Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI

Our Home © Atma Venusia

Fiksi ini dibuat hanya untuk memenuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.

Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.


0o0o0o0o0o0

Untuk sekali lagi, Shintarou berakhir di ruang kerja dokter kawan baik ayah dan ibunya. Rasa bersalah karena sudah menyinggung perasaan Takao tempo hari membuatnya tidak berani untuk mengajak Takao pergi main walau kali ini dia punya waktu untuk itu.

"Ini, aku yang teraktir." Satu kaleng jus jeruk dingin berpindah tangan sebelum Kiyoshi Teppei duduk di bangkunya.

Kali ini pun sama seperti sebelum-sebelumnya, ia terpaksa untuk tinggal di sana karena memang tidak ada hal lain yang ingin atau bisa dia lakukan saat ini. Belakangan Shintarou jadi merasa seperti orang aneh yang tidak tahu apa tujuan hidupnya.

"Hey, mulai kapan kau liburan?"

"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?"

Kiyoshi Teppei tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum menanti jawaban dengan sikap menyebalkannya (menurut Shintarou).

"Bulan depan. Kenapa memangnya?"

"Sudah punya acara?"

Shintarou menggeleng. "Tidak ada. Aku harus berangkat les musim panas, dan ikut kegiatan klub."

Bukan hal aneh. Harusnya Kiyoshi Teppei juga sudah tahu kalau liburannya hanya akan diisi dengan kelas-kelas les tambahan, karena memang setiap tahunnya selalu seperti itu.

"Tidak ada waktu luang?" Kali ini Shintarou yang balas tidak menjawab. "Sebenarnya salah satu kenalanku ingin mengadakan sebuah acara amal saat liburan musim panas nanti, tentu saja dia mengundangku, dan aku pikir tidak ada salahnya kalau mengajakmu."

"Kenapa?"

Sambil pamer senyum dia bilang, "Karena kau mungkin akan senang kalau ikut."

Kalau hanya menyisikan satu dua hari untuk acara amal Shintarou bisa saja, lebih-lebih dengan Kiyoshi Teppei, pasti akan dapat ijin dari orang tuanya. Lumayan juga untuk selingan dikeseharian yang tidak pernah berubah setiap tahunnya.

"Acaranya di salah satu panti asuhan Tokyo. Aku yakin kau tahu panti asuhan itu dengan baik." Tanpa perlu dilanjut Shintarou tahu panti asuhan mana yang dimaksud oleh Kiyoshi Teppei. "Bagaimana, kau mau ikut?"

Tidak bisa langsung menjawab. Shintarou tidak yakin dirinya memiliki keberanian untuk datang ke sana setelah apa yang terjadi belakangan ini. Terlalu banyak kebohongan yang ia katakan pada Izuki Shun selama ini, terlalu banyak kenangan yang mungkin akan membuat dirinya semakin gila pada saudara-saudaranya.

"Aku rasa ayah dan ibu tidak akan memberiku ijin untuk pergi." Bohong. Shintarou yakin kalau Kiyoshi Teppei juga tahu dirinya sedang berbohong. Ijin itu bukan alasan sesungguhnya, karena Shintarou tahu ayah dan ibunya pasti memberi ijin kalau memang kegitannya yang dia lakukan bermanfaat. Yah, walau sebenarnya baik ayah maupun ibunya sama-sama tidak suka kalau Shintarou kembali berhubungan dengan Our Home.

Kalau hanya sekedar berbincang via telepon dengan Izuki Shun mungkin tidak akan masalah, tapi kalau sampai main kesana, Shintarou tidak yakin ayah dan ibunya akan memberi ijin dengan mudah.

"Tenang saja, kalau aku yang bilang ayah dan ibumu pasti akan memberi ijin." Senyum penuh kebanggan menyertai pernyataan itu. Dan entah kenapa Shintarou merasa lega mendengarnya, tidak masalah dengan senyum menyebalkan itu. "Ingat, aku ini Kiyoshi Teppei, psikolog keren yang bisa diandalkan tahu?"

"Tch, terserah saja. Tapi aku tidak janji akan ikut ya?"

"Ah, kalau gitu bagaimana jika aku ajak Daiki juga?"

"Hah? Kenapa?"

"Begitu lebih baik, kan?"

Takut, tapi Shintarou sendiri ingin bertemu dengan saudara-saudaranya lagi, ingin menemui Izuki Shun juga.

Ah, kalau saja aku lebih pemberani.

"Tenang saja. Ada aku, tidak perlu ketakutan seperti itu."

"Siapa yang takut?"

"Oh, kalau begitu bukan masalah, kan?"

Menyebalkan.

"Terserah kau saja."

0o0o0o0o0

Izuki tahu betul kalau dirinya tidak bisa terlalu berharap. Sekalipun tempat ia janji bertemu dengan Mayuzumi Chihiro adalah rumah keluarga Kuroko yang sudah mengasuh Tetsuya atau tempat biasa Mayuzumi memberi pelajaran tambahan untuk si jenius Seijuurou, kemungkinan bagi dirinya bertemu dengan salah satu dari anak-anak itu tidaklah besar.

"Aku tidak mungkin mengajak mereka." Hanya itu yang Mayuzumi katakan setelah Himuro menjelaskan alasan kenapa dirinya tiba-tiba kehilangan semangat. "Ini tempat kerjaku selain di rumah keluarga Akashi jadi Seijuurou tidak akan ada di sini, Tetsuya juga tidak akan mau ikut les disini hanya karena aku yang akan jadi gurunya."

"Aku paham. Aku baik-baik saja."

"Apanya yang baik-baik saja? Kau membuatku sakit hati tahu?"

Menghela napas rasanya jadi lebih berat hanya kerena kekecewaan kecil seperti ini. Sedikit keterlaluan memang untuk Mayuzumi, tapi beginilah Izuki yang asli.

"Lagi pula, aku tidak ingin sampai mendengar kalimat pedas mereka karena dengan sengaja mempertemukanmu dengan mereka. Kau tidak tahu saja seberapa tajam mulut mereka kalau sudah berhubungan dengan satu sama lain dan Our Home."

Himuro terkekeh sambil menepuk pelan pundaknya. "Sudahlah, kalaupun hari ini tidak bisa bertemu, dalam waktu dekat kau pasti bisa bertemu dengan mereka semua, bukan hanya salah satu dari mereka."

Memang, itu mungkin saja terjadi kalau rencana acara amal yang Miyaji katakan itu memang benar-benar diadakan di Our Home, mungkin saja Izuki bisa bertemu dengan anak-anak nakal kesayangannya. Itu mungkin kalau memang yang terjadi sesuai dengan rencana mereka.

"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?" Izuki membuka setelah kembali menjadi dirinya yang biasa. Bukan dirinya yang cengar-cengir tidak jelas selama perjalanan dan mendadak terpuruk tadi.

"Bukan hal yang begitu penting, tapi aku rasa kau harus tahu kalau ayahnya Seijuurou paling tidak suka kalau sampai Seijuurou berhubungan lagi dengan Our Home. Kalian tahu sendiri kalau dia bahkan sudah menghapus semua jejak Seijuurou di Our Home dan membuat seolah-olah Seijuurou itu anak kandung keluarga Akashi."

"Apa yang ingin kau sampaikan sebenarnya?" Izuki menyela.

"Aku punya cara untuk membuat Seijuurou menghadiri acara itu, tapi aku tidak bisa menjamin kalau caraku berhasil. Kalau masalah Tetsuya aku yakin bisa membawanya kesana, tapi kalau Seijuurou aku tidak ingin berjanji banyak dulu."

Ah, rasanya lebih menyakitkan dari yang tadi.

Tapi Izuki juga tahu kalau inilah kenyataannya. Kalau menyangkut anak-anak itu tidak akan ada hal yang benar-benar pasti. Mereka sudah berada di dunia yang benar-benar berbeda satu sama lainnya. Sulit untuk membuat semuanya kembali seperti sebelumnya walau hanya untuk waktu sesaat.

"Kau sebut itu bukan hal penting?" Himuro bersuara setelah keheningan beberapa saat. Dia yang dari tadi hanya jadi pihak penengah kini mencoba untuk mendominasi Mayuzumi dengan pandangan kesalnya.

"Yah, kalau aku sebut itu adalah hal penting rasanya seperti aku sendiri sudah menyerah bahkan sebelum mencoba."

"Tetap saja, kau membuat Shun datang tanpa persiapan untuk mendengar hal sepert ini."

Mayuzumi memilih bungkam, dan kali ini Izuki yang terpaska menjadi penengah di antara kedua temannya itu. Menenangkan Himuro yang terus menceramahi Mayuzumi karena tidak memikirkan bagaimana perasaan Izuki.

"Yah, sebenarnya aku juga tahu kalau beberapa dari mereka memang sudah dilarang untuk berhubungan dengan Our Home lagi. Aku tidak kaget, hanya sedikit ... Yah, kalian paham juga, kan?"

Mayuzumi tetap diam, Himuro ikut diam, dan Izuki justru terkekeh. Dia sendiri sadar kalau wajahnya pasti terlihat aneh saat ini, tapi tidak ada cara lain untuk menahan perasaan kecewanya, ia hanya ingin menyembunyikan fakta kalau rasanya cukup sakit ketika yang didapat justru kekecewaan seperti ini.

"Shun...maaf."

"Aku baik-baik saja. Sungguh, ini bukan salahmu, Chihiro."

"Aku akan berusaha sebaik mungkin. Kalaupun ayahnya tidak mengijinkan, selama Seijuurou setuju untuk ikut, aku rasa aku punya alasan untuk membawanya bertemu denganmu."

"Jangan berjanji kalau kau tidak bisa menepatinya!"

"Tatsuya, lebih baik kau diam saja dulu." Izuki meminta kawannya yang untuk mundur dan menjauh. Meninggalkan meja tempat mereka ngobrol hari ini. "Kau juga, Chihiro. Aku tidak ingin sampai menimbulkan masalah untukmu, lakukan saja sebatas yang bisa kau lakukan. Kalau sampai kau dipecat hanya karena membawanya ikut menghadiri acara itu, akan sulit juga bagi kita nantinya untuk tetap mengawasi Seijuurou."

"Hm, baiklah."

Izuki menepuk kedua tangannya, menarik perhatian kedua teman yang ada di dua sisi berbeda saat ini. "Terima kasih, Chihiro." Katanya pada Chihiro, dan "Terima kasih juga, Tatsuya." Pada Himuro di belakangnya.

0o0o0o0o0

Daiki langsung berlari untuk membuka pintu ketika suara bel berbunyi. Ayahnya masih mandi, Satsuki sudah tertidur di kamarnya, dan tanpa perlu dilihat melalui intercome Daiki tahu siapa tamu yang datang malam hari seperti ini.

"Selamat malam."

Seorang wanita paruh baya yang wajahnya tidak begitu asing bagi Daiki memamerkan senyum terbaiknya di bawah remang lampu malam itu. Dari wajahnya saja Daiki tahu seberapa lelah wanita seumuran ibunya itu. Rasa iba tiba-tiba saja memenuhi isi dada bocah SMP sepertinya.

"Saya Momoi Sakura, ibunya Satsuki."

"Oh, silahkan masuk."

Daiki memberi jalan agar wanita yang begitu melewatinya barusan memancarkan aroma desinfektan itu masuk duluan. Ah, Daiki ingat sekarang kenapa wajah wanita itu tidak begitu asing baginya, ibu Satsuki adalah perawat di rumah sakit tempat ibunya di rawat saat ini.

"Ano, Satsuki..."

"Dia sudah tidur. Silahkan duduk saja dulu." Daiki berusaha untuk menjadi anak yang sopan walau itu sangat bertentangan dengan imej dan sikap aslinya. Kalau bukan karena Satsuki, mungkin Daiki akan lebih senang berpura-pura tidak perduli seperti biasanya.

"Kau yang tadi menelepon?"

Daiki memberi sedikit isyarat dengan tangannya. "Bukan. Yang telepon tadi ayah saya, tapi sekarang ayah sedang mandi, jadi mohon tunggu sebentar. Tadi ayah bilang ada yang ingin disampaikan pada nyonya sebelum membawa Satsuki pulang."

"Baiklah kalau begitu."

Daiki memilih untuk pergi ke dapur dan membuat minuman untuk tamu ayahnya (dan dirinya) malam ini. Biasanya hal seperti ini selalu ibunya yang melakukan, ini adalah kali pertama Daiki masuk dapur bukan untuk membuat makanan atau minuman untuk diri sendiri. Ah, Daiki jadi mengerti kalau sebenarnya paran ibunya di rumah cukup penting.

Ibunya masuk rumah sakit memang sudah biasa, untuk urusan makan dan bekal bukan hal yang sulit hanya karena ibunya tinggal beberapa hari di rumah sakit. Sebelumnya Daiki justru sering merasa lega saat ibunya sedang tidak di rumah, karena dengan begitu ia akan memiliki waktu yang lebih untuk lepas dari permainan peran yang selalu ia lakukan setiap berada di rumah. Tidak perlu berpura-pura jadi anak baik.

Tapi saat ini Daiki benar-benar berharap ibunya ada di rumah dan membantunya untuk menolong salah satu saudara kesayangannya.

"Daiki, ibunya Satsuki-chan sudah datang?"

Daiki mengangguk. Setelah ayahnya berjalan menuju ruang tamu tempat ibu Satsuki menunggu Daiki mengikuti sambil membawa dua cangkir teh untuk dua orang dewasa yang akan terlibat sedikit percakapan penting malam ini.

"Kau masuk ke dalam saja." Begitu kata ayahnya setelah Daiki menyugukan teh ke hadapan dua orang dewasa di sana. Dan mau-tidak mau Daiki harus menuruti perintah ayahnya.

Tapi bukannya kembali ke kamar Daiki memilih untuk berdiri di balik tembok yang membatasi antara ruang keluarga dan ruang tamu rumahnya. Daiki ingin tahu apa yang ayahnya akan sampaikan pada ibu Satsuki setelah apa yang terjadi siang tadi.

"Ano, terima kasih sudah menolong Satsuki." Suara ibu Satsuki serak, sedikit lebih berat dari suara yang tadi Daiki dengar. Wanita itu pasti sedang manahan sesuatu.

"Tidak apa-apa. Saya senang bisa membantu dan menolong salah satu saudara kesayangan Daiki."

Ada jeda yang cukup lama sampai akhirnya ayahnya bersuara lagi. "Satsuki-chan bilang kalau tadi dia dipaksa ayahnya untuk menemui nyonya, tapi dia menolak. Dia cerita banyak setelah saya membawanya ke sini, dari yang saya tangkap sepertinya dia punya ayah yang cukup kasar. Dan sebenarnya dari yang saya lihat tadi juga ayahnya seperti tidak memperdulikan kalau Satsuki-chan ketakutan."

"Ah, itu betul." Jawabannya sangat pelan. Syukur malam ini cukup tenang jadi Daiki bisa mendengar jawaban itu.

"Apa dia selalu seperti itu pada putrinya?"

Lagi. Ada jeda yang cukup terasa sebelum jawaban dari ibu Satsuki.

"Sebenarnya ini sedikit memalukan untuk saya ceritakan, tapi Aomine-san sepertinya tidak akan membiarkan saya membawa pulang Satsuki kalau saya belum menceritakan yang sebenarnya terjadi antara Satsuki dan ayahnya."

"Saya senang kalau nyonya paham."

Daiki ingin melihat bagaimana ekspresi dua orang dewasa di ruang sebelah. Daiki ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi.

"Sebenarnya suami saya bukan pria yang jahat, dia sangat penyayang pada keluarganya. Dia bukan orang yang akan menyakiti putrinya, tapi mungkin dia jadi sedikit tempramen semenjak keluarga kami kehilangan banyak hal. Dia ayah yang baik, hobinya adalah memanjakan Satsuki sebelum ini, saya tahu itu."

"Tapi nyonya, kalau hanya karena perubahan emosi karena stress seharusnya Satsuki-chan tidak akan sampai ketakutan seperti tadi pada ayahnya."

Ada jeda lagi.

"Kalau itu ... ada alasan lain."

"Alasan lain?"

"Sebenarnya saat awal keterpurukan ayahnya, Satsuki hampir mendapat pelecehan." Mendengar itu tiba-tiba saja jantung Daiki bergemuruh, sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak keluar dari ruangannya sekarang. Tangannya terkepal sampai memutih, menjadi korban yang menahan amarah karena mendengar pernyataan dari ibu Satsuki barusan.

"Tapi saya berhasil mencegahnya." Kali ini suara ibu Satsuki lebih tinggi, terdengar seperti terburu-buru. "Dia mabuk saat itu, dan dia menyesalinya. Satsuki mungkin tidak tahu, tapi ayahnya menangis malam itu karena merasa bersalah sudah memberi kenangan buruk pada putri kesayangannya."

"Aomine-san pasti tidak percaya kalau dia menyesal, tapi saya ini istrinya, saya juga ibunya Satsuki, saya tidak akan memihak pada suami saya hanya karena Satsuki bukan anak kandung kami. Satsuki adalah segalanya bagi saya, bagi suami saya juga. Mungkin sekarang dia terlihat seperti ayah yang kasar dan jahat pada putrinya, tapi saya yang paling tahu seberapa besar cintanya pada putri kami. Saya yang paling mengenal dia, dan saya bisa menjamin keamanan Satsuki."

Kembali ada kesunyian yang menjeda percakapan mereka.

Daiki ingin tahu bagaimana reaksi ayahnya, Daiki ingin melihat bagaimana ekspresi yang dibuat dua orang dewasa itu, Daiki ingin mengerti semuanya dengan benar bukan hanya menebak dari kata-kata mereka saja.

"Silahkan diminum tehnya, nyonya. Anda sendiri harus menenangkan diri sekarang." Suara ayahnya terdengar berbeda dari suara yang selama ini Daiki dengar. Terlalu lembut untuk sosok ayah yang biasa dingin dan main perintah pada Daiki. "Saya percaya kalau nyonya bisa menjaga Satsuki-chan. Lagi pula saya tidak punya niat untuk menahan seorang anak gadis untuk tinggal lebih lama disini, kami disini punya putra seumuran putri anda."

Setelah mendengar itu Daiki memilih untuk kembali ke kamarnya. Sudah cukup ia mengenguping pembicaraan orang tua di ruang tamu, sekarang ia ingin melihat Satsuki sebelum berpisah lagi dengan saudara perempuan satu-satunya itu.

Satsuki langsung tertidur setelah makan malam. Dia tidak mengatakan apa-apa pada Daiki, dia hanya menceritakan apa yang ayah Daiki tanyakan padanya setelah sampai ke rumah tadi, kemudian memilih untuk duduk diam menonton televisi bersama dengan Daiki.

Tidak ada obrolan lebih dari sekedar basa-basi tentang kabar dan sekolah. Satu-satunya nama orang lain yang mereka bicarakan adalah Sakurai Ryou, saudara-saudara yang lain seperti menjadi topik terlarang, bahkan tentang Kise Ryouta yang belakangan menganggu pikiran mereka.

"Satsuki." Daiki mengusap pucuk kepala si pemilik nama. Berniat membangunkan, tapi ingin tetap melihat bagaimana wajah polos gadis kesayangannya itu saat tertidur.

Ah, ternyata ini tetap ekspresi terbaik yang dia punya.

Dulu, semasa di Our Home Daiki sering tidur belakangan karena memang dia punya terlalu banyak energi—hyperaktif kalau kata Himuro Tatsuya, tapi ada alasan lain juga di balik kebiasaan itu. Daiki suka melihat wajah-wajah saudaranya yang tertidur. Hal seperti itu selalu memberinya alasan untuk menjadi pelindung bagi yang lain, memberinya keberanian untuk berdiri di barisan paling depan membela saudara-saudaranya.

Melihat mereka yang bisa tidur dengan tenang memberinya rasa lega yang luar biasa. Seperti saat ini, bahkan setelah mendengar seberapa buruk sikap ayah Satsuki pada Satsuki tadi, rasanya cukup melegakan karena Satsuki bisa tertidur pulas tanpa mimpi buruk.

"Hei, Satsuki. Bangun, ibumu sudah datang."

Kali ini Daiki sedikit mengguncang tubuh kurus dengan kulit putih bersih yang dulunya selalu ikut kotor setiap kali Satsuki ikut bermain dengan dirinya dan yang lain. Padahal Satsuki adalah yang paling sering jatuh dan terluka, dia bahkan pernah membuat Daiki dan Ryouta kena omelan Izuki Shun karena membuatnya dapat luka baret di lengan. Tapi syukur tidak ada bekas luka yang tertinggal di tubuhnya. Satsuki tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, seperti tuan putri sungguhan.

"Satsuki, bangun."

"Eng~ Dai-chan?"

"Ibumu sudah datang." Bukan Daiki yang mengatakan itu, ayahnya tiba-tiba membuka pintu dan masuk yang mengatakan. "Cepat bersiap." Katanya sebelum meninggalkan Daiki dengan Satsuki berdua lagi.

"Ah, maaf aku tidur terlalu lama."

"Tidak masalah." Daiki memberika salah satu jaket miliknya meminta Satsuki untuk mengenakan itu. Ia tidak bisa membiarkan Satsuki pulang hanya dengan seragam padahal sudah semalam ini, terlalu dingin.

"Terima kasih."

Di ruang tamu ibu Satsuki sudah menunggu, begitu Satsuki menunjukan diri dia langsung memeluk putrinya dan terus mengucapkan kata syukur. Wanita itu juga tidak berhenti berterima kasih pada Daiki dan ayah Daiki.

"Malam ini kita akan menginap di rumah bibi Misako." Katanya pada Satsuki.

Daiki dan ayahnya mengantar sampai depan rumah, sekali lagi ibu Satsuki menunduk mengucapkan terima kasih. "Kalau begitu mulai besok mohon bantuannya." Tambah ibu Satsuki sebelum membawa Satsuki pergi.

Daiki ingin menanyakan maksudnya tapi bahkan ayahnya langsung masuk ke dalam setelah Satsuki dan ibunya keluar pagar. Tidak ada pilihan lain selain diam. Daiki pikir besok juga dia akan tahu apa maksud kata-kata ibu Satsuki tadi.

"Daiki, bereskan kamarmu. Mulai besok Satsuki-chan akan menginap di rumah ini sampai ayahnya, tuan Momoi Natsume, yang datang menjemput dia."

"Hah?"

"Selama itu kau akan tidur di kamarku."

Ayahnya tidak mengatakan apa-apa lagi dan masuk ke dalam kamar. Daiki tidak mengerti maksud dari apa yang ayahnya lakukan ini. Tapi setidaknya tidak perlu menunggu sampai besok untuk mengerti maksud kata-kata ibu Satsuki tadi.

.

0o0o0o0o0


.

Terima kasih untuk yang meninggalkan jejaknya.

Segitu aja dariku.

Bye~