Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI

Our Home © Atma Venusia

Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.

Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.

.


Selama masa perawatan Ryouta hanya bisa duduk diam di dalam ruangannya. Tidak bisa sembarangan menerima tamu, hanya orang-orang tertentu yang diijinkan oleh Miyaji dan ibunya saja yang bisa menjenguk. Teman sekolah yang datang sebagai perwakilan juga hanya rekayasa orangtua Ryouta, katanya agar lebih terlihat seperti anak sekolah sungguhan. Sisanya tidak ada yang datang lagi.

Sejujurnya Ryouta berharap saudara-saudaranya datang, tapi saat pikiran itu muncul ada ketakutan yang luar biasa di dalam dirinya. Ryouta merindukan saudara-saudaranya, setidaknya ia ingin bertemu sebentar disaat waktunya tidak lagi penuh dengan jadwal pekerjaan seperti sebelumnya.

"Saya sudah merubah semua jadwal acara untuk Ryouta sampai dua bulan ke depan. Dan selama dua bulan itu ada baiknya jika Ryouta tidak mendatangi studio latihan, terlalu beresiko jika membiarkan dia latihan dimasa istirahatnya." Miyaji Kiyoshi memberi laporan pada ayah dan ibunya yang duduk di sofa tidak jauh dari ranjang pembaringan Ryouta.

Ada rasa senang mendengar laporan itu, tapi di sisi lain Ryouta juga bingung apa yang bisa dia lakukan saat waktunya jadi benar-benar lenggang.

"Dua bulan?" Miyaji mengangguk menjawab pertanyaan dari Kise Yuuka, kakak perempuan Ryouta yang kedua. "Enak betul ya? Dua bulan itu berarti selama liburan musim panas kau juga tidak akan disibukan dengan acara apapun. Bahkan latihan juga diliburkan."

Tidak ada bantahan. Kakaknya benar, dua bulan dari sekarang itu termasuk liburan musim panasnya. Kalau di pikir secara logis, sangat menyenangkan bisa mendapat libur panjang sebagai seorang aktor dan bertepatan dengan libur sekolah juga. Tapi yang Ryouta pikirkan tidak begitu, Ryouta justru binggung harus bagaimana mengisi liburannya nanti.

"Bu, kalau saat liburan nanti aku ikut kegiatan klub boleh?"

"Klub? Di sekolah?" Ryouta mengangguk. "Klub apa?"

"Basket."

Ibunya sempat menoleh pada ayahnya, meminta pendapat, dan setelah sang ayah mengangguk ibunya memberi jawaban yang sama juga. "Tapi jangan sampai cidera, dan tetap ingat siapa dirimu. Di luar kau tidak akan pernah bebas dari kamera-kamera orang tidak bertanggung jawab."

"Aku mengerti."

Setidaknya untuk dua minggu pertama dilibur musim panasnya, sekarang Ryouta tahu dia bisa menyibukan diri dengan pertandingan basket. Yang jadi masalah adalah sisa waktunya yang lain harus dia apakan sekarang.

"...dan satu lagi. Ada baiknya jika kita membuat Ryouta mengunjungi acara amal atau mendatangi panti penampungan selama masa liburnya. Dengan begitu publik mungkin akan semakin bersimpati padanya."

"Hm, benar juga. Kau urus saja jadwalnya. Kalau nanti aku bisa ikut, akan aku kabari." Miyaji mengangguk dan mulai mencatat di buku agendanya setelah mendapat ijin dari ayah Ryouta.

"Ah, Miyaji. Kosongkan jadwal Ryouta akhir bulan ini ya? Dia harus ikut aku dan Nami Nee-san menghadiri acara ulang tahun teman kami." Miyaji mengangguk lagi, sibuk dengan buku agendanya dan jadwal Ryouta saat liburan nanti.

"Lalu mulai kapan kau akan sibuk dengan klub basket?"

"Dua minggu awal liburan musim panas."

"Kalau begitu akan aku carikan tanggal yang tepat untuk acara amalmu nanti. Kalau ada acara lain segera kabari aku agar jadwalnya tidak sampai bentrok."

"Baik."

0o0o0o0o0

Daiki mengurungkan niatnya untuk menjenguk Ryouta begitu dia melihat ada dua pengawal berbaju hitam yang berjaga di depan kamar rawat saudaranya itu.

Bukan karena takut pada dua pengawal itu, Daiki hanya tidak yakin kalau dirinya memiliki cukup keberanian untuk masuk ke dalam sana sekalipun mendapat ijin menemui Ryouta. Lagi pula, Daiki hanya tidak sengaja tahu tempatnya, kebetulan ibunya dirawat di rumah sakit yang sama jadi saat Daiki berkeliling ia menemukan ruang rawat Ryouta dan sempat mengintip dari jendela kecil di pintunya. Bukan berarti dia benar-benar ingin menjenguk Ryouta, jadi kalau Ryouta tahu anak itu mungkin akan sangat kecewa.

Makanya lebih baik tidak menemuinya. Melihat dia yang baik-baik saja sudah membuat Daiki cukup tenang sekarang—walau sisi lain dirinya memaksa ingin menemui Ryouta karena rindu setengah mati yang menggerogoti hati.

"Daiki, dari mana saja kau?"

Ayahnya keluar dari ruang rawat inap ibunya. Siang sepulang sekolah tadi, Daiki tiba-tiba mendapat kabar kalau ibunya terpaksa di rawat karena tekanan darah tinggi, penyebabnya masih hal yang sama seperti sebelumnya, tapi karena itu juga Daiki tidak punya waktu yang banyak untuk tinggal di sekolah untuk beberapa hari ke depan.

"Aku akan pulang sebentar, kau jaga ibumu." Daiki mengangguk. Membiarkan ayahnya pergi lebih dulu baru dia masuk ke dalam ruang rawat ibunya.

Hal seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi Daiki. Ibunya memang sering keluar masuk rumah sakit sejak awal, bahkan setelah kehadiran Daiki di rumah sekalipun. Tapi belakangan Daiki mulai merasa bersalah juga karena dirinya tidak bisa memberi banyak perubahan pada kesehatan ibunya.

Daiki sadar betul perannya dalam rumah. Dia paham alasan kenapa ayahnya membawa Daiki tinggal di rumah itu dan menjadi anak laki-laki bagi keluarga Aomine. Daiki juga tahu apa tugasnya, apa yang harus dia lakukan, dan peran seperti apa yang harus dia mainkan, tapi selalu seperti itu tidaklah mudah. Setidaknya, Daiki tidak sanggup jika harus terus bermain peran satu hari penuh.

Jiwa bebasnya selalu ingin lari dari peran itu.

"Daiki."

"Iya, Bu."

"Kau baru pulang sekolah?"

"Tidak aku sudah datang dari tadi, tapi karena ibu masih tidur ayah menyuruhku untuk makan di kantin dulu." Itu bohong. Yang Daiki lakukan hanya modar-mandir di depan ruang rawat Ryouta dan berpura-pura cari angin agar bisa melihat saudaranya.

"Bagaimana sekolahmu tadi?"

"Seperti biasa."

"Menyenangkan?"

Daiki mengangguk. "Tentu saja." Bohong lagi.

"Anak ibu memang harus seperti itu. Kau anak baik, kan?"

"Tenang saja, Bu. Aku tidak akan mengecewakanmu ... Dan ayah." Untuk jawaban ini Daiki berharap dirinya tidak sedang berbohong. Harapan terbesar dalam diri Daiki saat ini adalah bisa membuat ayah dan ibunya bangga—selain harapan untuk bisa berkumpul dengan saudara-saudaranya yang lain tentu saja. Daiki ingin ayah dan ibunya tidak merasa sia-sia sudah mengangkat dirinya menjadi bagian dari keluarga Aomine.

"Ibu tahu itu."

Daiki benci mengakui ini, tapi setiap kali ibunya memeluk Daiki yang ia rasakan bukannya rasa senang melainkan rasa sakit. Jauh di dalam dirinya, perasaan takut tidak bisa menjadi pengganti anak laki-laki ayah dan ibunya selalu mengahantui Daiki. Sama menakutkannya dengan fakta bahwa ayahnya tidak pernah benar-benar menganggap Daiki sebagai seorang anak.

"Bu, cepat sembuh ya."

"Tentu. Untukmu Ibu akan cepat sembuh, sayang."

Tuhan, ampuni Daiki. Ampuni anak nakal yang tidak bisa melindungi siapa-siapa dalam hidupnya ini dan hanya bisa melarikan diri dari orang-orang yang dia sayang. Ampuni keegoisannya yang ingin selalu merasa aman. Ampuni Daiki.

0o0o0o0o0

Izuki menutup teleponnya dan menoleh pada Riko yang berdiri di belakangnya sejak telepon tadi berbunyi.

"Dari Miyaji?" Izuki mengangguk. "Apa katanya?"

"Dia ingin mengadakan acara amal dengan anak-anak di sini."

"Acara amal? Maksudmu acara amal yang bagaimana?"

Izuki hanya bisa menggeleng, Miyaji tidak mengatakan apa-apa selain memberi tahu kalau dalam waktu dekat Kise Ryouta akan datang ke Our Home sebagai salah satu donatur dan melakukan acara amal di sana. Manajer Kise Ryouta itu sama sekali tidak memberi detailnya, dia hanya bilang nanti dia akan menemui Izuki dan Kagetora-san saat ada waktu luang setelah Ryouta kembali dari rumah sakit.

"Memangnya baik-baik saja?" Pertanyaan Riko hanya bisa Izuki jawab dengan isyarat tidak tahu. "Maksudku, dia baru kembali dari rumah sakit, tapi Miyaji langsung ingin menjadwalkan dia untuk melakukan acara amal. Bukannya lebih baik untuk Ryouta istirahat?"

"Miyaji bilang acara amal itu hanya untuk mengisi waktu liburan Ryouta. Dua bulan ke depan ayah dan ibunya memberi Ryouta libur untuk meredam pemberitaan yang mengatakan kalau Ryouta dipaksa untuk bekerja."

"Ah, kalau begitu minta Miyaji untuk mengadakannya saat libur musim panas." Himuro yang tiba-tiba muncul mendekat. "Atsushi bilang dia akan liburan di Tokyo. Ayahnya menyuruh dia untuk ikut kelas memasak yang diajar salah satu master chef terkenal di Tokyo. Kita bisa mengundang yang lain juga, dan mengumpulkan mereka seperti dulu. Bagaimana?"

Riko dan Izuki sempat saling pandang. Memang ide yang Himuro katakan tidak ada salahnya, tapi mengupulkan ketujuh anak itu bukanlah hal yang mudah.

"Kau mau kan, Shun?"

"Kalau aku, jelas mau. Tapi mereka—"

"Tenang saja, kita bisa minta bantuan yang lain untuk meyakinkan mereka untuk mau datang." Himuro menepuk pundaknya dan memamerkan senyum percaya diri yang selalu berhasil membungkam kekhawatiran Izuki setiap kali menghadapi masalah di Our Home. "Aku yakin mereka juga ingin bertemu denganmu. Siap-siap saja untuk mendengarkan keluhan mereka nanti."

Riko mengangguk setuju. "Aku akan bicarakan ini dengan Papa nanti dan akan aku yakinkan dia untuk setuju kalaupun dia tidak mau. Tugasmu hanya satu nanti, Shun."

"Apa?"

"Mengembalikan senyum mereka seperti dulu lagi."

Itu tugas tersulit bagi Izuki. Tugas yang mungkin tidak akan bisa Izuki selesaikan juga. Mengingat beberapa dari mereka bahkan sudah mulai menutup diri dari Izuki dan terus berusaha untuk menjauh, tidak berhubungan lagi.

Memang Izuki khawatir pada mereka, tapi kalau harus dipertemukan dengan mereka lagi seperti sekarang Izuki jadi khawatir dengan dirinya sendiri yang tidak akan bisa mengendalikan perasaan senangnya. Lebih parah lagi kalau sampai Izuki melupakan bagaimana kondisi mereka sekarang dan hanya memaksakan mereka bersikap seperti tujuh tahun lalu.

"Tenang saja, bagi mereka kau adalah orang yang sangat istimewa keberadaanya. Jadi percaya diri seperti biasa dan siapkan dirimu untuk kembali bersama dengan mereka."

0o0o0o0o0o0

Izuki merindukan mereka, sangat merindukan waktu-waktu yang sudah ia lalui bersama dengan anak-anak itu. Dulu Izuki selalu ingin mereka dapat orangtua yang mau merawat mereka, tapi sekarang Izuki sendiri ingin menjadi orang yang bisa merawat mereka selalu. Ingin menjadi seseorang yang bisa mereka percaya seperti dulu lagi.

Egois memang, tapi belakangan ia merasa kalau saja mereka tetap ada di bawah tanggung jawabnya mungkin kejadian seperti pingsan di acara langsung televisi seperti kemarin tidak akan ada.

Mereka adalah anak-anak yang istimewa, selalu jadi yang teristimewa dan tidak bisa Izuki lupakan sekalipun sudah ada anak-anak lain yang menjadi tanggung jawabnya sekarang. Segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka akan jadi hal pertama yang mengingatkan Izuki seberapa ia terikat dengan tujuh anak dengan beda warna kepribadian itu.

"Shun-nii, Shun-nii." Salah satu anak di halaman belakang yang sedang bermain mendekat padanya. Sore ini lebih terang dari biasanya jadi banyak yang bermain di luar, karena itu Izuki memilih untuk memperhatikan mereka dari beranda sambil menikmati teh sore yang Riko buatkan tadi. Himuro sendiri sedang sibuk memandikan beberapa anak lain yang rewel ingin ikut main padahal baru bangun tidur siang.

"Ada apa, Furi?"

"Kami ingin pergi main ke taman di blok sebelah, boleh?"

Satu anggukan menjadi jawaban untuk dia yang mewakili beberapa anak lain tidak jauh dari tempatnya saat ini—menunggu bocah bernama Furi tadi dan mengamankan satu-satunya bola sepak yang ada di sana sebelum akhirnya pergi bersama.

"Ingat untuk pulang sebelum gelap, ya."

"BAIK." Sahut mereka kompak.

Izuki jadi ingat tujuh anak-anak itu lagi. Mereka bukan penurut, terbilang nakal untuk umurnya. Pergi dari panti tanpa minta ijin itu sudah biasa, membuat Izuki dan Himuro harus mencari mereka saat sudah gelap atau saat hujan besar tiba-tiba turun juga bukan hal yang mengagetkan, terlalu sering sampai Izuki tahu betul kebiasaan mereka itu. Tapi dari sana juga Izuki jadi terbiasa untuk memberi perhatian ekstra.

Tetsuya yang sejak pertama sampai di Our Home adalah anak yang mudah sakit, Satsuki juga anak perempuan yang mainnya terlalu banyak dengan laki-laki, Daiki yang hobinya buat masalah, Ryouta yang cengeng, Atsushi yang suka tiba-tiba ketinggalan karena sibuk melihat-lihat isi toko roti, dan duo bocah pintar yang kerjanya mengatur (usil), setidaknya setiap mengingat itu Izuki jadi tidak bisa tenang saat matanya tidak menangkap mereka di waktu bermain.

Sangat berbeda dengan anak-anak yang datang setelah kepergian mereka. Tidak bisa dijadikan contoh, tapi cukup untuk dijadikan acuan geng nakal—dan sejauh ini mereka adalah geng paling nakal yang pernah mengisi Our Home. Lalu tanpa Izuki sadari selama tujuh tahun terakhir ini ia terus menjadikan anak-anak itu sebagai perbandingan dengan anak-anak lain.

Jahat. Riko pernah mengatakan itu padanya. "Itu terlalu jahat untuk anak-anak yang sekarang ada dalam pengawasanmu. Tidak adil." Dan Izuki tidak bisa membantahnya.

Ia sendiri tahu kalau terus seperti yang akan menderita pada akhirnya adalah dirinya, tapi ikatan yang ada antara dirinya dan anak-anak itu tidak mudah untuk ia putus, sulit untuk menghilangkan bayangan mereka dalam pikirannya.

"Shun, barusan Chihiro meneleponku. Dia bilang kalau ada waktu dia ingin kita menemuinya sebentar, ada hal penting yang ingin dia sampaikan langsung." Himuro datang dan langsung mengisi satu bangku di sampingnya, mengembalikan pikran Izuki pada kenyataan yang ada sekarang, memudarkan bayangan anak-anak nakal yang biasa membuatnya pusing tujuh keliling.

"Tumben dia tidak mengatakannya langsung padaku."

"Dia meneleponmu, tapi katanya kau tidak mengangkatnya." Himuro mengatakan itu dengan wajah jengah melirik pada ponsel di samping cangkir teh milik Izuki.

Tanpa harus Himuro suruh, Izuki mengambil ponsel itu dan melihat kalau benar Mayuzumi Chihiro meneleponnya beberapa saat lalu.

"Kau terlalu sibuk memikirkan mereka yang tidak ada di sini." Itu semacam sindiran baru.

Memang harus Izuki akui, semenjak menerima kabar kalau Tetsuya pindah sekolah lagi, lalu Satsuki yang sulit dihubungi, Seijuurou, Daiki, Atsushi dan Shintarou yang setiap dihubungi hobi berbohong, dan puncaknya Ryouta yang pingsan di acara televisi beberapa waktu lalu, Izuki jadi lebih banyak memikirkan mereka dari biasanya.

"Maaf. Tapi nanti aku yang akan mengabari Chihiro langsung kalau kita punya waktu luang."

"Terserah kau saja."

0o0o0o0o0o0o0

Satuski kembali menghela napasnya.

Belakangan ini pikirannya kacau. Semenjak melihat sendiri bagaimana salah satu saudaranya pingsan di tengah-tengah acara langsung televisi pikirannya mulai penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bersemayam diam dalam alam bawah sadarnya.

Lalu bagaimana kabar yang lain?

Satsuki ingin menanyakan itu langsung pada orang-orangnya, atau setidaknya bertanya pada Izuki Shun yang selama tujuh tahun terakhir ini selalu menjadi penghubung antara dirinya dengan yang lain. Tapi mengingat bagaimana kondisi keluarganya dua tahun terakhir, Satsuki tidak memiliki keberanian untuk menghubingi salah satu dari mereka. Tidak ingin berbohong dan membuat yang lain mencemaskan dirinya juga.

Cukup sudah rasanya dia menjadi beban untuk orang lain. Rasanya terlalu jahat kalau seorang tuan putri terus bergantung pada ksatria-ksatrianya saja, terus membuat ibu ratu menemani waktu menangisnya.

Satsuki ingin jadi tuan putri yang lebih berguna untuk penghuni kerajaan yang lain, bukan tuan putri yang hanya tahu caranya menangis dan tertawa karena orang lain. Ia ingin menjadi sebab untuk kebahagiaan dan tawa orang-orang di sekitarnya juga.

Tapi apa yang bisa gadis SMP sepertinya lakukan? Pulang sekolah saja ia tidak bisa langsung pulang ke rumah. Hari ini pun ibunya meminta Satsuki untuk menunggu di rumah salah satu teman sekelasnya, meminta Satsuki untuk menyibukan diri dengan orang lain agar pikirannya tidak terus penuh dengan kekhawatiran pada Kise Ryouta dan saudara-saudaranya yang lain.

Semenjak ia menangis melihat Kise Ryouta pingsan waktu itu, ibunya selalu mengingatkan Satsuki kalau hal seperti itu biasa terjadi pada anak-anak seumurannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi nyatanya membuang perasaan cemas itu bukan hal mudah—lebih-lebih karena dirinya sendiri tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada yang lain tentang keadaan Ryouta sekarang.

"Satsuki, yang ada di gerbang itu bukannya ayahmu?" Salah satu teman sekelasnya yang ikut pulang bersama dengan Satsuki menunjuk seorang pria yang berdiri sambil bersandar pada pagar depan sekolahnya. Tangan kiri pria itu membawa sebuah pemukul baseball, tangan yang satunya memegang sebatang rokok yang tersulut. Dandanan pria itu lebih seperti preman jalanan ketibang seorang ayah yang ingin menjemput putrinya pulang sekolah.

Secara otomatis langkah Satsuki terhenti.

"Ada apa?" Temannya yang lain bertanya.

"Aku tidak jadi pulang dengan kalian."

"Oh, tidak masalah. Bisa lain kali."

"Kami duluan kalau begitu." Satsuki mengangguk. Menunggu teman-temannya menjauh dulu sebelum akhirnya melangkah kembali ke dalam sekolah.

Tapi sayang, ayahnya lebih dulu sadar tentang keberadaannya.

"Mau kemana kau?"

Satu tangan Satsuki ditahan. Rokok yang tadi dilihatnya sudah tidak ada.

"A-ada yang tertinggal di kelas."

"Alasan!" Seluruh tubuh Satsuki bergetar mendengar suara berat pria yang berdiri di hadapannya. Ingatan buruk tentang perilaku yang pernah didapat membuat Satsuki kehilangan banyak tenaga hanya untuk terus berdiri.

"Ayo ikut denganku."

Ditarik paksa. Satsuki tidak memiliki alasan untuk menolak dan memberontak. Rasa takutnya akan sosok sang ayah yang saat ini mengalahkan pikiran rasionalnya.

"Ma-mau kemana?"

"Kemana katamu? Tentu saja menemui ibumu. Aku butuh uang sekarang!"

Lagi, untuk kedua kalinya secara otomatis langkah Satsuki terhenti. Ia tidak ingin kalau pria ini membuat masalah untuk ibunya di rumah sakit. Tongkat baseball yang dibawa ayahnya memberi firasat buruk pada Satsuki.

"Aku tidak mau."

"HAH?" Yang barusan itu lebih seperti geraman amarah. Tubuh Satsuki lagi-lagi kaku ketakutan dibuatnya.

"I-Ibu bilang hari ini aku tidak perlu ke tempat kerjanya, jadi—"

"Aku tidak perduli!" Ayahnya memotong. "Aku butuh uang sekarang dan aku tidak tahu dia kerja dimana. Kau harus mengantarku ke sana."

Tidak mau.

"Cepat jalan!"

Ayahnya mendorong pundaknya. Tapi kesempatan terlepas dari pegangan sang ayah saat ini tidak Satsuki lewatkan begitu saja; ia langsung berlari sekuat tenaga meninggalkan ayahnya, berbelok pada sebuah gang yang menjadi jalan pintas menuju rumahnya, tidak ada niatan untuk kabur ke sembarang arah karena takut kalau sampai ayahnya tahu ke mana saja ia selama ini setelah pulang sekolah.

Tapi tidak butuh waktu lama untuk seorang pria dewasa manangkap seorang gadis SMP. Belum sempat keluar dari gang yang menuju jalan besar ramai tangannya sudah ditangkap lagi (Satsuki memilih untuk pergi kabur ke tempat yang ramai karena ia pikir ayahnya tidak mungkin memaksa dia dengan kekerasan di keramaian).

"Lepaskan aku!"

"Tidak akan!"

Takut. Satsuki takut pada sosok pria yang membawa pemukul baseball di hadapannya ini. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, padahal pria itu adalah ayahnya, padahal pria itu adalah sang raja yang selama ini sudah memajakan sang tuan putri, tapi kenapa sekarang gambaran raja bijak nan baik hati yang dulu sangat ia cintai justru berubah menjadi gambaran pemimpin bandit yang hanya tahu caranya mencuri, menyakiti dan membunuh.

Seseorang tolong aku.

"Lepas. Aku mohon, lepaskan aku."

0o0o0o0o0

.

Terima kasih untuk yang meninggalkan jejaknya.

Segitu aja dariku.

Bye~