H.O.U.N.D
Cast : Kim Namjoon a.k.a RM; Kim Seokjin a.k.a Jin; and many others
Rate : T
Length : Parts
H.O.U.N.D
Dini hari yang mengerikan bagi Seokjin. Ia tak pernah merasa setakut ini sebelumnya, setelah sekian lama berhubungan dengan banyak orang yang memiliki rahasia kelam dan mengerikan, kali ini terasa ribuan kali lebih mengerikan. Karena Ia tak menganggap semua orang yang bersamanya ini berbahaya.
Atau karena dirinya memang ditakdirkan untuk demikian?
Berada di antara hubungan rumit dan menyesakkan, di mana darah terlihat seperti air dan nyawa sebagai koin mainan?
Semua pikiran itu mengatar Seokjin pada asumsi yang dibuatnya sendiri, bahwa fakta yang paling mengerikan diantara itu semua adalah–
–bahwa semua ini karenanya.
Masuk akal. Ia anak laki-laki di keluarganya, dan mengetahui sifat orang tuanya, Seokjin takut semua ini ada karena keserakahan Papanya dan berimbas pada semuanya. Bahwa dirinya penyebab semua masalah yang terjadi, bahwa sebenarnya dirinya yang harusnya kecewa pada dirinya sendiri karena Ia adalah alasan utama semua ini. Bahwa pilihan Kim Seokjin untuk pergi ke desa yang jauh dari rumahnya adalah pilihan seorang pengecut yang merupakan pilihan paling salah–
Kepala Seokjin terasa berputar seperti dihantam palu godam.
Selama sisa waktu hingga matahari terbit, tak sekalipun Seokjin bisa memejamkan matanya. Ia terjaga. Merasa tertekan karena waktu yang terus berjalan. Dan merasa ketakutan ketika sinar oranye matahari mulai terlihat melalui jendela kamarnya.
Ponselnya berdering. Yoongi menelpon.
.
.
.
Taehyung maupun Jungkook juga bukan anak kecil. Benar umurnya terbilang muda, tapi keduanya dilatih sekeras yang lain. Memang tidak lebih dari Namjoon dan Hoseok, tapi kemampuan mereka masing-masing tak perlu diragukan. Keduanya bisa terjaga lebih dari 36 jam dengan fokus tak berkurang. Mereka memang tak beristirahat sejak berangkat dari rumah Seokjin dan terus berkendara ke Seoul menggunakan mobil Namjoon, tanpa berhenti di rest area, dan langsung menuju tempat yang Namjoon perintahkan pada mereka; rumah ketua, rumah Ayah Namjoon.
Ketika mobil yang Taehyung kendarai memasuki halaman rumah besar itu, alis Jungkook menyatu. Dahinya berkerut ketika bibirnya menggumam tentang betapa anehnya rumah ketua mereka yang tak biasanya sepi.
Rumah ketua mereka selalu ramai, terang, menggambarkan dengan jelas bahwa rumah ini tak pernah tidur. 24 jam dalam sehari selama seminggu penuh, rumah mewah dan besar ini melakukan aktivitasnya terus menerus seperti mesin pabrik. Selalu ramai dengan anggota H.O.U.N.D yang bertugas untuk berjaga, selalu penuh dengan barang-barang komoditas mereka; uang, dan semuanya bergerak dengan arus cepat.
Ini pertama kalinya bagi mereka berdua melihat rumah ketua organisasi ini terlihat lenggang, dengan pintu utama ke dalam rumah yang terbuka lebar, lampu yang hanya dinyalakan di beberapa tempat sehingga terlihat redup, dan tak banyak teman mereka sesama anggota H.O.U.N.D yang berada di sana. Bahkan tidak ada. Ini lewat subuh, tapi matahari belum terlihat, suasana masih gelap, dan mengetahui rumah Ketua seperti ini, keduanya dilingkupi ketidaknyamanan.
Keduanya merasakan sesuatu yang salah.
"Tae, kenapa aku merasa takut."
Taehyung mendengar bisikan khawatir kekasihnya, tapi Ia memilih diam. Dirinya sendiri tak bisa memberi kepastian pada dirinya sendiri atas keadaan luar biasa yang dilihatnya. Ini pertama kalinya, rumah ketua mereka terlihat mengerikan.
Keduanya bergerak cepat ketika mesin mobil mati, sama-sama tak peduli langkah siapa yang lebih cepat, karena keduanya sama-sama paham mereka satu tujuan. Ruang tamu rumah ini juga terlihat kosong, begitu pula ruang makan rumah ini.
"Tae, rasanya semakin aneh."
Taehyung menatap mata Jungkook. Tak bisa dibohongi, Ia juga merasa takut. Dalam keadaan terdesak, pikiran bawah sadar manusia cenderung menciptakan skedul-skedul tak masuk akal. Dan kali ini Taehyung takut atas jalur pikirannya sendiri, Ia tak mau menebak dan membuat kesimpulan terlalu dini.
"Apa yang dikatakan Namjoon hyung tadi, Tae?"
"Eh?"
"Dia memanggilmu tadi, sebelum kau bilang kita harus pergi ke Seoul. Kalian bicara cukup lama di dalam kamar Namjoon hyung, kalian bicara empat mata." Mata mereka bertabrakan, sama-sama ketakutan atas asumsi buatan otak mereka yang berada dalam ketakutan, "Katakan padaku, Kim Taehyung, apa yang kalian bicarakan?"
Karena insting Jungkook dilatih sejak kecil di organisasi semengerikan ini, dirinya bisa dengan mudah menebak apa yang terjadi, alur macam apa yang sedang dimainkan. Tapi sejak lama lelaki ini memilih untuk tidak menggunakan kemampuan analitis instingnya untuk menebak apapun yang terjadi di luar tugas dan pekerjaan, termasuk apa yang terjadi dengan orang terdekatnya. Kali ini Ia tak mau menggunakan instingnya untuk membaca apa yang terjadi pada Namjoon hyungnya.
Taehyung paham maksud Jungkook dan tanpa sadar melihat kamar ketua yang berada di lantai dua. Secara tidak langsung kekasihnya membantunya berpikir logis, menghubungkan alur fakta yang Ia ketahui, dan memutuskan langkah. "Panggil ambulans jika aku tak kembali dalam lima menit, Kook."
Keduanya sempat saling menatap, dengan sinar ketakutan yang sama, lalu tanpa isyarat apapun keduanya bergerak bersamaan. Taehyung naik ke atas, berlari dengan melewati dua anak tangga sekaligus, menuju kamar utama rumah ini. Sedangkan Jungkook berlari lebih masuk ke rumah ini, ruangan kepala pelayan adalah tempat yang ditujunya. Dari sana seharusnya Ia bisa mendapat semua informasi yang dibutuhkannya untuk memahami apa yang terjadi.
Pikirannya fokus, satu sisi menanti waktu lima menit yang dimaksud Taehyung sedangkan bagian lainnya menuntut kepala pelayan untuk memberinya informasi penuh.
Pelayan rumah ini hampir seratus orang, terdiri dari semua jenis pekerjaan rumah. Kamar kepala pelayan berada lebih depan di banding yang lain, sedikit lebih baik, dan dekat dengan rumah utama. Jungkook hafal luar kepala denah rumah ini, dan Ia tak merasa ragu ketika tangannya mengetuk–memukul–pintu kamar itu dengan keras.
Tak ada waktu untuk menunggu saat ini, "Tuan Song, jika kau di dalam dan mendengarku, bisa kau keluar? Aku tak peduli jika kau belum berpakaian sebagai kepala pelayan, kumohon keluarlah." Bahkan Jungkook tak peduli tentang remeh temeh urusan pakaian resmi pekerjaan atau tidak.
"Tuan Song?" tangannya menggedor pintu kamar sekali lagi, dengan suara teriakan lebih keras. 2 menit lagi sebelum batas untuk menelpon ambulans, dan Taehyung tak kembali turun dari lantai atas.
Pikiran Jungkook semakin kacau.
"Tuan Song?! Kau mendengarku?"
Suara panggilan dari mulut Jungkook semakin keras seiring dengan gedoran tangannya di daun pintu, pikirannya semakin jauh dari kata tenang. Satu menit lagi sebelum menelpon ambulans. Lewat dari waktu itu, artinya sesuatu yang buruk terjadi.
"Tuan Song?! Keluar atau kudobrak sekarang! Aku tak peduli jika kau lebih tua dariku dan bisa saja menjadi Ayahku, tapi saat ini kau harus keluar!"
Sayangnya Jungkook tak pernah dilatih kesabaran.
Jungkook mundur selangkah, menyiapkan bahu dan lengannya untuk menggebrak daun pintu kamar kepala pelayan itu. Ia sering bertingkah kekanakan, semua orang di sini mengenalnya demikian, tapi kali ini Ia jauh dari kata main-main. Ini perintah Namjoon, orang yang dianggapnya sebagai kakak laki-lakinya, orang yang menyelamatkan hidupnya dan hidup Taehyung.
Ia tak punya waktu banyak, maka dengan tubuh atasnya, Ia mendorong daun pintu kamar kepala pelayan rumah ini. Percobaan pertama gagal, lewat dari batas waktu yang diberikan Taehyung. Seharusnya Ia menelpon ambulans. Tidak, Ia berharap apapun yang terjadi pada Taehyung dan apapun maksud lelaki itu dengan menyuruhnya memanggil ambulans tidak terjadi. Sekali lagi Ia mendorong tubuhnya, memusatkan semua tenaganya, dan menggunakan semua kekuatannya hingga tanpa sadar Ia berteriak.
Pintu terbuka. Kamar dalam keadaan kosong.
Jungkook mengatur nafas melihat apa yang ada di depannya, terdiam beberapa saat untuk sekali lagi mencoba berpikir logis. Ambulans–Ia menelpon 119 dan memberi informasi lengkap di mana seharusnya ambulans menjemput, sesuai perintah Taehyung.
Baru setelahnya Ia mengamati apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam pikirannya berkecamuk banyak hal, salah satunya adalah benang merah dari semua ini. Taehyung yang berbicara empat mata dengan Namjoon hyung, semua gestur Taehyung yang menunjukkan ketergesaan, keadaan aneh rumah ini, perintah Taehyung untuk memanggil ambulans, lalu kamar kepala pelayan yang kosong.
"Tuan Jungkook?"
Suara wanita membuat Jungkook berbalik, mendapati salah satu pelayan yang usianya sama dengannya, mereka saling mengenal dan akrab namun gadis ini masih saja memanggil Jungkook dengan sufiks demikian karena hubungan Jungkook yang dekat dengan Taehyung dan Namjoon.
"Kemana kepala pelayan Song?" tukasnya, Ia tak peduli tentang gadis pelayan ini yang bisa saja ketakutan mendengar suaranya yang membentak. "Kamarnya kosong, tak ada barang miliknya satupun. Ia pergi?"
Gadis itu menunduk dalam-dalam, tangannya bertaut, Ia ketakutan. Tapi Jungkook tak peduli. "Kau tahu aku bisa bersikap lebih mengerikan, Bora-ya, jawab aku baik-baik."
"Kepala pelayan Song pergi meninggalkan rumah ini sejak kemarin."
"Kemana?"
Ada waktu di mana Bora tidak menjawab, tautan jari tangan gadis itu semakin erat.
"Bora?"
Gadis itu berbisik lirih, "Kepala pelayan Song sudah mati, ditembak tepat di dahi di ruangan Ketua."
Eh? "Tidak, kepala pelayan Song sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun bersama ketua. Ketua bukan tipikal seperti itu,"
Tapi Bora diam saja.
Lalu Jungkook ingat tentang penyakit diabetes yang diderita Ketua dan bagaimana lelaki itu harus disuntik insulin tiap harinya. Jungkook memilih untuk memakai analisisnya. Dan ketika analisisnya menghasilkan asumsi, dimana asumsinya terlalu bodoh dan mengerikan, Jungkook berlari meninggalkan Bora yang terlihat ketakutan namun bingung. Ia berlari menuju lantai dua, mengikuti Taehyung.
Sirine ambulans terdengar saat Jungkook sampai di ujung anak tangga paling atas. Ia menggerakkan kakinya ke kamar ketua, pintunya terbuka lebar. Tangannya berkeringat saat menyadari tidak ada seorangpun yang menjaga kamar ketua. Tapi langkahnya terus berjalan, Ia memasuki kamar itu, berjalan melewati ruang kerja Ketua dan berbelok ke kamar ketua. Pintunya terbuka,
Taehyung sedang menangis di samping tempat tidur,
Ketua sedang tertidur di balik selimut.
.
.
.
"Kim Seokjin!"
Seokjin meringis. Ini pukul enam pagi, matahari baru saja muncul, dan sepupunya sudah meneriakinya lewat sambungan telepon.
"Ada apa?"
"Kau sedang di mana sekarang? Di rumah? Masih bersama Kim Namjoon? Atau sendirian?"
Seokjin tak paham arah pertanyaan sepupunya.
"Jawab aku, Kim Seokjin!"
"Apa yang harus kujawab? Kau bertanya banyak sekali pertanyaan bahkan saat aku tidak mendengar apa saja pertanyaanmu!"
Hening beberapa saat. "Kau dimana sekarang, Kim Seokjin?"
"Di rumahku."
"Pergi dari rumahmu! Sekarang!"
Wow, penelpon macam apa yang menyuruh pemilik rumah untuk pergi meninggalkan rumahnya tanpa alasan, di pagi hari, melalui sambungan telepon?
Dahi Seokjin berkerut tak senang. "Apa maksudmu?"
"Pagi tadi," Suara Yoongi terdengar lelah, "Ketua H.O.U.N.D meninggal dunia, ayah Namjoon. Dan aku yakin satu-satunya tersangka yang bisa disalahkan dalam situasi ini adalah kalian, dirimu dan keluargamu! Dan ketika Kim Namjoon mengetahui hal ini, bisa kupastikan yang Ia lakukan pertama kali adalah membunuhmu! Pergi dari rumahmu, Jin! Cepat!"
Terlalu banyak informasi yang didapat Seokjin dalam satu waktu. Kepalanya pening bukan main.
"Dengar aku, Kim Seokjin. Tak ada orang yang bisa menyelamatkanmu di sana. Kau benar-benar sendiri saat ini! Yang harus kau lakukan adalah pergi dari rumah itu–"
Seokjin tak sanggup mendengarnya lebih jauh. Suara dengingan keras memenuhi kepalanya, dan ditengah rasa pusing yang semakin menyesakkan, Seokjin berusaha agar tetap mampu berpikir.
Ayah Namjoon baru saja meninggal. Ayah Namjoon baru saja meninggal. Ayah Namjoon baru saja meninggal. Satu-satunya keluarga yang dimiliki Namjoon baru saja pergi meninggalkannya–
Dan berdasar kalimat-kalimat itu, yang memenuhi otaknya selama satu menit penuh, Seokjin berbalik dan berjalan keluar dari kamarnya dengan cepat. Namjoon membutuhkannya! Entah akan terbunuh oleh tangan kosong Namjoon atau mendapat pukulan hingga Ia tak bisa bangun oleh Namjoon, Ia tak peduli. Otaknya tak berjalan begitu juga logikanya. Ia membuka pintu kamarnya dan menemukan Namjoon yang berdiri di depan pintu kamarnya–
–sedang berdiri dengan kaku, menatap kakinya, dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. Seokjin tak bisa melihat wajah Namjoon.
Entah apa yang membuat Seokjin seberani ini, bukannya lari Ia malah berdiri di hadapan lelaki itu dan bertanya, "Kau baik?" Sekali lagi tak peduli entah Ia akan terbunuh oleh Namjoon atau mendapat pukulan hingga Ia mati.
Lelaki di hadapannya tidak bergerak sama sekali. Seharusnya Seokjin ketakutan, setelah apa yang Jungkook jelaskan tentang betapa mengerikannya lelaki di hadapannya ini. Lelaki yang bisa membunuh hanya dengan tangannya. Tapi Seokjin tetap maju mendekat, hingga jarak mereka hanya satu kaki.
Dari jarak ini Seokjin bisa tahu jika Namjoon menangis.
Dalam gerakan cepat Seokjin merengkuh tubuh yang lebih tinggi dan lebih besar darinya itu, memeluknya dan menarik kepala lelaki itu agar berada di bahunya. Dengan demikian Ia akan lebih mudah untuk menangis. Tanpa peduli jika tubuh lelaki itu masih kaku hingga lima menit setelahnya, Seokjin tetap membisikkan kalimat menenangkan.
Nyatanya di menit keenam Namjoon menjadi tenang dan menangis tersedu, di pundak Seokjin, untuk pertama kalinya.
.
.
.
Seokjin mengetahui kemudian, bahwa semalaman Namjoon tak tidur sama sekali, lelaki tinggi itu bergumam di bahu Seokjin bahwa Ia butuh tidur. Entah apa alasannya, tapi Seokjin membiarkan ketika tangan Namjoon memeluk tubuhnya selama Ia tidur siang. Yang Namjoon butuhkan saat ini adalah tidur yang cukup. Ia lelah fisik dan psikologisnya, tidur akan banyak membantu. Dan jika dirinya yang berada dalam pelukan Namjoon adalah sesuatu yang dapat membantu Namjoon agar lelaki itu dapat tertidur lebih nyaman, Ia merelakan tubuhnya yang lelah dan kaku selama berjam-jam agar lelaki itu mendapat tidurnya.
Kira-kira ketika matahari lebih dari atas kepala, tubuh Namjoon bergerak dan pelukannya pada tubuh Seokjin mengendur. Itu dimanfaatkan oleh Seokjin untuk pergi, Ia belum memakan apapun sejak pagi, juga Ia harus mengecek keadaan Hoseok.
Lelaki yang dari tadi tidur memeluknya menggeliat saat Seokjin bangun, seolah tidurnya terganggu dan merasa keberatan karena Seokjin meninggalkannya. Tapi perut Seokjin terlanjur lapar, Ia berjalan meninggalkan kamar tidurnya, mencari makanan yang bisa Ia makan. Berharap menemukan roti gandum dan selai, Ia harus merasa cukup hanya dengan apel merah.
Sambil mulut mengunyah, Seokjin berjalan ke klinik, melihat keadaan Hoseok. Seharusnya tak lama lagi lelaki itu bangun, hampir tiga hari Ia tertidur dan Seokjin bisa memastikan jika Ia tidak sedang koma.
Tapi apel di mulutnya berhenti dikunyahnya, bahkan Ia hampir tersedak, ketika ranjang di kliniknya yang seharusnya tempat Hoseok sedang terbaring kosong. Matanya berputar mencari lelaki yang semalam masih terbaring dan tertidur itu. Dengan langkah lebar Seokjin berbalik dan mengelilingi setiap sudut rumahnya.
"Hoseok sudah pergi."
Langkah Seokjin terhenti melihat tubuh tinggi besar Namjoon, berdiri tak jauh di belakangnya. "Kemana perginya!" Tanpa sadar lelaki itu berteriak.
"Beberapa anak buahnya membawa tubuhnya tadi pagi."
Seokjin ingin bertanya kenapa, alasan apa yang membuat Hoseok dibawa sedangkan lelaki itu masih sakit. Tapi Namjoon ada di hadapannya. Seokjin memilih bertanya keadaannya, "Kau baik?"
Pertama kalinya bagi Seokjin melihat sisi Namjoon yang ini, ketika Ia hanya menghela nafas dengan raut wajah lelah. Lelaki itu mengendikkan bahunya, "Orang tuaku baru saja meninggal, aku tak punya siapapun saat ini."
Dan yang Seokjin lakukan hanya melangkah dan memeluk tubuh itu sekali lagi. Ia pasti sudah gila dengan mempercayai Namjoon seutuhnya, bahwa Ia percaya lelaki di hadapannya ini tak akan membunuhnya, lelaki yang menyatakan diri bahwa Ia adalah teman masa kecil Seokjin sekalipun Seokjin sama sekali tak mengingatnya.
Ketika pelukan mereka terpisah, Seokjin menatap mata kelam lelaki itu. "Apa rencanamu?"
"Tidak ada."
Alis Seokjin bersatu. Setahunya lelaki di hadapannya adalah perencana terbaik, selalu berhasil memperhitungkan segala sesuatu. Dan jawaban tadi rasanya bukan Namjoon yang Ia kenal. "Maksudmu?"
"Tidak ada, Jinseok, tak ada yang harus kulakukan."
Keduanya terdiam.
"Satu-satunya keluarga yang kupunya sudah pergi meninggalkanku, lalu apa yang kucari?"
Demi Tuhan, pertama kalinya Seokjin mendengar kalimat putus asa keluar dari mulut lelaki itu!
"Yang kulakukan selama ini hanya mengejar pujian Ayahku, berusaha menjadi yang terbaik dan mengikuti semua perintahnya, karena hanya Ia yang kupunya. Lalu kira-kira apa yang harus kulakukan jika sekarang Ia pergi meninggalkanku?"
Seokjin menggigit bibirnya keras-keras.
"Tidak apa," Lelaki itu tersenyum menenangkan, "Aku baik-baik saja."
Sekali lagi alis Seokjin bersatu, kerutan di dahinya terlihat jelas. "Kau tidak sedih?"
"Sedikit, tapi aku baik-baik saja sekarang." Ia tersenyum menenangkan.
Tahu apa yang tidak membuat tenang? Cara lelaki itu tersenyum! Caranya bersikap membuat siapapun yang melihatnya pasti ketakutan! Ia benar-benar tak terlihat seperti beberapa menit lalu yang terlihat putus asa. Kali ini Namjoon yang berdiri di hadapan Seokjin seperti Namjoon yang lama, yang tersenyum tenang seolah tak terjadi apapun dalam hidupnya.
"Tidak apa jika kau bersedih, itu wajar, Namjoon."
Tapi lelaki itu malah tersenyum lebih lebar, "Aku tidak. Aku benar-benar baik, Jinseok."
Bukankah itu mengerikan?
Dan hingga malam hari ketika mereka makan malam, Seokjin sudah berkali-kali memaksa lelaki itu untuk pergi ke Seoul dan datang ke upacara pemakaman Ayahnya. Taehyung berkali-kali menelpon ponsel lelaki itu, dan tak sekalipun Ia menjawabnya. Bahkan ketika Seokjin yang risih berusaha mengangkat panggilan telepon Taehyung, lelaki itu berbisik untuk tidak melakukannya, dengan mengerikan.
"Namjoon, aku pernah membaca jika melepaskan kesedihan adalah sesuatu yang baik."
Lelaki yang duduk di hadapan Seokjin hanya terdiam, tetap membaca buku kedokteran milik Seokjin di tangannya. "Kau hafal atlas anatomi, Jinseok? Ajarkan aku cara menghafal seluruh otot di tubuh manusia, kurasa menghafalnya akan membantuku."
"Namjoon,"
"Ya?" akhirnya lelaki itu mengangkat wajahnya.
Seokjin jauh dari kata yakin. Tapi melihat Namjoon bersikap demikian semakin membuatnya ketakutan, dan Ia benci ketakutan atas asumsi dirinya sendiri. "Kemasi barangmu, setelah makan malam kita akan ke Seoul."
"Untuk apa?"
"Ayahmu akan dikremasi! Seharusnya kau datang kesana dan memberi hormat padanya! Kau sadar apa yang kau lakukan saat ini?!"
Lelaki itu tersenyum kecil, menutup buku tebal kedokteran di tangannya, lalu menatap mata Seokjin penuh. "Untuk apa, Jinseok? Pergi ke Seoul, menemui relasi dan kenalan Ayahku hanya membuatku kembali mengingatnya."
"Demi Tuhan, Kim Namjoon! Apa salahnya dengan semua itu! Ayahmu, lelaki yang kau bilang adalah keluargamu satu-satunya, akan dikremasi dan kau tak sedikitpun merasa jika kau harus datang kesana? Apa yang salah denganmu!" Seokjin benar-benar kehilangan rasa sabarnya.
"Lalu apa? Melihat tubuhnya yang kaku masuk ke alat kremasi dan mengetahui jika tubuhnya akan dihancurkan? Kau pikir itu adalah hal yang baik? Lalu datang ke acara penghormatannya? Di mana semua orang menangisinya? Uh, Jinseok, Ia tak selemah itu untuk ditangisi!"
Tak ada kata yang keluar dari mulut Seokjin hingga detik kesepuluh.
"Berikan alasanmu padaku, Jinseok! Katakan alasan agar aku melihatnya. Tak ada yang akan berubah sekalipun aku menangisinya. Buat apa aku melakukan semua itu jika Ia tak akan bangun? Dan aku yakin Ia tak akan suka jika melihatku menangis dan lemah. Ia tak pernah mengajarkanku demikian. Apa yang kau tahu sebenarnya!"
"Namjoon,"
"Seperti ini lebih baik, Jinseok, seperti kata Ayahku." Namjoon berdiri, melempar buku tebal dari tangannya ke sofa yang tadi Ia duduki. "Ayahku tak akan mengajarkan sesuatu tanpa alasan yang kuat, dan Ia mengajarkanku untuk tak merasakan perasaan kami. Ia tak suka melihatku lemah. Kami tak memiliki perasaan, tak akan merasa sedih, tak akan merasa kehilangan, dan semua ini membuatku nyaman."
Lalu lelaki itu meninggalkan Seokjin yang bahkan tak bisa mempercayai seluruh ucapan tadi keluar dari mulut Namjoon.
-TBC-
SO SORRY, I GOT A LOT DEADLINES THESE DAYS.
Cuma segini yang bisa kutulis, dan sekali lagi maaf kalau jauh dari ekspektasi.
ILY
RnR!
