"Menurutmu itu mungkin? Dia itu artis loh, kemanapun dia pergi akan ada saja kamera yang mengarah padanya, lebih-lebih belum lama ini dia memenangkan penghargaan artis cilik terbaik."
"Tetap saja! Siapa yang tahu kalau dia mendapat kekerasan saat ada di rumah?"
"Kalau tentang itu, kau bisa tanyakan langsung pada Miyaji, kan?"
"Kau percaya padanya?"
"...oi, Tatsuya, apa tidak bisa kau lakukan sesuatu agar dia sedikit lebih tenang? Kepalaku rasanya sakit hanya karena mendengar semua ocehannya. Dia terlalu khawatir. Padahal anak-anak itu sudah tumbuh besar, tapi kelakuannya masih sama seperti tujuh tahun lalu."
Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI
Our Home © Atma Venusia
Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.
Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.
Himuro Tatsuya hanya menggeleng. Dengan ekspresi prihatin dia menyodorkan minuman yang sudah tersanding di hadapan Kasamatsu Yukio kepada sang pemilik, memberi isyarat untuk tidak memperdulikan ocehan kawan di sampingnya.
"Lagi pula, sejak kau jadi guru privatnya aku sudah mengatakan berulang kali, aku ingin kau memastikan dia punya waktu luang. Hidupnya berat, diumur muda dia sudah harus mencari uang dan dituntut untuk tetap terlihat sempurna di manapun dia berada. Kalau itu kau, aku yakin tulang punggungmu pasti sudah keropos karena rasa lelah."
"Iya-iya, terserahlah. Tapi tolong diingat, aku hanya guru privatnya, aku bukan manajernya, bukan keluarganya."
Kali ini Himuro membungkam mulut Izuki yang akan menjawab Kasamatsu lagi dengan sepotong kentang goreng. "Kau bisa tenang sedikit? Aku tahu kau khawatir, tapi bukan seperti ini juga. Kalau Ryouta tahu, aku yakin anak itu akan ikut kesal padamu."
"Aku? Kenapa?"
"Kau terlalu cerewet." Sekali lagi Himuro memasukan kentang goreng ke mulut Izuki, mencegah kawannya membantah lagi. "Kau berlebihan. Ryouta hanya demam karena perubahan musim dan kelelahan biasa. Apa harus sampai seperti itu?"
"Kelelahan bukti kalau kerjanya berlebihan. Dia masih anak-anak, Tatsuya!"
"Dia sudah remaja. Tahun depan dia masuk SMA."
Kali ini tanpa perlu Himuro suapi Izuki memasukan kentang goreng ke mulutnya sendiri. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi jelas terlihat kalau kawannya ini masih kesal.
Himuro paham betul. Sebagai orang yang bekerja pada bidang, tempat dan waktu yang sama dengan Izuki, Himuro bisa merasakan kekhawatiran yang Izuki rasakan. Terlebih karena anak yang satu ini cukup istimewa dan penting bagi hidup seorang Izuki Shun. Tapi membiarkan Izuki terus mendumal tidak jelas, menyalahkan Kasamatsu Yukio yang tidak berbuat salah apapun, dan membuat orang-orang di sekitar mereka terus memperhatikan mereka rasanya juga tidak baik.
Izuki harus dibungkam. Butuh ditenangkan.
"Lagipula, dia baik-baik saja. Ayah dan ibunya sudah membawanya ke rumah sakit dan sudah dipastikan dia akan beristirahat untuk beberapa waktu ke depan. Apa yang kau khawatirkan sebenarnya, Shun?"
Izuki memandang sengit Kasamatsu yang barusan bertanya. Dia benar-benar terlihat kesal, mungkin sudah benar-benar marah.
"Dia! Ryouta! Aku mengkhawatirkan dia."
"Aku tahu, tapi asal kau tahu, bukan hanya kau yang khawatir." Himuro menyela. "Yukio juga mengkhawatirkannya, aku juga. Dan aku yakin, ayah dan ibunya juga."
Izuki terdiam. Benar-benar diam, tidak mengatakan apa-apa dan tidak melakukan apa-apa. Matanya menatap pada gelas berisi cola di hadapannya dengan pandangan kosong.
"Kau harusnya ingat, dia punya keluarga sekarang. Dia punya ayah dan ibu, dua kakak perempuan, seorang guru privat, menejer cerewet dan teman les yang pasti akan mengkhawatirkannya di saat seperti ini."
Mayuzumi tidak bisa pura-pura tak acuh dan memilih untuk terus menatap bocah kurus yang duduk memangku buku tentang bisnis tapi tidak membacanya. Pandangan mata bocah itu kosong dan Mayuzumi tahu betul apa penyebabnya.
"Kalau kau mengkhawatirkan Ryouta, kau bisa menjenguknya."
Akashi Seijuurou yang diajak bicara tidak menjawab langsung. Dia justru membaca buku di pangkuannya dan bersikap seolah tidak mendengar tawaran Mayuzumi tadi.
"Dia sedang dirawat, sampai beberapa hari ke depan mungkin dia akan tetap tinggal di rumah sakit. Kalau kau ingin, aku bisa menyisikan waktumu untuk mengujunginya."
Seijuurou masih mengabaikannya. Tidak mengatakan apa-apa dan tetap fokus pada buku bisnis yang Mayuzumi ambilkan untuknya tadi. Camilan dan teh yang ada di meja sampingnya tidak tersentuh sama sekali, bocah yang sedang ia awasi itu masih bersikap tak acuh pada keberadaan Mayuzumi di sana.
"...dan, dari pada kau mengkhawatirkan kesehatan teman kursusmu itu, harusnya kau lebih khawatir pada dirimu sendiri. Yang sakit bukan hanya dia, kau juga, terbilang lebih parah dan sulit ditangani pula."
"Oh, begitu ya?" pandangannya tajam. Menggambarkan jelas seberapa benci dia dengan kehadiran Mayuzumi di sana. Tapi entah karena alasan apa Mayuzumi justru suka sikap itu, keponakannya juga sering seperti itu dan biasanya itu adalah perwujudan dari permintaan ingin tetap ditemani.
"Kuberi tahu satu hal," Seijuurou mengalihkan perhatiannya pada Mayuzumi. Diam-diam Mayuzumi suka pada sikap sok tidak perduli Seijuurou. Menurutnya itu sangat lucu. "Ryouta sakit bukan karena tertekan, dia hanya terserang demam pergantian musim dan sedikit kelelahan saja."
"Memangnya aku perduli?"
"Hm, kau tidak perduli ya?"
Buku bisnis di pangkuannya kembali dibaca dalam diam. Seijuurou kembali mengabaikan Mayuzumi Chihiro yang menemani di ruang baca pribadinya sore ini.
Kalau boleh jujur, Seijuurou ingin menjenguk Ryouta. Tapi itu bukan pilihan yang baik. Publik akan sangat menyorot hal itu dan Seijuurou tidak ingin menjadikan pertemanan antara dirinya dan Ryouta menjadi santapan publik. Seijuurou tidak ingin saudara-saudaranya yang lain terjebak dalam rasa bersalah karena tidak punya akses untuk menjenguk Ryouta sementara ia bisa.
Kalau Seijuurou tidak datang, setidaknya itu akan adil untuk semuanya. Ia juga akan merasa kekhawatiran yang sama.
Lagi pula, kejadian Kise Ryouta pingsan di panggung acara live itu benar-benar mengejutkan banyak pihak. Gosip-gosip yang memberatkan kedua orang tua Ryouta menyebar keseluruh negeri dan menjadikan Ryouta seperti Takashi—nama anak di film 'Mimpi itu Buruk' yang Ryouta perankan. Seijuurou bahkan yakin kalau saudara-saudaranya yang lain juga sedang mencemaskan Ryouta saat ini.
"Oh ya, Sei."
"Apa?"
Sinis.
Benar-benar memancarkan kebencian.
"Sebelum Ryouta menghadiri acara itu kau bertemu dengannya, kan?" Seijuurou mengangguk. "Waktu itu dia baik-baik saja?"
Kalau Seijuurou ingat-ingat memang waktu itu Ryouta sudah pucat. Kulit putihnya tampak redup dan dia jadi sangat pendiam. Karena itu adalah kali kedua Seijuurou dan Ryouta ada di kelas Kasamatsu Yukio berdua, mereka tidak banyak bicara, tidak seperti saat penayangan perdana film 'Mimpi itu Buruk'. Seijuurou pikir Ryouta mungkin lelah saat itu, lebih-lebih dia memang sangat membenci pelajaran Manajemen, jadi saat Kasamatsu Yukio menjelaskan sekalipun dia tidak mendengarkan dan Seijuurou pikir itu hal yang mungkin biasa terjadi di sana.
"Jangan bilang kalau sebenarnya kau tahu dia sakit saat itu dan kau diam saja."
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan kalaupun aku tahu dia sedang sakit? Kami disana untuk les privat bukan untuk bersantai."
"Kau tahu siapa itu Kasamatsu Yukio?"
"Teman lamamu, guru privat manajemen-ku."
Mayuzumi terkekeh mengejek. "Satu hal lagi yang harus kau tahu, Kasamatsu Yukio itu penjaga Kise Ryouta. Harusnya kau katakan pada Kasamatsu kalau kau tahu dia sakit waktu itu, Kasamatsu pasti akan membiarkan dia untuk istirahat."
"Penjaga apa? Kalau yang kau maksud penjaga itu seperti dirimu, aku justru lebih suka tetap diam, setidaknya Ryouta bisa istirahat dengan baik setelah ini."
"Kau salah."
"Apa?"
"Kasamatsu Yukio itu orang yang akan melakukan apapun demi memberikan waktu luang pada Ryouta. Dia bukan hanya teman lamaku, tapi juga teman lama seseorang yang kau kenal dulu—orang yang mungkin kau rindukan sekarang. Kewajibannya bukan hanya meningkatkan nilai pelajaran Ryouta, dia punya tugas yang lebih penting dari itu."
Seijuurou ingin menanyakan siapa orang yang Mayuzumi maksud barusan, tapi lidahnya kelu, niat bertanyanya hilang bersama dengan otaknya yang memberi sedikit simulasi kalau Mayuzumi tidak akan mengatakan apapun, justru akan balik bertanya, bukan satu dua saja. lebih parahnya lagi, Mayuzumi mungkin akan mengejeknya. Seijuurou tidak mau jadi bahan ledekan orang itu.
"Jadi, kau benar-benar tidak mau menjenguknya?"
Tidak menjawab.
Seijuurou tahu betul, tidak menjenguk Ryouta adalah pilihan terbaik saat ini. Karena dengan begitu semuanya akan adil.
"Nee, Shin-chan, kau yakin tidak ingin coba untuk melihatnya?"
Shintarou tidak menjawab.
Sejak penayangan acara langsung dimana Ryouta pingsan, ini sudah tiga hari berlalu dan media masih ramai membicarakan, begitu juga dengan Takao. Setiap hari, setiap ada kesempatan, hal pertama yang dia tanyakan adalah hal yang sama; kapan menjenguk Kise Ryouta? Atau, apa Shintarou tidak mengkhawatirkan Kise Ryouta?
Bukannya tidak ingin menjenguk, Shintarou hanya sadar bahwa posisinya saat ini bukan posisi yang menguntungkan, tidak mungkin bagi Shintarou bisa menjenguk Ryouta walau tahu dimana Ryouta dirawat saat ini. Selain itu, rasanya sedikit tidak adil jika hanya Shintarou yang datang, tidak adil untuk yang lain, tidak adil juga untuk Ryouta.
Dan tidak mungkin juga bagi Shintarou jika tidak mengkhawatirkan Ryouta. Walau saat kecilnya Ryouta termasuk anak yang tidak mudah sakit, tidak seperti Tetsuya, Satsuki dan Seijuurou, tetap saja, tiba-tiba pingsan di acara televisi langsung itu bukan hal yang bisa diremehkan.
"Shin-chan."
"Berisik, Takao."
"Habis kau tidak pernah menjawab kalau aku bertanya tentang Kise Ryouta."
"Kalau begitu berhenti menanyakannya."
"Mana bisa." Takao memainkan gantungan bola basket di tas Shintarou, gantungan yang sama persis seperti yang Shintarou berika pada Ryouta di acara jumpa penggemar minggu lalu. Dia berjongkok di samping meja Shintarou, menghadap tas yang bergantung di sisi meja dan sama sekali tidak melihat ke arah Shintarou. "...mana bisa aku diam saja kalau kau sendiri tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranmu itu dariku. Setidaknya jangan tunjukan ekspresi seperti itu di hadapanku kalau kau tidak ingin aku terus menanyakan hal yang sama."
Tidak bisa. Shintarou tidak bisa berhenti memikirkan Ryouta begitu saja. Bahkan saat ini Shintarou justru sibuk memikirkan sejak kapan Ryouta menahan rasa sakitnya itu sebelum akhirnya pingsan. Pasti berat untuk Ryouta, dan akan jadi lebih berat lagi untuk Ryouta kalau sampai Shintarou datang menjenguk dan menunjukan seberapa khawatir dirinya.
Karena itu Shintarou tidak ingin memberikan jawaban apapun pada Takao setiap kali dia menanyakan hal yang berhubungan dengan Kise Ryouta padanya.
"Nee, Shin-chan, bukannya akan jadi lebih berat bagimu kalau terus menahan perasaanmu seperti sekarang ini? Kau terlalu sering melakukan hal seperti ini, lama kelamaan kau sendiri akan jatuh sakit karena terlalu mengkhawatirkan mereka."
Ah, Takao benar.
"Seperti itu jauh lebih baik." Iya, jika yang sakit bukannya mereka melainkan Shintarou mungkin itu jauh lebih baik. "Setidaknya, aku bukan orang terkenal seperti Ryouta yang saat sakit akan menjadi berita besar. Tidak akan ada yang tahu dan tidak akan ada yang khawatir, bahkan mungkin saja kalau ayah dan ibuku bisa pulang saat aku sakit."
Takao terlihat tidak suka mendengar jawaban itu. "Tapi aku tidak ingin kau sakit. Aku tidak ingin meja di sampingku kosong, tidak ingin makan siang sendirian, tidak ingin teman latihan basketku sampai diganti. Kalau kau tidak ada, rasanya pasti tidak akan asik. Lagi pula kalaupun tidak ada dari mereka yang mengkhawatirkanmu, tetap ada aku yang akan mengkhawtirkanmu. Setidaknya tolong ingat itu."
Bandul bola basket di tas Takao sentil dan menciptakan bunyi kricing saat menabrak bagian resleting. Dia berdiri setelah itu, tanpa menoleh dia pergi menuju pintu keluar kelas. "Aku mau beli minum dulu."
Atsushi tidak begitu paham dengan dunianya para artis, tidak ingin terlibat di dalamnya juga karena sepertinya dunia itu terlalu menyusahkan untuk di tangani oleh orang seperti dirinya. Karena itu juga Atsushi tahu kalau dunia tempat Ryouta tinggal bukanlah dunia yang mudah untuk ditinggali.
Selalu dikerubungi kamera, dikejar-kejar wartawan, dan diikuti paparazzi, semua itu bukan hal yang mudah. Jadi saat pemberitaan tentang Kise Ryouta yang pingsan di acara televisi ramai dibicarakan Atsushi sama sekali tidak kaget. Artis lain juga sering mengalami hal yang sama, yang memberi sedikir kejutan pada Atsushi adalah kenyataan tidak ada satupun dari saudaranya yang datang menemui Ryouta.
Atsushi tahu hal itu dari Tatsuya yang dia telepon setelah makan malam kemarin. Saat Atsushi mengeluhkan ketidakberdayaannya di Akita dan tidak bisa menjenguk Ryouta di rumah sakit, Tatsuya justru bilang padanya, "Tenang saja, bukan hanya kau. Yang lain juga sepertinya tidak bisa menjenguk Ryouta di rumah sakit."
Bukan karena tidak diberi ijin oleh keluarga atau manejer Ryouta, tapi memang tidak ada yang datang menemui Ryouta ke rumah sakit.
Saat Atsushi tanya alasannya, Tatsuya bilang dia sendiri tidak tahu, tidak ada satupun dari mereka yang menelepon ke Our Home semenjak Ryouta masuk rumah sakit. Seolah mereka semua sedang bersembunyi, berpura-pura menutup mata dan telinga tentang keadaaan Ryouta saat ini.
Padahal kalau saja Atsushi tidak terpisah di Akita, ia ingin langsung menemui Ryouta begitu beritanya dia dengar. Ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan saudaranya itu, tapi kenapa yang lain tidak berpikiran seperti itu?
Kenapa? Atsushi ingin tahu alasan mereka sampai tidak ada satupun yang mau menemui Ryouta. Ia merasa terlalu bodoh untuk memahami cara berpikir saudara-saudaranya sekarang.
"Murasakibara, tumben kau tidak langsung menghabiskan makan siangmu? Sedang diet?" satu dari teman sekelasnya menarik bangku dan duduk di hadapan Atsushi. Dengan seenaknya mengambil satu potong tamagoyaki milik Atsushi. Tapi tidak ada reakshi yang seperti biasanya. "Hei, kau kenapa? Hari ini kau sedikit berbeda, barusan aku mencuri satu tamagoyaki milikmu, loh."
"Bisa diam tidak?"
Dia mengangguk. Tapi belum sampai satu menit dia kembali bertanya. "Sedang ada masalah?"
"Aku mau tanya."
"Silahkan-silahkan, tanyakan saja apapun padaku. Akan aku jawab jika kau ingin tahu." Entah kenapa Atsushi tidak senang mendengar cara bicaranya, tapi hari ini Atsushi sedang tidak ingin membuang tenaganya untuk hal tidak penting, kepalanya terlalu penuh dengan macam-macam pertanyaan untuk saudara-saudaranya yang lain dan memikirkan itu terus menerus membutuhkan banyak tenaga.
Ternyata jadi bodoh sekaipun tetap menguras tenaga.
"Kalau salah satu sahabat dekatmu tiba-tiba sakit, apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja langsung menjenguknya."
Benarkan? Cara pikir Atsushi tidak salah, keinginan untuk langsung menemui Ryouta yang dia rasakan bukan sebuah kesalahan, tapi kenapa yang lain tidak merasakan hal yang sama? Apa yang membedakan Atsushi dengan yang lain?
"Ada apa? Salah satu sahabatmu sakit?"
Atsushi tidak ingin menjawab itu. Sebagai gantinya ada yang ingin ia tanyakan lagi. "Lalu kalau semisal kondisinya begini; kau dan sahabatmu itu tinggal di kota yang sama tapi sudah hampir lima tahun tidak pernah saling menghubungi atau bertemu, bagaimana?"
Teman sekelasnya itu kembali mengambil satu tamagoyaki milik Atsushi tapi kali ini sempat untuk Atsushi rebut kembali. Dia menggaruk kepalanya saat bilang, "aku tidak tahu persahabatan macam apa yang kau bicarakan. Lebih dari lima tahun tidak pernah berhubungan sama saja seperti orang asing bagiku, sekalipun aku menganggap orang itu sahabat terbaikku, saat bertemu kami hanya akan saling diam. Kalau seperti itu kondisinya aku memilih untuk pura-pura tidak tahu."
"Kenapa?"
"Kau tanya kenapa? Tentu saja karena dengan begitu jauh lebih baik."
"Kenapa?"
"Hah? Kau yang kenapa? Jangan membuat takut, dong."
"Jawab saja, nanti aku kasih satu potong tamagoyaki."
"Hanya satu?"
"Jawab saja dulu!"
"Ah, baiklah-baiklah. Akan aku jawab." Ada sedikit jeda yang diisi helaan napas teman sekelasnya itu. "Begini ya, kalau aku memiliki sahabat yang sudah sangat lama tidak aku temui, hal yang paling aku tidak ingin lakukan adalah menemuinya saat dia dalam keadaan tidak sehat, aku lebih ingin bisa menemuinya dalam keadaan yang lebih baik. Dan yang lebih penting lagi, kalau sudah selama itu tidak bertemu padahal tinggal di kota yang sama, mungkin mereka memang sudah tidak ingin saling mengenal ... atau setidaknya belum siap untuk saling mengenalkan dirinya yang baru, bisa jadi takut dengan perubahan dalam diri masing-masing yang justru bisa menyakiti satu sama lain."
"Hora, mengakui diri sebagai sahabat dari seseorang tapi tidak tahu apa-apa tentang orang itu, tidak bisa membantu saat orang itu dalam keadaan susah itu benar-benar membuat kita sendiri kesal—marah pada diri sendiri. Dan itu mungkin hal yang dirasakan oleh sahabat kita juga, kan?"
Sesuai janji Atsushi memberikan satu potong tamagoyaki sebagai bayaran karena sudah memberikan jawaban panjang untuk pertanyaan bodohnya. Dan walau sempat protes teman sekelasnya itu tetap menerima.
Sekarang Atsushi sedikit mengerti kenapa yang lain tidak menjenguk Ryouta walaupun mereka bisa menjangkau Ryouta dengan mudahnya.
Kemudian teman sekelasnya itu pergi meninggalkan Atsushi makan siang sendirian lagi. Tapi sebelumnya dia sempat mengatakan sesuatu yang makin merusak mood makan siang Atsushi. "Apa yang aku katakan tadi mungkin benar, tapi sebenarnya hal yang paling menakutkan adalah kemungkinan bahwa orang yang kita anggap sebagai sahabat itu sudah tidak menganggap kita sebagai sahabatnya lagi."
Ah, seperti itu rupanya.
Sekarang Atsushi mengerti seberapa menakutkannya jika harus bertemu dengan saudara-saudaranya yang lain.
.
Akhirnya bisa update lagi, mulai dari chapter ini ceritanya bakal dilihat dari banyak sudut perannya ya.
Untuk yang udah FavFol dan ninggalin review makasih banyak.
Sigitu aja dulu dari aku.
Sekian.
