Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI

Our Home © Atma Venusia

Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.

Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.


Tidak ada yang tahu seperti apa wujud sebenarnya malaikat dan iblis, tidak ada yang tahu juga apakan dua makhluk itu ada; nyata. Tapi semua orang selalu menggunakan mereka sebagai perbandingan untuk menilai sesamanya, meraka yang baik itu malaikat, dan mereka yang buruk adalah iblis. Mungkin jika dua hal itu hanya sekedar kiasan belaka juga tidak akan ada yang perduli. Selama ada cara untuk memisahkan atau mengelompokkan orang-orang, semua mungkin terima saja akan keberadaan 'malaikat dan iblis' yang fana itu.

Tetsuya pun berpikir demikian...

Semua itu hanya kiasan, malaikat baginya belum tentu malaikat juga bagi orang lain. Malaikat baginya mungkin saja iblis bagi yang lain. Dan sejauh ini dua pernyataan itu adalah fakta.

Namanya Kuroko Tetsuya, baru saja pindah ke SMP Seirin dua minggu lalu, tapi orang-orang sudah menganggapnya seperti makhluk rendahan setara dengan kuman atau mungkin sesuatu yang disebut iblis tadi. Hanya karena ia adalah anak dari sepasang pria yang saling mencintai ia lantas dinilai sama buruknya dengan kedua orangtuanya.

Oh, tunggu sebentar. Yang barusan terasa seperti Tetsuya tidak bersyukur ada di keluarganya yang sekarang. Terkesan seperti Tetsuya mengatakan orangtuanya adalah orang-orang yang buruk.

Itu tidak benar. Ayah dan Papinya bukanlah manusia yang buruk, setidaknya bagi Tetsuya, mereka adalah orang yang selalu melimpahkan kasih sayang, perhatian juga pengertian pada Tetsuya. Mereka adalah wujud nyata malaikat bagi Tetsuya. Bukannya iblis penuh dosa yang seperti orang-orang pikirkan.

Memang, Tetsuya akui, apa yang orangtuanya lakukan bukanlah hal yang baik. Menjadi pasangan sesama jenis masih sangat tabu di Jepang, walaupun pemerintah sudah melegalkan pernikahan sesama jenis sejak beberapa tahun lalu. Tapi apa salahnya menjadi beda? Apa salahnya cinta mereka?

Tetsuya berani menjamin kalau keluarganya adalah keluarga yang terbilang sejahtera, lebih sejahtera dibanding keluarga-keluarga normal diluar sana. Tujuh tahun tinggal dengan dua orangtuanya Tetsuya tahu kalau kedua orangtuanya sangat menajaga perasaan satu sama lain. Mereka bahkan mengutamakan pendapat Tetsuya ketimbang kehendak mereka. Lalu bagian mana dari kedua orang tuanya yang bisa seenaknya orang-orang hina sesuka hati?

"Melamun lagi?"

"Kagami-kun, bisa datang dengan cara yang wajar? Jangan mengaggetkan seperti itu."

"Ho, itu adalah kalimat yang paling tidak ingin aku dengar darimu."

"Kenapa lagi? Kau terganggu karena bisik-bisik guru? Atau teman-teman?"

"Teman? Memangnya aku punya teman?"

"Oi, kau keterlaluan. Begini-begini aku menganggapmu teman, tahu?"

"Oh, terima kasih banyak."

Tetsuya memang tidak punya teman, yang dia punya adalah saudara satu atap dulu, seorang malaikat pengawas dulu, dan sepasang malaikat penyayang sekarang. Jadi kalau tiba-tiba ada yang mengaku sebagai teman, rasanya sedikit aneh. Dia biasa dijauhi, biasa dihindari, lebih sering lagi tidak dianggap ada.

Tapi laki-laki yang katanya baru saja kembali dari Amerika ini berbeda. Hanya karena kebetulan duduk di samping Tetsuya, kebetulan ada di klub yang sama, kebetulan juga punya banyak hal yang ternyata bisa dibahas bersama, dia jadi sok akrab. Awalnya memang Tetsuya yang sok akrab, tapi itu karena tuntutan wali kelas sebagai sesama murid pindahan, tapi lama kelamaan dia malah makin lengket, jadi sulit ditinggalkan. Bahkan setelah tahu kalau Tetsuya adalah anak angkat dari sepasang gay.

Dia justru bilang, "Oh, begitu ya. Aku tidak masalah, kok. Hal seperti itu sudah biasa di Amerika. Tetanggaku juga ada yang seperti orangtuamu, memang mereka tidak sampai mengangkat seorang anak, tapi melihat kedamaian mereka sedikit membuat iri. Cinta itu hebat ya?"

Setelah itu Tetsuya hanya diam.

Kagami adalah orang pertama yang yang bepikir kalau orangtuanya tidak bersalah. Kagami adalah yang pertama yang menganggap Tetsuya beruntung ada dikeluarga yang 'damai'. Kagami bahkan tidak mengelompokkan orangtuanya pada kelompok 'iblis berdosa', sebaliknya dia menganggap orang tua Tetsuya adalah 'malaikat mulya'.

"Jadi yang mana?"

"Dua-duanya."

"Oh, ternyata mereka belum bosan menggunjing ya? Orang Jepang itu hobi gosip ternyata."

"Tolong jangan samakan semua orang. Aku tidak punya hobi seperti itu. Maaf saja."

"Baiklah, wanita Jepang."

"Kalau yang itu aku tidak tahu."

Tapi berkat kehadiran orang ini Tetsuya sedikit tertolong. Ia yang biasanya duduk diam di pojok menunggu waktu pulang sekolah sekarang punya teman mengobrol—itupun kalau pembicaraan mereka ini masuk dalam kategori sebuah obrolan. Lebih-lebih ternyata Kagami kenal dengan Aomine Daiki, saudaranya di Our Home yang sekarang menjadi anak dari atlet basket ternama.

Setidaknya Tetsuya bisa menanyakan kabar Daiki pada Kagami sesekali.

"Omong-omong si Aomine itu anak atlet basket, kan?"

Tetsuya mengangguk.

"Lalu kenapa dia tidak mengikuti jejak ayahnya? Dia terlihat tidak begitu tertarik pada kejuaraan basket walau aku akui dia sangat hebat. Kalau mau dia pasti bisa jadi tim nasional nanti."

"Aku tidak begitu tahu tentang itu, tapi dia memang sangat sering bermain basket, wajar saja kalau dia hebat. Sejak kecil itu adalah olahraga yang paling sering dia mainkan, walau nyatanya dia memang unggul dalam segala jenis olahraga."

"Hoo~ sehebat itu rupanya dia. Aku pikir dia hanya orang bodoh yang tergila-gila pada basket, karena kadang dia bisa main basket sampai larut."

"Dia memang orang seperti itu, tapi setidaknya dia lebih pintar dari Kagami-kun."

"Cih, aku hanya ada kesulitan dengan kanji, itu saja."

"Alasan yang bagus."


Tetsuya ingat betul kalau dulu Izuki—malaikat penjaganya semasa di Our Home—pernah hampir mengusir ayah dan papinya dari Our Home karena tidak ingin Tetsuya diangkat oleh sepasang gay. Hari itu Izuki bahkan mengatakan bahwa ia sanggup menjadi ayah angkat Tetsuya ketimbang membiarkan Tetsuya menanggung beban berat sebagai anak pasangan gay.

Awalnya Tetsuya tidak begitu mengerti apa yang dimaksud 'beban berat' oleh Izuki. Karena itu juga ia menerima uluran tangan untuk menjadi anak dari sepasang gay. Tapi kini Tetsuya mengerti. Alasan kenapa Izuki bisa semarah itu, alasan kenapa Izuki sampai menangis ketakutan hanya untuk melapas Tetsuya pada pasangan itu. Tetsuya mengerti. Semua karena Izuki menyayanginya, karena Izuki perduli padanya. Karena Izuki adalah seorang malaikat.

Beban berat yang Izuki maksud itu kini menjadi musuh utama bagi Tetsuya setiap kali keluar rumah. Bisik-bisik tetangga, guru, teman bahkan orang yang tidak Tetsuya kenal selalu menusuk hatinya. Tetsuya sedih karena orang-orang menganggap orang tuanya adalah aib, orangtuanya adalah masalah yang tak termaafkan, marah karena mereka yang tidak tahu apa-apa dengan seenaknya menilai seberapa buruk ayah dan papinya.

Padahal mereka juga punya dosa, mungkin sama tak termaafkannya, tapi kenapa mereka hanya menggunjing orang tua Tetsuya? Kenapa selalu orang tua Tetsuya yang salah?

Tidak adil bukan?

Ayah dan papinya hidup dengan hasil jerih payah mereka sendiri, tapi orang-orang menilai buruk mereka seolah mereka adalah anjing liar yang mengais-ngais makanan di tempat sampah.

Mereka malaikat yang mau menganggakat anak penyakitan dan lemah yang sudah dibuang orangtuanya dulu, tapi orang-orang menganggap mereka iblis yang mengahasut orang agar jatuh ke neraka bersama.

Lucunya lagi, tidak ada yang tahu apakan neraka dan surga itu ada.

"Aku pulang."

"Oh, Tetsuya, sudah pulang?"

"Papi tidak kerja?"

"Kebetulan tadi habis menghadiri rapat di luar kantor dan mau mengambil beberapa berkas yang ketinggalan. Melihat ada yang menjual Vanilla Shake, jadi sekalian pulang dan membelikan ini untuk Tetsuya."

Lihat. Dia malaikat bukan?

Manusia normal harusnya seperti itu. Perduli pada manusia lain, mengasihi satu sama lain, dan menjaga satu sama lain. Tapi apa yang orang-orang itu lakukan? Mereka hanya bisa menggunjing tanpa tahu seberapa baiknya hati orang yang mereka gunjing ini.

"Terima kasih."

Tetsuya menerima pemberiannya dengan senang. Langsung meminumnya demi mengobati rasa pahit di ujung tenggorokan akibat gunjingan-gunjingan tidak benar yang seharian ini dia dengar.

"Haha, Tetsuya suka sekali Vanilla, ya? Lain kali ayo ajak ayah ke restoran Vanilla di Akita. Disana menjual macam-macam makanan dan minuman rasa vanilla, pokoknya itu surganya pecinta vanilla."

"Sungguh?"

Tangannya hangat, sehangat tangan Izuki yang biasa menemaninya tidur dulu. Senyumnya menenangkan, sama seperti Izuki yang selalu tersenyum setiap kali menghadapi tangisan Tetsuya. Mereka memang bukan orang yang sama, tapi mereka ada pada kategori yang sama; Malaikat.

"Iya. Nanti kita bilang ayah ya?"

"Um."

"Sekarang Papi harus berangkat lagi. Jangan lupa makan siang. Papi berangkat."

"Selamat jalan."

Dan tak sekalipun Tetsuya bisa mengatakan tentang kiasan 'Malaikat dan Iblis' yang mengganggu tidurnya belakangan pada orang-orang itu, pada ayah dan papinya. Tetsuya tidak ingin mereka sedih lagi, terlalu mengkhawatirkan Tetsuya lagi. Sudah cukup Tetsuya membuat mereka memikirkan nasib Tetsuya sampai tidak bisa tidur, sudah cukup Tetsuya membuat mereka memindahkan sekolah Tetsuya demi kenyamanan Tetsuya, sudah cukup banyak mereka melakukan itu untuk Tetsuya. Untuk kali ini, Tetsuya ingin memastikan mereka bisa merasa lega melihat dirinya bisa bersosialisasi seperti biasa, walau itu hanya dengan Kagami.

Tetsuya juga ingin meyakinkan Izuki kalau keluarganya sekarang adalah keluarga terbaik yang bisa Tetsuya punya. Tetsuya ingin membuat Izuki berhenti mengkhawatirkannya.

Sesakit apapun itu. Tetsuya yakin ia bisa menahannya.


"Biar bagaimanapun, tahun depan aku akan jadi siswa SMA. Aku sudah hampir dewasa."

"Dan kau anggap itu hebat?"

"Paman tidak tahu seberapa besar tekad anak-anak yang sedang puber."

"Kau mengatakan itu seolah-olah aku langsung terlahir dewasa, Tetsuya."

"Memangnya aku salah?"

Lalu satu orang lagi yang ada dalam lingkup 'Malaikat' di mata Tetsuya. Sebenarnya yang satu ini bisa dikatakan sebagai malaikat gagal, atau malaikat yang dibuang. Dilihat dari mana pun dia sama sekali tidak pantas disebut malaikat. Apalagi mendengar kata-katanya yang kadang—sering kali—menusuk hati. Oh, atau mungkin dia itu yang disebut iblis berwujud malaikat, atau sebaliknya, malaikat berwujud iblis, yang mana saja boleh, Tetsuya tidak mau repot milihkan, yang pasti dia masih memiliki gelar malaikat.

"Omong-omong, Seijuurou baru-baru ini ikut kelas yang sama dengan Ryouta. Dalam sebulan setidaknya mereka akan bertemu sekali."

"Hm. Lalu?"

"Kau tidak berminat untuk ikut? Ayah dan papimu pasti tidak keberatan kalau kau ingin ikut kelas itu. Lagi pula mereka mengenal gurunya."

"Siapa gurunya?"

"Kasamatsu Yukio."

"Oh, jadi begitu. Paman sengaja membuat mereka ada di kelas yang sama. Padahal sudah aku ingatkan berulang kali jangan pernah pertemukan kami kalau bukan kami yang meminta. Itu justru sangat mengganggu, tidak membuat senang."

"Tunggu dulu Tetsuya,"

"Paman Chihiro memang selalu seperti itu, kan? Sok tahu, seenaknya. Paman tidak pernah memikirkan perasaan Seijuurou dan Ryouta."

"Baiklah-baiklah, aku minta maaf." Iyakan dia memang malaikat tapi tidak sepenuhnya malaikat. "Tapi dengarkan. Aku melakukan ini juga untuk mereka."

"Dengan menambah-manbahkan pesan yang Seijuurou beri padaku? Lalu seenaknya menadaftarkan Seijuurou ke kursus yang sama dengar Ryouta?"

"Aku akui itu memang sedikit keterlaluan."

"Itu sangat keterlaluan!"

"Hm. Baiklah. Tapi aku punya alasan tersendiri melakukan itu. Seijuurou butuh teman, walau dia menolak sekalipun, aku tahu hal yang paling dia butuhkan adalah teman. Ryouta juga sama. Mereka tidak seberuntung kau yang diijinkan bersosialisasi. Mereka berbeda."

"Tapi tidak benar mempertemukan mereka seperti itu. Paman tidak akan tahu bagaimana kakunya kami kalau harus dikumpulkan lagi. Kami sama-sama tahu batasan masing-masing dan terlibat di dalamnya mungkin akan merusak ikatan kami."

"Itu artinya ikatan kalian tidak begitu kuat, tidak sehebat yang aku pikirkan."

"Ikatan kami sangat kuat, saking kuatnya kami sampai takut itu mudah putus. Paman paham?"

Tetsuya sangat mengerti hal itu. Hubungannya dengan saudara-saudaranya di Our Home, dan hubungannya dengan orangtuanya adalah dua hal yang sama. Ia terikat kuat dengan mereka, ia mengerti mereka sangat baik, dan karenanya Tetsuya tidak ingin sampai ada yang tersakiti. Rasa percaya mereka satu sama lain sangat besar, dirusak sekali maka akan sangat beresiko untuk ke depannya.

Belum lagi fakta bahwa keduanya ada dalam keluarga yang latar belakangnya sangat besar sekarang. Yang bisa mereka lakukan sekarang hanya menyimpan rahasia keluarga, dan karena melakukan itu keduanya juga akan merasa tersakiti.

Mereka mungkin saling mengerti batasan masing-masing, tapi mereka juga tetap ingin mengerti lebih.

Hubungan itu memang rumit dan orang-orang selalu berpikir pendek dengan memutusnya sesuka hati. Salah satu orang yang berpikir pendek barusan adalah pamannya yang tercinta namun menyebalkan ini.

"Sudahlah Tetsuya, jangan sebegitunya juga."

"Habis paman menyebalkan!"

"Ssstt~! Jangan teriak. Kalau ayah atau Papimu dengar, mati aku malam ini."

"Salah paman sendiri."

"Iya-iya. Aku yang salah." Usapan lembut di kepalanya membuat Tetsuya mengalah. "Tapi kau akan bersyukur nanti Tetsuya. Aku melakukan sesuatu bukan tanpa tujuan."

Tetsuya tahu itu. Tetsuya mengerti juga. Seberapa perduli seorang Mayuzumi Chihiro pada Akashi Seijuurou, Tetsuya mengerti. Tapi yang tidak mengerti adalah cara berpikir orang dewasa. Mereka selalu memutuskan sesuatu berdasarkan logika ke depan nanti, perkiraan, bukan berdasar pada apa ada saat ini. Bagi Tetsuya mereka tampak sangat egois. Sangat!

"Tapi aku tidak bisa membatalkan keikutsertaan Seijuurou di kelasnya Kasamatsu."

"Kenapa?"

"Karena ayahnya Seijuurou pasti akan curiga kalau begitu."

Tetsuya mendesah. Percuma juga sejak tadi ia marah-marah.

"Tetsuya, kau semakin dewasa ya?"

"Paman yang masih kekanakan."

"Haha, kakakku tidak salah memilihmu." Tetsuya diam mendengar pujian itu. Wajahnya berekspresi berbanding terbalik dengan maksud kalimatnya barusan.

"Izuki benar, kau mungkin bisa lebih bahagia lagi kalau saja–"

"Paman! Aku bisa marah sungguhan kalau paman membahas tentang itu."

"Haha, iya-iya maaf. Aku bersyukur kau menjadi keponakannku. Selain karena kau lucu dan bisa dimanfaatkan,"

"Apa?"

"Kau adalah anak yang tegar. Aku bersyukur kau adalah Kuroko Tetsuya. Bukan yang lain. Terima kasih sudah ada diantara kami."

Dada Tetsuya menyempit. Setiap kali ayah-papinya atau pamannya mengucapkan terima kasih pada Tetsuya yang mau hidup bersama mereka, rasanya seperti makin banyak saja hutang Tetsuya pada mereka. Padahal mereka yang sudah menyelamatkan Tetsuya, mereka yang memberi Tetsuya kasih sayang, memberi Tetsuya segala kebutuhan hidup, tapi kenapa mereka juga yang berterima kasih? Memangnya apa yang sudah Tetsuya lakukan untuk mereka?

Tidak ada kan?

Suara ketukan mengintrupsi, diikuti suara berat berwibawa yang mengundang mereka keluar. "Tetsuya, Chihiro, belajarnya sudah dulu. Kami bawakan makan malam, ayo makan bersama."

Tetsuya membuka pintunya. "Baik. Ayo paman."

Keluarga kecil yang hanya terdiri dari satu gender dalam rumah ini mungkin memang sedikit aneh. Tapi Tetsuya menyukainya. Sekalipun dimata orang-orang ini tampak buruk, tapi dimata Tetsuya tidak.

Rumahnya adalah surganya. Tetsuya memegang teguh kalimat itu setiap kali keluar rumah dan menghadapi neraka jahanam yang terus menyiksanya.


"Sekarang aku mengerti kenapa Izuki sangat ingin kau bahagia Tetsuya. Kau adalah sosok malaikat yang sesungguhnya, di rumah ini, di hati orang-orang yang menyayangimu juga. Maaf tidak bisa memberimu kebahagiaan yang sempurna seperti layaknya keluarga normal lainnya."

"Chihiro, kenapa kau malah berdiri diam di sana? Cepat atau Tetsuya akan mengambil jatahmu juga."

"Aku tidak serakus itu, ayah."

"Hm, baiklah."


.


Yuhuu~ terima kasih lagi untuk para readers dan yang bersedia mengikuti juga memberi hati pada Fiksi ini. Terus ikutin ya, dan jangan lupa reviewnya.