H.O.U.N.D
Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others
Rate : T
Length : Parts
H.O.U.N.D
Seokjin, sejak masih kecil, selalu diajarkan oleh orang tuanya untuk bersikap waspada terhadap orang baru. Seokjin yang sekarang tetap memperingati dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati. Dan ketika Ia menerima pelukan dari orang asing yang samasekali tak dikenalnya, yang mengaku bernama Jungkook, membuat Seokjin kembali mempertanyakan keteguhan hatinya sekali lagi.
Tapi Namjoon telah menyebutkan dua lelaki itu dalam sambungan telepon mereka sebelumnya.
Bisakah dua orang ini bisa dianggap bukan orang asing–
–Hanya karena Namjoon menyebut nama mereka sebelumnya?!
"Kau sudah siap, hyung?" Lelaki bernama Taehyung yang kini telah duduk di kursi kemudi tersenyum pada Seokjin melalui rear-view mirror, membuat Seokjin tersenyum dan mengangguk tanpa sadar sebagai balasan.
Wow, ada apa sebenarnya dengan Namjoon dan teman-temannya yang pandai sekali membuat Seokjin linglung?
Dan di menit kelimabelas akhirnya Seokjin mendapatkan kembali kewarasannya dan bertanya. "Kemana Namjoon?"
Taehyung yang menjawab. "Dia ada urusan, hyung. Namjoon hyung belum memberitahumu?"
Sudah. "Urusan apa? Tidak biasanya dia membatalkan janji seperti ini."
"Aku tak akan menjawab, hyung."
Lalu Jungkook yang duduk di samping Taehyung berbalik dengan wajah menggemaskan, yang sumpah-mati Seokjin ingin mencubit pipi tembamnya. "Ada apa, hyung? Kau tak nyaman dengan kami?" Wajah Jungkook menunjukkan air muka sedih, dengan mudahnya Seokjin terbuai dengan manisnya wajah itu juga bagaimana tutur katanya yang adiktif.
"Kau juga mengenal Namjoon, Jungkook-ssi?"
Kemudian pemuda mirip kelinci itu tertawa, menegaskan jika dirinyalah pemuda paling manis di dunia. "Kau cukup memanggil namaku saja, hyung, tidak perlu sufiks itu." Lalu Jungkook kembali terkikik. "Dan, ya! Namjoon hyung membantuku banyak."
"Membantu?
Jungkook mengangguk semangat, "Aku tak tahu bagaimana hidupku jika aku tak bertemu Namjoon hyung saat itu." Lalu Jungkook menolehkan kepalanya menatap Taehyung, tersenyum lebar dan penuh rasa syukur, "Mungkin aku sudah bunuh diri."
Taehyung terlihat terusik, menoleh menatap Jungkook sekilas dengan alis bertaut tak suka. "Bicaramu mulai melantur, Kook." Tangan Taehyung meraih lembut pucuk kepala Jungkook, membelai rambut berwarna coklat kemerahan itu dengan sayang, lalu menariknya lembut dan mengecupnya beberapa kali.
Dengan gerakan cepat, Jungkook mendorong tubuh Taehyung dan berusaha menjauhkan kepalanya dari hujanan ciuman Taehyung, lalu mencicit dengan menggemaskan. "Tae, ada Seokjin hyung yang melihat!"
Seokjin mengedipkan mata beberapa kali, memaksa dirinya sendiri sadar dan mengingatkan dirinya untuk membuang muka.
Yang sedang menyupir terkekeh dengan suara beratnya, "Tak apa, Kook. Benar, 'kan, hyung?"
Seokjin tergagap, berdeham sekali, lalu menjawab sambil tertawa kering, "Ya, aku tak masalah."
"Nah, dengar, 'kan?"
Setelah mengucapkannya, Taehyung dengan cepat menarik kepala Jungkook sekali lagi, namun sekali lagi Jungkook menolak dan mendorong dada Taehyung–kali ini diikuti dengan tepukan keras di paha Taehyung. "Tidak, Tae, jelas-jelas Seokjin hyung terganggu!" ucapnya berbisik, namun demi Tuhan Seokjin masih bisa mendengar.
Seokjin tak bisa berbasa-basi lagi. Kemampuan bersosial-dengan-orang-baru-nya sangat buruk, terlebih melihat dua lelaki yang samasekali tak dikenalnya bermesraan di depan matanya seperti tadi.
Maka Seokjin memutuskan untuk mengorek mereka tentang Namjoon. "Kalian mengenal baik Namjoon?"
Taehyung mengangguk dengan tangan kanan menggenggam tangan Jungkook hangat–Seokjin sempat meliriknya. "Ya, hyung. Kami berhutang banyak padanya."
"Berhutang?"
Dari tempatnya duduk Seokjin bisa melihat jika Jungkook melirik Taehyung, yang kemudian dibalas lirikan diikuti anggukan kepala Taehyung. "Ya, hyung, hutang yang sangat banyak."
Alis Seokjin menyatu. "Berhutang... uang?"
Taehyung tertawa kecil, lalu membelokkan mobilnya ke jalur tol. "Tidak, lebih dari uang." Lalu Ia melirik Seokjin dari rear-view mirror sekali lagi. "Namjoon hyung sangat baik, hyung, dia sama sekali tak mengenal kami sebelumnya, tapi mau membantu kami. Menyelamatkan nyawa kami."
Seokjin tak percaya semudah itu. Serius, Namjoon bersikap sebaik itu pada orang asing?
Dan Jungkook merasakan keraguan Seokjin, pria itu berbalik menatap Seokjin masih dengan tangan terpaut dengan tangan Taehyung. "Kali ini kau harus percaya padak, hyung. Namjoon hyung benar-benar menyelamatkan hidupku, hyung."
Seokjin hanya terdiam.
Bibir Jungkook mengerucut sedih, "Kenapa hyung, kau tidak percaya?"
Buru-buru Seokjin menggeleng, "Tidak, bukan begitu."
"Tapi?"
Yang duduk di kursi belakang menjilat bibirnya sendiri, "Namjoon tidak terlihat seperti itu, figurnya bukan seperti orang yang mudah membantu tanpa imbal balik."
Kedua lelaki yang duduk di depan tertawa pecah, Jungkook yang meredakan tawanya lebih dulu. Ia menimbang lalu mengangguk, "Benar, sih, hyung, Namjoon hyung tidak terlihat seperti pemurah. Tapi percaya padaku bahwa Ia sangat baik."
.
.
.
Jika ada yang bertanya berapa jumlah telinga dan mata Namjoon, jawabannya bisa bercabang. Secara harfiah, jawabannya dua. Tapi sejatinya Ia memiliki mata dan telinga di hampir seluruh bagian Korea dan Cina. Sudahkah kalian paham sebesar apa organisasi milik Papanya–H.O.U.N.D? Sebesar apa pula pengaruh dan kekuatannya?
Jika kalian masih lupa, atau mungkin tak paham dengan permainan mereka, perlu kalian ingat jika kekuasaan keluarga Seokjin yang mengerikan itu tak lebih karena disokong organisasi berbahaya bernama H.O.U.N.D ini. Bagaimana mereka menguasai pasar, menghabisi pesaing, bahkan mempermainkan pemerintah adalah hasil perbuatan kedua klan ini.
Dan dengan banyaknya mata juga telinga Namjoon, dengan mudah Namjoon bisa mendapat informasi apapun yang dikira membahayakannya. Maka urusan remeh temeh seperti rencana Hoseok untuk membunuhnya adalah hal yang bahkan tak susah didapatnya.
"Lelaki tua itu yang menyuruhmu?"
Menyuruh untuk apa lagi selain untuk membunuh Namjoon?
Hoseok mendecih dengan pandangan jijik pada Namjoon, yang keduanya tak sengaja bertemu di ruang tamu rumah besar Tuan Kim. "Sebaiknya kau bersiap."
Giliran Namjoon yang tertawa geli, "Bukankah kau yang harusnya bersiap?"
Namjoon tersenyum saat menangkap gerakan kecil di ujung alis Hoseok yang terangkat sekilas, Namjoon paham jika Ia telah menguasai lawannya. "Kau pikir berapa banyak yang berada di belakangmu dan berapa yang berada di belakangku?"
"Kau masih saja banyak bicara, tuan, sudah saatnya aku menutup mulut–"
Satu tonjokan keras mengenai sudut bibir Hoseok, membuat lelaki berpostur tegap itu mundur beberapa langkah karena tak siap. Satu keburukan Kim Namjoon; susah sekali menahan amarah dan tak sabaran.
"Kau yang akan menutup mulutmu dulu, saekkiya."
Dan ucapan dingin itu menjadi penutup pertemuan penuh tekanan keduanya karena Namjoon langsung berjalan dengan langkah lebar menuju ruang kerja Papanya.
Langkahnya lebar, dengan tergesa, tanpa peduli beberapa anak buah Papanya yang membungkuk padanya atau pelayan rumah ini yang menawarkan hidangan dengan wajah tertunduk. Yang Ia butuhkan sekarang hanya bertemu dengan Papanya, dan satu sentakan keras di gagang pintu itu cukup membuat penjaga yang berdiri di depan pintu ruangan Papanya ketakutan melihat mata Namjoon.
Tapi tidak dengan Papanya.
Lelaki yang tubuhnya sudah cukup kesulitan untuk menyamai langkah lebar Namjoon itu sedang duduk tersenyum seolah mengetahui kedatangan anaknya. "Sudah sarapan, nak?"
Namjoon meringis mendengar cara lelaki itu memanggilnya. "Kau tidak perlu susah payah untuk basa-basi, Tuan."
Giliran yang lebih tua tertawa geli, "Lalu ada apa, Namjoon anakku? Apa yang ingin kau katakan hingga harus memukul Hoseok dan berjalan terburu seperti tadi?"
Namjoon tak ingin basa-basi pula, Ia menatap lurus ke dalam mata Ayahnya dan berucap yakin. "Berikan H.O.U.N.D padaku."
Tapi lelaki yang telah menjadi orangtua tunggal untuknya itu malah tertawa kecil, menyesap kopi di cangkir putih lalu menggeleng yakin, seyakin ucapan Namjoon. "Tidak."
"Tidak ada yang lebih kompeten dibanding aku saat ini, dan hanya aku yang memiliki gaya permainan sepertimu."
"Ada apa, Nak? Kenapa tiba-tiba kau meminta hal ini setelah sepuluh tahun lebih menolak?"
Karena Seokjin. "Karena ini tanggung jawabku sebagai anakmu. Seperti yang kau inginkan selama ini, akan kupenuhi keinginanmu." Nyawa Seokjin berada dalam bahaya jika Aku tak punya kekuasaan atas organisasi ini.
"Bukan karena yang lain?"
"Perlukah aku menjawabnya?"
Ayah Namjoon beranjak berdiri dengan tongkatnya, berbalik dan melihat halaman rumahnya. Dari jendela berukuran besar itu Ia melihat bagaimana Hoseok berjalan yakin, lalu beberapa pria yang ada di 'belakang' Hoseok langsung menyusul Hoseok, anak buahnya. Anak kecil yang dulu diselamatkannya, yang kini telah berubah menjadi serigala dengan cakar dan taring itu, menunjuk dengan jari sambil berucap sesuatu.
Namun hanya dengan gerakan tangan dan ucapannya, lima lelaki anak buahnya langsung patuh dan melakukan perintahnya; berbalik mengambil senapan milik masing-masing lalu masuk ke dalam mobil hitam mengkilat dan mengekor mobil Hoseok.
"Kau memiliki pesaing yang tangguh, Nak." Gumamnya.
Dan Namjoon tahu siapa pesaingnya, yang kini membuat organisasi besar ini membentuk dua kubu; yang mendukungnya dan mendukung Hoseok.
"Dia lebih menurut padaku, dan aku membutuhkan seseorang yang seperti itu."
"Lucu sekali, Tuan. Kau berencana menyerahkan semuanya pada seseorang yang bahkan bukan anak kandungmu, dan membutuhkan calon pemimpin yang menurut? Bahkan Ia tak bisa memutuskan sesuatu sendiri,"
Ayahnya berbalik menatap Namjoon.
"Orang yang kau bilang calon pemimpin organisasi buatanmu ini, bahkan tak bisa memukulku lebih dulu. Dan kau ingin orang seperti itu meneruskan hartamu?"
"Kadang kau lebih memilih orang bodoh yang penurut daripada seorang jenius yang susah diatur, Namjoon."
Tapi Hoseok berada di balik punggung dokter Kim untuk membunuhmu. "Sekalipun Ia tak memiliki loyalitas?" Dan aku tahu rencana mereka.
Lelaki itu seperti terkejut akan sesuatu, membuatnya terdiam beberapa saat dengan mata tak putus memandang anaknya. Tapi kemudian Ia berjalan kembali ke tempat duduknya, bersikap santai dengan kembali membuka buku filosofi yang tadi belum selesai dibacanya. "Kau bisa pergi jika sudah selesai bicara." Ucapnya singkat, dan dingin.
"Pa, aku tak peduli siapa yang memberinya perintah untuk membunuhku, entah itu kau atau dokter Kim. Tapi yang perlu kau tahu, target mereka setelah aku adalah dirimu. Dan sangat mudah bagi mereka untuk membunuhmu jika tak ada aku." Bisik Namjoon, tapi lelaki itu yakin jika Papanya mendengar bisikannya.
"Dan aku tak akan membiarkan mereka menyentuhmu," bisik Namjoon lebih lirih, Ia kehilangan suaranya, "Karena bagaimanapun kau masih orang tuaku."
Lalu Ia berbalik. Pergi. Meninggalkan Papanya yang memandang punggung tegap anak semata wayangnya pergi dengan sedikit rasa sesal dalam dirinya karena telah membentuk serigala yang tak terkedali di dalam diri anaknya.
"Benar kata Mamamu, seharusnya aku meninggalkan semua ini sebelum kau bisa berjalan." Lelaki itu bergumam dalam diam, "Benar kata Ibumu, seharusnya aku tak menuruti egoku dan memaksanya padamu."
.
.
.
Di rest area yang jaraknya masih satu setengah jam lagi dari desa Seokjin, Jungkook meminta untuk berhenti agar Ia dapat pergi ke toilet. Dan Seokjin memutuskan untuk membeli makanan kecil dan kopi untuk masing-masing dari mereka.
Ia ingat, hingga umurnya sepuluh, keluarganya sering sekali pergi–hampir tiap minggu. Entah pergi ke resort di luar kota, atau ke luar negeri. Dan hal yang Ia dan kakaknya sukai adalah rest area. Mereka akan meloncat begitu supir keluarga mereka membuka kunci pintu mobil dan berlarian untuk mencari makanan. Bagi dua anak kecil keluarga Kim ini, makanan rest area selalu enak dan menyenangkan.
Dan Ia sungguh merindukan semuanya.
"Semuanya 25 ribu won, tuan."
Suara pelayan yang membuyarkan lamunannya membuat Seokjin terpaksa tersenyum dan mengulurkan black cardnya–kemudian buru-buru menariknya dan mengganti dengan kartu lainnya. Black card hanya mengingatkannya pada keburukan keluarganya, tak lebih, dan membuatnya mual bukan main.
Ia kemudian mengambil kardus kopi dan camilan untuk di bawa kembali ke tempat mobilnya terparkir. Seingatnya Ia antre cukup lama, jadi pasti Jungkook sudah selesai dari kamar mandi.
Dari kejauhan Ia melihat mobilnya, juga Taehyung yang masih duduk di depan kursi pengemudi, namun tersenyum pada seseorang di luar mobil; Jungkook. Seokjin sedikit lega karena Jungkook sudah menyelesaikan urusannya, artinya Ia tak perlu menunggu bersama Taehyung di dalam mobil–Ia tak tahu harus bicara apa.
Langkah Seokjin semakin ringan saat dirinya semakin dekat dengan mobilnya terparkir. Ia berharap bisa segera melanjutkan perjalanan karena tubuhnya sudah cukup lelah.
Namun langkah ringannya terhenti. Dari kaca mobilnya, yang bening dan lebar itu, dengan jelas Seokjin melihat keduanya sedang saling berbicara. Awalnya hanya tertawa bersama, sepertinya sedang saling menggoda atau apa, tapi hal yang kemudian mereka lakukan berhasil membuat Seokjin membeku di tempatnya.
Saat itu tangan Taehyung jelas-jelas memeluk pinggang Jungkook sedangkan tangan kanannya menekan tengkuk Jungkook. Mereka berciuman–MEREKA BERCIUMAN!
Tunggu, mereka berpacaran?!
Dan Seokjin menelan liurnya sendiri melihat bagaimana tangan lentik Jungkook membelai pipi Taehyung. Ini pertama kalinya bagi Seokjin melihat ciuman sepanas ini dalam jarak dekat, sungguh ciuman mereka sangat intens dan Seokjin kesusahan fokus!
Kalian pernah membaca ungkapan 'waktu berhenti'? Nah, Seokjin merasakannya saat ini! Ia hanya menatap keduanya sedang berciuman sedangkan keduanya tak menyadari kehadiran Seokjin di depan mobil mereka.
Hingga ketika bibir tebal Taehyung berada di leher Jungkook dan ketika Jungkook membuka matanya, lelaki berwajah cantik itu akhirnya menyadari kehadiran Seokjin. Buru-buru Ia mendorong tubuh Taehyung dan duduk tegap dengan mata melebar terkejut–sedangkan bibirnya masih basah bekas ciuman mereka!
Beberapa detik Seokjin masih terdiam, Taehyung mengeluarkan kepalanya dengan santai, "Hyung, kau mau masuk atau tetap berdiri di sana?"
Ya Tuhan, apa Seokjin sedang berada di mobil bersama dua anak muda maniak?!
.
.
.
Tak ada yang lebih canggung dibanding atmosfer di antara mereka bertiga sejak di rest area, bahkan hingga mereka sampai di rumah Seokjin.
Maka sesampainya mereka di rumah Seokjin, si dokter langsung melompat turun dan segera masuk ke dalam rumahnya, tak peduli apakah dua anak muda yang mengemudi bersamanya dari Seoul itu masuk ke rumahnya atau pergi membawa mobilnya. Karena Ia butuh mencuci muka setelah hampir dua jam menahan gelisah!
"Seokjin hyung? Kau baik?"
Itu suara Jungkook mengetuk pintu kamar mandi Seokjin!
"Ya, tunggu sebentar." Seokjin menjawab sebisanya. "Buat kalian nyaman, aku akan keluar beberapa saat lagi."
"Kuharap kau baik-baik saja, hyung." Gumam Jungkook lalu terdengar suara langkah kakinya menjauh dari pintu kamar mandi Seokjin.
Well, Jungkook berharap Seokjin baik-baik saja sedangkan Ia dan ciuman panasnya membuat Seokjin kebingungan!
Tapi bagaimanapun, tidak lebih dari lima menit kemudian Seokjin keluar dengan wajah segar–dan pikiran jernih, tentu saja. Ia tersenyum pada dua lelaki yang sedang menonton TV di rumahnya sambil duduk berdampingan–lengan Taehyung melingkar di bahu Jungkook!
"Kurasa aku akan tidur sebentar. Kalian bisa memakai kamar Namjoon jika ingin beristirahat karena hanya ada dua kamar di rumah ini."
Jungkook menegakkan duduknya sambil tersenyum, masih dengan lengan Taehyung di bahunya. "Terimakasih, hyung, tidurlah dengan nyenyak. Kami akan menunggu hingga Namjoon hyung memberi kabar."
Mata Seokjin membulat. "Kabar? Kenapa?"
Taehyung tersenyum lebar dan ikut menegakkan duduk. "Tidak apa, hyung, istirahat saja dengan nyaman."
Pertanyaan Seokjin belum dijawab, dan ini bukan pertama kalinya mereka tak menjawab pertanyaan Seokjin dengan jelas. Itu tidak baik. Tapi Seokjin mengalah, Ia melindungi privasi, ingat?
"Baiklah, nyamankan diri kalian. Dapur ada di sana, jika kalian lapar, dan jika membutuhkan sesuatu aku ada di kamarku."
Keduanya mengangguk paham, mirip anak TK.
Seokjin masuk ke dalam kamar dan tak lama tertidur.
Dan terbangun dari tidurnya sekitar senja dengan tubuh supersegar. Tidak ada istirahat yang lebih baik dibanding tidur. Dokter itu memeriksa ponselnya; tidak ada pesan maupun panggilan tak terjawab.
Namjoon belum memberi kabar?
Atau memang Ia sudah sampai di rumah ini?
Bagaimana jika Namjoon tak kembali ke rumah ini?
Tunggu! Apa Seokjin baru saja menunggu Namjoon dan berharap lelaki itu ada di sini?
"Apa yang sedang kau pikirkan, Kim Seokjin?!" Gumamnya sendiri. "Akan lebih baik jika Ia tak muncul dalam hidupmu sama sekali. Berhubungan dengan dirinya membuatmu kembali ke hidupmu yang lama."
Tapi masih banyak hal antara mereka yang belum selesai.
Tunggu! Sebenarnya Seokjin menginginkan Namjoon untuk pergi darinya atau kembali padanya?
Seokjin menggerang. Ia pusing. Ia memilih tak menjawab daripada harus pusing. Biar saja semuanya terjadi dan mengalir, ini adalah takdirnya.
Dokter itu berdiri dan saat melewati meja rias dengan kaca besar di kamarnya, Seokjin terdiam memperhatikan wajahnya sendiri–menatap matanya sendiri.
"Benar, Kim Seokjin. Kehadiran Namjoon sama sekali tidak salah. Ini takdir yang sedang bermain, dan takdir berkata semuanya akan baik-baik saja sekalipun kedatangan Namjoon menarikmu kembali ke hidupmu yang menyedihkan." Ia tersenyum kemudian, "Selalu ada pelangi setelah hujan. Benar, 'kan?"
Dan dengan kalimat sugesti itu, Seokjin tersenyum lebar saat keluar dari kamarnya. Langkanya, sekali lagi, sangat ringan diiringi senandung kecil dari bibirnya–Ups, ada Taehyung dan Jungkook!
Lantunan lagunya terhenti.
Ya tuhan, Seokjin melupakan kehadiran tamunya!
Mereka tertidur. Dengan berpelukan di sofa yang bahkan tidak untuk berdua, tidak cukup spasi kosong di sofa itu, dan keduanya tidur berpelukan–berhimpitan lebih tepatnya.
Tapi semakin Seokjin lihat, semakin Seokjin paham jika memang kurangnya spasi di sofa berwarna gading itu yang dicari keduanya.
Seokjin berjalan ke dapur, mencari air dingin dan memikirkan menu makan malam apa yang harus dimasaknya untuk dua tamunya ini. Tak banyak isi kulkasnya kali ini, karena beberapa hal memenuhi pikirannya sebelum Ia pergi ke Seoul dan membuatnya malas mengisi lemari es. Hanya ada beberapa telur, daging merah, lokio liar, dan bir.
Ya tuhan, itu bir Namjoon!
Tanpa sadar Seokjin melirik kamar Namjoon di seberang dapur.
Kehadiran Namjoon, bagaimanapun membuat cerita baru di hidup Seokjin yang sebelumnya datar dan lurus saja. Seokjin memang tak ingin berurusan dengan hidup lamanya yang selalu berurusan dengan orang asing yang tak jelas motifnya, tapi Namjoon berbeda.
Ada satu keyakinan dalam diri Seokjin untuk percaya bahwa Namjoon tidak seperti orang asing yang ada dalam stereotip Seokjin. Namjoon tidak, Namjoon serius saat berkata jika Ia hanya ingin keselamatan Seokjin. Semengerikan apapun sosok Kim Namjoon, dan semenyebalkan apapun lelaki itu, Seokjin percaya jika Namjoon adalah orang yang memiliki sisi kemanusiaan lebih banyak dibanding sisi kejam.
Dan bisakah Seokjin percaya dan melemahkan pertahanannya pada Namjoon hanya dengan asumsi bodoh seperti tadi?
"Kau melamun, hyung?"
Suara serak Jungkook mengagetkan Seokjin. Lamunannya buyar, begitu juga duduknya yang hampir jatuh karena terkejut. Tapi lelaki bergigi mirip kelinci itu malah tertawa, ikut duduk di stool bar di dekat Seokjin dan merebut air minum di tangan Seokjin.
"Apa yang sedang kau pikirkan, hyung?" tanyanya setelah mengosongkan isi botol air minum Seokjin.
Seokjin ingin berbohong dan menjawab asal bahwa Ia memikirkan makanan apa yang seharusnya Ia masak, tapi jawaban itu tentu saja terdengar bodoh. Maka Ia memilih mengulum bibir dan tak menjawab.
"Kau memikirkan Namjoon hyung, benar?"
Dia cenayang atau apa?
"Apa yang membuatmu gelisah tentang Namjoon hyung, hyung?"
Bisakah Seokjin mempercayai Jungkook dan berkeluh kesah padanya? Yang bahkan belum dikenalnya lebih dari 24 jam?
Dan sepertinya Jungkook memang cenayang. Ia seolah mengetahui pikiran Seokjin dan berucap santai, "Tak apa, hyung, kita memang baru saling bertemu dan pasti sulit untukmu bercerita banyak."
Seokjin menyahut dengan cepat, tak mau kehilangan kesempatan bertanya. "Sedekat apa kau dengan Namjoon?"
Lawan bicaranya tersenyum kecil seolah menang. "Kami tidak dekat. Aku dan Namjoon hyung tidak, tapi Taehyung sangat dekat dengannya." Jungkook melirik Taehyung yang sedang tertidur di sofa tempat mereka berdua tadi tidur. "Namjoon hyung sangat percaya pada Taehyung, kurasa secara tak langsung Taehyung adalah orang kepercayaan Namjoon hyung."
Seokjin mengangguk. "Sepertinya aku paham. Taehyung pernah datang ke rumah ini karena Namjoon menyuruhnya."
"Ya, benar." Jungkook menyetujui sambil mengangguk. "Namjoon hyung sangat susah percaya pada orang lain, tapi tidak pada Taehyung. Mereka seperti kakak adik yang saling percaya dan melindungi."
Beberapa saat Seokjin tak bisa berkata-kata. "Namjoon seperti itu?"
Dengan semangat Jungkook mengangguk, "Benar, hyung. Kurasa hanya Namjoon hyung yang memiliki sifat manusia di kelompok kami."
Tanpa perlu penjelasan lebih panjang Seokjin paham apa arti 'kelompok' dalam kalimat Jungkook barusan.
"Kupikir aku dulu berada dalam sarang serigala yang kelaparan dan rela memakan rekannya sendiri jika terdesak. Tapi tidak, ada dua manusia di sana."
"Dan manusia itu... Namjoon dan Taehyung?"
Jungkook mengulum senyuman lebarnya, "Tentu saja." Ia tak berhenti tersenyum hingga semenit penuh, lalu melanjutkan, "Taehyung juga menjadi manusia setelah akrab dengan Namjoon hyung. Dan setelah aku bergabung, kini ada tiga manusia di sana."
"Dan bagaimana cara manusia itu bertahan di tengah serigala buas yang kelaparan?"
Mata Jungkook menerawang. Bahunya mengendik sekilas, "Kami berpura-pura menjadi serigala juga, hyung. Tapi serigala adalah hewan yang pintar, yang bisa mengetahui jika kami manusia."
"Lalu?" Seokjin takut menebak arah pembicaraan ini. "Kalian sekarang juga menjadi serigala?"
Tawa renyah terlepas dari bibir Jungkook, "Tentu saja tidak. Kami melatih serigala itu menjadi manusia. Dan dengan kekuasaan Namjoon hyung, banyak serigala yang berperilakuan baik sekarang."
"Maksudmu?"
Jungkook menghela nafasnya sekilas. "Kelompok kami sedang berantakan, jika hyung mau tahu. Tak lama lagi ketua kami harus menyerahkan posisinya, umur dan fisiknya sudah tidak lagi kuat. Satu-satunya anak yang dimiliki ketua adalah Namjoon hyung, sayangnya banyak dari mereka yang tak suka dengan sikap Namjoon hyung."
"Karena Ia manusia? Dan seorang manusia tak bisa memimpin serigala?"
"Benar sekali." Jungkook tersenyum lebar sambil mengangguk. "Maka serigala itu memilih satu yang paling kuat diantara mereka, tapi Ia bukan anak kandung dari ketua kami, Ia hanya anak angkat."
Seokjin paham, "Kelompok kalian sedang tidak baik karena satu bagian setuju jika Namjoon menjadi pemimpin kalian dan satu lainnya tidak?"
Mata Jungkook melebar sambil kepalanya mengangguk kecil berulang saat tebakan Seokjin tepat sasaran. "Dan itu lebih mengerikan dari ceritanya, hyung. Namjoon hyung berkali-kali mendapat serangan dan ancaman karena tak sepemikiran dengan yang lainnya, makanya Ia pergi dari rumah sejak lama dan akhirnya Ia pergi ke rumah ini."
"Kenapa Ia kemari? Bukankah seharusnya Ia tetap di Seoul jika Ia ingin menjadi pemimpin?"
Mata Jungkook menatap ke dalam mata Seokjin untuk beberapa saat. "Ia sempat menolak menjadi pemimpin, hyung."
"Lalu sekarang Ia ingin menjadi pemimpin kalian?"
Jungkook mengangguk pelan.
Alis Seokjin berkerut. "Kenapa? Kenapa Ia begitu plin-plan, dulu tak mau sekarang mau."
"Ia memiliki alasan, hyung."
"Dan alasan dari keplin-planan itu adalah?"
"Seokjin hyung."
Yang namanya disebut kehilangan kata-kata, Ia bingung.
"Awalnya Namjoon hyung tak mau berurusan dengan organisasi ini karena ingin hidup normal seperti Seokjin hyung yang meninggalkan semuanya di Seoul dan pergi ke desa ini." Jungkook sengaja memberi jeda sebelum melanjutkan, "Lalu Ia tahu sesuatu tak beres di dalam organisasi ini, dan akhirnya Ia memilih untuk berurusan lagi dengan kerumitan ini."
Tunggu! Apa telinga Seokjin mulai tak berfungsi? Kenapa Ia mendengar omong kosong seperti ini?!
Mengetahui lawan bicaranya kebingungan, Jungkook memaksakan tawa kering. "Sudahlah, hyung, aku sering melantur. Lebih baik tak usah dipikirkan dan kubantu menyiapkan masakan, bagaimana?"
Seokjin masih terdiam menatap wajah manis Jungkook tersenyum padanya.
"Aku juga pandai memasak, hyung, mau aku saja yang memasak?"
Seokjin tak terlalu paham selanjutnya, pikirannya seutuhnya berhenti sejak mendengar penjelasan Jungkook satu menit yang lalu.
.
.
.
Seokjin dan Jungkook memutuskan untuk tidak mengangkat topik yang sama saat keduanya membeli bahan masakan maupun saat mereka memasak. Dan karena Jungkook memaksa memasak, Seokjin hanya menurut saat Jungkook memilih menghidangkan pasta.
Toko tempat mereka berbelanja bukan supermart, mana ada toko serba ada di desa kecil pinggir kota seperti ini. Toko milik Bibi Song bukan toko serba ada, tapi memiliki sesuatu yang mereka butuhkan. Dan dengan bangga Seokjin menjawab jika Jungkook adalah adiknya dari Seoul pada Bibi Song meskipun keduanya tahu itu adalah bualan. Tidak masalah, toh Bibi Song percaya, bahkan semakin mengeraskan pujiannya atas ketampanan kakak-adik-bohongan ini.
Dan keduanya lebih dekat setelah bekerja sama untuk berbohong pada Bibi Song tadi. Mereka berjalan bersama sambil memakan es krim yang dibelinya dari toko Bibi Song.
"Apa Taehyung sudah bangun? Bagaimana jika Ia kebingungan saat bangun karena tidak menemukan kita di rumah?" gumam Seokjin sambil mengulum es krim rasa pisang saat mereka hampir sampai rumah dan baru teringat jika Taehyung di rumah sendirian.
Jungkook malah tertawa lucu, "Biar saja, hyung. Tae terlihat lucu jika kebingungan dan marah."
Penyebutan nama panggilan Taehyung oleh Jungkook membuat Seokjin otomatis menoleh dalam diam. Ia ingin bertanya tentang hubungan keduanya, tapi rasanya Ia terlalu melewati batas jika bertanya tentang hubungan–sangat privasi, tahu!
"Lagipula Tae bilang Ia sangat lelah, hyung, pasti Ia masih tidur." Gumam Jungkook saat mereka berbelok ke rumah Seokjin.
Langkah si dokter terhenti saat matanya melihat rumah Hoseok yang berdiri tepat di sebelah rumahnya. Rumah itu sudah di hafalnya luar kepala, bahkan saking terbiasanya Seokjin melihat rumah itu, rasanya rumah itu juga rumahnya.
Tapi mengingat kejadian saat makan malam bersama dua keluarga Kim dan kehadiran Hoseok yang terlihat jauh berbeda dari Hoseok yang dikenalnya, memunculkan rasa mengganjal di dada Seokjin. Maka saat mata Seokjin terpaku pada rumah Hoseok itu, perasaan campur aduk itu muncul kembali.
"Hyung?"
Suara lembut Jungkook mengagetkan Seokjin sekali lagi. Saat Seokjin mengalihkan perhatiannya dari rumah Hoseok, Ia mendapati Jungkook sudah berada di depan pintu rumahnya dan sedang memandang Seokjin dengan matanya yang lembut.
Seokjin mengapresiasi kebaikan Jungkook untuk tidak berekspresi dan hanya memandang Seokjin dan menunggu. Karena sejujurnya Seokjin yakin jika lelaki itu tahu apa yang ada di pikiran Seokjin.
Maka Seokjin menekan pikirannya sendiri dan berjalan menyusul Jungkook lalu membuka pintu rumahnya.
"Nah, benar apa kataku, Tae masih tidur." Gumam Jungkook mencairkan suasana sekali lagi. "Semalaman Ia pergi, dan baru pulang saat hampir fajar."
Seokjin hanya mendengar dan mengekor Jungkook yang berjalan ke dapur.
"Ia hanya tidur satu jam sebelum kembali keluar dan kembali untuk menjemputmu, hyung."
"Apa yang dilakukannya hingga sesibuk itu?"
Jungkook berhenti mengeluarkan belanjaan dan memandang Seokjin dengan satu alis terangkat. Beberapa saat keheningan memenuhi jeda hingga akhrinya Jungkook tersenyum sambil menjawab, "Kedatangan Namjoon hyung ke Seoul membuat kegaduhan, hyung."
Bibir Seokjin terkatup. Sedikit banyak Ia menyesal bertanya demikian.
"Kau bisa duduk, hyung, aku bisa mengurusnya sendiri." Gumam Jungkook saat mulai merebus pasta di panci berisi air yang diberi sedikit garam dan minyak.
Maka Seokjin menurut dan hanya duduk di stool bar sambil memperhatikan punggung Jungkook. Tapi di menit kedua puluh Seokjin bosan bukan main, "Kau pandai memasak?"
Yang diajak bicara hanya membalik badannya sekilas untuk tersenyum singkat lalu kembali memotong daging dan sayuran. "Tae sangat suka masakan rumah, hyung, dan kebetulan Ia tak suka makan di luar. Jadi aku sering memasak untuknya sejak kami SMP."
"Oh, kalian seumuran?"
"Tidak, Ia lebih tua dariku dua tahun." Jungkook meniriskan pastanya. "Kau suka asin atau sedikit hambar, hyung?"
"Tidak keduanya, di tengah-tengah adalah yang terbaik."
Jungkook berbalik dengan senyuman lebar, "Aku suka jawabanmu, hyung." Lalu Ia mulai memanaskan pan datar dan suara mendesis dari minyak panas dan jamur memenuhi keheningan selanjutnya.
"Jadi kau dan Taehyung sudah saling mengenal sejak SMP?"
"Sudah sepuluh tahun lebih kami saling mengenal, hyung." gumam Jungkook tanpa menoleh.
Seokjin kemudian terdiam, mencoba berdamai dengan keinginan dirinya untuk bertanya lebih dalam.
"Kau bisa bertanya lebih, hyung." Jungkook menoleh setelah menuangkan pasta dan suara mendesis kembali terdengar, "Aku tidak masalah sama sekali."
"Kalian berpacaran?"
"Ya," Jungkook kemudian menggumam sambil bertanya letak lada lalu melanjutkan topik pembicaraan, "Hyung tadi pasti tak nyaman melihat kami di dalam mobil." Ia kembali menoleh setelah menuangkan lada dan garam ke dalam masakannya, "Maafkan kami, hyung."
Seokjin berbohong dengan tertawa kering dan berkata 'tidak apa', tapi keduanya paham jika Seokjin buruk dalam berbohong.
Beberapa saat Jungkook mengaduk masakannya, tapi tak lama kemudian Ia berbalik setelah mematikan kompor. Wajahnya tampak serius, "Tae bersikap seperti itu setelah kami lulus SMA, hyung."
Seokjin menyimak.
"Ada sesuatu yang mengharuskan kami berpisah dalam waktu cukup lama, saat itu pula aku hampir mati." Mata Jungkook terlihat layu, "Dan saat itulah Namjoon hyung datang dan menyelamatkan aku, mempertemukan aku dengan Tae sekali lagi. Sejak saat itu Tae benar-benar tak mau jauh dariku," Jungkook terkekeh geli karena pemilihan diksinya.
"Seburuk apa perpisahan kalian?"
Jungkook terlihat bergidik, "Mengerikan, hyung, sangat."
Mendengar penjelasan Jungkook membuat Seokjin berasumsi jika mereka berdua adalah pasangan dari surga; pasangan yang memang ditakdirkan untuk bersama, dan sekalinya satu hilang yang lain akan mengalami kemalangan.
"Dulu Tae tidak seperti sekarang, Ia lebih seperti menjagaku, hyung, Ia lebih mirip kakak lelaki untukku. Tapi sekarang Ia lebih sering seperti itu, seperti yang kau lihat di mobil tadi."
Seokjin tak tahu banyak tentang psikologi, tapi sikap itu bisa menandakan trauma dan sikap Taehyung bisa pula menandakan antisipasi bawah sadar Taehyung atas trauma yang menyakitinya. "Tetaplah seperti itu, Jungkook-ah,"
"Eh?"
"Taehyung membutuhkanmu, kurasa."
Jungkook terdiam beberapa saat setelah mendengar gumaman lirih Seokjin, tapi kemudian Ia mengangguk sambil tertawa kecil, "Aku juga sangat membutuhkan Tae, hyung, kami mutual."
.
.
.
Jika biasanya makan malam Seokjin dipenuhi keheningan, atau akhir-akhir ini dipenuhi tensi tinggi karena kehadiran Namjoon, kali ini berbeda 180 derajat!
Selama tigapuluh menit makan malam, Seokjin puas menjadi penonton drama korea di hadapannya–Taehyung dan Jungkook sudah sama sekali tidak sungkan menunjukkan intensitas interaksi-romantis mereka di hadapan Seokjin.
Bahkan setelah makan malam pun mereka masih seperti itu; berada di dunianya sendiri dan menganggap Seokjin hanya sebatang pohon tanpa daun, hanya batang kayu–tidak menarik sama sekali. Mereka memilih menonton siaran ulang acara ragam Korea, dan selama satu jam penuh Seokjin tertawa sendiri karena TV sedangkan dua tamunya tertawa karena saling menggoda.
Tidak apa, Seokjin kuat kali ini.
Di pukul sebelas ketiganya masih duduk di depan TV, tidak biasanya Seokjin tidak merasa mengantuk sama sekali.
"Kau belum mengantuk, hyung?" Jungkook menoleh menatap Seokjin diantara lengan Taehyung yang melingkari leher dan kepalanya.
Seokjin juga heran kenapa Ia belum mengantuk. "Kurasa aku akan tidur larut. Kalian bisa tidur lebih dulu, pakai kamar Namjoon saja. Lagipula Ia tak ada tanda-tanda Ia akan pulang hari ini."
"Namjoon akan pulang ke rumah ini, hyung." tukas Taehyung.
Jungkook ikut mengangguk setuju. "Ya, hyung. Namjoon hyung pasti akan pulang. Kemana lagi Ia pulang jika bukan kemari."
Dan sepertinya Seokjin paham alasan dirinya tak mengantuk sama sekali di jam selarut ini. Karena dalam dirinya tanpa sadar berharap hal yang sama seperti yang diucapkan Taehyung dan Jungkook; Ia menunggu kepulangan Namjoon.
Setidaknya kabar darinya.
Dan ini hampir tengah malam tapi tak ada kabar apapun darinya.
Tiba-tiba gelisah menyelimuti Seokjin.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" lirih Seokjin tak berharap jawaban.
Tapi keduanya mendengar. "Kau hanya perlu percaya pada Namjoon hyung bahwa Ia akan pulang, hyung."
Dan dari kalimat itu, Seokjin membangun kepercayaan yang sama; bahwa Namjoon akan pulang ke rumah ini. Entah itu artinya baik atau tidak, tapi Seokjin berharap demikian.
Ketiganya memutuskan untuk tetap menonton TV sedangkan Jungkook yang mengatakan bahwa dirinya mengantuk memilih untuk tidur di pelukan kekasihnya.
Setengah jam sebelum pukul satu, Seokjin menyerah dan masuk ke dalam kamarnya. Ia tak punya alasan kuat untuk tetap terjaga, ditambah siaran TV di malam hari adalah yang terburuk. Setelah menggumam sesuatu tak jelas pada Taehyung, Seokjin berjalan ke kamarnya.
Tubuhnya luar biasa lelah, matanya juga mulai perih karena mengantuk, tapi pikirannya tetap aktif. Semakin aktif ketika tak sengaja Seokjin memikirkan apa yang sedang dilakukan Namjoon.
Sekiranya hampir subuh ketika Seokjin mendengar suara menggedor di pintu luar rumahnya, Ia menggeliat karena masih terkukung oleh kantuknya sendiri. Tapi ketika suara Jungkook terdengar pecah di depan kamarnya juga suara ketukan di pintu kamar Seokjin terdengar mendesak, Seokjin berjalan dengan penuh kesadaran.
"Ya, Jungkook?"
Mata Jungkook tak menunjukkan kantuk sama seperti mata Seokjin, mata itu begitu awas dan bergerak cepat, juga bibirnya yang terlihat tergagap. "Hyung, Namjoon–"
Tidak perlu penjelasan lebih panjang. Seokjin tidak bodoh, instingnya mengatakan sesuatu yang tidak baik, meskipun kebanyakan hal yang berkaitan dengan Namjoon memiliki kemungkinan tidak baik yang besar.
Dengan cepat Seokjin mendorong pelan tubuh Jungkook, berjalan tergesa mencari keberadaan Namjoon. Yang Ia tuju, tentu saja pintu rumahnya.
Sudah ada Taehyung yang berdiri di depan pintu yang terbuka, dengan tangan terjulur ke depan seolah menerima tubuh. Namjoon kenapa?
"Taehyung?" suara Seokjin terdengar parau. Langkahnya lebih cepat agar segera tahu apa yang terjadi. Mendengar suara Seokjin, Taehyung menoleh menatapnya singkat dengan mata tak kalah awas dari mata Jungkook.
Dalam waktu singkat pikiran Seokjin sudah membayangkan semua hal mengerikan yang bisa saja terjadi; menemukan tubuh Namjoon dalam keadaan yang mengerikan seperti saat pertama kali pria itu datang atau lebih buruk, atau orang lain yang kondisinya mengerikan dan terlalu menarik perhatian jika harus dibawa ke rumah sakit–
Seokjin memekik ketika Ia berada di sebelah Taehyung. "Ya tuhan!"
Di hadapannya, di depan pintu rumahnya, sekali lagi Namjoon terlihat mengerikan dengan tubuh penuh luka dan luka sobek di beberapa bagian wajahnya. Air matanya hampir menetes tanpa sadar. Tapi ada yang lebih mengerikan.
Hoseok. Keadaannya lebih mengerikan karena Ia tak sadar dengan semua luka dan darah di tubuhnya. Seokjin ingin menangis.
"Obati dia dulu, Seokjin." titah Namjoon.
-TBC-
HERE I AM COMING WITH ANOTHER 5k story, semoga kalian ga mual ...
Di part ini aku ga lebih pengen tease kalian tentang Vkook, sih, soalnya aku lagi dibuat mabuk sama Vkook :) UDAH MABUK BELUM KALIAN?
DAN UNTUK KALIAN YANG LEBIH NYAMAN BACA DI WATTPAD, AKU UDAH UPLOAD HOUND DI AKUN WP KU, paledemon, SEE YOUUU!
P.s Sejujurnya aku belum nemu fungsi khusus akun wattpad aku kecuali biar kalian lebih nyaman, mengingat beberapa dari kalian lebih nyaman di wattpad kaaaan w tau kok wkwkwk
RnR? ILY!
