Dimple
Chapter 2: Heartbeat
.
.
BTS Fanfiction
Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy
Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv
Kim Namjoon 23 y.o
Kim Seokjin 24 y.o
Rating: M
.
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Namjoon memandangi kertas berisi hasil medical check yang ia dapatkan dari rumah sakit dengan teliti. Wajahnya menampakkan kerutan yang kentara di sana-sini.
Kerutan karena sedang serius maksudnya, bukan karena usia dan penuaan dini.
Hey! Dia masih 23 tahun, kalau kalian mau tahu.
Sementara Namjoon sibuk meneliti deretan huruf dan angka itu, temannya-Hoseok-hanya memandang malas Namjoon sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding lift.
Ya, saat ini kedua pemuda tersebut sedang berada dalam lift yang akan membawa mereka menuju penthouse milik Namjoon. Hoseok berniat untuk mencuri beberapa cemilan dan soda dari kulkas pria jenius itu, hitung-hitung sebagai imbalan atas kesediaannya untuk menemani Namjoon ke rumah sakit.
Sebuah seringai-yang lebih nampak seperti cengiran kuda poni-muncul di wajahnya saat bayangan aneka macam cemilan menari-nari di benaknya.
Ah, sungguh hari yang sempurna.
TING
Namjoon menyimpan kembali kertasnya kedalam amplop kemudian melangkah keluar dari lift. Hoseok tampak mengekor di belakangnya, sibuk menyusun rencana penculikan cemilan-cemilan kesayangan Namjoon.
"Kau mampir ke dalam atau langsung pulang?"
"Eey... apa kau sedang melakukan tindakan pengusiran secara halus?"
"Mungkin." Ujarnya santai sambil menekan password pintu penthousenya.
Klek
"Besok kau ada shift pagi, jangan sampai–"
Grep!
Tubuh tegap Namjoon terhuyung ke belakang ketika seseorang tiba-tiba menerjangnya dan memeluknya erat. Ekspresi terkejut langsung menghinggapi wajah tampannya.
What the... siapa yang berani memasuki apartemenku!?
"H– Hei! Lepas– Mom?"
Mata Namjoon membulat saat menyadari jika pemilik dari tubuh ramping yang tengah memeluknya itu adalah Kim Jaejoong, ibunya.
Tunggu.
Bukannya ibunya ini kemarin bilang jika malam ini ada perjalanan bisnis ke China? Lalu kenapa sekarang dia ada di sini? Dan yang paling penting, kenapa ibunya ini menangis?
"Hiks... Kau darimana saja saja? Mom sudah menunggumu sejak tadi."
"Aku dari rumah sakit Mom, medical check bulanan."
"Kau melakukan medical check setiap tanggal 5 Joon. Jangan bohong padaku! Kau mau jadi anak durhaka?!"
Namjoon menghela napasnya pelan. Ini dia, sifat asli sang ibu yang selalu membuat dirinya dan sang ayah pusing. Ibunya ini moody dan sensitif seperti remaja SMA yang baru puber, cerewet, juga protektif.
Terutama pada dirinya.
"Lebih baik kita duduk dulu Mom."
Pria cantik paruh baya itu menurut saja ketika Namjoon melepas pelukannya dan menuntunnya ke sofa.
"Jadi, kenapa mom tiba-tiba datang kemari dan menangis seperti itu?"
"Aku khawatir padamu Joonie."
Namjoon menghela napas pelan, mulai lagi.
"Mom anakmu ini sudah 23 tahun hidup di dunia. Jika hanya khawatir seperti itu, mom bisa menghubungiku lewat telepon."
"Jadi kau tidak suka jika ibumu datang berkunjung?" Jaejoong melemparkan tatapan menusuknya pada sang anak.
"Bukan begitu... hanya saja melihat mom tiba-tiba muncul disini sambil menangis benar-benar membuatku hampir terkena serangan jantung."
Seketika ekspresi Jaejoong berubah panik setelah mendengar kata 'serangan jantung' dari mulut anaknya.
"Kau baik-baik saja? Apa dada sebelah kirimu terasa sakit lagi? Napasmu sesak?"
Jaejoong mengguncang pelan bahu Namjoon seraya meneliti sang anak dari atas sampai bawah dengan mata berkaca-kaca.
"Mom tenanglah. Lebih baik ceritakan permasalahannya agar aku tahu bagaimana harus bersikap."
"Kata Hoseok kau merasakan gejala penyakit jantung dan pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes ECG! Bagaimana aku bisa tenang jika anakku satu-satunya berpotensi meninggal di usia dini karena penyakit jantung!"
Namjoon mengerang. Dasar tukang mengadu, awas saja nanti.
Kepalanya celingukan kesana-kemari, mencari keberadaan Hoseok yang tadi sempat ia lupakan.
Kemana kuda sialan itu?
PING!
Ponsel Namjoon menyala, menampilkan ikon pesan beserta nama Hobi di homescreen. Ia bergegas membuka pesan itu dan membacanya sambil menahan emosi.
Fr: Hobi
Aku lupa belum memberi makan Bonbon di rumah jadi aku pulang dulu. Kau terlihat asik mengobrol dengan ibumu, aku tak tega mengganggu kalian berdua.
Sampaikan salamku pada bibi Kim.
P.s: Terimakasih untuk cemilannya! Kau yang terbaik brother!
"Kuda sialan!" Umpatnya.
Andai saja ini adalah salah satu scene dalam anime, mungkin tubuh Namjoon sudah mengeluarkan api yang berkobar-kobar, saking marahnya.
"Ya, jangan mengumpat di depan ibumu."
"Maaf mom, aku hanya sedikit kesal."
Namjoon mengambil amplop putih berlogo rumah sakit dan memberikannya pada Jaejoong.
"Itu hasil tesku. Semuanya normal."
Pria cantik itu terlihat membaca kertasnya dengan teliti. Bibirnya menghembuskan napas lega ketika matanya menangkap tulisan 'normal' di kesimpulan akhir.
"Ya tuhan... syukurlah kau tidak apa-apa Joon. Aku takut sekali."
Namjoon mengusap-usap punggung sang ibu yang kembali memeluknya. Ia sedikit merasa bersalah karena sudah membuat ibunya khawatir seperti ini.
"Lebih baik mom istirahat sekarang. Sudah malam."
"Ah benar, besok aku harus ke bandara jam 5 pagi."
"Perjalanan bisnis itu?"
"Uhum..." Jaejoong mengangguk. "Ah biarkan saja koperku disitu tidak usah kau bawa ke atas."
"Okay."
"Segera bersihkan tubuhmu lalu tidur. Jangan begadang."
"Yes mom."
"Satu lagi. Jangan lupa minum vitaminmu sebelum tidur!" Teriak Jaejoong sebelum akhirnya menghilang dari tangga.
"Good night mom!"
Namjoon merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku karena seharian mondar-mandir di cafe, lalu merebahkan tubuh lelahnya diatas sofa empuk yang tadi ia duduki.
"Ternyata menjadi pelayan cafe itu melelahkan juga. Pantas saja Hoseok sering mengeluh sakit pinggang setiap pulang kerja."
Pria bersurai ash brown itu terlihat menerawang ke langit-langit rumahnya. Tiba-tiba saja bayangan wajah pria bersurai gelap dengan kemeja baby pink muncul di benaknya.
Ah... mulai lagi.
Namjoon menepuk-nepuk pelan dada kirinya yang kembali berdebar seperti tadi.
"Sebenarnya ada apa dengan jantungku? Apa karena kelelahan?"
Pria itu mendudukkan tubuhnya seraya memegang dada sebelah kiri, tempat jantungnya berada. Ia bisa merasakan debaran yang cukup kuat disana.
"Lebih baik aku istirahat sekarang. Besok aku akan konsultasi pada kekasih Jungkook." Ujarnya final.
.
.
~Buttermints~
.
.
Pagi ini cuaca tampak cerah seperti hari-hari kemarin. Matahari bersinar dengan leluasa tanpa ditutupi oleh awan. Benar-benar hari yang sempurna untuk memulai aktivitas.
Sayangnya suasana hati Seokjin tak secerah matahari yang sedang bersinar. Bagaimana tidak, hari itu Seokjin bangun kesiangan dan membuatnya harus melakukan rutinitas pagi hari dengan amat terburu-buru. Ditambah lagi si bantet pembawa tugas belum datang sampai sekarang, padahal jam masuk kurang 5 menit lagi.
"Kemana bocah pendek itu, kenapa tidak menjawab telepon dan pesanku."
Seokjin kembali mencoba menelepon Jimin untuk yang kesekian kalinya. Jarinya tampak mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan tidak sabar. Jika sampai ia tidak mengumpulkan tugas itu hari ini, bisa-bisa Mrs. Jang memberikan nilai jelek padanya dan ia harus kembali mengulang mata kuliah yang sama tahun depan.
Seokjin tidak akan membiarkan itu terjadi.
"H– Halo?"
"Ya! Park Jimin! Apa kau lupa jika hari ini kau ada kelas pagi?! Cepat datang dan bawa tugas itu!" Teriak Seokjin murka
"A– Aku ah! H– Hyung stop!"
Seketika perempatan imajiner muncul di dahi Seokjin. Emosinya semakin naik ke ubun-ubun ketika sebuah desahan laknat memasuki indera pendengarannya.
"Aku d– di toilet– ngh! Hyung b– berhenti!"
"Min Yoongi, bawa Park Jimin ke kelasnya dalam 2 menit. Jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada anjing kesayanganmu Holy." Ancam Seokjin.
Terdengar suara gesekan dari seberang sana sebelum akhirnya suara yang familiar menyapa indera pendengaran Seokjin.
"Akan kukembalikan dia 1 menit lagi ssh–" Ucapan Yoongi terpotong oleh suara desisan serta teriakan tertahan dari Jimin. "Aku hampir sayang– ah!"
PIP
Seokjin melemparkan ponselnya ke atas meja.
Albino biadab!
Jemarinya meremas-remas lembaran kertas tak terpakai di atas meja. Melampiaskan segala kekesalannya pada benda mati tak bersalah itu. Sungguh, moodnya sekarang benar-benar hancur dan itu semua karena ulah Park bantet dan kekasih albino kesayangannya.
"Selamat pagi, apa benar ini kelas Mrs. Jang?"
Suara berat yang berasal dari ambang pintu berhasil menarik atensi seluruh penghuni kelas, kecuali Seokjin yang masih sibuk dengan kegiatan 'meremas'-nya.
Si pemilik suara tersenyum ketika seisi kelas menggumamkan kata 'ne' secara bersamaan. Gumaman-gumaman bernada penasaran mulai terdengar saat figur tinggi itu memasuki ruangan.
'Astaga! tampan sekali, mahasiswa baru?'
'Aku seperti pernah melihat wajahnya, tapi dimana?'
'Senyumnya sangat manis... Oh! Apa itu lesung pipi?!'
Setelah meletakkan barang-barangnya di meja yang biasa dipakai oleh dosen, pria itu melangkahkan kakinya ke tengah-tengah kelas dan berdiri menghadap mahasiswa yang kini menatapnya penuh tanda tanya.
"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, namaku Kim Namjoon mahasiswa semester 3 program magister jurusan Manajemen. Karena Mrs. Jang sedang menjalani perawatan medis di Amerika, aku ditugaskan oleh beliau untuk mengajar mata kuliah Bahasa Inggris Ekonomi dan Bisnis sampai akhir semester."
Ucapan Namjoon sontak membuat suasana kelas menjadi riuh. Hampir seluruh penghuni kelas menyambut antusias maksud kedatangan pria berlesung pipi itu. Bukan maksud ingin jadi mahasiswa durhaka, tapi siapa yang tidak bahagia jika akhirnya bisa terbebas dari dosen galak nan pelit seperti Mrs. Jang?
"Akhirnya nyonya pelit itu menyingkir juga dari hadapanku! Terimakasih tuhaan!"
Sandeul berucap dengan mata berkaca-kaca sambil menoleh kearah Seokjin yang tidak merespon ucapan sang dosen baru.
"Kim Seokjin, ya! Apa-apaan muka jelek itu?"
"Diamlah, aku sedang kesal." Jawab Seokjin ketus. Pandangannya masih belum teralihkan dari kertas di atas meja.
"Ck! Memang kau tidak senang jika Mrs. Jang diganti? Dan lagi dosen penggantinya sangat keren."
Seokjin menatap malas pada Sandeul yang bicara dengan mata berbinar.
Dasar berlebihan.
"Aku sungguh tidak yakin dengan seleramu Sandeul-ah. Suara seperti kakek-kakek begitu apanya yang keren?"
"Makanya kau lihat dulu ke depan."
Sandeul menolehkan kepala Seokjin ke depan kelas dengan paksa.
"Yak! Singkirkan–"
Seketika Seokjin terdiam saat matanya menangkap sosok berkacamata yang tampak familiar depan kelas. Ia memperhatikan sosok itu lekat-lekat.
Rambut ash brown, tubuh tegap, dan sepasang lesung pipi yang manis? Bukankah dia pria panas yang kemarin di cafe? Si penjaga kasir?
Tiba-tiba saja Namjoon menoleh tepat kearahnya dan membuat Seokjin gelagapan. Ia langsung menundukkan wajanya dalam-dalam, menghindari pandangan tajam dari si pria di depan kelas. Jantung Seokjin berdebar kencang seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
Tenang Seokjin tenang, anggap saja dia tidak melihatmu.
"Wow wow wow... lihat siapa yang terpesona sekarang. Sudah kubilang kan, dia itu- uhuk! Ya! Lepaskan lenganmu dari leherku!"
Sandeul berusaha melepaskan diri dari Seokjin yang tengah memiting gemas lehernya.
"Baiklah, kurasa cukup untuk perkenalannya. Kita mulai kelas hari ini."
Desahan kecewa mengiringi langkah kikuk Namjoon menuju mejanya. Rasa tenangnya mendadak menguap ketika matanya menangkap sosok pria yang semalam mampir ke dalam mimpinya. Sungguh, ini pertama kalinya ia merasa grogi saat berada di depan orang lain. Dan lagi, kenapa jantungnya kembali berdetak tidak normal?
Benar-benar membingungkan.
.
.
~Buttermints~
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore ketika Seokjin keluar dari perpustakaan. Pinggangnya terasa mau patah akibat duduk di kursi terlalu lama, begitu pula dengan matanya yang pedih karena digunakan untuk menatap layar laptop selama berjam-jam. Rutinitas bertapa di perpustakaan itu sudah berlangsung selama sebulan, tepat setelah judul skripsinya diterima oleh dosen.
Menjadi mahasiswa tingkat akhir seperti Seokjin sungguh sangat melelahkan. Menyusun skripsi, bolak-balik mendatangi dosen untuk konsultasi, lalu merevisi tulisan yang salah. Apalagi jika harus mengulang kelas seperti dia, rasa lelahnya menjadi dua kali lipat karena disamping menyelesaikan skripsi, ia juga diharuskan untuk memenuhi tugas-tugas yang diberikan di kelas. Untung saja ia hanya mengulang satu mata kuliah, jadi tidak terlalu memberatkan.
"Ya tuhan, aku lapar sekali."
Seokjin menyusuri lorong kampus dengan langkah gontai, tangannya bergerak mengusap-ngusap perutnya yang berteriak minta diisi. Saat ini suasana kampus sudah lebih sepi, hanya terlihat beberapa orang saja yang masih mondar mandir di area kampus.
"Aku akan langsung pesan delivery begitu sampai rumah nanti."
Bayangan tumpukan box ayam goreng serta sofa empuk kesayangannya membuat Seokjin mempercepat langkahnya ke arah parkiran mobil.
'Bagi yang belum mengumpulkan tugas artikel, kutunggu sampai jam 5 sore. Ruanganku bersebelahan dengan ruangan Mrs. Jang.'
Pria manis itu menghentikan langkahnya saat kalimat Mr. Kim di akhir kelas tadi muncul di kepalanya.
Sial! Aku lupa!
Seokjin segera berbalik dan memacu langkahnya menuju ruangan Mr. Kim. Memang ada beberapa orang yang belum mengumpulkan tugasnya tadi dan Seokjin termasuk kedalamnya. Kenapa bisa? Karena Jimin ternyata tidak masuk kelas dengan alasan pantatnya sakit dan susah berjalan.
Alasan yang menurut Seokjin sangat konyol.
Yoongi yang mengantarkan artikel itu pada Seokjin saat jam istirahat di perpustakaan. Sungguh, saat itu Seokjin sangat ingin membenturkan wajah tanpa dosa Yoongi ke tembok. Pasangan mini itu benar-benar menguras habis kesabarannya hari ini.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "5 menit lagi, semoga masih sempat."
Begitu sampai di deretan ruangan dosen fakultasnya, Seokjin memperlambat langkahnya untuk mencari ruangan yang menjadi tujuannya. Senyumnya seketika mengembang saat melihat pintu ruangan milik Mr. Kim masih terbuka.
Tok– Tok–
Namjoon mengalihkan fokusnya ke ambang pintu. Napasnya sedikit tercekat ketika melihat siapa yang datang. Namun bukan Namjoon namanya jika tidak bisa mengontrol ekspresi wajah agar tetap tenang di situasi apapun.
"Annyeonghaseyo, maaf mengganggu waktumu Mr. Kim."
"It's okay, come in."
Seokjin melangkah masuk ke dalam ruangan, tak lupa sebelumnya menutup pintu karena AC di ruangan itu sedang menyala, kebiasaan yang selalu Seokjin lakukan di rumah.
"Aku datang untuk menyerahkan tugas artikel. Maaf jika sedikit terlambat." Ujar Seokjin seraya menyerahkan artikelnya pada Namjoon.
"Kim Seokjin dan Park Jimin."
Namjoon membaca nama yang tertera di cover kemudian memberikan tanda centang pada kolom yang diyakini Seokjin sebagai daftar pengumpul tugas. Sesekali pria cantik itu mencuri-curi pandang kearah sang dosen. Ia bisa merasakan debaran menyenangkan di dada sebelah kirinya saat matanya bergerak mengamati Namjoon.
Ya tuhan, pria ini benar-benar tipeku sekali.
"Terimakasih Seokjin-ssi, kau boleh pulang sekarang."
Namjoon melemparkan senyumnya pada Seokjin yang tampak salah tingkah.
"A- Ah ne... Terimakasih, aku permisi."
Seokjin membungkukkan tubuhnya sebentar, kemudian cepat-cepat melangkah menuju pintu. Ia benar-benar ingin segera pulang lalu makan dan curhat pada Taehyung, sahabatnya.
Klek–
He? Kenapa tidak bisa dibuka?
Ia mencoba memutar-mutar pegangan pintu sambil sesekali mendorong pintu itu, tapi hasilnya nihil. Pintu kayu itu tetap tidak mau terbuka. Namjoon yang menyadari keanehan pada Seokjin akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Ada apa Seokjin-ssi?"
"Pintunya tidak mau terbuka, ugh!"
Namjoon menaikkan sebelah alisnya heran, tidak bisa terbuka? Bukankah tadi pintu itu baik-baik saja? Ucapnya dalam hati. Sedetik kemudian ingatan tentang pesan si office boy untuk tidak menutup pintu melayang-layang di kepalanya.
"Sial!"
.
.
TBC
.
.
I'm back!
Maaf lama menunggu hehehe.
Terimakasih banyak buat yang udah membaca, ngefavorite, follow, dan review FF ini! FF ini bukan apa-apa tanpa readernim sekalian.
Jangan lupa ketik komentar dan saran kalian di kolom review yaa~
Aku tunggu!
Buat yang nungguin FF produce update, mohon bersabar yaa, aku janji bakalan segera update dalam waktu dekat ^^
Thankyou~
Love
~Buttermints~
