurou yang kemudian diikuti yang lainnya, semua maju mengambil satu gulungan yang sudah Riko siapkan. "Jangan dibuka dulu, ya? Kita buka bersama nanti."
Seijuurou mengangkat tangannya. "Kita akan main drama apa?"
"Nanti dulu. Kita lihat dulu apa peran yang kalian dapat."
Riko membuat kelas itu berisik dengan ungkapan penasaran. Daiki sampai berteriak frustasi karena tidak sabar ingin membuka gulungan berwarna biru tua yang ia ambil, mengomeli Atsushi yang berjalan terlalu santai hanya untuk menghampiri Riko, dan menggerutu tidak jelas.
"Nah, semua siap?" Mereka diam dengan kedua tangan siap menatik pita yang mengikat gulungan mereka. "Setelah hitungan ketiga kita buka bersama ya?"
Semua mengangguk.
"Satu..." Beberapa tampak tidak sabaran, beberapa lain tampak sangat percaya diri kalau mereka akan dapat peran penting (yang ini berlaku pada warna-warna mencolok di kelas), ada juga yang tampak santai. Tetsuya salah satunya.
"Dua..."
Riko menahan tawa melihat Ryouta dan Daiki yang meremas gulungan mereka saking gregetnya.
"Tiiiii~" Sungguh Riko suka melihat ekspresi tidak sabar mereka semua. Kalau boleh, Riko ingin mempermainkan mereka seperti ini setiap hari. "GA!"
Semua membukanya bersamaan. Selang sedetik kelas itu penuh dengan teriakan meminta penjelasan yang sudah Riko duga akan seperti itu jadinya.
"Semuanya tenang."
Suara mereka mereda walau masih ada yang tidak terima atau tidak paham tentang perannya. Salah satunya Ryouta.
Si kuning itu membuat si hijau di samping mengomel kecil karena suara cemprengnya membuat suara Riko di depan jadi tidak terdengar jelas.
"Kita akan mainkan drama Putri Salju." Lagi, kelas langsung riuh. Ryouta semakin tidak tertahan. Dia marah-marah tidak jelas dan kena marah balik dari Shintarou.
"Berisik tahu! Dengar dulu Riko sensei belum selesai ngomong-nanodayo."
"Ya, habis aku dapat peran ini-ssu!"
"Makanya dengar dulu. Aku juga bingung sama peranku-nanodayo."
Di sisi lain Tetsuya justru terlihat bingung dengan tulisan yang ia dapat. Dia bisa membacanya, dia yakin cara membanya benar. Tapi dia tidak tahu arti kata itu apa. Ryou, Atsushi dan Tae yang mengelilingi satu meja dengannya juga tidak tahu saat ditanya. Inginnya sih, tanya pada Riko, tapi berisiknya kelas membuat suaranya teredam tanpa sempat terdengar.
"Tenang-tenang. Dengar dulu."
Tenang lagi, walau Ryouta masih terus menggerutu tidak jelas.
"Yang tertulis di sana adalah peran kalian. Tidak boleh ditukar, ya?" Gerakan tangan Seijuurou dan Ran yang ingin bertukar peran terhenti karena itu. Lirikan dan senyum Riko membuat keduanya menarik lagi gulungan masing-masing dengan ekspresi kecewa.
"Jadi siapa yang dapat peran Narator?"
Tetsuya langsung mengangkat tangannya, tidak lupa dia menanyakan apa itu narator—dalam hati bocah biru langit itu bangga karena dia tidak salah membacanya.
"Narator itu yang membacakan cerita di sisi panggung nanti."
Tetsuya mengangguk paham. Tampak senang pada awalnya dapat peran yang cukup penting. Tapi, "Itu berarti aku tidak ikut main dramanya?"
"Iya. Tetsuya yang akan jadi pemandu dramanya. Tenang saja, Narator itu peran paling penting di dalam drama. Tetsuya harusnya senang."
Dia masih terlihat kecewa, tapi pada tiga temannya yang lain dia menolak tukar peran.
"Sensei!"
"Ya, Ryouta?"
"Aku mau tukar peran-ssu."
"Aku juga, sensei!"— Seijuurou ikutan.
"Kan, sensei sudah bilang tidak ada yang boleh tukar."
"Tapi sensei, aku dapat peran tuan putri-ssu!"
"Aku ibu tirinya tuan putri, Sensei!"
Baru kali ini Riko lihat Ryouta begitu marah dan tidak suka. Biasanya bocah kuning itu terima saja saat dapat hal jelek, asal bisa dengan Tetsuya semua akan dia terima, tapi kali ini sedikit berbeda.
"Pokoknya tidak boleh tukar peran. Sensei ingin kalian belajar menerima."
Di sisi lain Daiki jadi satu-satunya yang terdiam kaku. Kertas biru tua yang ada di tangannya dia genggam kuat-kuat. Wajahnya sedikit memucat mengingat cerita Satsuki—dia bahkan ingat betul isi buku cerita Putri Salju yang dia baca tadi dengan Satsuki, Seijuurou dan Ryouta.
Sementara Shougo, Shintarou dan Kazunari mendengarkan penjelasan Riko tentang peran mereka, Daiki justru memilih mengumpat di bawah meja. Tidak ingin sampai teman sekelasnya tahu apa peran dia.
"Dai-chan?"
"Ssst! Saksuki diam." Katanya penuh penekanan.
"Tapi—"
"Lalu siapa yang dapat peran pangeran?"
Riko memecah kebisingan kelas dengan pertanyaan tak terjawab itu. "Tidak ada yang dapat peran pangeran?"
Bisa terlihat jelas jika Ryouta begitu penasaran siapa yang akan menjadi pangerannya nanti—yang akan mencium pipinya nanti.
"Dai-chan." Satsuki mengangkat tangannya. "Yang dapat peran pangeran itu Dai-chan, sensei."
Semua mata langsung tertuju pada bangku kosong yang ditinggal bersembunyi pemiliknya. Ryouta sampai memeluk lengan Shintarou saking takutnya melihat ekspresi Daiki saat ditarik keluar oleh Riko. Dia bilang, "Bukannya menciumku, Daiki-cchi mungkin akan mencekikku-ssu."
"Nggak mungkin, bodoh!"
Orangnya keluar dari persembunyian. Mendekat pada Ryouta dan menatap Ryouta cukup lama sampai akhirnya kembali bersuara, "A-aku cuma gugup."
Dia menggaruk tengkuknya dan menunduk malu. Riko tahu kok, kalau Daiki sebenarnya sayang pada Ryouta. Biar bagaimanapun Daiki itu teman yang selalu melindungi Ryouta, paling sering juga menjaga Ryouta agar tidak sampai dibuat menangis oleh Shougo. Tapi hari ini, bocah ireng itu tampak sedikit berbeda. "A-aku pasti akan menciummu."
Oh~ Riko paham.
Dasar anak-anak. Mencium temannya saja sampai seperti itu.
"Ya sudah. Mulai besok kita latihan ya? Tolong jangan kasih tahu siapa-siapa juga kalau kita mau buat drama Putri Salju."
"Kenapa sensei?"
"Kalau sudah ada yang tahu kan tidak bisa jadi kejutan. Kalian mengerti?"
"Mengerti."
—
Seijuurou di tempatnya menatap tidak suka Shintarou dan Kazunari yang dapat peran kecil tapi bisa berdiri di dekat Tetsuya sepanjang drama nanti. Kalau saja dia berhasil dapat peran kurcaci milik Ran, setidaknya dia yakin akan bisa memaksa Kazunari memberinya peran Suara Peri yang nantinya akan menuntun Daiki pada Ryouta. Tapi sialnya peran dia justru Ibu Tiri si Putri Salju.
"Kesal!"
Kertas kosong menjadi korban amukan guntingnya.
"Sei, sekarang giliran kita."
Shougo mundur selangkah, takut melihat mata mengancam bocah merah itu.
"Sei-kun."
"Ya, Tetsuya?" Tapi pada Tetsuya ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat.
"Cepat baca dialognya."
"Oh, iya."
Shougo dia buat kesal sekesal-kesalnya karena perlakuan tadi.
"Awas saja kau, Sei."
—
TBC
—
Peran Murid Kelas Pelangi
Untuk Drama Shirayuki-hime
Ryouta—Putri Salju
Daiki—Pangeran
Satsuki—Nenek Penjual Apel
Shougo—Tukang Kayu Kerajaan
Seijuurou—Ratu Merah
Atsushi—Kurcaci 1
Ryou—Kurcaci 2
Kouki—Kurcaci 3
Yuuya—Kurcaci 4
Tsugawa—Kurcaci 5
Ran—Kurcaci 6
Aya—Kurcaci 7
Tae—Adik Penjual Pita
Shintarou—Cermin Ajaib
Kazunari—Suara Peri
Tetsuya—Narator
