H.O.U.N.D
Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others
Rate : T
Length : Parts
H.O.U.N.D
Kalian pernah bermimpi hingga memaksa kalian terbangun dari tidur kalian dengan keadaan terkejut? Merasa ketakutan karena mimpi yang dibuat diri kalian sendiri, sedangkan kalian tak paham apa arti mimpi itu.
Mimpi hanyalah bunga tidur?
BLAH!
Apapun jenisnya, Seokjin tak percaya jika mimpi hanyalah bunga tidur semata. Seokjin percaya bahwa mimpi adalah visualisasi pikiran dan batin kita, bahkan ketika kita tak paham artinya.
Karena selama hidupnya, mimpinya selalu berhasil menggambarkan perasaan yang bahkan selalu Ia tekan–atau ditekan oleh seluruh keluarganya.
Ketika Ia berada di rumah orang tuanya, ketika Ia melihat kakaknya ditampar oleh tangan Papa kandungnya sendiri karena tak ingin menjadi dokter, malamnya Seokjin bermimpi berada dalam ruang sempit hingga menangis saat terbangun. Begitu juga setelah malam kelulusannya dari SMA, ketika Papanya mengatakan jika Seokjin akan melanjutkan di sekolah dokter–tanpa bertanya. Malamnya Seokjin bermimpi hal yang sama seperti setelah melihat kakaknya ditampar. Bedanya kali ini Ia susah bernafas juga.
Lalu mimpinya yang paling menyedihkan?
Mimpi Seokjin yang paling menyedihkan adalah ketika Ia ditinggal oleh satu-satunya teman yang mau menemaninya, mendengar bualannya, satu-satunya teman yang bisa berteman dengan Seokjin sejak mereka sama-sama kecil hingga dewasa.
Kepergian teman kecilnya itu jelas bukan mimpi, namun Seokjin sadar jika selama dua minggu berturut Seokjin memimpikan teman kecilnya itu, yang terlihat tersenyum menyedihkan sambil berjalan meninggalkannya. Punggung dan tangan teman kecilnya itu terluka, entah karena apa.
Semoga apapun penyebab punggung dan tangan teman kecilnya terluka di dalam mimpinya bukanlah karena berteman dengan Seokjin.
"Jin!"
Lamunan Seokjin buyar dan bahunya berjengit mendengar bentakan Yoongi di hadapannya.
Dua kali dalam seminggu ini, dua hari berturut, Yoongi datang pagi-pagi bahkan ketika Seokjin belum bangun. Sama seperti kunjungannya kemarin pagi, mata Yoongi tajam menatap Seokjin, wajahnya terlihat bercampur antara kesal dan khawatir.
"Jauh-jauh kau dari Seoul untuk mengganggu tidurku, lalu membentaki pemilik rumah bahkan ketika kita belum sarapan?" gerutu Seokjin sambil mengusap wajahnya dengan lengan sweater yang terasa lembut mengenai kulitnya.
Ia menguap, merasa masih sangat mengantuk karena dini hari tadi, selesainya Ia berdoa, Ia harus menahan kantuknya untuk mengurus lelaki yang sekarang sedang tertidur lagi itu.
"Aku harus mengganti perban, melepas infusnya, dan memeriksa tubuhnya di pagi buta, hingga hampir subuh, dan kau memaksaku bangun untuk memarahiku?"
Seokjin melirik sepupunya yang memutar bola matanya sarkas. "Siapa yang menyuruhmu melakukannya? Sudah kubilang bawa saja tubuh itu ke rumah sakit!"
Mata Seokjin terbuka sepenuhnya, menatap tak suka sepupunya atas ucapan kasar dan tak berotak yang baru saja diucapkannya. Seokjin tak pernah suka diatur untuk urusan menolong siapapun!
"Kau terdengar semakin mirip darah Kim, Tuan Min." Gumam Seokjin lalu berjalan pergi untuk membasuh mukanya.
"Dia sudah bangun?"
Suara ribut di belakang punggung Seokjin itu pasti milik Hoseok. Suara langkahnya terdengar berderap dan tergesa, tapi Seokjin tak cukup peduli dengan dua orang itu. Menolong pria misterius yang bahkan tak menjawab ketika ditanyai namanya oleh Seokjin, sudah membuatnya memijat kening. Ditambah berisiknya kedua orang yang kini sedang berisik di meja makan rumah Seokjin itu, sungguh membuat urat di pelipis Seokjin berkedut.
.
.
.
Seokjin masih menjalani hidupnya sebagai seorang dokter. Keberadaan lelaki-tak-bernama itu sebagai pasiennya tak mengubah apapun dalam hidupnya. Ia tetap membuka klinik bersama seorang gadis dari desa ini yang menjadi asistennya, Yoora. Tetap bersikap ramah pada warga desa yang memakai jasanya, meminta obat darinya, dan menerima pembayaran apapun dari warga–siang tadi ada yang membayar Seokjin dengan sepiring tteok.
"Begini cara mereka membayarmu?"
Bedanya, ada Yoongi di rumahnya yang menolak pulang, juga Hoseok yang lebih ramai dan tak kunjung pergi mengurus urusannya seperti biasa.
"Tidak semua dari mereka memiliki uang."
Yoongi mencebikkan bibirnya dengan alis naik ke atas. "Karena itu Bibi masih terus menyuplai kebutuhanmu, termasuk mengirimimu uang?"
Seokjin menoleh menatap sepupunya. "Bagaimana kau tau?"
Lelaki berkulit pucat itu tersenyum miring sambil mendorong piring tteok dari hadapannya. "Kau lupa sebesar apa kepercayaan paman padaku?"
Seokjin menatap Yoongi semakin dalam.
"Aku tahu semuanya, Jin, aku bukan bocah kecil yang penakut lagi."
Senyum kelu terkulum di bibir merah Seokjin. Mereka berdua dulunya sama saja, bocah pemalu dan bocah penakut. Dada Seokjin tertawa, menertawai kilas balik masa lalu mereka dalam gambar hitam putih.
"Dan aku benar-benar menyarankan padamu untuk berhenti berurusan dengan siapapun yang tak kau kenal. Apalagi membiarkan mereka tidur di rumahmu."
"Kau menolak pulang karena dia, eh?"
"Ya." Yoongi menatap mata Seokjin dengan tajam, sangat yakin dengan ucapannya. "Aku tak bisa pulang jika kau serumah dengan orang aneh yang bisa menyelundup masuk ke kamarmu lalu membunuhmu."
Tawa Seokjin berhambur bersamaan dengan dengusan sinis dan bola mata yang berputar. Baginya itu lucu. "Tujuh tahun aku di sini, aku tinggal beriringan dengan Hoseok yang sama asingnya, baru sekarang kau mengatakan hal itu."
Yoongi terdiam, matanya berkedip pelan beberapa kali.
"Katakan padaku." Gumam Seokjin ketika tubuhnya maju dan bertumpu ke meja makan, menatap Yoongi dengan intens. "Mama memberiku rumah ini tepat ketika aku ingin meninggalkan Seoul... apa yang Ia rencanakan?"
Ponsel Seokjin berdering. Dengan senyum meremehkan Seokjin bergumam, "Bibimu menelpon."
.
.
.
Yoongi dan Hoseok sama saja.
Seharian ini mereka terus menerus mengatakan jika lelaki aneh itu tak seharusnya tinggal di rumah ini. Bahkan ketika Seokjin menyiapkan makan siang untuk lelaki itu setelah Ia bangun, terang-terangan mereka berdua mengatakannya dengan keras. Seolah ingin mengatakan pada lelaki itu langsung.
"Kau akan sering tertidur karena pengaruh obat yang kuberikan." Seokjin bergumam ketika menata meja kecil di hadapan lelaki itu. "Kau juga tidak kusarankan terlalu banyak bergerak, jadi panggil saja aku jika kau butuh."
Seokjin membuatkannya nasi yang cukup lembut untuk ditelan, tak perlu banyak usaha namun tak selembek bubur. Lauk lainnya pun tak banyak, karena Seokjin yakin mulut pria itu pasti masih pahit.
"Sayangnya, kau masih belum bisa tidur miring karena luka tusukan di perutmu. Jadi mungkin punggungmu akan sakit karena kau harus sering tertidur tanpa bisa mengganti posisi."
Jarak mereka ada empat jengkal. Seokjin memberikan spasi cukup lebar saat Ia duduk di hadapan lelaki itu, memberinya ruang untuk bernafas. Gerakan pria itu lambat, tapi Seokjin yakin betul itu semua bukan karena masalah obat atau luka lainnya.
"Ternyata kau pandai memasak,"
Dengan cepat bola mata Seokjin naik menatap bibir pria itu–yang saat ini tersenyum tipis dengan mulut mengunyah makanan.
"Mulutmu pasti pahit saat ini, kau tak bisa sepenuhnya merasakan masakan."
Mata pria itu menatap Seokjin kemudian, setelah sejak tadi hanya tertunduk menatap makanannya.
Tanpa sadar Seokjin menelan liurnya. Figur pria di hadapannya ini terasa tidak asing, namun Seokjin berani bersumpah jika Ia tak mengenalnya sebelumnya. Dan mengingat ketika pertama kali pria itu bangun dini hari tadi, juga apa yang dilakukannya, membuat Seokjin berpikir, "Apakah kau mengenalku sebelumnya?"
Senyuman pria itu semakin lebar. Tangannya masih menggenggam sendok kayu namun matanya benar-benar fokus menatap Seokjin.
"Kau tersenyum seolah kau mengenalku sebelumnya, dan sepertinya itu bukan senyuman terimakasih karena aku sudah menyelamatkanmu."
Pria itu mengangguk, "Ya, karena aku tahu kau pasti akan menyelamatkanku."
Alis Seokjin berkerut mendengarnya. "Kau ini aneh, tersenyum setelah bangun, mengucapkan hal-hal aneh seolah kau mengenalku. Katakan kau ini siapa?"
"Jin–" seru Yoongi yang tiba-tiba berada di ambang pintu. Alisnya hampir bertaut menatap Seokjin, lalu pandangannya berubah begitu datar ketika menoleh menatap pria itu. "Kau tidak perlu menutup pintu kamar ini jika berdua di dalam kamar, bersamanya, Jin!"
Seokjin menoleh tak suka, menatap Yoongi. Caranya menerima tamu orang asing sungguh buruk. Dan lelaki itu, tanpa Seokjin sadari, tersenyum tipis menatap Yoongi.
"Jika aku mengatakan siapa aku ini, apa Ia akan memperbolehkanku tinggal di sini, Seokjin?"
Kedua sepupu itu menoleh cepat, menatap tak percaya pria ketiga di ruangan ini selain mereka yang baru saja menggumam dengan suara ringan.
"Ya."
"Tidak!" Yoongi hampir berteriak ketika mengucapkannya, dengan suara lantang dan yakin–hampir membentak. Wajahnya terlihat kaku, menatap pria itu lalu menatap Seokjin kemudian. "Dia tak bisa tinggal bersamamu sekalipun Ia mengatakan identitasnya, Jin!"
.
.
.
Yoongi mengatakan, sejak sore, bahwa Ia akan kembali ke Seoul setelah makan malam karena Jimin akan kembali lebih cepat dari Cina. Namun hingga pukul 9, lelaki itu masih duduk menyilang kaki di ruang tamu rumah Seokjin, bersama Hoseok.
"Kau tak pulang?"
Yoongi menoleh, melirik tak suka pada sepupunya yang membawa nampan berisi makanan dan obat untuk lelaki itu. "Kau semakin pandai mengusir orang."
"Aku belajar darimu, mengusir atau diusir, seperti memakan atau dimakan."
Mereka terdiam beberapa saat, lalu Seokjin berjalan ke depan Yoongi, masih membawa nampannya. Lelaki itu sepertinya belum terbangun dari efek obatnya. Mereka masih memiliki beberapa waktu. "Bibimu menelponku berkali-kali dalam sehari, seperti jadwal pamanmu minum obat."
"Mereka orang tuamu, Jin." Yoongi melirik sepupunya gemas, "panggil mereka dengan sufiks yang benar."
Seokjin cukup terintimidasi dengan tatapan mata juga suara rendah Yoongi kali ini. Entah, Seokjin merasa Yoongi lebih sering menunjukkan emosinya hari ini. "Apa karena lelaki itu?"
Mata Yoongi menatap sepupunya, bertanya.
"Kau menunjukkan emosimu lebih dari biasanya di depanku. Apa hanya karena lelaki itu kau bersikap seperti itu?"
"Jangan asal bicara."
Seokjin terkekeh geli. "Kita dididik untuk menekan perasaan kita, Yoongi-ya, kita bersama-sama saat itu. Bahkan kita tumbuh bersama saat belajar menekan emosi kita." Seokjin memberanikan diri menatap mata Yoongi dengan galak. "Pamanmu tidak mengajarkan kita untuk menunjukkan emosi kita sesungguhnya pada siapapun. Lalu hari ini kau menunjukkan emosimu padaku lebih dari yang seharusnya kau tunjukkan."
Giliran Yoongi yang terkekeh, "Seokjin, kau tak selamanya benar."
Hubungan mereka sepertinya selamanya akan seperti ini, saling menatap tajam satu sama lain, menunjukkan intimidasi dan mencari siapa yang lebih mengintimidasi dibanding yang lain. Dan Seokjin tak suka dengan ide ini.
"Kita sudah berjanji untuk tidak saling mengintimidasi, Jin."
Seokjin menjilat bibirnya mendengar bisikan lirih Yoongi. Itu, janji mereka sejak Seokjin memutuskan pergi dari rumahnya 7 tahun lalu. Bahwa mereka akan merubah konteks hubungan mereka masing-masing, mengubah cara mereka bersikap agar lebih bersahabat, dan bersikap layaknya sepupu yang normal.
"Kau masih memiliki bayak rahasia dariku."
Sepupunya tercekat atas ucapan Seokjin, benar-benar membuat lidahnya kelu saat mendengarnya. Sayangnya keluarga mereka bukan keluarga baik-baik, di mana rahasia adalah sesuatu yang sangat berharga untuk menjatuhkan satu sama lain.
"Kau bilang kita akan bersikap layaknya sepupu seperti yang lain, Yoongi-ya. Sepupu tidak menyembunyikan rahasia mengerikan satu sama lain."
Yoongi masih terdiam, menatap kaleng bir di tangannya.
"Kali ini jawab pertanyaanku, apa alasan Bibimu menelponku berkali-kali dalam dua hari ini?"
Alis Yoongi terangkat satu sisi ketika pandangan Yoongi naik menatap mata Seokjin. Keduanya memberanikan diri saling menatap. "Aku tak tahu. Yang jelas Bibi selalu melakukan semuanya demi menyelamatkan keluarganya, Jin."
"Bibimu hanya menyuruhku datang ke rumah untuk bertemu anak sahabat Pamanmu yang datang dari Amerika. Katanya anak sahabatnya ingin bertemu kembali denganku setelah sekian lama Ia belajar di Amerika."
"Eh?" Ekspresi Yoongi melunak.
Seokjin, mengetahui ekspresi Yoongi yang melunak, ikut merilekskan bahunya. Ia sedikit tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Ya, itu lucu. Aku sudah 7 tahun tidak menyapa mereka secara langsung dan tiba-tiba mereka memintaku makan malam bersama keluarga Kim lainnya, sahabat pamanmu."
Alis Yoongi bertaut.
"Namanya Namjoon, eh, benarkah aku dalam mengucapkan namanya? Namjoon? Namjoo? Aku tak yakin."
.
.
.
Yoongi segera pamit tak lama setelah mereka berbincang, bahkan belum satu jam setelah pukul 9 namun lelaki itu terlihat buru-buru berpamitan pada Seokjin. Yoongi yang bodoh berbohong pada Seokjin itu jelas membual saat mengatakan bahwa Ia harus menjemput Jimin pukul 12.
Namun Seokjin mengabaikannya kemudian. Ia mengangkat nampan berisi makanan untuk lelaki di kamar tamunya, kemudian memanaskan makanan itu di microwave setelah memastikan lelaki itu telah bangun.
"Makanlah, lalu minum obatmu." Seokjin meletakkan nampan makanannya di atas meja kecil di hadapan pria yang entah sejak kapan sudah terbangun dan duduk bersandar itu.
Kali ini ekspresi lelaki itu terlihat sedih. Wajahnya tidak mengatakan jika Ia baik-baik saja, tapi Seokjin yakin bahwa penyebabnya bukanlah luka lelaki itu. Bisa saja Ia mimpi buruk atau sedang dalam suasana hati buruk.
Maka Seokjin berdiri dan berniat pamit–melupakan keinginannya untuk bertanya nama lelaki itu–ketika lelaki itu memanggil namanya tiba-tiba. Sungguh, matanya memperlihatkan ekspresi baru–kesedihan.
"Jangan pergi ke Seoul."
Mata Seokjin melotot, tak paham dengan omong kosong lelaki itu kali ini. "Maaf?"
Lelaki itu mengangguk yakin. "Kau harus mengurusku hingga aku benar-benar sembuh sebelum kau bisa meninggalkan pasienmu."
Seokjin mendudukkan tubuhnya kembali, menatap lelaki itu dengan berani. "Kau tidak berada di posisi yang bisa menyuruhku, Tuan."
Lalu lelaki itu tersenyum kecil. "Kau akan mendengarkanku jika aku memberitahu siapa diriku, juga bagaimana aku mengetahui namamu?"
Seokjin mengangguk yakin.
Maka lelaki itu tertawa kecil, terlihat jelas jika Ia geli.
"Kau menertawakanku?"
Tawanya lenyap dalam hitungan persekon, lalu Ia menatap Seokjin–terlihat jelas jika Ia menahan tawanya. Huh!
"Tidak."
Seokjin menahan bola matanya agar tidak memutar meremehkan lelaki yang sedang berbohong di depannya ini. Ia berdeham.
Lelaki di depannya benar-benar tersadar setelah mendengar dehaman Seokjin. Ia menaruh sendok dari tangannya ke penyangga sendok dan sumpit di atas nampan, menatap Seokjin dengan pandangan lembut yang menakutkan. "Kau ingin tahu namaku?"
"Identitasmu, lebih tepatnya. Yoongi, sepupuku yang berkulit pucat itu, benar-benar terkejut melihat tato di tanganmu."
Lelaki itu melihat pergelangan tangannya, di mana tato yang dibicarakan Seokjin terukir. "Aku mendapatkannya sejak aku berumur lima belas."
"Orang tuamu tak memarahimu?"
Lelaki itu menggeleng. "Mamaku memukul kepalaku sekali, memarahiku semalaman."
"Kau anak yang nakal," Seokjin bergumam tanpa sadar.
Kekehan kecil keluar dari bibir tebal lelaki itu. "Tapi aku anak yang dibanggakan Papaku."
Seokjin mengendikkan bahunya. "Namamu?"
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"Tak pernah aku seyakin ini."
Lelaki itu terkekeh–Ia lebih sering mengeluarkan kekehan malam ini. "Panggil saja aku RM. Itu nama panggilanku."
"Nama asli."
"Tidak."
Alis Seokjin bersatu, tak suka. "Kau menginap di rumahku, Tuan, sangat tak sopan menyembunyikan identitas dari pemilik rumah."
"Aku memberitahumu namaku, belum cukup?"
Bibir Seokjin melipat ke dalam, menahan sumpah serapah yang bisa Ia ucapan saat ini juga. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dalam gerakan pelan. "Aku orang baik-baik, Tuan. Aku hidup dengan nama asli, identitas asli, bukan nama panggilan apalagi samaran."
Ada jeda hing g a lelaki itu berucap, meng ucapkan untaian kalimat lirih yang membuat Seokjin tercekat. "Kau tidak, Kim Seokjin." lirih lelaki itu lalu menatap tajam ke dalam mata Seokjin. Kali ini Seokjin cukup merasa terintimidasi dengan tatapan lelaki itu, ditambah salah satu sudut bibir lelaki itu yang terangkat. "Kau tidak hidup dengan identitas asli selama hidupmu, bahkan saat kau berlari pun, identitas-identitas itu mengikutimu."
Tidak baik menatap orang lain seolah menatap mangsa!
Satu yang dapat Seokjin simpulkan dari pembicaraannya dengan dua orang dalam waktu yang hampir berdekatan ini;
Hidupnya tidak akan tenang lagi.
.
.
.
"Ya, itu lucu. Aku sudah 7 tahun tidak menyapa mereka secara langsung dan tiba-tiba mereka memintaku makan malam bersama keluarga Kim lainnya, sahabat pamanmu."
"Namanya Namjoon, eh, benarkah aku dalam mengucapkan namanya? Namjoon? Namjoo? Aku tak yakin."
Alis Yoongi bertaut. Matanya menyipit, menatap Seokjin lebih tajam dari sebelumnya. Seterkejut itu dirinya hingga Ia tak sempat mengatur ekspresi wajahnya.
Seokjin bergidik, lalu tertawa kering–merasa tak nyaman diperhatikan sepupunya dengan pandangan menelisik demikian. "Ada apa dengan ekspresimu?"
"Jin–?"
Seokjin berjengit mendengar suara tercekat Yoongi. Lelaki di hadapannya ini terlihat jelas jika Ia terkejut bukan main, membuat Seokjin benar-benar ingin tahu kali ini.
"Tidak ada anak sahabat Papamu yang bernama Namjoon dengan marga Kim." Desis Yoongi pelan.
-TBC-
Monmaap, maunya update setelah ramadhan biar kalian yang menjalankan ibadah bisa fokus ibadah, tapi gimana dong aku anaknya bocor bgt wkwkwk semangat ya kalian yang menjalankan ibadah puasa, semoga mendapat rahmat dari tuhan :)
BTW GILA W SUKA BGT FF ABAL W DINOTIS SAMA masgojexganteng WEEEEI BENTAR W MAU KOPROL! eh gajadi, capek :(
RnR?
ILY!
