H.O.U.N.D
Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others
Rate : T
Length : Parts
H.O.U.N.D
Hoseok bukan anak orang kaya. Ia kabur dari rumahnya–juga kabur dari ayah pemabuk dan suka memukul–di umur awal sepuluh. Ia pergi jauh, kemanapun, asal pergi dari rumahnya. Sejak Ibunya pergi dari rumah karena sikap ayahnya, hidup Hoseok yang tinggal bersama ayahnya tak berbeda dengan neraka–jikapun benar neraka itu ada.
Hoseok dilarang pergi sekolah, dilarang pergi bermain, dikurung di dalam kamarnya.
Ia dilarang membeli makan di luar, dilarang memasak makanan, namun tak diberi makanan. Ia makan dua hari sekali, kadang tiga.
Dan ketika Ia telah membulatkan tekad, Ia menendang ayahnya yang hendak memukulinya lagi, Ia berlari sekuat yang Ia bisa tanpa peduli kakinya yang tak sempat memakai alas. Yang Ia tahu saat itu hanya berlari, berlari, dan berlari. Sejauh mungkin, sejauh yang Ia bisa dengan satu tujuan; pergi dari hidupnya yang seperti neraka.
Ketika Ia bertemu seorang lelaki yang berjalan menggunakan tongkat, Ia ketakutan sekali lagi saat lelaki itu memegang dua bahunya. Sekalipun lelaki itu tersenyum pada Hoseok, anak kecil berumur sepuluh itu ketakutan bukan main.
Terlebih saat Hoseok dibawa ke rumah besarnya–sebesar kastil atau istana–Hoseok masih ketakutan.
Lelaki itu menawarkan hidup pada Hoseok. Rumah, makanan enak, sekolah, kursus olahraga, hingga mainan. Lelaki tua itu memberikan gambaran 'kehidupan' pada Hoseok dan memperlakukan Hoseok dengan baik.
Hoseok kecil tersenyum. Menemukan arti rumah dan hidup dalam genggaman lelaki itu.
Hingga umurnya lima belas. Arti rumah dan hidup yang dulu dirasakannya bersama lelaki-tua-bertongkat itu harus dibayar sesuatu yang setimpal.
Hoseok diberi hidup, tapi Ia harus mengambil hidup orang.
Itu yang dikatakan lelaki yang berjalan dengan tongkat itu. Apa yang lebih mengerikan? Senyuman ringan di bibir lelaki yang Ia panggil 'Ayah' itu. Bagaimana Ia mengucapkan hal tentang mengambil nyawa orang lain semudah mengatakan hal remeh lainnya.
Hoseok belajar jika tak ada kebahagiaan yang mudah didapat sejak saat itu.
Sejak saat itu, Ia dilatih, ditempa, dibentuk menjadi seorang petarung. Ototnya dipaksa bekerja hingga limit, ketahanannya diuji hingga batas, kekuatannya ditekan hingga ujung. Ia tak memiliki kesempatan untuk sekedar meminta waktu istirahat apalagi mengeluh, sekalinya Ia meminta izin istirahat maka porsi latihannya bertambah. Tak ada hari tanpa berlatih. Hoseok dipukul hingga tubuhnya terbiasa menerima pukulan. Tubuhnya ditendang, mulai dari tendangan ringan hingga tendangan keras, hingga sekarang tubuhnya tak masalah ketika menerima tendangan.
Semua latihan fisik telah dijalani Hoseok.
Tugasnya? Menjadi algojo.
Jika seseorang yang disebut 'saudara'nya menolak membunuh, Hoseok yang harus membunuh. Jika seseorang yang disebut 'saudara'nya tidak menjalankan tugas yang diberi kepadanya, Hoseok yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Hoseok menjadi algojo terbaik di kelompoknya, namun selamanya menjadi bayang-bayang 'saudara'nya.
Bahkan ketika Ia ingin berteman dengan anak seorang dokter yang menolongnya, Ia harus mengalah demi 'saudara'nya dan pergi dari hidup anak kecil temannya itu.
.
.
.
Seokjin hanya bertahan hingga sarapan bersama keluarganya lalu segera berpamitan pada Kakak dan Mamanya. Papanya menolak untuk menemui Seokjin dan memilih mengunci diri di dalam ruang kerjanya setelah sarapan.
"Pergi saja, aku tak memiliki anak yang tak bisa diatur." Desis lelaki berumur itu lalu berjalan meninggalkan meja makan yang tiba-tiba memiliki atmosfer buruk.
Seokjin tersenyum miris. "Tidak semua hal bisa diatur sesuai kehendakmu, Pa."
Desisan lirih Seokjin membuat kakak perempuan dan Mamanya menoleh terkejut, sama-sama tak menyangka Kim Seokjin telah berubah menjadi seperti ini.
"Jaga ucapanmu, Kim Seokjin." desis kakaknya ketika melihat langkah Papanya terhenti beberapa detik karena ucapan Seokjin.
Ucapan Seokjin sebenarnya tidak salah sama sekali. Papanya, dan banyak pihak di keluarganya, suka mengatur hasil sesuai keinginan mereka. Sayangnya dunia tidak berjalan seperti itu.
Setelahnya Seokjin segera pamit dan menjalankan mobilnya menuju kediaman rumah Yoongi. Kabarnya Jimin telah pulang dari rumah sakit dan hanya dirawat di rumah Yoongi dengan pengawasan dokter keluarga.
Sekali lagi Seokjin ingin tahu apa yang terjadi dengan Jimin.
Dan mengingat percakapannya dengan Namjoon semalam, membuat Seokjin memantapkan diri bertanya pada Yoongi tentang siapa Kim Namjoon dan apa hubungannya dengan dirinya. Karena hampir seluruh keyakinannya mengatakan jika Namjoon dan dirinya saling mengenal di masa lalu.
"Kau tidur di kamarmu?" tanya Namjoon mengubah topik.
"Tentu saja,"
Namjoon terdiam beberapa saat, lalu kembali berucap, kini dengan suara yakin. "Kau ingin aku membuktikan jika aku mengenalmu?"
Seokjin setuju.
"Di kamarmu ada jendela besar menghadap ke taman, di sana ada pohon besar yang rindang." Ada jeda kembali, "dulu ada ayunan dan trampolin di bawah pohon itu. Kita biasa bermain di sana setelah kau pulang sekolah."
"Itu bisa saja benar karena kau asal menebak."
Namjoon tertawa. "Di kamarmu, jika belum ditata ulang, ada dua rak tanam yang berisi banyak koleksi robotmu. Juga mainan dinosaurus."
Mata Seokjin beredar menuju sisi dinding yang dimaksud Namjoon, di mana ada rak tanam yang tepat seperti deskripsi Namjoon.
"Aku tak tahu bagaimana kau bisa benar-benar melupakanku, tapi robot yang kaubawa dariku itu benar-benar pemberianmu saat kita kelas tiga."
Tapi Seokjin sama sekali tak merasa memiliki robot ini. Benar jika Namjoon mengatakan tentang keberadaan rak tanam berisi robot koleksinya saat kecil, tapi sungguh Seokjin tak merasa memiliki teman dekat saat kecil.
.
.
.
Dua hal yang paling tak ingin Yoongi dengarkan di pagi hari adalah bunyi alarm dalam bentuk apapun dan dering ponsel karena seseorang menelponnya. Ia tipikal morning person yang sama sekali tak suka diganggu ketika pagi–kecuali jika Jimin yang membangunkannya.
Dan pagi ini seseorang menghancurkan mimpi dan tidur tenangnya dengan menelpon Yoongi sebelum pukul enam. Lelaki berkulit pucat yang tidur di sisi kasur yang berbeda dengan kekasihnya itu menggerang dan menendang selimut tebalnya sebagai sarana melampiaskan amarahnya.
Tapi di menit kedua dering teleponnya berbunyi beruntun, Yoongi bangun dan mengangkatnya.
"Aku sudah mengambil keputusan."
Kesadaran Yoongi kembali berikut matanya terbuka lebar. Ia kenal pemilik suara ini.
"Aku akan membunuh Namjoon. Hari ini."
"Bukan urusanku." Ucapnya dingin. Toh itu yang diinginkan Yoongi sejak lama; kematian Namjoon. Sebenarnya bukan nyawa Namjoon yang diinginkannya, tapi lelaki itu menjauh dari Seokjin. Dan apa yang membuat lelaki itu menjauh dari sepupunya? Ya, kematian.
Lelaki di ujung lain panggilan terkekeh kecil, menyadarkan Yoongi jika setiap orang memiliki sisi mengerikan dan jahat. "Urusanmu karena Seokjinmu berada di mobil yang sama dengan Namjoon saat aku berencana membunuhnya."
"Kubilang jangan sentuh Seokjin!" pekik Yoongi tanpa sadar.
Seokjin itu sepupunya, mereka berjanji saling menjaga di tengah medan perang yang diciptakan keluarganya. Dan nyawa Seokjin sama artinya dengan nyawanya; sesuatu yang buruk terjadi pada Seokjin akan terjadi pula padanya atas perintah Papa Seokjin yang mengerikan itu.
Teriakan Yoongi membangunkan kekasihnya yang tidur di ranjang yang sama. Namun lelaki itu tetap diam dan memperhatikan punggung kurus kekasihnya.
"Lakukan sesukamu pada Kim Namjoon, aku sama sekali tak peduli." Desis Yoongi datar. "Tapi kubilang jangan pernah melukai Seokjin!"
Ada jeda yang diisi dengan keheningan hingga penelpon itu tertawa geli. "Tenang saja, aku tahu itu. Aku mendapat bayaran darimu jika membunuh Kim Namjoon maka aku memberitahumu tentang hal ini, agar kau bisa menjauhkan Seokjin dari medan perangku."
"Persetan!"
"Sudah, ya, aku harus menemui Ayah Namjoon untuk melakukan transaksi lainnya mengenai nyawa anak semata wayangnya."
Dan panggilan diputus.
Menyisakan Yoongi yang termangu di pinggir ranjang dengan memangku tangan dan memandangi ponselnya dalam tatapan kosong. Ia memutar kembali bagaimana paginya dimulai hingga Ia bisa berada di mood terburuknya seperti sekarang.
Ini mengenai Seokjin dan dirinya.
"Sayang?" suara lembut Jimin–
Punggung Yoongi berjengit tinggi karena terkejut namun secepatnya lelaki itu berbalik sekalipun wajahnya kaku bukan main karena terkejut. Suara Jimin sangat lembut saat memanggilnya, namun Yoongi malah terkejut sedemikian rupa.
Ia ketakutan.
Keduanya sama-sama tahu.
.
.
.
Yoongi dan Jimin tinggal di apartemen yang cukup luas dan besar, menyatukan dua unit bersebelahan dan memiliki dua lantai. Beberapa kali Seokjin datang kemari–tanpa mampir ke rumahnya.
Sebelum pukul sebelas Seokjin telah berdiri di depan lift dan menunggu. Yoongi memberinya akses password ke apartemennya, jadi dengan santainya Seokjin membuka pintu yang cukup berat itu dan mengganti sepatunya dengan sandal rumah.
Apartemen ini kelewat mewah. Tipikal pasangan ini memang, ada lampu kristal dan lukisan, ada karpet bulu dan sofa kulit. Yoongi sekali.
"Kau datang?"
Itu Yoongi. Baru bangun dari tidurnya–memakai kaus superlonggar dan celana kolor pendek, rambut acak-acakan, wajah bengkak, namun suaranya jauh dari serak selayaknya orang bangun tidur.
"Kau baru bangun?"
Yoongi menguap lebar sambil menggaruk rambutnya dan membuatnya semakin berantakan. Ia berjalan mengambil botol air putih dan duduk di stool bar di pantry, berhadapan dengan Seokjin yang memperhatikannya miris.
"Kau tidak mau memasak untuk kami, Jin?"
Seokjin otomatis memutar bola matanya. Ia datang bukan untuk memasakkan pasangan gila ini, duh.
Wajah Yoongi berubah segar dengan cepat, "ups, tuan muda Kim Seokjin sudah kembali, ya? Bukan lagi anak desa Kim Seokjin, tapi tuan muda yang terhormat Kim Seokjin."
"Sialan."
Yoongi tertawa kecil, menggumamkan 'tunggu sebentar' saat Ia berjalan kembali ke kamarnya dan kembali tiga puluh menit setelahnya dengan wajah segar dan pakaian lebih layak saat Seokjin sedang menonton tv sambil mengunyah camilan keripik kentang.
"Jangan makan bercecer, Jin!"
Seokjin merengut. Bagaimanapun Ia tak bisa menolak perintah Yoongi sejak awal. Yoongi menyamankan duduknya di sisi lain sofa dan memandang Seokjin remeh.
"Kudengar semalam dia datang mengacau."
"Siapa?"
"Namjoon."
Dahi Seokjin berkerut, "mengacau bagaimana?" Seingatnya semua berjalan dengan baik. Senyum kanan-kiri, tertawa palsu bersama, semuanya berjalan lancar.
"Semalam, dia datang di acara makan malam bersama keluargamu."
Seokjin tak paham. "Itu yang kau bilang mengacau? Dia datang sebagai Kim Namjoon, anak dari Tuan Kim, dan itu yang kau bilang mengacau?"
Yoongi mulai tertarik mendengar suara Seokjin yang mulai meninggi tanpa sadar. "Dia tidak memiliki hubungan yang baik dengan Ayahnya, Seokjin, dan kedatangannya semalam mengacaukan semua hal."
Yang berkulit pucat menunggu reaksi Seokjin, namun hingga detik kesepuluh Seokjin tak kunjung bereaksi, Yoongi kehilangan kesabaran. "Kudengar Tuan Kim dengan tongkat itu sudah menyiapkan orang lain untuk menjadi Namjoon palsu. Entah apa tujuannya, tapi itu yang kudengar. Dan kedatangan Namjoon asli membuat rencananya, yang aku juga tidak tahu apa rencananya, menjadi gagal."
Mulut Seokjin terasa pahit tiba-tiba.
"Kudengar Papamu marah besar setelah itu?"
Mata Seokjin bergerak cepat menatap sepupunya tak percaya. Mana mungkin! Namjoon dan Seokjin, keduanya kembali ke rumahnya setelah Hoseok–yang masih tak bisa dipercaya–menyampaikan pesan kepada mereka. Setelahnya, dengan matanya sendiri Seokjin melihat bagaimana dua lelaki tua itu meminum teh sambil tertawa bersama.
"Papaku? Kau yakin lidahmu tak salah sebut?"
Yoongi mengangguk yakin. "Kudengar sejak lama orang tua kalian menginginkan kematian Namjoon. Aku sendiri tidak terlalu yakin dengan informasi ini, tapi itu yang kudengar dan berita ini terus berdesus sejak lama." Yoongi melipat tangannya di depan dada dengan senyum meremehkan, "kau mau tahu alasannya?"
Tidak perlu dijawab pun seharusnya Yoongi sudah paham apa jawaban Seokjin.
"Yang satu ingin membunuh Namjoon karena membelot dan membahayakan posisinya, yang satu," Yoongi menggantung kalimatnya menggoda Seokjin, "karena Namjoon terlalu banyak mengganggu anaknya."
Keduanya menampilkan ekspresi berbeda, kontras. Yang satu tersenyum seolah menang, yang satu membeku tak sanggup menerima informasi ini.
"Kau... bisa menjaga dirimu sendiri, 'kan, Kim Seokjin?" entah pada menit ke berapa Yoongi bergumam lirih, sangat lirih dan halus, namun setengah mati Seokjin terkejutnya.
Butuh beberapa detik bagi Seokjin untuk mencerna semuanya kembali, mengumpulkan kesadarannya, dan berdeham–tenggorokannya kering.
"Cepat atau lambat sesuatu yang besar akan terjadi, Seokjin." Pandangan mata Yoongi terlihat menerawang jauh ke depan, membuat Seokjin yang belum seutuhnya paham ini semakin kebingungan. Dan demi tuhan Yoongi ingin sekali memuji dirinya atas kepandaiannya memainkan kata-kata.
Seokjin memulai dengan basa-basi. "Bagaimana keadaan Jimin?"
Air muka Yoongi berubah serius, setengah kusut. "Rem mobilnya putus," Yoongi mengatakannya mirip gumaman. "Dan sebelum kejadian, CCTV mobilnya mati, dimatikan paksa. Karena demi tuhan kami selalu memastikan CCTV kami nyala, jadi pasti seseorang mematikan CCTV mobil Jimin."
"Seseorang mengikuti mobil Jimin sejak awal, membuat Jimin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berakhir menabrak pembatas jalan. Kepalanya terbentur, luka sobek di pelipis, retak di tulang tangannya, lainnya baik."
Seokjin menggigit bibirnya. "Namjoon," Ia memancing, menunggu reaksi Yoongi saat Ia menyebutkan nama itu. Bagaimanapun Yoongi menyatakan–dengan terang-terangan–bahwa Ia tak suka pada Namjoon dan Namjoon adalah orang yang berbahaya.
Decakan lidah Yoongi terdengar keras dan kesal. Ia menghela nafas keras-keras dengan sengaja, "Aku tak suka membicarakan namanya."
Sesuai tebakan. Seokjin mengangguk lembut, menatap penuh mata Yoongi. "Dengar dulu."
Yoongi menurut.
"Dia tahu siapa yang melakukannya pada Jimin." Seokjin memulai, lalu melanjutkan saat Yoongi tak lagi menampilkan reaksi tak suka yang berlebihan. "Orang itu berasal dari H.O.U.N.D juga, Ia melakukannya karena Jimin–"
"Jimin apa?"
"Ia menggelapkan uang dari investor Cina. Menggelembungkan anggaran yang diberikan kepada investor, dengan jumlah yang berbeda dengan anggaran yang diberikannya pada perusahaan."
Seokjin menunggu reaksi Yoongi yang bisa saja berteriak tak percaya sambil menangis, atau mungkin memukuli Seokjin dengan barang apapun di dekatnya karena bisa saja alasan yang dikatakan Seokjin baru saja adalah salah atau bahkan karena tak bisa menerima ucapan Seokjin.
Tapi tidak. Yoongi malah menghela nafasnya, terlihat lelah setelah mendengar penjelasan Seokjin. Ia mengusap wajahnya lalu menyembunyikan wajahnya di telapak tangan. "Ya, aku tahu."
"Namjoon bilang itu hanya cara mereka memperingatkan kalian. Mereka bisa saja membun–" Suara Seokjin terhenti dengan tercekat, tak sanggup mengucapkannya lebih jauh.
"Ya, aku tahu." Yoongi masih menyembunyikan wajahnya, lalu mengusap wajahnya dengan tangan sekali lagi. Wajahnya terlihat kuyu. "Jimin ingin membalas dendam, Ia ditipu oleh perusahaan ratusan juta dollar sebelumnya. Yang Ia lakukan tidak sebanding dengan kelicikan mereka."
Perusahaan yang dimaksud adalah perusahaan keluarga mereka sendiri.
Bermain licik dan mengotori tangan dengan darah, ingat? Ya, seperti itu cara berbisnis keluarga ini. Seokjin masih ingat.
"Ngomong-ngomong soal Namjoon, Kim Namjoon." Seokjin melanjutkan, "Aku masih percaya jika Ia tak seutuhnya jahat seperti dugaanmu."
"Kau semalam sudah makan malam bersamanya, 'kan?" Suara Yoongi sedikit meninggi. "Kau tahu dia bagian dari H.O.U.N.D, kau tahu dia anak pemilik organisasi sialan itu, si Pak Tua Kim bertongkat. Kau tahu bagaimana cara kerja mereka, kan?"
Seokjin meneguk ludahnya susah payah. Seokjin sudah mendengar semuanya dari Mamanya, dan dibenarkan oleh Namjoon dengan santainya.
"Dia membunuh orang seperti melakukan olahraga. Semudah itu baginya melukai orang yang dibencinya!"
"Ia tak membenciku."
"Dari mana kau bisa seyakin itu?"
"Ia bilang Ia temanku!"
Tanpa sadar keduanya telah saling berteriak. Sambil mengatur nafas, Seokjin melanjutkan, kali ini dengan nada kembali pelan. "Ia bilang akan melindungiku, Ia memintaku untuk terus percaya padanya sekalipun orang lain berkata tidak."
"Dan kau percaya hanya dengan kalimat itu?" suara Yoongi masih tinggi. Kali ini dengan satu sudut bibir ditarik ke atas meremehkan.
Seokjin menghela nafas. "Katakan padaku, Min Yoongi, adakah sesuatu yang kulupakan?"
Alis sepupunya bertaut.
"Satu-satunya yang ingin kuketahui saat ini hanyalah alasan kenapa aku tak mengingatnya."
Mata Yoongi bergerak cepat.
"Kau mengetahui sesuatu? Aku membutuhkanmu karena kau yang selalu menemaniku sejak awal, kita berteman baik sejak lama, kita saling membagi rahasia." Seokjin menatap lurus ke dalam mata Yoongi, berusaha mendapatkan iba Yoongi. "Kumohon beritahu aku. Apakah aku mengenal Kim Namjoon seperti Ia mengenalku? Kenapa aku tak mengingatnya?"
Ucapan Seokjin begitu halus. Namun tak berhasil membuka mulut Yoongi. Bibir tipis milik lelaki berkulit pucat itu masih tertutup rapat, tak berniat menjawab.
Harus bagaimana Seokjin kali ini? Dari semua nama yang ada di hidupnya, selalu Yoongi yang Ia percaya. Dan dalam keadaan seperti ini, hanya Yoongi yang Ia datangi pertama kali untuk mencari jawaban.
"Kenapa kau yakin sekali jika kalian memang saling mengenal, Jin?" Mata Yoongi nyalang menatap sepupunya. "Kenapa kau tak berpikir sebaliknya, bahwa Ia membohongimu dengan mengatakan kalian saling mengenal sedangkan sebenarnya tidak? Kenapa kau malah bertanya sesuatu yang mungkin saja kau lupakan bukannya bertanya tentang kebenaran ucapan lelaki itu?"
Giliran Seokjin yang terdiam. Yoongi tak salah dengan kalimatnya; kenapa Seokjin malah percaya pada lelaki itu bahwa mereka saling mengenal dan malah bertanya kemana ingatannya. Jika ada domba di tengah kawanan singa, apakah domba itu dirinya?
"Kau mengenalnya, Seokjin."
Itu Jimin!
Berdiri di ambang pintu kamarnya, menatap Seokjin dengan lemah. Tubuh Yoongi langsung loncat untuk membantu Jimin berjalan, menuruti permintaan kekasihnya yang memaksa ikut duduk bersama Seokjin.
"Kau baik, Jimin?"
Jimin tersenyum, "andai keadaan seperti ini bisa dikategorikan baik."
Jimin buruk. Ada perban di pelipisnya, tangan kanannya dipasang gips, juga wajahnya yang kuyu.
"Kuharap tubuhmu cepat membaik."
Jimin tersenyum mengangguk, lalu menoleh menatap kekasihnya. "Yoongi, sudah kukatakan lebih baik kita memberitahu Seokjin segalanya sekarang." Lelaki berwajah tampan itu melirik Seokjin sekilas, lalu kembali menatap kekasihnya, "Kita tidak tahu sampai kapan kita bisa melangkah bersama dan melindunginya seperti janjimu, biarkan Seokjin mengetahui semuanya."
Jimin mengenalnya sejak SMP, saat Yoongi mengajaknya makan bersama Seokjin. Bagaimanapun juga Jimin mengetahui banyak hal hingga sekarang.
Kini giliran Yoongi untuk berbicara. Lelaki itu sekilas menatap Seokjin lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, sambil menghela nafas panjang.
"Seokjin kau tahu aku berjanji pada Papamu untuk selalu melindungimu, kan?"
Ya.
"Dan kau tahu aku selalu berusaha terbaik untukmu, kan?"
Ya.
"Dan jika menyembunyikan sedikit untuk menyelamatkan banyak, hal itu bisa dikatakan melindungi kan?"
"Tidak." Seokjin menjawab mantap. "Kurasa kau tidak menyembunyikan sedikit."
Yoongi mengangguk gamang. Tidak ada alasan lagi baginya menyembunyikan banyak hal dari Seokjin. Dan telepon dari Namjoon semalam seolah menegaskan jika tak ada pilihan bagi Yoongi untuk tidak memberi tahu Seokjin, semuanya.
"Ada teknik hipnotis... yang tidak banyak di praktikkan karena memang tak banyak praktisi teknik ini, termasuk di Korea. Teknik hipnotis yang dinamai 'memorial deleting' yang menghapus sebagian atau seluruhnya tentang sesuatu. Sekali kau melakukannya tak ada yang bisa mengembalikan ingatan itu kembali. Selamanya."
Rahang Seokjin terkatup rapat.
"Dan Papamu membayar mahal untuk melakukannya. Itu kenapa kau mengingat bocah kecil yang menemanimu hingga kau SMA tapi sama sekali tak tahu siapa dirinya dan sebanyak apa rahasia yang kalian bagi."
Yoongi... sedang berbohong?
Yoongi terkekeh geli saat Seokjin hanya terdiam dan memandang jauh ke dalam matanya. "Kau sedang berpikir jika aku berbohong, kan?"
"Dari mana aku bisa percaya padamu?" Karena Seokjin mulai paham, jika memang sepertinya Ialah domba di padang rumput yang sedang dikelilingi singa lapar. Semua orang di sekitarnya tahu tapi dia tidak. Dan itu membuatnya mual.
"Itu pilihanmu seutuhnya untuk percaya padaku atau tidak, aku tidak memaksa." Yoongi memandang mata Seokjin tenang. "Kau bisa percaya padaku atau tidak tentang semua ini, itu pilihanmu, aku tak akan memaksa."
"Kau memang tak punya hak untuk memaksaku." Desis Seokjin.
"Tapi biarkan aku memaksamu tentang satu hal."
Tidak. Seokjin sama sekali tidak berharap paksaan dari Yoongi hari ini.
"Jangan pulang." Desis Jimin.
Jimin! Bukan Yoongi!
"Baiklah, sekarang semua orang, bahkan Jimin, tahu sedangkan aku tidak."
Alis Yoongi bertaut tak suka. "Jimin bukan orang lain, Jin!"
"Katakan alasanmu kenapa aku tak bisa pulang!"
Pasangan itu saling melirik, lalu Yoongi menatap mata Seokjin lebih dulu. "Pokoknya tidak."
"Jawabanmu semakin membuatku ingin pulang dan menjauh dari semua serigala seperti kalian, Yoongi!"
Si kulit pucat menghela nafas. "Bisakah kau menurut padaku kali ini?!" suaranya memekik keras dan terdengar frustasi.
"Tidak." Seokjin berdiri, merapikan bajunya yang kusut karena duduk, "Sudah cukup aku menjadi domba yang bodoh bersama kalian. Aku sudah cukup muak. Aku pergi."
Suaranya ketus dan kasar, bukan tipikal Seokjin sekali. Tapi itu memang diucapkan Seokjin sebelum Ia menghentakkan langkah kasarnya dan keluar dari apartemen mewah ini. Tangannya mengepal tanpa sadar saat Ia tahu jika tangannya bergetar karena rasa takut yang menguasainya.
"Jin!" suara Yoongi kali ini benar-benar besar dan mengerikan. Tubuh Seokjin berhenti berjalan namun tak membuatnya berbalik menatap sepupunya. "Jangan kembali ke desa hari ini! Pergi ke hotel jika kau tak mau tinggal di rumahmu atau bersama kami!"
Seokjin benar-benar muak. Ia berbalik dan tanpa sadar tertawa sinis pada sepupunya. "Kenapa? Karena aku akan mati jika pulang?"
"Ya." Jimin yang menjawab. Dengan wajah seserius Yoongi, keduanya menatap mata Seokjin berusaha meyakinkan.
Bahkan Seokjin bisa melihat wajah Yoongi yang menampilkan gurat ketakutan.
Tapi egonya terlalu tinggi. Seokjin tertawa mengejek sekalipun lidahnya kelu bukan main. "Kalian sudah berubah menjadi cenayang, huh?"
.
.
.
Tangan Yoongi bergetar hebat ketika Ia meraih ponselnya dan mengetikkan kontak lelaki yang pagi tadi menelponnya. Matanya bergerak cepat dan tak beraturan sedangkan kekasihnya hanya melihat dari ujung ruangan.
Ketika nada sambung berganti dengan suara lelaki yang berucap 'halo', Yoongi buru-buru menyalak. "Jangan kau lakukan!"
"Whoa, santai, tuan. Aku tidak tuli jadi kau tak perlu berteriak."
Yoongi berdeham menenangkan dirinya–sekalipun Ia masih tak cukup tenang. "Jangan kau lakukan! Jangan bunuh Namjoon! Seokjin bersamanya!"
"Tidak bisa. Kau membayarku mahal untuk melakukannya."
Yoongi menggeram keras-keras. "Aku akan membayar dua kali lipat agar kau tidak melakukannya."
"Tidak perlu. Sebenarnya aku berencana mengembalikan bayaranmu untuk membunuh Namjoon karena kebetulan itu juga keinginanku."
"Jangan. Seokjin pulang bersamanya dan kubilang jangan sakiti Seokjinku!"
"Ups, maaf. Aku bukan bonekamu. Aku akan tetap melakukan rencanaku. Baiklah, sampai jumpa setelah aku membunuhnya."
Yoongi merinding mendengar cara orang yang ditelponnya berbicara dengan riang. "Hoseok! Kumohon–"
Panggilan terputus. Yoongi melotot lebar. Ia ketakutan.
.
.
.
Sekuat apapun Seokjin berakting, lelaki itu bodoh dalam berakting.
Karena ketika pintu apartemen Yoongi dan Jimin tertutup, lutut Seokjin lemas hingga Ia terperosok ke lantai dengan punggung bersandar di pintu apartemen. Nafasnya beradu dengan keringat dingin yang keluar dari tubuhnya, sedangkan tremor di tangannya semakin parah.
Di menit kelima Seokjin akhirnya berhasil menguasai diri dan mengumpulkan kekuatan untuk berdiri dan berjalan sekalipun beberapa detik awal terlalu sulit untuknya menguasai diri.
Ia lebih kuat daripada beberapa menit tadi, tapi Ia masih tak bisa mengendalikan dirinya. Ia berkali-kali menjilat bibirnya yang kering dan berdeham untuk meyakinkan diri jika suaranya tak serak sama sekali–masih serak setelah menit ketujuh.
Ketika Ia keluar dari lift dan berada di lobby, ponselnya berdering pelan tapi tubuh Seokjin berjengit kaget bukan main. Ia menghela nafas keras dan menyumpahi ponsel juga penelponnya.
Tapi itu nomor ponsel Namjoon.
"Ya?" suaranya tak bisa dikontrol, Ia menjawab dengan keras-keras.
"Whoa, Seokjin. Ada apa dengan suaramu?"
Seokjin berdeham beberapa kali hingga tenggorokannya sakit. "Tidak ada apapun. Ada apa menelpon?"
"Kau ingat janjiku untuk pulang bersama?"
Seokjin hampir menjawab 'Ya' dengan semangat tapi penelponnya tidak cukup sabar dan langsung menyambung kalimatnya.
"Kurasa aku harus membatalkan janjiku. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan di Seoul, yang sepertinya akan selesai larut malam atau bahkan lebih lama."
Sekali lagi Seokjin hampir protes dan menyuarakan protesnya, tapi Namjoon kembali memotong.
"Aku mengirim Taehyung dan Jungkook, mereka akan mengantarmu selamat sampai tujuan."
Alis Seokjin bertaut. "Kenapa tidak kau saja? Aku bisa menunggumu dan kita bisa pulang bersama. Lagipula banyak yang harus kubicarakan padamu."
"Tidak, Seokjin. Pulanglah bersama Taehyung dan Jungkook, mereka adik yang baik dan manis, dan aku bersumpah mereka akan bersikap baik."
Seokjin menjilat bibirnya dan rasa takut menyergap dadanya sekali lagi. "Apa ini... ada hubungannya dengan kematian?"
Namjoon tidak segera menjawab dan hal ini membuat Seokjin mual bukan main.
"Yoongi dan Jimin mengatakan tentang hal ini, Namjoon." Suara Seokjin bergetar, begitu juga tangannya. "Bisa kita bertemu dan bicara?"
"Tidak, maaf." Suara Namjoon terdengar penuh rasa sesal. "Jika kau keluar dari lobby, Taehyung dan Jungkook akan tersenyum seperti orang bodoh padamu. Kuharap kau cepat akrab dengan mereka."
Apa maksudnya?
"Hati-hati di jalan, Kim Seokjin."
Lalu panggilan diputus. Dan Seokjin memang menemukan dua orang berwajah tampan dengan tubuh kurus-tinggi sedang tersenyum padanya, tidak seperti orang bodoh seperti yang dikatakan Namjoon.
"Kau memakai jasa vallet, hyung?" Taehyung–yang bermata sipit dan Seokjin mengenalnya karena Ia pernah datang ke rumahnya beberapa waktu lalu–bertanya.
Seokjin sudah biasa hidup dengan dihantam beberapa fakta sekaligus. Hari ini fakta yang didapatnya di apartemen Yoongi dan Jimin, lalu pesan tentang kematiannya, lalu telepon aneh Namjoon, dan kali ini orang asing yang tiba-tiba bertanya demikian padanya.
Anggukan kaku kepala Seokjin membuat lelaki cantik di samping Taehyung meringis. Ia berjalan ke hadapan Seokjin, menawarkan jabatan tangan dengan mata lebarnya dan senyuman manisnya.
"Halo, hyung, Aku Jeon Jungkook. Kau pasti tidak baik-baik saja, tapi kau bisa mempercayakan dirimu pada kami."
Terdengar aneh, dan dahi Seokjin berkerut tanpa sempat Seokjin memahami ucapan lelaki itu.
Ia malah tersenyum, menunjukkan gigi kelincinya. "Boleh aku memelukmu, hyung? Aku tak menyangka kita bisa bertemu!"
Tidak–
Tapi percuma. Sepertinya lelaki ini tak suka menunggu jawaban atas pertanyaannya, juga tak suka meminta izin. Karena belum sempat Seokjin menjawab dan menghindar, tubuh mereka sudah berpelukan dan Seokjin merasakan punggungnya yang ditepuk ringan oleh tangan lelaki ini.
Wow! Itu sangat menenangkan.
Hampir satu menit penuh Jungkook, jika benar itu namanya, memeluk Seokjin dan menepuk punggungnya. Pelukan mereka selesai dengan senyuman lebar Jungkook, hingga matanya hampir hilang. "Sudah lebih baik, hyung?"
"Terimakasih."
Lalu selanjutnya, Taehyung maju dan meminta kunci mobil Seokjin untuk kemudian diberikan kepada petugas vallet dan mereka bertiga menunggu mobil bersama–dengan Jungkook yang terus menerus bertanya pada Seokjin tentang kehidupannya di desa.
Apa-apaan ini?
-TBC-
Hey bby, i'm back :)
Sudah ya, capek aku nulisnya wkwkw
langsung aja review wkwkwk ILY muah muah
