H.O.U.N.D

Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others

Rate : T/M

H.O.U.N.D

Terkadang Seokjin memang adalah sosok yang sangat ingin tahu. Ia bisa mencari tahu sesuatu hingga ke akarnya agar rasa ingin tahunya terpuaskan. Dulu, Ia bahkan rela membayar berapapun demi mendapatkan sebuah jawaban yang Ia inginkan. Dulu Ia menggunakan segala kekuasaan keluarganya, juga kekayaan keluarganya, untuk mencari anak kecil yang tumbuh besar bersamanya, yang tiba-tiba menghilang. Seperti ditelan bumi.

Dan Seokjin menyerah ketika ditodong senjata di depan dahinya karena mencari anak itu.

Sejak saat itu, mungkin sejak saat itu, Seokjin memahami arti sesungguhnya dari kata privasi dan urusan pribadi. Sebelumnya Ia selalu tak peduli pada batasan dan bersikap harus tahu seluruh hal di dunia.

Tekadnya untuk berhenti mencari tahu semakin kuat ketika orang yang menodongkan senjata di depan dahinya itu mati tertembak di hadapannya, saat itu juga, ditembak oleh sniper yang bahkan Seokjin tak tahu keberadaannya. Tapi sungguh, Seokjin mengingatnya dengan jelas bagaimana lubang di dahi pria itu mengeluarkan darah dan otak.

Seokjin ingin dirinya mati saat itu juga.

.

.

.

Seokjin sudah paham luar dalam jika banyak yang menginginkan kematiannya. Banyak yang tersakiti karena keluarganya. Banyak pihak dirugikan langsung maupun tak langsung. Maka saat Namjoon mengingatkannya akan kematian, Seokjin malah tertawa. "Aku tahu," ucapnya ringan.

Mata Namjoon melebar beberapa detik, lalu kembali normal. "Kau tahu seberapa buruknya keluargamu?"

Seokjin mengangguk, sambil tersenyum manis.

"Kau," Namjoon menggantung kalimatnya, mempertimbangkan ucapannya. "Baik-baik saja dengan semua itu?"

Kini Seokjin benar-benar menatap lurus ke dalam matanya dan masih menampilkan senyuman di bibirnya. "Kau tahu, aku tak akan mengatakannya padamu sebelum aku tahu betul siapa dirimu."

Giliran Namjoon yang terdiam.

"Kau pasti tahu, aku bahkan belum percaya jika namamu yang sebenarnya adalah Kim Namjoon."

"Benar." Lirih pria itu. Kemudian dari ekor matanya, Seokjin melihat bagaimana Namjoon menarik satu sudut bibirnya, tersenyum mengerikan dengan matanya yang kelam. "Tapi bukankah kita sudah berjanji untuk saling percaya?"

.

.

.

Pukul empat sore, Seokjin melihat Namjoon sudah berdiri melipat tangannya di depan dada dengan ekspresi tak suka.

"Ada apa dengan ekspresimu?"

Pria itu memutar bola mata, "kau berjanji akan menemaniku ke kota."

Ekspresi Seokjin berubah terkejut dengan cepat. "Oh aku lupa! Aku harus pergi ke gereja. Jadwalku adalah Minggu Sore. Maaf, ya, besok bagaimana? Setelah aku selesai–?"

"Janji adalah janji."

Seokjin tanpa sadar menggigit bagian dalam bibir bawahnya, "Kita akan langsung pergi ke kota setelah aku selesai dari gereja. Bagaimana?"

Lelaki tinggi dengan tubuh gempal itu terdiam menatap Seokjin cukup lama. "Kau pergi ke gereja bersama tetanggamu?" lelaki itu bertanya dengan pandangan menelisik.

Si Dokter tertawa, "Hoseok, namanya Hoseok. Dan tidak, Ia tak datang ke gereja Minggu sore."

"Lalu kutemani saja." Sergah Namjoon cepat. "Tunggu aku,"

Dalam hati Seokjin sedikit bingung, seingatnya lelaki itu tak punya banyak baju karena baju yang Seokjin berikan semuanya tak cukup besar menampung tubuhnya yang berisi. Maka Seokjin menunggu jika lelaki itu akan keluar kamar dan memintanya meminjami kemeja yang cukup untuk tubuhnya.

Tapi tidak. Lelaki itu keluar dengan pakaian–bukan pemberian Seokjin–serba hitam. Ia bahkan memakai turtle neck yang hampir menunjukkan seluruh gundukan otot di tubuhnya.

"Kau memakai itu?!" pekik Seokjin tak ragu. Bajunya... sedikit mengerikan untuk dipakai ke gereja.

Namjoon menatap ke bawah ke tubuhnya. "Apa yang salah?"

Seokjin menjilat bibirnya, tersenyum kecil tanpa bisa berbuat apa-apa. "Ya sudah, ayo berangkat. Lagipula aku tak bisa memberimu baju yang cukup untuk ukuran tubuhmu, kok."

Keduanya berjalan ke luar, tentu saja naik mobil Seokjin karena gereja mereka berada di tengah kota. Ketika Namjoon sudah memasang seat beltnya dan Seokjin mulai menyalakan mesin mobil, sosok Hoseok terlihat meloncat ke samping kaca jendela Seokjin.

"Mau kemana kalian?" tanyanya riang.

"Gereja. Jangan banyak tanya, Jung, aku hampir terlambat."

Mata Hoseok melebar saat Ia mengucapkan 'tunggu' berkali-kali untuk menahan Seokjin. "Aku ikut-aku ikut-aku ikut! Tunggu, Jin, aku ikut bersamamu." Ucapnya cepat, lalu dengan gerakan kecil, matanya melirik Namjoon yang sedang bersiul di kursi di samping Seokjin.

Lelaki bermarga Jung itu terlihat meloncat masuk ke dalam rumahnya, berlarian, lalu kembali kurang dari sepuluh menit. "Aku siap, tidak lama, kan?" tanyanya riang dengan senyum lebar dan mata bersinar, duduk di kursi belakang dengan ramai.

Yap, tepat. Seokjin seperti pengurus pria-pria tua sekarang. Yang satu pendiam dan bersikap aneh dengan latar belakang yang sepertinya mengerikan, yang satu tetangganya yang periang namun ramai.

"Tapi, Jung." Mobilnya sudah sampai di gereja ketika Seokjin akhirnya ingat hal yang ingin dibicarakannya.

"Ya?" Hoseok yang telah membuka pintu mobil untuk keluar menahan tangannya dan menoleh pada Seokjin. "Tapi apa?"

"Bukannya kau ke gereja setiap Sabtu sore? Kau tak suka datang ke gereja setiap hari Minggu karena acara gereja ini lebih lama di Minggu Sore."

.

.

.

Mereka setuju untuk makan malam di dekat gereja setelah selesai. Entah kebetulan atau sebuah keberuntungan besar, tapi Seokjin bersyukur dua laki-laki yang bersamanya ini tidak berbicara hal-hal aneh sedikitpun sejak dari rumahnya. Ya, karena keduanya terus diam bahkan saat mereka menyanyi bersama.

"Ini pertama kalinya kau gereja?"

Namjoon yang ditembak pertanyaan tiba-tiba oleh Seokjin terlihat melebarkan matanya, lalu mengangguk dengan santai. "Apakah terlihat jelas?"

Seokjin bergidik bergurau, "sangat. Kemana kau pergi sebelumnya? Kuil? Kau juga melihatku aneh setiap aku berdoa malam."

Mata Namjoon berubah kelam, lalu Ia mengerjap beberapa kali sebelum menyunggingkan senyuman kepada Seokjin. "Tidak. Aku tidak percaya konsep tuhan dan neraka."

Wow. Lelaki ini pandai merusak suasana.

"Baik. Kita hentikan topik ini karena kita harus makan dengan tenang dan nyaman."

Namjoon tertawa kecil mendengar suara Seokjin yang terdengar sangat anti dengan ucapannya barusan. "Aku sama sekali tak percaya konsep surga dan neraka, Seokjin, itu semua sampah untuk menakutimu."

"Kenapa kau tak mempercayainya?"

Keduanya menoleh menatap Hoseok yang mengaitkan jari tangannya di depan wajah, bertanya pada Namjoon dengan senyum datar namun bersahabat. "Kenapa kau tak percaya neraka? Karena kau yang membuatnya?"

Namjoon tersenyum kecil, mengendikkan bahunya pelan. "Tidak. Bukan aku yang membuatnya, jadi aku tak perlu percaya."

"Memang..." Seokjin mendesis, menatap kosong meja di hadapannya. "Siapa yang menciptakannya, Namjoon?"

Senyuman Namjoon semakin lebar, seolah puas dengan semuanya. "Kenapa kau tak mencoba bertanya pada tetanggamu ini, Seokjin?"

Pandangan mata Seokjin terangkat dan menatap bingung Namjoon, yang kemudian lelaki itu melirik Hoseok sambil tersenyum meremehkan.

Hoseok tertawa, "suasana makan malam apa ini?" Ia tertawa lebih keras, "Tapi, Namjoon, aku percaya konsep Tuhan, aku anak Bapa yang baik. Aku percaya konsep surga dan neraka,"

"Kau tidak." Kini tubuh Namjoon bahkan benar-benar menghadap ke Hoseok seluruhnya, tersenyum kecil dan mengamati mata Hoseok dalam-dalam. "Kau tidak percaya konsep tuhan dan aku berani bertaruh akan hal itu."

"Baiklah, kita harus sudahi pembicaraan seperti ini." Seokjin mengakhiri. "Setelah ini aku tak akan membiarkan kalian berada di meja yang sama atau ruangan yang sama."

Makan mereka datang, bahkan saat Namjoon masih tersenyum ke arah Hoseok dengan tenang, tapi siapapun bisa tahu jika senyuman Namjoon sangat mengerikan saat itu.

"Hoseok-ah, jika kau bisa membohongi Seokjin, jangan harap kau bisa membohongiku seperti orang bodoh. Dan... kau sebaiknya bersikaplah wajar seperti dirimu biasanya." Namjoon berbisik, "kau.. tidak seperti yang kau tunjukkan sekarang, kan? Kenapa kau tak mencoba bersikap biasa dan berhenti berperan?"

.

.

.

Ketiganya menyelesaikan makan dengan diam–yang dibenci Seokjin seumur hidup dan membuat lelaki itu berjanji untuk tidak akan mengajak keduanya bersamaan. Namjoon pamit ke toilet setelahnya.

"Jung, kumohon jangan seperti itu lagi" Seokjin melirik Hoseok dengan lembut. "Siapapun Namjoon itu, kurasa lebih baik kita mulai menerimanya."

Lawan bicaranya terdiam. Hoseok tak setuju.

Seokjin tertawa kering kemudian, "Jung, jadwalmu ke gereja hari Sabtu dan hari ini kau datang bersamaku." Seokjin menatap lawan bicaranya, "Kau.. ikut aku pergi ke gereja karena Namjoon pergi bersamaku, kan?"

Giliran Hoseok yang tertawa, tiba-tiba. "Whoa, Jin, kau semakin lancar menyebut namanya!"

"Kamu masih sulit percaya jika Namjoon memang baik?"

Hoseok terdiam menatap ke dalam mata Seokjin dan menemukan kesungguhan di sana.

"Karena memang seharusnya kita seperti itu, Jung, menerima Namjoon dan membantunya jika Ia membutuhkan sesuatu. Tak mungkin Namjoon sejahat itu."

"Tidak, Jin–"

"Sekalipun." Seokjin memotong ucapan Hoseok dengan yakin. "Sekalipun Ia sejahat yang kau pikirkan, mari kita anggap kejahatannya adalah sebuah kekhilafan dan kita anggap sekarang Ia bertaubat."

Pelipis Hoseok berkedut seiring senyumannya yang dipaksakan. Seokjin tak tahu, lelaki itu jauh dari kata paham dan Hoseok merasa bodoh karena tak bisa menjelaskan pada Seokjin semudah yang Ia bisa terima.

Sosok Namjoon berjalan ke arah mereka, membuat keduanya bergerak cepat setelah sama-sama terdiam kaku saling menatap. "Aku akan menemani Namjoon pergi berbelanja kebutuhannya," bisik Seokjin melirik Hoseok cepat, "kuharap kau tak masalah jika pulang lebih dulu tanpa kami."

.

.

.

Entah Namjoon adalah tipikal orang yang cuek atau memang sedikit bodoh dan ceroboh, namun lelaki itu tak paham sama sekali cara belanja. Berapapun umurnya sekarang, setidaknya belanja dan memilih pakaian yang ukurannya tepat adalah hal yang setidaknya harus diketahuinya.

Ia bahkan tak paham ukuran baju dan celananya!

"Aku tak pernah pusing dengan ukuran pakaianku, selalu ada yang mengurus hal remeh temeh seperti itu untukku." Gumam Namjoon saat Seokjin tak berhenti menggerutu tentang kebodohannya. "Kenapa kau semarah ini?"

Seokjin meliriknya malas, ingin mengatakan jika ukuran baju dan celana adalah hal wajib yang setidaknya dihafal setiap orang selain nama dan alamat. Tapi lelaki itu memilih menyimpan kalimatnya dan memilih tersenyum pada Namjoon–toh Ia tak mungkin marah pada Namjoon di hadapan penjaga toko, kan?

Dan satu lagi; Namjoon adalah pemboros. Ia menghabiskan hampir 3000 dollar yang dimilikinya dalam sekali belanja–Ia berkata bahwa Ia hanya memakai baju bermerk mahal atau jika tidak kulitnya akan gatal, duh!

"Tenang, aku masih punya black card di kantongku."

Seokjin hanya bisa tersenyum getir, sedangkan dirinya masih berharap kiriman uang dari keluarganya karena gaji dokternya sama sekali tak bisa diandalkan. "Kau harus banyak bersyukur, Kim Namjoon, ya?"

Maka mereka sampai di rumah Seokjin hampir tengah malam, dengan Seokjin yang menolak dengan tegas ketika Namjoon memintanya membantu membawakan belanjaannya.

Seokjin meneguk air dingin di dapur ketika melihat tangan Namjoon penuh dengan tas belanja. "Whoa, kau belanja seperti akan tinggal di sini selamanya, tuan pemboros."

Tubuh Namjoon berbalik, menatap Seokjin dengan mata berkedip–imut. Ia terdiam namun bibirnya bergerak terbuka, lalu tertutup kembali. Mengurungkan niatnya untuk berucap.

"Kau... akan tinggal di sini selamanya?" Seokjin bergumam saat Namjoon tersenyum kecil padanya lalu berjalan kembali ke kamarnya.

"Kau tak ingin?"

Tidak. Seokjin tak ingin hidupnya diganggu dengan orang yang berhubungan dengan masa lalunya, dan Namjoon jelas orang yang akan membawa kisah kelam keluarga Seokjin ke kehidupannya.

Sudut bibirnya tertarik, "Aku 'kan sudah berjanji untuk menjagamu, kau tak ingat?"

Seokjin merasa tak pernah membuat janji demikian.

Sedangkan Namjoon mengingatnya sampai mati. "Kita sama-sama membuat janji, Seokjin. Aku yang menjagamu walau aku harus mati, dan kau yang akan terus percaya padaku."

Seokjin memilih berbalik dan menyelesaikan botol air dinginnya, membiarkan pertanyaannya tentang alasan Namjoon membeli banyak sekali pakaian tak terjawab. Ia tak mau berurusan dengan janji demikian, saling menjaga dan rela mati. Itu gaya papanya, bukan gaya Seokjin.

Langkah ringan Namjoon terdengar di telinga Seokjin, lelaki itu membuka pintu–pasti pintu kamarnya. Merasa lelaki itu sudah masuk ke dalam kamarnya membuat Seokjin tanpa sadar melemaskan tubuhnya. Semuanya–semuanya tentang ucapan lelaki itu terasa begitu membingungkan dan membuat kepala Seokjin berputar. Persetan dengan semuanya, besok Seokjin memastikan akan menanyai–tidak, menginterogasi jika perlu–hingga lelaki itu menjelaskan semuanya.

Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan ponselnya di meja makan–yang kemudian sialnya berbunyi sedangkan bokongnya baru saja menyentuh permukaan tempat tidurnya.

Suara ponselnya nyaring–dan terdengar menyebalkan!

Seokjin berjalan dengan langkah menyeret ke meja makan, berniat menyumpahi siapapun yang menelponnya selarut ini. Tapi langkahnya terhenti beberapa sekon saat melihat bahwa Namjoon juga keluar dari kamarnya.

"Jangan seret langkahmu, Seokjin." Lelaki itu berucap lembut.

"Itu ponselku yang berbunyi." Seokjin mengingatkan, karena ponsel Namjoon jarang sekali berbunyi–bahkan Seokjin hampir tak pernah melihat Namjoon menyentuh ponsel miliknya.

"Ya, aku tahu."

Lalu keduanya berjalan ke satu tujuan; meja makan. Karena entah apa alasannya, lelaki itu juga menuju ponsel Seokjin yang berbunyi–dan whoa! Ponsel Seokjin artinya privasi Seokjin!

Tapi percuma, sepertinya lelaki itu tak begitu paham konsep privasi di hidupnya.

Tangan Seokjin bergerak cepat meraih ponselnya–takut Namjoon menarik ponselnya terlebih dahulu. Alisnya terangkat bingung karena nama kontak Mamanya muncul di layar ponselnya.

"Ini Mamaku," tanpa sadar Seokjin berbisik lirih dan melirik Namjoon. Lelaki itu berdiri di seberang meja, menatap mata Seokjin dalam diam.

Ia mengangguk, "Angkatlah, aku bersamamu."

Seokjin menggeser ikon telepon berwarna hijau, mengangkat panggilan Mamanya. Aneh baginya, karena Ia menurut begitu saja ketika Namjoon mengatakan padanya untuk mengangkat panggilan Mamanya. Juga aneh karena ini sudah lewat tengah malam dan Mamanya menelpon.

"Ya, Ma?"

Namjoon masih berdiri di seberang meja makan, menatap Seokjin dalam diam dan menunggu. Seokjin menarik kursi dan duduk, sikunya menumpu di meja makan.

Ngomong-ngomong, jika kalian ingin tahu, Mamanya masih menelponnya sekalipun tak seintens dua minggu lalu–saat Namjoon baru berada di rumahnya. Hal yang dibicarakan Mamanya masih sama; berbasa-basi lalu memaksanya datang ke Seoul untuk bertemu anak sahabat Papanya yang bernama Kim Namjoon.

Dan ketika nama itu disebut malam ini, Seokjin melirik Namjoon. Alis lelaki itu terangkat, bertanya 'ada apa' tanpa suara sebagai balasan lirikan mata Seokjin.

Bukankah Seokjin sudah mengatakan jika hidupnya tidak akan tenang sejak babak keempat cerita ini? Bahwa hidupnya tak akan tenang lagi setelah Ia mendengar omong kosong Yoongi tentang tak adanya nama Kim Namjoon seperti yang dikenalkan Mamanya, dan ucapan Namjoon yang berbelit.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Seokjin menunjukkan rasa takut dan khawatirnya yang ditunjukkan di wajahnya kepada sosok Namjoon. Seokjin pusing tentang siapa yang harus dipercaya di hidupnya. Seokjin tak memiliki pijakan bahkan sepenggal saja.

Panggilan telepon dengan Mamanya terputus setelah Seokjin berjanji akan mengabari keputusannya. Lalu Namjoon menyusul Seokjin duduk di meja makan, berhadapan dengan Seokjin. "Mamamu masih menyuruhmu datang ke Seoul?"

Anggukan Seokjin sebagai balasan pertanyaan Namjoon. Dokter itu kini setengah tertunduk memperhatikan tangannya yang meremasi ponselnya di atas meja. "Ia memaksa, kalimatnya sama sekali bukan ajakan." Ia memberanikan diri menatap mata Namjoon, membiarkan Namjoon mengetahui ketakutan dan kebingungannya, membiarkan orang asing di hadapannya memasuki celah di hidupnya. "Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Jari telunjuk Namjoon terdengar mengetuk meja kayu beberapa kali, "Tidurlah terlebih dahulu, besok pagi kita pikirkan semuanya."

Seokjin menurut, membiarkan kalimat manis dan ucapan lembut Namjoon mengaturnya. Yang Ia tahu kemudian dirinya telah berada di bawah selimut di dalam kamarnya, mengetahui Namjoon sedang berjalan ke luar kamarnya setelah membelai kepala Seokjin lembut.

.

.

.

Seokjin masih bangun, pukul tiga, untuk menyalakan lilin aromanya dan berdoa ke bapa. Namun malam ini Namjoon sudah berdiri di sana, menyalakan api di lilin aroma Seokjin lalu berbalik dan tersenyum saat mengetahui Seokjin juga terbangun.

"Kau bangun?"

Itu pertanyaan Namjoon. Aneh, seharusnya Seokjin yang bertanya karena ini adalah kebiasaannya. Tapi Ia hanya diam dan berjalan menuju lilin aromanya, berdiri di samping Namjoon dan berdoa sambil menyatukan dua tangannya dalam genggaman.

Ia berdoa.

Sama seperti sebelumnya.

Namun kali ini ada yang berbeda selain kesembuhan Namjoon; bahwa apapun yang akan dihadapinya, Ia berharap tak akan banyak darah yang tumpah, tak akan banyak jiwa yang hilang. Karena perasaannya berpikiran jika semua ini–kehadiran Namjoon, paksaan Mamanya, juga kalimat berbelit Yoongi–mengarah pada sesuatu.

Ia membuka matanya saat merasa Namjoon memperhatikan dirinya sejak tadi. Dan ketika matanya terbuka, memang benar, Namjoon sedang memperhatikan wajahnya yang sejak tadi berdoa.

Duh! Apa Ia ada iler? Atau belek di matanya?! Apa rambutnya berantakan?!

"Kau berdoa apa?"

"Bukan sesuatu," lirih Seokjin, "Sama seperti sebelumnya."

"Kau berharap jika semua hal ini akan berakhir baik?"

Seokjin mengangguk, Ia tak mau berbohong di hadapan bapa. Lagipula tak ada yang perlu disembunyikan.

"Ya sudah," Namjoon sekali lagi membelai kepalanya lembut, "Tidurlah. Akan kupastikan semua akan berakhir baik seperti doamu."

.

.

.

Alasan kenapa Namjoon sudah bangun malam ini dan menjadi yang lebih dulu menyalakan lilin aroma Seokjin?

Karena Ia tidak tidur sebelumnya.

Ia tidak tidur. Ia menelpon sahabatnya, adiknya, dan orang kepercayaannya hingga detik ini; Kim Taehyung. Bukan adik secara harafiah, tapi Taehyung itu adiknya.

"Aku akan ke Seoul."

"Kau sungguhan, hyung?" Suara Taehyung terdengar memekik keras. "Lalu bagaimana dengan Seokjin hyung? Kau akan meninggalkannya sendiri?"

"Tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri di situasi sekarang, terlebih melihat tingkah tetangganya itu."

"Ya. Lalu bagaimana caramu datang ke Seoul dan menjaga Seokjin hyung yang ada di sana? Kau membelah diri?"

Namjoon tertawa kecil membayangkan wajah menggebu Taehyung. "Ia juga akan ke Seoul."

"Apa?!"

"Ya." Namjoon melirik pintu kamarnya yang tertutup, seolah bisa menembus dinding dan melihat sosok Seokjin yang telah Ia antar tidur tadi. "Wanita itu memaksa Seokjin datang dan mengatakan hal aneh, Ia berbohong. Aku tak tahu apa rencana mereka."

"Kau mau aku mencari tahu rencana mereka?"

Namjoon tersenyum bangga mengetahui kecakapan Taehyung. "Kau selalu bisa kuandalkan."

"Aku harus, hyung. Aku yang paling setia padamu, aku yang akan selalu bersamamu, dan akulah perpanjangan dirimu. Kau.. bisa percaya padaku."

Maka setelahnya, Ia menunggu jawaban Taehyung dengan pergi ke perbatasan desa dan hutan, menemui beberapa orang untuk menyelesaikan urusannya. Tentu saja diam-diam, berusaha agar tidak diketahui siapapun, lalu kembali sebelum waktunya Seokjin bangun untuk berdoa.

Oh, Ia tak lupa mencuci tangannya yang berwarna merah dan amis setelah kembali dari perbatasan!

.

.

.

Hari Senin. Hari yang buruk. Bukan karena Seokjin memiliki dendam kesumat pada hari Senin. Tapi karena Seokjin sedikit pusing memikirkan jalan hidupnya, yang rasanya tak akan bisa lepas dari kukungan keluarganya.

Ia berjalan dengan kepala tertunduk dan tangan yang memegangi leher belakangnya, dengan tubuh lemas, dan kaki diseret. Menimbulkan suara kurang enak didengar kuping, tapi masa bodoh dengan urusan kuping.

"Sudahkah kuingatkan jika sebaiknya kau tak berjalan dengan langkah diseret, Kim Seokjin?"

Duh, kenapa lelaki ini suka sekali mengagetkan sih?!

Tak cukup dengan mata Seokjin yang sering tiba-tiba terbelalak atau kesadarannya yang penuh seutuhnya karena melihat sosok ini muncul di hadapannya, kali ini suaranya yang menggelegar itu mengejutkan Seokjin!

"Kau–bisa tidak memelankan suaramu? Aku kaget setengah mati, tahu!"

Lelaki itu tertawa kecil, "Aku tidak berteriak, lho, aku hanya berbicara dengan suara supernormal."

Seokjin membalas menggerutu, "mana ada yang namanya supernormal? Normal ya normal saja, tak perlu ada embel-embel super, belajar di mana sih?"

Namjoon makin terkikik geli. Ia memperhatikan Seokjin yang meneguk air putih dingin dari dalam lemari es hingga setengah botol. Lalu pria itu berbalik untuk menengok meja di hadapan Namjoon, dan berjalan ke meja makan membawa dua mangkuk di tangan kanan, karton susu di tangan kiri, dan boks sereal diapit di bawah ketiaknya.

"Duh, kau menaruh makanan di ketiakmu?"

Seokjin tahu jika Namjoon hanya bergurau, tapi Ia kesal digoda seperti ini. "Kurang ajar, kau pikir ada apa dengan ketikakku?!"

Namjoon tertawa, menunjukkan–dengan penuh kearoganan–lesung di pipinya, yang demi tuhaaaaan indah sekali.

Seokjin berdeham. Mendorong mangkuk ke hadapan Namjoon lalu menuangkan susu terlebih dahulu baru sereal.

"Kau menuangkan susu dulu baru sereal?! Kau seharusnya menuangkan serealmu dulu agar kau tak terlalu banyak menuangkan susu!"

Duh, perdebatan tentang susu dulu atau sereal dulu dimulai.

Tapi Seokjin tak ingin mengalah. "Kumohon..." desis Seokjin memulai perdebatan di pagi hari ini, "Tuan, jika kau menuangkan serealmu dulu, artinya kau memberi mereka air bah atau tsunami lalu kau biarkan mereka tenggelam karena susu yang kau tuangkan."

Seokjin mengakhiri kalimat panjangnya dengan senyuman datar dan terpaksa, lalu berlanjut, "dan yang kedua, jika kau menuangkan serealmu dulu, serealmu tak akan renyah, mereka lembek dan aku jijik!"

Lelaki itu mengakhiri kalimat panjangnya dengan tarikan nafas panjang. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah melongo lawannya, bahkan siap melihat mata melongo lelaki (tampan) itu serta mulut terbukanya. Haha!

Ketika Seokjin membuka matanya dan siap melihat apa yang telah Ia bayangkan, lelaki itu membuatnya kesal. Karena dengan masa bodohnya, Ia sedang menuangkan serealnya ke mangkuk lalu menuangkan susu selanjutnya. Tanpa mendengar penjelasan Seokjin. Tanpa repot menunggu Seokjin selesai.

"Sialan."

Baru Ia tertawa geli.

Mereka makan, dengan masih memperdebatkan mana yang harusnya lebih dulu dituangkan; apakah sereal atau susu. Hingga Namjoon yang selesai makan terlebih dulu menatap Seokjin ingin tahu.

"Tetanggamu itu tidak datang?"

Oh ya, benar. Tumben sekali Hoseok belum datang hingga pukul–pukul berapa ini, Seokjin melirik jam dinding–pukul sembilan!

Maka Ia memasukkan beberapa sendok sarapannya dengan sekaligus ke dalam mulutnya–hingga mulutnya menggembung penuh–dan berjalan menuju rumah Hoseok.

"Makan dengan benar, hati-hati tersedak!"

Duh, lelaki itu lebih mirip ibu-ibu yang cerewet!

Pintu rumah Hoseok semuanya tertutup–dan terkunci. Beberapa waktu Seokjin mengetuk rumah lelaki itu, tidak ada jawaban, begitu juga ketika Seokjin–dengan lancang–menengok ke dalam kaca jendela rumahnya; kosong.

Hoseok tidak di rumah.

"Kurasa Ia pergi ke Seoul." Ucap Namjoon dengan senyum meremehkan. "Ia pasti ada urusan untuk diselesaikan di Seoul."

"Jangan sok tahu,"

Namjoon mengendikkan bahunya ringan dan santai, "Ya, saat kemarin Ia pamit pulang, Ia tak pulang melainkan pergi ke Seoul karena ada sesuatu yang besar yang harus diberitakannya." Lelaki itu melebarkan matanya dan ekspresif saat mengucapkan kata 'besar' dalam kalimatnya.

Hampir saja Seokjin menggerutu karena sifat sok tahu yang dimiliki Namjoon ketika lelaki itu bergumam lirih, namun penuh keyakinan dalam ucapannya.

"Pergilah ke Seoul."

"Eh?"

"Ya, pergilah ke Seoul seperti yang diinginkan Mamamu."

Alis Seokjin bersatu singkat tanpa sadar. "Kenapa?"

Lelaki itu memiringkan kepalanya singkat dan mengendikkan bahunya, "Kau tak akan tahu apa yang sebenarnya diinginkan Mamamu, dan satu-satunya cara mengetahuinya adalah menghadapinya. Kau... pasti paham," lelaki itu berhenti berbicara untuk menatap mata Seokjin dengan tajam, "jika Ia tak akan berhenti menelponmu sebelum kau datang menuruti perintahnya."

"Jadi," Namjoon tersenyum main-main, "mari kita turuti permainan mereka dan memenangkan permainan ini."

Seokjin tak paham. "Sebelumnya kau yang paling vokal mengingatkanku untuk tidak ke Seoul, kenapa sekarang?"

"Karena aku sudah berhasil mengumpulkan orang, Seokjin."

Seokjin benar-benar tak paham.

"Untuk melindungimu, jika terjadi sesuatu."

Tawa Seokjin keluar tak tertahan. "Oi, Tuan, yang kutuju ini Mamaku, lho, keluargaku sendiri."

Namjoon juga tertawa lalu mengangguk paham, "Aku paham, Seokjin. Makanya, aku bilang berjaga-jaga. Kau tak akan tahu jenis medan perang apa yang akan kau hadapi, kan?"

Mata mereka bertemu dalam diam kemudian, tanpa tawa, tanpa wajah penuh nada mengejek. Keduanya terdiam seolah sama-sama paham pikiran masing-masing. "Kau ini," Seokjin menghela nafasnya lelah, "Sebenarnya siapa kau ini?"

"Kau bahkan menyuruhku untuk melakukan dan tidak melakukan, lalu sekarang kau seolah yakin jika sesuatu bisa saja terjadi. Bahkah kau–"

"Kau mengenalku." Potong lelaki itu santai, Ia kini tersenyum samar.

Seokjin hampir berteriak. "Tidak. Kau tidak mengenalku dan kita tak saling mengenal!"

Kini lelaki itu menegakkan duduknya, begitu juga Seokjin yang tanpa sadar mengikuti gerakan lelaki itu. "Sungguh, Seokjin, percaya aku. Kita saling mengenal dan kita saling percaya. Sejak lama,"

Mata Seokjin menatap nyalang lelaki itu. "Jangan sok mengenalku,"

Lalu mata Namjoon berubah melembut, menatap Seokjin dengan bersahabat. "Kau, hanya lupa."

Seokjin terdiam. Siapapun orang di hadapannya, Seokjin bersumpah tak akan mempercayai semua kalimatnya hingga Ia berbicara jujur tentang dirinya dan tentang hubungan mereka.

"Sebaiknya kau telpon sepupumu itu." Ia berdiri dengan senyuman di bibirnya. "Ia sudah lama tak datang dan tak menelponmu, kan? Juga beritahu Ia bahwa kau akan ke Seoul sebentar lagi. Agar Ia juga bersiap."

.

.

.

Entah dirinya yang bodoh atau bagaimana, tapi siang ini ketika kliniknya kosong dan Yoora sedang mencatat inventaris kliniknya, Seokjin menelpon sepupunya. Sesuai perintah lelaki yang mengaku bernama Kim Namjoon itu.

"Seokjin!"

Seokjin menjauhkan ponselnya dari telinga karena terkejut. Itu bukan sapaan, itu pekikan. "Ada apa dengan suaramu?"

"Oh, syukurlah. Kau baik-baik di sana? Lelaki aneh itu masih di rumahmu?"

"Ada apa denganmu, Min Yoongi?"

Seokjin tumbuh dengan sepupunya ini, maka mengenali suara was-was dan berjaga khas Min Yoongi sangat mudah bagi Seokjin.

Lama terdiam, akhirnya Yoongi berbisik lirih, cukup lirih hingga Seokjin membutuhkan beberapa saat untuk memahami bisikannya. "Jimin diserang."

Itu buruk! Sangat buruk!

"Ya tuhan–YA TUHAN!"

Seokjin bertanya banyak tentang Jimin dan semuanya, termasuk di mana Ia dirawat, bagaimana ceritanya, dan banyak lagi. Hingga akhirnya Yoongi sadar perihal Seokjin menelponnya.

"Aku hanya ingin mengabarkan jika aku akan ke Seoul. Entah kapan, tapi secepatnya. Aku harus tahu apa yang direncanakan Mamaku dan kenapa Ia menelponku terus."

"Demi Tuhan–jangan!"

-TBC-

Huwa, maafkan karena terlalu lama updatenya ini huhuhuuuu so hectic...

Maaf juga kalau cerita ini jauh dari ekspektasi kalian karena memang saya masih amatiran dan belajar. BTW DARI REVIEW KALIAN AKU SEMANGAT NGULANG BACA FF INI SEJAK AWAL LAGI BIAR DAPAT FEELNYA LAGI, tapi tetap mohon maaf kalau gak memuaskan.

RnR?

ILY!

XO,