"aku tahu kau mencintai naruto mungkin mencintainya… Tapi bisakah… Kau menerimaku?"
'clap'
Rose Boy and Lavender Girl
Chap. 4
Naruto is belongs to Masashi Kishimoto.
Thanks and sorry. Hope you like it.
Mata Hinata terbuka. Ia bisa melihat mata Gaara dengan jelas di hadapannya. Mereka sangat dekat, jarak mereka hanya berpaut 7 centi. Kekagetan juga jelas tergambar di wajah Gaara, kedua matanya terbuka cukup lebar.
Hinata sendiri tidak tahu kenapa Gaara begitu dekat. Otaknya terlalu kaget untuk memproses apa yang barusan terjadi dan kalimat yang ia dengar secara samar tadi.
"jika lelah. Tidurlah" ucap Gaara sesaat sebelum berdiri meninggalkan Hinata sendirian terbengong dikamarnya.
"apa yang barusan Kazekage sama katakana…" pikiran itu masih terngiang di kepala Hinata semalaman. Ia terus memutar kembali scene-scene yang barusan terjadi dan mencermati dengan harapan ia akan menemukan apa yang tidak ia mengerti.
06.00 ~dapur
Suara desisan kompor merebus sup dan panggangan yang sedang memanggang daging serta aroma yang keluar dari dapur tersebut berhasil mengundang sang Kazekage Gaara dari bangunnya.
Gaara masih menggunakan pakaian rumahnya. Kaos oblong berwarna coklat dan celana panjang berwarna hitam. Matanya memandang sekeliling dapur mencari sosok yang sudah membangunkannya dengan aroma masakan yang dimasaknya.
Gaara tahu ini terlalu pagi untuk pembantu yang ia sewa untuk memasak tiap paginya dan sore harinya. Jadilah ia bingung dengan asal aroma yang begitu enak.
"Kazekage-san?" ucap Hinata kaget melihat Gaara yang sudah ada di ambang pintu antara dapur dan ruang makan. Ia kaget melihat Gaara yang sedari tadi mengamatinya.
"masakanmu…" ucap Gaara datar.
"i-iya?"
"gosong"
"eh? Go-gosong?" Hinata mengamata arah mata Gaara yang melihat ke arah panggangan yang ia gunakan memanggang daging.
Asap hitam sudah mengepul cukup tinggi. Aroma enak yang barusan Gaara cium menjadi aroma gosong yang bahkan bisa ia bayangkan rasa pahit dari bagian daging yang gosong tadi.
Dengan cepat Hinata mematikan kompor panggangan dan membalik daging tersebut menunjukuan sisi danging yang sudah berwarna hitam. Dengan menggunakan sumpit ia tusuk-tusuk bagian dari daging tersebut. Keras, itulah yang Hinata rasakan. Wajahnya Nampak kecewa dan bersalah. Sedangkan Gaara dengan wajahnya yang datar tapi bisa dilihat engan jelas ia menahan tawa.
"maaf" ucap Hinata perlahan sambil menyodorkan teh hangat pada Gaara yang sudah duduk di meja makan.
"hn. Baunya enak"
"benarkah?" hinta senang Kazekage memujinya.
"tadinya"
Baiklah satu kata tadi sudah berhasil membuat Hinata kembali tertunduk murung. Hinata memeluk kembali nampan yang ia gunakan untuk membawakan teh pada Gaara.
"permisi" ia mengucapkannya sesaat sebelum ia kembali kedapur, berkutat kembali bersama masakannya. Memulai kembali memanggang daging dan memotong bagian daging yang sudah gosong dan menyulapnya kembali menjadi tempura dengan membalutnya menggunakan tepung.
Hinata membuka salah satu panci yang ia gunakan untuk memasak nasi. Ia mengmbil centong kayu dan mengaduk aduk nasi mengecek kematangannya. Serasa sudah pas ia mematikan kompor dan membiarkan nasinya dalam keadaan terbuka agar tidak terlalu panas.
Sup yang ia masak sudah mendidih. Wortel, brokoli, jamur, tahu, ikan dan daun bawang sudah cantik berendam di dalam panci berisi air kaldu.
Selanjutnya yang akan Hinata masak adalah sisa bahan makanan dan menumisnya bersama bumbu bumbu.
"Kazekage-san apakah anda suka rasa pedas?" tanya Hinata perlahan.
"tidak, tidak terlalu"
"baiklah"
Buru-buru Hinata melanjutkan masakannya menumis bumbu dengan minyak lalu memasukkan sisa bahan masakannya.
Sedangkan Gaara sedari tadi hanya duduk membelakangi Hinata sambil membaca koran dan menikmati bau harum masakan Hinata.
TADA!
Hinata sedang menata hasil masaknnya di atas meja. Meletakan disetiap piring dan sumpit berdampingan tanpa menghiraukan Gaara yang sedang membaca koran di hadapannya. Sesaat ketika Hinata sudah selesai, kankurou sudah turun sambil menguap memasuki ruang makan mengikuti aroma sedap dari masakannya.
"apa kau yang memasaknya Hinata?" tanya kankurou sedikit tak percaya.
"heem!" Hinata menjawabnya sambil tersenyum dan malah membuat kankuro terkagum kagum.
"sendirian?"
"begitulah"
"dari mana kau dapat bahan makanan ini?" temari yang tiba-tiba ada disitu langsung menginterupsi.
"saat perjalanan ke sini kemarin ada satu pasar. aku pergi dan membeli bahan-bahan ini di sana."
"tapi jujur, aku sangat ingin memakan semuanya!" ucap kankurou semangat. Ia menarik kursi yang dekat dengannya mengambil nasi dihadapannya dan menaruh beberapa lauk di atas nasinya kemuadian langsung melahapnya.
Hinata senang melihat kankuro bertingkah seperti itu. Ia merasa masakannya sudah diterima dengan baik di rumah barunya ini. Ia senang bagian daging yang tidak gosong yang sudah jadi tempura juga terasa enak, dan ia senang walau tipis ia bisa melihat senyum Gaara.
"fyuuh..." kankuro mengelap kringat yang mengalir perlahan di dahinya. Ia benar-benar merasa puas dengan rasa masakannya Hinata pagi itu.
"trimakasih makanannya Hinata. Lain kali kalau mau kuantar ke pasar panggil saja aku" ucap kankuro sambil menunjukan ibu jarinya dan mengedipkan mata kirinya kemudian kembali keatas.
"aku akan kembali bekerja setelah ini. Panggil saja aku jika ada yang kau butuhkan" ucap temari sambil berlalu.
Diam, Gaara hanya diam sambil membca kertas laporan kasus yang ada seminggu ini. Sedangkan Hinata hanya bungkam menunduk sambil menumpuk piring piring kotor agar mudah dibawa ke bak pencuci piring.
"taruh saja piring kotornya. Akan ada yang mencucinya nanti"
"ta-tapi..."
"sudah, ikutlah denganku"
"eh?"
"kau belum tahu seperti apa suna bukan?"
"i-iya." Hinata sempat bingung dengan ucapan Gaara. Sesaat setelah ia mengerti "aku akan bersiap!" ia langsung mengucapkannya dan pergi ke kamarnya setengah berlari.
Gaara hanya terkekh melihat tingkah Hinata. Apalagi saat Hinata kemabli di hadapannya membuatnya sedikit bingung ditambah dengan Hinata yang tiba-tiba membungkuk sambil mengucapkan permisi lalu pergi kembali hampir membuatnya geli. Ia terkekeh pelan melihat kelakuan Hinata yang sedikit kekanakan.
Mereka berjalan berdua menyusuri jalan berpasir milik suna. Terik matahari bukan masalah bagi mereka berdua yang sudah biasa menjalai misi selama beberapa tahun di berbagai cuaca dan musim. Hinata tidak seperti perempuan kebanyakan yang akan mengeluh panas dan kulit hitam. Karna pada dasarnya Hinata memiliki kulit yang putih pucat, yang tidak akan berpengaruh pada cuaca panas.
"kau ingin kemana(?)" kalimat yang Gaara ucapkan tidak ada nadanya. Sangat datar seperti kalimat biasa tapi itu pertanyaan. Membuat Hinata bingung harus menjawab seperti apa.
"em... entahlah Kazekage-san"
"mau kepasar?" tawar Gaara.
"baiklah"
Mereka berjaan menuju pasar yang berisi aneka ragam mainan, pakaian, aksesoris dan jajanan asli suna. Mereka berjalan berdampingan dan tidak saling memandang, Gaara melihat lurus kedepan sedang Hinata menunduk sambil sesekali melihat ke kanan dan ke kiri.
"mau mencobanya?" ucap Gaara berhenti di depan sebuah toko pakaian. Lagian Hinata pasti juga belum punya baju yang cocok untuk ia gunakan di cuaca seperti di suna.
"tapi..."
"tidak papa. Cuaca suna saat malam sangat dingin dan siang juga sangat panas"
Hinata tidak bisa membantah Kazekage di hadapannya. Ia tegas dan ia tidak bisa menolaknya, menolak kebaikan yang sangat jarang ia dapatkan dari petinggi negara yang sangat penting ini. Hinata mengikuti Gaara memasuki toko tersebut. Membiarkan Gaara berbicara pada salah satu penjaga toko dan membiarkan penjaga toko memilihkan baju yang pas untuk Hinata.
Gaara duduk menunggu Hinata memilih pakaian bersama penjaga tadi. Belanjanya perempuan pastilah lama. Itu yang ia pikirkan jika ia harus menengok temari, kakanya yang bisa menghabiskan waktu seharian untuk berbelanja.
Shikamaru, Kiba, Shino dan Neji bersiap-siap sebelum pergi meninggalkan tanah suna. Mereka kembali membereskan kamar yang ia gunakan untuk tidur semalam.
"huh... sebentar lagi Hinata akan menikah dan Hinata bakal jadi nona sabaku" ucap kiba sambil menerawang ke atas dan di iyakan oleh gonggongan akamaru.
"iya... aku pasti merindukannya" ucap shino mengiyakan.
"Hinata sama adalah orang yang baik"
"sudahlah kita harus segera bergegas ke konoha sekarang"
"hem!" jawab mereka semua mantap. Mereka kembali membereskan semuanya. Sambil mengingat apa yang sudah mereka semua lakukan bersama Hinata sebelu ini.
"sudah?" tanya Hinata yang kembali dengan tas penuh pakaian. Hinata tidak tahu apa yang dipikirkan Kazekage di hadapannya ini. Ia berkata pada penjaga untuk mengambil semua pakaina yang sudah di pegang Hinata. Yang artinya nyaris 40 lembar pakaian yang ia sentuh sengaja atau tidak sudah ada di tangannya.
Hinata hanya mengangguk.
"berikan padaku" Gaara mengambil tas pakaian dari tangan Hinata dan memberikannya pada penjaga toko untuk mengantarkannya ke rumahnya. Ia tidak mau repot-repot membawa pakaian sebanyak itu selama waktu jalan-jalan ini.
"ayo"
Gaara berjalan di depan Hinata, membiarkan Hinata mengikutinya. Sekarang pasti sudah saatnya rombongan dari konoha kembali ke desa mereka. Ia ingin mengucapkan perpisahan, formalitasnya mengantar mereka pulang.
Mereka semua sudah di depan gerbang suna bersama temari dan kankurou saat dia dan Hinata datang mendekat.
Mereka hanya berbasa-basi singkat sebelum benar-benar pergi dan kiba yang memeluk Hinata sebagai ucapan selamat tinggal. Mereka semua hanya bisa tersenyum melihat perpisahan yang petinggi desa buat untuk Hinata dan Gaara.
Gaara melihat Hinata yang tiada hentinya melihat kepergian mereka, padahal mereka sendiri sudah tidak terlihat bagi Gaara. Tapi disini Gaara yakin Hinata mengaktifkan byakugannya untuk melihat mereka pergi jika dilihat dari urat-urat yang muncul disekitar mata Hinata.
"taukah kamu? aku merindukanmu Naruto-kun."
-TBC-
Untuk kalian semua yang selalu mengingatkanku. Maaf karna sudah menungguku dan Trimakasih karna sudah mau menungguku.
Untukmu yang selalu menerorku meminta kelanjutannya, trimakasih sudah mengingatkanku dengan tanggung jawabku yang satu ini. Banyak hal terjadi di tahun sebelumnya. Aku tidak bisa mengatakannya karna itu menyedihkan. Tapi trimakasih dan maaf.
Jujur aku sedih setiap ada 1 review yang muncul aku merasa sedih aku terlalu takut dan tidak ingin membuat kalian kecewa. Walaupun kalian sudah kecewa. Aku sudah menelantarkan ini selama 2 tahun dan mengubur imajinasiku bersamanya. Tapi kuharap kalian menyukainya.
Untuk permintaan maafku. Maukah kalian membaca satu fic ini. Ini adalah permintaan maafku. Rose Boy and Lavender Girl: Unwritten Memory.
