H.O.U.N.D
Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others
Rate : T
Length : Parts
H.O.U.N.D
Seokjin tipikal light sleeper. Ia bisa bangun dari tidurnya karena suara-suara ringan seperti ketukan di pintu klinik di samping rumahnya, atau suara pintu terbuka, termasuk suara alat-alat memasak yang berdenting di dapurnya. Ia bersyukur memiliki kelebihan ini–jika terhitung kelebihan–karena Ia dengan mudah bisa bangun jika ada warga desa yang membutuhkan bantuannya tengah malam.
Namun Ia sering kesal atas kebiasannya ini, yang sering membangunkannya atas suara-suara kecil yang kadang tak penting.
Dan malam ini, entah harus bersyukur atau bagaimana, Seokjin terbangun pukul dua karena gedoran di pintu kliniknya. Suara gedoran itu berbeda dari ketukan ringan namun tak sabar yang biasa digunakan warga desa ketika kebingungan tengah malam. Suaranya keras, tegas, dan putus asa.
Lelaki itu, hanya sempat mengucek matanya, langsung berjalan terburu setengah berlari melihat keadaan di luar. Mungkin ini adalah warisan yang diperolehnya selama menjadi residen di rumah sakit di Seoul dulu, Ia bisa fokus bahkan saat baru saja bangun dari tidurnya jika menyangkut pasien dan keselamatan.
"Ya tuhan!"
Itu dua kata yang diucapkan Seokjin begitu Ia membuka pintu klinik yang terhubung dengan rumahnya. Lelaki itu berdarah, nyaris pingsan, dengan tangan menutupi perutnya dan dilumuri darah. Seokjin tak yakin warna baju lelaki itu karena kaus panjangnya dipenuhi debu dan darah, serius!
Ini mirip scene film horor yang Seokjin takuti.
Ketika lelaki di depannya ambruk, Seokjin baru sadar apa yang harus dilakukannya. Ia menarik lelaki yang jatuh terduduk sambil masih menahan perutnya itu, menarik tubuhnya yang cukup berat, lalu membaringkannya.
"Tuan, kau masih bisa mendengarku?" Seokjin memanggil kesadaran pria itu dengan setengah berteriak.
Tak ada jawaban. Seokjin benar-benar baru sadar jika lampu kliniknya masih temaram, belum semuanya menyala. Maka Seokjin berbalik, menyalakan lampu klinik dan meraih stetoskopnya dalam satu gerakan ringkas, lalu memeriksa pasiennya–jika Ia mau disebut pasien.
Tubuhnya dingin. Dengan hipotesa kehilangan darah yang cukup banyak di tambah kemungkinan Ia telah lama berada di luar dengan suhu dingin seperti ini, Ia bisa terkena hipotermia. Seokjin buru-buru mengambil selimut, membungkus tubuh pucat lelaki itu, lalu menepuk pelan pipinya.
"Kau tak mendengarku? Gerakkan matamu jika kau mendengarku!" Seokjin masih berteriak saat melakukannya.
Mata lelaki itu bergerak di dalam pejaman matanya. Lalu mata itu perlahan membuka, melirik sekitar lalu bertatapan dengan mata Seokjin.
Tanpa sadar sang dokter menghela nafas. Lelaki ini memiliki pertahanan diri yang baik.
"Aku tidak bisa menolongmu, aku harus membawamu ke rumah sakit. Kau bisa bertahan?"
Gelengan lemah lelaki itu menjawab teriakan Seokjin.
Si dokter melotot tak percaya, baru kali ini mendapat pasien seenaknya. "Ini klinik desa, Tuan. Aku tak bisa melakukan penanganan untuk luka separah ini jika tak ingin dikenai hukum!"
Lelaki itu menggeleng dengan pelan sekali lagi, menggeram lalu terbatuk. "Obati sebisamu,"
Seokjin hampir menyumpah mendengarnya.
"Jika aku ke rumah sakit, tak hanya aku yang mati tapi juga kau."
Seokjin mencibir, namun kembali kesal setelahnya. "Aku tak bisa menjamin keselamatanmu!"
Lelaki itu menatap mata Seokjin sekali lagi, lalu mengangguk sambil memejamkan matanya. "Jika kita ke rumah sakit, aku tak bisa menjamin keselamatan kita berdua. Lakukan saja,"
Seokjin, sungguh sumpah dewa neptunus, bukan tipikal anak yang penurut yang mau menuruti perintah siapapun–kecuali perintah Ibunya dan Yoongi sejauh ini. Biasanya Ia akan bertindak sesuai logikanya, tak membiarkan orang lain mengatur kehidupannya. Namun ini berbeda, kalimat lelaki itu bisa menyihir Seokjin, membuat si dokter menurut bukan main.
Seokjin melangkah ringan ke meja di kliniknya, meraih gagang telepon dan memencet nomor yang dihafalnya dengan cepat.
"Jaehwan -ie? Kau masih bangun?"
Seokjin melirik lelaki di kasur di kliniknya.
"Ya, kau benar. Aku butuh bantuanmu, sangat. Bisa kau bawakan aku sekantung darah? Tidak, dua kantung darah. Lalu cairan infus, jarum jahit ukuran 4 dan benang bedah."
Seokjin memutar matanya ketika lawan bicaranya bertanya macam-macam. "Bisa kau bawa ke klinikku terlebih dahulu? Akan kujelaskan setelah orang ini kutangani."
Seokjin membanting teleponnya saat Jaehwan berbicara mengenai operasi malpraktik dan sebagainya. Yang Ia butuhkan adalah bantuan alat dari Jaehwan yang notabene kepala dokter di rumah sakit kota. Seokjin berharap lelaki itu bisa sampai 20 menit mengingat Ia membawa mobil sendiri dan lalu lintas dini hari sangatlah lenggang di kota ini.
Sang dokter berjalan gamang ke arah lelaki itu terbaring. Bibirnya kering dengan luka menganga di sudut bibirnya. Hidungnya patah dan pipi kirinya lebam. Ia bertarung? Atau dikeroyok?
Seokjin membuka selimut tebal yang membungkus lelaki itu, melihat kaki kirinya yang penuh luka karena tak memakai sepatu. Perut lelaki itu luka terbuka, Seokjin sudah menahannya dengan kasa sejak awal. Ia menggigit bibir, tak yakin dengan kasus yang ada di depannya.
Bukan karena Ia tak bisa menolongnya, Ia adalah residen tahun keempat di rumah sakit Seoul univ, ngomong-ngomong. Namun selama tujuh tahun berada di desa ini, tangannya tak terbiasa memegang alat bedah tak seperti saat Ia masih residen dulu. Tangannya pasti sudah kaku dan tak selincah dulu.
"Kau... kenapa bisa seperti ini?"
.
.
.
Kim Jaehwan benar-benar datang dalam dua puluh menit, tepatnya dua puluh tiga, dan lelaki itu berlari masuk ke klinik Seokjin membawa semua yang diminta temannya. Meskipun Ia menggerutu tentang bahayanya Seokjin melakukan ini.
"Kalau kau tak mau membantuku, ya sudah pergi saja."
Jaehwan mendecakkan lidahnya kesal, mengamati dari jarak tiga langkah bagaimana temannya mencuci tangannya dengan alkohol lalu memasang sarung tangan lateks.
"Kau mau berdiri di situ atau keluar? Suara nafasmu mengganggu konsentrasiku!"
Sekali lagi, si dokter di rumah sakit kota mendecakkan lidah, takjub dengan kalimat pedas yang diucapkan Seokjin. "Mana bisa kau melakukannya tanpa asisten?"
Seokjin akhirnya menatapnya, menoleh dengan pandangan terganggu. "Jika kau mau membantu, cepat cuci tanganmu. Jika kau hanya ingin bertanya hal tak penting seperti itu, tunggu saja di dalam rumahku."
Jaehwan tak punya pilihan. Jelas Seokjin akan kesulitan menjahit luka tusuk lelaki yang terbaring di klinik kecilnya itu. "Akan kubantu," lirihnya lalu mencuci tangan dengan alkohol, yang jelas kurang steril sebenarnya.
Seokjin tersenyum separuh, melirik Jaehwan dengan jenaka. "Apapun yang terjadi padanya akan jadi tanggung jawabku, Jaehwan-ah,"
Jelas saja! Jaehwan tak mau ambil bagian jika lelaki ini terkena apapun atas masalah yang mungkin mereka timbulkan. "Kau belum berterimakasih padaku, ngomong-ngomong."
Benar juga. Namun fokus Seokjin saat ini hanya mengerjakan lelaki yang terbaring hampir kehabisan darah ini. Ia memasang selang infus di tangannya, selang kantung darah di kakinya.
"Pisau bedah, clamp." Perintah Seokjin memulai.
.
.
.
Sudahkah Seokjin bercerita tentang bagaimana keluarganya berpengaruh di Korea?
Duh, terkesan berlebihan tentunya, tapi itu fakta. Keluarga Seokjin memang bukan politisi, bukan pula pemilik grup Samsung atau Hyundai. Tapi memang begitu kenyataannya, bahwa banyak hal yang terjadi di Korea atas monopoli keluarganya–banyak hal bukan berarti seluruhnya.
Keluarganya tajir melintir. Sejak kecil Seokjin ditimang dengan kekayaan, begitu juga Yoongi dan sepupu-sepupunya yang lain. Cukup duduk bersila saja mereka bisa mendapatkan apapun yang dimau. Tapi bukan begitu kehidupan berjalan, kan?
Ayah Seokjin direktur rumah sakit universitas terbesar se-Korea, pemilik, pemegang saham terbesar, profesor di sana, semuanya dimonopoli. Berturut-turut keluarganya yang lain selalu menjadi yang utama, mereka terbiasa menjadi yang tertinggi atau tidak sama sekali.
Dan seberkuasa itu keluarga besarnya, hingga pagi sekali, ketika Seokjin baru memejamkan mata kurang dari dua jam setelah menyelesaikan urusan pria itu, Yoongi menelpon.
Seokjin setengah sadar sempat menendang ponselnya hingga terjatuh, namun sepupunya tak mau mundur. Ponselnya bergetar dan menimbulkan suara bising selama tiga puluh menit tak berhenti, membuat Seokjin mengalah.
"Kau tak ada kerjaan?"
"Apa yang kau lakukan semalam?" Yoongi menyalak, tanpa sapaan, tanpa basa-basi.
Seokjin menguap, menegakkan duduknya. "Jaehwan memberi tahumu?"
Terdengar lawan bicaranya mendecih. "Tidak cukup kau pergi ke desa dan mengucilkan dirimu, huh? Kali ini apa? Mau jadi pahlawan dengan menolong orang asing?"
Akhirnya Seokjin membuka mata, meskipun matanya masih sedikit perih karena mengantuk. "Kau ini kenapa, sih? Kalau Jaehwan belum memberitahumu, aku mengambil tanggung jawab atas keselamatan pria itu sepenuhnya, apapun yang terjadi padanya tak akan kusalahkan pada yang lain, hanya aku. Dan, Yoongi-ah, sejak awal aku selalu berhubungan dengan orang asing, ini bukan yang pertama bagiku."
"Tidakkah kau berfikir? Apa yang dilakukan orang asing di desamu yang jauh dari perkotaan itu, berdarah hampir mati, dan bukannya pergi ke rumah sakit tapi klinikmu?"
Seokjin terdiam.
Penjelasan Yoongi sangat singkat, namun jelas berhasil membuat Seokjin bangun seutuhnya. Itu benar, semuanya benar. Desa Seokjin terbilang jauh dari perkotaan, lebih dekat ke hutan dan pegunungan. Lelaki itu bukan warga desa ini, Seokjin tak mengenalnya, jadi Ia 'datang' kemari atas sebuah alasan. Dan fakta bahwa Ia terluka separah itu membuat Seokjin sadar, baru sadar, apa yang terjadi padanya hingga seperti itu?
"Aku takut dia bukan orang baik, Jin."
Seokjin menelan ludah susah payah.
"Kau yakin tak mau melapor polisi?"
Ia menggigit bibir. Satu sisi Ia merasa mengenal lelaki itu, entah karena insting dokternya yang selalu menerima pasien siapapun itu, atau karena memang Ia mengenalnya sehingga mau melakukan hal gila seperti semalam?
"Kau disana?"
Suaranya tercekat, mengangguk dengan cepat. "Ya, aku mendengarmu."
"Aku akan datang,"
Seokjin ingin mencegah, merasa ini bukan hal sebesar itu hingga sepupunya perlu melihat secara langsung. Namun Yoongi keburu memutus telepon, meninggalkan Seokjin dengan pikiran ketakutan. Jika benar deduksi Yoongi tentang asal lelaki itu, apakah Ia melakukan tindakan yang benar? Apa ini ada hubungannya dengan ucapan lelaki itu tentang keselamatan mereka berdua semalam?
Hampir sepuluh menit Seokjin memikirkan kalimat Yoongi itu, tipikal ucapan Yoongi; singkat namun berdampak. Tapi akhirnya Ia bangkit untuk mencuci wajah, menuangkan susu di cangkir dan memanaskannya, lalu menengok kondisi kliniknya.
Seokjin sudah siap, sangat siap, jika tempat tidur di kliniknya sudah kosong atau sejenisnya. Bahkan hati kecilnya berharap demikian, agar tak panjang urusannya jika lelaki itu masih di sini. Tapi tidak, anastesi Seokjin masih berpengaruh, dan lelaki itu kehilangan banyak darah semalam, pasti membuatnya kelelahan dan mengantuk bukan main.
Jadi, Ia masih tertidur di sana, dengan penghangat yang mengarah kepadanya, tertidur tanpa ekspresi. Seokjin menggeret kursi yang biasa dipakai Yoora, asistennya, lalu duduk di samping tempat tidur lelaki itu, memperhatikan wajahnya.
Memang benar, Seokjin pengingat yang handal urusan materi pelajaran. Namun Ia diberi kekurangan dalam mengingat nama dan wajah orang, atau mencocokkan keduanya. Maka Seokjin memutuskan untuk merenung memperhatikan lelaki di depannya dari jarak dekat, menimbang apakah benar Ia adalah orang yang seperti Yoongi katakan. Atau sekedar menggali ingatannya tentang siapa pemilik wajah ini.
Kartu identitas.
Seokjin baru mengingatnya. Ia segera berdiri, meminta izin pada sosok tertidur itu, lalu merogoh saku celananya.
Tidak ada. Seokjin menggigit bibirnya kesal. Kesal karena fakta Ia tak membawa dompet dan kartu identitas membenarkan deduksi Yoongi.
Ia berbalik masuk ke rumahnya ketika denting microwave berbunyi menandakan timer yang Ia atur sudah selesai. Ia meminum susu hangatnya setelah mencampurnya dengan madu, minum dalam diam di meja makannya. Ini masih terlalu pagi untuk Hoseok bangun dan merusuh di rumahnya meminta sarapan, terlalu pagi pula bagi Seokjin untuk pusing dan bingung memikirkan ucapan Yoongi.
.
.
.
Yoongi benar-benar datang, sendirian tanpa Jimin.
"Jimin tak akan mencarimu?"
Yoongi melempar tas jinjingnya ke sofa di ruang santai sembarangan, tersenyum malas. "Park Jimin sedang ke Cina."
Seokjin ingin mengejek, tapi suara Hoseok yang berteriak menyapanya sangat mengganggu.
"Oh, kau datang? Tak biasanya," Ia menunjuk hidung Yoongi dengan wajah kebingungan, namun sekejap beralih ke kabinet di dapur Seokjin mencari sereal. "Ada apa?"
"Temanmu ini mengoperasi orang,"
Hoseok beraksi berlebihan atas ucapan Yoongi yang datar. Ia berbalik sambil berteriak, "Apanya?", hampir menumpahkan sekotak sereal di tangannya. "Ia kemarin tak memiliki pasien, kau jangan bohong."
Yoongi menggeleng, berjalan santai ke klinik Seokjin yang menempel dengan rumah sepupunya, membuka pintu pemisah kedua bangunan, lalu menunjuk tempat tidur di klinik Seokjin menggunakan dagunya. Hoseok mengekor mirip anak ayam.
Entah tahu darimana Yoongi jika lelaki itu tidur di kliniknya, namun Ia jelas mengetahui lebih banyak dibanding Seokjin. Hoseok, sebagai pihak netral yang tak mendapat clue apapun atas semua ini, berkali-kali menggumam 'wow' dan 'ini gila'.
"Kau butuh waktu untuk menjelaskan, Tuan Dokter?"
Seokjin menggigit bibirnya sekali lagi, lidahnya kelu kebingungan. "Aku hanya menolongnya, insting dokter dan kemanusiaan."
Yoongi mendecih, Hoseok mengangguk.
"Memang apa salahnya jika Ia mengoperasinya? Dia yang tahu apakah lelaki itu benar-benar membutuhkannya atau tidak, Yoongi-ya."
Seokjin mengangguk. "Jika aku tak menolongnya, Ia bisa hipotermia dan tak akan bisa bertahan. Ia berada di udara dingin malam hari terlalu lama dengan luka seperti itu dan kondisi tubuh yang buruk. Ditambah kehilangan banyak darah bisa membuatnya kehilangan kesadaran dalam hitungan menit, ditambah suhu yang dingin, sempurna untuk membunuh seseorang."
Yoongi diam menatap sepupunya.
Hoseok mengangguk membenarkan. Menggumam, "semoga Ia lekas sembuh." Lalu kembali ke dapur untuk makan.
Mereka berdua masih berdiri di klinik Seokjin, bertatapan dalam suasana yang tak menyenangkan. Keduanya tahu ada yang salah, keduanya tahu penjelasan Seokjin bukan alasan yang konkrit.
"Kau tahu siapa dia?"
Seokjin menggeleng.
"Ada tanda pengenal di tubuhnya?"
Seokjin menggeleng lagi.
"Sudah mencari tanda pengenalnya?"
Seokjin mengangguk.
"Bisa menarik kesimpulan?"
Seokjin menghela nafas. "Datang tanpa tanda pengenal dan dalam kondisi buruk di tengah malam bukan menjadi alasan kuat untuk menuduhnya orang jahat, Yoon."
Itu benar, Yoongi mengangguk mengakuinya. Ia menggeser kursi bekas Seokjin duduk, berdiri di samping tempat tidur lelaki itu. "Kau lihat aku, ya." Lirihnya sambil membuka selimut lelaki itu. Ia menarik tangan kiri lelaki yang tertidur, membaliknya sehingga pergelangan lelaki itu terlihat.
Di nadinya, di atas urat nadinya, ada sebuah tato yang tak Seokjin amati. Itu tato biasa, orang awam membaca tulisannya dengan biasa. Tapi tidak bagi Yoongi.
H.O.U.N.D
Seokjin mengangkat alisnya, belum paham apapun.
Berbeda dengan Seokjin yang kebingungan, Yoongi terkekeh kecil, puas dengan temuannya. "Dia bukan pria sembarangan yang kau obati, Jin."
Kerutan di dahi Seokjin bertambah. Ia hampir menagih penjelasan pada sepupunya sebelum Hoseok berteriak.
"Kau ada selai? Selaimu habis dan aku tidak bisa makan roti tanpa selai!"
Keduanya mendecakkan leher bersamaan, tidak janjian. Seokjin berbalik dan berjalan ke dapur, memberikan selai yang Hoseok minta, berusaha meredam rasa ingin tahunya. Apapun yang terjadi, apapun yang Yoongi ketahui, Hoseok tak perlu tahu. Apalagi jika itu menyangkut keluarganya. Titik.
-TBC-
Hehe, bagimana bagimana aku pusing nge-build up nya huaaa T.T
Tapi gimana dong, lagi pengen nulis ginian. Stres akutuh,
Btw, RnR sayangku?
ILY!
