Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI

Our Home © Atma Venusia

Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.

Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.


"Ryouta, cepat!"

"Iya, tunggu sebetar Nee-san."

"Kalau sampai telat semua salahmu, ya."

"Tapikan tadi Nee-san yang..."

"Berani membantahku?"

"Ti—tidak."

Sebuah gelengan kepala turut menyertai jawaban bernada lemah itu. Sambil memasang senyum terbaiknya mereka berdua keluar dari rumah, berjalan menuju mobil yang terparkir di depan untuk menjemput mereka.


Kise Ryouta, seorang artis cilik yang terbilang sukses dan sudah diramalkan akan menjadi bintang besar nantinya. Ketenarannya melebihi kedua kakak perempuannya dan hampir setara dengan Ibunya yang seorang aktris senior.

Tapi jujur saja, Ryouta tidak pernah menginginkan ketenaran itu. Ia akui kalau akting adalah hal yang ia sukai, bermain peran itu sangat meyenangkan, tapi ketenaran sungguh melelahkan.

"Habis dari acara penghargaan nanti, ibu menyuruhmu mendatangi Guru Kasamatsu. Katanya ada beberapa hal yang harus dievaluasi."

Ryouta hanya mengangguk.

"Jangan karena kau punya teman seorang anak konglomerat sekelas Akashi itu kau jadi sombong dan banyak tingkah. Ingat diri, Ryouta. Kau siapa dan dia siapa. Kau hanya harus mendekatinya agar karirmu semakin bagus, ayahnya orang ternama dan sering mensponsori banyak film besar, kalau bisa memaminkan film yang disponsori ayahnya, kau bisa libur dua bulan, tahu?"

Lagi, Ryouta hanya mengangguk patuh.

Mematuhi perintah kakak perempuannya juga adalah sebuah keharusan selain mematuhi perintah kedua orangtuanya dan menghasilkan sekurang-kurangnya seratus juta Yen pertahun. Dan Ryouta tahu betul kalau seratus juta adalah angka yang besar untuk bocah SMP sepertinya.

Kadang Ryouta berpikir alasan orang tuanya sekarang mengangkatnya, apa untuk uang? Atau memang karena ingin punya anak laki-laki?

Tapi pikiran-pikiran itu hilang bersama dengan lelahnya mengejar target film atau drama yang harus ia bintangi. Terbenam bersama dengan keinginan-keinginan kecilnya untuk memiliki teman, berlibur, menonton kembang api atau piknik di bawah bunga Sakura.

Bagi Ryouta membuat ayah dan ibunya puas saja sudah cukup, mendapat pujian hebat dari kakak perempuannya saja sangat membahagiakan, tidak ada yang bisa ia kejar lagi selain itu. Karena memang tidak mudah baginya mengejar hal lain yang lebih dari itu.

"Ryouta."

"Iya, kenapa Nee-san?"

"Kau melamun?"

"Hehe, maaf."

"Dasar! Kau sakit?" Ryouta menggeleng. "Kalau sakit bilang, jadi kita bisa mengatur ulang jadwalmu. Jangan sampai hal seperti itu menggangu syutingmu minggu depan, kau paham?"

"Iya, Nee-san. Akan aku ingat baik-baik."

Iya, Ryouta mengingatnya sangat baik. Sakit itu termasuk dalam kategori bersantai baginya. Kalau sakit maka syutingnya ditunda, kalau sakit maka acara lainnya mungkin dibatalkan, kalau Ryouta sakit tidak akan menghasilkan apa-apa untuk keluarganya. Orang bilang kesehatan itu sangat berharga, bagi Ryouta kesehatan adalah nomor satu, hal yang tidak boleh sampai rusak, atau ia akan mengecewakan banyak pihak.


"Permisi."

"Oh, Ryouta kau sudah datang?"

"Ada apa guru? Ibu bilang ada yang harus dievaluasi, tapi terakhir kali kita bertemu bukannya guru sudah mengevaluasi nilai-nilaiku."

"Hm. Dan kau masih belum tuntas."

Ryouta tertawa garing menutupi malunya.

Orang ini, Kasamatsu Yukio, adalah guru lesnya, guru pribadi yang membantunya memperbaiki nilai-nilai akademik. Ryouta memang ikut sekolah umum, tapi karena kesibukannya ia jadi sering tertinggal, karena itu Kasamatsu ada untuk menolongnya.

"Sebelumnya selamat untuk penghargaan yang baru kau dapat. Lagi-lagi tahun ini kau menguasai semua kategori untuk film anak-anak dan remaja. Sayangnya kau masih tidak bisa mendapat nilai bagus seperti peran-peran yang kau bawakan itu."

"Apa itu semacam sindiran, guru?"

"Kalau kau menganggapnya seperti itu aku akan sangat senang."

Iya, sejauh ini Ryouta selalu mendapat peran seorang anak jenius, setidaknya pintar dan pemikir, ia bisa memerankan sangat baik, menjiwainya seolah itu adalah dia yang sesungguhnya, tapi kenyataan berkata lain, Ryouta sering hampir tinggal kelas, nilainya selalu dibawah rata-rata. Kalau sudah begitu ayah dan ibunya akan marah, mereka akan mengingatkan Ryouta siapa sebenarnya Kise Ryouta sekarang.

"Kau akan membuat ayah dan ibu malu kalau sampai nilaimu jelek terus Ryouta. Apalagi kalau sampai tinggal kelas. Ingatlah, kau ini Kise Ryouta, anak dari Kise Yutaka seorang produser ternama dan Kise Hiroomi artis papan atas. Apa jadinya kami jika kau sampai tinggal kelas?"

Kira-kira itu yang ibunya katakan kalau Ryouta sampai ada di ranking bawah lagi.

"Jadi kenapa guru memanggilku?"

Ryouta duduk di hadapan sang guru. Kasamatsu bisa dibilang sangat berjasa untuknya, gurunya ini sering memberi kelonggaran agar Ryouta bisa sedikit bermain, walau hanya game di komputer, atau berselancar di dunia maya dengan akun palsu. Karena kesibukannya Ryouta hampir tidak bisa menyentuh ponsel kecuali dalam keadaan darurat atau memang mendapat panggilan. Makanya jangankan memiliki teman baru, bisa berhubungan dengan orang-orang yang sudah dikenalnya saja Ryouta tidak bisa.

Menjadi bintang yang tampak beruntung tidak semudah yang terlihat. Ada banyaran mahal yang harus Ryouta bayarkan untuk membuat semua ketenaran yang ia dapat sekarang. Bahkan untuk penghargaan yang baru beberapa jam lalu ia terima. Ryouta harus membayarnya dengan prestasi lain ke depannya, dan mendapatkan prestasi itu tidaklah mudah.

Pertama ia harus memperbanyak latihan, menunjukan akting yang semakin bagus, meyakinkan banyak pihak kalau ia adalah bintang yang tidak boleh dilupakan. Kemudian memastikan setiap mata hanya tertuju padanya, menciptakan citra yang baik namun menarik banyak perhatian. Lalu merambah pada dunia lain, seperti ikut beberapa acara talk show, reality show atau mungkin menyanyi. Semua itu harus Ryouta lakukan setiap tahunnya, dan waktu yang Ryouta miliki akhirnya hanya habis untuk itu.

Tidak ada teman, walau nyatanya di kelas Ryouta ada sekitar tiga puluh siswa. Tidak ada main, walau Ryouta kadang mendapat libur syuting satu-dua hari, karena ia harus menggunakan libur itu untuk hal lain yang lebih menguntungkan karirnya.

Ryouta lelah. Kalau boleh ia jujur, Ryouta ingin tidur seharian, main seharian, bermalas seharian dan pergi ke Our Home seharian, menemui saudara-saudaranya juga untuk seharian. Ryouta ingin meminta libur pada Miyaji Kiyoshi, manajer pribadi keluarganya, tapi takut kalau Miyaji akan mengadukannya permintaanya itu pada ayah dan ibu, syukur-syukur kalau hanya pada kakak perempuannya yang pertama, Kise Nami.

"Guru?"

Ryouta melirik Kasamatsu yang justru sibuk mencari sesuatu di sebuah lemari kaca. Butuh beberapa saat sampai Kasamatsu menghampirinya sambil membawa sebuah majalah bisnis edisi awal tahun lalu. Yang mengherankan, Kasamatsu memberi majalah dengan sampul bergambar tiga orang laki-laki beda generasi yang sangat mirip satu sama lainnya.

Itu adalah Seijuurou, ayah dan kakeknya. Seijuurou benar-benar terlihat seperti keturunan langsung keluarga itu berkat kulit putih dan ketegasan matanya yang mirip sang ayah dan kakek. Ryouta sampai iri melihat seberapa mirip hal itu.

"Kenapa memberiku ini?"

"Anak itu, kau mengenalnya, kan?"

Ryouta mengangguk santai dan membuka majalah di tangannya, mencari halaman berisi wawancara dengan calon penerus perusahaan milik keluarga Akashi. Membacanya sekilas dan kembali menutupnya sebelum menangis hanya karena melihat foto Seijuurou yang tersenyum senang di tengah ayah dan kakeknya.

"Dia akan ikut kelas yang sama denganmu mulai minggu depan."

"Ha?"

Ryouta mendelik kaget.

"Temanku, mendaftakannya agar ikut kelas yang sama denganmu. Dia bilang kau menganal anak itu, dan orangtua kalian juga tidak akan keberatan kalaupun aku buat kalian ada di satu kelas yang sama sesekali."

Tanpa sadar majalah di tangannya Ryouta genggam erat. Ia diam, mendengarkan apa yang Kasamatsu katakan sampai sekiranya ia bisa menyela dan meminta agar tidak terlalu sering dipertemukan dengan Seijuurou.

"Kau kelihatan tidak suka, Ryouta."

Majalahnya ia taruh di meja terdekat, ia berdiri dan sengaja berkeliling ruangan itu. Enggan menunjukan rasa tidak sukanya akan kabar yang ia dengar ini.

"Bagaimana ya mengatakannya? Aku bukannya tidak senang, guru. Hanya sedikit kaget. Aku tidak pernah berpikir akan sering bertemu dengannya, jadi ya ... guru pahamkan maksudku?"

Sebuah cengiran terpaksa Ryouta sertakan bersama jawabannya itu.

"Kalau hanya untuk memberi tahu tentang itu, berarti sekarang aku bisa pulang? Aku ingin mandi dan istirahat sebentar sebelum mengisi acara radio malam nanti."

Ryouta tahu kalau Kasamatsu memperhatikannya. Bahkan Ryouta yakin kalau Kasamatsu merasakan ketidaknyamanan Ryouta mendengar berita tadi. Tapi Ryouta takut Kasamatsu menanyakan hal lain yang lebih sensitif lagi, jadi kabur adalah jawabannya kali ini.

"Oh, baiklah. Aku hanya ingin memberitahukan itu, agar kau bersiap-siap saat dia datang nanti. Tidak setiap pertemuan kalian akan ada di jadwal yang sama, mungkin bahkan hanya sebulan sekali, paling banyak dua minggu sekali."

"Hm. Kalau begitu aku pamit, guru."


Ryouta menceritakan tentang Seijuurou yang menjadi murid Kasamatsu juga pada Miyaji. Ryouta pikir orang bertempramen buruk dan tukang mengatur seperti Miyaji akan marah mendengar nama Seijuurou yang jelas-jelas punya hubuungan masa lalu dengan Ryouta, tapi Ryouta salah. Miyaji justru senang mendengarnya.

"Itu bagus bukan? Katanya kau ingin punya teman, sekarang kebetulan teman lamamu menjadi teman les-mu. Apalagi dia sekarang anak orang hebat dan sudah dipastikan akan menjadi penerusnya, kau harus dekat dengannya kalau ingin karirmu lebih bagus lagi." Begitu Miyaji bilang sebelum membiarkan Ryouta mandi dan istirahat sebelum pergi mengisi acara di radio.

Ryouta tidak habis pikir, dulu saat ia merengek bilang ingin bertemu dengan saudara-saudaranya di Our Home orang-orang di rumah selalu melarangnya, mengalihkan dengan hal lain yang lebih menghasilkan. Apapun yang berhubungan dengan masa lalu Ryouta di Our Home seolah menjadi hal yang haram untuk Ryouta datangi lagi. Tapi kini, saat Ryouta piikir kalau tidak terlalu dekat dengan mereka adalah jalan terbaik, kenapa orang-orang justru memberi jalan agar Ryouta mendekat lagi dengan hal yang pernah diharamkan itu?

Ryouta senang. Bisa sering bertemu dengan Seijuurou pasti sangat menyenangkan. Punya teman mengobrol yang seumuran dengannya seperti dulu – dan kebetulan itu memang teman di masa lalu – pasti sangat menyenangkan. Tapi masalahnya Ryouta yang sekarang tidak ingin.

Ada perasaan takut jika harus dekat dengan saudara-saudaranya lagi. Dan Ryouta yakin Seijuurou juga merasa kegundahan yang sama kalau tahu tentang ini.

"Memang apa masalahnya?" Begitu Miyaji bertanya saat masuk mengantarkan handuk. "Kau jadi banyak maunya, Ryouta."

"Bukan begitu, Miyaji-san. Aku hanya ... hanya saja, aku..."

"Hanya apa?"

"Kau tidak senang? Tidak suka?"

"Bukan. Bukan begitu. Aku senang kalau bisa bertemu dengan Seijuurou, tapi aku rasa kalau terlalu sering juga rasanya akan jadi aneh."

"Apanya yang aneh? Jangan mulai lagi, Ryouta. Kau yang dulu meminta, sekarang giliran kau dapat kau menolak, maumu itu sebenarnya apa? Jangan buat orang yang sudah mengusahakannya jadi serba salah."

"Mengusahakan? Jadi Miyaji-san juga yang merencanakan ini?"

"Tidak juga, aku hanya membantu."

Ryouta diam. Merasa bersalah juga kalau harus menolak. Tapi gundah karena memikirkan akan sering bertemu Seijuurou membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak ingin bertemu Seijuurou, bukan tanpa alasan, Ryouta tidak ingin Seijuurou sampai tahu bagaimana hidupnya sekarang. Ryouta tidak ingin hal seperti itu terjadi. Sungguh, hanya itu.

"Pokoknya terima saja. Lagi pula apa salahnya kalau hanya sebulan sekali? Itu masih terbilang jarang."

Bagi Ryouta, sebulan sekali, seminggu sekali atau bahkan sehari sekali tidak ada bedanya. Kesibukan dengan syuting membuatnya lupa hari dan kadang tiba-tiba semua sudah berlalu. Itu yang Ryouta takutkan.

Saat tiba-tiba semua sudah berlalu, ia mengeluh lelah dan Seijuurou ada di sana. Ryouta tidak ingin itu yang terjadi. Demi apapun, membuat Seijuurou sampai tahu seberapa melelahkannya hidupnya sekarang adalah hal yang akan sangat Ryouta selali nanti. Ryouta tahu itu walau ia merasa ia memang benar bodoh.

"Lagi pula, pikirkan bagaimana Seijuurou, siapa tahu dia senang, kan?"

Itu juga alasan lainnya. Seijuurou juga pasti merasa hal yang sama dengan Ryouta sekarang. Menghawatirkan hal yang sama. Karena jujur saja, bahkan hanya karena tahu akan sering bertemu Seijuurou, isi kepala Ryouta sekarang hanya Seijuurou.

Jadi seperti saat akan bertemu di acara pemutaran perdana film waktu itu.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mungkin akan mengganggu kenyamanan hidup Seijuurou jika Ryouta tanyakan mulai memenuhi kepala Ryouta dan tidak mudah dihilangkan.

"Sudahlah, cepat bersiap. Tidak ada waktu untuk makan malam, sekarang kita harus berangkat. Nanti di jalan kita mampir untuk membeli beberapa potong roti dan susu untukmu."

"Baik."

"Aku tunggu di luar. Jangan lama."

Ryouta mengangguk.

Ia hanya bisa mengangguk.

Setiap kali sudah ada yang menentukan apa yang harus ia lakukan, yang bisa Ryouta beri sebagai jawaban pada mereka hanya sebuah anggukan patuh.

Menuruti mereka hukumnya adalah wajib. Membantah adalah haram. Nego itu sebuah keberuntungan. Kalaupun bisa Ryouta menentukan sendiri apa yang ingin ia pilih itu adalah sebuah rasa kasihan, biasanya seperti itu.

Hidupnya mungkin tampak baik di mata orang-orang, tapi tidak jika Ryouta sedang bercermin. Ryouta bahkan mengasihani dirinya sendiri sekarang. Menjadi anak baik dan hewan peliharaan baik kelihatannya tidak berbeda jauh memang.

Karena itu Ryouta rasa ia adalah seekor hewan peliharaan yang dididik khusus untuk sebuah pertunjukan. Semacam hewan sirkus, mungkin.

Dan Ryouta takut saudara-saudaranya di Our Home dulu mengetahui hal itu. Takut juga kalau Izuki sampai tahu. Hanya itu.


.


Yeah, terima kasih untuk yang meninggalkan review dan fav/fol. Sekian kali ini aku pamit~~