Disclamer : Haikyuu (c) Furudate Haruichi
Genre : Adventure, Mistery, Fantasy, etc.
Rating : T
SELENIC
by
tetewww
《《》》
"Tadaima." Sugawara yang tengah bersantai sembari menyesap coklat panas di ruang tamu, sontak saja mengalihkan perhatiannya ke arah pintu depan. Dimana terdapat Daichi yang tengah melepaskan sepatu bot nya dan menatanya rapi di rak sepatu.
"Ah, okaeri Daichi. Kau kembali agak terlambat, kurasa." Ujar Sugawara sembari melirik sekilas kearah jam dinding yang menggantung rapi di sudut ruangan.
Daichi menghela nafas berat sembari menyandarkan tubuh lelahnya ke sofa. Kedua kelopak matanya terpejam santai dan tangan kanannya memijat pangkal hidung, mencoba mengusir rasa pusing yang tiba-tiba saja menghantam kepalanya keras.
Sugawara yang sudah kembali duduk di samping Daichi, hanya memandang Daichi dalam diam.
"Kau mau ku ambilkan sesuatu?" Tawar Sugawara.
"Segelas air putih, tolong." Tanpa berkata apapun Sugawara langsung pergi ke dapur. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk kembali lagi ke ruang tamu sembari membawa segelas air putih.
Daichi meminum habis air yang di bawakan Sugawara. Lalu menaruh gelas kosong itu ke atas meja dan kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Sugawara yang merasa sedikit bosan pun akhirnya menyalakan televisi. Ia menekan acak tombol chanel di remote control yang di genggamnya.
Pada chanel ke lima belas, Sugawara menghentikan gerakan tangannya. Merasa sedikit tertarik dengan apa yang tengah di tayangkan di televisi.
"Berita terkini, kasus pembunuhan kembali terjadi di daerah D. Para polisi memperkirakan ini adalah kasus pembunuhan berantai karena korban memiliki luka yang sama dengan korban pembunuhan yang pernah terjadi beberapa saat sebelumnya. Para polisi mencoba menenangkan warga sekitar yang mulai mengkhawatirkan keselamatan mereka dan keluarganya. Sekarang saya bersama inspektur kepolisian yang--"
piip..
Layar televisi tiba-tiba saja langsung menghitam. Sugawara yang sebelumnya tengah terfokus pada layar televisi, langsung mengalihkan pandangannya kearah Daichi yang tengah menjulurkan tangan kanannya kedepan sembari menggenggam remote control, yang sebelumnya di letakan Sugawara di atas meja.
Daichi melemparkan remote di tangannya dengan sembarangan ke ruang kosong di sampingnya. Ia kembali menyandarkan diri pada sandaran sofa dan memejamkan kedua kelopak matanya. Sugawara yang sebelumnya memilih untuk menunggu Daichi sendiri yang bercerita, akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kudengar pimpinan mengadakan rapat hari ini. Benarkah itu?" Ujarnya dengan intonasi datar.
Daichi menganggukan kepalanya sekali sebagai jawaban.
"Lalu, apa hasilnya?"
"Dia meminta agar kita tidak melakukan apapun untuk sekarang. Kecuali jika kita menemukan para stranger yang sedang berkeliaran mencari mangsa, maka di saat itulah kita boleh membunuh mereka agar tidak ada korban yang jatuh."
Sugawara terdiam, tak ada yang bisa ia katakan. Satu hal pasti yang di yakininya, sang pimpinan pasti mempunyai sebuah alasan kuat mengapa ia mengatakan hal itu.
"Dan ya..-"
Suara Daichi kembali menarik atensi Sugawara yang masih berkutat dengan lamunanya.
Pandangan yang sebelumnya menatap kosong ke arah layar hitam televisi itu beralih menatap salah seorang keluarganya.
"Pimpinan meminta kita untuk membawa Kageyama bertemu dengannya."
"Mengapa tiba-tiba? Tidakah dulu dialah yang membuang Kageyama?"
Ujar Sugawara penasaran dengan sedikit nada penuh emosi di dalamnya. Dan gelengan kepala menjadi jawaban yang tidak bisa memuaskan rasa penasarannya. Ia putuskan untuk pergi menuju lantai dua, mencoba mengecek bagaimana keadaan Kageyama. Apakah demamnya sudah turun atau justru bertambah parah.
Ceklek..Sugawara mengintip sejenak melalui celah kecil pintu yang ia buka. Terlihat Kageyama yang masih asik bergelung nyaman di bawah kungkungan selimut tebalnya.
Sugawara lalu membuka pintu itu lebih lebar, melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar untuk mendekati ranjang milik Kageyama. Menyingkirkan helaian hitam sekelam arang itu kemudian meletakan telapak tangannya di dahi Kageyama.
Ketika merasakan suhu tubuh Kageyama yang tidak sepanas pagi tadi, Sugawara pun menghembuskan nafasnya. Namun ia tetap terdiam di samping ranjang Kageyama sembari menatap wajah terlelap sosok yang sudah di anggapnya adik itu.
Seulas senyuman miris terbit di wajah Sugawara.
Tak ingin berlama-lama, ia memutuskan untuk pergi dari kamar Kageyama. Menutup pintu sepelan mungkin agar Kageyama tidak merasa terganggu dan bangun dari tidurnya.
XoX
Skip time~
"Selamat pagi~"
Sapa Kageyama ketika ketika ia baru saja menginjakan kaki di dapur. Di sana, semua penghuni rumah itu duduk sembari saling bercengkrama di meja makan.
Setelah mereka menjawab sapaan Kageyama dan memerintahkan pemuda itu duduk di tempatnya, tepat setelahnya Sugawara membawa menu makanan terakhir untuk sarapan.
"Apa kau sudah baikan Kageyama?"
Tanya Sugawara sembari menatap Kageyama khawatir.
"Memangnya Kageyama-kun sakit apa?"
Tanya Hinata setelahnya sembari mengambil semangkuk penuh nasi beserta lauknya. Kageyama menjawab singkat dengan kata 'Tidak apa-apa' dan dia pun ikut melakukan apa yang Hinata lakukan.
Nafsu makan yang belum sepenuhnya kembali membuat Kageyama hanya mengambil makanan setengah dari porsi makannya yang biasa.
"Kurasa kau memang tidak baik-baik saja."
Ujar Tanaka karena heran melihat Kageyama yang hanya mengambil sedikit porsi.
"Aku hanya tidak merasa terlalu lapar Tanaka-san."
Jawab Kageyama. Dan acara sarapan itu pun berjalan seperti biasa dengan ocehan nyaring dari Tanaka, Nishinoya, dan Hinata. Juga geraman penuh amarah dari Daichi karena ketiga anggita keluarganya itu yang tidak bisa diam.
XoX
Seorang pemuda berusia dua puluhan terlihat tengah berdiri menjulang dengan santainya dia sebuah tembok pembatas atap gedung, gedung pencakar langit yang mempunyai jumlah lantai 80 an.
Jubah hitam bertudung yang di pakainya berkibar terkena hembusan angin hangat. Terik sinar matahari yang menyerap ke dalam tubuhnya serasa api yang membakar setiap sel kulitnya.
Namun pemuda itu terlihat tak menggubrisnya sama sekali.
Tangan kanannya memegang sebuah senapan berwarna hitam dengan ujung senapan yang terdapat sebuah belati kecil. Terdapat sebuah ukiran petir berwarna emas di sisi kanan senapannya, dan di tepi gambar petir emas itu ada sedikit warna silver yang berkilau.
"Hee~ diakah targetnya?"
Seringaian nampak mengembang di wajah rupawannya. Ia arahkan moncong senapan itu kebawah, tepatnya kearah gang yang memisahkan dua gedung pencakar langit itu.
Disana, dibawah gedung itu, tepat di gang sempit itu. Terlihat seorang laki-laki yang tengah menyantap seonggok jasad manusia di tengah kegelapan. Tak ada yang menyadari tindakan laki-laki itu padahal matahari sedang terik-teriknya, dan sang pemuda tampan sangat menyayangkan hal itu.
"Jadi, mari kita bersenang-senang."
Dor!
Jari telunjuknya menarik cepat pelatuk senapan miliknya. Suara letusan terdengar pelan, dan moncong senapannya mengeluarkan cahaya berwarna putih.
Dan entah bagaimana, senapan itu terlihat seolah-olah baru saja mengeluarkan sesosok serigala berbulu putih dengan sepasang mata berwarna biru aquamarine. Melolong dan melesat cepat menuju laki-laki yang masih asik menyantap buruannya itu.
Namun sebelum serigala jadi-jadian itu sampai di bawah, sosoknya tiba-tiba menghilang dan di gantikan dengan sebuah peluru yang menembus tubuh laki-laki itu tepat di kepalanya. Bahkan berhasil membelah tubuh laki-laki itu.
Sosok berjubah hitam itu merilekskan tangannya di samping tubuh, dan senapannya pun tiba-tiba menghilang. Menyisakan kristal-kristal bening yang bersinar tertempa sinar matahari.
"Sayang sekali. Seandainya kau tidak nekat mencari mangsa ke dimensi manusia, maka aku yakin kau pasti masih hidup sekarang."
Ujarnya dengan ekspresi wajah sok dramatis. Ia lalu dengan santainya menjatuhkan dirinya dari lantai 80 sebuah gedung pencakar langit. Dengan wajah yang tersentum tipis, tubuhnya jatuh kebawah melawan hembusan angin karena tarikan gravitasi.
Dan entah bagaimana ia bisa sampai memijak tanah dengan selamat dan langsung pergi meninggalkan gang sempit itu.
To Be Continue
Saya tau kok kalo ini lama.. mohon maaf yaa...
See you next chap~
