Dimple
Chapter 4: Feelings
.
.
BTS Fanfiction
Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy
Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv
Kim Namjoon 23 y.o
Kim Seokjin 24 y.o
Rating: M
.
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Taehyung tampak sibuk membuka hoodie berwarna khaki yang dipakai Seokjin. Di belakangnya Namjoon berdiri kaku sambil memperhatikan gerak-gerik Taehyung. Ya, hanya berdiri, karena dia tak tahu harus melakukan apa untuk menolong Seokjin.
Saat ini mereka ada di kamar Taehyung-Jungkook dengan Seokjin yang terbaring di ranjang king size milik mereka. Namjoon sedikit gusar karena pria yang menjabat sebagai mahasiswanya itu tak juga sadar dari pingsannya.
Dia seperti merasa khawatir, entah apa alasannya.
"Sejak kapan dia pingsan hyung?"
"Kurang lebih setengah jam yang lalu."
"What?! Sudah setengah jam dan kau malah membawanya kemari? Bukan ke rumah sakit?!"
Taehyung menjerit histeris. Pasalnya dalam situasi normal, seseorang pingsan hanya selama 1-2 menit atau paling lama 5 menit saja. Jika lebih dari itu pasien harus segera mendapat penanganan medis karena ditakutkan ada faktor lain yang membuat pasien tak kunjung sadar.
Dan penanganan seperti itu hanya akan didapat di rumah sakit! Bukan di apartemennya!
Namjoon yang mendapat teriakan sekaligus lirikan tajam hanya bisa menggaruk belakang kepalanya.
"Karena kau punya pengalaman di bidang medis dan bisa membantu Seokjin makanya kubawa dia kemari."
Taehyung mendengus.
"Aku ini seorang psikolog klinis hyung, bukan dokter. Aku tak pernah mendapat pelatihan medis untuk menangani orang pingsan atau semacamnya."
"Heh? Jadi kau tidak bisa?"
"Tentu saja tidak! Aish, sebenarnya kau ini sungguhan pintar atau pintarmu itu hanya musiman hah?"
Pemilik surai blonde kembali mengeluarkan makian dari bibirnya. Ya beginilah dia kalau sudah menyangkut hyung kesayangannya, Seokjin. Siapapun akan terkena makian atau bogeman mentah jika berani berbuat macam-macam pada pria cantik itu.
"Maaf, tadi aku panik dan satu-satunya tempat yang muncul di kepalaku adalah apartemenmu." Ujar Namjoon penuh rasa bersalah.
"Oke lupakan. Sekarang tolong susul Jungkook di dapur dan suruh dia cepat kemari dengan teh hangatnya."
Namjoon tampak menautkan alis saat melihat Taehyung berjalan menuju lemari dengan ringisan dan langkah yang tertatih-tatih.
"Kenapa cara berjalanmu seperti itu? Kakimu sakit?"
"Bukan kakiku, tapi pinggulku yang sakit." Sungut Taehyung.
"Pinggul? Memang kau baru saja jatuh?"
"Tanya pada sepupu bodohmu itu. Dia yang menyebabkan aku seperti ini."
Setelah mendengar pengakuan kelewat jujur dari Taehyung, Namjoon melesat keluar untuk meminta penjelasan dari Jungkook. Bukan dia mau ikut campur, tapi ucapan Taehyung barusan mengindikasikan perbuatan kekerasan. Sebagai yang lebih tua tentu ia harus menasehati anak bontot keluarga Jeon itu jika benar ia melakukan kekerasan terhadap Taehyung.
Sementara itu, Jungkook tampak sibuk mengaduk-aduk 4 cangkir teh secara bergantian sambil mengompres pipi kirinya dengan kaleng soda dingin.
Bibirnya mencebik kesal mengingat kejadian yang terjadi beberapa menit lalu. Pertama, acara 'panas'-nya dengan Taehyung harus gagal karena kedatangan tiba-tiba sang hyung 'perusak'. Kedua, pipinya sakit karena mendapat tinjuan sayang dari Taehyung. Ketiga, Taehyung mengabaikannya dan lebih memilih untuk mengurusi Seokjin yang pingsan.
Benar-benar malam yang sial.
"Taehyung pasti tak mau kusentuh setelah ini- ssh."
Jungkook meringis menahan sakit saat bibirnya bergerak. Kekasihnya itu pernah ikut organisasi Hapkido saat awal Jungkook bertemu dengannya kurang lebih dua tahun yang lalu. Meski sekarang dia sudah tidak aktif lagi karena sibuk mengejar titel sarjana, pukulannya masih terasa menyakitkan seperti dulu.
Ah, Jungkook jadi bernostalgia masa-masa awalnya mendekati Taehyung.
"Jungkook, Taehyung menunggu tehnya di kamar."
Senyum pria bersurai dark brown itu seketika luntur begitu suara berat Namjoon memasuki gendang telinganya. Ia meletakkan kaleng soda di atas meja dan melengang pergi begitu saja dengan nampan berisi teh.
Sepertinya kelinci kita merajuk eh?
Namjoon yang tidak mengerti hanya mengekor di belakang Jungkook.
"Apa kau sedang bertengkar dengan Taehyung?"
Jungkook batal memutar kenop pintu kamar saat mendengar pertanyaan Namjoon. Ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Namjoon.
"Memang kenapa?"
"Jika kau ada masalah, selesaikan baik-baik. Jangan kasar dengan pasanganmu."
Pria bergigi kelinci tampak melongo mendengar ujaran berbentuk nasihat yang dilontarkan oleh hyungnya.
Berbuat kasar? Apa maksudnya?
"Maksudmu hyung?"
"Tadi kulihat Taehyung berjalan sedikit pincang. Dia bilang pinggulnya sakit. Ketika aku bertanya kenapa, dia menyuruhku menanyakannya padamu karena kaulah penyebab pinggulnya sakit."
Ah... jadi itu sebabnya aku diinterogasi begini.
"Aku sama sekali tidak melakukan kekerasan padanya, oke? Dan alasan pinggulnya sakit itu karena aku sedikit kelepasan saat 'bermain' tadi."
Dahi Namjoon tampak berkerut. Tak paham dengan kata-kata Jungkook yang sedikit rancu.
"Bermain?"
BRAK!
Dua pria tinggi itu terlonjak kaget saat pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kasar.
"Berhenti bergosip dan bawa tehnya ke dalam. Seokjin-hyung butuh minum."
"Dia sudah bangun?" Ujar Namjoon.
"Ya, baru– yah!"
Taehyung memekik ketika Namjoon melesat masuk ke dalam kamar. Tindakan tiba-tiba itu mengundang tatapan penuh tanda tanya dari Jungkook.
"Tidakkah menurutmu Namjoon-hyung terlihat aneh Tae?"
"Pikir saja sendiri." Jawab Taehyung ketus. Pria bersurai blonde itu melengang masuk ke kamar begitu saja, meninggalkan Jungkook yang kembali mencebik karena diabaikan.
.
.
~Buttermints~
.
.
Seokjin tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya ketika Namjoon memasuki kamar dengan wajah panik. Keberadaan Namjoon di apartemen Taehyung mengundang banyak pertanyaan di kepalanya yang masih berdenyut sakit.
Sedang apa dosen ini di rumah Taehyung?
"Seokjin-ssi? Kau tak apa?"
"K- kenapa kau bisa di sini Mr. Kim?"
Namjoon mengernyit.
"Tadi kau pingsan di kantorku, lalu kubawa ke apartemen Jungkook untuk diberi pertolongan."
"J– Jungkook?"
Pria berlesung pipi menoleh ke arah Taehyung dengan wajah bingung.
"Apa dia amnesia?"
"Menjadi linglung setelah pingsan merupakan hal biasa hyung. Salah satu efek yang dirasakan orang sehabis pingsan." Jelas Taehyung.
Namjoon menganggukkan kepala seraya menghembuskan napas lega. Pandangannya kembali fokus pada Seokjin yang tengah meminum teh dibantu Taehyung.
"Kenapa Seokjin-hyung bisa bersamamu? Kalian saling kenal?" Tanya Jungkook penasaran.
"Dia mahasiswaku di kelas. Tadi kami terjebak di kantorku karena pintunya rusak."
"Lalu kenapa Seokjin-hyung bisa pingsan?"
Ganti Taehyung yang melemparkan pertanyaan. Tak dapat dipungkiri bahwa dia juga penasaran dengan Namjoon dan Seokjin. Setahunya mereka berdua tidak saling kenal meski Seokjin lumayan dekat dengan Jungkook yang notabene sepupu Namjoon.
"Kurasa Seokjin-hyung 'kelelahan'."
Pria bergigi kelinci itu langsung mendapat lirikan tajam dari Taehyung akibat pernyataan bernada ambigu yang baru saja dia ucapkan.
"Diam, atau kucabut gigi depanmu agar kau tak bisa bicara normal lagi Jeon. Namjoon-hyung, jelaskan."
Namjoon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat interaksi Jungkook dan Taehyung.
"Tadi dia mengumpulkan tugas di kantorku. Saat akan pulang pintunya macet, jadi kami terjebak di sana sampai malam. Lalu-"
"Tunggu! Kalian terkunci? Kenapa tidak menghubungiku atau Jungkook?" Potong Taehyung.
"Aku sudah berkali-kali menghubungimu Tae, tapi kau tidak menjawab."
Taehyung beralih menatap Seokjin heran. Seokjin menelpon? Kapan? Setahunya dari tadi ponselnya kalem-kalem saja, tak ada bunyi notifikasi apapun.
"Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak mendapat panggilan darimu."
"Aish benar. Berkali-kali tapi tidak kau angkat. Hanya Yoongi yang mengangkat panggilanku tadi."
"Lalu Yoongi-hyung mana?"
"Tidak datang karena bateraiku habis sebelum aku selesai bicara padanya. Mr. Kim mem–"
"Namjoon saja, kita sedang ada di luar universitas. Lagipula aku tidak setua itu."
Sudut bibir Namjoon terangkat, memunculkan sepasang cekungan di pipi yang membuat jantung Seokjin kembali berdebar menyenangkan.
"Lalu Na– Namjoon meminjamkan charger padaku, tapi listrik tiba-tiba padam. Baterai ponsel Namjoon juga tinggal 3%, jadi dia tak bisa menghubungi teman-temannya."
Pria bersurai gelap melanjutkan penjelasannya sambil menundukkan kepala, menghindari tatapan lembut nan mematikan yang dilemparkan oleh Namjoon padanya.
"Listrik padam? Kau pingsan karena itu?" Tanya Taehyung.
Seokjin mengangguk samar.
"Jadi dia takut gelap? Tapi tadi saat aku bertanya padanya, dia bilang tidak."
Namjoon melirik ke arah Seokjin yang tengah berusaha menyembunyikan wajahnya di balik punggung Taehyung.
Sumpah, Seokjin malu sekali.
"Dia gengsi. Mengaku kalau takut gelap pada orang lain adalah sebuah pantangan bagi Kim Seokjin."
Jungkook pura-pura tidak melihat seokjin yang tengah melemparkan tatapan membunuh padanya.
"Harusnya kau jujur saja padaku Seokjin-ssi. Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu selain pelukan agar kau tidak ketakutan."
Seokjin hanya bisa menutupi wajahnya yang memanas dengan telapak tangannya setelah mendengar ucapan Namjoon yang blak-blakan. Sial, dia baru ingat jika tadi sudah memeluk dan merengek manja pada pria berlesung pipi itu.
Hancur sudah imageku sebagai pria baik-baik.
Sementara Seokjin sibuk meratapi perbuatannya, Jungkook dan Taehyung tampak saling bertukar pandang dari posisi masing-masing. Entah kenapa mereka merasa ada yang aneh pada situasi ini.
"Maaf, tapi kurasa aku akan pulang sekarang."
Suara berat Namjoon memecah keheningan yang mendadak tercipta di kamar itu. Taehyung buru-buru memutus kontak matanya dengan Jungkook.
"Ah, ne hyung. Tidak sekalian menginap juga?"
Namjoon menggeleng.
"Mungkin lain kali, aku harus menyiapkan beberapa file untuk deadline besok pagi. Ah, apa besok kau ada acara atau pekerjaan Taehyung-ah?"
Jungkook kembali mengunci pandangannya pada Taehyung yang kebetulan juga melihat ke arahnya. Bibir pria kelinci itu bergerak-gerak tanpa suara.
'Katakan jika kau besok kau sibuk.' Ujarnya.
"Tidak. Besok aku free."
Jawaban singkat itu mengundang delikan sebal dari Jungkook. Taehyung tentu tidak mau repot-repot menanggapi respon dari kekasihnya itu. Ia sedikit menggeser tubuhnya hingga membelakangi Jungkook.
"Baguslah. Besok aku akan kemari untuk konsultasi." Ujar Namjoon.
"Hubungi saja besok. Aku siap kapanpun kau datang hyung."
Namjoon kembali mengangguk.
"Seokjin-ssi, tak apa kutinggal?"
Seokjin gelagapan ketika matanya bertemu pandang dengan mata tajam Namjoon.
"A– ah ne. Terimakasih Mr– ah maksudku Namjoon-ssi."
Pemilik surai ash brown itu tersenyum tipis. Membuat Seokjin terpana untuk yang kesekian kalinya.
"Kook aku pulang dulu."
"Hmm..."
Jungkook menggumam malas. Namjoon tersenyum dan menepuk pelan kepala pria yang lebih muda sebelum keluar dari kamar. Mereka tak perlu repot-repot mengantar Namjoon keluar karena pria berlesung pipi itu hapal password apartemen mereka.
Setelah memastikan Namjoon benar-benar pergi. Seokjin berbalik memandang Taehyung dan mengguncang bahunya sedikit histeris.
"Ya tuhan Tae! Kenapa kau tak pernah bilang jika punya kenalan pria seperti dia?!"
"Akan kujelaskan tapi berhenti mengguncang tubuhku! Aigoo."
Taehyung menghela napas lega ketika Seokjin berhenti mengguncang tubuhnya.
"Jelaskan." Ujar Seokjin penuh tuntutan.
"Oke, jadi Namjoon-hyung adalah sepupu Jungkook. Pewaris tunggal YJ corp, anak dari Kim Yunho dan Kim Jaejoong. Sekarang dia sedang menyelesaikan pendidikan magister di universitas yang sama denganmu dan dia lebih muda satu tahun darimu."
Mulut Seokjin tampak menganga dengan tidak elitnya usai mendengar penjelasan panjang lebar dari Taehyung.
Pria itu pewaris tunggal YJ corp? Anak dari Kim Yunho dan Kim Jaejoong? Seriously?
"Benar. Namjoon-hyung adalah anak dari pemilik perusahaan YJ corp dan kuharap kau segera menutup kembali mulutmu sebelum dimasuki serangga terbang." Komentar Jungkook.
Seokjin buru-buru mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Hell, YJ corp adalah perusahaan properti internasional yang sudah menangani proyek di berbagai macam negara. Seokjin sering melihat beritanya di televisi. Namun anehnya di setiap berita yang dia lihat, tak ada satupun media yang menyebutkan nama Kim Namjoon.
"Tapi– tapi– kenapa namanya tak pernah muncul di media?"
"Karena paman dan bibi Kim memang tidak mau Namjoon-hyung jadi sasaran media. Ya setidaknya sampai hyung sudah siap untuk menggantikan posisi ayahnya." Jelas si pria kelinci.
Pria berbahu lebar itu tampak ber-'oh' ria sambil menganggukkan kepalanya paham.
"Memang kenapa? Kau tampak tertarik sekali dengan monster perusak barang itu. Kau menyukainya hyung?"
Sudut bibir Jungkook terangkat membentuk seringai.
"H– hah? Apa maksudmu bocah?"
Tatapan penuh minat dari Taehyung dan Jungkook membuat Seokjin meneguk ludahnya kasar. Apapun harus dia lakukan agar rahasianya selamat dari pasangan 'bocor' di depannya ini.
Seokjin memang belum cerita pada Taehyung masalah Namjoon. Tapi begitu ia tahu jika Taehyung dan Jungkook kenal dekat dengan Namjoon, sepertinya ia akan menarik niatannya itu.
Karena dia masih sayang dengan harga dirinya.
"Mengaku saja hyung. Kau grogi setiap Namjoon-hyung mengajakmu bicara. Juga tatapan matamu tadi, sungguh menampakkan jika kau tertarik padanya."
Jungkook menaik-naikkan kedua alisnya, menggoda pria sejuta gengsi di sebelah Taehyung.
"Y– ya itu karena aku kaget dia tiba-tiba ada di sini dan lagi aku baru sadar dari pingsan, jadi wajar jika aku bicara sambil gemetaran begitu." Bela Seokjin cepat.
"Tapi–"
"Hyung lebih baik kau istirahat sekarang. Aku tidur di kamar tamu dengan Jungkook."
Taehyung sudah berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Jungkook sedikit terseok. Pantatnya masih sakit, ingat?
"Tapi Tae, aku belum selesai menginterogasi Seokjin-hyung!"
Jungkook berteriak protes.
"Ikut sekarang atau tidur di sofa."
Satu pernyataan bernada ancaman dari kekasihnya berhasil membuat Jungkook bungkam dan mengikuti perintah Taehyung sambil cemberut.
Seokjin berusaha menahan tawa saat melihat adegan 'suami-suami takut istri' di depannya.
Sepertinya Jungkook baru saja berbuat salah pada Taehyung, tak biasanya dia jadi anak penurut begitu.
"Ah, jika perlu sesuatu ambil saja sendiri seperti biasanya."
Taehyung melongokkan kepalanya dari sela-sela pintu yang terbuka.
"Ne... aku tidak akan sungkan-sungkan."
Jawaban kelewat santai Seokjin membuat Taehyung tergelak di ambang pintu. Sangat tidak tahu diri, tapi Taehyung tetap sayang pada hyungnya satu itu.
"Baik... baik... selamat malam hyung."
"Selamat malam Taehyungie..."
Dan pintu berwarna krem itupun tertutup, meninggalkan Seokjin sendirian di dalam kamar. Pria cantik itu tampak duduk diam seraya menatap kearah pintu. Ketika telinganya menangkap suara pintu lain yang ditutup, ia buru-buru menghempaskan tubuhnya ke ranjang seraya menghembuskan napas lega.
Sungguh pernyataan-pernyataan yang dilontarkan Jungkook tadi membuatnya benar-benar gugup setengah mati.
"Dasar kelinci sialan, untung saja Taehyung tidak ikut bertanya."
Seokjin mengumpati Jungkook sambil menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba saja wajah Namjoon bersama dimple dan senyum mematikannya muncul di dalam benaknya.
"Sial. Pergilah dari kepalaku Namjoon-ssi. Aku bisa gila jika kau terus-terusan muncul di dalam kepalaku."
Pria berbahu lebar itu menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, berusaha mengusir bayangan sang pujaan hati dari kepalanya.
"Lebih baik aku tidur sekarang. Pikiranku benar-benar butuh diistirahatkan." Monolog Seokjin seraya memejamkan matanya.
Ruangan itu menjadi hening sesaat. Ya, hanya sesaat karena sedetik kemudian Seokjin kembali membuka mata sambil menendang-nendang selimut dan mengumpat.
"Kim Namjoon sialan! Kenapa aku terus-terusan memikirkanmu?! Dan kenapa kau tampan sekali?!"
Sementara itu di depan pintu kamar Seokjin, terlihat sepasang pria yang tengah menguping sambil menahan tawa.
"Benar kan dia suka dengan Namjoon-hyung. Kubilang juga apa."
Pria bersurai dark brown berbisik pada pria lainnya yang masih asik menempelkan telinganya di permukaan pintu.
"Aku tahu Jung, aku bahkan sudah menyadarinya saat pertama kali melihat interaksi mereka." Balas pria bersurai blonde.
"Tapi kenapa kau tidak berkomentar apapun tadi?"
"Karena aku tahu jika Seokjin-hyung tidak akan mau mengakuinya, jadi aku memutuskan untuk pura-pura tidak peka dan mencari informasi itu diam-diam seperti sekarang."
"Maksudmu menguping? Apa ini salah satu metode baru di dunia psikolog untuk mendapatkan informasi dari– Aduh!"
Jungkook mengusap-usap perutnya yang baru saja mendapat sikutan keras dari Taehyung.
"Berhenti bicara yang tidak penting bocah, yang penting sekarang kita harus membantu Seokjin-hyung untuk mendapatkan hati kakak sepupumu."
Taehyung sedikit menjauh dari pintu kamar diikuti Jungkook di belakangnya.
"Apa? Tidak mau! Kau tahu sendiri bagaimana Namjoon-hyung itu, kaku, tidak peka, cuek dengan urusan percintaan, pasti akan sulit sekali. Lagipula biarkan saja mereka berusaha sendiri Taetae, kita tidak perlu terlalu ikut campur dengan urusan mereka." Protes Jungkook.
Gila, mana mau dia mengorbankan waktunya yang berharga hanya untuk mengurusi pasangan dengan kombinasi aneh macam Seokjin dan Namjoon. Tinggi gengsi dengan tidak peka, bukankah itu terlihat sulit?
"Aku tidak menyuruhmu ikut campur, tapi sedikit memberikan pencerahan pada hyung batumu itu agar bisa sedikit peka dengan perasaan Seokjin-hyung."
"Tapi hyung–"
"Ish! Kau ini sebenarnya sayang padaku tidak sih?!" Ujar Taehyung kesal.
Jungkook mengela napas pelan, kalau sifat kekanakan Taehyung sudah muncul begini, mau tak mau dia harus mengalah.
"Tentu saja aku sayang padamu hyung."
Pria yang lebih muda mencoba meraih tangan kekasihnya yang langsung di tepis begitu saja oleh Taehyung.
"Kalau begitu bantu aku!"
"Baik... baik... aku akan membantumu."
"Benar?"
Taehyung menatap Jungkook tajam.
"Aish benar sayang. Kenapa kau meragukanku seperti itu hmm?"
Jungkook menarik Taehyung ke dalam pelukannya, mendekap erat tubuh ramping sang kekasih. Tanpa diduga Taehyung balas memeluk pinggang Jungkook dan menyamankan kepalanya di pundak Jungkook. Pria kelinci itu menghela napas lega karena Taehyung tak lagi menolak sentuhannya.
"Apa ini artinya aku sudah dimaafkan?"
"Uhum..." Taehyung mengangguk samar.
"Apa aku sudah boleh mengajakmu kencan lagi besok?"
"Uhum..."
"Apa aku boleh melanjutkan yang tadi tertunda karena kedatangan Namjoon-hyung?"
"Uhum– apa kau bilang?"
Taehyung menjauhkan kepalanya dari pundak Jungkook dan mendapati cengiran lebar di wajah kekasihnya.
"Jadi boleh?"
BUGH!
Jungkook kembali mendapat bogeman mentah dari Taehyung, kali ini tepat di rahang kanannya. Taehyung melangkahkan kakinya menuju kamar, meninggalkan Jungkook yang tengah mengaduh kesakitan sambil memegang pipi kirinya yang berdenyut.
Sepertinya Jungkook perlu memeriksakan keadaan tulang di sekitar wajahnya besok.
.
.
TBC
.
.
Update~~
Semoga masih ada yang tertarik baca ff ini kkk.
Terimakasih bagi readernim yang udah sempetin baca, ngefollow, favorite, dan ngereview ff ini.
Aku selalu menunggu saran dan komentar dari readernim sekalian, jadi kutunggu di kolom review yaa~~
See you in the next chapter!
Love
Buttermints
