H.O.U.N.D

Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others

Rate : T

Length : Parts

H.O.U.N.D

Seumur hidupnya Seokjin selalu menghargai privasi orang lain, karena dirinya sendiri sangat tak nyaman jika privasinya diganggu. Ia tak suka, dan tak ingin repot, mencari tahu latar belakang seseorang. Karena baginya, yang terpenting adalah bagaimana seseorang itu saat ini, tanpa peduli masa lalu kelamnya.

Seokjin mengingat-ingat itu semua seolah menjadikannya sebagai prinsip hidupnya. Ia tak peduli masa kelam seseorang, karena dirinya sendiripun memiliki banyak cerita kelam. Bahkan keluarganya, bagaimana kelamnya kehidupan mereka, Seokjin paham.

Sekali lagi, yang terpenting adalah bagaimana seseorang itu menjalani hidupnya saat ini, tak peduli bagaimana masa lalunya.

Titik.

.

.

.

Dibantu Hoseok dan Yoora, Seokjin memindahkan tubuh pria itu dari kliniknya ke dalam kamar tamu di sebelah kamarnya. Tujuannya hanya agar Ia bisa lebih nyaman beristirahat, juga tak mungkin juga jika Seokjin membiarkan warga yang datang ke kliniknya melihat pria asing sedang terbaring dengan tubuh penuh perban.

Sedangkan Yoongi hanya berada di rumah Seokjin selama satu jam lalu pergi lagi, dengan gerutuan saat berjalan ke mobilnya.

"Kau benar-benar akan merawatnya?"

Seokjin melirik Hoseok, tanpa menjawab Ia melanjutkan memakan sarapannya.

"Yoongi sepertinya tak suka jika kau merawatnya," gumam Hoseok sekali lagi.

Ini sudah cukup siang, dan tak biasanya Hoseok masih berada di rumahnya setelah lewat jam sarapan. "Kau tak bekerja?"

Hoseok akhirnya menatap Seokjin, mungkin Ia sedikit terkejut karena Seokjin tiba-tiba bertanya dengan nada risih. "Aku sedang malas,"

"Enaknya," Seokjin menghela nafas, "Aku iri dengan pekerjaanmu yang santai itu." Ia berjalan mencuci piringnya, menggerutu tentang enaknya pekerjaan Hoseok yang sangat santai namun uangnya tak pernah abis sedangkan Seokjin yang seorang dokter saja masih terus disokong Mamanya dalam segi finansial–bahkan rumah ini dan juga penunjang kehidupannya di desa dibiayai Mamanya!

"Sebenarnya apa sih pekerjaanmu itu?"

Ditembak pertanyaan mendadak seperti itu, Hoseok terlihat terkejut. "Eh?"

Seokjin berbalik, menyandarkan punggungnya di westafel dengan tangan terlipat di depan dada. "Sebenarnya pekerjaanmu apa, sih?"

Hoseok hanya tersenyum tipis, "kau tahu, main saham di sana sini, aku dapat semuanya."

Seokjin tak yakin dengan jawaban bimbang Hoseok, namun buru-buru Ia berbalik menyelesaikan cucian piringnya. Ia hanya ingin tahu, namun juga tak terlalu ingin tahu tentang Hoseok. "Kau bisa berbohong padaku, sih, aku akan selalu mempercayai ucapan orang sekalipun itu berbohong." Gumam Seokjin tanpa menoleh pada Hoseok yang ada di belakangnya.

"Eh?"

Seokjin menata piringnya lalu tersenyum simpul melirik Hoseok. "Aku tak seberapa peduli dengan privasi orang, kau aman bersamaku karena aku tak akan mengganggumu."

Seokjin berjalan berlalu, berjalan menuju kliniknya.

"Bahkan pada lelaki itu? Kau tak ingin tahu tentang lelaki misterius itu?"

Langkah Seokjin terhenti dan dengan cepat Ia berbalik, alisnya menyatu. "Misterius?"

Dagu Hoseok bergerak menunjuk kamar tamu tempat pria yang semalam diobati olehnya. "Dia aneh, Jin, kau perlu curiga padanya."

Seokjin tak paham dengan sikap Hoseok. Biasanya pria itu lebih acuh tentang privasi orang lain, sama seperti Seokjin. Namun si dokter tetap mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya ke klinik. Ia menyapa Yoora, mengatakan jika Ia harus pergi ke kota untuk membeli beberapa barang.

"Kau mau ke kota?"

"Ya," ucap Seokjin lalu membuka pintu bercat putih, kamar tamu tempat lelaki itu tidur.

Lelaki itu masih tertidur, posisinya belum berubah sejak Seokjin membaringkannya. Ia berjalan masuk, menengok cairan infus yang tersambung ke nadi lelaki itu. "Cepatlah sembuh," gumamnya, lalu menutup pintu kembali.

"Aku pergi dulu, Jung! Oh iya, aku titip pria itu, ya, jangan kau tinggalkan!"

.

.

.

Seokjin harus membeli kebutuhan dasar untuk pria itu. Well, Ia juga tak terlalu paham kenapa Ia repot-repot membeli sikat gigi, pasta gigi, handuk, hingga beberapa potong pakaian bagi orang yang tak dikenalnya, bahkan Ia tak yakin jika lelaki itu akan selamanya tinggal bersamanya.

Berkali-kali Seokjin mengingatkan dirinya, jikapun semua belanjaannya tak akan dipakai oleh lelaki itu, pasti akan Ia gunakan di masa depan. Untuk berjaga-jaga saja.

Ponselnya bergetar saat Seokjin akan membayar tagihan belanjanya.

"Ya, Ma?"

"Seokjin, kau sehat?"

Seokjin terkekeh, memberikan kartu kreditnya pada kasir dengan senyuman. "Selalu sehat, Ma, tumben sekali–" suara Seokjin tercekat.

Bodohnya Ia tak berpikir panjang tentang alasan Mamanya tiba-tiba menelpon da bertanya tentang keadaannya. "Yoongi adalah surat kabar hidup terhebat," desisnya sambil tersenyum.

Seokjin menerima kartunya lalu menenteng belanjaannya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain masih menyangga ponselnya di telinga.

"Seokjin," desis Mamanya. "Kau ingat Namjoon? Anak sahabat Papa yang sejak lama ingin bertemu denganmu tapi Ia harus menyelesaikan studinya di Amerika?"

Seokjin mendengung, mengingat kembali siapa yang dimaksud. Sudah tujuh tahun Ia memisahkan diri dari kehidupannya di Seoul, termasuk segala hubungan apapun yang terikat dengannya. Jadi ingatannya sangat samar tentang ini.

"Ia sudah sampai di Korea, kurasa sangat baik jika kita mengadakan makan malam bersama keluarganya, agar kau juga bisa bertemu Namjoon segera."

Seokjin terkekeh, membuka pintu belakang mobilnya dan menata beberapa kantung berisi belanjaannya tanpa perlu repot membuka bagasi–terlalu berat. "Ma? Aku sudah memiliki kehidupan di sini. Kurasa kau sangat paham maksudku."

Mamanya terdengar tertawa, namun terdengar hambar. "Ya, Mama tahu. Tapi kami, aku dan Papamu, sangat rindu makan malam berempat bersamamu, nak."

Tangan Seokjin berhenti tak jadi membuka pintu mobilnya, kehilangan kekuatan hanya karena ucapan Mamanya. "Katakan apa yang kalian mau, Ma." Desis Seokjin menahan kesal.

.

.

.

Tak lama setelah Seokjin pergi dengan mobilnya, Hoseok mendorong toples kue kering yang dibawakan Yoongi beberapa waktu lalu, kiriman rutin dari Ibu Seokjin. Ia berjalan, yang hebatnya tanpa suara. Dengan gerakan pelan dan ringan, tangannya memutar knop pintu berwarna putih yang ada di sebelah kamar Seokjin.

Jantungnya sedikit berpacu, tak sabar dan ingin tahu apa yang akan ditemuinya di dalam ruangan itu.

Tubuh seorang lelaki, dengan jarum infus juga cairan infus menggantung di atasnya. Matanya terpejam, dengan pernafasan konstan.

Tangan Hoseok menggenggam, ketakutan dan membutuhkan keyakinan. Langkahnya berjalan maju, masih mengendap tanpa suara. Giginya bergerit, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Dengan gerakan perlahan, tangannya membuka selimut yang menutupi pria itu sampai ke dada, mencari pergelangan tangan kiri lelaki itu.

H.O.U.N.D

Hampir saja Hoseok terbatuk, juga tercekat. Seterkejut itu dirinya melihat pria di hadapannya.

.

.

.

Mobil Seokjin datang sekiranya saat matahari hampir terbenam, pukul delapan malam. Dengan langkah ringan Ia berjalan ke pintu belakang mobilnya, mengangkut bawaannya dalam sekali sentakan ringan, lalu berjalan masuk ke rumahnya.

Yoora pasti sudah pulang, sedangkan Ia berharap Hoseok masih di rumahnya dan menjaga lelaki itu, seperti pesannya.

"Jung Hoseok sialan." Gumam Seokjin mengetahui rumahnya tertutup tanpa dikunci, dan ketika Ia melangkah masuk, rumahnya dalam kondisi sepi.

Buru-buru Ia menjatuhkan belanjaannya dan mengecek kamar tamunya. Baiklah, sekarang Seokjin akan menyebut lelaki itu sebagai tamunya–wow, suatu kehormatan!

Ia masih tertidur. Masih dalam keadaan semula, hanya selimutnya yang terbuka hingga ke pinggang.

Dengan alis menyatu, Seokjin menaikkan selimutnya hingga ke dada juga merapikannya. Ia mengecek cairan infus yang tingga sedikit, beruntung Ia sempat mampir ke apotek di rumah sakit Jaehwan untuk membeli infus dan peralatan standar untuk luka lainnya.

"Kau sudah bangun?" bisik Seokjin, tak yakin seratus persen jika lelaki itu telah terbangun dan menyebabkan selimutnya berantakan.

Tidak, memang tidak. Lelaki itu masih tertidur–pingsan.

"Mungkin Yoora yang mengecek suhu tubuhnya, atau jarum infusnya, atau–sudahlah, Seokjin."

Ia berjalan keluar, mencari di dalam kantung belanjaannya. Salib. Dengan langkah ringan Seokjin meletakkan salib itu di meja di samping kepala pria itu. Seokjin tahu jika tak akan ada pengaruhnya penempatan salib itu di kamar orang sakit, bahkan di seluruh ruangan manapun tak akan pengaruh kecuali kau berdoa dan berusaha.

Namun satu ajaran Mamanya yang sampai sekarang dilakukannya adalah menaruh salib di kamar dan ruang keluarganya, semata agar Tuhan mengetahui jika kita mencintainya dan berusaha mencintainya. Maka hingga detik ini Seokjin selalu melakukannya.

Ia juga menata beberapa barang belanjaannya di kabinet di dapurnya maupun di kamar mandi, termasuk lilin aroma untuknya beribadah tiap tengah malam. Kali ini Ia membeli dua sekaligus, satu untuknya yang sudah tak wangi, yang satu lagi untuk lelaki itu–ya, Seokjin akan mendoakan kesembuhannya seperti Ia mendoakan kesembuhan pasiennya.

Selanjutnya Seokjin memilih untuk memasak sambil menyalakan tv, karena Hoseok sialan itu belum juga muncul–biasanya Ia akan meracau dan menemani Seokjin memasak untuk makan malam, sehingga Seokjin tak merasa sendirian juga.

Ponselnya bergetar. Mamanya menelpon sekali lagi.

Alis Seokjin menyatu sekilas, merasa aneh jika Mamanya menelpon dua kali dalam sehari.

Ia merasa takut.

Terakhir kali Mamanya mengganggunya adalah lima tahun lalu, ketika Papanya jatuh sakit dan harus menjalani operasi. Kala itu Mamanya meraung, menyuruh Seokjin berhati-hati dan lain sebagainya, karena jika Papanya sakit atau tak siap, semuanya akan berubah mengerikan.

Itu ucapan Mamanya kala itu.

Entah semengerikan apa hingga wanita itu benar-benar ketakutan kala itu.

Dan kali ini Seokjin bergidik merinding mengingat suara ringan Mamanya yang mengajaknya makan malam–secara tiba-tiba–minggu depan, hanya karena seorang kenalan Papanya. Seokjin percaya jika senyuman akan lebih mematikan daripada amarah, dan kebanyakan itu memang benar.

Ia memilih membiarkan ponselnya berdering selama kurang lebih sepuluh menit, membiarkan Mamanya menelpon tanpa berniat menjawab. Ia takut.

Ia memilih melanjutkan memasak, mengabaikan ponselnya, berusaha meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja.

"Hoseok tak datang?" gumam Seokjin saat makanannya sudah selesai. Ia bahkan sudah menata tempat makan untuknya, dan Hoseok belum juga datang.

Seokjin berjalan, membuka pintu samping rumahnya yang berhadapan langsung dengan rumah Hoseok. Rumah itu masih gelap, pintunya tertutup rapat bahkan sampai ke jendelanya.

.

.

.

Sudahkah Seokjin bercerita tentang kebiasaannya membakar lilin aroma di ruang santai di rumahnya?

Kalau belum, sekalian saja karena malam ini Seokjin terbangun–layaknya setiap malam lainnya–untuk menyalakan lilin lalu berdoa. Biasanya Ia akan meminta kesehatan untuk seluruh keluarganya, kebahagiaan yang tak terputus, dan keberkahan bagi semua orang yang dikenalnya. Namun malam ini ada yang berbeda, karena di akhir doanya, ketika Seokjin membuka mata lalu matanya berhenti di pintu berwarna putih di sebelah kamarnya, Ia menambahkan kalimat doanya sambil kembali memejamkan mata.

"Siapapun dirinya, sejahat apapun dirinya, sebanyak apapun dosanya, berilah Ia kesehatan dan keberkahan, Tuhanku. Seperti ucapmu di buku kitab, karena setiap orang memiliki masa lalu buruk dan mengerikan namun dirimu yang memaafkan." Bisik Seokjin dan merasakan hatinya bergetar.

Ia menghirup aroma wangi yang menguar dari asap pembakaran lilin–dua buah lilin–di hadapannya, menutupnya dengan penutup kaca berbentuk lotus, lalu kembali ke kamarnya bersiap melanjutkan tidur.

Langkahnya terhenti, tepat ketika Ia mendengar deru mesin mobil yang terdengar dekat. Warga desa ini bukanlah warga yang memiliki rata-rata pendapatan ekonomi yang tinggi, tak semua memiliki mobil. Bisa ditebak mobil yang melintas di jalanan desa ini; kalau bukan dirinya dan keluarganya, Hoseok, atau keluarga tuan Song yang memiliki sedan keluaran awal 2000.

Seokjin membelokkan langkah kakinya untuk mengintip di jendela, karena mesin mobil itu terasa berhenti di samping rumahnya–di antara rumahnya dan rumah Hoseok.

Itu mobil Hoseok. Alis Seokjin berkerut mengetahui Hoseok baru pulang dini hari, ini pertama kalinya Hoseok pergi selama ini; sejak siang hari hingga dini hari begini. Dalam diam Seokjin masih mengintip dari balik kaca jendela, mengamati tetangganya yang masih duduk terdiam di balik kemudi dengan tubuh terdiam menatap depan.

Wajah Hoseok terlihat mengerikan, Seokjin mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Alisnya bersatu, dengan mata tajam menatap depan. Tangannya menggenggam setir kemudi, mungkin meremasnya, atau apa tidak tahu.

Suasananya cukup mengerikan, karena lampu rumah Seokjin seluruhnya mati kecuali klinik di samping rumahnya, begitu juga rumah Hoseok. Jadi area mereka benar-benar gelap kecuali sinar dari lampu mobil Hoseok. Tak ada suara menginterupsi selain suara mesin mobil Hoseok. Ditambah wajah Hoseok yang terlihat tak menyenangkan, Seokjin merasa tak nyaman.

Hingga suara terbatuk yang cukup keras–dan terdengar menyakitkan–menginterupsi. Tubuh Seokjin terlonjak ke belakang, merasa punggungnya kehilangan kekuatan saking terkejutnya. Nafasnya berdengus cukup keras, ingin menyumpahi siapapun yang terbatuk di tengah keheningan ini.

"Ya tuhan–" tanpa sadar Seokjin memekik saat menyadari siapa yang baru saja terbatuk dengan suara miris.

Itu si lelaki asing!

Dengan langkah terburu yang berderap, Seokjin menuju kamar pria itu, membuka pintunya dengan sekali sentakan, dan menemukan pria itu duduk sambil memegangi perutnya–bekas tusukan.

Dia sadar!

Seokjin tersenyum lega, merasa beban di bahunya diangkat sekalipun sejak awal Ia sama sekali tak merasa terbebani dengan adanya lelaki itu. "Ya tuhan, terimakasih, kau sadar!"

Berbeda jauh dengan suka cita yang tergambar jelas di mimik Seokjin, lelaki itu hanya terdiam. Jelas-jelas Ia mengamati Seokjin, dengan mata tajamnya, tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Lehernya memanjang ke depan, dengan kepala miring ke kiri, seolah ingin mengamati wajah Seokjin lebih jelas.

Seokjin mundur satu langkah. Wajahnya berubah tegang.

"Seokjin–"

Keduanya menoleh bersamaan ke ambang pintu, mendapati Hoseok yang sudah berada di sana dengan wajah khawatir dan mata berkeliaran. Ia jelas terdengar terkejut dan serampangan saat memanggil nama Seokjin, dan begitu terkejut hingga tercekat saat mendapati pemandangan keduanya.

Hoseok terlihat membenarkan duduknya, menghela nafas terdengar lega, lalu menatap Seokjin. "Kupikir, kupikir kau yang terbatuk!"

Seokjin menyatukan alis, alasan macam apa itu?

Namun fokus Seokjin kembali ke figur lelaki yang masih terduduk di tempat tidur itu, Ia masih mengamati Seokjin tanpa peduli dengan Hoseok yang bernafas dengan keras. Tiba-tiba Seokjin ingin tahu, apa yang dipikirkan lelaki ini hingga menatapnya selama ini.

"Kau kenal aku?" bisik Seokjin ragu. Ia memberanikan diri maju satu langkah, ingin melihat lebih jelas wajah pria yang ditolongnya hingga sembuh ini.

"Seokjin, mana mungkin Ia mengenalmu."

Si pria melirik Hoseok, dengan wajah datar, lalu melirik Seokjin serta merta dengan wajah yang terlihat bahagia. Ia tersenyum!

Sekalipun itu belum bisa dikategorikan sebagai senyuman, namun pria itu menarik dua sudut bibirnya membentuk garis senyum halus saat menatap Seokjin kemudian, terlebih Seokjin baru saja melangkah maju sehingga mereka berdekatan.

Mata Seokjin menyipit, berusaha memahami apa yang membuat pria ini tersenyum. Wajahnya maju mendekat seiring semakin lebarnya senyuman pria itu.

Seokjin tak pernah menyangka, sebuah bisikan berhasil membuat tubuhnya bereaksi berlebihan. Karena ketika pria di depannya itu berbisik, tubuhnya otomatis melangkah mundur dan nafasnya tercekat–

"Seokjin?"

-TBC-

short update!

karena akhir-akhir ini aku sibuk banget, banyak kegiatan karena semester 6 kuliahku, banyak ide yang kubiarkan aja berhenti sampai di bayang-bayang karena ga sempet nulis saking sibuknya:( inipun udah draft cukup lama dan kutambahi sedikit-sedikit, hehe maaf curhat

anyways, semangat buat kalian yang siap-siap tes masuk kuliah, semangat juga yang lain untuk jalani hidup kalian!

RnR?

ILY!