H.O.U.N.D
Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others
Rate : T
Length : Parts
H.O.U.N.D
Seokjin terkejut?
Jelas.
Tersentak?
Hampir tersedak ludahnya sendiri saat dengan telinganya, dalam jarak sedekat itu, pria bernama RM ini memulai konfrontasi di pagi buta; membeberkan fakta yang mati-matian Seokjin sembunyikan.
Sebenarnya Seokjin tidak menyembunyikan apapun, fakta mengenai betapa mengerikannya keluarganya memang sudah diterima Seokjin sejak lama. Ia paham semengerikan apa keluarganya dalam bertindak, sebesar apa pengaruh orang tua dan paman-bibinya–bahkan kakaknya pernah bilang jika blue house akan menurut pada salah satu pamannya.
Sayangnya sejak tujuh tahun terakhir, Seokjin ingin melupakan fakta itu. Sekuat mungkin Ia berlari menjauhi kumpulan fakta mengerikan itu dari hidupnya, berusaha memiliki hidup 'normal'.
"Sepertinya kau ingin memiliki hidup normal, yang jauh dari kekuasaan keluargamu. Apakah aku salah?"
Bahu Seokjin bergetar kecil. "Tidak."
Tangan lelaki yang baru saja mengaku bernama Namjoon itu menyentuh bahu Seokjin, dan meremasnya dengan cukup kuat. "Kau perlu mengendurkan bahumu agar terlihat kuat di saat-saat seperti ini, Seokjin."
Seokjin menggigil, mengingat itu kalimat yang sering diucapkan Papanya.
"Kenapa? Kau mengingat kalimat yang sering diucapkan Papamu?"
Tanpa kuasa penuh, mata Seokjin nyalang menatap lelaki di hadapannya–yang malah tertawa meremehkan Seokjin saat ini.
"Kau lupa? Betapa mengerikannya Papamu?"
Keduanya terdiam kemudian, namun dengan ekspresi berkebalikan. Yang satu tertawa seolah menang, yang lain ketakutan dengan tangan mengepal dan gemetar.
"Kau–" suara Seokjin tercekat tanpa penghalang. "Mereka menyuruhmu datang dan mengacau hidupku?"
Lelaki itu tertawa, lebih lepas daripada sebelumnya yang hanya kekehan kecil. "Tentu tidak. Aku tidak berada dalam posisi yang bisa diperintah, Seokjin."
Kepala Seokjin sepenuhnya pusing. "Lalu apa maumu?"
Senyuman yang menunjukkan kemenangan tersungging sepenuhnya di wajah lelaki itu. "Biarkan aku tetap di sini,"
Tentu saja Seokjin ingin menolak. Namun sepertinya Ia tidak berada di posisi yang bisa menolak. Ia belum tahu siapa sebenarnya lelaki ini, apa mau lelaki ini, dan siapa saja yang ada di balik lelaki ini.
"Bersikaplah biasa saja, dan percaya padaku seutuhnya."
.
.
.
Satu yang sepertinya sulit dilakukan oleh Seokjin atas permintaan lelaki yang sekarang tinggal di rumahnya ini; percaya padanya–seutuhnya.
Masalah tinggal di rumah ini, atau Seokjin yang merawatnya tanpa bayaran, atau hal remeh lainnya, bukan masalah bagi Seokjin. Namun sesuatu hal yang paling susah didapat di dunia ini adalah kepercayaan, kan?
"Sejujurnya aku tak bisa percaya padamu," gumam Seokjin. Masih di tempat yang sama, masih di waktu yang sama ketika matahari bahkan belum hadir di antara mereka, namun pandangannya jatuh menatap kedua tangannya yang kini ada di pangkuannya.
"Ya, aku tahu." Suara lelaki itu masih sama tenangnya. "Kau, sama sepertiku, memiliki hidup di mana kepercayaan sangat mahal, dan tak akan mempercayai siapapun jika bisa."
Seokjin tersenyum getir. Itu yang diajarkan Mamanya, bahkan sejak Seokjin belum bisa membaca.
"Tapi, Seokjin," tangan lelaki itu menarik dagu Seokjin lembut–Seokjin kira lelaki ini akan bersikap kasar padanya. "Bisakah kita saling mempercayai seperti dua anak kecil yang bermain bersama di taman? Sekalipun baru saling mengenal, mereka akan saling percaya jika tak ada dari mereka yang akan meninggalkan yang lainnya."
Seokjin terbius. Bagaimana cara lelaki itu menatapnya, ya tuhan, sungguh berbeda. Ia benar-benar menunjukkan kelembutan di wajahnya, termasuk gerakan lembut tangannya ketika menuntun wajah Seokjin agar menatap matanya. Seokjin sudah gila!
Tapi sekali lagi, dalam hati kecilnya, Seokjin meyakinkan dirinya sendiri jika Ia masih tak boleh percaya pada siapapun, termasuk orang di depannya ini. Sekalipun Ia menawarkan seember kebaikan atau lebih, atau ketika Ia menawarkan keamanan dan kenyamanan, Seokjin tidak bisa mempercayainya.
Karena seperti kata Mamanya, Ia hidup di mana kepercayaan bernilai mahal.
Karena seperti kata Yoongi, sekalipun kita tak bisa menilai semua orang yang ada di hidupnya adalah orang jahat, tapi tidak ada dari mereka yang baik.
Maka Seokjin merapal dalam hati, bahwa lelaki di depannya, yang baru saja menawarkan kelembutan dan kenyamanan yang memabukkan padanya ini, bukan orang sembarangan. Ia pandai memainkan perasaan dan mengatur ekspresi. Keduanya adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh orang dengan hal mengerikan dalam hidupnya.
.
.
.
Karena ini hari Sabtu dan kliniknya hanya beroperasi jika ada yang membutuhkan–Yoora tak akan datang dan Seokjin hanya membiarkan kliniknya terpasang tanda 'buka' namun Ia akan menyibukkan diri di dalam rumah–Seokjin bangun sekitar pukul 11. Entah, mungkin lebih, karena matahari sudah cukup terik dan berada di atas ketika Seokjin bangun.
Ia berjalan ketika kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul, berjalan ke dapur mencari air minum.
Matanya terbuka seutuhnya berkat sosok lelaki itu, baiklah mari kita percayai dirinya yang mengaku bernama Namjoon dan menyebutnya Namjoon mulai sekarang–meskipun Seokjin yakin jika bisa saja Ia berbohong mengenai namanya. Ia sudah duduk di meja makan dengan tangan bertaut di atas meja, membelakangi Seokjin. Memang benar jika Ia hanya duduk berdiam, hanya menunjukkan punggungnya, namun aura dominasi terasa sekali di sekitarnya.
Seokjin berdeham setelah berhasil menyadarkan dirinya dari keterkejutannya karena sosok Namjoon ini. Dehamannya jelas membuat Namjoon menoleh.
"Kau bangun?"
"Sedang apa pagi-pagi begini kau sudah duduk di meja makan?" tanya Seokjin sambil lalu, berjalan menuju lemari es dan mengambil botol air dingin. Ia berjalan sambil membuka tutup botolnya, duduk di hadapan Namjoon lalu menegak isi botolnya. "Kau sudah sarapan?"
Namjoon memperhatikan Seokjin, caranya menatap masih sama seperti RM–mengintimidasi sekalipun hanya tatapan datar. "Aku tidak lapar."
Seokjin merengut. "Makan yang baik dan teratur sangat baik untuk penyembuhan lukamu. Lukamu akan sulit kering jika kau tak rutin makan dan meminum obatmu."
Sudut bibir Namjoon ditarik, Ia tersenyum tipis. "Bisa aku meminjam ponselmu?"
"Untuk?"
"Aku perlu menghubungi seseorang,"
Mata Seokjin memicing sepersekon, "siapa orang yang akan kau hubungi itu?"
Namjoon terdiam, sepertinya tak ingin menjawab.
"Kau tahu," Seokjin berdeham. "Untuk percaya padamu, setidaknya aku harus benar-benar yakin dan memahami siapa dirimu, mengenalmu lebih dalam, baru aku bisa percaya."
Sudut bibir lawan bicaranya tertarik sekali lagi, kini lebih lebar. "Kau memang sangat pandai bicara, Kim Seokjin. Tapi aku tak ingin menjelaskannya padamu karena akan rumit jika aku harus menjelaskannya sedangkan kau tak paham situasinya."
Mati-matian Seokjin menahan bola matanya agar tidak berputar meremehkan. Lelaki di hadapannya ini, terlalu sering berputar-putar dalam menjelaskan.
Namun detik selanjutnya tangan kanan Seokjin menggeser ponselnya ke hadapan lelaki itu. "Kau tahu aku akan mencoba percaya padamu," gumamnya menatap lurus mata lelaki itu. "Maka jangan kau patahkan kepercayaanku padamu,"
Lelaki itu mengedipkan matanya sekali, yakin dan tenang. Ia tersenyum lembut membalas tatapan mata Seokjin. "Kau bisa memegang seluruh ucapanku, aku juga tak suka bermain-main denganmu."
Ia berdiri dengan ponsel Seokjin di tangannya kemudian. Berjalan menjauh dari Seokjin saat Ia mengetik nomor yang ditujunya.
"Kau bisa melakukan panggilan di sini?"
Suara Seokjin menyeruak, cukup keras, tapi berhasil membuat tubuh Namjoon berhenti dan berbalik. Alisnya terangkat saat menatap Seokjin, namun tanpa bicara Ia duduk kembali dengan tenang.
Ia menempelkan ponsel Seokjin di telinga kirinya. Seokjin melirik nadi di pergelangan tangan kiri lelaki itu yang kini memegang ponsel, membiarkan tatonya terlihat.
Sumpah mati Seokjin tak pernah melihat tato demikian dalam hidupnya!
"Halo, Taehyung? Ini aku."
Mata Seokjin melebar saat lelaki itu akhirnya berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Dalam duduknya Ia mengamati wajah lelaki di depannya.
"Ya, aku baik. Sayangnya mereka semua mati,"
Alis Seokjin terangkat saat mendengar kata 'mati', seolah mengetahui apa yang dimaksud Namjoon. Sedangkan Namjoon menangkap perubahan ekspresi Seokjin, Ia telah memperkirakan reaksi Seokjin sebelumnya.
"Ya, dia juga baik." Ucap Namjoon ringan sambil melirik Seokjin terang-terangan. "Kau bisa datang ke tempat ini?"
Namjoon mengundang orang lain ke tempat ini? Rumahnya?
"Ya, aku membutuhkan uang, bawakan aku sekitar 3000 Dollar, ambil peralatanku, juga jangan lupa bawa ponselku yang kutitipkan padamu terakhir kali."
Ludah Seokjin tanpa sadar hampir mencekiknya karena Ia menelannya dengan kasar saat mendengar bagaimana lelaki itu menyebutkan bilangan uang dengan mudah.
"Ya, kau tahu peralatan basic yang kubutuhkan," lalu Ia tertawa, "sekalipun bagimu itu terlalu banyak, tapi aku membutuhkan semua itu."
Jarak mereka hanya dipisahkan sebuah meja kayu dengan panjang kurang dari dua meter. Dari tempatnya, yang berhadapan langsung dengan pria ini, Seokjin berani bersumpah jika susunan wajah lelaki di hadapannya tidak buruk–hampir sempurna malah.
Kulitnya tidak seputih orang Korea kebanyakan, lebih gelap, sun-kissed, namun terlihat segar dan cerah bersamaan. Rambutnya juga tebal, dan pernah sekali Seokjin memegang rambut lelaki itu dan merasakan bagaimana lembut dan terawatnya rambut pria ini. Rahangnya cukup tegas, sekalipun tulang rahangnya tak menonjol sejelas Hoseok, namun Seokjin yakin jika ketegasan rahang lelaki ini menggambarkan kewibawaan–
"Kau sudah selesai melamun?"
–Seokjin mengerjap cepat!
Di hadapannya lelaki itu sedang menatapnya. Ponsel Seokjin sudah berada di meja, di hadapannya.
"Kuberi tahu," Ia terkekeh sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Seokin. "Lain kali jika kau sedang melamunkan seseorang atau mengamati seseorang hingga melamun, jangan saat orang itu di hadapanmu, Seokjin."
Mata Seokjin melebar semampunya ketika sosok Kim Namjoon itu tersenyum miring, menegaskan jika lesung di pipinya adalah keindahan yang tak perlu diragukan lagi.
Kali ini Ia tertawa lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi, masih dengan tubuh condong ke depan. "Kau lucu jika terkejut seperti ini."
.
.
.
Mereka bertemu kembali–sekalipun berada dalam satu rumah–ketika hampir jam makan siang. Saat itu Namjoon baru saja keluar kamarnya ketika Seokjin memastikan pakaiannya sudah rapi.
"Kau mau pergi?"
Seokjin menoleh sekilas, menepuk pantatnya beberapa kali. "Ya, Aku berjanji menemani Hoseok pergi ke kota."
Lalu Namjoon tertawa geli dan duduk di sofa di ruang santai, masih memperhatikan tubuh Seokjin yang kini dibalut celana jeans hitam dan kaus coklat muda. "Memangnya Hoseok mengajakmu ke mana?"
Oh, Seokjin baru ingat jika Hoseok tak terlalu jelas menjelaskan tujuannya hari ini.
Melihat wajah Seokjin yang dengan jelas menggambarkan kebingungannya, Namjoon semakin tertawa geli. "Katakan pada Hoseok, lain kali Ia tak perlu berbohong."
Alis Seokjin menyatu, "berbohong?"
Namjoon mengangguk, dengan senyuman lebar setelah Ia tertawa.
"Siapa yang berbohong, dan untuk apa berbohong?"
Penjelasan hampir Namjoon berikan, namun pintu rumah Seokjin terbuka. Hoseok berdiri di ambang pintu. Senyuman Namjoon semakin lebar, dagunya bergerak menunjuk tubuh Hoseok yang berdiri, "tanyakan saja padanya."
Seokjin mengikuti arah dagu Namjoon dan mendapati tubuh Hoseok berdiri di sana dengan raut kebingungan. Kadang Namjoon ini terlalu suka bermain-main, membuat orang di sekitarnya tak nyaman. Maka dengan ringan langkah Seokjin maju mendekat ke tempat Namjoon, mencondongkan tubuhnya sedikit lalu berbisik, "ingatkan aku untuk memberitahumu cara menjaga perasaan orang."
Seokjin sempat memastikan ekspresi Namjoon yang berubah setelah Ia membisikkan kalimatnya, namun Ia memilih untuk membiarkan. Dengan langkah ringan Seokjin menghampiri Hoseok dan mendorong ringan tubuh lelaki itu agar segera berangkat.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Seokjin menoleh, mendapati Hoseok yang sedang menatapnya setelah sabuk pengamannya terpasang. Seokjin menarik sabuk pengamannya lalu memakainya dengan baik sambil tersenyum, "bukan apa-apa."
"Kalian membicarakanku tadi?"
"Hmm, ya dan tidak."
Hoseok menyatukan alis sekilas. Tangannya mulai bekerja melajukan mobilnya. "Lelaki itu menunjukku begitu aku tiba. Ada apa?"
Sayangnya Seokjin memiliki prinsip, bahwa berbohong tak akan dosa jika memang dengan berbohong kita bisa menjaga lebih banyak orang. "Sudah kubilang tidak apa, Jung. Fokus saja menyetir."
.
.
.
Ngomong-ngomong, jika Namjoon mengatakan Hoseok berbohong, wow, lelaki itu yang salah!
Karena memang seharian Seokjin berputar mencari hadiah yang tepat untuk anak usia 6 tahun untuk diberikan kepada cucu nenek Hong. Bahkan Hoseok rela mengunjungi tiga tempat sekaligus untuk mendapatkan hadiah sesuai keinginan bocah laki-laki itu.
Bagian mana dari diri Hoseok yang berbohong seperti kata Namjoon?
Hoseok masih tetangganya yang baik, yang bersikap ramah dan ceria pada siapapun. Yang masih menyapa setiap warga desa yang ditemuinya di jalan, rela mencari dan berkeliling hingga ke tiga tempat berbeda hanya demi membesarkan hati anak umur 6.
"Datanglah ke rumahku untuk makan malam, aku akan memasak karena kau sudah menemaniku belanja kebutuhanku, Hoseok."
Lelaki itu tersenyum saat mengangguk mengiyakan. "Aku akan mandi lalu ke rumahmu."
Maka Hoseok benar-benar datang sekitar tiga puluh menit setelahnya, dengan wajah yang lebih segar. Ia bahkan menyapa Namjoon–yang tadi pagi tanpa sepengetahuannya menuduhnya berbohong. Bahkan hingga mereka selesai makan bertiga, Hoseok tetaplah Hoseok yang dengan ceria bercerita pada Seokjin sekalipun sosok Namjoon cukup mengganggu karena hanya tertawa kecil atau mendengus.
Hampir pukul sebelas pintu rumah Seokjin diketuk. Ketiganya terdiam setelah bergurau mendengar guyonan garing Seokjin.
"Siapa yang bertamu malam-malam, Jin?" wajah Hoseok terlihat begitu cemas.
Namjoon? Seokjin melirik lelaki itu, dalam hati kecilnya Ia merasa jika seseorang yang mendatangi rumahnya di waktu ini pasti ada hubungannya dengan Namjoon–karena tamunya mengetuk pintu rumah bukannya klinik seperti pasien.
"Dia tamuku."
Pemilihan kata 'tamuku' membuat Seokjin bergidik. "Jangan dibuka!"
Namjoon yang terlanjur berdiri menyatukan alis kebingungan menatap Seokjin. Dengan jelas Ia mendengar nada ketakutan dan waspada dari suara Seokjin. Ia paham, lelaki dokter ini tak mau berurusan dengan orang 'buruk' jika itu tamu Namjoon.
"Tidak, Ia tidak akan berbuat jahat." Ucapnya lembut lalu menyentuh pundak Seokjin. Ia berjalan dari ruang santai tempat mereka berkumpul, berjalan melewati beberapa pintu kamar dan ruang tamu, baru membuka pintu.
Seokjin tanpa sadar melirik Hoseok. Ia sedikit takut.
Ia memanjangkan leher, mengintip sosok Namjoon yang kini berdiri di ambang pintu dengan senyuman lebar setelah pintu dibuka. Mereka–Namjoon dan tamunya–terlihat berpelukan singkat, terbilang jantan saat mereka berpelukan dengan dada bertubrukan dan saling menepuk punggung. Sayangnya Seokjin tak bisa melihat dengan jelas siapa tamu Namjoon.
Dengan cepat Seokjin mengembalikan posisi duduknya kembali seperti sebelumnya ketika Namjoon mengajak tamunya masuk ke dalam rumah. Tanpa Seokjin kira, Namjoon mengajak tamunya ke ruang santai, ke hadapan Seokjin dan Hoseok.
"Dia tamuku, Kim Taehyung." Gumam Namjoon sambil berdiri. "Dia Seokjin, kau tahu, dan satunya Hoseok."
Lelaki bernama Taehyung, yang kulitnya satu tingkat lebih eksotis dari kulit Namjoon dengan tinggi tubuh di bawah Namjoon, itu tersenyum lebar. Tangannya menenteng tas jinjing dari kulit berwarna hitam.
Ia hanya menyapa Seokjin singkat, namun malah melambaikan tangannya pada Hoseok. "Hai, lama tak bertemu."
Namjoon melirik Taehyung setelah lelaki itu menyapa Hoseok, lalu tertawa geli.
Dalam hati Seokjin merasa aneh, pemilihan kata yang buruk untuk sapaan!
"Kami akan berbicara berdua saja," gumam Namjoon lalu berjalan kembali ke arah ruang tamu yang cukup berjarak dari tempat Seokjin sekarang.
Sayangnya Seokjin tak akan bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. "Kenapa harus berbicara di ruang tamu, sih?"
Hoseok terkekeh mendengar gerutuan Seokjin. "Kau ingin tahu?"
"Tentu saja!"
Alis Hoseok menyatu sekilas, "tidak biasanya, Seokjin. Biasanya kau membiarkan orang lain berbicara empat mata tanpa ingin kau mengganggu."
Seokjin menoleh menatap Hoseok. "Kau pikir aku dan lelaki itu berada di posisi saling mengerti privasi?"
"Wow!"
"Dia mengetahui siapa aku, Hoseok, bahkan Ia mengetahui sesuatu yang tak kau ketahui. Sewajarnya aku juga tahu banyak tentang dirinya."
Wajah Hoseok berubah datar saat menatap Seokjin setelah mendengar ucapan Seokjin. Itu mengerikan, bagaimana Seokjin melewati batas privasi yang selama ini Ia jaga mati-matian. "Kau lupa, ada saatnya kita benar-benar tak harus tahu latar belakang seseorang, Jin."
.
.
.
Sayangnya selama tamu Namjoon masih berada di rumahnya, dengan pembicaraan yang terlihat serius dengan Namjoon, Seokjin tidak tenang. Ia masih memaksa matanya untuk terjaga saat jam menunjuk angkat empat–Ia menyeduh kopi dan menonton serial Game of Thrones.
"Seokjin, kau masih bangun?"
Itu Namjoon, berjalan ke hadapan Seokjin dengan Taehyung mengekor di belakangnya. "Ya, aku masih belum mengantuk."
Yang jelas saja membuat Namjoon terkekeh. Seokjin bukan orang yang suka tidur selarut ini setahunya, dan mug keramik di hadapan Seokjin yang menyisakan kopi seperempat bagian menegaskan kebohongan Seokjin.
"Taehyung akan pamit."
Seokjin tak setuju. "Pamit pulang? Ini sudah hampir subuh, kau juga meyetir. Menginaplah, masih ada kamar kosong di rumah ini."
"Tidak." – "Ya!"
Keduanya menjawab bersamaan, dalam nada suara sama-sama tegasnya. Namjoon yang menolak dan Taehyung yang mengiyakan. Keduanya menoleh berpandangan dalam gerakan bersamaan, saling menatap dalam diam. Kemudian Taehyung memasang wajah cemberut dan kembali menatap Seokjin.
"Aku akan pulang, Seokjin hyung. Aku tak bisa menginap."
Jelas saja karena Namjoon mengatakan tidak! "Kau tidak menginap karena Namjoon bilang tidak?"
Taehyung menggeleng, Ia kembali tersenyum lebar–dan kali ini Seokjin baru memperhatikan dengan jelas jika ternyata lelaki ini tersenyum dengan senyuman membentuk persegi. "Tidak, memang aku harus kembali ke Seoul untuk menyelesaikan urusanku yang lain. Urusanku dengan Namjoon hyung sudah selesai. Aku pamit, ya."
.
.
.
Adalah kebodohan karena Seokjin tak sengaja tertidur di sofa di ruang santai dengan TV menyala, entah sampai kapan. Karena ketika Ia bangun, selimut tebal sudah membungkus dirinya dan Namjoon terlihat membaca buku di ujung kakinya.
Itu buku kedokteran Seokjin.
"Kau bangun?"
Seokjin menggerang, merasakan tubuhnya kaku namun dibuat nyaman karena selimut ini. "Jam berapa ini?"
Namjoon menjatuhkan buku di tangannya ke atas pahanya, menoleh untuk melihat jam dinding. "Sepuluh, hari Minggu. Kenapa kau tertidur di sofa?"
Erangan keluar lagi dari bibir Seokjin, kali ini Ia menggeliat meregangkan tubuhnya, lalu duduk dengan sakit luar biasa di leher. "Uh,"
"Tubuhmu pasti kaku semua,"
Seokjin mengangguk lemah, dengan mata tertutup dan tangan memukul-mukul lehernya.
"Lehermu kaku?"
Sekali lagi Seokjin mengangguk.
Terdengar kekehan kecil Namjoon, namun Seokjin bisa menangkap gerakan lelaki itu ketika menutup buku bacaannya di meja lalu mengubah posisi duduknya agar menyerong ke arah Seokjin. "Berbaliklah, kupijat lehermu."
Mata Seokjin terbuka, seutuhnya kesadarannya terkumpul. "Eh?"
Senyuman ringan di wajah Namjoon membuat lelaki itu terlihat luar biasa. "Aku bisa memijat, setidaknya agar leher dan bahumu tidak kaku dan membuat pinggangmu sakit kemudian."
Itu benar. Leher dan bahu yang kaku akan merambat ke penegangan otot di bagian pinggang jika tidak segera diselesaikan. Maka dengan tak begitu yakin Seokjin berbalik, menunjukkan punggungnya kepada Namjoon.
"Aku akan pelan," lirih Namjoon saat tangannya yang terasa hangat menyentuh leher Seokjin.
Tubuh Seokjin sempat terlihat bodoh, karena ketika tangan Namjoon menyentuh lehernya, tubuhnya melompat kecil karena terkejut. Namjoon terkekeh di balik punggung Seokjin.
"Kenapa tidak tidur di dalam kamarmu, Seokjin?" tanya Namjoon saat tangannya mulai memijat leher Seokjin dengan pelan–benar-benar lembut, lho.
"Apakah aku terlihat sengaja tidur di sofa?"
Sekali lagi kekehan kecil terdengar dari balik punggung Seokjin.
"Kau yang memberikanku selimut?"
"Tentu saja, siapa lagi?"
"Terimakasih."
Gerakan tangan Namjoon berhenti beberapa saat, namun kembali memijat. Kali ini dua tangannya, di bahu Seokjin. "Bahumu sangat kaku karena tertidur di sofa, Seokjin, jangan diulangi."
Seokjin mengangguk.
WOW! Ia seolah menjadi penurut.
Mereka terdiam kemudian. Seokjin masih merasakan tangan Namjoon yang memijat bahunya, sesekali menangkup lehernya dengan hangat dan memijatnya dengan gerakan memutar dan pelan. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, Seokjin membiarkan orang yang baru dikenalnya 'menyentuh'nya. Bahkan Hoseok tak pernah sekalipun memijat Seokjin layaknya Namjoon sekarang.
Dan sungguh, mungkinkah karena tampannya lelaki ini, sehingga Seokjin bersikap beda padanya?
"Ngomong-ngomong, aku akan pergi ke kota hari ini."
Seokjin tak setuju. Dengan sekali gerakan Ia memutar tubuhnya dan menoleh menatap Namjoon dengan wajah tak suka. "Untuk apa?"
Namjoon sedikit terkejut melihat reaksi orang di hadapannya ini, yang sedang menyatukan alis dan menodongnya dengan pertanyaan bernada tinggi. "Aku membutuhkan banyak hal jika aku ingin tinggal di sini. Pakaian,"
Oh benar, Seokjin barus sadar jika selama hampir dua minggu ini Namjoon hanya memakai kaus-kausnya–yang jelas saja terlalu ketat untuk tubuh bulkynya!
"Aku juga membutuhkan mesin kopi, beberapa hal lainnya."
"Tapi perutmu masih belum kering,"
Namjoon tertawa kecil. "Tapi aku bisa berjalan seutuhnya."
Bukan itu. Tentu saja Seokjin tahu jika Namjoon akan kuat untuk berjalan jauh sekalipun. Terlebih jika benar Namjoon pernah berjalan ke pinggir desa, ke arah hutan, beberapa hari yang lalu. Seokjin lebih takut jika terjadi sesuatu pada Namjoon.
"Kutemani?"
Mata Namjoon melebar. Namun senyuman tipis jelas tergurat di mata dan bibirnya. "Kenapa?"
Ada jeda waktu hingga Seokjin menjawab. Selama jeda itu, mereka sama-sama terdiam dan hanya saling menatap. "Kau.. Jika benar kau bukan orang normal,"
"Ya?"
"Pasti banyak yang ingin melihat kematianmu." Seokjin berbisik cukup lirih, dengan mata menatap lurus ke mata Namjoon. "Dan aku tak ingin kau mati,"
Senyuman lebar tersungging di bibir Namjoon.
"Tentu saja!" Suara Seokjin meninggi, matanya tak lagi menatap Namjoon, "Aku tak menyelamatkanmu hanya untuk meliahtmu terluka lagi. Jadi pantas 'kan jika aku melindungimu?"
Namjoon terkekeh, Ia mengangguk setuju dan menurut pada dokter ini. "Tapi Seokjin,"
Kepala Seokjin menoleh ke samping menatap mata Namjoon.
"Seharusnya kau yang lebih menjaga diri. Sepertinya lebih banyak yang menginginkan kematianmu dibanding kematianku."
-TBC-
YES I'M BACK karena aku gatahan kalo udah selesai satu hal dan ga buru-buru ku upload :') iya, aku anaknya spoiler wkwkw
hmm, gmn sayangku? wyt?
INI BUAT KMRN YANG NANYAIN KABAR TAEHYUNG, KUJAWAB KAN SUDAH. tenang gengs, semuanya dapet jatah masing-masing.
Dan kalian tahu apa kabar terbaiknya? akhirnya aku udah selesaiin plot ini sampe final, tinggal nulis dan milih kata-kata aja wkwkwk HAPPY FOR YOUU
RnR?
ILY!
