H.O.U.N.D

Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others

Rate : T

Length : Parts

H.O.U.N.D

Seokjin sudah terbiasa hidup dengan cara mengerikan. Ia pernah hidup dikelilingi kabar kematian yang bisa Ia dengar setiap hari, anak buah Papanya yang meninggal karena tugas. Ya, tugas. Entah tugas semengerikan apa hingga seseorang seolah sangat mudah kehilangan nyawanya dalam bertugas.

Tapi mengingat ekspresi Yoongi dan bagaimana pria pucat itu berjengit terkejut, ditambah bagaimana lelaki asing itu berbicara ngawur dan melarangnya pergi ke Seoul, ditambah ucapannya yang sepertinya Ia mengetahui Seokjin dengan baik. Semuanya mengarah pada satu kesimpulan; hidup yang dicari Seokjin dengan pergi menyendiri ke desa terpencil ini tidak lagi tenang.

Hidupnya akan kembali diatur dan terpantau 24 jam.

Yang sebenarnya tanpa Seokjin sadari sejak tujuh tahun yang lalu, bahwa hidupnya sudah terpantau terus selama 24 jam penuh. Hanya saja lelaki itu tak memperhatikan segalanya dengan baik, membuatnya mengabaikan beberapa fakta penting dalam hidupnya.

Sayangnya..

.

.

.

Seokjin selalu benci pada urusan yang belum selesai. Terutama yang menyangkut hidupnya, karena selama ini Ia hidup dalam untaian tali yang rumit akibat koneksi Papanya. Sejujurnya Seokjin sudah terbiasa hidup dalam kalimat menggantung, kalimat yang belum selesai diucapkan namun terpotong karena beberapa urusan dan penyebab. Kebanyakan kalimat menggantung itu disebabkan karena menghilangnya orang yang memiliki kepentingan, si pemilik kalimat.

Dan ketika dewasa, dari kakaknya Seokjin mengetahui jika kebanyakan pemilik kalimat menggantung itu mati terbunuh karena mereka hanyalah anak buah atau orang suruhan–begitu orang di sekitarnya menyebut mereka.

Sayangnya keluarganya tak ingat, bahwa orang-orang yang menghilang itu juga memiliki kehidupan.

Yoongi tidak muncul beberapa hari, tidak juga menelpon.

Maka Seokjin khawatir bukan main.

Bagaimana jika sepupunya bernasib sama seperti beberapa orang yang pernah membocorkan rahasia atau informasi kepada Seokjin, sekalipun satu sisi dalam diri Seokjin yakin jika tak mungkin Papanya–atau siapapun–akan membunuh atau menghilangkan Yoongi semudah itu.

"Lelaki itu sudah bisa berjalan?"

Seokjin melirik Hoseok dari tempatnya, lalu mengaduk kaldu tulang sapinya. "Semalam aku membantunya berjalan, pasti Ia sangat bosan di dalam kamar sepanjang hari selama seminggu penuh."

"Kau melakukannya?"

Alis Seokjin terangkat satu, kepalanya menoleh dan menatap Hoseok aneh dari balik bahunya. "Ada yang salah?"

"Tidak."

Tanpa menunjukkan pada Hoseok, Seokjin memutar bola matanya, merasa jengah pada beberapa hal. "Ada, Jung."

"Apanya?" Hoseok berkedip beberapa kali lalu berdeham kecil. "Itu wajar kau lakukan, Jin, dia pasienmu. Benar, kan?"

Seokjin mengangguk cepat. "Ya. Tapi masih ada yang salah."

"Yang mana?"

Seokjin berbalik cepat, melipat tangannya di depan dada dengan gerakan cepat, menatap penuh pada Hoseok. "Kau."

Alis Hoseok terangkat, matanya melebar, benar-benar terkejut.

"Ya, Jung, kau yang salah di sini."

"Apa salahku?"

Seokjin menyempatkan membasahi bibirnya dengan lidahnya, dalam gerakan kecil, lalu maju selangkah, mendekat kepada Hoseok. "Kau bersikap aneh, sungguh. Aku hampir lupa Jung Hoseok yang kukenal sebelumnya, yang memberikan privasi pada siapapun karena dirinya juga membutuhkan privasi."

Ekspresi terkejut tidak disembunyikan oleh Hoseok sama sekali.

"Kau hampir mirip seperti Yoongi, benar-benar ingin tahu segala urusanku akhir-akhir ini. Jung, aku masih bisa memahami jika yang bersikap demikian adalah Yoongi, tapi kau? Kau benar-benar selalu membiarkanku menyelesaikan urusanku kecuali aku yang meminta bantuanmu. Kau seolah ingin mengaturku seperti Yoongi, demi dewa aku berani bersumpah kau seperti itu. Karena lelaki itu?"

Hoseok terdiam. Lalu Seokjin merasa tak enak setelah mengatakannya pada teman sekaligus tetangganya ini. Maka Ia berbalik dan kembali fokus pada rebusannya.

Dalam hati Ia merasa menyesal setelah mengatakan hal jahat seperti tadi. Hoseok selalu bersikap baik pada Seokjin, dan asumsi subjektif seperti tadi sangat tidak dewasa. Belum tentu Hoseok memang bersikap aneh seperti asumsi pribadi Seokjin. Belum tentu Hoseok adalah sesuatu yang salah.

Seokjin menghela nafas, berusaha menghilangkan pikiran buruk tentang dirinya sendiri di otaknya, lalu berjanji akan meminta maaf pada tetangganya itu–

–ketika dengan tiba-tiba suara berat yang mengejutkan terdengar di balik tubuhnya.

"Karena aku masih menyukaimu, Jin."

Dengan sekali gerakan Seokjin berbalik setelah meyadarkan dirinya dari rasa terkejutnya. Matanya tanpa sadar melotot dan berair, saking terkejutnya dirinya. "Jung!"

Hoseok berdiri dua langkah dari tubuh Seokjin, menunduk dengan tangan saling bertaut di bawah.

Tidak. Seokjin tidak terkejut karena pengakuan Hoseok, ini kali ketiga tetangganya mengatakan hal bodoh demikian. Ia hanya terkejut karena Hoseok yang tiba-tiba berbisik di belakangnya. Lebih terkejut karena dari ambang pintu kamar tamu, lelaki yang mengaku bernama RM itu memandang mereka dengan wajah terganggu, namun wajahnya masih saja datar seperti dinding.

Hoseok mengikuti arah pandangan Seokjin dan mendapati lelaki tinggi itu menatap matanya lurus, benar-benar hanya menatap matanya, bukan mata Seokjin.

"Jin, aku bersumpah jika lelaki itu harus pergi setelah Ia benar-benar sembuh dari lukanya." Geram Hoseok lirih.

.

.

.

Lelaki itu memang cukup aneh. Ia sering melakukan hal-hal misterius, memandangi seseorang dengan ekspresi mengerikan, beberapa kali Seokjin juga melihat lelaki itu hanya berdiri di depan kaca jendela yang menghadap rumah Hoseok, atau ketika malam hari saat Seokjin berdoa, lelaki itu akan berdiri di pintu kamarnya dan memperhatikan Seokjin.

Seperti malam ini ketika tiba-tiba lelaki itu sudah berdiri dan menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya. Seokjin yang sejak tadi memejamkan mata dan berdoa, mundur selangkah karena terkejut.

"Sejak kapan kau berdoa seperti ini?"

"Eh?"

Dagu lelaki itu bergerak menunjuk lilin aroma yang baru saja ditutup oleh Seokjin. "Kupikir salib di kamarku menandakan kau anak bapa yang taat."

Seokjin tersenyum kecil. "Aku anak bapa, kok, aku hanya ingin berdoa lebih tenang kepada bapa setiap malamnya."

"Apa yang kau inginkan dalam doamu?"

Mata Seokjin bergerak beberapa kali, ke kanan dan kiri, tak terlalu yakin untuk menjawab. "Aku.. akan meminta kesehatan dan kebahagiaan untuk keluargaku dan orang-orang yang kukenal." Gumam Seokjin masih tak yakin, "dan karena ada kau di sini, aku selalu mendoakan kesembuhanmu,"

Wajah lelaki itu datar, tak menunjukkan ekspresi apapun setelah mendengar jawaban Seokjin. Matanya masih lurus menatap mata Seokjin.

Dan Seokjin risih! "Seharusnya kau berterimakasih karena aku mendoakanmu,"

Ia tersenyum kecil, "Mamamu masih menelpon?"

Pertanyaan tiba-tiba macam apa itu? Seokjin menghentikan langkah dan menatap lelaki yang sampai saat ini masih menatapnya dengan senyum tipis itu. "Darimana kau tahu?"

"Aku mendengarnya dari dalam kamar."

Entah apa yang harus diucapkan Seokjin namun lelaki di hadapannya ini jelas tak memahami dengan baik apa itu ruang privasi, sekalipun Seokjin tahu membiarkan lelaki asing tinggal di dalam rumahnya pasti akan menyeberangi privasinya.

"Mamamu masih menyuruhmu ke Seoul?"

"Ya, untuk bertemu dengan lelaki anak sahabat mereka."

"Kau ingin berangkat?"

Seokjin tanpa sadar menyatukan alis. "Aku tak yakin, Yoongi seperti menyembunyikan sesuatu dariku."

"Kau selalu mendengarkan sepupumu?"

Seokjin mengangguk, sebuah hal bodoh yang sejak tadi Ia lakukan adalah berkata jujur dan menjelaskan semuanya pada lelaki yang tak sepenuhnya Ia kenali ini. "Ya. Hanya dia yang mengetahui banyak hal tentangku, Ia yang lebih memahamiku dibanding diriku sendiri."

"Itu mengerikan,"

"Ya, hidupku memang mengerikan." Seokjin tak suka. "Tapi kau tahu apa yang lebih menakutkan?"

Alis lelaki itu terangkat, terlihat antusias mendengar penjelasan Seokjin meski wajahnya masih saja sedatar dinding.

"Aku yang menerimamu di rumah ini, menceritakan hal-hal privasiku padamu, dan berbicara denganmu di tengah malam seperti ini. Bukankah itu mengerikan?"

Lelaki itu malah tersenyum kecil kemudian. Sedangkan Seokjin sudah tak tahan dengan dirinya sendiri yang bersikap mengerikan di sekitar lelaki itu–sangat terbuka pada orang lain. Segera Seokjin berbalik dan berniat melanjutkan tidurnya.

"Boleh aku memberi saran?"

Bahu Seokjin berjengit mendengar suara tiba-tiba lelaki itu. Ia berbalik, "Kalau saranmu meyakinkan, akan kupertimbangkan."

Ada jeda yang sepi setelah Seokjin selesai menjawab ucapan lelaki itu. Tubuh tingginya terlihat kekar, berdiri yakin menatap Seokjin. Matanya memandang lurus ke dalam mata Seokjin, entah mengintimidasi atau apa. "Jangan."

"Eh?"

.

.

.

Pagi-pagi sekali, rumah Seokjin sudah ramai. Lelaki itu menggeliat sekali dan duduk di tepi tempat tidurnya sambil mengumpulkan kesadarannya saat suara ketukan pintu khas Yoongi–gedoran empat kali lalu jeda tiga detik. Ia berjalan tanpa peduli pakaian dan wajahnya, karena Yoongi tak akan berhenti hanya jika Seokjin berteriak kepadanya untuk menunggu dirinya cuci muka.

Terimakasih pada lelaki bernama RM itu, karenanya Seokjin benar-benar langsung sadar pagi itu karena terkejut melihatnya. Ia berdiri di depan jendela samping yang menghadap rumah Hoseok, namun lelaki itu jelas memperhatikan Yoongi dan kedatangannya yang ramai pagi ini.

"Maafkan sepupuku, kau terganggu?"

Sepertinya lelaki itu juga terkejut, namun secepat kilat Ia mengatur ekspresinya hingga Seokjin tak yakin jika lelaki itu terkejut seperti yang terlihat di punggungnya. Ia tersenyum kecil.

Seokjin kemudian membuka pintu samping rumahnya di mana Yoongi tak berhenti menggedor pintu berwarna putih itu.

Wajah Yoongi terlihat kesal saat Seokjin membuka pintu untuknya. "Sudah kubilang berikan aku kunci rumahmu! Agar aku tak perlu kedinginan menunggumu!"

Seokjin memutar bola matanya, salah siapa datang bertamu sepagi ini. Ia tersenyum kecil menyapa kekasih Yoongi yang berdiri di belakang sepupunya itu. "Masuklah, Jim, bersama Yoongi sejak pagi pasti membuatmu ingin mati."

"Sialan," gumam Yoongi dari balik punggung Seokjin.

Sebelum Jimin masuk, Seokjin buru-buru berbalik kepada Yoongi. "Ada apa hingga kau datang sepagi ini dari Seoul? 4 jam dari Seoul dan sampai pukul 7, ada sesuatu yang penting?"

Seokjin menyusul Yoongi dan duduk di meja makan, melipat tangannya di depan dada karena sweaternya tak bisa melawan dinginnya udara pagi ini. Ketika Yoongi tak kunjung menjawab, tak sengaja Seokjin melihat lelaki bernama RM itu.

Ia masih berdiri di tempat yang sama, di depan jendela, namun kali ini Ia sudah berbalik menyambut tamu rumah ini. Ekspresinya datar, tak tersenyum seperti yang sebelumnya. Namun satu yang dapat Seokjin tangkap dengan mudah; tubuh Jimin yang mundur selangkah tepat setelah Ia masuk ke dalam rumah Seokjin.

Karena melihat lelaki itu?

Dengan cepat Jimin menoleh ke arah lain, mengabaikan lelaki bernama RM yang menatapnya dengan lekat kini. Ia berjalan buru-buru, duduk di samping Yoongi dalam diam.

Keduanya hanya berbincang sebentar. Karena setelah sarapan dengan sereal dan susu dingin, Yoongi langsung masuk ke kamar untuk tidur. Begitu pula RM, lelaki yang tak banyak bicara itu, langsung masuk ke kamarnya setelah melihat ketiganya menyantap sereal–ya, dia menolak sarapan. Tinggal Jimin yang duduk di hadapan Seokjin di meja makan setelah lelaki itu menawarkan diri mencuci mangkuk kotor.

"Kau baik?"

Seokjin menaikkan pandangannya, menatap lelaki yang sejak SMP sudah dikenalnya karena Ia selalu mengekor Yoongi hampir setiap hari itu. "Baik,"

Jimin terlihat mengangguk pelan, membuang pandangannya agar tak berpandangan langsung dengan Seokjin. Ngomong-ngomong, Jimin jarang sekali menatap mata Seokjin lebih dari tiga detik, entah kenapa.

"Kau, sepertinya tidak sedang baik."

"Eh?"

Dagu Seokjin bergerak menunjuk ke arah pintu kamar tamu. "Kau mengenalnya?"

Kini Jimin menatap Seokjin dalam diam. Wajahnya datar, namun matanya sedikit bergetar. "Tidak,"

"Kau terlihat terkejut saat melihatnya."

"Itu," Jimin berdeham dua kali. "Itu karena aku tak menyangka jika lelaki yang tinggal di rumahmu benar-benar sama seperti yang dijelaskan Yoongi." Lalu Ia tertawa kering, "kekasihku sangat ahli dengan deskripsi."

Sayangnya Seokjin tidak sepolos itu hingga tidak mengetahui ciri-ciri orang yang sedang berbohong padanya.

.

.

.

Sebelum jam makan siang Yoongi bangun, duduk menemani Seokjin dan Yoora di kliniknya yang kosong hari ini.

"Kekasihmu sedang tidur?"

Yoongi mengangguk sambil mengangkat mug berisi air putih yang dibawanya dari dapur. "Apa yang kalian lakukan jika tak ada pasien, Jin?"

Seokjin menoleh ke asistennya, terkikik kecil kemudian. "Kami bergosip."

"Tentang?"

Yoora, asisten klinik ini, ikut terkikik setelah mendengar pengakuan Seokjin. "Pria tampan yang sedang tinggal di rumah Seokjin, bukankah menurutmu Ia seperti malaikat?"

Seokjin melirik Yoora dengan cepat, mengangkat alisnya, ingin menggigit Yoora karena Ia terlalu jujur. Apalagi pada Yoongi, yang tanpa Yoora ketahui bahwa Yoongi membenci lelaki itu.

"Itu gila." Gumam Yoongi, menatap tajam sepupunya kemudian. "Yoora-ssi, memang apa yang dilakukan lelaki itu tiap harinya?"

Yoora melebarkan matanya, sedikit terkejut dengan intensitas Seokjin dan Yoongi yang menatap matanya dengan tegang. Ia mulai berpikir jika mungkin saja Ia salah bicara. "Dia, kalau tidak berada di dalam kamarnya, hanya berdiri di dekat jendela, atau duduk terdiam di sofa."

Yoongi dan Seokjin terdiam, namun ekspresi keduanya benar-benar berbanding terbalik.

"Ia jarang bicara, sering diam seperti berpikir. Hanya saja kemarin pagi Ia terlihat berjalan-jalan, aku melihatnya berjalan di depan rumahku."

Kini keduanya menoleh terkejut, namun Seokjin yang paling terkejut. "Dia keluar rumah?"

Yoora mengangguk, "sepertinya berjalan ke perbatasan hampir ke hutan."

Seokjin bergidik. Kini Ia yakin bahwa lelaki itu mungkin seperti yang dijelaskan Yoongi kala di telepon, Ia bukan lelaki biasa. Seseorang biasa, dengan luka belum sembuh seutuhnya, tak akan mau berjalan-jalan. Apalagi di daerah baru, yang belum seutuhnya dikenalinya.

"Yoora, kau mau makan siang?" gumam Yoongi. "Pergilah ke dapur dan ambil makanan untukmu,"

Seokjin dan Yoora, keduanya, menoleh terkejut bersamaan. Mereka bertiga sama-sama tahu jika Yoora bukanlah bagian dari orang yang sering makan atau menghabiskan waktu di rumah Seokjin kecuali urusan klinik–Ia masihlah gadis desa yang lebih sering malu-malu. Dan tak pernah sekalipun Seokjin memberi perintah pada Yoora untuk mengerjakan sesuatu di luar urusan klinik.

Namun si pemilik rumah kemudian mengangguk menyetujui perintah Yoongi. "Ambilah makan di dapur, Yoora, kau bisa makan siang terlebih dulu, akan kususul nanti."

Begitu Yoora keluar dari klinik, Yoongi bergerak dengan cepat untuk menutup pintu yang menghubungkan klinik ini dengan rumah Seokjin, menguncinya juga dalam sekali gerakan.

"Kurasa kau bisa menangkap maksudku, bahwa lelaki itu bukan orang baik-baik, Jin."

Seokjin mengangguk, dengan tenang.

"Dan Seokjin, aku berani bersumpah kau tak perlu datang ke Seoul. Sudah, kau cukup di sini saja kali ini."

"Aku akan melakukannya jika kau menjelaskan semuanya padaku."

"Jin, tidak ada sahabat papamu yang memiliki anak bernama Kim Namjoon yang bekerja atau belajar, atau bahkan tinggal di Amerika. Sumpah mati aku hafal dengan semua kolega keluarga kita."

"Itu mengerikan,"

Yoongi menatap tajam sepupunya, berkata dengan nada terburu dan hampir berteriak, "Apanya, Jin?"

"Karena lelaki itu baru saja menyuruhku untuk tidak ke Seoul."

Alis Seokjin terangkat dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. Sudah cukup mereka bermain misteri seperti serial detektif. Sudah cukup semuanya disembunyikan, dan sudah cukup untuk Yoongi bermain-main dengan Seokjin. "Sekarang kau punya kesempatan terakhir untuk menjelaskannya padaku, seluruhnya yang kau tahu."

"Eh?"

"Dia bilang padaku, untuk tidak datang ke Seoul, Yoongi-ya. Semuanya sudah sampai ujung di mana saatnya kau menjelaskan padaku, seluruhnya. Ini kesempatan terakhirmu, karena jika hingga kau pergi dari rumah ini kau tidak juga menjelaskan semuanya, aku yakin aku tak akan ribut menceritakan padamu atau meminta pendapatmu lagi."

Yoongi terkekeh, keduanya paham jika keduanya sangat ahli dalam berunding dan memaksa.

"Tato di tangan lelaki itu, itu adalah tanda keanggotaan."

Seokjin menyamankan duduknya.

"Mungkin kau belum pernah mendengarnya, tapi sejak kau pergi dari Seoul, keluargamu cukup kalang kabut dan nama organisasi itu mulai sering terucap. Namanya H.O.U.N.D, mereka yang selalu ada untuk keluarga kita sejak awal."

"Eh?"

"Kau ingat bocah kecil yang bersamamu hingga kau lulus SMA? Itu bagian dari mereka, H.O.U.N.D, yang ditugasi menjagamu. Karena jika kau ingat, yang menjagamu selama kuliah adalah aku dan satu orang lagi yang menurutku lebih mirip preman."

Seokjin mengangguk, mencoba memahami prolog penjelasan Yoongi.

"Dan organisasi itu selalu menjadi back-up keluarga kita. Mereka menjalin kerjasama sangat baik. Jika kau tahu, mereka rela mengotori tangan mereka dengan darah asal tangan keluarga kita tak terkena tetesan darah. Asal perjanjian itu terus terjaga.

Hingga dua tahun setelah kau pergi, kau ingat ketika Papamu sakit, itu perbuatan mereka. Aku juga tak terlalu paham penyebabnya, namun hubungan keduanya kurang baik sejak lama, dan sejak Papamu sakit, mereka seolah menegaskan jika mereka ingin menguasai seluruh kepemilikan Papamu. Mereka ingin berada di atas, bukan sejajar, dari keluarga kita."

"Mereka jahat?"

Yoongi menjilat bibirnya. "Terlalu dini untuk menggeneralisasi dan memberi titel bahwa mereka jahat, Jin, kau tahu itu. Tapi memiliki orang dengan tato itu di rumahmu bukan hal yang baik."

"Itu alasannya Mamaku terus menyuruhku ke Seoul?"

"Bibi masih menelponmu?"

Seokjin memiringkan kepala singkat, "tidak berhenti."

"Aku tak tahu, Jin. Tapi sepertinya pergi ke Seoul bukan ide yang baik mengingat Bibi sudah berbohong sejak awal tentang anak sahabat mereka yang bernama Kim Namjoon."

Pintu klinik mereka di ketuk.

Seokjin yakin jika Yoora merasa tak enak untuk makan sendiri di dapur, apalagi mereka yang mengusir Yoora dari klinik–apalagi pintu klinik ini dikunci! Dengan langkah pelan, Seokjin berjalan untuk membuka pintunya. Dengan senyuman kecil dan kata maaf yang telah disiapkannya, Ia membuka pintu.

Sayangnya bukan Yoora yang berdiri di depan pintu seperti yang diharapkan Seokjin.

Itu RM, lelaki anggota H.O.U.N.D yang ada di rumahnya. Berdiri dengan jarak cukup dekat dengan Seokjin, berdiri dengan tubuh tinggi dan berisi yang mengintimidasi.

Nafas Seokjin tercekat tanpa bisa ditahan.

"Hai," gumam lelaki itu singkat, menyapa Seokjin dengan wajah datar.

Lalu tersenyum lebar saat matanya beralih menatap Yoongi. Jelas-jelas Ia tersenyum seperti teman lama pada Yoongi, bahkan saat Seokjin berdiri tepat di hadapannya.

-TBC-

Maaf karena selama ini terlalu banyak rahasia, aku minta maaf karena main rahasia-rahasiaan wkwk

Btw yang tanya apa itu H.O.U.N.D, udah dijelaskan kan? Ya, itu salah satu vocab bahasa inggris yang artinya anjing. Tapi vocab hound udah jarang dipake di jaman ini, biasa dipake pun untuk anjing besar yang liar (tetep jarang). Dan untuk masgojexganteng, bener banget kalo inget wicked di maze runner, tapi konsep organisasi ini terinspirasi dari seri Sherlock Holmes yang judulnya The Hound of Baskerville, bisa kalian liat di BBC, season 2 episode 2, itu keren pake banget heuheu

Kalo masih bingung sama HOUND dan organisasinya, tanyakan di review section, aku akan jawab di updatean selanjutnya :)

AKHIRUL KALAM,

RnR?

ILY!