H.O.U.N.D

Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others

Rate : T

Length : Parts

H.O.U.N.D

Jimin diserang.

Itu buruk.

Sangat buruk karena Park Jimin adalah kekasih Yoongi, sepupu Seokjin. Mereka berdua, Seokjin dan Yoongi, menempati satu lingkaran yang sama; lingkaran paling dalam. Artinya, keamanan mereka sangat ekstra. Dan fakta bahwa Jimin diserang membuat Seokjin cukup pening;

Jimin diserang: keamanannya terancam.

Keamanan Jimin terancam, keamanan Yoongi juga.

Keamanan Yoongi terancam, Seokjin pula.

Maka seharian itu, kepala pusing Seokjin ketika bangun pagi karena fakta bahwa Ia harus datang ke Seoul, kepala Seokjin semakin pusing ketika siangnya Ia mendengar kabar ini.

Hidupnya tidak aman.

Hidup mereka semua terancam.

.

.

.

Sepertinya sudah 4 jam atau mungkin lebih sejak Seokjin pamit pada Yoora untuk tidur sebelum waktu kliniknya tutup. Seokjin tak terlalu peduli dengan waktu. Yang jelas Ia masih cukup pusing saat bangun.

Hari sudah gelap. Dan lampu di rumahnya belum ada yang menyala.

Dengan sedikit limbung Seokjin berdiri, sambil menggerutu, "kemana dia? Apakah Ia tak tahu jika Ia harus menyalakan lampu ketika hari mulai ge–"

–Demi Tuhan.

Entah untuk yang keberapa kali, Seokjin dikejutkan oleh sosok lelaki itu. Ia sedang duduk di meja makan, dengan tangan di atas meja dan tubuh tegap. Seolah memikirkan sesuatu, tapi kenapa harus dalam kegelapan!

Untuk apa pula Ia berdiam diri dalam kegelapan!

"Seperti setan saja." Gerutu Seokjin lalu menyalakan lampu. Ia mengambil air dingin dari lemari es, kebiasaannya setelah bangun tidur, lalu duduk di hadapan lelaki itu.

"Kau belum menelpon Ibumu."

Hampir saja Seokjin tersedak air minumnya sendiri!

Ia melotot, dibalas tawa kecil Namjoon. Begitu Ia menegak semua air di mulutnya, Seokjin hampir saja membentaknya. "Dari semua sapaan yang ada di dunia, kau memilih mengagetkanku dengan cara ini?! Demi tuhan, kau perlu diajari banyak etika!"

Namjoon malah melanjutkan tawanya, lebih puas. Tanpa rasa sungkan dan takut, Seokjin memutar bola matanya.

Dokter itu sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk karena Ia bertingkah kurang ajar pada lelaki seperti Namjoon. Beruntung Hoseok membuka pintu samping rumah Seokjin dengan ramai.

"Hai, Seokjin!"

Ia membalas senyuman riang Hoseok, melirik Namjoon dan menimbang-nimbang; apakah sebaiknya mereka dipisah atau dibiarkan duduk semeja seperti kemarin. Tapi mereka ini seperti air dan minyak, tak ada yang mau mengalah dan tak bisa disatukan!

Ketika Hoseok duduk, Seokjin yang bediri. Ia berkacak pinggang, memperhatikan dua lelaki yang kira-kira seumur dengannya ini seperti guru TK yang mengawasi dua muridnya.

"Kalian akan bersikap baik atau aku harus memisahkan kalian?"

Namjoon terkejut mendengar ucapan Seokjin, namun tertawa kemudian. Tapi Ia sama sekali tak menganggap kehadiran Hoseok, lho, melirik saja tidak!

"Aku akan baik, Tuan Guru Kim Seokjin." ucap Hoseok sambil menegakkan duduknya, bersikap seperti anak TK sesungguhnya.

Pandangan Seokjin jatuh pada sosok Namjoon; tinggal lelaki itu yang harus menjawab apakah Seokjin harus memisahkan mereka karena keduanya yang tak bisa bersatu atau membiarkan mereka tetap duduk bersama dengan syarat mereka harus tenang.

Bahu lebar Namjoon mengendik, Ia mengangguk.

"Baiklah. Bersikaplah baik kalian berdua, aku akan memasak untuk dua tamuku yang budiman ini."

Itu sarkasme. Keduanya paham, dan Seokjin bersyukur bahwa dua tamunya ini paham!

"Namjoon, ngomong-ngomong, kapan baiknya aku ke Seoul? Aku akan menelpon Mamaku setelah makan malam."

Jari panjang Namjoon diketukkan ke meja beberapa kali dan lelaki itu mendengung. "Akhir minggu? Sekaligus beri aku waktu untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan kekasih sepupumu."

"Eh?"Hoseok kebingungan. "Kau akan ke Seoul?"

Namjoon melirik Hoseok dengan senyum separuh di bibirnya.

"Kau akan–" Hoseok berdeham dua kali, "Kau akhirnya menemui keluargamu, Jin?"

Seokjin mengangguk dengan tangan penuh barang dari lemari es; daun bawang, SPAM, beberapa butir telur, dan tiga bungkus ramen.

"Kau akan memasak ramen?!" suara nyaring Namjoon seolah ingin protes.

Dengan cepat Seokjin menoleh dan melotot, kesal pada tamunya. Wajahnya berubah melembut dengan cepat saat membalas pandangan Hoseok, "Ya, Jung, aku harus mengunjungi orang tuaku setelah tujuh tahun, 'kan?"

Hoseok mengangguk kaku.

Namjoon tersenyum seolah menang.

Seokjin menggerutu karena harus memasak tanpa seseorang yang membantu.

.

.

.

Mereka bertiga masih duduk di meja makan. Seokjin sedang sibuk memakan kue kering dari toples, Hoseok sibuk dengan laptopnya, sedangkan Namjoon hanya diam menatap Seokjin.

Ia menunggu Seokjin menelpon Mamanya. "Butuh berapa lama sampai kau menelpon Ibumu?" Namjoon buka suara, membuat Seokjin hampir tersedak karena suaranya sungguh mengagetkan. "Kau perlu ponsel? Kau bisa pinjam ponselku."

Seokjin menghela nafas. Tangannya terulur ke saku celananya lalu mengangkat benda persegi tipis itu di hadapan mereka. "Aku membawa ponselku sendiri."

"Ya sudah lakukan." Namjoon kini duduk tegap, menumpukan tubuh bagian atasnya pada kedua tangannya yang Ia tumpukan ke atas meja. "Tidak baik membuat wanita tua menunggu, Kim Seokjin."

Mamanya belum tua!

"Dasar sok tahu." Seokjin menggerutu, mengetikkan nomor ponsel Mamanya yang telah dihafal luar kepala di ponselnya. Untuk kemudian dihapusnya.

Ia tak yakin.

Pergi, atau kembali, ke Seoul setelah tujuh tahun bersembunyi. Frasa itu tak pernah Seokjin bayangkan. Bahkan membayangkan dirinya berada di kota metropolitan itu saja tak sanggup.

"Jika kau ragu, aku bisa menjadi juru bicaramu."

Hoseok melirik keduanya dari balik layar laptopnya.

"Tidak." Seokjin berdesis lirih, memejamkan matanya, lalu menghela nafas. "Ini rumahku sendiri, aku bukan akan masuk ke medan perang, aku akan baik-baik saja."

Namjoon tertawa, tak keras sih, namun mengejek. Pelototan tajam Seokjin sebagai balasan tawa Namjoon membuat lelaki itu akhirnya meredakan tawanya. "Jikapun ini medan perang, kau punya aku sebagai jendral perangmu."

Tapi Seokjin bukanlah orang yang suka mengorbankan orang lain. Ia lebih suka menyelamatkan jiwa dibanding melukai bahkan menghilangkan nyawa.

Akhirnya Seokjin mengetikkan nomor Mamanya di ponsel pintarnya. Menyentuh tombol hijau lalu menempelkan ponselnya di telinga, menunggu dering berubah menjadi suara Mamanya.

Suara wanita yang dihafalnya menggantikan dering konstan. Seokjin melirik Namjoon dari tempatnya.

Lelaki itu menatap ke dalam mata Seokjin lalu mengangguk pelan.

"Halo, Ma."

Seokjin gugup. Sekali lagi Ia merapal dan mengingatkan dirinya, bahwa Ia hanya pulang ke rumah, bukan ke medan perang untuk disembelih.

.

.

.

Ngomong-ngomong tentang Jimin yang terluka. Sebenarnya kata 'diserang' terlalu riskan untuk dipilih sebagai kata penjelas kejadian sesungguhnya. Seokjin yakin, mungkin tidak semengerikan itu, tapi ketakutan Yoongi menuntun lelaki itu memilih kata 'diserang' sebagai tameng dirinya sendiri.

Dan Seokjin paham ketakutan sepupunya, karena Ia juga.

"Namjoon?" Seokjin mengetuk pintu kamar lelaki itu, seolah yakin jika Namjoon belum tidur. Setahu Seokjin, jam tidur lelaki itu mirip kelelawar; Ia akan tidur setelah sarapan dan selama Seokjin sibuk dengan kliniknya, baru bangun saat matahari hampir terbenam. Tapi sepertinya itu tidak saklek, karena beberapa kali Seokjin menemui lelaki itu mengunci diri di kamarnya saat malam hari–sepertinya tidur–dan juga bangun saat siang hari.

Pintu dibuka, wajah Namjoon muncul. "Ya?"

Seokjin kebingungan tentang apa yang harus Ia lakukan. Ia tak yakin mengenai alasannya mengetuk pintu lelaki itu malam ini, lebih tepatnya Ia tak punya alasan.

"Ada perlu apa?"

Tidak ada. Hanya ingin saja.

"Jika tidak ada sesuatu yang kau perlukan, kututup saja pintunya." Tangan lelaki itu bergerak menutup daun pintu seiring dengan tubuhnya yang mundur.

Kaki Seokjin bergerak cepat, menahan daun pintu itu agar tak tertutup, dan berakhir dirinya yang memekik kesakitan. Lelaki itu tidak keras mendorong pintunya, namun pintu itu sendiri berat dan kaki Seokjin hanya memakai sandal rumah yang tak melindungi jari kakinya dengan baik. Ia kesakitan dan kakinya memerah di bagian yang terjepit.

Namjoon mendecakkan lidahnya saat mendengar pekikan Seokjin, membuka pintunya dengan cepat dan berlutut dengan cepat pula. Lelaki itu menarik kaki kanan Seokjin yang terjepit. "Kenapa harus menjepit kakimu sendiri, sih?!"

Bisa saja Seokjin menjawab dengan keras atau menggerutu sebagai balasan gerutuan lelaki itu, tapi kakinya yang sakit mengatur tubuhnya untuk tak menghabiskan energinya dengan menjawab gerutuan yang tak penting.

Dan mereka berakhir duduk di tepi ranjang Namjoon ketika lelaki itu memaksa Seokjin untuk duduk dan Ia mencari salep untuk kulit lecet Seokjin sekaligus mempersiapkan kompres–tentu saja lelaki itu bertanya pada Seokjin di mana letak barang-barang itu!

"Sebenarnya siapa yang dokter dan pasien di sini, huh?"

Seokjin mengunci rapat mulutnya. Menahan amarah adalah salah satu ajaran bapa. Namjoon memaksa Seokjin untuk bersandar di kepala ranjangnya, sedangkan Ia berada di ujung lain ranjang dengan kaki Seokjin di pangkuannya. Ia melakukan seperti yang Seokjin perintahkan, karena bagaimanapun Seokjin dokternya.

"Sebenarnya ada perlu apa?"

Mata lelaki itu berubah menjadi teduh lagi, dan Seokjin sudah mulai terbiasa dengan mata teduhnya–ups, sejak kapan Ia mulai terbiasa dengan mata teduh Namjoon?!

Seokjin memainkan jari tangannya di pangkuan, masih bingung dari mana dirinya harus menjelaskan.

"Kau memikirkan tentang kekasih sepupumu?"

"Namanya Jimin, Park Jimin."

Lelaki yang kini menempelkan kompres di kaki Seokjin yang memerah itu menganggukkan kepalanya beberapa kali, "Ya,"

"Aku tak tahu semengerikan apa keadaannya, tapi jika Ia terluka karena kesengajaan, artinya keselamatan kami semua terancam, bahkan Yoongi." Seokjin memberi jeda pada kalimatnya, "dan artinya–" suaranya tercekat.

"Dan artinya keselamatanmu juga?"

Seokjin mengangguk.

"Seokjin-ah," mata lelaki itu menerawang saat Ia menyebutkan nama Seokjin dengan pelan, "kau itu, bagaimanapun juga, anak laki-laki keluargamu. Dan kedua orangtuamu tak akan membiarkan keselamatanmu terancam."

Apa maksudnya?

"Kau tidak ditakdirkan untuk sendirian dan ketakutan, bahkan sejak kau bayi. Mungkin kau tak tahu, tapi jika kau ingat-ingat lagi, kau selalu bersama orang yang melindungimu." Lelaki itu tertawa kecil, bukan tawa yang menertawai Seokjin. "Tenanglah, sepertinya kau menyelamatkan dunia di kehidupanmu yang dulu, karena sekarang seolah surga ikut melindungimu."

"Jangan bicara omong kosong."

"Tidak, aku tidak membual." Jawab Namjoon cepat, "kau pikir orang tuamu memberimu rumah ini secara kebetulan? Kau pikir tak ada orang yang menjaga dan mengawasimu?"

"Pikirkan. Kau mengatakan akan pergi dari Seoul dan ingin pindah ke desa, lalu Ibumu 'diam-diam' memberimu rumah sebagus ini di desa seperti keinginanmu. Kau pikir.. itu semua kebetulan?"

.

.

.

Hingga akhir Minggu, tangan Seokjin sering berair dan tanpa sadar Ia menggigiti bibirnya atau menggoyangkan kaki. Ia gugup. Bagaimanapun sudah tujuh tahun baginya tidak menemui kehidupan lamanya di Seoul. Ia hanya berkomunikasi dengan Ibunya, itupun tak intens dan lebih sering melalui Yoongi sebagai perantaranya.

Maka di hari Jumat, sehari sebelum Ia berangkat ke Seoul, Ia berdoa kepada bapa di kala subuh. Di hadapan lilin yang telah Ia nyalakan, Ia memohon. Bahwa apapun yang akan ditemuinya di kemudian hari, semuanya akan mengarah ke kebahagiaan. Ia memohon hingga bibirnya kering.

Namjoon memanggilnya di Jumat sore, mengharuskan Seokjin untuk masuk ke kamar lelaki itu.

Lelaki itu berada di depan meja membelakangi Seokjin. "Berapa lama kau berencana pergi ke Seoul?"

Alis Seokjin menyatu sekilas, "apa urusannya denganmu?"

Namjoon berbalik, tersenyum pada Seokjin yang berdiri kikuk. "Aku telah berjanji menjadi jenderal perangmu, 'kan? Aku akan menjadi penjagamu, hmmm, pengawal, bodyguard."

"Sungguh, aku ini datang ke Seoul untuk menemui keluargaku dan makan malam bersama. Kenapa kau suka sekali menyebutkan seolah akan ada peperangan sih?"

Bahu Namjoon mengendik main-main, "karena hidupmu tak akan jauh dari peperangan. Hidup kita."

Seokjin malas jika tiap mereka bertemu selalu membahas topik ini. Ia berbalik, berniat meninggalkan kamar Namjoon ketika lelaki itu mengulang pertanyaannya sekali lagi.

"Katakan padaku, Kim Seokjin, apa rencanamu selama di Seoul."

Itu pernyataan, perintah. Bukan lagi sekedar pertanyaan seperti sebelumnya. Dan Seokjin memahaminya dengan baik.

"Hari Minggu, aku akan kembali hari Minggu setelah menemui Yoongi."

Namjoon berdiri menatap Seokjin ketika dokter itu berbalik. Mereka berhadap-hadapan, saling menatap, tapi sirat matanya jauh berbeda.

"Berjanjilah, Kim Seokjin, berjanji padaku jika ada sesuatu, kau harus menghubungiku." Lirihnya, dalam dan yakin.

Anggukan Seokjin menjawab kalimat lelaki itu. Selanjutnya ketika Seokjin berjalan keluar dari kamar lelaki itu, Ia baru menyadari jika dirinya telah membuat janji. Untuk apa pula Ia harus berjanji, Ia tak terlalu paham. Namun yang lebih susah dipahami adalah dirinya yang setuju untuk berjanji demikian.

Lelaki itu tanpa sadar telah banyak menurut pada sosok Namjoon, yang bahkan Seokjin sendiri tak yakin jika namanya benar-benar Kim Namjoon.

.

.

.

Hari Sabtu. Pukul sepuluh nanti Namjoon berjanji akan menjadi supir Seokjin selama mereka ke Seoul. Dan di pukul tiga pagi, sekali lagi, Seokjin dikejutkan oleh tubuh tegap Namjoon yang telah berdiri tempatnya biasa berdoa.

Lelaki itu sedang menyalakan lilin untuk berdoa.

Dan Ia tersenyum ketika Seokjin berdiri di sampingnya, lalu keduanya berdoa.

Bahkan Namjoon yang tak percaya tentang konsep tuhan, pagi ini ikut berdoa bersama Seokjin. Doa mereka kurang lebih sama; keselamatan.

Karena yang tak Seokjin ketahui bahwa lelaki itu juga ketakutan. Jauh lebih besar dari ketakutan yang Seokjin rasakan, lelaki itu terasa tercekik sejak seminggu ini. Ia yang bertanggung jawab atas diri Seokjin–sekalipun tak ada yang meminta. Ia yang harus membuat Seokjin aman. Ia yang harus melangkah lebih dulu dan mengambil risiko agar Seokjin tak salah melangkah dan terjebak pada situasi yang tak bisa diatasinya.

Namjoon harus rela tertusuk duri di jalanan yang akan Seokjin lalui agar lelaki itu tak merasakan sakitnya tertusuk duri.

Karena itu semua janjinya.

Pagi itu Ia berdoa dengan sungguh-sungguh, kepada siapapun tuhan yang memiliki alam semesta agar mendengar dan mengabulkan doanya. Sebanyak apapun dosanya, sepelik apapun masa lalunya, Ia memohon agar tuhan mendengar dan mengabulkan doanya.

Doanya baru berhenti ketika daun telinganya menangkap suara sesenggukan dari sisi kanannya. Itu Seokjin, menangis dengan mata tertutup dan tangan masih saling menggenggam di depan dada.

Matanya terpejam, namun aliran air matanya tak berhenti.

"Ya tuhan, kumohon, aku berharap apapun yang kutakuti selama ini tak akan terjadi. Jangan biarkan–" suara Seokjin tercekat, air matanya runtuh sekali lagi, "jangan biarkan keserakahan memenuhi hati manusia dan biarkan keberkahanmu menyertai kami semua."

Namjoon menggigit lidahnya melihat tangis Seokjin.

Yang Ia lakukan selanjutnya adalah menarik tubuh Seokjin ke pelukannya, merasakan punggung lelaki itu semakin bergetar karena tangisnya runtuh begitu Ia mendapat perlindungan.

"Aku takut." Bisik Seokjin dalam pelukan Namjoon, terdengar miris dan menyesakkan di telinga Namjoon. Suara lelaki itu bergetar dan menunjukkan ketakutan.

Dan apa yang bisa Namjoon berikan selain perlindungan yang memang Seokjin butuhkan?

.

.

.

Namjoon menempelkan ponselnya di telinga saat Ia menghubungi Taehyung pagi ini.

"Aku akan berangkat ke Seoul satu jam lagi. Kami akan sampai di sana pukul dua, atau tiga, yang jelas siapkan mobil untukku."

Lelaki itu melirik tas kulit di samping kakinya. "Aku membawa yang kubutuhkan selama di Seoul, kuharap kau mempersiapkan dirimu juga, Taehyung."

Lalu Ia berjalan keluar kamarnya dengan tas jinjingnya setelah menelpon Taehyung dengan singkat, mengetuk pintu kamar Seokjin karena lelaki itu masih saja mengurung diri di kamar.

"Kau sudah siap?"

Seokjin menarik nafas panjang lalu mengangguk. Ia tidak siap memikirkan kemungkinan apa saja yang bisa terjadi mengingat semua hal buruk seolah bisa saja terjadi padanya.

Ia sungguh berhasil meyakinkan dirinya sendiri ketika Namjoon menahan lengannya dan menyuruhnya duduk di sofa. Saat itu barulah Seokjin melihat bawaan Namjoon.

"Wow, tuan, kau akan pindahan? Kau tak akan kembali ke desa ini? Kau sekaligus berpamitan? Kau akan kembali ke Seoul selamanya?" Seokjin berusaha melucu, yang sama sekali tidak. "Kenapa bawaanmu sebanyak itu?"

Namjoon mengangkat tas jinjingnya dan menaruhnya di hadapan mereka. Ia sudah berjanji untuk memberi perlindungan Seokjin. Dan ketika lelaki itu menangis di pelukannya, Ia menambah janjinya; memastikan Seokjin tak ketakutan.

"Jika ini membantu dan membuatmu tenang, aku akan menunjukkan apa yang kupersiapkan sebagai jenderal perangmu, sebagai penjagamu." Lalu Ia membuka resleting tas jinjingnya di hadapan Seokjin.

Di atas tumpukan baju yang tak seberapa, Seokjin bisa melihat sebuah rompi berwarna hitam; rompi anti peluru, dua buah revolver, tiga buah selongsong peluru, bahkan pisau.

Lutut Seokjin lemas! Tenggorokannya tercekat dan terasa kering bersamaan.

Apa-apaan ini?!

"Berikan ponselmu." Seokjin hanya bisa menuruti ucapan Namjoon dan memberikan ponselnya, lalu lelaki itu mengembalikan ponsel Seokjin dengan nomor ponsel tertulis di ponselnya. "Itu nomor ponselku, telepon aku jika ada apapun. Sebisa mungkin jangan percaya siapapun kecuali aku,"

Bahkan Seokjin belum sepenuhnya percaya Namjoon. "Untuk apa semua ini?"

"Aku tidak ingin kau merasa ketakutan selama berada di antara keluargamu setelah sekian lama pergi." Namjoon menutup kembali resleting tas jinjingnya. "Tujuh tahun kau tidak bersama keluargamu, aku berharap kau menikmati waktumu bersama mereka tanpa merasa ketakutan. Aku mempersiapkan semua ini agar kau tidak perlu memikirkan hal buruk lainnya."

Mata Namjoon menatap lurus ke mata Seokjin, menegaskan kesungguhan dan keyakinannya. "Aku ingin kau menikmati waktumu bersama keluargamu, tanpa memikirkan ketakutanmu. Biar aku saja yang mengetahui ketakutanmu seperti kau menangis tadi pagi. Sisanya, dimana kebahagiaan itu tersisa, akan memenuhi dua harimu selama bersama keluargamu."

Sekali lagi Seokjin tersihir kalimat lembut lelaki itu, juga mata teduhnya.

Dan entah siapa yang memulai, tangan mereka bertaut saat mereka berjalan keluar rumah Seokjin hingga masuk ke mobil. Baru kali ini Seokjin merasakan genggaman tangan sehangat ini, semenenangkan ini, senyaman ini.

Jika bukan karena keharusan Namjoon menyetir dan berkendara dengan selamat, Seokjin tak rela melepas genggaman tangan mereka!

"Tetanggamu," Namjoon menyempatkan diri melirik rumah Hoseok, membuat Seokjin tanpa sadar ikut menoleh. "Dia tak di rumahnya?"

"Kurasa Ia masih tidur."

Kepala Namjoon menoleh, mencari mobil Hoseok. "Tidak, Ia pergi menggunakan mobilnya."

.

.

.

"Aku akan turun di depan, kau bisa menyetir sendiri hingga rumahmu, kan?"

Seokjin menggeliat di kursinya. Tiga jam–Namjoon menyetir seperti balapan–mereka berkendara dan kini telah sampai di Seoul. "Kau tidak mau mampir ke rumahku? Aku bisa memberimu teh dan kau bisa beristirahat sebentar."

Lelaki itu melotot main-main lalu tertawa. "Hal yang tak bisa kulakukan seenaknya adalah datang ke rumahmu."

"Kenapa?"

Bibirnya melengkung ke bawah lalu bahunya mengendik.

"Aku sungguhan."

"Jika sekedar teh atau tempat istirahat, aku memilikinya setara yang kau tawarkan. Jadi kutolak saja tawaranmu." Namjoon menepikan mobil Seokjin. "Lagipula Taehyung akan menjemputku di sini. Satu hal yang perlu kau pikirkan adalah kau menyetir sampai ke rumahmu hingga selamat."

Namjoon tersenyum sambil menatap Seokjin. Baru Seokjin sadari jika lelaki itu memiliki mata yang tak terlalu lebar, berwarna coklat gelap, namun menenangkan. Seokjin bertanya-tanya, bagaimana mata itu bisa berubah menjadi sangat mengerikan dan tajam sedangkan mata yang dilihat Seokjin saat ini adalah mata... terindah?

Seokjin tak boleh tersihir pesona lelaki itu! "Tentang tadi saat di rumah," gumam Seokjin, "terimakasih telah mengingatkanku untuk menikmati waktu bersama keluargaku."

Namjoon balas tersenyum, menunjukkan senyuman lebarnya juga lesung pipinya. Ekspresinya berubah dengan cepat karena Ia melupakan sesuatu!

"Oh, tunggu, aku lupa sesuatu." Lalu Ia merogoh sakunya. "Aku tahu kau tak bisa mempercayaiku karena kau tak mengenalku. Dan jika kau masih tak percaya jika aku adalah Kim Namjoon dan fakta bahwa kita saling mengenal," Namjoon membuka genggaman tangannya.

Itu robot berukuran setelapak tangan anak kecil. Berwarna merah dan biru.

Pandangan mata Seokjin naik menatap mata Namjoon. "Apa itu?"

Gerakan mata Namjoon sangat kecil, namun Seokjin berhasil menangkapnya. Bahwa lelaki itu terlihat terkejut dan melebarkan matanya. "Kau... tak ingat?"

Seokjin menggeleng. "Ini robotmu? Atau mungkin ini robotku? Haruskah aku mengingat robot ini? Robot apa ini, Namjoon?" Seokjin melebarkan matanya. "Karena ini pertama kalinya aku melihat ini."

Namjoon tak mempercayai apa yang didengarnya. "Ingatlah sekali lagi, aku bisa menunggu."

"Tidak," Seokjin menggeleng yakin, "ini pertama kalinya aku melihat robot ini."

Lidah Namjoon kelu. Ia tidak salah, Ia tak salah. Ini benar Kim Seokjinnya. Ia tak salah.

"Jika kau berpikir aku menyukai robot, ya kau benar. Tapi itu dulu, saat aku kecil. Tapi aku tak merasa menyukai robot ini, robot apa ini? Robot siapa ini?"

Entah benar atau salah, kepala Namjoon serasa dipukul keras-keras. Matanya terasa perih namun Ia meyakinkan lelaki di hadapannya ini. "Ini robotmu, kau memberikannya padaku karena aku tak punya robot sebanyak milikmu. Kau tak ingat?"

Alis Seokjin menyatu. "Aku tak punya teman sejak kecil, kau tak bisa berbohong tentang ini karena aku yakin. Aku tak punya teman yang bisa kubagi koleksi robotku, Namjoon. Kau salah."

Tidak, kok. Ini Kim Seokjin yang Namjoon kenal. Namjoon benar tentang hal ini. Ia bahkan menghabiskan empat tahun mencari Seokjinnya, menghajar orang yang melarangnya, mengabaikan peringatan orang lain.

Tapi kenapa Seokjin tak mengingatnya?

Karena seharusnya memori tentang keduanya adalah yang terindah.

Karena seperti itulah memori mereka bagi Namjoon.

"Kau mau berbohong padaku atau bagaimana? Kau tidak salah menyuruhku percaya padamu bahkan ketika kau menciptakan cerita bohonganmu?"

"Seokjin."

Dan Seokjin menangkap mata terluka itu. Mata yang selama ini terlihat kuat dan yakin, menunjukkan kekuasaan dan kebesaran, kali ini bergetar karena terluka.

Kali ini Seokjin yang kebingungan. Apakah Ia salah?

"Kau.. yakin dengan ceritamu?" lirih Seokjin kemudian. "Bahwa aku yang memberimu robot ini?"

Namjoon mengangguk.

Karena mereka memang mengenal sejak kecil. Mereka berteman. Mereka bersama.

Dan seharusnya Seokjin juga mengingat seluruh memori tentangnya.

Semudah itukah bagi Seokjin melupakan dirinya dan mengatakan jika Ia tak pernah memiliki teman saat kecil? Karena baginya sangat sulit untuk melupakan memori yang mereka berdua ciptakan.

Ketukan di kaca jendela mengagetkan keduanya, membuyarkan tensi tinggi di antara mereka.

Itu Taehyung, mengetuk kaca di pintu mobil Seokjin berniat menjemput Namjoon.

"Itu–" suara Namjoon tercekat, pertama kali baginya ucapannya terhenti karena tercekat. "Itu Taehyung. Ia menjemputku."

Namjoon berdeham, meremas robot di tangannya seiring hancurnya harapannya. "Aku harus pergi."

Tangan Seokjin bergerak cepat, menahan lengan kanan Namjoon. "Kau ingin aku membawa robot itu?"

Mata Namjoon terlihat bingung, ada harapan sekaligus luka di sana.

"Berikan padaku." Ucap Seokjin lembut, menarik telapak tangan Namjoon dan mengambil robot itu dengan lembut pula. "Jika aku melupakanmu, mungkin memperhatikan robot ini dalam waktu lama dapat membantuku mengingat."

Senyuman terukir di bibir Namjoon. Ia mengangguk pelan.

"Terimakasih, sudah berjanji untuk melindungiku."

-TBC-

WOW, saya pengen nangis darah nulis FF ini :( kenapa juga sih aku bikin ff bikin tensi tinggi kayak gini sih, gapaham sendiri aku:(

BTW, terimakasih gengsku, yang sudah apresiasi proyek ini dengan meninggalkan review, favorit, maupun follow. Tanpa kalian aku butiran debu, gengs, kalian penyemangatku untuk memutar otak dan membangun mood biar cepet kelar ini FF. Hehe. Saranghae.

Untuk kalian yang baru gabung, baru baca, baru nemu, baru tau akunku, SELAMAT DATANG, WELCOME, ANYEONG, welcome to the cruel world, my account and my FF, hehe, saranghae

BTW LAGI, aku tuh suka senyum-senyum sendiri baca review kalian hehehehehahaha, kadang kalian yang sekedar bilang 'semangat' bikin aku bener2 semangat, kadang kalian yang bilang 'gemes' bikin aku gemes juga ke kalian, kadang aku juga suka amaze sendiri pas kalian nebak DAN BENER wkwkwkk selamat untuk yang benar dan yang salah mari coba lagi wkwk siapa yang benar siapa yang salah, hanya Tuhan, emon, Seokjin dan Namjoon yang tahu gengs, yang sabar ya, saranghae iya saranghae.

RnR?

ILY!

XO,