Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI
Our Home © Atma Venusia
Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.
Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.
Sedirian itu tidak enak. Sendirian itu menyiksa. Sendirian itu ... sepi, dan Shintarou benci sepi.
Pada dasarnya ia memang pendiam, tidak banyak omong dan cenderung lebih suka mendengarkan, tapi jika itu diartikan bahwa ia mampu menjalani hari tanpa siapapun, Shintarou pikir itu salah. Dia ingin pergi bermain, walau dengan Takao Kazunari yang selalu membuatnya kena hukuman sekalipun, ia ingin pergi dan bersenang-senang seperti yang teman-teman di sekolahnya lakukan.
Tapi tidak bisa—tidak mudah.
Ia tidak (hampir) pernah punya kesempatan itu dan harus selalu mencurinya.
Hidup Shintarou harusnya berkisar pada rumah—sekolah—rumah sakit—tempat les—rumah lagi. Kalau ada tempat lain yang ia datangi tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya itu berarti ia melarikan diri dari salah satu tempat-tempat tadi. Atau kalau semisal ia jengah, maka hanya satu tempat yang akan ia datangi dan mengabaikan yang lain kecuali sekolah.
Rumah sakit.
Tempat ayah dan ibunya bekerja.
Tempat yang mencuri semua perhatian ayah dan ibu dari Shintarou.
Sebenarnya Shintarou cukup mengerti, ia sudah paham betul kalau pekerjaan ayah dan ibunya sangat penting. Mungkin hal itu nomor satu bagi mereka, karena menyangkut nyawa seseorang. Tapi kadang Shintarou ingin mereka meluangkan waktu, sedikit saja, Shintarou ingin mereka ada dan menghapus perasaan sendiri yang menyergap dirinya.
Memiliki ayah dan ibu seorang dokter tidaklah sehebat yang orang-orang pikir, Shintarou justru berpikir kalau anak yang memiliki orangtua dokter pastilah anak yang kesepian; seperti dirinya. Ibunya dokter UGD yang hampir sepanjang hari harus siap menangani pasien datang, sedangkan ayahnya adalah ahli amnestesi yang setiap kali ada operasi pasti akan meninggalkan apapun demi menyelamatkan pasien dari rasa sakit pisau operasi.
Karena itu setiap hari Shintarou harus menelan kenyataan bahwa waktu yang ayah dan ibunya miliki sangat terbatas, mengharap kebersamaan adalah hal yang sangat muluk baginya. Mereka bahkan menyerahkan tanggung jawab untuk mengawasi Shintarou pada salah satu teman dekat mereka yang kebetulan juga bekerja di Rumah sakit yang sama.
Seorang dokter terapi sekaligus psikolog di rumah sakit itu, namanya Kiyoshi Teppei. Orang yang membayarkan hutang-waktu-kebersamaan orangtuanya. Orang yang selalu ia temui hari ini, orang yang duduk bersama satu lagi orang yang sudah lama ingin Shintarou temui tapi tidak pernah bisa ia temui.
"Daiki."
"Ya?"
"Apa kau tidak ingin tinggal lebih lama lagi?"
Yang ditanya menggeleng kemudian berjalan pergi meninggalkan tempat mereka. Shintarou sendiri tidak mau ambil pusing mengenai sikap dingin Daiki, dia tahu betul kenapa saudaranya itu bersikap seperti itu, dia mengerti betul, karena kalau boleh jujur Shintarou juga punya sisi dalam diri yang ingin menutupi semua dan menjauh dari yang lain. Hanya saja itu sedikit berbeda.
"Habis dari sini kau langsung pulang?"
Shintarou menggeleng. Dua tangannya sibuk; satu untuk memeluk boneka Doraemon keberuntungannya, satu lagi untuk mengetik pesan singkat pada seseorang.
Kiyoshi Teppei yang menjadi teman mengobrolnya sejak beberapa saat lalu ia abaikan sebentar sebelum memamerkan layar ponsel yang bertuliskan pesan kepada salah satu teman (pesuruh, pembuat rusuh).
"Kau yakin?"
Dia mengangguk.
"Kali ini aku akan pastikan tidak sampai ketahuan."
"Kalau begitu hati-hati."
"Jangan katakan apa-apa pada ayah dan ibuku." Nadanya mengancam, tapi Kiyoshi Teppei tersenyuum geli sambil mengangguk. "Kalau sampai tahu itu pasti karena kau."
"Haha, kau tidak tahu saja seberapa hebatnya ayah dan ibumu itu. Sekalipun aku diam, mereka bisa saja tahu kenakalanmu."
Shintarou mengabaikan kalimat terakhir Kiyoshi Teppei barusan. Ia bukan anak yang nakal, semua orang pasti setuju akan itu, dia hanya bosan dan kesepian, dia butuh hiburan, jadi kalau sesekali mencuri waktu tidak ada salahnya juga, toh, itu bukan hal yang mengherankan untuk anak laki-laki seumurannya.
Itu wajar.
Dan Shintarou tahu kalau dirinya bukan anak yang nakal.
Coba lihat saja Takao yang waktunya seharian dihabiskan untuk bersenang-senang, kadang malah hanya untuk leha-leha tidak jelas, tapi ayah dan ibunya tidak pernah bermasalah, mereka justru membiarkan Takao melakukan apa yang bocah badung itu inginkan.
"Kali ini siapa dan dimana?"
"...di teater di Shinjuku." Kiyoshi Teppei mengangguk dan mengusap kepalanya. Seolah mengerti segalanya pria (sok) ramah itu memintanya untuk hati-hati dengan keramaian. "Kuperingatkan ya, jangan mengadu, atau aku akan memusuhimu."
"Tidak akan. Lagi pula aku memang tidak pernah mengadu, hanya kadang tidak sengaja mengatakan saja." Shintarou membuka tasnya, mengeluarkan sebuah jaket berlogo nama tim basket sekolahnya, mengenakan itu dan menitipkan tasnya pada Kiyoshi Teppei. "Aku akan kembali sebelum jam istrirahat ayah dan ibu sore ini. Dan ... sekali lagi aku ingatkan, jangan katakan apapun pada mereka."
Ada saat dimana sebuah tempat ramai terasa sangat sepi. Bahkan sekalipun ada ribuan orang berlalu lalang di depan mata, suasana disana tetap sepi, tapak sepatu sama sekali tak terdengar, mulut-mulut yang terbuka berbicara jadi seperti mulut ikan saat keluar kolam; tak bersuara. Bahkan suara angin yang bertiup sekalipun tidak masuk ke dalam rungu pendengarannya.
Padahal telinganya tidak tersumpal apa-apa, Shintarou juga yakin kalau telinganya baik-baik saja, tapi masih tidak ada suara, tetap saja sepi.
Seperti menonton opera pantomim yang membosankan. Tentu saja dengan macam-macam warna.
Satu-satunya yang ia sukuri adalah matanya bisa tetap menangkap keramaain disana.
"Shin-chan!"
"Jangan berteriak, aku tidak tuli."
"Kenapa hanya diam saja? Sudah lama ya? Bosan ya?"
"Ayo. Dimana kau parkir?"
"Di taman sebelah sana."
Shintarou berjalan ke arah yang ditunjukan temannya—seseorang yang selalu bersamanya tidak perduli secuek apa Shintarou dan sekejam apa ayah dan ibunya Shintarou.
"Nee~ Shin-chan, kau yakin? Ayah dan ibumu bisa marah besar, loh." Shintarou hanya mengangguk. "Kita bisa dimarahi habis-habisan. Kau tidak takut? Kalau aku sih, takut."
Shintarou menoleh, belum sempat mengatakan apa-apa temannya langsung melanjutkan, "Tapi kalau kau memaksa aku tetap ikut."
"Aku tidak memaksa."
"Baik-baik, aku tetap ikut sekalipun kau tidak memaksa."
Namanya Shintarou, sejak tujuh tahun lalu dia menjadi anak tunggal di keluarga kecil Midorima. Menjadi satu-satunya penghuni rumah, menjadi satu-satunya yang bertemu dengan tetangga saat pagi keluar rumah untuk berangkat sekolah.
Sejak tujuh tahun ia punya kebiasaan baru yang walau tidak disukai oleh ayah dan ibunya, tetap ia lakukan, yang walau kata Takao aneh tapi tetap ia lakukan bersama Takao. Sejak tujuh tahun lalu, sejak ia hanyalah seorang bocah kelas tiga sekolah dasar yang kamana-mana harusnya masih didampingi ayah atau ibu—setidaknya satu orang dewasa.
Itu adalah kebiasaan untuk mengunjungi saudara-saudaranya tapi tidak menunjukan diri; orang bilang itu namanya menguntit. Atau kadang mendatangi acara saudaranya setiap kali ada di dekat daerahnya, di Shinjuku misalnya. Tidak begitu jauh walau terlalu ramai menurut Shintarou pribadi.
"Oh ya, tadi aku melihat Daiki keluar dari rumah sakit dengan ibunya. Shin-chan kau bertemu dengannya?" Shintarou mengangguk. "Lalu?"
"Tidak ada yang terjadi, hanya obrolan kaku biasa." Kemudian terdiam, ia mengangguk seolah memahami sesuatu yang baru disadari. Dia membuat kawan yang berjalan di sampingnya mengerutkan alis. "Memangnya apa yang bisa kami obrolkan? Jelas tidak ada, bukan?"
Takao yang ditanya hanya diam, tidak bisa mengatakan apa-apa. Lebih tepatnya, tidak ingin mengatakan apa-apa karena memang pada dasarnya Takao sendiri tidak begitu paham dengan persoalan hati, perasaan dan persaudaraan yang Shintarou alami. Perannya hanya teman yang ingin membantu sedikit derita temannya.
"Aku saja yang terlalu berharap," nyatanya bertemu langsung dan memperhatikan dari jauh adalah dua hal yang jelas berbeda. Rasa lega yang sering Shintarou dapat setiap kali bisa melihat wajah-wajah saudaranya dari jauh tidak ada tadi saat ia duduk di samping Daiki tadi, Shintarou justru merasa gugup setengah mati, rasanya hampir sama dengan saat ayah dan ibu memergokinya membolos les pertama kalinya.
"Shin-chan kalau kau tidak enak badan lebih baik kita pulang saja, lain kali kita bisa datang lagi untuk melihatnya."
Shintarou menggeleng.
"Ryouta tidak akan datang lagi ke Shinjuku dalam waktu dekat, kapan lagi aku bisa melihatnya secara langsung kalau bukan hari ini?"
"Tapi,"
"Ini, aku sudah beli dua, kau saja yang antri, aku akan memperhatikan dari baris paling belakang di bawah podium. Sana."
Di depan pintu masuk teater Shintarou mendorong Takao ke arah yang berlawanan dengan arah tempat ia menunggu. "Tolong tanyakan kabarnya dan berikan ini untuknya."
"Hah? Apa ini?"
"Gantungan bola basket, benda keberuntungan Gemini hari ini."
Takao yang dipasrahi hanya tersenyum mengejek. Hal seperti ini sudah biasa, sebagai teman yang selalu bersama dengan Shintarou sejak kelas tiga sekolah dasar Takao hapal betul bagaimana kelakuan kawannya ini. Tsundere, adalah yang paling menonjol memang, tapi di balik sikap itu Midorima Shintarou yang ia kenal adalah anak laki-laki yang sangat lembut hatinya.
Padahal dia juga mengalami kesulitan, tapi dia begitu khawatir dengan saudara-saudaranya di Our Home—Shintarou akan marah besar kalau Takao menyebut mereka teman, dia akan bercerita panjang lebar arti persaudaraannya dengan yang lain, karena hal itu juga, Takao mengerti alasan kenapa Shintarou rela mendapat banyak hukuman dari orang tuanya, berbohong kepada orang tuanya, dan alasan dirinya tidak pernah bisa meninggalkan Shintarou sendirian.
Tidak. Setidaknya sampai Takao yakin kalau Shintarou kembali menjadi anak laki-laki baik seperti yang diceritakan pamannya—orang yang merawat Shintarou semasa kecil—Izuki Shun.
"Selanjutnya."
Takao maju sambil melirik pada baris tempat duduk yang terisi penuh penggemar dari Kise Ryouta, di pojok belakang sebelah kiri Shintarou duduk memperhatikannya, ah tidak, dia memperhatikan Ryouta, saudaranya.
"Tolong tanda tangani keduanya."
Kise Ryouta yang duduk sendiri di podium tersenyum dan melakukan apa yang Takao minta. "Yang satunya untuk seseorang?" Takao menganggu. "Mau aku tulis salam juga untuknya?"
"Kalau kau tidak keberatan, tolong lakukan. Dia juga bertanya apa kau baik-baik saja dan ini," gantungan bola basket yang Shintarou titipkan padanya berpindah tangan pada sang artis cilik yang jumpa penggemarnya hari ini sukses besar. "Dia menitipkan itu."
"Terima kasih. Tapi kenapa bola basket, apa dia juga suka basket?"
"Tidak, bukan begitu. Itu benda keberuntungan Gemini hari ini, benda keberuntunganmu."
"Oh." Ryouta tersenyum cukup lama sambil memperhatikan gantungan bola basketnya. "Ah, siapa namanya? Aku akan menulis ucapan terima kasih juga untuknya."
Sekali lagi Takao melirik pada Shintarou di barisan paling belakang. Takao tahu Shintarou mungkin akan mencekiknya kalau ia katakan nama Midorima Shintarou pada sang rtis cilik di hadapannya ini, tapi ia juga tidak ingin melewakatkan kesempatan ini. Takao ingin membuat kedua anak laki-laki yang terhubung oleh nasib masa lalu itu kembali terhubung lagi.
"Tulis saja Shin-chan, aku biasa memanggilnya seperti itu."
"Shin-chan, ya? Dia pasti teman baikmu. Ini."
"Terima kasih."
Pesan yang tertulis di cover DVD dari film terbaru Ryouta untuk Shintarou sangat sederhana, tapi Takao yakin betul kalau itu akan membuat Shin-chan-nya senang setengah mati.
"Aku baik-baik saja, dan terima kasih untuk benda keberuntungannya, karena aku juga suka basket aku pasti akan menjaganya baik-baik. Lain kali datanglah langsung, temui aku. Senang mengenalmu, Shin-chan." — seperti itu yang tertulis.
0o0o0o0o0
"Kau ini benar-benar, Shintarou! Mau seperti apa lagi ayah dan ibu melarangmu?"
Shintarou hanya duduk diam sambil menundukan kepala, mencoba menunjukan rasa bersalahnya karena sudah membolos dari les bahasa sore ini.
Karena terlalu senang bisa melihat Ryouta dari dekat dan bukannya di layar kaca seperti biasa, Shintarou sampai lupa dengan waktu yang ia janjikan pada Kiyoshi Teppei. Akhirnya ia ketahuan karena ayahnya menemui Kiyoshi Teppei dan menemukan tasnya ada di ruang kerja dokter terapis itu.
Tapi berkat itu juga ayah dan ibu jadi ikut pulang dengannya ke rumah. Walau untuk memarahi, Shintarou bersyukur malam ini dia bisa makan malam dengan ayah dan ibunya. Tidak apa-apa makanan malam itu jadi terasa sedikit lebih pedas karena dipaksa mendengarkan omelan ayah dan ibu secara bergantian, asal tidak makan sendirian saja, Shintarou sudah sangat senang.
Setidaknya, bukan rasa sepi yang menemani waktu makan Shintarou.
"Kau dengar apa yang ibu katakan, Shintarou?"
Kepalanya mengangguk. Mangkuk nasi yang sudah kosong di depannya masih belum berpindah karena memang ia tidak diberikan kesempatan untuk berpindah sedikitpun, omelan ayah dan ibunya belum selesai, maka waktu makan juga belum selesai.
Kalau harus dikatakan secara jujur Shintarou sama sekali tidak menyesal membolos les bahasa sore tadi dan tertangkap basah berbohong lagi. Selain karena ia mendapat sapaan dari Ryouta, ayah dan ibunya juga pulang ke rumah, tapi tetap saja hatinya merengek memohon maaf pada dewa karena sudah berbohong.
Kan, sudah dikatakan Shintarou bukan anak nakal.
"Jadi, kemana kau tadi?"
"Menonton film di Shinjuku."
"Dengan Takao-kun lagi?"
Shintarou mengangguk. Ayahnya menghela napas, tapi ibunya kembali mengomeli.
"Kan, sudah ibu bilang jangan pergi dengan anak itu lagi, semakin lama kau jadi semakin nakal karena terus bersama dengannya. Dia bukan teman yang baik. Apa kau masih tidak mengerti, Shintarou? Ibu mengatakan ini karena ibu perduli padamu."
Inginnya Shintarou membantah anggapan jelek ibunya tentang Takao, tapi tidak bisa. sekalipun Shintarou ingin membela Takao ia tidak bisa membatah omongan ibunya. Alasannya; jelas saja karena diam adalah cara terbaik untuk tidak memperburuk keadaannya saat ini.
Takao bukan anak yang nakal, hanya sedikit jahil dan susah diatur, tapi dia teman yang baik, sangat setia kawan dan selalu berusaha untuk membantu Shintarou sekalipun sudah sering mendapat teguran dari ayah dan ibu. Dia satu-satunya orang yang bisa Shintarou andalkan untuk mengisi rasa sepi. Inginnya Shintarou berkata demikian tapi yang keluar dari mulutnya justru, "Maafkan aku."
"Bagus kalau kau menyesal." Shintarou sama sekali tidak menyesal. Sunggguh! "Setalah ini tolong jangan melakukan hal seperti itu lagi, ayah dan ibu benar-benar akan marah kalau kau lakukan sekali lagi."
Shintarou kembali mengangguk.
"Tes kelulusanmu hanya tinggal beberapa bulan, setelah itu kau juga harus memastikan bisa diterima di SMA berpamor baik agar bisa melanjutkan ke Kyo-Dai jadi lebih baik kau pikirkan nilai-nilaimu nanti. Ayah ingin kau jadi lebih baik dan bisa menjadi penerus ayah dan ibu, kau mengerti Shintarou?"
"Mengerti ayah."
"Kalau begitu kembali ke kamarmu dan belajarlah."
Setelah meletakan bekas alat makannya di tempat cuci piring Shintarou langsung masuk kamarnya, membuka buku pelajaran dan duduk di bangku meja belajarnya. Samar-samar Shintarou masih bisa mendengar keluhan ibunya yang menyalahkan kenakalan Takao, kemudain ayahnya yang menenangkan ibunya, meminta agar lebih sabar lagi.
"Biar begitu dia hanya anak SMP, dia pasti sesekali akan bersikap seperti itu." Kira-kira begitu kata ayahnya.
Setelah lebih tenang Shintarou mengalihkan pandangannya pada meja belajarnya, bukan pada buku yang ia buka, ia justru memandangi tulisan tangan Ryouta di cover DVD miliknya.
"Kau tahu, setidaknya setelah dua minggu ayah dan ibu pulang dan semua berkatmu, Ryouta. Terima kasih juga."
Suara telepon yang terdengar sampai ke kamarnya, kemudian disusul dengan derap langkah berat ayahnya, hal yang membangunkan Shintarou malam itu.
"Ah, lagi." Itu satu-satunya kata yang bisa ia katakan sebelum menyumbat telinganya dengan bantal; tidak ingin mendengar kesibukan tengah malam ayah dan ibunya yang harus pergi kerja lagi. Toh, mereka juga tidak akan membangunkan Shintarou, paling-paling besok Shintarou hanya akan menemukan memo yang tertempel di pintu lemari es di dapur rumahnya.
Tidur jauh lebih baik ketimbang marah pada keadaan. Karena setidaknya saat ia tertidur ia bisa menciptakan mimpi indah yang terlepas dari rasa sepi yang ia benci.
Yey~ Sekarang gilirannya Shintarou feat Takao. Gimana? Gimana? Semoga nggak mengecewakan ya~
Terima kasih untuk yang sudah nge-Fav, Fol dan ninggalin Review.
Oke, segitu aja dulu, aku langsung pamit.
