H.O.U.N.D

Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others

Rate : T

Length : Parts

H.O.U.N.D

"Obati dia dulu, Seokjin." titah Namjoon.

Mendengar ucapan pelan Namjoon, Seokjin langsung menurut dan menarik tangan Hoseok dari bahu Namjoon dan memeluk tubuh tak sadar itu dari samping kiri sedangkan Taehyung ada di sisi kanan. Tanpa perlu banyak bicara, Taehyung sudah paham jika Hoseok memang harus segera di bawa ke klinik.

"Jungkook, bawa Namjoon ke klinikku juga. Akan kuobati dia." Ucap Seokjin tanpa menoleh dan memastikan Jungkook mendengar, Ia terus memapah tubuh Hoseok bersama Taehyung ke klinik di rumahnya.

"Tidak, obati Hoseok lebih dulu,"

Sudah pasti itu suara lemah Namjoon. Seokjin bisa saja membentak atau sekedar mengeraskan suaranya karena Namjoon yang tak mau menurut dan terus saja membantah ucapan Seokjin–Ia memberi perintah, duh! Tapi fokusnya saat ini adalah memeriksa dan mengobati Hoseok yang terlihat lebih parah.

Sebenarnya kondisi keduanya tak ada yang baik, buruk semua, tapi Hoseok memang terlihat lebih parah. Ia tak bisa membuka mata saat tiba sekalipun kesadarannya masih ada–Ia masih sanggup menopang tubuhnya sekalipun lemas dan harus dibantu Namjoon untuk berdiri.

"Ia mengalami dislokasi di kaki dan bahunya, hyung."

Seokjin menoleh cepat saat mendengar suara Taehyung bergumam di belakangnya. Selang oksigen yang akan dipasangkan kepada Hoseok Ia genggam saja saat matanya tak bisa berbohong jika Ia terkejut. "Darimana kau tahu?"

Taehyung menunjuk tungkai kiri Hoseok menggunakan dagu dengan santai.

Sedangkan Seokjin memastikan selang oksigennya berfungsi terlebih dahulu sebelum melihat keadaan Hoseok dan mencocokkan ucapan Taehyung. Dan benar kata Taehyung, "Ia jatuh?" gumam Seokjin pada dirinya sendiri.

Tapi Taehyung mendengarnya. "Kurasa benar," Lalu Taehyung berjalan melewati belakang Seokjin, mendekatkan matanya ke wajah Hoseok. "Ah, mereka adu mulut dulu sepertinya."

Si dokter hanya mengamati beberapa saat, mengamati Taehyung yang bersikap aneh bukannya Hoseok, duh. "Kau belajar ilmu kedokteran, Taehyung?"

Taehyung menggeleng ringan, "Tapi sedikit banyak aku tahu, hyung. Ia tidak parah, kan?"

Sedangkan si dokter masih perlu memeriksa lebih detil terhadap tubuh dan luka Hoseok untuk menjawab pertanyaan Taehyung, si penanya sudah berjalan ke luar. "Aku akan merawat Namjoon hyung."

Dan ketika mereka tinggal berdua di dalam klinik Seokjin, di dokter bermarga Kim berhenti dari aktivitasnya. Matanya masih tak percaya melihat siapa yang ada di tempat tidur kliniknya. Itu Jung Hoseok, yang 7 tahun lalu menyapanya sebagai tetangga baru dengan riang, menyambut kedatangan Seokjin, dan dengan semangatnya membantu Seokjin beradaptasi dengan lingkungan desa kecil ini.

Kini imej menyenangkan dan hangat yang selama ini Seokjin ingat atas sosok Hoseok berbanding terbalik menjadi sosok mengerikan yang tak kalah misterius seperti Namjoon. Keduanya sama-sama mengerikan.

Mata Seokjin terasa pedih mengingat Hoseok yang sedang tertidur di hadapannya ini.

Seokjin menghembuskan nafasnya keras, Seokjin ingin tetap fokus. Dokter itu segera melakukan pertolongan awal untuk menangani dislokasi karena memang itulah yang harus ditangani terlebih dahulu. Baru setelahnya Ia berjalan ke lemari kaca di belakangnya, mengambil kapas alkohol untuk luka Hoseok.

Mereka adu mulut terlebih dahulu? Apa maksud Taehyung? Dan bagaimana Ia tahu hanya dengan melihat wajah Hoseok beberapa detik saja?

Seokjin membersihkan luka lecet di tulang pipi Hoseok, yang sepertinya karena Ia jatuh–mengingat dislokasi bahu dan tungkai Hoseok, lelaki ini pasti jatuh dengan keras dan berguling. Dan luka sobek di ujung bibir Hoseok dan hidungnya, apa ini yang dimaksud Taehyung dengan adu mulut terlebih dahulu?

Hanya berdua dalam klinik Seokjin, kondisi Hoseok terasa menyesakkan bagi Seokjin. Tanpa sadar dokter itu mengobati Hoseok dengan air mata yang berjatuhan, mati-matian Ia menahan isakannya. Bagaimanapun Hoseok adalah teman baiknya selama tujuh tahun di desa ini, bahkan ketika Seokjin menjalani hidupnya sendirian dan kesusahan.

Dan kembali mengingat semuanya terasa begitu menyesakkan.

"Jin?" Hoseok menggerakkan matanya dan bibirnya terbuka lemas. "Seokjin?"

Seokjin mendesis menyuruh Hoseok diam, membuat cucuran air matanya mengalir lebih deras.

"Kau menangis?" tanyanya ramah, masih dengan suara lemah.

Bagaimana mungkin orang yang baru mengalami kecelakaan seperti Hoseok masih bertanya keadaan Seokjin?

"Kau tidur saja," suara Seokjin terdengar mencicit menahan tangis, "Akan kuobati lukamu dan tidurlah." Hoseok tidak menjawab kemudian, sedangkan Seokjin berharap tetangganya itu menjawab dan menjelaskan semua yang terjadi.

Selesai dengan luka di wajah Hoseok, Seokjin melihat ada luka di telapak tangan Hoseok. Hoseok dan Namjoon adu jotos?

.

.

.

Ketika Seokjin selesai mengobati luka Hoseok, Ia berjalan keluar dengan tergesa, mencari Namjoon setelah selama tiga puluh menit lebih Ia tinggalkan. Namjoon memang dalam keadaan sadar saat datang, sepertinya lukanya juga tak separah Hoseok, tapi kondisinya tetap terbilang buruk.

Namjoon tidak terliat di ruang tengah, begitu pula Taehyung dan Jungkook. Dokter itu mencari ke kamar tidur.

Di tempat tidur di dalam kamarnya, Namjoon berbaring dengan satu lengannya berada di atas wajahnya menutupi wajah. Taehyung dan Jungkook berada di kedua sisi tubuh Namjoon, dengan peralatan first aid ada di pangkuan Jungkook.

"Kami sudah membersihkan luka Namjoon hyung, hanya luka kecil, hyung." kali ini giliran Jungkook yang menjelaskan. Apa keduanya mempelajari ilmu kedokteran?

Taehyung tidak banyak bicara dan hanya melirik Jungkook kemudian keduanya keluar sambil bergumam, "Kami akan menunggu di luar, hyung."

Yang tersisa di dalam ruangan hanya Namjoon dan Seokjin, dimana Namjoon terbaring dengan tenang setelah lukanya telah selesai diobati Jungkook. Ketika si dokter duduk di tepi tempat tidur, Namjoon seolah sadar akan kehadiran Seokjin dan langsung menurunkan lengannya dari wajah dan membuka matanya menatap Seokjin.

Matanya layu, terlihat jelas jika Ia kelelahan.

Dan luka di bibir dan sisa bekas darah kering di hidung Namjoon membuat Seokjin sekali lagi ingin menangis, tapi Ia malah menggigit lidahnya menahan tangisannya. Sekeras mungkin Seokjin mengatupkan rahangnya, menahan tangisan dan bersikap tegar. Setidaknya di hadapan Namjoon Ia harus bersikap kuat.

Tapi mata Namjoon melihatnya, matanya belum rabun hingga tak bisa melihat bagaimana wajah Seokjin yang memerah dan gerakan di rahangnya yang mengatup. Tubuh yang berbalut baju dengan noda debu itu bangun untuk duduk, lalu menarik tubuh Seokjin ke dalam pelukannya.

Namjoon yang sakit dan Namjoon pula yang menenangkan Seokjin dengan berkata, "Aku baik-baik saja." secara berulang. Tangis Seokjin pecah; Ia takut, khawatir, bingung, kesal, namun masih merasa syukur karena baik Namjoon dan Hoseok datang selamat.

Kali ini Seokjin tak peduli akan masalah di antara dua orang itu.

Seokjin tidak bodoh, Ia tahu perang urat antara Hoseok dan Namjoon sejak awal, sejak kedatangan Namjoon di rumah ini. Hanya saja Ia tak terlalu paham penyebabnya, dan kini setelah penjelasan panjang Jungkook, setidaknya Seokjin paham benang merah dari kisah mereka;

Namjoon si manusia, anak dari ketua kelompok serigala sedangkan Hoseok adalah serigala yang bukan anak dari ketua kelompok.

Sekali lagi bibir Namjoon mendesis untuk menenangkan Seokjin dan meredakan tangis lelaki itu. Akhirnya Seokjin sadar jika tubuh Namjoon harus istirahat, "Kau tidak apa?" suaranya terdengar bergetar karena tangis.

Namjoon terkekeh, masih memeluk Seokjin, "Tidak, tubuhku rasanya remuk."

Jawaban singkat Namjoon membuat Seokjin dengan cepat mendorong tubuh Namjoon–tentu saja dengan lembut. "Tidurlah, kau harus banyak istirahat,"

Namjoon menurut, merebahkan tubuhnya perlahan, namun tangannya menggenggam tangan Seokjin. Mata Seokjin turun menatap tangan penuh luka, sama seperti luka Hoseok, yang sedang menggenggam tangannya.

"Bagaimana keadaan Hoseok?"

Terlebih dahulu Seokjin membasahi bibirnya, menenangkan dirinya dari segala kecamuk di pikirannya. "Kalian bertarung atau sama-sama memukuli orang?"

Namjoon terkekeh kecil, "Menurutmu?"

"Aku ingin bilang kalau kalian sama-sama memukuli orang karena kalian berteman baik dan berniat menghukum orang yang melakukan kesalahan, tapi sepertinya kalian saling memukul."

Namjoon mengagguk kecil, puas dengan jawaban panjang Seokjin. "Bagaimana keadaannya?"

Keduanya sama-sama datang dalam keadaan buruk, bahkan Namjoon mengakui jika Ia butuh istirahat, tapi Ia masih bertanya keadaan Hoseok? "Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi?"

"Tidak akan kujawab."

Seokjin menghela nafas, "Setidaknya katakan padaku hubungan kalian. Jika kalian saling memukul kenapa kau masih bertanya keadaannya?"

Bukan jawaban, mata Namjoon malah terbuka dan menatap mata Seokjin dalam. Beberapa detik mereka saling diam, lalu tangan Namjoon menarik tangan Seokjin pelan. "Daripada kau banyak bertanya, bukankah lebih baik aku tidur?"

"Ya." Lirih Seokjin, menatap tautan tangan mereka dan bergumam, "Tapi kenapa menarik tanganku?"

Kini tangan Namjoon yang lain ikut menarik bahu Seokjin, "Akan lebih cepat sembuh jika kau menemani pasienmu ini."

.

.

.

Hubungan Namjoon tak pernah baik dengan Hoseok. Sekalipun mereka sempat tinggal serumah, berbagi meja makan dan memakan makanan yang sama. Seolah darah mereka memang sudah bertentangan, bahkan surga telah mengatakan jika keduanya tak akan bisa berada dalam situasi yang baik dan berkawan.

Papa mereka–orang tua angkat Hoseok–selalu meminta keduanya bersama. Entah tidak tahu jika ada persaingan antara keduanya, atau tidak peduli dan sengaja melakukannya. Tapi keduanya terus bersama sejak kecil, sekalipun hubungan mereka tetap buruk sejak awal hingga sekarang, seolah waktu yang mereka habiskan selama itu tak membuahkan hasil.

Mungkin karena Tuan Kim menjadikan Hoseok second lead dalam drama hidupnya. Hoseok tak pernah berada di depan Namjoon, yang Ia lakukan setelah melalui semua sakitnya pelatihan hanyalah menjadi roda ketiga ketika Namjoon menolak.

Perlakuan yang kita anggap sepele kadang berdampak besar pada hidup seseorang.

"Hyung, Jung Hoseok mengetahui rencana penyerangan kita."

Namjoon tersenyum, "karena itu kubuat rencana itu sebagai plan B."

Anak semata wayang ketua organisasi mengerikan semacam H.O.U.N.D tidak dilahirkan tanpa kelebihan. Otaknya luar biasa mumpuni dalam merancang rencana, tangannya begitu dingin pada kentalnya darah, dan namanya yang begitu kebal hukum.

"Kau tetap menjalankan rencanaku?"

Yang dimaksud adalah plan A, rencana rancangan Namjoon sendiri. Anak buahnya mengangguk patuh, "Kami akan berjaga di terowongan rute 57, juga sesuai rencana, akan ada yang membuntuti anda untuk memastikan anda selamat."

Namjoon mengetuk-ngetuk jemarinya. Ia menginginkan sesuatu yang lebih. "Bukankah sudah saatnya Hoseok kuajari sesuatu?"

Beberapa orang di ruangan yang sejak tadi diam dan menurunkan pandangannya seketika menatap wajah Namjoon.

"Tadi pagi aku bertemu dengannya di rumah ketua, dan kurasa aku sedikit merindukannya."

Semua terdiam, tak bisa menebak arah ucapan Namjoon.

"Hoseok tidak bodoh. Ketua memilihnya karena Ia pintar, selain kekuatan tubuhnya yang juga luar biasa. Ia bersamaku dalam waktu yang lama, besar kemungkinan Ia membaca arah rencana kita. Anggota H.O.U.N.D yang berada di belakangnya juga tidak sedikit, mudah bagi mereka mengetahui apa yang terjadi di jalanan rute 57."

Atmosfer berubah.

"Bagaimana jika kita mainkan bidak catur kita berbeda dari biasanya?" Namjoon memberi jeda, "Tetap kirim anak buahmu sesuai rencana, biarkan mereka tidak tahu, hanya kalian yang ada di ruangan ini yang berhak tahu permainan baru kita, dan satu saja dari kalian memberi tahu informasi yang ada di ruangan ini, kupastikan aku sendiri yang membunuh kalian, semua."

Atmosfer semakin dingin, semua tegang.

"Informasi yang kalian dengar di dalam ruangan ini hanya boleh didengar di dalam ruangan, sebaiknya kalian mengingat jika aku tak terlalu peduli dengan hubungan dan rasa kasihan, jadi membunuh kalian sangat mudah bagiku." Namjoon berdeham, semua bergidik, "Kuharap semua paham peraturan permainan ini."

"Aku akan menghentikan mobilku tepat di belokan terakhir sebelum terowongan di mana skenario awal dilakukan. Kupastikan Hoseok berhenti dan biarkan semuanya kuurus sendiri. Yang perlu kalian lakukan hanya memastikan jika Hoseok sendiri, sekalipun kutahu Ia akan sendiri saat tahu aku juga sendiri."

"Tapi, hyung, kurasa itu terlalu berbahaya. Hoseok bisa membawa anak buahnya, atau membawa senjata lainnya. Lagipula masih banyak dari kami yang bisa melidungimu, kau tak perlu turun tangan langsung untuk hal ini."

Namjoon malah tertawa geli. "Itu bukan gayanya. Jika Ia tahu aku sendiri, Ia akan sendiri. Jika tahu aku tak bersenjata, Ia tak akan bersenjata." Lelaki tinggi itu berdiri dan menunjukkan postur tubuhnya yang mengintimidasi, "Kenapa? Kau tak percaya pada permainanku dan memaksa tetap memakai gaya main lawasmu?"

Kaki panjangnya berjalan keluar setelah mengucapkan hal demikian, sedangkan 4 orang yang berada di dalam ruangan tadi semuanya merasa tak yakin. Di satu sisi karena Namjoon harus berurusan langsung dengan lelaki seperti Jung Hoseok, namun di satu sisi mereka memiliki keyakinan lebih bahwa Hoseok bukanlah lawan yang mengerikan bagi Namjoon.

Begitu Namjoon keluar dari rumahnya, seorang laki-laki muda memberinya kunci mobil dengan membungkuk. Dan dengan adrenalin tinggi Namjoon memacu mobilnya setelah menelpon orang tuanya.

"Malam ini akhirnya akan datang, Ayah. Dua anakmu bersaing, dengan darah, seperti yang selama ini kau inginkan tanpa sadar." Namjoon tertawa terkekeh, "Bagaimana bisa sesuatu semengerikan seperti hal ini sangat kau inginkan tanpa sadar."

Pria yang ada di sambungan telepon terdiam.

"Siapa menurutmu yang akan menang?"

"Kau tak akan bisa membunuh Hoseok, Namjoon."

"Oh, aku terkejut."

"Karena kau bukan satu diantara kami, kau berperasaan. Dan kau memiliki rasa untuk melindungi Hoseok tanpa kau sadari." Lirih Papanya, "Selamanya kau tak akan bisa membunuh Hoseok, karena kau merasa memiliki ikatan dengannya."

Namjoon terdiam. Ia tak berperasaan. Ia seperti Papanya, tak menggunakan perasaan. Ia tak menganggap hubungan adalah sesuatu yang wajar.

"Berbeda dengan Hoseok, Ia bisa membunuhmu karena hatinya sudah mati seutuhnya."

Namjoon memutus panggilan telepon. Ia tidak menelpon untuk mendengar omong kosong.

Dan ketika Ia menjalankan mobilnya, memacu Porsche baru miliknya, Ia memastikan jika Ia tak memiliki perasaan dan membuktikan bahwa ucapan si tua Kim adalah omong kosong.

.

.

.

Tepat seperti ucapannya.

Hoseok yang awalnya terlihat dari rear-view mirror sedang bersama beberapa anak buahnya sekarang berkendara dengan motor besarnya sendirian. Lelaki itu terlalu mudah ditebak, batin Namjoon.

Dan ketika di hadapannya adalah belokan sebelum terowongan di rute 57, Namjoon dengan mobilnya yang melaju keras melepaskan pedal gas dan menarik rem tangan mobilnya, membuat ban mobilnya berdecit hingga berasap karena perubahan kecepatan yang mendadak. Tangannya sebisa mungkin memutar setir membuat mobilnya berputar di aspal.

Tentu saja Hoseok tak tahu pikiran Namjoon kali ini. Tak ada pilihan baginya, Ia menarik tuas rem tangannya, membanting setir untuk menghindari mobil Namjoon.

Tapi tidak.

Motor Hoseok bergerak cepat dengan decitan roda, meluncur ke sisi jalan dan meluncur turun di pasir yang berada 5 meter di bawah aspal. Tubuhnya terpelanting, menggelinding di turunan curam, dan terhenti karena tubuhnya membentur pohon dengan keras. Ia menggeram keras merasakan rasa sakit di bahunya karena terjatuh dan terbentur pohon dengan keras.

Namjoon puas. Ia melepas sabuk pengamannya, tak peduli pada mesin mobilnya yang hancur karena menabrak sisi jalan lainnya yang berupa bebatuan. Kakinya cukup lemas setelah manufer bodoh dan serampangan yang dilakukannya, tapi tetap turun menemui Hoseok di bawah.

Tadi hanya hidangan pembuka, kali ini adalah hidangan utamanya.

Jalannya masih terhuyung ketika kakinya berjalan di atas pasir, tapi bersikap tenang ketika Ia telah berada di dekat Hoseok dan ketika lelaki itu mulai terbatuk setelah melepas helmnya serampangan.

"Beruntung sekali kau memakai helm, huh?"

Tubuh Hoseok terhuyung saat mencoba berdiri, membuat Namjoon gemas ingin menendangnya dan mengatakan jika tubuh lelaki itu terlalu kurus untuk seseorang yang seperti Hoseok. Tapi tidak, Ia tak suka menyerang saat anak serigala sedang lemah.

"Kau ingin aku memanggil ambulans? Kau tak bisa berjalan, Jung."

Ucapan itu cukup membuat darah Hoseok mendidih ke ubun-ubun. Lelaki itu mengangkat wajahnya dan memandang Namjoon sengit, mengumpulkan semua tenaga dan kebenciannya, dan menubruk tubuh Namjoon hingga tubuh Namjoon jatuh ke pasir.

Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan di wajah Namjoon, bergiliran di kanan kiri ketika Hoseok berada di atas tubuh Namjoon dan tangan kirinya mencekik leher Namjoon.

"Kau yang selalu banyak bicara!" teriaknya. Satu pukulan dengan tangan kanan Hoseok sekali lagi mengenai sisi wajah Namjoon, meleset. Pukulannya tak kuat, serampangan, dan jauh dari titik kritis; tulang pipi. Pukulannya hanya mengenai pipi Namjoon tapi tak bisa meretakkan tulang pipinya. "Kau selalu mengatakan hal sampah yang membuatmu seolah hebat!"

Hoseok masih berteriak dengan mata memerah sambil memukuli wajah Namjoon.

Namjoon tersenyum saat meringis.

Yang jelas Namjoon ketahui jika itu bukan apa-apa, pukulan dan serangan Hoseok buruk kali ini. Hoseok dilatih seperti binatang, pukulannya adalah yang paling akurat dan kuat diantara yang lain. Dan meninju pipi Namjoon yang kemudian hanya membuat ngilu gigi gerahamnya bukanlah tipikal pukulan Hoseok, juga rasanya yang tak sesakit itu.

Namjoon tertawa kecil atas tebakannya.

Dan tawa Namjoon membawa amarah Hoseok naik lebih tinggi, apalagi ketika lelaki yang berada di atas itu menyadari jika Namjoon tetap diam ketika Ia menyerang–dalam keadaan normal, seseorang dengan tingkat bela diri sebaik Namjoon akan dengan mudah menebak gerakan Hoseok ketika mendorong tubuhnya serampangan tadi, dan kuncian Hoseok kali inipun sangat mudah dilawan.

"Jangan hanya tertawa, Namjoon!"

Lalu berlanjut ke beberapa ejekan yang Hoseok lontarkan hingga berhasil membuat Namjoon bereaksi. Gerakan dasar bela diri; tangan Namjoon yang bebas mendorong tubuh Hoseok bersamaan dengan gerakan kakinya hingga tubuh Hoseok berputar terpelanting. Hoseok dibanting dan punggungnya mengenai pasir dengan keras.

Keduanya berdiri, dalam jarak kurang dari dua meter, bersiap dengan semua insting bertarungnya.

"Kau tidak menggunakan kesempatanmu dengan baik, tuan roda ketiga."

Roda ketiga. Julukan Hoseok karena terus berada di belakang Namjoon.

Dan olokan ini selalu berhasil membuat Hoseok bereaksi seperti yang Namjoon inginkan. Lelaki itu meneriakkan umpatan dengan tubuhnya yang maju menyerang Namjoon. Tapi amarah selalu gagal, gerakan Hoseok yang penuh amarah berhasil terbaca dengan baik dan Namjoon lebih dulu memukul rusuk kiri Hoseok.

Lalu ulu hati.

Dan satu pukulan jab di rahang bawah Hoseok.

Diakhiri dengan pukulan telak di hidung Hoseok ketika tubuh itu limbung setelah dihujani tiga pukulan beruntun. Namjoon yakin jika hidung Hoseok patah karena pukulannya.

"Kau tahu kenapa selamanya kau tak bisa mengalahkanku?"

Hoseok menarik nafas sambil meludahkan darah segar bercampur liur dari mulutnya. Tubuhnya terasa remuk setelah terjatuh dari sepeda motor, ditambah memukuli Namjoon membuatnya lelah bukan main. Kepalanya mulai pusing sebagaimana kepekaan inderanya mulai hilang, matanya berkunang dan sinar putih menyilaukan memenuhi ruang pengelihatannya.

Samar-samar Hoseok mendengar suara Namjoon.

Dengan senyuman mengejek Namjoon merapikan pakainnya, "Karena kau tak cukup membenciku hingga selamanya kau tak bisa, tak akan pernah bisa, menang dariku."

Kekuatan mereka sama, mereka dididik untuk menjadi pemimpin tentu saja tempaan mereka sama. Gaya bertarung, kekuatan pukulan, ketahanan tubuh, semuanya sama. Yang membedakan adalah siapa yang lebih siap, siapa yang merasa dirinya menang akan menang. Dengan semua kesamaan antara mereka, hanya yang lebih siap yang menang.

Dan yang lebih siap adalah mereka yang mengetahui kelemahan lawan.

Karena benar saja, ucapan Namjoon membuat Hoseok bereaksi seperti orang gila, menghabiskan seluruh sisa tenaga dan kesadarannya untuk menghabisi lawan utamanya selama ini. Ia memukuli Namjoon dengan serampangan tak peduli apapun, yang Ia inginkan hanya meluapkan amarahnya dengan memukul Namjoon. Teriakannya terdengar memekik setiap Ia memukul Namjoon, dengan keras tonjokannya mengenai rahang bawah Namjoon diikuti gerakan tangannya yang cepat meninju perut Namjoon dengan keras.

Hoseok ketika marah memang bergerak dengan serampangan, tapi mengerikan. Kakiknya menendang dengan keras, tangannya memukul serampangan, kepalanya menghindar dengan cepat, namun tubuhnya seolah mati rasa ketika Namjoon membalas dengan pukulan.

Dan yang Namjoon lakukan ketika Hoseok benar-benar serampangan dan gila adalah meraih helm yang tadi dipakai Hoseok, memfokuskan kekuatan di tangan kirinya, lalu menghantam kepala Hoseok dengan helm itu.

Ia tak bisa mengukur kekuatannya, karena yang Ia pikirkan hanya membuat Hoseok berhenti.

Dan berhasil.

Karena dengan darah mengalir dari pelipisnya, Hoseok terhuyung ke belakang. Lelaki itu memukul rahang pipi Namjoon tapi dengan gerakan lemah, membuat Namjoon dengan mudah membaca gerakannya, dan menendang tubuh lemas itu.

Selesai.

Tubuh Hoseok terjatuh dengan luka di pelipis, hidung patah, dan luka sobek di wajahnya. Setelahnya tubuh Namjoon ikut terjatuh, Ia terbatuk dengan darah memenuhi liurnya, tapi Ia tak peduli. Hoseok memukulinya dengan gila.

Tapi yang Ia ketahui, semua pukulan Hoseok tidak sekuat biasanya. Awalnya Ia berpikir karena Hoseok dikuasai amarah. Tapi kepala Hoseok dilatih untuk tetap dingin. Mengingat tubuh Hoseok yang terjatuh dari motor, menggelinding jatuh dengan keras, lalu berhenti dengan menabrak pohon, Namjoon yakin sesuatu buruk terjadi pada bahunya. Membuat pukulannya tak sekeras biasanya.

Begitulah malam itu berakhir. Hoseok tak sadarkan diri dan Namjoon yang mengatur nafasnya agar tak hilang kesadaran seperti Hoseok, karena tak ada yang menjamin jika Hoseok akan diselamatkan ketika Ia meninggalkannya sedirian.

.

.

.

Hidung Seokjin memaksa kesadarannya terkumpul saat mencium bau masakan. Ia menyesal pada dirinya karena mudah sekali terbangun sekalipun dirinya masih membutuhkan istirahat.

Tapi Ia tetap berjalan ke luar dan menemukan apa yang menghasilkan bau masakan seperti ini.

"Pagi, hyung!" sapaan ringan Jungkook menyadarkannya.

Seokjin masih mengantuk dan lelah, Ia hanya membalas dengan senyuman bahkan ketika Taehyung menggodanya dengan mengatakan jika Ia sangat berantakan. Seokjin tak peduli, Ia membuka lemari esnya dengan mata setengah menutup, mengambil botol air putih dingin yang letaknya sudah Ia hafal dan meneguknya hingga tersisa setengah.

Akhirnya Seokjin tersadar seutuhnya. Dan bukan Jungkook yang memasak, tapi Taehyung. "Kau bisa memasak juga, Taehyung?"

Jungkook, kekasihnya, yang bersemangat menjawab. "Masakannya jauh lebih enak daripada masakanku, hyung, kau harus merasakannya!"

Seokjin menurut. Lagipula orang-orang disekitarnya suka memaksa, termasuk dua orang ini. "Sebenarnya aku merekomendasikan sarapan dengan sereal dan susu, itu sudah cukup bagiku." Gumamnya lirih.

Tapi Jungkook mendengar gumaman Seokjin dan mencibir, "Mana bisa sarapan dengan sereal."

Apa yang Seokjin bilang, Ia hanya punya satu pilihan; menurut.

Taehyung memasak cukup beragam hanya untuk sarapan. Ia memanggang roti, membuat omelet untuk masing-masing dengan isian ham, paprika, bawang bombai, jamur, ditambah keju cheddar, potongan tomat, ditambah saus salsa di atasnya.

"Wow!"

Milik Jungkook sedikit berbeda karena memiliki mashed potato di piringnya.

"Aku tak makan tepung, hyung, aku memiliki alergi pada tepung."

Tapi sepertinya menu lengkap ini belum final karena Taehyung masih sibuk. Beberapa singkat waktu kemudian lelaki itu berbalik dan duduk di meja makan membawa tiga mug di tangannya. Kopi hitam untuknya, susu hangat untuk Jungkook, dan kopi dengan susu hangat untuk Seokjin. "Maaf, hyung, aku tak yakin jika kau suka kopi untuk sarapan, jadi kucampur saja."

Pintar.

"Aku sudah memeriksa keadaan Namjoon hyung, dia hanya butuh istirahat, 'kan, hyung?"

Seokjin mengangguk dengan mulut penuh, Ia menolak menjawab karena mengharuskannya menyela makanan seenak ini.

"Hoseok hyung..." lirih Jungkook.

Sejujurnya topik ini sangat buruk dibahas di meja makan, terlebih saat sarapan. Tapi Seokjin terlambat untuk menghentikan, topik terlanjur diangkat. Ia memaksa mulutnya menelan, "Ia cukup parah, tapi aku bisa menanganinya."

"Perlukah kami tetap di sini hingga Hoseok hyung sadar?" tanya Taehyung, sambil menyendok makanannya lalu menyuapkan ke mulutnya, seolah ini adalah perbincangan umum seperti bahasan liga sepakbola atau baseball dalam negeri.

Seokjin benar-benar lelah harus membicarakan topik ini, di waktu sarapan apalagi. Ia terdiam, tetap menyuapkan omelet buatan Taehyung ke mulutnya dan sesekali menyobek roti panggangnya. Seokjin membiarkan dirinya terdiam dan berharap dua orang lainnya paham jika topik ini tak baik diangkat saat sarapan.

Dan perlu waktu satu menit bagi Jungkook untuk paham. Ia berdeham, menyesap susu hangatnya yang diberi madu dan bubuk kayu manis, lalu tersenyum pada Seokjin. "Semalam kau tidur di kamarmu, hyung?"

"Eh?" Mau dimana lagi Seokjin harus tidur jika bukan di kamarnya?!

Alis Jungkook naik dan matanya membulat, "Kupikir kau tidur bersama Namjoon hyung."

Giliran mata Seokjin melotot lebar mendengar gumaman Jungkook. Dia mabuk atau bagaimana?

"Tidak, Jungkook! Untuk apa pula aku tidur di kamar Namjoon?!"

Taehyung mengangkat tangannya, memberi gestur untuk Seokjin agar tenang. "Whoa, tenang hyung, dan tak perlu teriak kepada Jungkookku."

Seokjin menggigit ujung bibirnya. Wajahnya memanas. Mungkin karena kafein di kopi yang Ia minum, benar, 'kan?

"Uh, hyung, wajahmu memerah." Keduanya lalu tertawa, menertawai Seokjin tentu saja. Entah mungkin perutnya sudah kaku karena tertawa puas atau bagaimana, tiga menit kemudian Jungkook menyudahi tawanya.

Ekspresi Taehyung berubah drastis dalam hitungan detik kemudian, dari tertawa terpingkal menjadi serius menatap lurus ke mata Seokjin. "Kalian benar-benar tidak berada dalam hubungan yang seperti itu, hyung?"

Seokjin bisa mati karena digoda terus menerus.

Dengan beberapa suapan besar, Seokjin menghabiskan sarapannya–buatan Taehyung terlalu enak untuk dilewatkan. "Aku akan mengecek keadaan mereka?"

Taehyung terkikik, "Yakinkan dirimu sendiri untuk hanya melihat keadaan mereka, hyung." ucapnya dengan penekanan.

Dengan sabar Seokjin menahan dirinya untuk tidak melempar garpu makannya ke mata Taehyung!

.

.

.

Keadaan keduanya baik, meskipun saat Seokjin menilik keduanya sama-sama tertidur. Mari kita asumsikan jika keduanya terlalu lelah dan membutuhkan banyak istirahat.

Bedanya adalah Namjoon yang terbangun saat Seokjin masuk ke kamarnya, menyapa Seokjin dengan mengucapkan selamat pagi dengan mata terpejam tapi bibirnya menyunggingkan senyuman manis.

"Sudah lama bangunnya?"

Matanya terbuka sedikit lalu menggeleng. "Bisa kau ambilkan aku air? Kerongkonganku kering."

Anggukan kecil Seokjin diikuti gerakannya untuk membantu Namjoon minum membuat suasana menghangat.

"Ada lagi yang kau perlukan?"

Sekali lagi Namjoon menggeleng.

"Baiklah, istirahat dan jangan pikirkan apapun untuk saat ini."

Keduanya pasti sama-sama jelas maksud kalimat tadi. Tidak memikirkan apapun artinya tidak memikirkan apapun, termasuk yang terjadi di Seoul hingga jenis perseteruan apapun yang mengelilingi hidupnya, hidup mereka.

Dan ketika Seokjin hampir sampai di pintu kamar Namjoon untuk keluar, lelaki itu bersuara.

Suaranya serak. Tapi tegas. "Seokjin, bisa aku memintamu melakukan sesuatu?"

"Ya?" Jawab Seokjin cepat.

Keduanya bertatapan cukup lama. "Bilang pada Taehyung dan Jungkook, untuk pergi ke Seoul malam nanti."

Seokjin menghela nafas. Belum kering bibirnya setelah mengucapkan permintaannya agar Namjoon tak memikirkan apapun selain kesembuhannya.

"Ayahku–" suara Namjoon memotong semua rasa kesal yang ada di ujung lidah Seokjin.

Suara Namjoon terdengar tercekat di akhir kalimatnya, dan di detik kesepuluh ketika Seokjin yakin Namjoon akan tetap diam dan tak melanjutkan kalimatnya, Ia tahu kepala Namjoon sedang dipenuhi kekhawatirannya pada orang tuanya.

Seokjin kembali duduk di tepi tempat tidur, duduk di samping perut Namjoon. Sebisa mungkin Ia tak menampilkan ekspresi ketakutan atau iba. Tangannya bergerak pelan menggenggam punggung tangan Namjoon yang ada di atas perutnya.

Berharap kehangatan tangannya berhasil menenangkan Namjoon. Karena Ia yakin Ia sendiri tak akan bisa menenangkan dengan kalimat dan janji apapun saat ini.

Namjoon memahaminya, bahwa Seokjin tak akan sanggup memberikan janji keselamatan padanya, apalagi meyakinkan Namjoon jika Ia bersedia melakukan apapun untuk Namjoon seperti yang Namjoon lakukan selama ini padanya. Dan yang Ia lakukan untuk meyakinkan Seokjin bahwa Ia menerima ketenangan yang diberikan oleh Seokjin adalah dengan membalik tangannya dan menggenggan tangan Seokjin.

Lama mereka terdiam, hingga suara serak milik Namjoon terdengar. "Hanya Ayahku yang kupunya sekarang, dan semua tentang dirinya sedang tidak baik, Seokjin."

"Aku tahu." bisiknya. Seokjin sudah cukup tahu semua latar belakang Namjoon, dan Ia tak membiarkan lelaki yang kini sedang terbaring itu mengungkapkan perasaannya yang mana malah membuatnya tersiksa karena harus mengucapkannya.

Maka ketika Ia keluar dari kamar Namjoon dan menemukan Taehyung dan kekasihnya sedang menonton tv, Ia duduk di sebelah mereka.

"Bagaimana dengan Hoseok hyung, hyung?"

"Dia masih tertidur saat aku datang. Kurasa semuanya baik,"

Kemudian sepasang kekasih itu menganggukkan kepalanya dan menggumamkan "oh" bersamaan, mirip paduan suara. Lalu ketiganya terdiam.

Di menit ketiga, Seokjin kebingungan. "Kau tidak bertanya tentang keadaan Namjoon?"

Bahu Taehyung mengedik dengan bibirnya yang turun ke bawah menunjukkan ketidakpedulian. "Aku yakin Ia baik-baik saja."

Jungkook menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Taehyung. Keduanya yakin akan hal itu.

"Bagaimana kalian bisa tahu?"

"Kami bersama Namjoon hyung semalam, kami tahu apa yang terjadi, dan kami tahu jika tubuh Namjoon hyung hanya membutuhkan istirahat setidaknya hingga besok pagi untuk kembali seperti biasa."

"Eh?"

Jungkook mengangguk menyetujui. "Hyung, tenang saja. Namjoon hyung adalah yang terbaik di antara yang terbaik."

Seokjin menyimak.

"Tubuhnya seolah dirancang sedemikian rupa hingga Ia sangat pandai bertarung, dan adu jotos ringan bersama Hoseok hyung semalam bukan masalah besar baginya. Aku pernah, sekali, meminta Namjoon hyung memukulku main-main karena aku melihat Ia mudah sekali menjatuhkan lawannya ketika adu jotos."

Jungkook tertawa kecil mendengarnya, Seokjin mulai tertarik.

"Aku bilang padanya, main-main, aku mengucapkan kata itu setidaknya tiga kali untuk memastikan. Dan berakhir wajahku lebam hampir tiga hari lamanya."

Tawa Jungkook semakin lepas. "Padahal saat itu Namjoon hyung hanya memakai tangan kiri."

Seokjin tak tahu pasti harus bereaksi seperti apa.

Sayangnya Taehyung salah tafsir atas ekspresi Seokjin, Ia memutuskan untuk meneruskan kalimat yang ingin diucapkannya.

"Kami punya beberapa teman, hyung, rekan kerja. Di antara mereka memiliki kesukaan sendiri saat membunuh. Satu di antara mereka ada yang sangat menikmati untuk melukai korbannya, Ia bisa melihat korbannya kesakitan sebelum membunuhnya. Ada juga yang seorang pengagum Abe kid twist Reles, jadi dia mengikuti idolanya dan akan membunuh korbannya dengan benang di leher. Kau tahu 'kan,"

Wow! Seokjin sama sekali tak mengharapkan diskusi semacam ini di rumahnya!

"Aku paling suka Kino, Ia sangat disiplin saat membunuh."

Tebak siapa yang menggumamkannya?!

Jeon Jungkook. Yang terlihat manis dan menggemaskan, bahkan Seokjin sudah siap mengangkatnya menjadi adiknya jika Ia tak keberatan. Siapa yang bisa menyangka bibir manis Jungkook mengucapkan hal mengerikan seperti tadi.

Kekasihnya, setali tiga uang, menyetujui ucapan Jungkook. "Ya, hyung, Kino teman kami, Ia sangat disiplin saat membunuh. Ia akan mencari letak cctv dan menggiring korbannya agar berada di titik buta cctv, membunuhnya, dan membersihkan semua bukti agar tak mengarah padanya. Ia sungguh repot."

Seokjin hampir tersedak ludahnya sendiri. "Itu gila! Demi Tuhan, untuk apa pula aku tahu semua itu!" pekik Seokjin hampir memukul wajah keduanya.

"Yang kusebutkan belum semuanya, hyung." ucap Taehyung tenang.

"Tidak, aku tidak perlu mendengar semuanya!"

"Namjoon hyung."

Seokjin mau mendengar!

"Ia yang paling mengerikan dari mereka semua, sekaligus yang terbaik. Ia paling ditakuti di antara kami semua, paling mengerikan, tapi tetap saja Ia yang paling keren bagiku." bisik Taehyung, seolah bisikannya mengantarkan udara dingin yang sampai ke tengkuk Seokjin.

Lelaki itu merinding membayangkan jika selama ini Ia melupakan fakta jika Namjoon tetaplah Kim Namjoon yang seorang monster.

"Sekalipun sudah sangat lama sejak terakhir kali Namjoon hyung menyelesaikan urusannya dengan korbannya, dan itu terbilang sangat jarang baginya untuk membunuh, tapi semuanya tahu jika Ia sangat mengerikan. Ia tak suka pakai alat apapun, Ia hanya suka berjaga-jaga dengan membawa senjata. Ia suka datang langsung, berhadapan dengan korbannya dan membiarkan korbannya melihat wajahnya dengan ketakutan."

"Ia akan memukuli korbannya dengan tangan kosong, kadang sampai gigi korbannya rontok dan tulangnya patah. Tapi Ia kemudian menelpon 119 untuk menolong korbannya. Kau tahu kenapa begitu?"

Seokjin menyesal karena ingin tahu.

"Ia tak mau membunuh musuhnya. Hanya cukup dengan menunjukkan wajahnya di hadapan musuhnya, korbannya, seperti malaikat maut. Menurutnya itu lebih efektif untuk memberi pelajaran dibanding membunuh. Ia membiarkan korbannya tersiksa dengan sisa hidupnya yang terbayang dosanya."

"Bukankah... yang Ia lakukan itu juga dosa?"

"Siapa yang percaya dengan dosa, surga dan neraka apalagi? Kau percaya, hyung?"

Lidahnya kelu.

"Seingatku hanya sekali Ia membunuh sejak aku mengenal Namjoon hyung. Aku tak paham persisnya, kurasa Ia melakukannya juga karena kemauannya sendiri, bukan karena Ia ditugaskan. Kabar yang kudengar adalah karena Ia sangat membenci orang itu, yang membuat temannya trauma atau apa aku tak terlalu paham. Tapi setelah membuat korbannya pingsan, Namjoon hyung menggantung tubuhnya hingga seolah Ia bunuh diri, membakar semua ujung jari korbannya dengan korek api di sakunya agar identitasnya tak terlacak, termasuk menuliskan surat bunuh diri atas nama lelaki itu dan menuliskan permintaan maaf karena telah membuat anak kecil trauma."

"Tapi pada dasarnya Namjoon hyung selalu menolak untuk membunuh, hyung, karenanya Hoseok hyung yang selalu membunuh target Namjoon hyung, sekalipun Namjoon hyung sudah memukuli korbannya dan menelpon 119 untuk mengirimkan pertolongan, Hoseok hyung yang selalu berada di belakangnya yang akan membunuh. Itu juga yang membuat hubungan dua orang itu tak pernah akur."

Perut Seokjin mual.

"Aku tak paham dengan Namjoon hyung, hanya karena ada anak kecil yang mengajarinya tentang berartinya nyawa dan kehidupan di muka bumi ini, sejahat apapun kesalahan orang itu, selalu ada titik di mana Ia akan menyadari kesalahannya dan bertaubat, Ia benar-benar tak pernah membunuh. Maksudku, itu semua hanya omongan anak kecil, 'kan?" Taehyung terkekeh di akhir kalimatnya.

Dan anak kecil itu adalah Kim Seokjin.

Pemilik nama itu merasa pusing secara mendadak.

Yang jelas Seokjin langsung mengunci diri di kamarnya setelah mendengar semua penjelasan panjang-lebar Taehyung tadi. Dan Ia keluar untuk menemui Taehyung dan Jungkook untuk menyampaikan pesan Namjoon.

Tapi Ia tak bertahan lama, lalu kembali ke kamarnya.

Sudah cukup lama Seokjin menerima kehadiran Namjoon, termasuk dua orang bernama Taehyung dan Jungkook. Bodoh memang karena Seokjin seolah membuat dirinya sendiri lupa akan latar belakang semua orang tadi dan menganggap jika semua orang akan bertaubat, termasuk orang-orang tadi, yang bodohnya, Seokjin anggap mereka adalah orang baik.

Tidak.

Setidaknya luka akan meninggalkan bekas di kulit, termasuk semua orang dengan tato H.O.U.N.D di tubuhnya. Ya, Taehyung maupun Jungkook juga memilikinya, keduanya sama-sama memiliki di punggung telapak tangannya.

Dan sekali lagi Seokjin harus sadar jika dirinya berada di tengah medan perang, di mana seharusnya Ia menjaga dirinya sendiri. Sekalipun Namjoon adalah orang yang menjanjikan semua keselamatan dan keamanan dirinya, tetap saja Namjoon adalah Namjoon yang merupakan calon pewaris organisasi rahasia itu.

Taehyung dan Jungkook berbicara pada Seokjin dari depan pintu kamarnya, berpamitan dan mengatakan jika mereka akan kembali ke Seoul. Keduanya cukup memiliki perasaan dengan tidak mengetuk pintu kamarnya dan memaksa Seokjin bertemu dan menatap wajah keduanya. Sungguh, wajah mereka berdua sama-sama menggemaskan dan menyenangkan, jauh dari semua ucapan mengerikan mereka.

Kurang lebih dua jam setelah Taehyung dan Jungkook pergi, pintu kamar Seokjin dibuka. Seokjin tidak tidur, Ia hanya berbaring memunggungi pintu kamarnya dan menatap dinding kosong.

"Seokjin?"

Itu Namjoon.

Seokjin tak ingin menemuinya.

Ia yang bodoh karena mengendurkan penjagaan dirinya dan melihat Namjoon berbeda.

"Aku mendengar semua yang Taehyung katakan tadi."

Air mata Seokjin jatuh.

"Dan itu semua benar."

Seokjin menggigit lidahnya keras-keras.

Lama ruangan itu sepi tanpa ada satupun suara dari keduanya, hingga Namjoon kembali bersuara. "Aku tak akan menjanjikan apapun lebih jauh, pasti sulit bagimu menerima orang sepertiku dalam hidup yang kau inginkan, hidup yang tenang dan damai."

"I know my place. Aku akan pergi setelah matahari terbit esok hari, kupastikan membawa Hoseok pergi. Kupastikan akan memberimu hidup yang tenang seperti yang kau harapkan."

Lalu terdengar langkah kaki meninggalkan kamarnya dan suara pintu tertutup mengikuti. Air mata Seokjin sudah turun deras, entah karena alasan apa.

-TBC-

Akhirnya aku balik, ya? Heheheh

Sebelumnya... hehe, maaf nih ya, saya kan anak humaniora, saya kurang paham tuh sama kedokteran dan luka2 gitcu, jadi terima aja deh ya hehe. termasuk fight scene, ya maaf kl ga kerasa nyata karena aku orangnya peace love n gaul, wkwkwk

Author note kali ini akan berisi permintaan maaf. Pertama, karena aku mungkin akan jarang update mulai sekarang karena aku sudah tua dan semester tua, i have to do my final assignment; skripsi :) aku belum mulai semuanya, jadi aku belum bisa memastikan sesibuk apa aku nanti. Yang kedua, maaf karena aku being jerk dengan semua drama di ff ini. ketiga, maaf kalau ada typos atau scene yang tidak nyambung, saya sudah berusaha maksimal untuk mengurangi semua itu tapi ya saya manusia tempat salah dan dosa yekan? Sudahdeh minta maaf ga baik untuk kesehatan:)

OIYAAAA aku lupa! Terimakasih sebesar-besarnya untuk al, pinkalpaca, adekku temanku sahabatku, udah bikinin cover buat HOUND. I really love it, really appreciate it:)

RnR, ya! Karena review an kalian yang membuatku kuat, ceileh lebay!

ILY!

Seriusan, RnR jangan sider!

ILY!