Dimple

Chapter 3: Phobia

.

.

BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Kim Namjoon 23 y.o

Kim Seokjin 24 y.o

Rating: M

.

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

"Ayolah angkat."

Namjoon terlihat sibuk mondar-mandir dengan ponsel di telinganya. Sejak tadi ia berusaha menghubungi Hoseok dan Jungkook secara bergantian, tapi pria kuda dan kelinci bongsor itu sama sekali tidak mengangkat panggilannya.

'Nomor yang anda tuju tidak menjawab. Silah–'

PIP

Pria tinggi itu memutus sambungan telepon dengan emosi.

Sial! Kenapa tak ada satupun yang menjawab panggilanku disaat penting begini?!

Namjoon memijit pelipisnya pelan. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Ia sudah mencoba mendobrak pintu sialan itu bersama Seokjin tadi, tapi tetap saja tidak mau terbuka. Malah sekarang lengan kanannya sakit karena dipakai untuk mendorong permukaan keras itu.

Matanya melirik ke arah pria berbahu lebar yang tampak sibuk menelepon seseorang dengan wajah panik.

"Cepat angkat Min Yoongi." Ujarnya gusar.

Sudah hampir 15 kali dia menelepon Yoongi, namun tak ada satupun yang diangkat. Nomor Jimin dan Taehyung tidak bisa dihubungi, jadi satu-satunya harapan adalah menghubungi Yoongi.

"Halo?"

Seokjin menghembuskan napas lega ketika mendengar suara serak khas orang bangun tidur itu.

"Syukurlah kau menjawab teleponku Yoongi-ah! Aigoo, aku tak tahu harus menghubungi siapa lagi untuk minta tolong."

"Minta tolong? Minta tolong apa?"

"Aku ter–"

DRRT

Tiba-tiba ponsel Seokjin bergetar dan sambungan telepon terputus begitu saja. Seokjin menatap layar ponselnya yang menghitam dengan pandangan horror.

Bangsat.

"Ada apa?"

Seokjin menoleh ke arah Namjoon dengan wajah sedih.

"Bateraiku habis. Aku lupa tidak bawa charger ataupun powerbank."

"Aku bawa charger. Kau bisa pakai dan menghubungi temanmu lagi."

"Benarkah? Terimakasih tuhaan! Tenang Mr. Kim, kita akan segera keluar dari sini!" Ujar Seokjin girang.

Sudut bibir Namjoon terangkat melihat tingkah Seokjin. Rasa kesalnya mendadak hilang begitu saja setelah melihat senyuman yang tercetak jelas di wajah sang mahasiswa.

"Kau bisa kemari Seokjin-ssi. Stop contactnya ada di dekat mejaku." Ujarnya seraya mengeluarkan charger dari dalam tas.

Seokjin menghampiri Namjoon dengan tergesa, kemudian meraih charger yang disodorkan padanya.

Pria manis itu bersorak dalam hati melihat ponselnya kembali menyala setelah dihubungkan dengan daya listrik. Ia segera mencari nama Yoongi di daftar kontaknya, lalu menekan tombol dial berwarna hijau.

"Kenapa tadi kau matikan teleponnya?"

"Bateraiku habis tadi. Ya ya aku butuh bantuanmu Yoongi-ah!"

"Bantuan apa? Cepat katakan, aku mau tidur."

"Jadi–"

PATS–

"Hyah!"

Seokjin melempar ponselnya lalu meloncat kearah sosok tinggi di sebelahnya ketika lampu tiba-tiba padam. Sementara Namjoon yang mendapat terjangan mendadak, reflek merengkuh tubuh ramping Seokjin agar mereka berdua tidak jatuh terjerembab ke lantai.

"Shit! Ada apa dengan lampunya?!"

Teriakan itu teredam oleh dada Namjoon yang menjadi tempatnya menyembunyikan wajah. Kedua lengannya tampak melingkari pinggang Namjoon, memeluknya erat-erat.

"Kurasa ada pemadaman. Apa kau takut gelap?"

Namjoon mencoba membuat suaranya senormal mungkin. Tubuhnya mendadak mengalami tremor sejak Seokjin memeluknya tadi. Ditambah sekarang pelukan itu terasa semakin erat pada pinggangnya.

Sungguh, jantungnya berdetak sangat kuat di dalam sana dan seperti akan meledak saat itu juga.

"A- aku tidak takut, hanya– sedikit terkejut."

Tentu saja Seokjin berbohong. Seluruh alam pun tahu jika Seokjin sangat takut dengan yang namanya gelap. Hanya saja dia benci mengakuinya kepada sembarang orang.

Salahkan Seokjin dengan gengsinya yang setinggi gunung Everest.

Perlahan jemari Namjoon bergerak membelai punggung Seokjin yang bergetar samar. Jangan salah paham, ia hanya mengikuti instingnya untuk melindungi pria berbahu lebar itu.

"Tenang, lampunya akan segera menyala."

Entah sadar atau tidak Seokjin semakin menyandarkan tubuhnya di pelukan Namjoon. Rasa takutnya berangsur-angsur hilang berkat rasa aman yang diberikan oleh si pria berlesung pipi.

"J- jam berapa sekarang?"

Namjoon melirik kearah ponsel di tangan kirinya.

"Jam setengah 7."

"Kau tidak coba menghubungi teman atau kenalanmu yang bisa membantu?"

"Mereka tidak menjawab telepon dan pesanku."

"Coba telepon lagi. Siapa tahu sekarang mereka menjawabnya."

Seokjin mulai mengeluarkan jurus rengekannya sekarang.

"Bateraiku tinggal 2 persen Seokjin, tak akan cukup untuk dibuat menelepon."

"Lalu bagaimana kita keluar dari sini? Aku tidak mau terkurung di tempat gelap ini semalaman." Cicitnya.

Namjoon tersenyum tipis. Jemarinya mengusap-usap surai hitam Seokjin, persis seperti yang dilakukan oleh ibunya ketika ia sedang dilanda rasa takut saat masih kecil.

"Tenanglah, kita akan segera keluar dari sini."

Seokjin hanya bisa mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi, baterai ponsel mereka sama-sama habis dan satu-satunya jalan keluar dari ruangan ini hanyalah pintu menyebalkan itu saja. Tak ada jendela ataupun lubang-lubang lain yang bisa dilewati untuk keluar dari ruangan ini.

KRAK!

Sepasang pria itu terlonjak kaget. Seokjin semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh tegap Namjoon.

"B– bunyi apa itu?!" Ujar Seokjin panik.

Sumpah, dia takut sekali.

BRAKK!

Terdengar satu gebrakan keras sebelum akhirnya pintu kayu itu terbuka. Menampilkan dua orang dengan tinggi yang berbeda di ambang pintu.

"Kenapa lama sekali Jung?"

Hoseok memutar matanya malas.

"Aku masih membantu Mingyu membereskan cafe-mu itu eoh. Lagipula–"

Seketika kata-katanya berhenti begitu melihat sosok lain di pelukan Namjoon. Senyum kesalnya berubah menjadi seringai menyebalkan yang sangat Namjoon benci.

"Ow... maafkan aku yang mengganggu momen intimmu Namjoon-ah."

Namjoon menghiraukan kalimat tidak pantas dari sang sepupu. Perhatiannya kembali pada Seokjin yang bersandar lemas di dadanya dengan mata terpejam.

"Seokjin, kita sudah bisa keluar sekarang."

Tak ada jawaban.

Pria tinggi itu mengernyit. Ia sedikit melonggarkan pegangannya pada pinggang ramping Seokjin.

"Seokjin?"

Namjoon mengguncang pelan bahu lebar Seokjin, tapi pria itu sama sekali tak bergeming. Rasa panik mulai merambati hatinya.

Seokjin pingsan!

"Hoseok, tolong bawa tasku dan Seokjin. Aku akan membawa Seokjin keluar."

Hoseok melemparkan pandangan heran pada Namjoon yang sudah menggendong Seokjin dan membawanya keluar dengan terburu-buru.

Sungguh, seumur hidupnya baru kali ini ia melihat Namjoon begitu peduli pada oranglain yang bukan orang-orang dekatnya. Apa jangan-jangan pria tadi adalah kekasih rahasia Namjoon?

Ah, aku benar-benar penasaran. Akan ku interogasi bocah penghancur itu nanti.

"Kau bisa pergi Hoseok-ah, biar aku yang urus pintu ini." Ujar pria paruh baya berseragam satpam.

"Ah– ne! Terimakasih paman Kim." Hoseok segera memungut dua tas yang tergeletak di atas meja. "Aku pergi dulu."

Pria bersurai oranye itu segera menyusul Namjoon yang sudah menghilang entah kemana.

"Sial, kemana perginya mereka?"

Hoseok celingukan di perempatan lorong yang sepi. Tak ada siapapun disana kecuali dirinya. Hoseok menggeram kesal.

Terkutuklah Kim Namjoon dan tas seberat beton miliknya.

.

.

~Buttermints~

.

.

Seorang pria bersurai blonde tampak sibuk mondar-mandir di dapur sebuah apartemen. Tubuh semampainya hanya dibalut dengan kaos oblong berwarna putih dan celana merah yang kelewat pendek.

Bibirnya meniup-niup sendok berisi kuah samgye-tang yang baru saja matang kemudian mencicipinya.

"Woah..."

Wajahnya menampakkan ekspresi puas begitu kuah gurih itu menyapa indera perasanya.

"Merk ini lebih enak daripada yang kubeli biasanya. Besok-besok aku akan beli merk ini saja." Ujarnya gembira.

Pria itu kembali disibukkan dengan kegiatan 'pasca memasak' yang sebenarnya hanya menghangatkan samgye-tang instan yang dibelinya di supermarket tadi sore.

"Tae-hyung?"

Pemilik surai blonde menoleh ke sumber suara yang berasal dari belakang tubuhnya. Manik hitamnya mendapati sosok tinggi yang tengah sibuk menguap di ambang pintu dapur.

"Ah sudah bangun? Kebetulan sekali aku baru selesai memasak samgye-tang."

Sosok itu menautkan alisnya.

"Kau memasak? Jinjja?"

Pria bercelana merah tersenyum kotak.

"Tentu saja. Untuk apa aku ikut kursus memasak apabila tidak kupraktekkan. Tunggulah di meja makan."

Pria satunya hanya mengedikkan bahu sambil melangkahkan kakinya menuju meja makan yang bersebrangan dengan dapur. Di belakangnya menyusul pria bersurai blonde dengan mangkok besar di tangannya.

Namanya Kim Taehyung, mahasiswa tingkat akhir jurusan Psikologi dengan fokus Psikologi Klinis di salah satu universitas ternama di Seoul. Orang ini cukup populer di kampusnya. Bagaimana tidak, dia memiliki wajah tampan-manis menurut Jungkook-, tubuh ramping, jenius, punya pekerjaan sampingan di rumah sakit sebagai psikolog klinis, dan tak ketinggalan status kekayaan keluarganya.

Orang-orang menyebutnya sebagai definisi dari sebuah kesempurnaan, tapi tidak bagi Taehyung. Menurutnya semua itu biasa-biasa saja, bahkan masih banyak orang yang lebih daripada dia.

Contohnya pria yang sedang makan di depannya ini, Jeon Jungkook alias kekasih sahnya.

Siapa yang tak kenal Jeon Jungkook, anak dari seorang pemilik perusahaan komunikasi raksasa di Asia, Jeon Corp. Bisa dibayangkan sekaya apa kekasihnya itu. Belum lagi wajah tegas, tubuh kokoh yang terpahat sempurna bak dewa yunani, serta aura dominan yang begitu kuat, menambah daya tarik dari seorang Jeon Jungkook.

Muda, tampan, seksi, dan kaya raya. Siapa yang bisa menolak pesonanya?

"Kau tak akan kenyang meski berlama-lama melihat wajahku Tae, makan."

Taehyung terkesiap, ia segera mengalihkan pandangannya pada mangkuk nasi yang tadi sempat terabaikan.

Ketahuan.

"Aku tidak memperhatikanmu bodoh. Dan sebut aku dengan embel-embel hyung, aku lebih tua darimu."

"Lebih tua tapi tetap aku yang jadi top saat di ranjang. Lagipula sebutan Tae-tae terdengar manis untukmu." Jawabnya enteng.

Taehyung tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu. Pertama, malu karena sebutan yang sialnya memang terdengar manis itu, dan kedua, kata-kata setengah vulgar yang membawa-bawa urusan ranjang.

Terkutuklah Jeon Jungkook dan mulut vulgarnya yang manis.

"Oh, kau menyukai panggilan itu rupanya."

Pria bersurai dark brown itu menyeringai jahil. Menggoda sang kekasih merupakan kegiatan yang menyenangkan baginya. Wajah Taehyung akan memerah kemudian bibir penuh itu akan mengerucut minta dicium.

Sungguh ia tak bisa menahan lonjakan hormonnya jika sudah bersama Taehyung, apalagi jika hanya berdua saja seperti ini. Rasanya ia ingin melucuti celana kelewat pendek yang menggantung di pinggang Taehyung sekarang juga, lalu meremat bokong padat itu.

Kepalanya seketika menunduk menatap bagian tengah celana longgarnya yang tampak menggembung.

Shit, aku tegang.

"–kook? Ya! Jeon Jungkook! Kau mendengarkanku atau tidak?!"

Jungkook tersentak, wajahnya kembali mendongak menatap Taehyung yang tengah memandanginya kesal.

"Err... apa tadi?"

"Aku tanya, apa Namjoon-hyung jadi kemari?"

"Hum? Memang dia mau kesini– aduh! Sakit hyung!"

Jungkook mengusap-usap kepalanya yang baru saja mendapat geplakan sayang dari kekasih manisnya.

"Makanya, berhentilah berpikiran kotor agar volume otakmu tidak menyusut dan terkena pikun dini. Tadi kan kau sendiri yang bilang jika Namjoon-hyung akan kemari." Kesalnya.

"Benarkah? Aku lupa hehe." Ujar yang lebih muda nyengir kelinci.

"Memang dia tidak menghubungimu?"

Jungkook menggeleng santai.

"Mungkin tidak jadi. Kurasa dia sibuk dengan kewajiban barunya sebagai dosen pengganti."

"Woahh... dosen pengganti? Keren!"

Pria bergigi kelinci memutar matanya malas.

"Menjadi seperti itu sangat mudah bagi pemilik sexy brain sepertinya. Bukan hal yang mengherankan"

"Setidaknya dia menggunakan otaknya untuk hal-hal yang berguna, tidak sepertimu, kelinci hormonal."

Taehyung melengang pergi dari ruang makan dengan piring kotor di tangannya. Meninggalkan Jungkook yang merengut kesal.

Hey! Dia masih 20 tahun, jadi wajar kalau kadar hormonnya sering melonjak naik. Salahkan saja Taehyung yang terlalu menggoda hingga mampu memancing nafsunya sampai ke ubun-ubun.

"Tunggulah di ruang tengah Kook! Akan kubawakan cemilan dan cola untuk nonton film!"

"Baik princess."

Jungkook segera pergi dari ruang makan sebelum kepalanya kembali benjol karena lemparan talenan dari Taehyung. Kelinci bongsor itu tampak tertawa puas karena berhasil menggoda kekasih galaknya.

Hubungannya dan Taehyung baru berjalan sekitar 8 bulan dan mereka mulai tinggal bersama sejak 5 bulan yang lalu. Sedikit sulit untuk membawa Taehyung tinggal bersamanya, bukan karena Taehyung yang tidak mau, melainkan orangtuanya yang sedikit sulit untuk dibujuk. Jungkook sampai harus beberapa kali bertemu dengan orangtua Taehyung untuk sekedar meyakinkan bahwa anaknya akan baik-baik saja selama tinggal bersamanya.

Masalah umur juga sempat menjadi topik bahasan saat itu. Untuk yang satu ini Jungkook bisa memaklumi. Orangtua mana yang akan tenang jika anaknya diajak tinggal bersama oleh pria berusia 20 tahun sepertinya? Yang ada mereka malah takut jika anaknya akan terlantar dan terjerumus ke hal-hal yang tidak baik.

Tapi berkat usaha kerasnya, ia berhasil meyakinkan kedua orangtua Taehyung dan membawa pria itu tinggal bersamanya.

"Melamunkan apa?"

Suara berat itu berhasil membuyarkan lamunan Jungkook. Matanya beralih menatap Taehyung yang tengah menata beberapa kaleng soda dan semangkuk besar potato chips di atas meja.

"Tentu saja dirimu."

"Berhenti menggodaku bocah. Kutebak kau sedang asik memikirkan hal-hal kotor tadi." Sahut Taehyung seraya melangkahkan kakinya menuju seperangkat home theatre yang berada tak jauh dari meja.

"Aku benar memikirkanmu hyung. Kenapa kau selalu menuduhku seperi itu eoh?"

"Karena aku bisa membacanya dari wajahmu, aku ini psikolog– Aish, kemana kaset DVD yang baru kubeli tadi."

"Ya tapi tak semua analisamu itu-"

Kalimat Jungkook seakan tercekat di tenggorokan ketika Kim Taehyung dengan seenaknya menungging tepat di hadapannya. Bokong mulusnya tampak mengintip dari celah celana katun yang kelewat pendek itu. Kaos putihnya tersingkap ke atas, menampakkan kulit tan eksotis favorit Jungkook.

Gulp.

Jungkook meneguk ludahnya kasar. Pemandangan di depannya ini sungguh membuatnya lapar, dan ia ingin memakan Taehyung sekarang juga.

Taehyung yang tidak tahu bahwa keselamatan lubangnya sedang terancam, masih saja sibuk mencari-cari kaset DVD barunya yang menghilang. Tubuhnya melonjak senang ketika ia menemukan kaset DVD berlabel Jumanji.

"Yeah! Akhirnya kutemukan juga. Kook, aku sudah– Hyah!"

Pria berkulit tan itu memekik saat tubuhnya terdorong ke depan. Kedua tangannya reflek berpegangan pada tembok di depannya agar tubuhnya tidak terbentur.

"Yak! Apa yang–"

Tubuhnya membeku ketika sesuatu yang keras menggesek belah pantatnya. Taehyung tidak bodoh untuk menyadari bahwa benda itu adalah kejantanan milik pria yang tengah melingkarkan lengan kokohnya pada pinggang Taehyung.

"Ah- Kook!"

Taehyung berjengit kala bibir tebal Jungkook mulai mencecap perpotongan lehernya yang sensitif. Tangannya mencengkeram tembok di depannya kuat-kuat, menyalurkan rasa geli yang membuat sekujur tubuhnya merinding.

"Jungkook! Berhen– hmpt!"

Jungkook memilih untuk membungkam mulut cerewet kekasihnya dengan lumatan. Sementara tangannya sibuk membelai-belai dada hingga perut rata Taehyung dari dalam kausnya.

Tubuh Taehyung tampak tersentak beberapa kali saat Jungkook dengan sengaja mencubit nipple yang sudah mencuat karena terangsang.

Oh, tubuh Taehyung yang sensitif merupakan anugerah tersendiri baginya.

Napas mereka terengah begitu ciuman singkat namun panas itu terlepas. Bibir Jungkook kembali menginvasi daerah leher dan telinga milik Taehyung.

"Lain kali hati-hatilah dengan posisimu, hyung."

Jungkook menggesekkan hidungnya ke ceruk leher Taehyung, menghirup aroma manis vanilla yang menguar dari sana.

"Aku tak ingin kau sampai diperkosa orang gara-gara posisi mengundang yang kau buat."

Taehyung menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha untuk menahan suara desahan yang akan membuat nafsu kelinci buas ini semakin melonjak.

"Aku tak bisa menahannya lagi. Kau bisa merasakannya kan, hyung?" Ujar yang lebih muda.

Ugh, tentu saja Taehyung bisa merasakan gejolak nafsu yang Jungkook sebutkan. Batang keras itu terus menusuk bagian belakang tubuhnya dengan tidak sopan sejak tadi. Membuatnya turut merasakan sengatan gairah melalui gesekan kurang ajar itu.

"Y– yah! Berhenti– ah!"

Pria bersurai blonde mendesah nikmat ketika tangan Jungkook menelusup masuk ke dalam celananya dan menyentuh pusat gairahnya yang sudah menegang sempurna. Tangannya semakin mencengkeram erat tembok di depannya.

Jungkook menjilat bibirnya lapar. Kekasihnya benar-benar terlihat menggiurkan dan Jungkook akan memakannya sekarang juga. Tanpa menunggu lagi, ia segera menurunkan celana tidurnya dan mengeluarkan benda kebanggaannya dari dalam sana.

Perlahan ia tarik celana merah Taehyung hingga menampakkan sepasang bongkahan mulus dengan lubang berkerut yang berkedut di tengahnya.

Damn! Ia harus mendapatkannya sekarang juga!

"Hyung aku akan masuk sekarang."

A– apa? Masuk sekarang? Tanpa lube? Disini?!

Taehyung sontak menoleh ke belakang dan menatap Jungkook horror.

"Kook t–tunggu! Ugh–"

Kakinya bergetar saat kejantanan Jungkook menggoda pintu analnya. Ia bisa merasakan deru napas Jungkook menggelitik lehernya.

"Tenang hyung– ssh. Aku akan pelan-pelan."

"Ah! J– jungkook!"

Pekikan tertahan meluncur bebas dari bibir Taehyung kala ujung kejantanan yang lebih muda mulai memasuki analnya. Matanya tampak berkaca-kaca, menahan rasa perih karena lubang keringnya dimasuki tanpa pelumas sedikitpun.

"Ssh– open up for me, baby–"

Tangan Jungkook mengocok kejantanan Taehyung, mencoba mengalihkan rasa sakit yang kekasihnya rasakan.

"Slow down– ah! K– kookie."

BRAK!

Tiba-tiba saja pintu apartemen mewah itu menjeblak terbuka, mengejutkan Jungkook hingga ia tak sengaja menghentakkan pinggangnya.

"AHK!"

Jerit sakit Taehyung seketika menggema di ruangan itu.

"Hyung! Ssh– maaf aku tak sengaja. S– sebentar, kukeluarkan."

Jungkook panik melihat Taehyung yang menangis kesakitan. Bibirnya mengecupi pundak kekasihnya seraya mengeluarkan kejantanannya dari dalam Taehyung perlahan.

Ia segera membenahi baju Taehyung begitu mereka terpisah dan membawa pria itu kedalam pelukannya.

Suara derap langkah terdengar mendekati ruang tengah dimana ia berada. Matanya memicing tajam, siap memaki siapapun yang sudah lancang masuk kedalam apartemennya tanpa permisi.

"Jungkook! Tolong aku!"

Alis Jungkook bertaut ketika matanya menangkap sosok tinggi yang ia kenal dengan seorang pria lain dalam gendongannya.

"Namjoon-hyung?"

.

.

TBC

.

Update~!

Yang kemarin tanya kapan KookV muncul, udah aku munculin tuh hahaha XD.

(Maafkan scene NC yang terlihat amatiran)

Terimakasih bagi readernim yang udah sempetin baca, ngefollow, favorite, dan ngereview ff ini.

Jangan lupa tulis saran dan komentar kalian di kolom review yaa~~

Terimakasih banyak!

Love

~Buttermints~