—
Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI
Our Home © Atma Venusia
Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.
Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.
—
0o0o0o0o0
Di sana, di salah satu jalan saat persimpangan yang mobil ayahnya lewati Daiki melihat dengan jelas gadis yang dia kenal dalam kesusahan.
"Hentikan mobilnya!" Daiki berseru tiba-tiba.
"Hah?"
"Hentikan mobilnya sekarang!"
Daiki langsung berlari begitu turun dari mobil ayahnya, tidak memperdulikan teriakan sang ayah yang memintanya kembali. Yang ada di kepalanya sekarang adalah menolong gadis berseragam SMP yang sedang di tarik paksa oleh pria aneh dengan tongkat baseball.
"Lepas. Aku mohon, lepaskan aku."
"Tidak akan, kau harus ikut denganku."
"Tapi ibu—"
"Hei paman, lepaskan tangannya. Dia tidak mau ikut denganmu." Daiki mencengkram kuat tangan pria yang masih berusahan menarik paksa gadis SMP itu untuk mengikutinya. Sialnya lagi, jalan tempat kejadian ini terjadi sedang sepi, jelas saja tidak ada yang menolong. Untung saja ayahnya memilih lewat jalan besar tadi saat pulang. Jadi Daiki sempat melihat saat melintasi gang ini.
"Dai-chan." Ada beberapa detik yang terlewat begitu saja karena rasa kaget yang menyerang Daiki begitu mendengar nama panggilan itu.
Daiki menoleh. Gadis itu menangis, seragamnya berantakan, rambutnya juga, keringatnya juga terlihat jelas. Melihat itu membuat tangan Daiki yang mencengkram pergelangan tangan si pria semakin kuat. "Lepaskan dia." Peringatan yang kali ini lebih seperti ancaman, dan untungnya pria itu menuruti.
"Satsuki, kau baik-baik saja?" Pergelangan tangan gadis itu sedikit memar. Sekali lagi Daiki menoleh ke arah pria yang tadi menarik tangan saudaranya itu. "Hei paman, apa yang kau mau darinya?"
"Hah? Kau sendiri siapa? Jangan seenaknya menganggu!"
"HA-AH?" Daiki sendiri tidak bisa membayangkan seperti apa wajahnya sekarang, tapi yang dia tahu pasti wajahnya cukup menakutkan sampai membuat pria di hadapannya mundur selangkah saat Daiki maju selangkah. Lagi pula salah pria itu sendiri karena mengganggu orang yang Daiki kenal, bukan salah Daiki juga kalau sampai marah.
"Dai-chan, tunggu dulu. Jangan pakai kekerasan."
"Kenapa? Dia juga sudah memaksamu dengan kekerasan, lalu kenapa aku tidak boleh membalasnya?"
"Tidak-tidak boleh." Tangan Daiki yang siap memberi pelajaran pada pria itu dipeluk erat, tangannya di tahan. "Kau tidak boleh Dai-chan."
"Makanya aku tanya, kenapa?"
"Karena dia ayahku." Untuk kali kedua Daiki dibuat kaget oleh gadis ini. "Apapun alasannya, kau tidak boleh menyakitinya."
Daiki mengalah.
"Kau dengar?" Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada. "Satu-satunya yang pantas dapat pukulan di sini adalah kau, bocah kurang ajar. Kau mengganggu."
Tidak perduli dengan omongan pria itu, Daiki membawa Satsuki sedikit menjauh. "Dia ayahmu?" Ada nada ragu yang kentara jelas dalam satu kalimat pendek itu.
Sekali lagi Daiki menoleh pada pria yang masih melipat tangannya di depan dada itu. Penampilan pria itu terlihat jauh berbeda dengan pria yang datang menjemput Satsuki di Our Home tujuh tahun lalu. Bulu janggut dan kumis yang belum di cukur, mulut bau sake, rambut acak-acakan, dan kaos oblong dengan celana pendek yang sepertinya sudah tiga hari tidak diganti, pria itu terlalu mencurigakan.
"Iya, ada banyak hal terjadi dan membuatnya sedikit berubah, tapi dia benar-benar ayahku."
"Lalu kenapa dia menarik tanganmu tadi?"
"Itu ... Karena aku menolak menunjukan tempat kerja ibu padanya."
Alasan yang tidak masuk akal. Setidaknya itu membuat Daiki ingin bertanya lebih banyak, tapi mengingat seberapa lama mereka tidak saling berkomunikasi, sulit rasanya untuk bertanya, terlebih ini tentang keluarga, sesuatu yang sangat sensitif.
"Ah, baiklah. Tapi aku rasa aku tidak bisa meninggalkan kalian begitu saja, tidak ada jaminan dia tidak akan menyakitimu nantinya."
Entah mengapa setelah gagal menemui Ryouta di rumah sakit, rasanya melihat Satsuki saat ini membuat Daiki semakin kacau. Ada sesuatu yang mengamuk dalam dirinya, meminta untuk bertemu dengan Ryouta juga, ingin memastikan kalau Ryouta sedang dalam keadaan baik-baik saja seperti yang kakak perempuan anak itu bilang.
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu. Aku bisa menanganinya sendiri. Dai-chan pulang saja sekarang. Aku justru takut melibatkanmu dalam masalah yang lebih rumit nantinya."
Walaupun Satsuki bilang seperti itu, Daiki tidak bisa membiarkan Satsuki pulang dengan pria itu dan ia sendiri pulang dengan tenang. Tidak-tidak, Daiki tidak ingin meninggalkan Satsuki sekarang, malah kalau bisa ia ingin membawa Satsuki bersama dengannya saja, dengan begitu keamanan untuk Satsuki akan terjamin.
Tapi bagaimana caranya?
Memikirkan solusi terbaik untuk ini membuat kepala Daiki pening. Yang jelas Daiki hanya tidak ingin sampai sesuatu terjadi pada Satsuki. Dan pria yang katanya ayah Satsuki itu, Daiki tidak bisa mempercayai pria itu.
"Dai-chan, awas!"
Satu tangan Daiki ditarik oleh Satsuki saat tongkat baseball mengayun hampir mengenai punggungnya, tapi bukannya mengenai Daiki tongkat itu justru ditangkap oleh orang lain yang tiba-tiba ada di belakang Daiki.
"Maaf tuan, tapi ada masalah apa anda dengan putra saya sampai ingin menyakitinya dengan benda seperti ini?" Itu ayahnya. Seperti seorang pahlawan dia datang dan menolong Daiki disaat seperti ini. Dan yang lebih mengejutkan, ayahnya menyebut Daiki adalah putranya.
"Oh, bocah kurang ajar itu putramu? Kalau begitu ajari dia untuk tidak ikut campur dengan urusan keluarga orang lain."
Melihat sang ayah yang menoleh padanya membuat Daiki menunduk sesaat karena merasa takut. Tapi kemudian kepalanya kembali terangkat, dengan harapan ayahnya akan ikut membantu mencarikan solusi menolong Satsuki saat ini, Daiki bilang, "Paman itu memaksa Satsuki untuk ikut dengannya, padahal Satsuki tidak ingin."
"Ke mana?"
Tidak ada yang menjawab. Daiki tidak ingin memberi jawaban apapun karena dia rasa ini bukan haknya untuk memberi jawaban.
"Omong-omong tuan, kau siapanya gadis ini?"
"Aku ayahnya."
"Benarkah?" Kali ini ayahnya menanyakan itu pada Satsuki, dan dijawab dengan anggukan. "Kalau begitu kenapa sampai harus memaksanya ikut?"
"Bukan urusanmu."
Ayah Satsuki ingin mendekati Satsuki tapi dicegah oleh Daiki, dan melihat itu ayahnya ikut mencegah, tanpa alasan memang, Daiki sendiri tidak tahu kenapa, yang jelas ia bersyukur kali ini ayahnya ada di pihak yang sama dengannya.
"Begini saja tuan, aku tidak tahu apa masalahmu dan putrimu, tapi aku rasa saat ini dia tidak ingin ikut denganmu. Maaf atas kelancangan putraku yang ikut campur, tapi mengingat tindakan kasar yang hampir kau perbuat tadi, ada baiknya untuk saat ini putrimu ikut denganku dulu, aku akan menasehatinya setelah mendengar apa masalah kalian nanti, dan aku akan mengantarnya pulang juga. Ini kartu namamu, kau bisa mengadukan aku pada polisi kalau memang aku melakukan sesuatu pada putrimu nanti, tapi kalau sekarang kau tetap ingin memaksa putrimu ikut denganmu, aku yang akan mengadukanmu pada polisi dengan tuduhan kekerasan pada anak dan wanita."
Pergelangan tangan Satsuki yang memar diangkat oleh ayah Daiki, dan karena itu kartu nama yang di sodorkan pada ayah Satsuki akhirnya di terima.
"Kalau begitu, kami permisi dulu. Ayo Daiki."
Daiki menggandeng Satsuki berjalan di belakang ayahnya, meninggalkan ayah Satsuki di sana. Dalam hati Daiki hanya berharap sang ayah tidak akan marah padanya saat Satsuki ada bersama mereka. Daiki tidak ingin menunjukan hubungan buruk antara dirinya dan sang ayah pada Satsuki. Tidak setelah melihat apa yang terjadi pada Satsuki tadi.
"Aku ingatkan padamu, Daiki. Jangan memintaku berhenti di tengah jalan mendadak, dan jangan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun seperti tadi."
"Baik."
Ayahnya berhenti begitu sampai di depan mobil mereka. Dia menoleh, memperhatikan Satsuki yang berada di samping Daiki dengan seksama.
"Namamu?"
"Ah, aku Momoi Satsuki."
"Hubunganmu dengan Daiki?"
"Kami..." Satsuki melirik padanya, dan Daiki sadar betul kalau bagian ini harusnya dia yang menjawab.
"Dia saudaraku." Pegangan tangan Daiki mengerat setelah mengatakan itu, takut tiba-tiba ayahnya berubah pikiran dan meminta Satsuki untuk pergi saja setelah mendengar jawaban Daiki barusan.
Ada jeda yang cukup terasa sampai ayahnya menghela napas panjang, kemudian bersandar pada badan mobilnya. Dia memasukan kedua tangannya ke dalam saku, kemudian tersenyum. Daiki tidak paham apa yang ada dalam pikiran ayahnya, yang jelas senyum ayahnya membuat Daiki semakin takut kali ini.
Kata saudara yang Daiki pakai sudah sangat menjelaskan maksud Daiki, dan ia yakin ayahnya pasti paham kalau Satsuki dan dirinya terhubung oleh Our Home.
Selama ini ayah dan ibunya tidak pernah mempermasalahkan hubungan Daiki dengan Our Home. Ayahnya memang sempat meminta Daiki untuk tidak terlalu sering berhubungan dengan Our Home lagi, tapi tidak sampai melarang Daiki menghubungi Izuki Shun. Hanya saja untuk kali ini, Daiki tidak menjamin reaksi ayahnya akan baik-baik saja.
"Baiklah, Satsuki-chan."
"Y-ya?"
"Boleh aku tahu apa yang terjadi antara kau dan ayahmu?"
0o0o0o0o0o0o0
Lagi-lagi hal yang sama terjadi. Padahal belum ada sebulan ia di sana.
Tetsuya sudah biasa di bully secara lisan, diabaikan dan terlalu sering mendapat pandangan jijik, jadi hal seperti ejekan dari beberapa anak di kelasnya bukan sesuatu yang mengganggu lagi—bahkan dulu pernah juga dia dapat tindak bully secara fisik, tapi tidak lama hal itu langsung ketahuan orang tuanya dan sekolah yang membiarkan tindak bully itu mendapat teguran dari Departemen Pendidikan dan Perlindungan Anak di Jepang, ada beberapa LSM yang mengatasnamakan Perlindungan Anak dan Pendidikan yang membela Tetsuya tanpa melihat background orang tuanya juga waktu itu, sekolahnya mendapat sanksi berat dan Tetsuya dipindahkan untuk menghindari tindak bully yang lebih parah. Sejak saat itu sekolah tempat Tetsuya selalu menghindari konflik berlebih dan karena alasan yang sama juga ia jadi sering pindah sekolah.
Hanya karena alasan kecil sekolahnya akan memberi solusi untuk Tetsuya pergi agar tidak ada kejadian yang lebih dari ejekan dan diskriminasi. Tapi kali ini Tetsuya tidak ingin sampai pindah sekolah lagi, terlalu sayang kalau sampai kehilangan orang yang bisa diajak bicara saat istirahat seperti Kagami.
Jadi dengan sekuat hati Tetsuya menahan semuanya, hanya sampai ia lulus.
"Oi, Kuroko."
"Ada apa Kagami-kun?"
"Kau sudah lihat berita tentang Kise Ryouta?"
Tetsuya mengangguk sebagai jawaban. Tidak mungkin baginya untuk ketinggalan berita penting seperti itu. Bahkan Mayuzumi Chihiro, pamannya, juga sempat menawarkan bantuan agar bisa menjenguk Ryouta yang masih dirawat di rumah sakit, bersama dengan Seijuurou, dan tentu saja langsung Tetsuya tolak.
"Kau tidak ingin menjenguknya?"
Kali ini Tetsuya menggeleng.
"Kenapa?"
Tetsuya tidak menjawab, sebagai gantinya ia menatap Kagami dalam diam. Cukup lama, cukup untuk membuat Kagami merona dan menegurnya. "Apa?" Begitu kata Kagami dengan nada mengancam.
"Kagami-kun ... Aku baru tahu kalau kau orang yang suka ingin tahu hal seperti itu."
Rona di wajah Kagami semakin jelas.
"Bodoh! Bukan itu maksudku."
Lucu, Tetsuya suka dengan rekasi barusan.
"Lalu?"
"Aku hanya ... Apa ya? Heran saja."
"Heran?"
Kagami mengangguk. Rona di wajahnya sudah sedikit memudar. "Si Aomine itu juga menjawab sama sepertimu saat aku tanya tentang Kise Ryouta."
Senyum senang setelah sempat menjahili Kagami hilang saat itu juga. Mendengar sama salah satu saudaranya cukup untuk membuat Tetsuya teringat dengan yang lain juga. Lagi pula, Tetsuya sedang tidak ingin membicarakan hal seperti ini sebenarnya.
"Padahal ibunya dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kise Ryouta, tapi dia tidak mengambil kesempatan itu untuk bertemu, atau sekedar menjenguk."
Tetsuya memilih untuk tidak mengatakan apapun. Walau hanya sedikit, Tetsuya mengerti alasan kenapa Daiki tidak menemui Ryouta. Walau tidak sepenuhnya, Tetsuya paham apa yang ada di dalam pikiran Daiki saat tahu kalau mereka ada di tempat yang sama. Tidak jauh berbeda dengan apa yang Tetsuya pikirkan setiap kali pamannya menawarkan jasa untuk menjadi penghubung antara dirinya dan Seijuurou.
"Hey, Kuroko."
"Hm?"
"Apa sesulit itu untuk menemui mereka lagi?"
Ah, Kagami jahat. Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab saat ini. Pertanyaan itu terlalu menakutkan untuk dicari jawabannya.
"Aku juga punya saudara yang sudah lama tidak aku temui, kami bahkan bertengkat terakhir kali kami bertemu, tapi setelah aku kembali ke Jepang orang pertama yang aku temui tetap saja dia. Aku merindukannya, ingin main bersama dengannya lagi, ingin bercerita banyak hal padanya, ingin minta maaf juga. Tapi kenapa kalian berbeda?"
Kalau boleh jujur Tetsuya juga ingin bertemu dengan mereka, ingin memeluk mereka, bercanda dan bermain dengan mereka lain, berbagi cerita seperti dulu, tapi nyatanya keinginan itu juga disetai dengan keharusan untuk menunjukan siapa dirinya yang sekarang, harus disertai dengan kenyataan kalau mungkin mereka bukan lagi orang sama satu sama lainnya—dan itu sangat menakutkan. Tetsuya takut untuk menerima kenyataan kalau dirinya bukan lagi bagian dari kehidupan saudara-saudaranya.
"Apa kau yakin bisa terus menahan perasaanmu terus seperti ini?"
Segaris senyum yang Tetsuya usahakan untuk terlihat baik-baik saja menjadi isyarat yang menyertai jawabannya. "Aku mungkin bisa kalau kau tetap menjadi temanku, Kagami-kun."
Jelas apa yang tergambar di raut wajah teman sekelasnya itu. Ah, semua orang juga tidak akan suka mendengar jawaban seperti itu. Rasanya pasti tidak enak jika dipaksa menjadi boneka pengganti. Tetsuya tahu itu.
"Aku akan tetap menjadi temanmu, tapi aku bukan pengganti mereka." Kagami menepuk kepalanya pelan sebelum akhirnya meninggalkan Tetsuya sendiri di kelas. "Kelas selanjutnya olahraga, kalau tidak cepat kau bisa kena hukuman."
Tetsuya merasa beruntung ada Kagami sekarang. Tetsuya bersyukur Kagami memahami kondisinya tapi tidak mengejek dan mempermainkannya. Tetsuya bersyukur ada yang mau menanyakan keadaannya setiap kali bersinggungan dengan saudara-saudaranya yang lain. Tetsuya bersyukur dia tidak benar-benar sendirian kali ini. Tapi biarpun begitu, menemui saudaranya yang lain bukan perkara mudah juga.
0o0o0o0o0
Himuro Tatsuya baru mengenalnya setelah bergabung dengan Our Home. Kesan pertama yang didapat tentang Izuki Shun waktu itu adalah orang yang unik, dia bisa dengan mudah membuat orang-orang percaya dan simpatik padanya, itu sempat membuat Himuro pribadi merasa iri dan tersaingi, tapi setelah mengenal lebih lama lagi Himuro tahu apa yang membuat Izuki Shun sangat menarik.
Dia orang yang tulus.
Bukan hanya pada anak-anak asuhnya, tapi pada semua orang yang dia kenal. Tidak perduli orang itu baru dia kenal atau sudah lama dia kenal, Izuki Shun selalu menunjukan sifat tulusnya itu dan membuat dirinya menjadi poros di mana pun dia berada. Tidak mengherankan kalau banyak temannya yang dengan suka rela mau membantu mengawasi anak-anak kesayangannya selama tujuh tahun terakhir.
Jajaran nama orang berpengaruh besar pada anak-anak itu bahkan kini sudah mendedikasikan diri untuk membantu Izuki mengembalikan keceriaan anak-anak itu—yang secara tidak langsung juga berarti mengembalikan keceriaan Izuki Shun pribadi.
Aida Riko misalnya. Wanita yang satu itu memang sudah cukup lama mengenal Izuki sebelumnya, tapi dia rela meninggalkan karir hebatnya di bidang olahraga hanya karena ingin tetap bersama dengan teman semasa sekolahnya. Lalu dokter berbakat sekelas Kiyoshi Teppei yang sudah bekerja di rumah sakit terbesar di Kanto sekalipun mau-mau saja meluangkan waktu untuk mendekati anak-anak asuh Izuki yang memang secara kebetulan berada di lingkungan kerjanya, Kiyoshi bilang itu adalah caranya membalas budi Izuki semasa mereka sekolah dulu.
Himuro sendiri tidak pernah punya hutang budi pada Izuki, tapi dia mengerti kenapa Riko dan Kiyoshi mau melakukan banyak hal hanya untuk kepentingan Izuki pribadi. Begitu juga dengan teman-teman mereka yang lain, seperti Mayuzumi Chihiro, memang pada awalnya Mayuzumi hanya ingin membantu kakaknya meyakinkan Izuki, tapi pada akhirnya dia adalah orang yang paling banyak berjuang untuk bisa berada di posisi yang memungkinkan untuk memastikan beberapa dari anak itu benar-benar bisa hidup dengan baik.
Bahkan bagi seorang Mayuzumi Chihiro yang terkenal sebagai siswa teladan semasa kuliah sekalipun untuk bisa menjadi orang dipercayakan menjaga dan mengawasi tuan muda keluarga Akashi bukanlah hal yang mudah. Miyaji Kiyoshi juga sama, menjadi manajer dari artis cilik keluarga entertainer Kise juga bukan hal yang mudah. Tapi mereka rela melakukan banyak hal hanya untuk membantu mengurangi kecemasan Izuki yang kadang tidak beralasan.
"Dia orang yang hebat." Itu yang Kagetora-san katakan pada Himuro ketika pertama kali mengenalkan Izuki, dan Himuro setuju tentang itu.
"Shun, kau masih lama?"
"Tunggu sebentar lagi."
Sambil bertolak pinggang Himuro menunggu di depan pintu kamarnya dan Izuki.
"Kita hanya ingin bertemu dengan Chihiro, kenapa lama sekali kau siap-siapnya?"
Ini adalah salah satu sifat jelek seorang Izuki Shun, suka menunda-nunda sesuatu dan akhirnya justru membuat orang lain menunggu. Padahal dia sendiri yang buat janji temu dengan Chihiro kemarin, tapi justru dia juga yang membuat janji itu mundur satu jam dari seharusnya, hanya kerena dia ikut tertidur bersama anak-anak yang dia ajak untuk tidur siang tadi. Dan itu hanya satu dari puluhan hal konyol yang biasa dia lakukan.
Tapi tetap saja, Himuro tidak bisa benar-benar marah, justru semakin jatuh pada pesona seorang pengasuh seperti Izuki Shun.
"Aku sudah siap." Dia keluar dengan pakaian yang lebih rapih dari biasanya. Ada senyum cerah yang yang menyertai kegembiraan tidak beralasannya itu.
"Kenapa kau senang sekali? Lalu apa ini? Kau ingin pergi kencan?"
Sambil malu-malu dia hanya menjawab sekenanya. "Siapa yang tahu kalau aku bisa bertemu dengan Seijuurou atau Tetsuya di sana, kan?"
Jengah, tapi ya sudahlah. "Jangan terlalu berharap."
"Aku tahu-aku tahu."
Tidak ada alasan bagi anak-anak itu untuk melupakan orang sepertinya. Dia teralalu berharga untuk hanya dijadikan kenangan masa kecil mereka.
Setidaknya jika Himuro menjadi satu dari anak-anak itu, ia akan berpikir seperti itu.
.
0o0o0o0o0
.
Terima kasih untuk yang meninggalkan jejaknya.
Segitu aja dariku.
Bye~
