Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI

Our Home © Atma Venusia

Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.

Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.

Namanya sekarang Akashi Seijuurou. Dia yang tadinya hanya seorang anak terbuang kini menjadi satu-satunya calon pewaris sebuah perusahaan besar di negaranya. Kemanapun, kapanpun, gelar 'Tuan Muda Akashi' menjadikannya seperti berhala berjalan yang selalu dipuja dan disembah. Padahal umurnya baru menginjak lima belas tahun, tapi semua menganggapnya sangat berbahaya.

Memang apa yang bisa anak lima belas tahun lakukan?

Dia hanya anak angkat, tidak akan bisa melakukan apapun sesuka hati.

Kenyataan bahwa kebebasannya sudah direnggut paksa saat ini bisa menjadi bukti. Jangankan mengharap bisa memiliki teman main dan pergi bersenang-senang sepulang sekolah, kegiatannya setiap hari sudah dijadwal oleh seseorang bernama Mayuzumi Chihiro, orang kepercayaan ayahnya, orang yang menjadi sipir penjara tak kasat mata baginya.

"Hari ini setelah pulang sekolah kau harus mendatangi pemutaran perdana film 'Mimpi itu Buruk' menggantikan ayahmu, lalu mengikuti jamuan makan malam para staff. Ah, tenang saja, aku akan membuatmu terbebas dari yang satu itu, karena dibanding ikut acara makan tidak jelas, lebih baik jika kau ikut kelas matematikaku."

"Terserah, tapi aku sudah bilangkan kalau hari ini ada rapat OSIS?"

Mayuzumi yang duduk di hadapannya mengangguk santai. Matanya sepenuhnya terfokus pada buku catatan berisi jadwal anak bernama Akashi Seijuurou yang lagi-lagi sarapan sendiri, tanpa ada ayahnya.

Oh, kalau boleh jujur, Seijuurou lebih suka seperti ini sebenarnya.

Duduk dengan Mayuzumi lebih baik ketimbang duduk bersama ayah atau kakeknya. Setidaknya udara yang ia hirup di sekitar tidak terkontaminasi racun ambisi.

"Apa kau tahu?"

"Apa?"

"Pemain film itu?"

"Ryouta maksudmu?" Mayuzumi berdemen pelan, Seijuurou menyelesaikan makannya, mengakhiri dengan seteguk air. "Kalau kau hanya ingin menanyakan hubunganku dengannya, lebih baik kau diam saja. Aku dan Ryouta sudah hampir lima tahun tidak pernah bertemu, jadi jangan macam-macam."

"Memangnya kalau sudah lima tahun kenapa? Bukannya kalian teman main dulu?"

"Teman main?" Seijuurou mendengus, tertawa mengejek. "Jangan samakan hubunganku, Ryouta dan yang lain dengan hubungan sederhana seperti teman TK. Kami bersaudara."

Mayuzumi mengangguk, mengiyakan walau terlihat jengah. "Pokoknya nanti kau harus mendekati anak itu. Terserah mau kau anggap itu temu-kangen atau sekerdar formalitas. Yang harus kau lakukan sebagai penerus keluarga Akashi adalah membuka jalan untuk memperluas bisnis.."

"Aku tahu-aku tahu. Ayahnya Ryouta kan alasannya?"

Senyum dari Mayuzumi sudah membuat Seijuurou paham. Sudah terbiasa dengan segala hal yang pria beraura tipis itu tentukan untuknya.

"Kalau begitu ayo berangkat."

Seijuurou pernah bertanya pada Kagetora-san tentang dirinya. Ingin tahu kebenaran tentang orang tua kandungnya. Dan cerita Kagetora-san waktu itu cukup membuatnya merasa bersyukur sudah menjadi putra tunggal keluarga Akashi.

Dia yang pernah dibuang, dia yang tidak pernah diharapkan, atau dia yang dilupakan begitu saja, kini berubah menjadi pangeran dari sebuah kerajaan hebat. Seijuurou pikir ia memang harus berterima kasih karena hari itu Izuki meyakinkannya untuk ikut dengan seorang wanita cantik bergaun putih yang terus menerus memperhatikannya. Karena pada akhirnya wanita itu menjadi ibunya, ibu terbaik yang dia punya.

Ibu yang bahkan lebh baik dari ibu kandungnya sendiri, dari wanita yang dengan tega meninggalkan Seijuurou di depan sebuah klinik.

"Aku tidak begitu tahu, yang aku ingat hari itu adalah hari yang cukup dingin. Memang tidak turun salju, tapi sorenya habis turun hujan lebat. Tanggal 20 waktu itu adalah hari terdingin pada bulannya. Ada beberapa orang datang kesini, mereka membawa seorang bayi laki-laki, satu dari orang-orang itu mengaku sebegai orang yang menemukanmu, yang lain adalah polisi yang mengantar. Mereka menitipkanmu semetara mereka ingin menyelidiki kenapa kau ditinggalkan di depan sebuah klinik Dokter Gigi.

"Waktu itu sudah ada Tetsuya, Ryouta, Shintarou, Satsuki dan Daiki. Kau adalah anak keenam yang datang pada tahun itu. Ah, aku ingat seberapa kerasnya Shun berjuang membuatmu mau menurutinya. Kau sangat rewel, menangis adalah hobimu kalau di dekatnya. Dan lihat sekarang, kau menjadi pangeran dari kerajaan Akashi. Kau tahu seberapa bahagianya Shun?"

Kata-kata Kagetora-san waktu itu terekam jelas dalam ingatan Seijuurou. Tentang ia dan seorang pria tak dikenal yang menemukannya, tentang Izuki yang menjadi pengurusnya, juga tentang kebahagiaan Izuki mengetahui ia menjadi pangeran dari sebuah kerajaan modern. Seijuurou mengingat semua itu dengan jelas, menjadikan hal itu pecut baginya untuk bertahan di dalam sangkar emas yang – entah mengapa – sangat didambakan banyak orang.

Mereka tidak tahu seberapa melelahkannya menjadi calon penerus perusahaan besar, tapi mereka mengeluh-eluhkannya, mengharapkannya sampai berani melakukan hal licik. Sungguh sangat disayangkan pikiran pendek mereka tentang seberapa indahnya hidup sebagai 'Tuan Muda Akashi' itu. Seijuurou bahkan terkadang diam-diam menertawakan teman-teman di sekolahnya yang mendekatinya demi membantu bisnis orang tua mereka dengan ayahnya.

"Hari ini kau jadi sedikit pendiam."

"Satu-satunya yang cerewet disini memang hanya kau, Chihiro."

Dari pantulan spion dalam Seijuurou bisa melihat kalau Chihiro menertawakannya. Tidak terdengar memang, tapi sikap Chihiro yang sok perhatian dan tebar senyum itu cukup untuk Seijuurou artikan sebagai ejekan – semacam geli hati.

"Sei, belakangan kau jadi jarang menanyakan Tetsuya padaku. Kenapa? Kalian sedang bertengkar?"

"Bertengkar apanya? Berhubungan juga hanya bisa lewat pamannya yang usil dan suka menambah-nambahkan pesan tidak penting. Kalaupun Tetsuya marah padaku, yang patut disalahkan itu kau."

"Haha, kau bisa saja. Aku tidak melakukan hal sehebat itu juga."

Seijuurou memilih diam. Enggan mendengarkan ocehan pengawasnya yang satu ini.

Pikirannya kini justru terpenuhi dengan saudara-saudaranya, terutama Ryouta yang dalam hitungan beberapa menit lagi akan bertemu dengannya.

Apa Ryouta baik-baik saja? Apa Ryouta bahagia? Apa Ryouta masih sama seperti dulu? Atau apa Ryouta masih mau menganggapku saudaranya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memenuhi isi kepala Seijuurou.

Dia yang biasanya tenang, dia yang biasanya terlihat angkuh, atau dia yang biasanya selalu tahu apa yang harus dilakukan hilang sudah. Gugup tiba-tiba melanda. Dia menjadi seorang siswa SMP kelas tiga sesungguhnya di perjalanan menuju pemutaran perdana film yang saudara satu rumahnya dulu mainkan.

"Kita sampai." Seijuurou mengangguk. "Aku tidak akan menjemputmu. Kau tunggu saja yang lain yang menjemput."

"Aku tahu, kau sibuk dengan siswa baru di kelasmu, kan?"

"Bukan itu saja. Setelah ini aku harus mengurus hal lain untukmu besok."

"Terserahlah, yang penting aku tidak mau sampai ikut jamuan makan malam."

"Tenang saja. Jah, sampai bertemu di kelasku nanti malam."

Seijuurou keluar dari mobil dan langsung disambut kilat-kilat blitz kamera. Reporter dan wartawan mulai mengerubunginya, tapi berkat nama besar yang disandangnya sekelompok pria bersegaram hitam langsung mengawalnya. Tanpa sepatah kata pun Seijuurou meninggalkan halaman gedung teater yang digunakan untuk pemutaran perdana film 'Mimpi itu Buruk'.

Hal seperti tadi itu biasa, bukan sekali dua kali Seijuurou mendapat sambutan besar karena mendatangi acara semacam ini. Hal yang lebih parah pernah terjadi saat Seijuurou dan ayahnya mendatangi sebuah acara pembukaan hotel baru rekan bisnis ayahnya. Seijuurou hampir tidak bisa bergerak, sementara ayahnya menjawab macam-macam pertanyaan repoter dan wartawan, ia justru dikepung blitz kamera. Pulangnya Seijuurou terpaksa mendatangi dokter mata.

"Akashi-kun, terima kasih sudah datang."

"Maaf karena bukan ayah yang datang, beliau sedang berada di luar negri beberapa minggu ini."

"Tidak apa-apa. Melihat kau mau mendatangi acara pemutaran perdana ini saja membuatku sangat senang. Sekali lagi aku, mewakili seluruh tim pembuatan film, mengucapkan terima kasih atas kehadiranmu."

Seijuurou mengangguk dan mengulas satu sebelum pamit untuk mendatangi kerumunan yang mengepung 'saudaranya'.

"Seijuurou!"

Bocah seumuran dengan tinggi lebih sedikit dibanding Seijuurou menerobos pagar manusia yang mengepungnya, langsung memeluk manja Seijuurou dan meminta orang-orang tadi pergi, memberi ruang pribadi bagi dua bocah SMP berbicara.

"Kau sepertinya sangat sehat, Ryouta."

"Seijuurou sendiri tidak berubah sama sekali."

Seijuurou bingung harus menyebut apa pertemuannya dengan Ryouta ini. Jelas bukan formalitas, tapi bisa Seijuurou katakan ini bukan temu-kangen seperti yang Mayuzumi katakan tadi. Ia dan Ryouta sama sekali tidak seperti sepasang saudara yang telah berpisah lama. Mereka mungkin terpisah, lama tidak bertemu, tapi satu sama lain tahu bagaimana kabar dan kondisi yang lain.

"Omong-omong, mana ayah dan ibumu?"

"Oh, kau datang untuk bisnis ternyata. Kupikir kau datang untuk menemuiku."

"Aku memang dapat tugas untuk mendekatimu, tapi tujuannya bukan seperti yang kau pikirkan. Maaf kalau kau kecewa."

"Huh, dasar. Dari dulu kau selalu seperti itu padaku. Aku jadi ingin bertemu dengan yang lain juga."

Inginnya Seijuurou langsung menyahut, memerintah Ryouta menemui saudara-saudara mereka yang lain, bahkan kalau bisa Seijuurou ingin menitipkan kata rindu untuk mereka. Tapi lidahnya kelu, melihat seberapa bersinarnya Ryouta di hadapannya membuat Seijuurou merasa seperti sedang bercermin.

Kami berhala berjalan.

Kalimat itu muncul di kepalanya saat ada lagi orang yang mendekat pada mereka. Hanya untuk mengucapkan salam dan selamat pada Ryouta memang, tapi entah mengapa Seijuurou bisa mendengar suara lain dalam kepala mereka. Suara-suara yang menggambarkan kekaguman – atau mungkin rasa iri – melihat hubungan dua anak SMP yang masa depannya sudah tergambar jelas akan seindah apa.

"Kudengar kau sangat menjiwai peranmu dalam film kali ini, apa itu karena kesamaan alur dengan kisah hidupmu?"

Ryouta tertawa pelan, sedikit aneh mendengar tawanya yang tidak tulus itu. Walau tidak bertemu hampir lebih dari lima tahun, tapi waktu yang mereka habiskan di Our Home bersama sudah cukup untuk membuat Seijuurou mengenal baik bagaimana saudaranya yang satu ini.

"Kalau saja kisahku seperti dalam film itu, aku akan sangat senang." Ada kesedihan, kesepian, rasa sakit dan permintaan tolong yang tersirat dalam kalimat barusan. Seijuurou cukup tertegu, melihat seberapa tabah Ryouta menjawabnya.

Ryouta yang cengeng sudah tidak ada lagi pada sosok di hadapannya.

Ah, apa yang akan Shun rasakan kalau melihat anak asuhnya yang paling cengeng tumbuh menjadi begitu dewasa seperti ini? Senang? Bangga? Atau justru sedih dan kehilangan?

Seijuurou mendadak merindukan Izuki Shun dan Our Home yang ia tinggali tujuh tahun lalu.

"Sudahlah, ayo masuk. Filmnya akan segera diputar."

"Hm."

"Kau harus duduk di sampingku."

"Hm-hm."

Cerita dari film yang Ryouta mainkan sebenarnya sederhana. Itu kisah anak angkat yang bernasib buruk-tapi-baik dan berujung sukses. Memang tidak mudah perjalanannya, tapi sepanjang cerita Seijuurou merasa iri bukan main pada karakter yang Ryouta bawakan.

Beruntungnya karakter itu bisa terus maju, memiliki teman-teman yang mendukungnya, mendapat kepercayaan dari orang-orang tercinta, kebersamaan dan kebebasan.

Seijuurou benci mengakuinya, tapi Ryouta benar, "Rasanya pasti lebih menyenangkan kalau benar seperti itu."

"Hm? Tuan muda mengatakan sesuatu?"

"Tidak ada."

Seijuurou benar-benar tidak ikut acara jamuan makan malam yang diadakan setelah pemutaran film. Dengan alasan "harus belajar" Seijuurou bisa lepas dari macam-macam omongan tamu undangan yang membuatnya semakin terpojok; tertekan.

Calon penerus. Anak berbakat. Keberuntungan keluarga Akashi. Pangeran. Bisnis. Perjodohan. Dan rasa bangga ayahnya. Seijuurou sama sekali tidak suka dengan bahan basahan seperti itu. Semua itu terdengar bodoh di telinganya. Seijuurou membenci semua itu, sangat membencinya!

Menajadi penerus keluarga Akashi, menjadi anak berbakat semua itu bukan maunya, bahkan kalau bisa ia enggan ada di takdir ini. Semua hal yang orang-orang elukan adalah pengambaran jeruji emas bagi Seijuurou. Dia mungkin burung yang cantik, bisa terbang tinggi, tapi apa yang bisa di lakukan seekor burung jika terus berada dalam sangkarnya?

Apa yang bisa Seijuurou lakukan kalau kebebasan bersosialisasinya direnggut paksa?

Jangankan mengharap bisa mengerti banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, untuk sekerdar berteman dengan seseorang di sekolah saja tidak bisa. Tidak diijinkan. Oh, bahkan berhubungan dengan Izuki Shun, Our Home dan saudara-saudaranya juga ia tidak diijinkan. Mengingat itu rasanya Seijuurou jadi mual, kepalanya pening.

Kalau saja ibunya masih ada, setidaknya akan ada satu hari dalam satu bulan yang bisa Seijuurou luangkan untuk bertemu dengan saudara-saudaranya, atau mungkin Izuki Shun. Kalau saja ibunya bisa berumur lebih panjang lagi. "Hm, kalau saja."

Sedikit menyakitkan memang, tapi 'kalau saja' itu memberi Seijuurou sedikit-banyak kekuatan tambahan.

Kalau saja ia lebih berani melawan kehendak ayahnya, kalau saja ibunya masih hidup, kalau saja ia bisa tetap ada di Our Home bersama Izuki Shun, kalau saja ia tidak pernah di buang di depan Klinik Dokter Gigi itu, atau kalau saja wanita yang entah siapa itu tidak pernah melahirkannya, Seijuurou yakin betul tidak akan ada kisah menjijikan seperti ini.

Ia membencinya. Dirinya sendiri. Takdirnya. Hidupnya. Seijuurou membenci semua hal itu jika disangkut-pautkan dengan nama keluarga Akashi yang disandangnya.

Sungguh, kalau saja ia bisa, kalau saja ia mampu, atau setidaknya tahu bagaimana caranya, Seijuurou ingin melepas nama Akashi yang disandangnya saat ini.

Sungguh!

"Kita sampai, tuan muda."

Tanpa menunggu pelayannya yang melakukan Seijuurou membuka pintu mobil, berlari menuju kamaranya. Panggilan Mayuzumi tidak diindahkannya, sebagai ganti Mayuzumi ikut berlari mengejarnya menuju kamar setelah medengar kesaksian supir yang menjemput Seijuurou.

"Tuan muda sudah pucat sejak naik, saya pikir beliau sakit jadi buru-buru saya bawa pulang tadi." Begitu kira-kira kata si supir.

Seijuurou tidak kaget waktu Mayuzumi memergokinya sedang menenggak beberapa butir pil berwana merah muda yang memberi efek menenangkan, sedikit melumpuhkan syaraf. Sebaliknya, Mayuzumi justru mengkhawatirkan kondisinya saat ini ketimbang tentang pil penenang itu. "Terjadi sesuatu di sana?"

Seijuurou menggeleng.

"Akan aku batalkan semua acaramu sepulang sekolah besok. Pastikan kau menemui Dokter Kiyoshi besok. Belakangan kau jadi sangat bergantung dengan obat-obat itu. Sangat menyedihkan."

"Berisik. Kalau kau disini hanya ingin menceramahiku, lebih baik keluar. Kepalaku sakit!"

"Tapi kau ada kelas denganku malam ini."

Seijuurou menatapnya tidak suka. Mengancam dengan mata lebih tepatnya. "Kau tuli?" dia menggeram kesal. "Aku bilang kepalaku sakit."

"Baiklah aku akan keluar, tapi setelah kau jawab satu pertanyaanku."

Seijuurou mengirim sinyal penuh kebencian pada kehadiran Mayuzumi yang jelas sangat menganggunya disaat seperti ini. Ia tidak menjawab permintaan Mayuzumi tapi orangnya menganggap itu sebuah persetujuan.

"Apa kau melakukan apa yang aku perintahkan?"

Rahang Seijuurou mengeras. Kepalanya makin terasa sakit. Sambil menahan amarahnya ia mengangguk. "Aku sudah mendekati Ryouta, menanyakan orang tuanya, berbicara dengan beberapa orang yang kau sebutkan sebelumnya, dan meyakinkan mereka kalau aku adalah pewaris yang layak untuk Akashi group."

"Baguslah kalau begitu."

"Sekarang keluar dari kamarku. Kau hanya membuat aku semakin tersiksa."

"Maaf-maaf. Tidurlah."

Sepeninggalan Mayuzumi ia merebahkan diri di tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamarnya dalam diam sambil menahan gejolak aneh yang membuat tubuhnya ikut terasa aneh. Kepalanya masih sakit, hampir seluruh tubuhnya kesemutan dan ia sama sekali tidak mengantuk.

"Ah, aku harap aku adalah Ryouta dalam film tadi."

Yuhuu~ Terima kasih buat yang udah ninggalin review, favorite dan follow. Maaf ya, aku nggak nulis FF ini ada lanjutannya atau ngga, itu udah jadi semacam kebiasaan soalnya. Tapi karena udah ada chapter ini pasti udah taukan kalau ini bukan FF OS.

Segitu aja dariku, aku pamit dulu~