Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI

Our Home © Atma Venusia

Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.

Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.


Terlahir menjadi gadis yang cantik, pintar dan cukup banyak mendapat perhatian dari orang-orang disekitarnya bukan berarti sebuah keberuntungan bagi Momoi Satsuki. Dia yang dulunya sempat besar di panti penampungan anak-anak sangat mengerti seberapa berharganya sepasang mata yang memperhatikan dirinya, dan mengerti juga kalau bukan hanya hal baik yang bisa ia dapat dari perhatian itu.

Satsuki memang biasa dijadikan tuan putri. Dulu di Our Home ia adalah yang paling banyak menyita perhatian Izuki Shun karena dia satu-satunya anak perempuan yang ikut bermain dengan perkumpulan anak laki-laki seumurannya. Padahal ada juga anak perempuan yang lain, tapi Satsuki lebih suka mendominasi di kelompoknya sendiri dan menjadi yang tercantik, yang selalu menerima uluran tangan disetiap langkahnya. Ia adalah pengecualian, seperti putri sungguhan.

Tapi karena kebiasaan itu, karena semua perhatian itu, karena pengecualian itu kini ia juga harus hidup dalam ketertekanan. Hal yang sebelumnya tidak pernah terbayang dalam dongeng kisahnya sebagai seorang putri kini ibarat mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Sekedar untuk diketahui saja, dibalik tuan putri yang tampil cantik, tersenyum manis dan menghibur orang-orang dengan pesonanya, ada perjuangan si tuan putri itu untuk menutupi semua rasa sakit, siksaan dan penderitaannya. Semuanya! Dan itu tidaklah mudah.

"Satsuki, pulang sekolah nanti bisa langsung membantu ibu di rumah sakit, kan?"

"Aku pulang sedikit telat, bu. Ada rapat di klub, dan," Satsuki melirik pada pria yang tertidur di sofa ruang keluarga, tidak jauh dari tempat ia dan ibunya berbicara saat ini. "Aku janji pada Sakurai-kun akan menemaninya membeli kado untuk ulang tahun teman sekelasnya." Sambungnya berbisik.

"Oh, kalau begitu hati-hati, ya. Jangan pulang ke rumah kalau ibu belum pulang, tunggu saja dulu di rumah Sakurai-kun kalau perlu."

Satsuki mengangguk.

"Kalau begitu ayo berangkat."


Di sekolah namanya cukup terkenal. Bukannya sombong, tapi ia memang masuk dalam jajaran siswi cantik, sudah begitu nilai akademiknya juga tergolong tinggi. Mendapat teman yang banyak bukan hal yang sulit, mendapat perhatian lebih dari guru juga, tapi tetap saja, semua itu tidak bisa membuatnya merasa lebih baik setiap harinya.

Karena impian Satsuki menjadi tuan putri bukanlah di sekolah, tapi di rumah. Di istana yang berdiri kokoh dan menjadi tempatnya berbagi kehangatan dengan keluarga.

Dulu, di Our Home, Daiki adalah yang paling berisik memerintahnya pulang setiap kali akan main dengan yang lain. Lalu Tetsuya dan Ryouta akan melerai mereka kalau bertengkar karena hal itu. Shintarou yang akan menarik Daiki menjauh kalau Satsuki sudah menangis, Seijuurou yang akan menarik Satsuki ke sisi lainnya, terakhir Atsushi yang akan membaginya permen agar Satsuki berhenti menangis.

Pada akhirnya mereka membiarkan Satsuki ikut main, pada akhirnya Daiki mengalah dan mau repot menjaganya. Pada akhirnya dia selalu mendapat tempat teristimewa yang di siapkan oleh saudara-saudaranya.

Seperti itu. Istana yang ramai, penuh dengan kehangatan dan canda tawa seperti itu yang Satsuki ingin tinggali sebagai seorang putri.

"Momoi-san, kau baik-baik saja?"

"Oh, Sakurai-kun, aku baik-baik saja."

"Kemarin Aomine-kun menanyakanmu lagi."

"Oh."

"Aku bilang kalau ayah dan ibumu bertengkar lagi. Maaf."

Kalau boleh jujur Satsuki paling tidak ingin Daiki tahu tentang dirinya yang sekarang, tapi menutupi keadaan dan memaksa Sakurai Ryo berbohong juga hal yang sia-sia. Tetangga seumurannya itu sudah seperti mata-mata yang Daiki sewa untuk tahu tentang dirinya—berlaku sebaliknya juga bagi Satsuki.

Toh, sejauh ini yang Sakurai ceritakan pada Daiki hanya sekedar pertengkaran antara ayah dan ibunya. Sesuatu yang wajar terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Hal lain yang terjadi tidak ada yang tahu kecuali Satsuki dan ibunya.

"Tidak apa-apa. Lalu bagaimana kabar Daiki? Dia masih malas seperti biasa?"

Sakurai mengangguk lesuh. "Belakangan dia jadi sering berlatih sampai malam di Gym sekolah. Di kelas kerjanya tidur terus, kalau ada tugas dia menyalin punyaku, kalau ada tes harian dia tidur juga, saat jam makan siang dia menghilang."

"Lalu?"

"Yah, kurasa dia sedang dalam masalah."

Inginnya Satsuki menanyakan lebih banyak lagi. Tapi Satsuki sendiri takut kalau-kalau dirinya justru terjebak pada rasa khawatir berlebih tentang Daiki. Bukannya egois, tapi sekarang menjaga dirinya sendiri saja Satsuki masih tidak bisa, melibatkan diri pada masalah orang lain adalah pilihan yang salah—sekalipun itu masalah saudaranya sendiri.

Karena kalau boleh jujur Satsuki sendiri membenci dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa, yang terlalu banyak bergantung pada orang lain dan selalu membuat ibunya menerima pukulan dari ayah yang tempramental demi melindunginnya. Begitu juga dirinya yang terkesan egois dan sombong seperti saat ini.

"Hm, Sakurai-kun."

"Ya?"

"Boleh aku minta tolong?"

"Apa?"

"Kau kan pintar masak, kan?" Sakurai mengguk. "Tolong buatkan Daiki makan siang."

"Hah? Kenapa aku?"

"Yah, karena tidak mungkin bagiku."

Karena itulah satu-satunya kekurangan Satsuki sebagai tuan putri.

Ada beberapa alasan dibaliknya. Pertama karena waktu yang Satsuki punya di rumah tidak banyak, jika ayahnya pulang atau sedang berada di rumah, Satsuki dilarang keluar kamar, ia harus terus bersama dengan ibunya jika ingin aman. Alasan lain ia tidak bisa masak, selama ini ada pembantu yang membuatkannya makanan, kemudian semenjak ayahnya bangkrut yang memasak adalah ibunya.

"Ah, biarpun aku katakan seperti itu, tapi dua minggu lagi sudah memasuki libur musim panas, mungkin lain kali saja."


Satsuki selau berdiri di balik tubuh ibunya setiap menghadapi ayahnya di rumah. Bukan karena Satsuki membenci pria yang pernah memanjakan ia semasa keluarganya masih berjaya, satuki bersembunyi lebih karena ia tidak ingin menimbulkan lebih banyak masalah lagi untuk ibunya, untuk ayahnya juga.

"Kenapa kalian baru pulang? Aku lapar. Cepat buat makan malam!"

Tanpa mengatakan apa-apa pada sang suami, ibunya menarik tangan Satsuki, mengantar sampai depan pintu kamar. "Kalau sudah jadi makan malamnya, nanti ibu akan bawakan. Sementara itu jangan keluar kamar, ya?" katanya sambil mengusap lembut lembu rambut Satsuki.

Anggukan dan seulas senyum menjadi jawaban yang paling baik yang bisa Satsuki berikan pada sang ibu.

Pemandangan seperti malam ini adalah hal yang biasa terjadi di rumahnya sekarang. Ibunya menjadi lebih overprotektif mengenai Satsuki setiap kali berhadapan dengan sang suami. Ayahnya juga semakin hari semakin kasar, hobinya yang baru adalah mabuk-mabukan, dan demi menjaga Satsuki dari pria macam itu, ibunya—wanita dengan tubuh yang lebih kurus dari Satsuki itu menjadikan Satsuki seperti tahanan setiap kali berada di dalam rumah.

Satsuki sadar betul yang sang ibu lakukan itu demi melindungi dirinya, tapi selalu ada kalanya Satsuki merasa ingin menggantikan posisi sang ibu, membiarkan dirinya yang menerima pukulan dari sang ayah, dan membebaskan sang ibu dari siksaan tanpa alasan yang selalu ayahnya lakukan.

Iya, Satsuki ingin bisa menggantikan posisi ibunya kalau saja ia bisa.

Sayangnya sang ayah kini bukan lagi pria hebat seperti dulu. Gambaran raja baik hati yang selalu Satsuki lihat dalam diri ayahnya entah sejak kapan menghilang dan berganti dengan gambaran bandit bengis yang hanya tahu caranya mempersulit hidup orang lain demi membebaskan diri dari kesengsaraannya sendiri.

Ibunya yang dulu selalu terlihat anggunan dan cantik layaknya seorang ratu kini justru terlihat seperti pembantu. Jangankan waktu untuk memanjakan diri seperti dulu, wanita yang selalu melindungi Satsuki dari amukan sang suami itu bahkan tidak punya waktu untuk merias wajah, waktunya selalu habis terbagi dengan tugas sebagai seorang istri dan ibu. Mematuhi semua perintah suami dan melindung putrinya.

Kalau saja ayah Satsuki tidak tertipu dalam bisnis penanaman modal baru di salah satu perusahaan tiga tahun lalu, mungkin sekarang Satsuki masih seorang tuan putri di rumahnya. Kalau saja ia masih tinggal di Our Home, sekarang Satsuki mungkin masih menyandang gelar tuan putri kesayangan juga. Kalau saja seperti itu.

Iya, kalau saja seperti itu.

Tok-tok-tok, "Satsuki, buka pintunya."

Atau setidaknya, kalau saja Satsuki lebih bisa berguna, ia ingin meringankan beban yang ibunya tanggung saat ini. Sungguh.

"Kau menangis?"

Setidaknya, sebagai anak Satsuki ingin memberikan sedikit tempat agar sang ibu bisa beristirahat lebih saat bersama dengannya, tapi yang terjadi justru kebalikannya, kehadiran sang ibu yang ada di sampingnya adalah demi kebaikan Satsuki, demi menjaga anak angkat yang sama selalu tidak bisa membantunya menangani masalah.

"Bu, ayo pergi dari sini. Aku janji kali ini aku yang akan melindungi ibu, jadi ayo kita tinggalkan ayah."

Matanya sendu, jelas menujukan seberapa banyak rasa sakit yang di tanggung oleh tubuh kurus itu, tapi di dalam rumah ini Satsuki sendiri tidak bisa menang melawan sang ayah, yang ada Satsuki justru lebih mempersulit posisi ibunya jika menantang pria itu.

"Tidak bisa sayang."

"Kenapa, bu? Kenapa? Dia sudah banyak menyakiti ibu, tidak hanya fisik tapi perasaan ibu juga, dia bahkan pernah ingin menghianati ibu, lalu kenapa ibu masih mau tinggal dengannya?"

Makanan yang menjadi jarak di antara Satsuki dan sang ibu di geser ke sisi lain, memberi jalan pada ibunya untuk mendekat dan memberi pelukan pada Satsuki.

"Ibu mencintai pria itu. Walau dia menyakiti ibu, dia tetap ayahmu, dan ibu mencintai dia yang pernah memberi ibu kesempatan untuk memilikimu, dia yang mau menerima kekurangan ibu sebagai seorang wanita dan menerima kehadiranmu dalam rumah kita."

Air mata yang tersisa di wajah Satsuki diusap dengan jari-jari keriput berbau obat.

Bekerja di rumah sakit membuat aroma tubuh ibunya yang dulu berganti dengan bau obat-obatan. Tubuh ideal yang selalu membuat ibu-ibu lain di sekolah Satsuki iri, wajah awet muda yang sering dibicarakan guru-guru Satsuki setiap kali ada pertemuan orang tua di sekolah, juga pakaian-pakaian anggun yang selalu dikenakannya, sudah lama Satsuki tidak melihat semua itu dari ibunya. Semuanya hilang, yang tersisa dari sang ibu hanya senyum yang menyembunyikan jutaan rasa sakit di baliknya.

"Ingat juga, dia yang membawamu ke rumah ini. Dia pernah memberikan singgahsana kecil di rumah ini untukmu, dia ayahmu."

"Tapi dia,"

"Iya, ibu ingat betul apa yang pernah dia coba lakukan padamu, ibu sendiri merasa sakit hati yang sama, tapi kalau ibu membencinya karena itu berarti ibu juga membenci dirimu, Satsuki."

Ah ya, ibunya benar. Memang kalau dipikir-pikir lagi, ketimbang menyalahkan sang suami akan lebih mudah bagi ibunya untuk menyalahkan keberadaan Satsuki saat itu. Tapi wanita ini tidak membenci Satsuki, dia tidak membenci suaminya juga, padahal jelas-jelas hari itu Satsuki hampir di perkosa oleh pria itu.

"Tapi tolong maafkan ayahmu, jangan pernah pergi meninggalkan kami, kau satu-satunya yang kami miliki sekarang, Satsuki."

"Ibu." Satsuki menangis sejadinya dalam pelukan sang ibu. Memohon ampun dalam hatinya karena yang dia bisa hanya merengek tanpa bisa membantu meringankan beban sang ibu.

"Mari kita tunggu bersama, ibu yakin ayahmu akan kembali seperti dulu lagi suatu saat nanti. Dia hanya sedang dalam keadaan yang buruk saat ini, nanti kalau sudah membaik kita bisa kembali seperti dulu. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya menunggunya, kau bisa, kan?"

Dalam pelukan sang ibu kepala Satsuki bergerak mengangguk.


Setelah ibunya meninggalkan kamar, Satsuki kembali mengunci pintu kamarnya.

Mendengar permohon sang ibu tadi membuat Satsuki teringat apa yang pernah Izuki Shun katakan padanya beberapa tahun lalu, sewaktu ia dan ibunya mengunjungi Our Home, beberapa bulan sebelum kejadian besar merubah kondisi rumahnya.

"Apapun yang terjadi, tugas seorang tuan putri adalah tersenyum. Sesakit apapun luka yang di deritanya, separah apapun kekacauan di negerinya, yang harus seorang tuan putri lakukan adalah tetap tersenyum ketika berhadapan dengan rakyatnya. Tapi bukan berarti dia harus menanggung semua itu sendiri, dia punya sang raja dan ratu untuk bergantung, dia punya ksatria yang selalu menjaganya, dan pelayan setia yang tidak akan meninggalkannya, mereka adalah orang-orang yang akan mendengar tangisannya kalau memang sudah tidak bisa menahan semuanya sendiri. Kau mengerti, Satsuki? Jadi jangan pernah merasa sendiri lagi, karena kalau saja kau sadar tentang sekitarmu, kau pasti tahu kau tidak pernah sendiri."

Izuki Shun benar, yang bisa Satsuki lakukan sekarang adalah tersenyum.


"Kau sudah datang?"

Satsuki menaruh tasnya di atas meja dalam ruangan kecil tempat ibunya beristirahat sore itu. Hari ini Satsuki memilih untuk mendatangi rumah sakit tempat ibunya bekerja dan menunggu sambil menonton televisi yang ada di ruangan itu. Selalu menunggu di rumah keluarga Sakurai bukan pilihan yang bagus, dan Satsuki sendiri tidak ingin terlalu merepotkan Sakurai Ryo.

"Ibu tinggal dulu ya?" Satsuki mengangguk.

Tangannya mengganti saluran channel dengan remote, mencari acara yang menarik, dan yang didapatnya adalah acara reality show live dengan bintang tamu dari film yang belakangan sering dibicarakan banyak orang.

'Mimpi itu Buruk' film yang peran utamanya di mainkan oleh Kise Ryouta. Satsuki sudah menonton film itu dengan ibunya beberapa hari setelah tanggal rilis. Ibunya dibuat menangis karena mengasihani peran yang Ryouta mainkan, itu adalah film yang sangat bagus menurut Satsuki pribadi. Pantas saja kalau sampai banyak acara televisi yang mengundang pemerannya.

"Ryou-chan jadi semakin tampan." Segaris senyum menjadi bukti dari seberapa senang Satsuki saat bisa melihat satu dari saudaranya, walau hanya dari televisi.

Karena ini acara langsung, rasanya jadi lebih dekat setiap kali melihat Ryouta tertawa. Sedikit dipaksakan sebenarnya, tapi melihat raut wajah Ryouta yang seperti itu mengingatkan Satsuki pada masa kecilnya di Our Home. Dulu di Our Home, Ryouta selalu menjadi pihak yang akan tertawa walau lawakan dari yang lainnya tidak begitu lucu, dan ekspresinya saat itu mirip dengan yang sekarang Satsuki lihat di televisi.

"Dia sedikit lebih pucat, atau karena efek kamera? Ryou-cha—" Satsuki langsung berdiri berjalan mendekat pada televisi.

Dia kaget melihat Ryouta di acara itu tiba-tiba terjatuh pingsan. Jantungnya berdebar tidak karuan karena cemas, tapi akal sehatnya menanah diri untuk tidak terlalu khawatir, mengingat bisa saja itu salah satu bagian dari acara, siapa yang tahu kalau Ryouta hanya sedang bermain-main saja, dia pintar akting.

Tapi setelah kegaduhan yang terekam, kemudian dipotong dengan iklan, salah satu pembawa acara memberitahukan kalau Ryouta tidak bisa lanjut mengikuti acara, alasannya karena sedikit cedera. Tapi Satsuki tahu betul bukan itu alasan yang sesungguhnya.

"Satsuki? Kenapa menontonnya sedekat itu?"

Satsuki menoleh, melihat ibunya yang memasuki ruangan entah mengapa membuatnya ingin menangis. "Bu, Ryou-chan..."

"Ryou-chan? Sakurai-kun maksudmu?"

"Kise Ryouta."

"Ah, dia ... ada apa?"

Sekarang ingin rasanya Satsuki bertanya pada Izuki Shun, apa yang bisa seorang tuan putri lakukan saat salah satu ksatrianya gugur di pertempuran? Bolehkan sang tuan putri menangisi ksatria itu? Bolehkan sang tuan putri langsung berlari menemui ksatrianya itu?

Satsuki ingin tahu apa yang bisa dia lakukan sebagai tuan putri bagi ksatria-ksatrianya.


.


Sampai jumpa di chapter yang akan datang.

Pengenalan karakternya sudah selesai, jadi chapter selanjutnya bakal lebih ramai. Tidak hanya fokus pada satu orang saja.

Bye.