Rose Boy and Lavender Girl
©Naruto is belongs to Masashi Kishimoto
Warn. OOC, slight NaruSaku.
Hope you like it.
Sore itu adalah saat paling asri di Konoha. Angin bersemilir damai menerbangkan daun daun kering yang berjatuhan. Bunyi gesekan antar daun kering dan rumput benar-benar bisa membawa perasaan tenang siapapun.
Seperti seorang gadis berwajah cantik dengan mata emeraldnya. Dia hanya sedang duduk menikmati kenyamanan sore hari di Konoha guna menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Ia merindukan teman lamanya. Teman lamanya yang membuat dirinya sendiri mengagumi dan menyukainya. Sasuke, dia rindu Sasuke, dia rindu sikap dingin dan acuh takacuh temannya itu.
Walaupun semua orang sudah tahu kalau Sasuke tidak akan kembali lagi ke Konoha, tapi tidak ada salahnyakan berharap dan bergantung pada suatu hal?
"Sakura..." suara yang sangat ia kenali. Suara salah satu rekan satu timnya yang penuh semangat terdengar lirih sekarang.
Sakura membalikkan kepalanya. Ia tidak terkejut dengan kedatangan Naruto atau apapun. Namun dia merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri Naruto, sesuatu yang bukan Naruto. Sakura bisa melihat kesedihan dan kebencian dalam mata Naruto.
"aku masih belum bisa melupakannya Naruto..." Sakura kembali menghadap kedepan menikmati semilir angin dan membiarkan air matanya menetes perlahan.
Hinata masih berbelanja sore itu. Ia dilarang untuk belanja di pagi buta karna masalah keamanan. Ia mungkin memang seorang ninja yang tangguh, tapi tak sedikit orang yang akan mengincar nyawanya setelah mengetahui kalau dirinya adalah tunangan Kezekage Sunagakure.
ia sedang memilih sayuran hijau untuk makan malam atau sarapan esok. Suna memang negeri yang kering tapi hinata penasaran darimana semua sayuran dan buah yang segar-segar ini.
"saya tidak pernah melihat nona" seorang ibu-ibu penjual sayur berkata dengan sopan.
Hinata hanya tersenyum menanggapi pertanyaan ibu-ibu itu.
"Lupakan Sasuke dan lihatlah aku!" Naruto berteriak.
"maaf..."
"Sakura!" Naruto mencengkram kedua lengan Sakura, memaksanya melihat kedalam matanya.
"tidak bisakah kau melihatku? Lihatlah aku!"
"Naruto..." Sakura kaget dengan sikap Naruto.
"bukankah menyakitkan, memperhatikan orang yang bahkan tidak pernah melihatmu?"
"aku penasaran Naruto sedang apa sekarang..." Hinata bergumam. Ia memang merindukan Naruto, ia merindukan senyum dan semangat laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.
Tapi sayang, first love is never come true. Naruto sudah menyukai gadis berambut merah muda, teman satu timnya. Kisah mereka seperti drama, dimana Naruto menyukai Sakura yang menyukai Sasuke dan Hinata berada di posisi menyukai Naruto yang tidak akan pernah bisa melihat kearahnya.
Sakura membuang mukanya. "aku tahu itu..."
"maka lihatlah aku! Setidaknya untuk sekali... alihkan matamu padaku"
"aku─" Sakura sudah hampir menangis.
Naruto melepaskan cengkramannya dan memeluk Sakura lembut.
"Aku menyukaimu Sakura... aku mencintaimu. Aku bisa melakukan lebih banyak hal ketimbang Sasuke" Naruto berkata dengan lembut. Perkataannya jauh lebih lembut dan ketimbang angin yang berhembus.
Sakura terisak kecil. Ia menggigit bibir bawahnya menahan suara yang mungkin bisa didengar Naruto.
"seandainya kita tidak pernah bertemu, aku penasaran akan seperti apa diriku" Hinata menunduk, dia ingat kembali saat-saat Naruto menyemangatinya di ujian chunin dan Naruto yang selalu menolongnya.
'apa sekarang kita teman?'
Hinata seperti mengingat sesuatu. Pertanyaan dari seseorang yang terlupakan. Seseorang yang berharga dari masa lalunya. Seseorang yang sempat menjadi temannya untuk satu hari.
"dia siapa..."
"untuk kali ini percayalah padaku" Naruto mengatakannya dengan yakin. Ia melepaskan dekapannya dan memegang pundak Sakura.
"mulai sekarang, biarkan aku mempercayaimu Naruto." ucap Sakura dengan senyuman. Dan disambut denagn pelukan lembut Naruto dan ini menjadi kali pertama Sakura membalas pelukan Naruto.
Angin berhembus lembut membawa dedaunan menari di udara dan suara gesekkan daun yang menenangkan.
Gaara sedang mengerjakan setumpuk laporan di ruangannya. Ia ingin cepat pulang karna rasa lelah yang terus menerus menggerogotinya, ia belum istirahat sejak 4 hari lalu. Setelah shukaku diambil akatsuki ia sudah bisa tidur, tapi karna kebiasaanya yang tidak pernah tidur ia menjadi seorang yang insomnia. Tidur satu bulan sekali juga tidak jarang ia lakukan.
'tok tok tok'
"masuklah"
"Sabaku-san"
"Hyuuga?" Gaara mengernyit. Untuk apa Hinata datang sore-sore seperti ini di ruangannya.
"mmm... aku ingin mengucapkan trimakasih untuk tadi siang" Hinata mengucapkan dengan menunduk.
"oh"
Hinata diam, ia tidak tahu harus apa sekarang. Gaara juga sama saja, ia tidak merasa terganggu dengan kedatangan hinata sekarang. Hanya saja ia merasa tidak nyaman jika harus dalam keadaan diam seperti ini.
"kau sibuk?"
"eh? Ti-tidak" hinata menggelang cepat.
"mau membantuku?" Gaara mengarahkan matanya pada kertas laporan yang menumpuk di mejanya.
"baiklah" Hinta mengangguk senang. Setidaknya Gaara tidak semenakutkan yang pernah ia pikirkan sewaktu ujian chunin dulu.
Hinata melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di ruangan tersebut, sofa itu mengelilingi satu meja di tengahnya. Hinata duduk mengambil sofa yang paling panjang dan menaruh belanjaanya di samping sofanya. Sedangkan gaara menumpuk kertas laporannya menjadi satu dan membawanya ke tempat hinata duduk. Gaara mengambil sofa yang ada di hadapannya hinata, ia tidak senang jika harus duduk di samping orang lain. Karena baginya ia tidak akan bisa melihat dengan jelas bagaimana orang tersebut.
"apa yang harus aku lakukan Sabaku-san?" tanya Hinata sambil membaca beberapa lembar kertas laporan di tangannya.
"Gaara. Rasanya aneh karena Sabaku itu julukanku" Gaara yang tengah sibuk membaca rentetan kata yang ada didalam kertas membenarkan. Iya memang benar julukannya adalah Sabaku no Gaara, Sabaku bukanlah namanya.
"mmm. Apa yang harus aku lakukan Gaara-san?" ulangnya.
"pisahkan saja antara kelas A sampai SS"
Hinata mulai mengerjakan apa yang dipinta Gaara. Ia melihat label laporan dan membaca sekilas kasus yang ada di lembaran-lembaran laporan tersebut.
"Ga-Gaara-san bisakah kau memanggilku Hinata?"
Gaara hanya memandang Hinata bingung dan mengankat alis imajinernya.
"uh eh. Sebentar lagi kita akan menikah, rasanya akan aneh jika Gaara-san masih memanggilku dengan nama keluargaku" Hinata memandang sisi kirinya, mencari-cari alasan yang masuk akal untuk permintaan bodohnya.
"Hi-na-ta?" ejanya
"iya?" Hinata menjawab dengan senang karena Gaara mau memenuhinya.
"lanjutkan pekerjaanmu"
"baiklah!"
Hari sudah semakin malam dan udara dingn sudah mulai menusuk-nusuk kulit menerobos masuk lalu membekukan tulang setiap orang.
Gaara dan Hinata sedang berada dalam perjalanan pulang setelah menyortir beberapa dokumen. Dingin adalah udara perasaan mereka beruda. Tidak ada yang memulai pembicaraan atau berencana memulai pembicaraan. Semua itu bukan karena mereka menikmati moment berdua mereka tapi karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan saat sedang seperti ini.
Bagi Gaara bisa bertemu dengan Hinata lagi sudah sangat menyenangkan tapi bagi Hinata bisa berada disamping Gaara adalah hal yang tidak pernah diduganya.
Mereka melewati perjalanan pulang hanya dengan rasa dingin di tulang dan hati mereka. Kita semua tidak tahu apa yang membuat mereka kuat dalam perjalanan pulang malam ini. Dan semua kediaman ini dimulai dari pertanyaan Gaara "Hinata, kau masih menyukai Naruto, kan?"
-Tbc-
Mind to read? Mind to review?
Maaf updatenya masih enggak bisa cepet, dan word-nya juga masih enggak bisa banyak tapi selama kalian masih mau membaca, mengapresiasi ini aku kan terus berusaha menyelesaikan semua ini. Aku juga masih sering terharu kalo mbaca review-review dari kalian :') aku sering duduk dipojokan dibalik pintu sambil mbaca review, terkadang itu jadi semangat buat nyempetin ngetik kelanjutan ini.
Trimakasih untuk kalian semua. Aku saying kalian :')
