H.O.U.N.D
Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others
Rate : T
Length : Parts
H.O.U.N.D
RM, Yoongi, Jimin, dan Seokjin.
Keempatnya duduk dalam diam di ruang tamu Seokjin sejak jam makan siang. Keempatnya sama-sama tak ada yang nafsu untuk makan. Tidak ada kalimat penjelasan lebih jauh yang diucapkan Yoongi sejak tadi, begitu juga lelaki bernama RM yang hanya duduk menatap Seokjin tanpa suara.
"Kalian mau diam terus seperti ini?"
Jimin melirik Seokjin. Lelaki itu bangun dari tidurnya tak lama setelah mereka bertiga duduk bersama terlebih dahulu, dan anehnya langsung berlari dan duduk di samping Yoongi dengan raut khawatir. Yang dikatakan Jimin setelah Ia bertemu Yoongi saat itu lebih aneh, "Kau tak apa, sayang?"
Cukup aneh diucapkan oleh orang baru bangun tidur.
"Kau bisa bertanya pada sepupumu, Seokjin." suara lelaki itu terdengar pelan.
Seokjin melirik Yoongi, lalu Jimin. Wajah lelaki berasal dari Busan itu masih menunjukkan raut khawatir, juga ketakutan. Ia menggeleng kecil pada Seokjin.
Seokjin memilih tidak melanjutkan. "Kalian berencana pulang atau menginap?"
Jimin masih tak berani berbicara, hanya menatap wajah kekasihnya dari samping dalam diam. Sedangkan Yoongi, wajahnya terlalu kaku dan tegang. Sangat ketara jika lelaki itu tidak dalam kondisi baik.
"Ajak Yoongi pulang, Jim, ajak dia mampir makan siang juga."
Dan Seokjin berani bersumpah, selama hidupnya tidak pernah melihat wajah Yoongi setegang ini sebelumnya. Apalagi matanya yang memerah saat Ia berpamitan pada Seokjin sebelum masuk ke dalam mobil.
.
.
.
Malam harinya tak kalah heboh.
Hoseok, yang saat sarapan tidak datang dan makan bersama Seokjin, berbondong meminta makan malam pada Seokjin satu jam sebelum jam makan malam. Bahkan ketika Seokjin masih malas berjalan ke dapur setelah ketegangan yang ditunjukkan sepupunya.
"Sepupumu sudah pulang?"
Seokjin tanpa sadar melirik kamar tamunya, di mana RM mengurung diri sejak Yoongi pulang. "Ya, siang tadi. Ada hal yang harus diselesaikannya di Seoul."
Hoseok kembali tidak pedulu, kembali membiarkan sesuatu terjadi. Ia mengubah topik. "Kau tidak masak?"
Seokjin ingin memukul tetangganya! "Seenaknya kau menyuruhku memasak dan memberimu makanan!"
Tawa Hoseok terdengar renyah dan cerah, matahari di desa ini sudah kembali. Dan Seokjin diam-diam bersyukur karena matahari cerah yang sebelumnya selalu menemaninya itu kembali lagi.
"Lelaki itu, dimana?"
Dalam hati Seokjin kesal. Kenapa seolah semua orang ingin tahu tentang lelaki itu sih?
"Dia bersikap baik denganmu?"
Seokjin mengangguk, merasa bersyukur karena Hoseok bertanya keadaannya alih-alih menyuruh Seokjin mengusir lelaki itu seperti biasanya. "Hoseok, aku tahu kau pasti merasa takut jika lelaki itu bukan orang baik, atau jika aku dalam bahaya karena membiarkan orang asing tinggal bersamaku di dalam rumahku,"
Hoseok terdiam.
"Tapi memutuskan untuk mengusir lelaki itu tanpa alasan yang jelas adalah keputusan yang paling salah menurutku. Setidaknya biarkan dia sembuh,"
Anggukan kecil lalu senyuman manis diberikan Hoseok pada Seokjin. Tangan lelaki itu menggenggam telapak tangan Seokjin pelan, "Ya, aku tahu aku salah karena terlalu jahat padanya."
Tanpa sadar senyuman Seokjin muncul, merasa bahagia karena sosok Hoseok yang dulu dikenalnya telah kembali. Entah karena kalimat Seokjin sebelumnya yang mengubah sikap Hoseok atau apa, yang jelas Seokjin merasa senang bukan main karena tetangganya yang baik telah kembali.
"Kau bisa mulai mengajaknya bicara, Jung, kau sangat mudah akrab pada orang lain."
Alis Hoseok bersatu tidak suka pada ide Seokjin.
"Dia akan lebih baik jika ada orang yang memahaminya, dan kurasa dengan sikapmu kau bisa membantunya lebih cepat pulih."
Hoseok menggeleng, "jikapun itu hal yang bisa kulakukan, akan kulakukan karena itu opsi paling akhir, Jin."
Suara pintu menginterupsi obrolan mereka. Sosok tinggi dengan tubuh gagah itu muncul kemudian, menatap datar ke mata Seokjin dan Hoseok.
"Bagus, aku akan membuat makanan untuk kita bertiga sementara kalian mengobrol!" potong Seokjin dengan cepat lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hoseok.
Apapun yang terjadi, seburuk apapun lelaki itu, setidaknya keputusan Seokjin masih sama dan masih bulat seperti sebelumnya. Bahwa Ia tak akan membiarkan lelaki itu pergi dari rumahnya sebelum Ia sembuh seutuhnya. Dan Ia berjanji akan membantu lelaki itu agar lebih nyaman, semata agar penyembuhan luka lelaki itu lebih cepat.
.
.
.
Ini pertama kalinya mereka bertiga duduk bersama di meja makan. Biasanya RM, lelaki itu, memilih mengunci diri di kamarnya selama Seokjin memiliki tamu atau Hoseok yang ramai ini berada di rumahnya. Atau bisa juga Hoseok yang seperti ketakutan atau bersikap aneh setiap RM keluar dari kamarnya, lalu pria itu buru-buru pamit pada Seokjin.
Kali ini seolah semuanya baik-baik saja.
Mereka menyelesaikan makan dalam diam, sebenarnya hal ini sangat dibenci Seokjin, makan dalam keadaan hening. Namun setidaknya Hoseok dan RM masih bertahan di tempatnya hingga piring mereka bersih, sudah hal yang luar biasa baik.
"Aku akan mencuci piring," gumam Hoseok lalu mengangkati piring mereka bertiga. Seokjin mengucapkan terimakasih dengan kasual sedangkan RM hanya diam memperhatikan piring di hadapannya diangkat oleh Hoseok.
"Bagaimana keadaanmu? Lukamu sudah kering?"
"Kau dokternya, kau yang harusnya lebih tahu."
Alis Seokjin terangkat mendengar ucapan tegas lelaki itu. Hoseok yang mendengarnya bahkan langsung menoleh dan menyatukan alis tak suka.
Seokjin tersenyum kecil kemudian. "Akan kuperiksa nanti sebelum tidur,"
"Sepupumu, kurasa Ia tak menyukaiku."
Ini bukan topik obrolan yang tepat dilakukan setelah makan malam. Obrolan makan malam seharusnya santai, bercerita tentang seharian adalah pilihan yang paling tepat.
"Daripada membicarakan Yoongi, kau sudah berkenalan dengan Hoseok?"
Mata RM bergerak, mengamati punggung Hoseok yang dimaksud Seokjin. Pemilik rumah terkekeh ringan, namun jelas RM menangkap gerakan kecil bagaimana bahu itu menegang. "Aku tidak suka berkenalan dengan orang baru."
Alis Seokjin bersatu, "Kau dengan mudah berkenalan denganku."
Lalu mata RM bergerak dengan cepat, menatap Seokjin dengan diikuti senyuman kecil. "Kita bukan baru saja bertemu, Seokjin,"
"Kita pernah bertemu sebelumnya?"
Senyuman kecil tersungging di bibir RM, Ia menatap Seokjin dengan senyuman. Alis Seokjin terangkat kebingungan.
"Jin," Hoseok duduk di samping Seokjin, memanggil namanya dengan nada terlalu keras dan riang berlebihan. "Bisa kau temani aku, besok?"
"Eh? Kemana?"
Hoseok tersenyum lebar, "Cucu Nenek Hong akan ulang tahun minggu ini, aku ingin memberikannya hadiah karena pernah membantuku."
"Jadi kau di sini seperti itu?"
"Eh?" Keduanya melirik RM, yang duduk dengan cengiran meremehkan dan wajah tertarik.
"Kau. Kau sering memberi hadiah pada orang di desa kecil ini?"
Seokjin mengangguk dengan cepat, dan semangat. "Ya, seluruh warga desa menyukai Hoseok karena kebaikannya yang luar biasa, ya tuhan kau harus tahu bagaimana Hoseok diciumi nenek-nenek dulu." Seokjin tertawa kecil mengingat saat-saat Hoseok diciumi nenek-nenek tahun lalu.
RM terlihat tertarik.
"Hoseok juga sering membantu warga desa, dia yang membangun taman bermain di dekat lapangan bola, dia juga yang membantu warga jika mereka membutuhkan bantuan dengan traktor mereka." Seokjin mengetuk meja di depan RM, sedikit kelepasan karena terlalu asik bercerita, namun tetap meneruskan sikapnya. "Kau tidak bisa bertanam, atau membangun? Kau akan sangat dicintai warga desa jika kau bisa melakukannya."
RM melirik Hoseok sekilas, lalu tersenyum menatap Seokjin. "Aku hanya bisa merakit lego, dan robot."
Mata Seokjin melotot, terlihat terpukau dan merasa senang berlebihan. "Itu sedikit kekanakan, tapi kita memiliki kesamaan!"
Senyuman di bibir tebal RM semakin lebar. "Ya, aku tahu."
.
.
.
Di malam hari, menjelang subuh, seperti biasa Seokjin berdiri menggenggam kedua tangannya untuk berdoa di hadapan lilin aroma sebagai simbolisasi doanya. Sekali lagi, tetap masih sama, Ia akan berdoa mengenai kebahagiaan dan keselamatan, juga kesehatan, seluruh keluarga dan orang yang dikenalnya. Doanya masih sama, dan akan tetap sama sampai kapapun tanpa peduli seburuk apa keluarganya, semengerikan apa pengaruh keluarganya.
Mengingat Yoongi yang dengan yakin berkata jika Mamanya berbohong tentang anak sahabatnya yang bernama Kim Namjoon, Seokjin kali ini benar-benar ketakutan.
Ia takut akan apa yang terjadi setelah ini, pada keluarganya.
Maka setelah meremas kedua telapak tangannya sendiri, dengan hati bergetar, Seokjin memohon kepada tuhannya, bahkan para dewa, untuk menyelamatkan siapapun yang bisa diselamatkan, terlebih keluarganya. Ia memohon, jika pun bisa terjadi, agar tak ada kekacauan setelah ini.
"Kau berdoa lebih lama dari biasanya, Seokjin."
Tubuh Seokjin sontak melompat mendengar gumaman bersuara rendah dari arah kirinya. Itu RM, berdiri dalam gelap di depan pintu kamarnya, yang entah sejak kapan sudah berada di posisinya karena–demi tuhan–Seokjin tak mendengar suara apapun sejak tadi!
"Kau mengagetkanku!"
RM terlihat terkekeh kecil, terlihat mengesankan dengan lesung di pipinya yang muncul ketika Ia tersenyum.
Seokjin pasti sudah gila!
"Kenapa kau bangun di tengah malam seperti ini? Mimpi buruk?" tangan Seokjin bergerak pelan menutup lilin aromanya tanpa membiarkan lilin itu mati.
Alis RM menyatu sekilas, terlihat tidak puas mendengar pertanyaan Seokjin.
"Ah, kau tidak bisa tidur? Orang sepertimu sepertinya tak akan bangun dan terganggu hanya karena mimpi buruk, iya kan?"
Pandangan RM mengikuti tubuh Seokjin yang berjalan diseret untuk menyalakan lampu rumahnya. "Aku mendengarmu bangun, setiap malam. Dan malam ini kau lebih lama dari biasanya, kupikir kau tertidur sebelum kembali ke kamarmu. Atau pingsan, atau mati."
Jelas saja Seokjin terkejut mendengarnya, Ia menoleh menatap RM dalam diam beberapa detik, ingin menyumpah tapi memilih kembali melanjutkan langkahnya menuju kliniknya. Ia kembali dengan membawa nampan besi berisi kasa dan alkohol, juga peralatan lainnya.
"Aku lupa mengganti perbanmu dan melihat lukamu karena Hoseok, biar kulihat lukamu." Gumam lelaki itu lalu duduk di sofa di ruang santai. Ia menatap RM cukup lama, menunggu lelaki itu untuk menyusulnya duduk.
Karena RM masih saja berdiri di tempatnya, Seokjin menepuk spasi kosong di sofa di dekatnya. Alisnya naik, "kau tidak mau?"
Mata RM mengerjap beberapa kali, lalu berjalan pelan dan duduk di hadapan Seokjin.
"Angkat kausmu,"
RM menurut. Mengangkat kausnya hingga ke dada, memperlihatkan perutnya yang tanpa lemak dan bekas luka tusukan yang telah dijahit di perut kirinya.
"Kau tak merasa nyeri di perutmu?"
"Aku bisa menahannya,"
"Nyeri tidak?"
Mata RM menatap ke bawah, pada kepala Seokjin yang kini sedikit menunduk agar bisa melihat luka di perutnya. Tanpa aba-aba, kepala Seokjin diangkat dengan cepat. Wajah mereka masih berjauhan, kepala Seokjin masih di depan perut RM, namun tautan pandangan mereka yang tanpa sengaja tercipta membuat keduanya terkejut.
Sama-sama terkejut saat menyadari bagaimana mata lawan mereka ternyata terlihat indah–sangat indah.
"Nyeri, pasti."
Seokjin mengernyit, memahami rasa sakit yang dirasakan orang di hadapannya ini, yang masih akan dirasakannya hingga sebulan ke depan. "Kau akan merasakan nyeri ini hingga sebulan, kau bisa meminta pereda nyeri padaku jika kau tak sanggup menahannya." Gumam Seokjin kembali menunduk dan melepas perban yang menutupi luka jahitan di perut RM.
"Aku sudah biasa,"
Gerakan tangan Seokjin berhenti seketika. Ini bukan pertama kalinya RM mengatakan hal-hal sejenis yang menegaskan bahwa Ia memang bukan orang baik-baik, sayangnya Seokjin sudah paham dan mengantisipasi.
"Ya, aku tahu." Gumamnya lalu membuang perban bekas di lantai, mengambil dan menuangkan botol alkohol di kapas untuk membersihkan sekitar jahitan di perut pria itu. "Mana ada orang baik-baik yang memiliki luka seperti ini, hampir mati, dan malah datang ke klinik kecil di desa pinggir hutan."
"Karena aku hampir mati di hutan, Seokjin. Terlalu jauh pergi kemana-mana."
Lidah Seokjin kelu, mati-matian Ia terlihat tenang. "Kau seharusnya menelpon polisi, atau ambulans."
"Terlalu lama untuk mereka bisa sampai menjemputku. Aku keburu mati saat itu,"
Seokjin tak bisa menahan gerakan tubuhnya, Ia refleks menoleh menatap mata RM.
"Kalaupun polisi datang, kupikir bukannya Ia membantuku tapi akan dibiarkan aku menghadapi ajalku."
Tubuh Seokjin tegak, melupakan kapas alkohol di tangannya. Kali ini pandangan mereka sejajar. Ini bukan pertama kali Seokjin mengetahui fakta-fakta seperti ini. Hampir khatam dirinya mendengar nasib orang yang ada di organisasi yang sama dengan RM, mati sekalipun seharusnya Ia bisa diselamatkan.
"Itu mengerikan,"
"Kau pasti sudah paham bagaimana cara kerja dan kelakuan kami,"
Lidah Seokjin semakin kelu. Kami yang dimaksud RM adalah anggota organisasi H.O.U.N.D, dan memang Seokjin sudah hafal dan paham bagaimana sifat mereka.
"Karena Papamu yang membuat kami demikian, benar?"
Tangan Seokjin terkepal.
"Tak perlu pura-pura terkejut, Seokjin, kau pasti sudah mengetahuinya, kan?"
Mata Seokjin hampir berair.
"Kami tak memiliki perasaan, kau tahu baik tentang itu." Senyuman di sudut bibir lelaki itu semakin lebar saat dari ujung netranya, Ia menangkap gerakan kecil tangan Seokjin yang mengepal menahan getaran ketakutan. "Kami harus membunuh, agar tidak dibunuh. Kadang kami harus melihat teman kami mati dengan mata kami sendiri, jika kami tak ingin ikut mati."
Pertahanan diri Seokjin semakin melemah.
"Mamamu," RM terlihat tersenyum. "Ia masih menyuruhmu datang ke Seoul untuk bertemu dengan anak sahabatnya yang bernama Kim Namjoon?"
Hampir putus lidah Seokjin karena digigitnya sendiri. Sejauh ini Ia tak pernah berharap akan melakukan konfrontasi secepat ini dengan sosok RM. Kapanpun itu, Ia belum siap jika secepat ini RM menyerangnya dengan fakta. "Bagaimana," gumam Seokjin masih tetap dalam pandangannya yang lurus menatap RM. "Bagaimana sebenarnya kau bisa mengenalku?"
Senyuman RM mengembang sempurna, mirip pemburu yang berhasil menjebak buruan. Matanya masih menatap lurus ke mata Seokjin, terlihat mengerikan. "Karena aku Kim Namjoon itu, Seokjin."
-TBC-
Mohon dimaafkan kalau saya kurang dari ekspektasi kalian, huhu
DAN SEBENARNYA ADA DRAFT UNTUK CERITA BARU TAPI AKU SUSAH BAGI FOKUS DAN MOOD, jadi kuselesaikan ini dulu ya haha!
RnR?
ILY!
