Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI
Our Home © Atma Venusia
Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.
Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.
Demi sejuta kupu-kupu yang pernah masuk dan menciptakan gejolak aneh dalam tubuhnya, Atsushi bersumpah, ia sangat menyayangi ayahnya. Mencintainya dan tidak pernah berpikir untuk mengecewakan pria lajang yang mengangkatnya sebagai anak. Jangankan mengecewakan, membuat ayahnya merasa tidak beruntung sudah mengangkatnya saja Atsushi takut. Jadi ketika Izuki atau Tatsuya bertanya bagaimana kabarnya, maka jawaban yang sama selalu menjadi jawabannya.
"Aku baik-baik saja, tapi..." Atsushi tidak bisa berbohong juga, dan menutupi masalahnya. Mengatakan beberapa mungkin akan lebih masuk akal dibanding tidak mengatakan apapun. Karena Atsushi tahu kalau dia diam maka akan ada orang mengkhawatirkannya di sana.
"Atsushi, hari ini kau harus menghadiri kelas Tuan Oda, dan buat seperti yang ayah ajarkan kemarin."
Sarapannya mendadak terasa hambar.
Pembicaraan seperti ini selalu membuat Atsushi kehilangan selera makan sekalipun yang tersaji di hadapannya adalah makanan kesukaan. Bukan karena Atsushi tidak suka memasak atau membenci kelas memasak, tidak sama sekali, sebaliknya itu adalah hal yang paling ia sukai dalam hidupnya, hanya saja ia selalu merasa terbebani dengan semua tuntutan yang ayahnya inginkan.
"Aku berangkat sekolah dulu."
"Kau hanya sarapan segitu?" Atsushi mengangguk. "Sedang tidak selera makan? Kau sakit? Atau masakan ayah tidak enak?"
"Bu-bukan begitu. Aku baru ingat kalau pagi ini ada kuis jadi ... jadi aku harus cepat."
"Oh."
"La-lagi pula aku sudah bawa bekal dari ayah." Kotak bekal tiga tingkat yang terbungkus rapi diangkat tinggi-tinggi. "Siang nanti akan aku pastikan untuk menghabiskannya."
Senyum selebar tiga jari yang ia tampilkan menjadi penjamin atas janjinya memakan semua masakan ayahnya di sekolah nanti.
"Baguslah kalau begitu."
"Oh...em, kalau begitu aku berangkat."
Murasakibara Atsushi adalah anak yang berpola pikir pendek—simple, begitu kata kebanyakan orang. Selama masih bisa menikmati makanan dan jajanan maka hidupnya adalah hidup orang paling bahagia. Kebahagiaannya ada pada makanan enak yang ayahnya buat dan jajanan kesukaannya yang selalu terpajang rapih di salah satu rak mini market dekat rumah ataupun sekolahnya.
Apapun yang terjadi, asalkan ada makanan maka hidupnya adalah hidup yang membahagiakan. Yang pantas membuat orang-orang merasa iri padanya.
Makanan. Makanan. Dan makanan lagi.
Hampir semua orang berpikir demikian. Bahkan pria lajang yang mengangkatnya menjadi putra dan calon penerus restoran keluarga terkenal di Akita. Tolak ukur mereka untuk sebuah kebahagiaan jika itu dihadapkan pada nama Murasakibara Atsushi maka akan sebanding dengan tingkat kelezatan sebuah makanan, taraf tertingginya bukan lagi nominal melainkan cita rasa.
Kesannya unik memang, tapi itu sama sekali tidak benar.
Hanya Atsushi sendiri yang tahu bagaimana dirinya. Mungkin saudara-saudaranya semasa di Our Home juga tahu, tapi sekarang, di kota ini, hanya Atsushi sendiri yang paling tahu arti kebahagiaan untuk dirinya—dan itu bukanlah sekedar makanan.
Memang ia akui kalau tanpa makanan ia akan sangat sengsara, tapi selain makanan ada hal lain yang bisa membuatnya bahagia. Ada beberapa hal lain yang berada ditingkat yang lebih tinggi untuk membuatnya merasa bahagia dan itu lebih dari sekedar makanan. Cita rasa itu bukan tolak ukur yang tepat untuk mengukur kebahagiaannya.
"Oi, Murasakibara!"
"Oh, kenapa?"
"Hari ini ada pertandingan, kau tidak lupakan?"
"Hari ini aku pass, ayahku sudah buat janji kelas memasak untukku."
"Sungguh? Tidak bisa ditunda? Lawan kali ini lumayan, loh."
Gelengan Atsushi menjadi jawaban yang sangat dimengerti oleh anggota lain. Kalau alasannya masih sekedar malas, biasanya mereka berani untuk membujuk sampai menyuap dengan jajanan, tapi kalau sudah menyangkut ayahnya dan kelas memasaknya, semua teman Atsushi seolah mengerti kalau itu adalah dunia lain Atsushi yang tidak bisa mereka ganggu gugat. Bahkan pelatih mereka juga tidak bisa mengatakan apa-apa.
Mereka mengerti tentang tuntutan yang dibebankan pada Atsushi itu.
"Oh, kalau begitu lain kali saja."
"Hm, semoga menang."
Temannya itu mengangguk, balas dengan menepuk pundak Atsushi cukup keras. "Kau juga yang semangat, kalau ikut kelas memasak kau bisa makan sepuasnya, kan?"
Tidak sepenuhnya, hanya kalau ia berhasil meniru resep yang ayahnya buat dan mempersembahkannya pada salah satu guru memasak pribadi yang ayahnya bayar untuk Atsushi. Walau memang harus Atsushi akui kalau ia suka berada di dapur, itu adalah surga dunia baginya, tapi tetap saja rasa jenuh itu selalu ada.
Lebih-lebih untuk dia yang hampir setiap saat di rumahnya selalu di hadapkan dengan sejuta angan tentang seberapa indahnya menjadi pewaris sebuah restoran keluarga ternama.
Lalu, 'semangat' katanya? Itu jelas sulit bagi Atsushi yang menjalani hidup dengan tempon yang sama setiap harinya, hidup yang terlalu monotone untuk dinikmati.
Kadang Atsushi bertanya-tanya kenapa orang-orang bisa punya banyak sekali tenaga dan semangat padahal jumlah porsi makan mereka jauh di bawah Atsushi. Dia yang sehari bisa menghabiskan uang seribu yen demi Maiubo saja masih merasa malas, tapi mereka tidak, mereka—yang kadang hanya makan siang dengan onigiri kemasan—punya semangat lebih banyak darinya. Atsushi kadang heran pada bagian itu.
Tapi kalau diiangat-ingat lagi, ia memang sudah banyak makan semenjak tinggal di Our Home, syukur saja karena rumah tempatnya tinggal tidak pernah kehabisan bahan makan dan berada dalam krisis, tapi yang mengherankan Atsushi sama sekali tidak seperti yang lain. Our Home adalah tempat anak-anak yang tidak punya orang tua dan sanak saudara ditampung, harusnya—setidaknya sekarang Atsushi berpikir—kalau tempat itu membatasi makan anak-anak dan belajar dalam keperihatinan. Harusnya seperti itu.
Tapi Our Home tidak, tempat itu bisa dibilang memanjakannya. Jajan mungkin Atsushi tidak begitu banyak saat tinggal di sana, tapi makannya tidak bisa dibilang sedikit juga. Bahkan porsi makannya Daiki yang sering disebut rakus oleh Shintarou saja masih belum sebanyak Atsushi.
Kemudian yang lebih mengherankan lagi adalah pria lajang yang mengangkatnya sebagai anak sekaligus pewaris. Pria itu sama sekali tidak keberatan ketika Kagetora-san bilang kalau Atsushi banyak makan dan sangat manja. Pria itu justru semakin menginginkan Atsushi. Aneh bukan?
Sampai sekarang Atsushi masih tidak mengerti dengan cara pikir orang lain.
Saat ia pikir itu hebat, orang lain menganggapnya biasa saja. Sebaliknya, saat ia pikir itu biasa saja, orang lain justru mengaguminya, seperti sesuatu yang sangat menakjubkan.
Karenanya Atsushi ingin belajar memahami cara berpikir orang-orang itu, sayang saja tidak pernah berhasil, ia selalu beda. Ia selalu menjadi yang teraneh, teristimewa dan terpisah.
"Atsushi, kau harusnya senang, ayahmu sangat memanjakanmu dia tidak pernah bermasalah dengan kau yang banyak makan dan pemalas. Kau sangat beruntung, kau tahu itu?" Himuro Tatsuya, penjaganya, seseorang yang Atsushi anggap paling mengerti dirinya, selalu mengatakan itu setiap kali Atsushi mengeluhkan obsesi ayahnya agar ia menjadi koki yang hebat.
Tapi untuk dia yang dianggap punya pola pikir sederhana, mencerna kalimat Tatsuya itu cukup memusingkan. Yang Atsushi tahu, ia beruntung—bisa makan banyak dan bisa tumbuh besar dengan semua yang ia butuhkan. Saudara-saudaranya yang lain mungkin saja tidak seberuntung dia.
Mungkin saja seperti itu.
Tapi Atsushi tidak berharap seperti itu.
Kalau hanya memasak memang bukan perkara sulit, dari kecil Atsushi bisa melakukannya. Di Our Home dulu setiap kali Tatsuya memasak Atsushi sering menemani dengan alasan menjadi ahli cicip yang akan memastikan kalau masakan Tatsuya sudah cukup enak, dia akan menjadi yang pertama mendapat piring, dan akan dapat piring lain lagi saat yang lain sudah berkumpul.
Atsushi sudah banyak belajar tentang masakan sejak di Our Home, jadi tidak mengherankan kalau ia mampu mengikuti kemauan ayahnya sampai sejauh ini. Tapi Murasakibara Atsushi juga hanya seorang bocah SMP yang bahkan belum genap lima belas tahun, ia bisa merasa sangat jengah hanya dengan rutinitas yang sama setiap pekannya, hampir mati bosan karena itu.
Dan sekarang bahkan pujian atau sanjungan sekalipun tidak bisa dengan mudah membuatnya kembali mendapat semangatnya lagi.
"Kau hebat, Atsushi-kun. Ayahmu pasti akan sangat senang kalau tahu kau bisa menyempurnakan resep baru ini dengan cara paling sederhana dan membuatnya lebih baik dari ayahmu sendiri. Kau memang berbakat."
Atsushi tahu itu. Dia tahu kalau bakatnya hanya ada pada tiga tempat—makan, masak, dan basket—dan tidak pernah bisa berubah. Jadi bukan salah Atsushi kalau ia sama sekali tidak tertarik dengan sanjungan-sanjungan tadi.
"Aku akan sarankan ayahmu untuk membawamu ke Tokyo, disana ada temanku semasa kulian di Italia yang juga seorang master chef, aku yakin dengan rekomendasi dariku, dia pasti mau menjadikanmu muridnya."
"Em, terima kasih banyak, Tuan Oda."
Tapi tetap saja, orang lain tidak akan mengerti tentang rasa lelahnya berpura-pura tertarik, bersemangat, dan ceria. Orang lain tidak akan tahu bagaimana lelahnya menjadi seorang Murasakibara Atsushi ketika behadapan dengan Murasakibara Kengo.
Yang mereka tahu hanya Atsushi beruntung menjadi anak Murasakibara Kengo dan mereka iri akan itu. Mereka melupakan bagian terpenting dalam keberuntungan itu. Mereka lupa kalau di dunia ini apa yang Atsushi terima tetap harus Atsushi bayar. Tidak dengan materi memang, tapi mungkin jika bisa membayarnya dengan materi akan jauh lebih mudah sekalipun itu mahal.
"Akan aku sampaikan pada Murasakibara-san nanti, dan kalau dia setuju, liburan musim panas nanti kau bisa habiskan waktumu di Tokyo. Bagaimana?"
"Aku serahkan keputusan pada Tuan Oda dan ayah saja."
"Kadang-kadang kau bisa jadi anak yang baik juga ternyata."
Lalu, jika membahas tentang perbedaan dan keistimewaan yang selalu orang-orang bilang tengang dirinya Atsushi punya beberapa pemikiran rumit juga tentang itu.
Sejak dulu di Our Home ia memang terbiasa diperlakukan seperti itu, mungkin karena dia yang termuda, karena dia yang paling bongsor, dan karena dia yang paling manja. Tapi itu tidak sepenuhnya memberi keberuntungan, Atsushi justru sering merasa diperlakukan tidak adil. Karena yang lain lebih mandiri mereka lebih diberi kepercayaan dan boleh pergi tanpa pengawasan, tapi Atsushi tidak. Saat yang lain bisa mendapat keinginan mereka atas bayaran telah bersikap mandiri Atsushi justru harus menunggu sampai dua bulan berikutnya baru bisa dapat hal yang sama.
Intinya keistimewaan yang ia dapat justru membuatnya ingin menjadi seperti yang lainnya.
Contohnya seperti bisa tetap tinggal di Tokyo dan dekat dengan Our Home seperti Tetsuya, Daiki dan Satsuki. Atau punya akses khusus seperti Ryouta dan Seijuurou yang kini bahkan lebih sering muncul di televisi ketimbang orangtua mereka.
Kenapa juga harus dia yang terpisah di Akita sendirian?
Atsushi juga ingin bersama dengan yang lain. Bisa bertemu sesering mungkin, main bareng lagi, dan kalau Tatsuya tidak bohong mereka semua mengambil ektrakurikuler yang sama di sekolah; Basket, jadi bisa sesekali mereka tanding bersama. Bisa tetap seperti dulu intinya.
Tapi nyatanya untuk datang ke Tokyo saja tidak mudah bagi Atsushi.
"Atsushi, kau dengar?"
"Ah iya, aku dengar."
"Lalu bagaimana? Kau setuju ikut pelatihan di Tokyo?"
"Aku hanya bilang terserah pada guruku dan ayah saja."
"Kenapa begitu? Padahal kalau kau menjawab 'iya' saat itu juga mungkin gurumu itu akan langsung mengusahakan dan kau bisa datang ke Tokyo, kita bisa bertemu dan aku bisa menemui yang lain juga."
Ah, tapi ... berada jauh bukan hal yang buruk juga. Kalau Atsushi pikir ulang, berada jauh ada sisi baiknya disaat seperti ini.
"Hey, Atsushi. Kenapa diam sama?"
"...Tatsu-nii, menurutmu apa aku harus menemui mereka kalau aku jadi menghabiskan liburanku di Tokyo?"
"Kenapa tidak?"
Atsushi sendiri tidak tahu kenapa, tapi ada perasaan takut yang luar biasa dalam dirinya hanya dengan memikirkan kalau dia akan bertemu dengan saudara-saudaranya nanti. Ada rasa ragu yang timbul karena ketakutan tadi. Alasannya tidak jelas, Atsushi tidak bisa menjabarkan.
"Atsushi, hoy, Atsushi? Apa terjadi sesuatu yang lain?"
"Tidak. Aku baik-baik saja, aku hanya merasa kalau aku datang menemui mereka nanti aku mungkin akan mengganggu mereka. Tatsu-nii sendiri yang bilang kalau mereka sekarang mulai sibuk dengan kehidupan baru mereka, kan?"
Alasan. Atsushi tahu itu hanya alasan yang mulutnya berikan demi melindungi diri dari ketakutan tak berdasar yang tiba-tiba hadir dan menganggu isi kepalanya.
"...dengar Atsushi, aku tidak tahu apa yang kau takutkan, tapi aku tahu pasti bukan hanya kau yang merasa ketakutan itu. Tidak satupun dari kalian yang saling bertemu semenjak tujuh tahun lalu. Tidak ada, dan aku rasa kalian punya alasan yang sama kenapa bisa seperti itu."
"..."
"Terserah padamu sebenarnya, aku hanya ingin kau datang ke Our Home, temui aku dan Shun. Kami disini sangat merindukanmu. Kau dengar?"
"Aku dengar. Dan tolong diingat, aku belum tentu bisa ke Tokyo sungguhan. Kalau ayahku tidak setuju, tidak akan ada liburan musim panas di Tokyo buatku."
"Hm-hm, aku paham. Kalau begitu su—"
"Tatsu-nii."
"Apalagi?"
"Sampaikan salamku pada Shintarou kalau dia menghubungimu atau Shun-nii lagi."
"Pasti."
"Terima kasih kalau begitu."
"Hm."
Atsushi sendiri tidak tahu harus berharap bagaimana pada dewa, sia-sia saja. Bisa atau tidaknya ia pergi ke Tokyo nanti adalah keputusan ayahnya, sekalipun ia berharap ayahnya akan menolak dan kenyataannya sebaliknya, ia akan tetap pergi. Begitupun kalau dia berharap bisa pergi tetapi ayahnya justru tidak mengijinkan, maka liburan musim panasnya tahun ini akan ia habiskan di Akita dengan puluhan pertandingan basket dan kelas memasak seperti biasa.
Satu-satunya yang ia harapkan kepada dewa adalah keberanian untuk melihat wajah saudara-saudaranya di Our Home lagi. Keberanian untuk berkumpul lagi dan menjadi anak biasa seperti yang lain, menghapus keistimewaan yang melekat pada dirinya dan diri saudara-saudaranya.
Tok-tok-tok.
"Atsushi apa kau sudah tidur?"
"Belum. Ada apa, Yah? Masuk saja."
"Tadi Tuan Oda memberitahu ayah tentang temannya yang master chef di Tokyo. Ayah tidak keberatan kau pergi ke sana, kau bisa menghabiskan liburan musim panasmu tahun ini sambil mengikuti kelas memasak itu. Kau pasti tidak keberatan, kan?"
"Sama sekali tidak."
"Bagus kalau begitu."
.
Maaf kelamaan updatenya. Lagi dalam masa sibuk kemarin~
Terima kasih untuk yang sudah nge-Fav, Fol dan ninggalin Review.
Oke, segitu aja dulu, aku langsung pamit.
