Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI
Our Home © Atma Venusia
Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.
Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.
Semua hal hebat selalu bermulai dari mengagumi. Entah pada seseorang, pada sebuah pola, gerakan, bahkan hanya karena sebuah ketidaksengajaan. Tujuan bisa tercipta hanya karena hal sesederhana itu dan salah satu orang yang mengalaminya adalah Daiki.
Ia suka olahraga memang sejak kecil, jauh sebelum mengenal pria hebat yang dikaguminya sampai saat ini, dulunya ia pikir itu adalah sisi hebat dalam dirinya yang bisa dipamerkan pada teman-teman dan pengawasnya, tapi berbeda saat Daiki mengikuti pria hebat itu. Olahraga menjadi tujuannya. Basket yang awalnya hanya sekedar suka kini menjadi tujuannya untuk membuktikan kemampuan diri. Ekstrakulikuler di sekolah yang bersifat tidak wajib menjadi sangat wajib bagi Daiki. Semua karena pria itu.
Ayahnya—ayah angkat tepatnya.
Orang yang sangat Daiki kagumi.
Orang yang mengabaikan keberadaan Daiki juga.
Menjadi putra dari seorang Aomine Kenji bukan hanya sebuah keberuntungan bagi Daiki. Awalnya ia tidak tahu kalau ayahnya adalah seorang atlet senior, yang Daiki tahu ayahnya hanya seorang guru olahraga, tapi seiring berjalannya waktu Daiki akhirnya tahu, membuatnya sangat mengagumi pria bersahaja yang tersenyum pada Izuki dan Kagetora-san saat hendak membawanya.
Daiki pikir pria itu hebat, sangat hebat. Inginnya Daiki bisa bermain dengan ayahnya, mempelajari banyak hal tentang basket dari orang yang lebih tahu, tapi angan itu pupus sejalan dengan semakin jelasnya kenyataan yang harus Daiki hadapi.
Ia hanya anak angkat. Pria itu, ayahnya, tidak pernah mengakuinya sekeras apapun Daiki bersusaha ada di sana. Mungkin ini hanya prasangka buruk Daiki saja, tapi selama Daiki menjadi anak keluarga Aomine, dirinya belum pernah punya kesempatan untuk menjadi seorang anak di hadapan pria itu. Ia adalah anak dari wanita bernama Aomine Aya yang menderita stress berat akibat kehilangan putranya dulu.
Daiki tidak menyesal ada di keluarganya sekarang, ia justru merasa beruntung, karena memiliki keluarga. Tapi ia mulai merasa hal yang kosong dalam dirinya, hampa. Daiki mulai lelah dengan semua hal itu dan menjadi sosok yang pasif.
"Daiki, pulang nanti langsung pulang ya?"
Daiki mengangguk dan pamit pergi. Ibunya selalu seperti itu, selalu berpesan hal yang sama dan Daiki selalu mengabaikan pesannya. Pulang sekolah ada klub basket yang menunggunya, ada latihan yang harus ia lakukan. Ia tidak akan bisa langsung pulang, Daiki justru akan sengaja pulang malam, karena setidaknya, saat ia pulang nanti pria itu sudah ada di rumah, ada alasan bagi Daiki untuk bertemu dengan pria itu. Dengan ayahnya.
Memang sedikit melelahkan, tapi Daiki suka cara seperti ini.
Dulu saat pertama Daiki tinggal dengan keluarga Aomine, ia pikir ini adalah keluarga yang damai, sebuah keluarga seperti yang Daiki dan Satsuki impikan. Keluarga sederhana dengan limpahan cinta dan kasih sayang di dalamnya. Tapi anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Bersama dengan berjalannya waktu Daiki tahu kalau keluarganya adalah keluarga yang sangat jauh dari bayangan keluarga sempurnanya.
Putra pertama ayah dan dan ibunya meninggal akibat kecelakaan. Ibunya menderita stress berat. Ayahnya tidak kuat melihat istrinya menjadi wanita depresi. Dengan alasan itu Daiki diangkat. Demi menggantikan putra mereka yang sudah meninggal, Daiki memainkan peran dalam sebuah drama panjang tanpa skenario yang pasti.
Dan seperti yang sebelumnya disampaikan, Daiki menyukainya; cara seperti. Ia sama sekali tidak keberatan, selama ia bisa memenuhi keinginan ayah dan ibunya, selama saudara-saudaranya tidak ada yang tahu, selama Izuki Shun beranggapan ia hidup dengan baik dan tidak menghawatirkannya, Daiki akan bertahan dalam drama ini, selama apapun ini.
Daiki hanya tidak ingin orang lain susah karena dirinya lagi. Cukup Izuki yang dulu ia buat pusing tujuh keliling karena tingkahnya. Sekarang Daiki hanya ingin mengalir, mengikuti arus yang membawanya.
"Pagi, Aomine-kun."
"Oh pagi, Ryo."
"Hari ini kau tidak telat. Tidak seperti biasanya ya? Eh, maaf aku malah bertanya seperti itu. Maaf-maaf, Aomine-kun."
"Aku pinjam bukumu, Ryo. Tugas yang kemarin belum selesai aku kerjakan."
"Maaf, Aomine-kun. Tapi lebih baik kau kerjakan sendiri."
"Hah? Kau tidak mau?"
"Maaf-maaf, itu hanya saranku saja. Aomine-kun pasti lelah, ya, setelah latihan sampai malam kemarin. Maaf. Ini bukunya."
Ia bukan preman, lagi pula mana ada preman yang rajin berangkat ke klub olahraga. Ia hanya sedikit kasar, dan semua orang tahu, semua kecuali ayah dan ibunya. Mungkin ayahnya tahu, tapi sepertinya pria itu tidak perduli. Sedangkan ibunya, Daiki selalu berperan sebagai anak baik di depan ibunya dan mengiyakan semua kata wanita itu.
Bukan untuk tujuan buruk, Daiki menjadi orang lain bukan demi keamanan diri sendiri, tapi demi kesehatan ibunya.
Wanita yang depresi karena kehilangan putranya di sebuah kecelakaan bisa menggila jika anak laki-laki yang berperan sebagai putranya menjadi anak nakal, kan?
Daiki meyakini itu dan cukup berpengalaman tentang itu.
"Ryo,"
"Ya?"
"Apa kau bertemu Satsuki?"
"Maaf, Aomine-kun, aku dan Momoi-san bertetangga, jadi hampir setiap hari kami bertemu. Maaf, memangnya kenapa?"
"Tidak, hanya ingin tanya. Apa dia baik-baik saja? Terakhir kali kau cerita, ayahnya Satsuki bangkrut."
"Maaf. Aku minta maaf. Tapi aku tidak tahu banyak, hanya saja belakangan ini aku sering mendengar ayah dan ibunya bertengkar. Maaf, Aomine-kun, aku tidak tahu lebihnya. Maaf."
Dan satu lagi alasan Daiki bertahan walau terabaikan, Satsuki. Gadis yang selalu ia jaga sejak kecil. Selain Ryouta, Daiki selalu memiliki kewajiban lebih untuk memastikan agar Satsuki tidak menangis. Shintarou akan menjaga Ryouta kalau Daiki yang menjaga Satsuki, atau yang lain akan menjaga Satsuki kalau Ryouta sedang rewel ingin main dengan Daiki dan Shintarou. Entah kenapa itu yang selalu terjadi.
Kalau sampai Daiki menyerah, maka pada siapa Satsuki dan Ryouta bergantung nanti?
"Tidak apa-apa, Ryo. Sudah sini mana buku tugasnya?"
Daiki bukannya iri, ia juga tak pernah menyesal ada di keluarga Aomine seperti sekarang. Hanya sedikit lelah.
"Daiki, kenapa pulangnya malam lagi? Ibu bilang harus langsung pulang, kan?"
"Maaf, Bu. Tadi ada rapat di klub, karena aku akan segera pensiun jadi banyak yang harus disampaikan." Bohong. Tidak ada rapat apa-apa. Dia hanya menghabiskan waktu dengan main basket di gelanggang sekolahnya sambil menunggu waktu berlalu. Menunggu sampai ada yang menyuruhnya pulang.
"Dasar kau ini. Ya sudah, makan malam dulu. Ibu sudah buatkan Kare Udang kesukaanmu."
Senyum senang, dan ucapan terima kasih dengan nada paling bahagia menjadi jawaban Daiki. Tanpa memperdulikan bagaimana lirikan dari ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga Daiki berjalan ke dapur untuk makan malam ditemani ibunya. Menceritakan kebohongan tentang kehidupan sekolah yang menyenangkan sambil makan malam—sambil sesekali melirik punggung ayahnya di ruang keluarga—sudah menjadi kebiasaan Daiki sejak pertama kali tinggal di rumah itu.
Habis ini dia baru bisa santai. Mandi kemudian mengurung diri di kamar, dia akan benar-benar lepas dari perannya.
Kamar ini satu-satunya tempat ia bisa lepas dari peran ketika berada di rumah.
Tok-tok.
"Kau di dalam?"
"Ya."
"Besok temani ibumu ke rumah sakit."
"Baik."
Hanya sampai disana. Suara langkah menjauh menandakan pria itu sudah pergi. Kesunyian kembali menyergap Daiki, dibawah terangnya sinar rembulan yang menyusup dari jendela Daiki merebahkan diri di tempat tidurnya. Kembali teringat cerita Ryo di sekolah tadi tentang Satsuki dan keluarga gadis itu yang kini jelas tidak dalam keadaan baik.
Satu cara terlintas di kepalanya.
"..Shun."
"Daiki, ada apa? Tidak biasanya kau meneleponku malam-malam."
"Kau tahu kabar Satsuki?"
"...kenapa?"
"Aku yang bertanya tadi."
"Aku hanya ingin tahu kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang Satsuki."
"Kalau tidak tahu ya sudah."
Daiki menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap nama pengasuhnya dulu di layar ponsel sambil menimbang-nimbang apa ia akan memutuskan sambungan atau tidak. Karena kalau boleh jujur Daiki juga merindukan orang yang sedang diteleponnya ini.
Daiki ingin bergantung pada seseorang, menceritakan semua rasa pahit yang membuat tenggorokannya tercekak setiap kali bahan bahasan tentang keluarga menyeruak menjadi pembicaraan dikesehariannya. Sesekali Daiki ingin mengeluh pada seseorang yang lebih tahu tentang hidup, bukannya pada bocah yang tumbuh di Amerika dan tergila-gila ingin mengalahkan Daiki dalam pertandingan one-on-one.
"Daiki, kau belum menutupnya, kan?" Daiki kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. "Aku ingin kau menemuinya."
"Siapa?"
"Satsuki ... aku pikir sekarang dia sangat membutuhkan seseorang."
"Kenapa tidak kau saja yang menemuinya?"
"...untukku, menemuinya bukanlah hal yang mudah. Lagi pula aku yakin, ketimbang kehadiranku, kau adalah yang paling Satsuki nantikan."
"..."
"Daiki? Kau mendengarku, kan?"
Daiki berdengung mengiyakan.
"Kalau begitu, sudah dulu ya. Riko memanggilku."
Menaruh ponselnya di samping bantal Daiki bergumam, "Untukku juga. Menemui Satsuki bukanlah hal yang mudah saat ini."
Mendatangi orang yang dirindukan dengan sejuta beban yang tertahan bukan hal yang mudah sekalipun itu adalah Aomine Daiki.
Lapangan basket dimalam hari adalah semacam markas rahasia yang sering kali Daiki datangi saat ketenangan di rumahnya sudah merambah sampai ke seluruh ruangan. Diam-diam Daiki akan membawa si bola orange kesayangannya dan bermain sendiri, mengusir pikiran-pikiran yang membuatnya gundah dengan peluh dan helaan napas lelah.
"Sudah kuduga."
Daiki menangkap bolanya setalah berhasil memasukkannya lagi. Menoleh sembari menunggu seseorang yang bersuara di balik kegelapan pinggir lapangan mendekat.
Itu adalah Kagami Taiga, tetangganya. Bocah yang tumbuh di Amerika dan ingin sekali mengalahkan Daiki di pertandingan one-on-one. Orang yang membantu Daiki untuk tahu kabar tentang salah satu saudaranya—yang Daiki anggap cukup malang, sama sepertinya.
"Sedang apa kau?"
"Kau sendiri sedang apa?"
"Matamu buta? Sekali lihat harusnya kau tahu aku sedang apa."
Daiki tahu anak laki-laki di hadapannya menahan kesal, senang juga rasanya membuat orang seperti Taiga kesal, karena kalau dipikir-pikir Taiga cukup mirip dengan Ryouta. Yang membedakan, Ryouta itu manja dan cerewet kalau Taiga itu sok tahu dan berisik.
"Maksudku, kenapa di jam segini?"
"...aku tidak bisa tidur. Kenapa memang?"
"Oh, ternyata kau bisa mengalami masa-masa seperti itu juga."
"Kau pikir memangnya aku ini bagaimana?"
"Dari yang Kuroko bilang kau itu manusia paling tidak peka."
"Ha? Tetsu? Kau pasti bercanda."
Taiga merebut bola yang menyangga tangannya di pinggang. "Sudahlah ayo main."
Selama tujuh tahun terakhir Daiki hampir tidak pernah bertemu saudara-saudaranya di Our Home dulu. Ia terlalu sibuk menjaga ibunya, mengurus ibunya dan berusaha untuk terlihat nyata di hadapan ayahnya. Mungkin beberapa kali Daiki berpapasan dengan Seijuurou atau Shintarou, tapi sejauh ini Daiki selalu berusaha menghidari mereka sekalipun melihat mereka.
Entah Daiki yakin kalau mereka juga memilih cara yang sama.
Tempat pertemuan mereka bukanlah tempat yang bagus untuk bertegur sapa. Kondisi mereka juga tidak akan baik mengingat pasti ada alasan tertentu kenapa selalu tempat itu yang mempertemukan Daiki dengan Seijuurou atau Shintarou.
Untuk Ryouta, Daiki sama sekali belum bertemu dengan anak laki-laki itu setelah meninggalkan Our Home tujuh tahun lalu. Daiki memang bisa melihat Ryouta di TV atau saat pergi ke teater untuk menonton film yang Ryouta mainkan, tapi bertemu langsung dengan sang artis cilik ternama itu Daiki belum pernah.
"Kau sudah menonton 'Mimpi itu Buruk'?"
Daiki menggeleng. Merampas paksa bola dalam kawalan Taiga dan memasukkannya ke ring dengan sekali lempar. Dia membuat Taiga mengeluh.
"Mau pergi melihatnya denganku?"
"Kenapa aku harus pergi denganmu?"
"Karena Kuroko bilang kau selalu pergi sendiri, jadi selagi aku baik, aku ingin menawarkan diri untuk menemanimu menonton film teman baikmu itu." Daiki mendecih tidak senang. "Tapi ada bayarannya."
"Aku belum menjawab ajakanmu."
"Aku anggap kau mau. Dan setelah dari teater kau harus main basket denganku selama dua minggu penuh dari dam 10 malam sampai jam 1."
Kemudain Taiga mengabaikan semua protes Daiki. Dia menjadikan Tetsuya sebagai alasan untuk membuat Daiki menerima semua tawarannnya.
Dan karena suatu alasan, Daiki bersyukur mengenal Kagami Taiga sebagai tetanggannya.
"Oh ya,"
"Apa lagi?"
"Kau harus mengantar ibumu besok, bukan?"
Daiki mengiyakan. "Kenapa memang? Lagi pula kau tahu dari mana?"
"Tidak penting aku tahu dari mana, tapi kalau kau tidak ingin bertemu dengan teman-temanmu yang lain, aku sarankan untuk berangkat setelah kau pulang sekolah. Langsung."
Daiki baru ingin bertanya kenapa Taiga mengatakan itu, tapi Taiga sudah lebih dulu berlari meninggalkannya.
"Anak itu aneh. Dari mana dia tahu tentang mereka dan jadwal ibuku?"
Kalaupun ada orang yang bisa Daiki jadikan tempat bergantung itu adalah Kiyoshi Teppei, bukannya Izuki Shun atau Himuro Tatsuya, apalagi pasangan ayah dan anak Aida. Dokter yang menangani ibunya bisa dikatakan sebagai teman curhat Daiki—kebanyakan tentang ibunya, walau kadang Daiki juga menceritakan ia dan Our Home. Tapi Daiki tidak bisa mengatakan banyak hal, hatinya tidak bisa mengatakan semuanya sekalipun itu pada dokter Kiyoshi.
Terbiasa untuk menyimpan semuanya sendiri membuat Daiki terbiasa dengan rasa sepi dan kekhawatiran yang menyergapnya. Kehilangan dua hal itu dalam dirinya membuat Daiki takut, dan karena hal itu Daiki tidak pernah bisa mengatakan semua hal tentang dirinya pada siapapun. Bahkan kekagumannya pada sang ayah sekalipun, Daiki tidak ingin mengatakannya.
"Aomine-kun, mengantar ibumu lagi?"
"Iya, dok. Dokter sendiri?"
"Habis memeriksa beberapa pasien. Oh ya, kenapa tidak ikut menunggu di dalam?"
"Aku disini saja."
"Kalau begitu aku temui ibumu dulu, setelah itu ayo kita mengobrol."
Daiki tidak ingin kehilangan jati dirinya sekarang. Membiarkan orang-orang tahu tentang ia yang mengagumi ayahnya dan diabaikan oleh ayahnya adalah sesuatu yang berbahaya untuk dirinya. Menjadi seperti sekarang saja sudah sangat sulit, menjaga agar emosinya terkontrol saja sudah sangat sulit. Daiki tidak ingin sampai ada yang tahu dan terlibat lebih dalam dengan dirinya.
Menjadi sangat emosional itu seperti bukan dirinya.
Tapi menolak tawaran dari Dokter Kiyoshi Teppei juga bukan hal mudah. Psikolog yang belakangan Daiki tahu juga menangani Seijuurou dan pengasuh Shintarou itu punya hati baja yang walau sudah Daiki tolak berkali-kali ia tetap akan mendekati Daiki. Seolah-olah bersama Daiki adalah hal yang ia nanti-nanti, pria murah senyum itu selalu berusaha membuat Daiki ada di dekatnya setiap kali bertemu.
Daiki bukannya tidak bisa percaya pada orang lain, hanya ia takut.
Sekali lagi, Daiki takut!
Mempercayakan rahasia kelamnya pada orang lain sama saja seperti membuka semua bajunya di hadapan orang itu.
"Daiki."
Suara rendah yang sangat ia kenali membuat Daiki menoleh.
"O, Shintarou."
"Apa yang kau lakukan disini?"
Ini pertama kalinya Daiki kepergok. Sebelumnya Daiki selalu berhasil menghindari Seijuurou dan Shintarou. Tapi kali ini ... entah kenapa kali ini Daiki tidak sewaspada biasanya.
"Oh, itu, aku mengantar ibuku."
"Ibumu? Kenapa?"
Shintarou mengisi satu bangku di sampingnya. Anak laki-laki yang belakangan Daiki tahu adalah seorang siswa berprestasi di sekolahnya itu membawa sebuah boneka dari karekter kartun terkenal yang rasa-rasanya dulu sering ia dan saudara-saudaranya tonton saat hari libur.
"Hanya konsultasi saja. Lalu kau sendiri, kenapa ada disini? Boneka Doraemon itu apa? Sekarang kau suka hal seperti itu?"
"Oh, ini benda keberuntunganku hari ini."
"Benda keberuntungan?"
Shintarou menjelaskan banyak hal tentang benda keberuntungannya dan tentang ramalan harian zodiak yang dia tonton setiap pagi. Dia bahkan memberi tahu kalau untuk virgo seperti Daiki hari itu adalah hari tersialnya, makanya harus membawa benda keberuntungan untuk menolak nasib sial itu.
"...benda keberuntunganmu adalah pensil. Kau bawa pensil?"
Daiki menggeleng.
"Aku ada, sebentar." Dia membuka tasnya dan mengeluarkan kontak pensilnya. Memberikan satu pensil dengan ukiran huruf di ujung tumpulnya. "Itu pensil istimewa, kau bisa menyimpannya, dan aku yakin akan sangat berguna saat tes di sekolah nanti."
"O, terima kasih. Lalu bagaimana dengan cancer?"
"Sebenarnya cancer ada di urutan kedua dari bawah untuk keberutungan ahir ini, sedikit lebih baik dari virgo. Tapi karena aku membawa boneka ini, pasti tidak akan terjadi apa-apa. Setidaknya kesialan hari ini bukan kesialan yang buruk."
Daiki hanya mendengun sebagai respon. Bingung harus biacara apa dengan saudaranya ini. Dalam hati dia membenarkan apa yang Shintarou katakan barusan. Bukan kesialan yang buruk.
Bertemu dengan Shintarou tidak sepenuhnya buruk bagi ia. Tapi tetap saja, tempat ini bukan tempat yang tepat untuk itu.
Kalau dulu, Daiki dan Shintarou terbiasa main bersama, tertawa ketika mendengar ocehan Ryouta dan dipaska untuk menemani Satsuki, sekarang Daiki sama sekali tidak tahu harus bagaimana di hadapan saudaranya ini. Kebiasaan yang biasa mereka lalui bersama sudah tidak sama lagi, lebih-lebih Daiki pribadi memang tidak pernah berharap bertemu dengan salah satu dari saudaranya.
"Em, Daiki."
"A-apa?"
"Kau pernah bertemu yang lain?"
"Untuk beberapa tahun terakhir ini, hanya kau."
"Oh."
Ada nada kecewa yang Daiki rasakan dari sepatah kata respon itu. Daiki tahu, berbeda dengannya, Shintarou justru sangat ingin bertemu dengan yang lain—walau kenyataan orangtuanya sangat menentang. Dari yang Daiki dengar dari Izuki Shun, Shintarou sangat rajin menanyakan kabar saudara-saudaranya, sering menegluh karena tidak bisa main, dan selalu kesepian.
"Kau tahu kabar yang lain?"
"Hm, aku punya tetangga yang satu sekolah dengan Tetsu dan teman sekelasku juga ada yang bertetangga dengan Satsuki."
"Oh~ kalau Ryouta dan Seijuurou?"
Daiki menggeleng.
"Atsushi?"
Sekali lagi Daiki menggeleng.
Setelahnya mereka sama-sama diam. Sampai Dokter Kiyoshi datang tidak ada satupun yang bersuara.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Bye, Shintarou."
"Bye."
Dalam hati Daiki merasa lega sekaligus menyesal. Lepas dari Shintarou dan kecanggungan tadi sangat melegakan, tapi tidak bisa berlama-lama dengan orang yang dirindukan juga meninggalkan penyesalan dalam hati Daiki. Ah, harusnya Daiki mengikuti saran Taiga semalam, setidaknya ia tidak akan bertemu dengan Shintarou dan terjebak dalam dilemma seperti sekarang ini
"Daiki."
"Ya?"
"Apa kau tidak ingin tinggal lebih lama lagi?"
Hay, terima kasih untuk yang review dan FavFol di chapter sebelumnya. Aku seneng banget. Maaf kalau nggak terjadwal.
