—
Kuroko no Basuke © FUJIMAKI TADATOSHI
Our Home © Atma Venusia
Fiksi ini dibuat hanya untuk memnuhi kepuasan jiwa semata, tidak untuk mengambil keuntungan materil.
Warning : Typo. Gaje. FF Orang Labil. OOC.
0o0o0o0o0o0
Seijuurou pernah sekali mempertanyakan kenapa mendiang ibunya datang ke Our Home waktu itu dan mengajak ia pulang menjadi seorang anak dari keluarga, dan hanya jawaban sederhana yang diberikan; karena warna rambut Seijuurou sama dengan warna rambut suaminya.
Alasan yang terlalu sedernaha untuk menjadikan anak buangan sepertinya sebagai bagian dari keluarga paling berpengaruh di Jepang, tapi nyatanya karena alasan itu juga orang-orang di luar sana percaya kalau Seijuurou adalah anak kandung keluarga Akashi. Anak laki-laki tunggal yang diramalkan akan menjadi penerus ayahnya dalam sepuluh tahun ke depan—padahal Seijuurou tidak tertarik sama sekali dengan bisnis sampai saat ini.
Yang dilakukannya hanya menuruti perintah mendiang ibu (dulu) dan ayahnya (sekarang). Jika mereka bilang Seijuurou harus menjadi yang terbaik, maka itu yang akan Seijuurou lakukan. Jika mereka bilang Seijuurou harus menguasai banyak hal dan tetap menjadi yang terbaik, maka itu yang akan terjadi. Dengan cara terbaik yang bisa dilakakukan akan ia kabulkan semua kata-kata dan harapan mereka, itu yang selama ini ada dalam pikirannya.
Tentu saja, mengecewakan harapan orang tuanya tidak masuk dalam pilihan, karena memang sejak awal Seijuurou sendiri tidak pernah diberi hak untuk memilih apa yang bisa atau harus ia lakukan. Semuanya sudah direncanakan, semuanya sudah ditentukan, dan Seijuurou hanya harus mewujudkan itu. Begitulah cara ia membalas budi baik orang tuanya.
"Dengar Sei, ini mungkin kesempatan terkahirmu untuk menemui mereka."
Tapi semenjak Mayuzumi Chihiro hadir dalam kehidupannya, mewujudkan apa yang sudah terencana itu jadi semakin sulit. Pria itu selalu membuat Seijuurou berada pada pilihan yang tidak masuk akal, pilihan yang seharusnya tidak ada.
Sama seperti hari ini. Tiba-tiba saja dia datang menemui Seijuurou lebih awal dari waktu yang seharusnya, dia bilang ada hal penting yang ingin disampaikan, dan itu adalah acara amal Kise Ryouta di Our Home. Katanya menejer Kise Ryouta mengundang Seijuurou pribadi untuk ikut acara itu dan kebetulan saja, yang lain juga akan terlibat. Padahal Mayuzumi sendiri adalah orang yang paling tahu kalau Our Home sudah menjadi hal tabu bagi Seijuurou saat ini.
Ayahnya tidak suka kalau Seijuurou terlibat lagi dengan Our Home, Mayuzumi pasti sudah pernah diperingatkan langsung untuk menjauhkan Seijuurou dari kenangan masa lalunya itu.
"Meyakinkan ayahmu adalah pekerjaanku, yang ingin aku dengar adalah jawabnmu, Sei. Kau mau datang atau tidak?"
"Seberapa yakin kau bisa membuat ayah menyetujui aku boleh datang?"
"Tidak besar, sekitar lima puluh persen."
"Kalau begitu aku tidak ingin ikut." Karena akan sangat menyakitkan jika dirinya berharap bisa datang tapi nyatanya Mayuzumi tidak bisa membuat ayahnya memberi ijin. Kecewa adalah penyakit hati paling menakutkan sejauh ini bagi Akashi Seijuurou.
"Kau yakin?" Tentu saja tidak, karena kalau boleh jujur, Seijuurou pribadi ingin datang dan bertemu dengan Ryouta, Izuki Shun dan yang lainnya di sana. Mungkin itu bisa memberi Seijuurou sedikit kesembuhan dari penyakitnya saat ini. "Aku tidak ada maksud untuk memaksa, aku hanya ingin kau datang karena aku tahu ada seseorang yang menunggumu untuk datang."
Mayuzumi berjalan meninggalkan kamarnya. Tapi sebelum menutup kembali pintunya dia sempat berpesan, "Pikirkan baik-baik, dan beri aku jawaban yang lebih meyakinkan lain waktu."
Seijuurou paling tidak suka dengan sifat Mayuzumi yang satu itu, saat membuat Seijuurou yang harus memilih dan memutuskan, Seijuurou tidak suka hal seperti itu. Bagi tuan muda yang selalu ditentukan jadwalnya selama ini seperti dia, saat tiba-tiba dihadapkan dengan pilihan untuk memuaskan keinginan diri atau tetap diam dan menjadi anak baik yang mengurung diri seperti biasa seperti ini, Seijuurou tidak suka.
Karena itu tidak mudah.
Menjadi anak baik seperti biasa dan menjauh dari orang-orang dimasa lalunya, tetap diam dan menuruti apa kata ayahnya mungkin adalah pilihan terbaik. Tapi sebuah kebohongan besar kalau Seijuurou katakan dirinya tidak ingin datang ke acara itu, Seijuurou juga merindukan mereka, ia ingin bertemu dan berkumpul dengan mereka lagi.
Tapi dia hanya anak SMP yang tidak punya banyak kuasa untuk memutuskan. Seijuurou hanya berharap ayahnya memberi ijin, dengan begitu dia bisa pergi kesana dengan mengatasnamakan undangan dan bukannya perasaan pribadi.
0o0o0o0o0
Ryouta langsung berhenti begitu melihat sosok yang sangat dia kenali. Anak laki-laki bertubuh kurus, kecil, pendek dan ekspresinya datar yang berdiri diam di dekat salah satu meja tamu. Seseorang yang sampai saat ini belum pernah Ryouta temui lagi semenjak perpisahan di Our Home tujuh tahun lalu.
Ah, sebenarnya Ryouta hanya pernah bertemu dengan Shintarou beberapa tahun lalu, tidak sengaja, dan Seijuurou yang sekarang menjadi teman lesnya. Tapi anak laki-laki yang satu itu adalah yang paling sulit dia ketahui keberadaannya. Dari yang Ryouta tanyakan pada Izuki beberapa bulan lalu, anak itu memang sering pindah sekolah.
"Ryouta, ke sini sebentar." Kakak pertamanya memanggil dari meja yang posisinya tidak jauh dengan posisi salah satu saudara kesayangannya semasa di Our Home itu. "Cepat." Langkahnya terasa berat, tapi mau-tidak mau, Ryouta harus mendekat atau kakaknya akan marah nanti.
"Ada apa, Nee-san?"
Untuk sesaat matanya bertemu pandang dengan mata bermanik kebiruan milik anak laki-laki itu, ada ekspresi kaget yang bisa dia tangkap dari mata itu, tidak terlihat jelas di wajahnya memang, tapi hubungan yang mengikat mereka adalah alasan kenapa Ryouta tahu kalau ada ketakutan yang sama dalam diri anak itu dan dirinya.
"Perkenalkan, ini adik saya. Kise Ryouta."
Ryouta mengalihkan pandangannya untuk menyapa salah satu tamu di acara ulang tahun teman dekat kakaknya. Bersikap se-profesional mungkin untuk memberi kesan baik.
Hal seperti ini bukan lagi sesuatu yang baru, menghadiri acara seperti ini selalu menjadi ajang menjual diri pada banyak pihak yang mungkin bisa membantu karir dirinya ke depan nanti, Miyaji Kiyoshi selalu mengingatkan Ryouta tentang itu. Tapi dengan alasan apa anak itu bisa berada di acara yang hampir setengah tamu undangannya adalah nama-nama orang entertaimen?
"Lebih tampan aslinya memang." Ryouta mengangguk berterima kasih atas pujian dari pria kemayu di hadapannya. "Oh ya, nama saya Kuroko Ryo."
Kuroko?
Ryouta menerima kartu nama yang bertuliskan nama pria tersebut. Dia adalah seorang direct programer acara televisi di salah satu stasiun televisi nasional. Satu lagi orang penting yang harus Ryouta dekati demi karirnya ke depan nanti.
"Oh ya, Ryouta-kun aku dengar kau berteman dengan putraku."
"Putra? Bukannya Kuroko-san itu..." kakaknya tidak melanjutkan kalimatnya dan justru membiarkan pria kemayu di hadapan mereka memanggil nama anak laki-laki yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka. "Tetsuya, ke sini sebentar."
Dan benar saja, sosok anak laki-laki yang sempat bertemu pandang dengannya tadi kini berdiri di samping pria yang mengaku sebagai ayah anak itu.
"Kalian saling kenal, kan?" Ryouta tidak bisa menjawab, begitu juga Tetsuya di hadapannya. "Tetsuya sering menceritakan tentang Ryouta-kun dulu. Kan, Tetsuya?"
Dia mengangguk, tapi jelas terlihat ada ekspresi bersalah di matanya. Ah, Ryouta mengerti kenapa dia bersikap seperti itu, karena pada dasarnya Ryouta juga akan seperti itu jika berada pada posisi yang sama.
"Ah, Papi, katanya hari ini kita mau pergi ke restoran yang waktu itu." Kali ini wajahnya menunjukan ekspresi yang terlihat jelas. Senang dan ingin dimanja, ekspresi yang dulunya hanya bisa Ryouta lihat saat Tetsuya sedang bertugas untuk merayu Izuki Shun agar dia dan kawan-kawannya diijinkan untuk main ke luar.
"Okey, sabar. Papi pamit pada yang lain dulu."
Itu memang jurus pamungkas yang selalu berhasil meluluhkan hati siapapun, dan Tetsuya selalu melakukan itu saat Daiki dan Seijuurou sudah sama-sama gagal. Dia adalah kebanggan saudara-saudara yang lain kalau untuk urusan rayu-merayu.
Setelah kepergian dua orang itu, kakak perempuannya menyenggol satu lengan Ryouta. "Kau kenal anak itu di mana?"
"Ah, itu ... saat masih di Our Home."
"Oh~" pucuk kepala Ryouta diberi puk-puk pelan. "Jangan terlalu dekat dengan anak itu, terlalu beresiko untuk karirmu ke depannya nanti. Tidak ada yang tahu tentang masa lalumu, dan dia itu anak pasangan gay—kalau yang Kuroko-san bilang tadi benar, berarti anak itu punya dua ayah dan tidak punya ibu, karena Kuroko-san sendiri tidak menutupi fakta kalau dia seorang gay."
Anak pasangan gay?
Oh, harus seberapa banyak lagi Ryouta dikejutkan hari ini hanya karena Tetsuya yang muncul di hadapannya. Harus seberapa lama lagi dirinya berpura-pura tidak mendengar dan melihat apapun seperti ini. Padahal yang muncul di hadapan Ryouta adalah salah satu saudara kesayangannya, orang yang selalu menenangkan Ryouta setiap kali bertengkar dengan Daiki atau Satsuki. Itu adalah Tetsuya yang selalu membagi separuh es krim cokelatnya untuk bertukar dengan es krim vanila milik Ryouta. Orang yang sangat dirindukan.
Ah, aku merindukannya.
Berbeda dengan saat pertama kali bertemu dengan Seijuurou, bertemu dengan Tetsuya kali ini jadi lebih menegangkan.
"Hey, kau dengar?"
"Ya, aku dengar, Nee-san."
"Bagus kalau begitu."
0o0o0o0o0
Atsushi memilih untuk tetap tinggal di ruang tengah dan menonton televisi sekalipun hari sudah larut. Bukan karena ada acara yang ingin ditonton, sebaliknya Atsushi justru tidak tahu apa yang harus dia lakukan malam ini makanya dia memilih untuk duduk berhadapan langsung dengan televisi layar besar di ruangan itu. Setidaknya kalau dia tetap terjaga sampai malam ada alasan masuk akal yang bisa ia katakan pada ayahnya nanti.
Semenjak ayahnya mengijinkan Atsushi untuk ikut pelatihan di Tokyo saat musim panas nanti, entah karena alasan apa pikirannya jadi sedikit kacau—gelisah. Atsushi bilang pada Himuro Tatsuya tentang liburan musim panasnya yang akan dihabiskan di Tokyo, ia sendiri sudah punya niatan untuk mampir ke Our Home, untuk sekedar menyapa Izuki dan Himuro juga melepas kangen akan saudara-saudaranya sambil melihat-lihat rumah pertama tempat ia dibesarkan. Tapi niatan itu juga yang akhirnya menjadi alasan kegelisahannya belakangan ini.
Himuro Tatsuya bilang kalau dalam waktu dekat saat liburan musim panas nanti Kise Ryouta akan mengadakan acara amal di Our Home, dan pada kesempatan itu mereka ingin mengundang Atsushi untuk ikut datang.
Atsushi tidak sebegitu bodohnya sampai tidak sadar kalau ada kemungkinan saudara-saudaranya yang lain akan mendapat undangan yang sama juga. Mungkin itu adalah kesempatan bagus baginya untuk temu kangen dengan mereka, tapi menghadapi kesempatan langka itu juga butuh banyak keberanian—dan sejauh ini Atsushi tidak yakin dirinya cukup berani untuk menghadapai saudara-saudaranya dalam waktu dekat.
Mengingat apa yang salah satu teman sekelasnya katakan tempo hari, ada ketakutan yang luar biasa mencekam setiap kali pikiran untuk menemui salah satu dari mereka muncul kepermukaan. Pola pikir yang selalu dianggap bodoh dan sederhana oleh orang-orang di sekitarnya sekarang tidak ada, berganti dengan pikiran buruk yang rumit untuk diuaraikan.
Dari sejak di Our Home dulu Atsushi memang salalu dianggap paling bodoh dalam hal tindakan, dan dia sendiri tidak keberatan. Toh, pada kenyataanya memang Atsushi lebih suka saat ada yang memberinya perintah atau aturan tertentu, karena melakukan sesuatu atas kehendak sendiri itu merepotkan. Atsushi tidak pandai bertanggung jawab atas sesuatu, jadi lebih baik bergerak berdasarkan perintah—kecuali dalam hal makanan dan jajanan tentu saja.
Kebodohannya itu masih mengabadi sampai saat ini. Mungkin karena Atsushi nyaman menjadi seperti ini, mungkin karena Atsushi tidak ingin repot-repot memilih, mungkin juga karena Atsushi pribadi tidak memiliki hal lain yang diinginkan selain makanan dan jajanan. Yang pasti sejak di Our Home perannya tidak lebih dari sekedar pengamat bagi yang lain.
Karena ia hanya akan bergerak ketika Seijuurou meminta, ketika Shintarou menyuruh, saat Daiki atau Ryouta yang memaksa, atau saat Satsuki dan Tetsuya butuh bantuannya, jadi mungkin Atsushi adalah yang paling tahu bagaimana tingkah saudara-saudaranya yang lain—selama sedang tidak teralihkan dengan makanan tentu saja. Mungkin dia yang paling mengerti seperti apa sebenarnya sifat saudara-saudaranya selain kedua pengawas yang selalu repot karena ulah mereka.
Atsushi ingat betul, dulu mereka adalah yang terbaik yang bisa membuat Kagetora-san geleng-geleng kepala, Izuki Shun menghela napas pasrah, dan Himuro Tatsuya mati-matian meminta Aida Riko untuk berhenti mengomeli mereka. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekompakan dari mereka bertujuh saat niat usil mereka sudah terencana dengan baik, bahkan ketika itu adalah rencana spontan sekalipun mereka tetap akan kompak, karena pada dasarnya tidak ada yang bisa membuat mereka benar-benar terpisah.
Sayangnya itu dulu. Sekarang semuanya mungkin sudah tidak sama lagi, mungkin sudah banyak yang berubah dan tidak ada lagi kekompakan seperti dulu.
Sangat menakutkan.
Untuk seseorang yang selalu berdiri di barisan paling belakang dan memperhatikan punggung saudara-saudaranya seperti Atsushi, hal yang paling ia takutkan adalah ketika dirinya sadar bahwa punggung-punggung kecil di depannya ternyata kini membawa beban berat tanpa ia sadari, dan tidak ada satupun dari mereka yang meminta bantuan. Atsushi takut kalau tangan-tangan kecil yang dulunya saling bergandengan di depannya kini justru saling berjauhan, tersimpan hanya untuk diri sendiri. Atsushi juga takut kalau harus menerima fakta bahwa pikirannya yang selama ini menganggap semuanya baik-baik saja ternyata salah.
Tujuh tahun adalah waktu yang lama, cukup untuk mengubah sebuah desa kecil menjadi kota kecil. Tujuh tahun itu juga mungkin bisa membuat semua kenangan masa lalu mereka memudar dan hilang dari ingatan saudara-saudara yang lain.
Semua itu menakutkan, tapi tetap saja aku merindukan mereka.
"Ya, ada apa kau menelepon tengah malam seperti ini?"
"Tatsu-nii, tentang liburan musim panasku nanti."
"Kenapa? Kau jadi ke Tokyo, kan?"
"Jadi, tapi aku ragu apa aku harus ikut hadir. Maksudku itu acara Ryouta, harusnya tidak ada orang luar yang terlibat di sana, kan?"
Ada helaan napas yang kentara jelas dari balik sana. Himuro Tatsuya mungkin kecewa karenanya. Atsushi juga sudah siap untuk menerima ceramah panjang lebar, tapi yang didapat sebagai jawaban justru hal yang mengejutkan. "Kalau kau tidak mau ikut aku tidak akan memaksa."
Singkat. Padat. Jelas. Tapi jawaban itu entah kenapa membuat Atsushi merasa kecewa juga. Bukan itu yang ingin ia dengar, bukan itu yang diharapkan saat ia memilih untuk menelepon satu-satunya orang yang paling bisa diajak curhat. Atsushi ingin jawaban lain.
"Tapi apa kau yakin? Ini mungkin satu-satunya kesempatanmu bertemu dengan yang lain untuk beberapa tahun ke depan."
"Tapi aku takut."
"Apa yang kau takutkan?"
"..."
"Untuk sekarang, pikirkan saja dulu baik-baik. Selama kau tidak menyesali keputusanmu aku akan terima nanti. Kau paham?"
"Um."
"Kalau begitu, aku tutup ya. Sudah malam kau harus tidur. Besok kau berangkat sekolah, kan?"
"Iya."
"Selamat malam, kalau begitu."
"Selamat malam, Tatsu-nii."
Ah, menyebalkan. Merepotkan. Atsushi tidak suka ini.
0o0o0o0o0
Izuki memperhatikan Himuro dari belakang saat berbicara dengan Atsushi di balik teleponnya. Ini sudah tengah malam, dan Himuro yang menerima panggilan juga terlihat sedikit kesal. Gestur tubuh kawannya itu menjelaskan kalau dia sedang kesal karena satu hal.
"Dia harus belajar memutuskan sendiri apa yang ingin dilakukan." Itu yang Izuki dengar setelah panggilan tadi berakhir dan Himuro kembali mendekat padanya.
"Terjadi sesuatu dengan Atsushi?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya keluhan seperti biasa."
"Tapi sepertinya kau..."
"Semua baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, aku hanya mengajari dia caranya untuk jadi sedikit lebih dewasa." Katanya sebelum mengambil cangkir kopi yang tersanding di antara mereka.
Malam ini lagi-lagi Izuki tidak bisa tidur. Terlalu banyak pikiran.
Besok rencananya Miyaji Kiyoshi, menejer Kise Ryouta sekaligus kawan baiknya akan datang berkunjung ke Our Home untuk menemui Kagetora-san dan Izuki sendiri. Tentu saja untuk membicarakan rencana acara amal yang akan melibatkan artis cilik ternama di bawah naungannya. Karena itu juga pikiran Izuki jadi sedikit kacau.
Mungkin Ryouta baik-baik saja, karena memang itu adalah acara yang dibuat untuk meningkatkan citranya sebagai artis cilik yang akan segera debut memasuki dunia entertaimen orang dewasa dalam waktu dekat. Tapi bagi anak-anak yang lain, tidak ada alasan untuk mereka datang ke Our Home juga di hari yang sama.
Izuki takut kalau dirinya justru menjadi alasan yang membuat anak-anak itu terjebak pada perasaan gelisah. Mengahdapi masa lalu yang sudah lama ditinggal bukan hal yang mudah, bahkan bagi orang dewasa seperti Izuki sekalipun.
"Shun."
"Ya?"
"Apa kau takut?"
"Tentu saja. Aku tidak tahu apa mereka akan senang jika dipertemukan kembali. Siapa yang tahu kalau mereka tidak ingin bertemu satu sama lainnya, kan?"
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku?"
"Apa kau tidak ingin bertemu dengan mereka?"
"Aku mau, tentu saja. Aku merindukan mereka. Tapi tetap menakutkan. Memikirkan aku akan berhadapan langsung dengan mereka saja sudah cukup menakutkan."
"Kalau begitu mereka juga pasti memikirkan hal yang sama."
0o0o0o0o0
15/05/2019
Maaf untuk kalian yang menantikan kelanjutan fanfik ini, aku sedikit berkendala karena feelnya udah rada ilang, sukur masih ada kerangka yang aku buat jadi sedikit-sedikit masih bisa untuk dilanjut. Sekali lagi, maaf updatenya lama.
Tenang aja, aku ngga ada niat buat nelantarin fanfik ini kok~
Terima kasih untuk yang bersedia nunggu lama dan meninggalkan jejaknya.
Segitu aja dariku.
Bye~
