H.O.U.N.D
Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others
Rate : T
Length : Parts
H.O.U.N.D
Ia mendengarnya secara langsung dari Seokjin malam itu, lalu mendapat panggilan dari temannya yang berada di Seoul tentang hal yang sama.
Bahwa Seokjin akan segera datang ke Seoul memenuhi permintaan Mamanya untuk makan malam bersama setelah tujuh tahun 'bersembunyi'.
Ia adalah Hoseok.
Lalu paginya, rumahnya ramai didatangi 'tamu'nya dari Seoul.
Ia ditampar di pipi oleh lelaki itu. Tidak masalah sebenarnya, Hoseok tak akan merasa sakit hanya karena tamparan di pipi, tapi masalahnya lelaki itu sengaja memakai cincin bermata giok yang sempat diputarnya ke dalam sebelum menampar pipi Hoseok. Hingga gioknya mengenai langsung tulang pipi Hoseok. Tulang pipi Hoseok ngilu seharian.
Lalu anak buah lelaki itu menonjok ulu hatinya dua kali. Beruntung Hoseok tak ditonjok di rusuk, bisa patah rusuknya karena tonjokan anak buah lelaki itu.
Hoseok melirik kaki jenjang lelaki itu, berjalan dengan jumawa dan langkah ringan seolah tidak terjadi apapun.
Hidup Hoseok dipenuhi dengan tugas. Satu terselesaikan, tugas lain telah menunggu. Ia harus siap kapanpun jasanya dibutuhkan, Ia harus siap dalam keadaan apapun.
Maka sebelum lelaki dan anak buahnya itu pergi dari rumahnya siang itu, Hoseok mendapat peringatan dan tugas lain untuknya.
"Kau sebaiknya sadar, siapa dirimu di sini. Jika tak mampu menjalankan tugasmu, bilang saja, kau bisa tak melakukan tugas yang kuberikan." Artinya hidup Hoseok akan habis di tangan pria itu jika menolak atau gagal menjalankan tugasnya.
"Aku hanya memperingatkanmu sekali, jangan sampai gagal mengatur keadaan."
Lalu mobil hitam mengkilap lelaki itu meninggalkan rumah Hoseok, sedangkan tubuh Hoseok bergetar seperti saat Ia ketakutan karena pukulan ayahnya ketika umur sepuluh dulu.
.
.
.
Namjoon naik ke mobilnya, yang kini dibawa Taehyung. Ia sedikit lupa aroma khas mobilnya, juga sedikit lupa wajah Jungkook yang kini tersenyum ramah padanya di kursi penumpang di samping Taehyung.
"Kau baik, hyung?"
Menyetir selama tiga jam sungguh melelahkan. Lehernya hampir kaku!
"Aku baik, Jungkook."
Taehyung adalah orang kepercayaan Namjoon, mereka sangat dekat hingga Namjoon yang kaku dan tak pandai bergaul ini benar-benar percaya pada Taehyung. Ini sih sebenarnya dikarenakan sifat Taehyung yang pandai 'mengambil hati' siapapun, membuat Namjoon percaya akan lelaki yang berumur sepuluh tahun lebih muda darinya ini–umur Taehyung baru 23.
Tapi tidak semuanya benar, bahwa Namjoon percaya pada Taehyung hanya karena sifat Taehyung yang merupakan social butterfly dan pandai mengambil hati orang. Namjoon tidak sebodoh itu untuk percaya pada orang lain hanya karena sosialnya. Ia percaya pada anak muda ini karena kemampuan dan sifatnya yang mirip dengan Namjoon muda; fokus, berani melawan, tahu apa yang diinginkannya.
"Kita mau ke rumahmu langsung, hyung?" Taehyung melirik Namjoon melalui rear-view mirror, menemukan Namjoon yang duduknya hampir merosot karena lelaki itu butuh meluruskan kaki. "Atau kita pergi ke rumah ketua?"
Namjoon melirik mobil Seokjin yang tadi berhenti di belakang mobilnya. "Kita ikuti Seokjin dulu, pastikan Ia sampai rumah."
Taehyung mengangguk lalu menunggu mobil Seokjin dan mengikuti mobil berwarna putih itu melaju. Tangan kanannya tak pernah lepas dari genggaman tangan Jungkook yang duduk di sampingnya, sekalipun Ia harus menyetir. Ia sudah terbiasa dengan hal ini, ngomong-ngomong, jadi sekarang sudah bukan masalah besar untuknya menyetir dengan satu tangan saja.
Karena Jungkook membutuhkannya, begitu juga Taehyung.
Dan Namjoon mengetahuinya. Semua mengetahuinya. Bagaimana dua anak muda ini saling gila satu sama lain, tak bisa berpisah lebih dari sehari. Bisa gila keduanya jika tak bersama!
"Kalian tak ingin menikah dalam waktu dekat ini?"
Jungkook tercekat mendengar pertanyaan Namjoon. "Eh?"
Bagaimanapun Jungkook menghormati Namjoon seperti anak buah kepada bosnya, berbeda dengan Taehyung yang lebih menganggap Namjoon sebagai hyungnya.
"Kami sudah mendaftarkan pernikahan kami, hyung." Taehyung menjawab santai, sekalipun ini berita besar. "Tapi mereka menolaknya karena pekerjaan kami yang 'tidak jelas.'"
Namjoon terkekeh. Memang sedikit susah jika berurusan dengan pemerintah Korea. Dan Namjoon paham jika Taehyung maupun Jungkook sama-sama tak bisa menulis apa pekerjaan mereka.
Tidak menulis pekerjaan dianggap tak memiliki pekerjaan. Tidak bekerja sama artinya tak ada pemasukan. Tidak berpenghasilan tidak boleh menikah. Aneh, tapi itu nyata.
"Bilang saja kau supir, Taehyung-ah, atau asistenku, berbohong saja agar gampang."
Taehyung mencibir, tetap menolak ide bodoh Namjoon untuk mengaku bekerja sebagai supir pribadi. Masa bodoh dengan legalitas karena Ia dan kekasihnya sama-sama tahu jika hubungan mereka tak perlu ikatan resmi dari negara. Keduanya saling gila, keduanya sama-sama mencinta. Sudah, titik.
"Ngomong-ngomong, hyung, si sialan itu menyebabkan beberapa masalah selama kau pergi."
Alis Namjoon naik karena terkejut, sedangkan Jungkook menganggukkan kepalanya beberapa kali menyetujui ucapan kekasihnya.
"Kau mau aku mengurusnya, hyung? Aku takut Ia semakin berulah jika dibiarkan saja."
Pandangan Namjoon fokus ke depan, ke mobil Seokjin yang mulai memasuki daerah rumahnya. Ia tahu akan seperti ini, bahwa 'si sialan' akan berulah dan dirinya harus mengambil sikap. Tapi waktunya belum tepat, "Tidak perlu, Taehyung. Biarkan dia menjalankan perannya dengan baik, Ia melakukan semuanya sesuai perintah ketua. Selama kau dan Jungkook aman, jangan memulai sesuatu." Gumam Namjoon.
Jungkook merengut, menoleh ke belakang menatap Namjoon dengan imutnya. "Kenapa Namjoon hyung selalu menyebut ketua, sih?" Ia mencicit, namun melanjutkan ucapannya sebelum Namjoon menjawab, "Itu 'kan Ayahmu sendiri, hyung."
Taehyung meremas tangan Jungkook yang ada di genggamannya. Jungkook sampai tersedak.
Itu pertanyaan yang salah!
Namjoon menoleh menatap Jungkook dalam diam.
.
.
.
Seokjin sampai di rumahnya dengan senyuman lebar, berharap kedua orang tuanya juga kakaknya berdiri di depan pintu untuk menyambutnya. Buff, khayalannya terlalu tinggi.
Ia lupa jika rumahnya selalu sepi, sejak lama, selalu sepi. Dulu seingatnya, semua anggota keluarganya akan sibuk di luar rumah, meskipun Mamanya lebih sering berada di rumah. Kakaknya selalu di luar, entah selama kuliah atau setelah Ia bekerja; hanya pulang untuk tidur dan pergi setelah sarapan–wanita itu hanya akan pulang lebih awal jika Mamanya ingin makan malam bersama.
Rumahnya selalu sepi.
Dan ketika Ia masuk disambut oleh dua pelayan berbaju rapih, Seokjin sedikit kikuk. Ia lupa jika rumahnya ditinggali banyak pelayan, yang jumlahnya dua kali lipat anggota keluarganya.
"Nyonya telah menunggu anda di taman belakang, Tuan."
Wow! Seokjin benar-benar kikuk dengan pelayan dan panggilan sopan untuknya ini, setelah sekian lama Ia terbiasa hidup sendiri.
Taman belakang adalah tempat kesukaan Mamanya. Wanita itu biasanya menghabiskan waktunya di sana jika berada di rumah dan tak ada sesuatu yang perlu diurus, Seokjin hafal dengan kecintaan Mamanya terhadap tanaman terutama anggrek.
"Halo, wanita cantik dari surga," sapa Seokjin saat melihat punggung wanita itu.
Wanita yang dipanggilnya Mama itu berdiri dan berbalik dengan cepat, merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut Seokjin dalam pelukannya. Wajahnya masih cantik secantik yang Seokjin ingat, tubuhnya masih segar sesehat yang Seokjin bayangkan.
Anak lelaki satu-satunya yang dimiliki keluarga ini bersyukur mengetahui Mamanya baik.
"Aku bersyukur kau bisa sampai dengan selamat, nak."
"Tentu, Ma, kau baik?"
Mamanya tersenyum lebar sekali, matanya berkaca-kaca. "Ya, aku baik, sebaik dirimu dalam penjagaannya."
.
.
.
Mobil Namjoon berhenti di halaman rumah–mansion–bernuansa Yunani milik Ayahnya. Sebenarnya rumah ini terlalu besar untuk seorang lelaki tua yang bahkan untuk berjalan harus menggunakan tongkat. Sehari-hari rumah ini ramai karena puluhan orang yang menyelesaikan urusan pekerjaannya atau melaporkan berita pada Ayahnya.
Ya, Ayahnya cukup berkuasa dan hanya perlu menunggu di rumah untuk menerima berita.
Taehyung dan Jungkook ikut turun bersama Namjoon, "Aku harus menemui seseorang, hyung, kau mau kuantar lagi atau menyetir sendiri saja?"
"Berikan kunci mobilku saja, Taehyung, kau bisa melanjutkan pekerjaan kalian."
Taehyung mengangguk lalu melemparkan kunci mobil pada Namjoon, lalu Jungkook membungkuk sebelum keduanya berbalik dan berjalan menjauh.
Perlu beberapa saat bagi Namjoon untuk mengatur dirinya, mengatur raut wajahnya, juga detak jantungnya, hingga Ia akhirnya berjalan tenang memasuki pintu tinggi rumah ini. Sesungguhnya Namjoon sadar jika ini adalah rumah Ayahnya sendiri, di sini Ia menghabiskan waktu kecilnya dan setiap sudut memiliki memori sendiri untuknya. Tapi tetap saja, perlu waktu bagi Namjoon menyesuaikan diri setiap berkunjung ke rumah ini.
Karena terlalu banyak kilas balik mengerikan yang terlintas di benaknya setiap Ia melihat sudut rumah ini. Alasan ini pula yang menjadikannya membeli rumah dan tinggal sendiri di rumahnya sejak umur 18.
"Selamat siang, Ayah." Suara Namjoon terdengar tenang dan yakin, memancarkan kekuatan dominasi, berbeda jauh dengan dalam dirinya yang sedang was-was.
Lelaki yang dipanggil Namjoon dengan sebutan Ayah itu sedang duduk di balik meja kerjanya di ruangan khusus di lantai dua rumah ini. Dijuluki khusus karena memiliki dua penjaga di pintunya, juga karena ruangan ini adalah satu-satunya saksi bisu yang mengetahui masa kelam Namjoon.
Ayah Namjoon mengangkat pandangannya, melepas kacamata bacanya, lalu tersenyum kecil. Tipikal keluarga Namjoon; pelit senyuman.
Tapi Namjoon tahu betul, bibir Ayahnya memang sedang tersenyum sedangkan perasaannya tak suka.
"Ada apa, Ayah? Kau tidak suka aku datang?"
Karena kedatangan Namjoon memiliki banyak kemungkinan yang bisa merubah segalanya. Namjoon anaknya sendiri, tapi Ayahnya paham betul jika kemungkinan pembelotan terbesar berasal dari anak semata wayangnya ini.
"Rumah ini selalu terbuka untukmu, Namjoon. Kau saja yang tidak mau datang karena masalah sepele yang selalu kau besar-besarkan."
Satu-kosong untuk Ayahnya.
"Apa yang membuat anak laki-lakiku datang hari ini?"
Namjoon tersenyum, masih berdiri di tempatnya sejak tadi. "Aku hanya ingin menunjukkan diri di depanmu, aku takut jika kau mengira anakmu ini sudah mati." Namjoon memberi jeda di kalimatnya lalu menyerang balik Ayahnya, "karena kurasa itu yang kau dan anak buahmu inginkan,"
Satu sama.
"Mana mungkin aku menginginkan hal mengerikan seperti itu untuk anakku? Mana ada orang tua yang seperti itu, Namjoon?"
"Kurasa hubungan kita tidak seperti orang tua dan anak pada umumnya, kupikir kita sama-sama paham tentang hal ini."
Dua-satu untuk Namjoon.
"Aku hanya datang untuk ini, menunjukkan diri." Namjoon tersenyum pada Ayahnya. Ia berjalan mundur, lalu membungkuk 90 derajat, "Sampai bertemu di makan malam nanti malam, aku akan dengan senang hati datang dan menemui keluarga dokter Kim."
Tiga-satu untuk Namjoon. Namjoon menang; telak.
.
.
.
Dua jam di taman belakang rumahnya digunakan Seokjin untuk memaksa Mamanya bercerita, semuanya. Terlalu banyak yang tak diketahuinya, hingga Seokjin merasa muak dengan dirinya sendiri. Ia menuntut wanita itu agar menjelaskan sesuatu tentang H.O.U.N.D dan rahasia keluarganya.
"Sudah cukup aku berpura-pura tak tahu," Lalu Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, bukan seperti ini seharusnya Ia bersikap pada Mamanya, Ia harus lebih lembut. "Karena aku sudah memiliki hidupku sendiri, Ma, bukan anak kecil yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tuanya atau hanya bersenang-senang saja."
Mamanya tersenyum getir, "tidak bisakah kau terus seperti itu, Seokjinku?"
Detik itu baru Seokjin sadar, jika selama ini selalu dirinya yang menjadi anak kesayangan keluarga ini. Mulai dari dua orang tuanya hingga kakak perempuannya, semuanya selalu memanjakannya. Selamanya Ia adalah anak kecil di keluarga ini yang menggemaskan, anak kecil yang tak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di keluarganya.
"Tidak, Ma, aku bukan anak kecil kalian lagi. Kim Seokjin ini sudah tumbuh besar," Seokjin menatap mata Mamanya, "Aku tahu tentang H.O.U.N.D itu, juga bagaimana buruknya keluarga kita."
Mamanya tak terlihat terkejut. Entah wanita itu telah mengira-ngira jika Seokjin mengetahuinya atau memang aktingnya terlampau apik. Ia melanjutkan memotong tangkai anggrek di pot di hadapannya. "Memang apa gunanya untukmu jika aku menjelaskannya, Seokjin?" Wanita itu bertanya tanpa menoleh ke anaknya sedikitpun.
"Aku harus tahu, Ma, tak ada yang tahu siapa yang akan menyelamatkan kalian jika terjadi sesuatu."
Gunting tanaman yang tadi ada di genggaman tangan wanita itu kini berada di atas meja, fokus Mamanya semuanya tercurah ke Seokjin.
"Aku ingin mendengarnya darimu secara langsung, Ma, akan lebih baik jika aku mendengarnya darimu dibanding mendengar dari orang lain dan berakhir membenci keluarga ini lebih dalam."
Wanita itu masih menatap Seokjin, kini dengan bibir bergetar. "Kau terlalu banyak belajar dari mereka, Seokjin." Matanya bergetar, "lihat bagaimana caramu mengancamku sekarang."
.
.
.
Masih ada dua jam lagi sebelum makan malam. Dengan mata basah setelah menangis, Mamanya yang berpura-pura tegar kembali itu mewanti-wanti agar Seokjin sudah siap satu jam sebelum waktunya.
Seokjin sedikit tak peduli, menelpon Namjoon dengan tangan bergetar. "Temui aku."
Tentu saja lawan bicaranya kebingungan dengan ucapan Seokjin dan bagaimana suara itu terdengar bergetar; terdengar rapuh dan ringkih. Namun yang Ia lakukan adalah segera mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari rumahnya.
Mereka bertemu kurang dari tiga puluh menit setelahnya di salah satu coffee shop, tangan Seokjin bergetar selama Ia duduk menunggu kedatangan Namjoon.
"Ada apa, Seokjin, ada sesuatu?" Lelaki itu berujar cepat bahkan sebelum Ia duduk di kursinya. Diam-diam Ia berharap jika Seokjin telah mengingatnya, atau telah lelah berhenti berpura-pura jika Ia melupakannya.
Tapi sepertinya harapan Namjoon jauh dari kenyataan, karena melihat bagaimana wajah itu berusaha keras bersikap kuat sedangkan tremor di tangannya tak bisa ditutupi.
"Aku tahu apa itu H.O.U.N.D," suara Seokjin terdengar tertahan. "Aku tahu semuanya."
Tekanan di dadanya hilang dengan cepat, "Oh, hanya ini yang ingin kau bicarakan?"
Alis Seokjin bersatu tak paham.
Namjoon tersenyum kecil lalu mengangguk, "Lanjutkan kalimatmu, Seokjin. Ngomong-ngomong, boleh kuminum kopimu?"
Bahkan Seokjin tak memikirkan kopi yang dipesannya–dan persetan dengan kopi, Kim Namjoon!
"Kau mengerikan!" desis Seokjin. Mata dan wajahnya, seluruh ekspresinya, menjelaskan kata yang baru saja disebutkannya; Ia terlihat ketakutan dan jijik dalam satu waktu.
Namjoon selesai menyesap latte Seokjin, menaikkan alis dan mengangguk, "ya, benar."
Apa sebenarnya maksud lelaki ini? Seokjin cukup terganggu dengan sikap dan gayanya yang seolah tak peduli ini. Jelas berbeda jauh dari cara mereka berbicara saat menuju ke Seoul beberapa jam yang lalu.
Namjoon tertawa, seolah paham apa yang dipikirkan lelaki di hadapannya ini. "Aku sebenarnya tak terlalu peduli, Seokjin. Entah kau paham atau tidak tentang kami, semuanya tak akan mempengaruhiku."
Jujur saja, Namjoon menikmati waktu seperti ini; ketika Seokjin berpura-pura tegar dan siap mendengar kata-kata menyakitkan sedangkan sejujurnya Ia ketakutan bukan main. Seokjin itu buruk sekali berpura-pura, karena Ia selalu melupakan detil terkecil tentang bagaimana Ia seharusnya menyembunyikan tangannya yang tak berhenti bergetar atau sekedar mengendurkan bahunya yang tegang. Oh, juga ekspresi wajah tegangnya dan bagaimana mata itu bergetar. Semuanya seolah paket menyenangkan yang bisa Namjoon lihat berjam-jam.
"Karena memang takdirmu untuk selalu berjalan bersama kami, selamanya, tanpa sedetikpun kau bisa berpaling dari kami." Tangan Namjoon mengetuk-ngetuk meja kaca di antara mereka, lelaki itu berpura-pura sedang berpikir. "Jadi begini, ibarat tayangan di NatGeo Channel, kau itu hewan yang selalu ada di kamera, sedangkan kami adalah cameraman. Kau selalu ada di bidikan kami, dan kami selalu mengejarmu. Mudahnya begitu."
Susah payah Seokjin menelan ludahnya. Uh, tenggorokannya kering!
"Berhenti bicara omong kosong, Namjoon!"
Namjoon menjawab dengan cepat, "no, i'm not. Kau bicara serius, begitu juga aku."
Sialan!
Sekuat yang Ia mampu, Seokjin berusaha bersikap tenang; menarik nafas dalam-dalam, melenturkan bahunya, seperti ajaran Papanya. "Kau perlu tahu, Namjoon, bahwa aku tinggal jauh dari Seoul untuk menjauh dari hal-hal yang kalian lakukan,"
Namjoon mengangguk, Ia sudah tahu.
"Maka jangan menggangguku lagi." Lirih Seokjin menatap lurus mata Namjoon. Ia yakin, "Pergi sejauh yang kau bisa dari hidupku, jangan tunjukkan dirimu di hadapanku. Selamanya."
"Kau mengusirku dari rumahmu?"
Merasa di atas awan, Seokjin tersenyum. "Itu baik jika kau paham."
"Tidak mau."
Mati-matian Seokjin menahan matanya agar tak berputar di hadapan lelaki mengerikan ini. Sepertinya memang percuma mengajak bicara orang yang tak memiliki perasaan, membunuh sesuka hatinya, mereka tak memiliki hati.
Seokjin hampir saja berdiri dari duduknya saat Namjoon terkekeh di tempatnya. Lelaki itu memandang remeh wajah Seokjin dengan satu sudut bibir terangkat. "Aku akan pergi dari hidupmu,"
Itu baik!
"Jika kau mengusir terlebih dulu tetanggamu itu!"
"Eh?" tanpa bisa Seokjin sadari, Ia telah berucap demikian dengan mata menelisik dan wajah kebingungan.
Namjoon puas. Sekali lagi Ia menikmati wajah kebingungan Seokjin. Ia tersenyum puas. "Jung Hoseok sialan itu. Usir dia dari desa itu, buang dia dari hidupmu, pastikan Ia dan teman-temannya tak mengganggumu. Baru setelahnya aku bisa tenang dan mau pergi dari rumahmu."
Seribu kata yang telah Seokjin siapkan menguap seketika. Fakta ataupun bualan, ini terlalu berlebihan. Jika ini hanya bualan lelaki ini sebagai tameng agar Ia tak pergi dari rumah Seokjin, bukankah terlalu jahat membawa Hoseok yang tak bersalah dan tak ada hubungannya?
Dan jika ini fakta, terkutuklah hidup Seokjin.
Baru saja Seokjin akan menyemprot lelaki di hadapannya ini, namun terhenti begitu ponselnya bergetar. Kakaknya menelpon.
.
.
.
Tentu saja Seokjin langsung pergi dari hadapan Namjoon, masuk ke mobilnya, lalu mengangkat panggilan kakaknya. Yang intinya menyuruh Seokjin untuk datang ke rumah sakit tempatnya bekerja.
"Aku harus membeli pakaian baru untuk makan malam nanti." kakaknya berjalan lebih dulu dengan tangan menenteng tas yang Seokjin yakini adalah keluaran terbaru.
Sekedar informasi, jika Seokjin memilih membangkang dan pergi dari Seoul, kakaknya tidak. Dia lebih mirip ular. Kakaknya tahu jika dirinya tak setuju dengan cara Papa mereka, dia tahu seberapa buruk dan kotornya tangan keluarga mereka, tapi wanita yang kini umurnya lewat 35 itu bermain licin. Ia menurut, hidup mewah tak pernah kekurangan, tapi Ia punya semua rekam jejak keburukan setiap anggota keluarganya.
Wanita itu yang mengatakan pada Seokjin dua tahun lalu. Bahwa seluruh dana kotor dan kecurangan keluarganya ada di tangannya.
"Oh ya, dan aku akan memastikan kau tidak memakai kaus lengan pendek atau sweater untuk makan malam nanti."
Seokjin menurut, memilih diam daripada harus berdebat dengan wanita ini.
"Bagaimana perjumpaanmu dengan Mama? Lancar? Wanita itu tidak menamparmu atau–"
Seokjin tahu jika kakaknya sedang menggodanya. Beruntung Ia punya balasan lebih tajam, "Bagaimana denganmu? Kau sudah memiliki kekasih? Kau akan menikah?"
Kalah telak. Wanita itu menjotos perut Seokjin–dengan keras.
.
.
.
Seokjin tak paham makan malam yang bagaimana yang akan dijalaninya sebentar lagi. Apakah formal, semi-formal, atau kasual, Seokjin tak diberi tahu. Kakaknya hanya menyuruh Seokjin memakai baju yang dipilihnya; kaus polos berwarna khaki ditambah setelan jas dan celana kain yang sepaket. Ini membingungkan karena jenis pakaian ini bisa dipakai hampir di segala acara.
Tiba saatnya Seokjin bergabung dengan keluarganya di ruang makan, Papanya hanya melirik Seokjin. Dalam hati Seokjin sedikit tak peduli, mungkin lelaki itu malu padanya namun tak bisa banyak bersikap karena ini keinginan istrinya. Mungkin juga lelaki itu malas dan jijik melihat wajah Seokjin. Sekali lagi Seokjin sama sekali tak peduli.
Terakhir mereka bertemu adalah tujuh tahun yang lalu, di malam ketika Seokjin telah mengemasi pakaiannya dan berniat pamit pada Papanya. Bagaimanapun mereka masih sedarah, hubungan mereka adalah Bapak-Anak. Tapi lelaki itu malah menampar pipi Seokjin, keras sekali hingga kupingnya berdenging.
Buru-buru Seokjin menggeleng kecil, mengalihkan pikirannya dari memori buruk.
Tak lama seorang pria seumuran Papanya berjalan masuk bersama dua orang yang memakai jas hitam dan kemeja putih, disambut senyuman tiga anggota keluarganya yang lain–kakaknya mencubit pinggang Seokjin dan menyuruh adiknya ikut tersenyum!
Lelaki itu memiliki wajah yang terlihat baik, namun sepertinya kaki kanannya tidak dalam kondisi baik, karena Ia memakai tongkat saat berjalan.
"Selamat datang di rumahku yang sempit ini, Tuan Kim." Sapa Papa Seokjin. Uh, idiom!
Lelaki yang memiliki marga sama dengan keluarganya itu tersenyum lalu mengangguk. Membalas salaman Papa Seokjin namun matanya bergerak liar, mencari, lalu berhenti saat matanya bertabrakan pandang dengan mata Seokjin.
"Mari duduk," giliran Mamanya yang bersikap manis.
Oh ya, ngomong-ngomong tentang Mama, bukankah wanita itu berkata jika anak dari sahabat Papanya ingin bertemu dengannya? Jika benar Tuan Kim ini adalah sahabat Papanya yang dimaksud, lalu di mana anaknya?
Seokjin melirik dua pria bertubuh tegap yang kini berdiri tak jauh dari lelaki itu duduk. Wow, siapa sebenarnya lelaki itu hingga Ia harus ditemani dua pengawal. Apakah Ia seorang pejabat, atau orang terkaya, atau bagaimana?
Pintu ruangan diketuk, satu penjaga membuka pintu dengan celah sangat kecil seolah ini adalah hal yang biasa dilakukannya–sedangkan rumah ini bukan miliknya. Dari tempat duduknya, Seokjin memperhatikan bagaimana kinerja pengawal itu.
Salah satu 'pengawal' yang tadi membuka pintu itu berbalik dan membisikkan sesuatu yang sepertinya penting hingga wajah lelaki bertongkat itu berubah. Sungguh, Seokjin baru saja menyaksikan bagaimana lelaki yang umurnya terbilang tua–enam puluhan–itu mengganti ekspresi di wajahnya dengan cepat dalam hitungan persekon!
"Maafkan aku yang kelewat seenaknya ini, Tuan Kim, tapi perbolehkan orangku masuk dan mengganggu waktu kita sebentar."
Papa Seokjin mengangguk cepat, seolah refleks tubuhnya untuk menuruti permintaan dan perkataan lelaki itu.
Dan–demi tuhan–Seokjin hampir tercekat ketika melihat sosok tegap yang memakai baju yang sama dengan dua pengawal lelaki ini, berjalan masuk dengan kabel komunikasi terpasang di telinga kanannya sedangkan pistol tersampir di pinggangnya.
Itu Hoseok! Jung Hoseok! Tetangganya! Yang beberapa jam sebelumnya diperingatkan oleh Namjoon. Kini berjalan dengan kaku, membungkuk saat memasuki ruangan, dan berbisik di telinga lelaki bertongkat.
Susah payah Seokjin menelan liurnya. Dengan tangannya yang bergetar, Seokjin meminum air putih di dekatnya.
Tidak, mungkin Seokjin hanya salah lihat.
Diperhatikannya lagi. Dan lagi. Lebih jelas. Itu memang Hoseok. Hanya dengan tatanan rambut yang berbeda, lebih rapi karena diberi gel. Lelaki bertongkat itu mengangguk, lalu sosok Hoseok itu mundur–menyempatkan diri menatap mata Seokjin dengan wajah dinginnya, entah untuk tujuan apa. Seokjin merasa sesak begitu ditatap mata dingin Hoseok.
Siapa Hoseok ini sebenarnya?
Belum selesai Seokjin bertanya-tanya, sosok lain memasuki ruangan. Tubuhnya tinggi dan tegap, menunjukkan kekuasaan dan menegaskan kekuatannya. Rambutnya hitam ditata naik, terlihat rapi sekaligus berantakan. Dan wajah itu adalah wajah yang begitu dikenalnya.
"Perkenalkan," suara lelaki bertongkat itu bergetar, "Dia anakku, Kim–"
Namjoon melirik lelaki bertongkat itu–ayahnya?
"Kim Namjoon."
Demi tuhan, ada apa dengan Seoul dan sejuta rahasianya ini?
Denting keras selanjutnya terdengar nyaring mengusik keadaan, membuat semua yang berada di ruang makan tertutup ini mencari asal suara. Seokjin melirik Mamanya, karena wanita itulah yang membuat keributan.
Dari tempatnya, Seokjin bisa melihat dengan jelas bagaimana wanita itu terlihat kebingungan, mungkin karena merasa malu setelah membuat keributan atau alasan lainnya. Wanita itu jelas terlihat kebingungan, dan bagaimana tangan itu sedikit bergetar saat mengangkat gelas berisi air putih dan meneguknya dalam jumlah banyak. Jelas itu bukan tipikal Mamanya, wanita itu selalu tampil elegan.
Seokjin melirik Namjoon yang masih berdiri, kini tersenyum semakin lebar setelah melihat bagaimana keributan yang dibuat Mamanya.
.
.
.
Satu hal yang mengusik Seokjin di acara makan malam tadi adalah, selain Namjoon yang bersikap normal seolah tak terjadi apapun dan duduk di hadapannya dengan tampan, adalah ketika mereka bersulang.
Tidak ada yang salah. Semuanya baik dan sesuai manner; mengangkat gelas berisi wine mahal, mengucapkan kalimat sebagai rasa syukur mereka, mengadu dengan lembut gelas kaca itu, lalu meminumnya.
Tapi ucapan syukur yang sering Seokjin dengar biasanya adalah, "untuk kesehatan kita." Atau, "untuk keberhasilan kerjasama."
Sayangnya yang Seokjin dengar jauh mengerikan.
Ketika Papanya berucap, dengan senyuman, memulai mengangkat gelas. "For peace,"
Lelaki tua bertongkat itu ikut mengangkat gelasnya sejajar dengan Papa Seokjin. "And profit."
Yang anehnya, semua orang yang duduk di meja makan itu ikut mengangkat gelas mereka dan mengikuti dua ucapan lelaki tua ini. Bahkan Namjoon yang duduk di hadapannya melakukan hal yang sama, lalu menaikkan alisnya sambil tersenyum saat menyesap minumannya.
Apa-apaan?
Dua kata itu tak bisa bersatu. Keadilan tidak bisa dikapitalisasi, dan kau akan kesusahan mencari keuntungan jika mengedepankan keadilan. Itu rumus dasarnya kan?
Hal yang Seokjin lupa adalah bahwa di keluarganya, semua hal bisa terjadi. Tidak ada sesuatu yang mustahil. Termasuk mencampur aduk antara keadilan dan keserakahan untuk mendapat keuntungan.
.
.
.
Seokjin tak terlalu mendengarkan semua pembicaraan dua keluarga ini selama makan malam. Dua alasan, karena Ia tak paham banyak tentang profil lelaki bertongkat ini, dan Ia tak paham apa saja bisnis yang dijalankan keluarganya dengan orang bertongkat ini.
"Kau mau mencari udara segar?" bisik Namjoon.
Seingatnya mereka dalam kondisi yang tidak bisa 'mencari udara segar' bersama. Keduanya berada dalam perang dingin. Tapi begitu tubuh Namjoon berdiri dengan mata yang terus menatap matanya, Seokjin ikut berdiri dan membungkuk untuk pamit.
Rumah Seokjin cukup besar untuk sekedar 'mencari angin segar'. Mereka memiliki halaman dengan jalan setapak dan rumput yang memenuhi pekarangan di sekitar jalan setapak. Rumah ini juga memiliki gazebo di tengah taman yang kini mereka sedang berada di sana.
Seokjin sudah hampir lupa bagaimana rasanya menghabiskan malam hari di gazebo di rumahnya ini, dan Namjoon mengingatkannya jika berada di gazebo di malam hari adalah hal yang indah untuk diingat. Karena taman di sekitarnya dipasangi lampu-lampu kecil–tenang saja, gazebo ini dilindungi kain transparan sehingga serangga tak akan mengganggu mereka.
"Kau bingung dengan mereka yang menyatukan kedamaian dan keuntungan?"
Seokjin melirik lelaki yang kini membungkuk membelakanginya dengan siku yang menumpu di kayu pinggir gazebo di hadapannya. Ia merasa tak senang dengan topik pilihan lelaki ini.
"Karena kedamaian tidak bisa dikapitalisasi?" Lelaki itu berbalik, menyandarkan tubuh bawahnya pada pinggiran gazebo dan menatap Seokjin dengan tangan dilipat di depan dada.
"Menurutmu itu masuk akal?"
Namjoon tersenyum, merasa umpannya disambar. "Tidak."
Mata Seokjin menatap lelaki itu. Ia salah menebak, dikiranya Namjoon adalah orang yang berpikir sama seperti keluarganya yang lain; penyatuan penggunaan peace dan profit di acara makan malam mereka tadi.
"Aku tak setuju dengan cara mereka, topik pilihan mereka, semuanya, itulah kenapa aku mengajakmu kemari."
Seokjin membuang muka, "kenapa harus mengajakku ikut jika kau yang merasa risih?"
"Karena kau juga risih, kan?"
Tanpa sadar nafas Seokjin tertahan.
"Lagipula aku ingin kembali merasakan menghabiskan waktu bersamamu di gazebo ini." Namjoon terkekeh, "Sudah lama sekali, ya?"
Tidak. Seokjin masih yakin jika mereka tidak saling mengenal. "Adakah kemungkinan kau salah orang? Aku sama sekali tak mengenalmu."
"Tidak."
"Kau seyakin itu?"
Namjoon mengangguk.
Bibir Seokjin kering. "Kenapa robot itu masih kau simpan?"
Seokjin menangkap gestur Namjoon. Lelaki itu terlihat memasang ekspresi aneh, yang bahkan tak bisa diartikan oleh Seokjin. Ia memilih mengalah. "Lupakan, Namjoon,"
Lalu pikiran Seokjin terbang ke beberapa jam yang lalu, ketika Ia dan Mamanya terlibat dalam konversasi yang membuat dadanya sesak bukan main.
"Mereka mengerikan, Seokjin." wanita itu bergumam lirih.
Seokjin masih berdiam di tempatnya, menunggu kalimat yang akan dikeluarkan Mamanya.
"Mereka mencoba membunuh Papamu dua tahun yang lalu, dan dari semua yang ada di dunia, hanya Papamu yang bisa menjanjikan keselamatan pada keluarga ini sedangkan sisanya hanya menginginkan kematian kita semua agar harta kita bebas dan tak bertuan."
"Papaku.." Seokjin melirik wajah Namjoon, menunggu bagaimana lelaki itu bereaksi. "Dua tahun yang lalu Ia diracun oleh seseorang."
Namjoon mendengarkan.
Seseorang lain dengan langkah yakin berjalan menuju gazebo, kemudian berhenti ketika mendengar percakapan keduanya.
"Seseorang mencoba membunuhnya, dan jika Papaku telah berhasil dibunuhnya, target selanjutnya adalah Mamaku, lalu kakakku dan berakhir di aku." Mata Seokjin berair tiba-tiba. "H.O.U.N.D adalah satu-satunya orang yang kemungkinan mencoba membunuh kami."
Namjoon masih mendengarkan.
Suara yang Seokjin keluarkan kemudian membuat keduanya–bahkan Seokjin–terkejut, karena begitu terdengar ketakutan. "Bagaimana bisa... kalian yang katanya menjaga keluargaku berubah menusuk kami dari belakang?"
"Semuanya bisa terjadi, Seokjin, dan kurasa menusuk dari belakang adalah keahlian kami."
Mata Seokjin semakin memanas. Kim Namjoon yang mulai diterima kehadirannya oleh Seokjin, yang mulai Seokjin beri sebagian kepercayaannya, yang Seokjin bagi keresahannya, berkata demikian dengan mudah.
"Kalian membunuh dan berkhianat dengan mudah?"
Namjoon mengangguk, "kurasa lelaki bertongkat itu yang memerintahkan orang untuk mencoba membunuh Papamu."
Seokjin terbatuk!
"Tapi menurutku Ia tak benar-benar diracun untuk dibunuh, kurasa itu hanya peringatan baginya." Namjoon tersenyum kecil, "karena jika Ia ingin membunuh Papamu, bukan hal besar bagi kami untuk membunuh hingga tak bersisa dalam satu malam."
Dada Seokjin sesak. Ia baru saja makan dengan orang yang mencoba membunuh keluarganya?!
"Dan keluargamu pasti tahu tentang ini."
Berkali-kali Seokjin mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap bernafas setelah mendengar ucapan Namjoon. Ia menarik nafas dalam-dalam, secara terang-terangan, lalu mengeluarkannya bersamaan dengan matanya yang berangsur membaik setelah merasa perih bukan main.
Namjoon bergerak cepat, duduk di samping Seokjin dan menarik tangan Seokjin dalam genggamannya. Refleks Seokjin masih baik, Ia menarik tangannya dari genggaman tangan Namjoon. Namun refleks lelaki itu tak terkalahkan, Ia lebih dulu menangkap dan menahan tangan Seokjin.
"Seokjin, berjanjilah padaku, apapun yang terjadi kau akan terus percaya padaku jika aku akan melindungimu."
Tidak. Kau baru saja mengakui dengan mulutmu sendiri jika kalian mencoba membunuh keluarga kami, termasuk Seokjin.
"Tetaplah percaya padaku, sekalipun semua orang berteriak untuk tidak."
Mata mereka bertatapan dan keduanya saling mencari arti dari sinar mata masing-masing. Namjoon yang berusaha dengan keras untuk menunjukkan kesungguhan, sedangkan Seokjin yang berusaha keras mencari celah dan berusaha menemukan kebohongan dalam mata Namjoon.
"Kau tidak berbohong?"
"Permisi." Tautan mata mereka terpisah dengan cepat ketika suara berat menginterupsi. Keduanya menoleh dengan cepat, dan menemukan Hoseok yang berdiri di jalan masuk gazebo.
Tanpa perintah, keduanya berdiri dengan cepat, dan secara tak sadar Namjoon menarik tubuh Seokjin ke balik tubuhnya sedangkan tangan mereka masih saling terpaut. Namjoon awas, begitu juga Seokjin yang bahkan tanpa sadar membiarkan Namjoon menyembunyikan tubuhnya dan menjadikan tubuh besar lelaki itu sebagai tameng.
Mata Hoseok pun awas. Ia melirik gerakan cepat dan refleks keduanya, lalu melirik tangan keduanya yang bertautan. "Tuan Kim mencarimu." Suaranya dingin, entah ditujukan pada siapa.
Orang tua keduanya bernama Tuan Kim.
.
.
.
Semalaman Seokjin tak bisa tertidur.
Terlalu banyak pikiran yang berputar di kepalanya, terlalu banyak hingga matanya terus terjaga. Berkali-kali Seokjin mengubah posisi tidurnya, sama sekali tak berhasil membuatnya mengantuk.
Ia berakhir terduduk di pinggir tempat tidurnya, kesal pada dirinya sendiri yang menolak mengantuk sekalipun tubuhnya cukup lelah seharian ini. Semua cara telah dicobanya agar mengantuk.
Karena Ia merasa asing?
Karena Ia merasa ketakutan?
Karena ini Seoul?
Karena tak ada Namjoon yang bersamanya?
"Halo, Namjoon?"
Ya, Seokjin mungkin seorang pecundang yang malah menelpon Namjoon sebagai opsi terakhir karena dirinya yang gagal bersikap tenang dan beradaptasi.
"Ya, Seokjin. Ada sesuatu?"
Terdengar bising di balik suara Namjoon. Dentuman musik memenuhi pendengaran Seokjin melalui sambungan telepon mereka.
Entah kenapa Seokjin tak suka. "Kau berada di club?"
Night club, wanita seksi, pria mabuk, tak sadarkan diri, dan berakhir di kamar hotel. Itu sewajarnya yang terjadi jika berada di club kan?
"Tunggu sebentar, aku akan keluar." Namjoon setengah berteriak, memastikan Seokjin mendengar ucapannya.
Dan entah kenapa Seokjin merasa ringan dan merebahkan kembali tubuhnya. Ia menunggu suara bising dan dentuman musik hilang sambil menyamankan dirinya di balik selimut.
"Sudah, aku sudah di luar." Memang benar, suara riuh di balik suara Namjoon sudah hilang berganti ketenangan. Hanya suara Namjoon yang terdengar. "Kau sudah lebih baik? Aku benar-benar sudah di luar."
Seokjin menggigit lidahnya. "Aku tak bilang aku sedang buruk,"
Tawa kecil terdengar di telinga Seokjin. "Aku bahkan bisa paham dari nada suaramu jika kau tak suka. Kenapa? Kau takut aku mabuk dan tak sadarkan diri?"
Benar.
"Kau tak suka aku menghabiskan malam dengan wanita seksi?"
Apakah Namjoon sedang menggodanya?
"Katakan saja, Seokjin, jika kau tak menyukai itu semua." Ujar Namjoon enteng.
"Tidak!" Potong Seokjin cepat. "Aku tak masal–"
"Karena aku suka jika kau tak suka." Lanjut Namjoon bersamaan dengan ucapan Seokjin.
Keduanya terdiam. Merasakan atmosfer aneh yang melingkupi diri mereka berdua sedangkan jarak sedang memisahkan mereka.
"Aku berhasil membuatmu lebih tenang sekarang?" tanya Namjoon dalam suara lirihnya. "Kau pasti kesulitan tidur di kamarmu sendiri setelah tujuh tahun menghilang."
"Darimana kau tahu?"
Ada jeda sebelum Namjoon menjawab. "Karena itu yang selalu kurasakan."
"Apakah itu sebuah pengakuan?"
Keduanya tertawa bersamaan, menertawai diri masing-masing.
Entah sejak kapan Seokjin mulai terbiasa dengan kondisi ini. Percakapan ringan mereka terus berjalan dan tanpa sadar mengantar Seokjin ke gerbang kantuknya.
"Hari ini melelahkan,"
"Ya."
Mata Seokjin terasa berat.
"Suaramu sudah mulai berat, kau sudah mengantuk?" tebak Namjoon, "mau kututup saja telepon ini?"
"Jangan!" sergah Seokjin cepat sekalipun dirinya sudah sangat mengantuk dan tubuhnya terasa berat. "Tetaplah berbicara,"
-TBC-
SUDAH PAHAM KAN SIAPA HOSEOK? Selamat sekali lagi untuk kalian yang benar main tebak-tebakan ini! Yeay, hadiahnya adalah 'ucapan selamat dari akuu'
BTW monmaap ini panjang banget, demi menjelaskan siapa hoseok dan kasih bumbu-bumbu Taekook (rencana aku mau bikin spin-off taekook karena mereka gemes banget huhu) sekaligus aku pengen tahu gimana menurut kalian kalau misal satu part sepanjang ini (5k words) takutnya kalian mual kebanyakan baca wkwkw
Sudah ya bacotnya, semangat membaca dan terimakasih gomawo gamsahamnida untuk kalian yorobun semua yang masih setia menunggu update ff ini, sudah follow dan favorit in, unch, sending virtual hug untuk kalian yang mau kupeluk...!
RnR?
ILY!
