Dimple
Chapter 5: Kiss
.
.
BTS Fanfiction
Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy
Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv
Rating: M
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Pagi itu Namjoon terbangun lebih dulu sebelum alarmya berbunyi. Sungguh kejadian yang amat langka karena Namjoon akan berubah seperti mumi ketika tidur.
Pria berlesung pipi itu mendudukkan tubuh tegapnya di atas ranjang. Matanya tampak setengah terbuka dengan surai ash brown yang mencuat ke sana-sini.
"Selamat pagi Namjoon-ah!"
Namjoon terlonjak kaget ketika sepasang lengan kurus memeluk tubuhnya dari arah depan secara tiba-tiba.
"Y- yah! Siapa kau?!"
Ia berusaha menjauhkan tubuhnya dari pria bersurai gelap yang saat ini tengah menyerukkan kepalanya di dada Namjoon.
"S– Seokjin?!"
Iris gelap Namjoon melebar kala pria bersurai gelap itu mengangkat wajahnya. Menampakkan sepasang mata bulat, pipi tembam, dan juga bibir plushy yang mengerucut kesal.
"Seokjin? A– apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau bisa masuk ke rumahku?"
"Aku merindukanmu Joon. Semalam kau meninggalkanku."
Rengekan Seokjin itu berhasil membuat Namjoon melongo. Seokjin merindukannya? Tidak salah?
"B– bukankah kau harusnya di apartemen Jungkook?"
"Aku pergi menyusulmu. Aku kesepian di sana."
Tubuh Namjoon membatu ketika Seokjin tiba-tiba naik ke atas pangkuannya dan merangkul manja lehernya. Namjoon membiarkan tangannya menggantung ragu di sisi kanan dan kiri pinggang Seokjin.
Oh ayolah, ini pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang lain. Ia bingung harus merespon seperti apa.
"Joon..."
Seokjin kembali merengek ketika Namjoon tidak merespon kata-katanya.
"N– ne?"
Namjoon mendongakkan kepalanya takut-takut.
"Tanganmu."
Pemilik surai ash brown reflek mengangkat kedua tangannya ke udara, menjauhkannya sejauh mungkin dari pinggang Seokjin.
Gerakan tiba-tiba itu membuat Seokjin menaikkan alisnya bingung.
"Kenapa kau mengangkat tanganmu begitu? Memangnya aku polisi?"
"Huh? Tadi kau menegur tanganku, jadi aku menjauhkannya dari tubuhmu." Jawab Namjoon kebingungan.
"Ck! Maksudku begini!"
Seokjin menarik turun tangan Namjoon kemudian melingkarkan tangan kokoh itu ke pinggang rampingnya. Namjoon kembali dibuat melongo dengan perbuatan Seokjin.
"Lebih erat Joon."
"H– hah?"
"Peluk lebih erat, seperti semalam di kantor." Ujar Seokjin.
Namjoon meneguk ludah kasar. Debaran jantungnya meningkat seiring ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Seokjin. Entah kenapa ia tak bisa menolak permintaan pria cantik itu.
Dia seperti menginginkan Seokjin.
Juga sentuhannya.
Pria bersurai ash brown menggelengkan kepalanya cepat.
Tidak tidak apa yang kupikirkan. Kau tidak boleh seperti ini Kim.
Tanpa ia sadari wajah Seokjin sudah berada sangat dekat dengan wajahnya. Pria berbahu lebar itu tampak memandangi Namjoon penuh minat.
"Namjoon."
Namjoon reflek mengangkat kepala ketika namanya dipanggil.
Cup–
.
.
.
.
BIIP BIIP BIIP!
Mata Namjoon menjeblak terbuka bersamaan dengan bunyi alarm yang memekakkan telinga. Napasnya tampak kacau, sama dengan keadaan jantungnya yang berdetak kencang di dalam sana.
Mimpi lagi?
Kepalanya menoleh ke arah jam digital yang masih setia berbunyi di atas nightstand.
06.00 AM
"Oh god."
Namjoon buru-buru mendudukkan tubuhnya seraya mengusap-usap dada sebelah kirinya, berusaha menenangkan salah satu organ vital dalam tubuhnya itu.
"Seokjin– dia, menciumku?"
.
.
~Buttermints~
.
.
"Selamat pagi tuan muda Kim!"
Sapaan bernada riang itu berhasil menarik atensi Namjoon yang tengah menuruni anak tangga. Tak butuh waktu lama untuk menyadari siapa pemilik suara cempreng sekaligus intruder yang masuk ke dalam rumahnya tanpa ijin.
"Darimana kau tahu password baruku?"
"Mengintip saat kau memasukkan kode beberapa hari lalu. Lain kali kau harus hati-hati sedikit, untung aku bukan penjahat." Jawabnya santai.
"Menyelinap tanpa ijin ke rumah orang adalah sebuah tindakan kriminal, Jung Hoseok. Kau bisa kena pasal jika kulaporkan ke polisi."
"Dan kau tak akan pernah melakukannya karena aku adalah sahabat kesayanganmu. I know that Namjoonie~."
Namjoon memutar matanya malas seraya melanjutkan langkahnya ke dapur, meninggalkan Hoseok yang kembali sibuk menikmati siaran netflix di home theatrenya.
Rusak sudah rencananya untuk menyelesaikan pekerjaan dengan tenang pagi ini. Jika kalian pikir Hoseok akan duduk manis saja di depan televisi, kalian salah besar. Pria matahari itu akan mengeluarkan suara-suara tidak jelas, membuat ruang tengahnya penuh dengan sampah, dan menghabiskan segala jenis makanan yang ada dalam kulkas.
Benar-benar merepotkan dan tentu saja merugikannya secara finansial.
"Bagaimana aku bisa bekerja jika ada dia di sini, aish. Setelah ini akan kuganti kodenya agar dia tidak bisa masuk sembarangan ke rumahku."
Namjoon mengaduk kopinya kesal. Oh ayolah, sudah tiga kali ia mengganti password rumahnya gara-gara Hoseok sampai-sampai ia bingung ketika membuat kombinasi angka baru yang mudah diingat.
Benar-benar merepotkan.
"Sudahlah Kim, lebih baik kau mulai bekerja sekarang. Nanti siang kau ada janji dengan Taehyung." Monolognya seraya menggigit roti yang baru saja keluar dari toaster.
Bicara soal Taehyung, ia jadi teringat Seokjin.
Deg!
Mendadak pipinya memanas ketika memorinya kembali memutar adegan yang terjadi pada mimpinya semalam.
'Namjoon'
Namjoon menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menghilangkan suara imajiner Seokjin yang memanggil-manggil dirinya.
'Namjoon'
"Pergi Seokjin."
"Ya, namaku masih Hoseok kalau kau lupa."
Pria berlesung pipi itu terlonjak kaget. Tangannya tak sengaja menyenggol cangkir berisi kopi yang baru saja dibuatnya.
Prang!
"Aish! Jung Hoseok!"
Namjoon melayangkan tatapan kesal pada Hoseok yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah kirinya.
"What?" Jawabnya santai.
"Kau membuatku kehilangan kopiku sialan!" Namjoon mengumpat seraya memunguti pecahan cangkir di lantai.
"Jangan menyalahkanku Kim. Harusnya aku yang kesal padamu karena kau tak merespon panggilanku tadi."
Hoseok menyandarkan sebelah tubuhnya pada counter dapur. Pemilik surai ash brown tak merespon ucapan Hoseok. Ia memilih untuk fokus membereskan kekacauan yang baru saja ia buat.
"Ngomong-ngomong siapa Seokjin? Kekasihmu?"
GUBRAK!
"Shit!"
Namjoon kembali mengumpat ketika tubuhnya tak sengaja menabrak pinggiran meja. Kejadian itu sontak mengundang tawa keras dari Hoseok yang masih setia bersandar di counter dapur.
"Oh man, tidak perlu gugup begitu. Kenapa kau tidak memberitahuku tentang kabar bahagia ini Kim?" Ujar pemilik surai oranye seraya menaik-turunkan alisnya.
"Kabar bahagia kepalamu."
"Ya! Tentu saja ini kabar bahagia eoh! Kim Namjoon si hati batu yang tak pernah tertarik dengan romansa percintaan tiba-tiba saja punya kekasih. Ibu dan ayahmu juga pasti akan bereaksi sama sepertiku jika mereka tahu." Jelas Hoseok.
"Tidak ada yang namanya kekasih Jung Hoseok. Daripada kau menyia-nyiakan waktumu untuk mengoceh tidak jelas, lebih baik kau bersihkan noda kopi di lantai. Aku mau kerja."
Namjoon melengang pergi dari dapur dengan sepiring roti panggang di tangannya, meninggalkan Hoseok yang kini tengah melayangkan tatapan tak percaya padanya.
"Yak! Kim Namjoon! Aku datang kemari bukan untuk jadi petugas cleaning service eoh!"
Pria berlesung pipi memilih untuk mengabaikan teriakan protes itu dan menutup pintu ruang kerjanya. Ia tampak menggigit roti panggangnya seraya berjalan ke arah meja yang menghadap langsung ke dinding kaca.
'Siapa Seokjin? Kekasihmu?'
Namjoon menghempaskan tubuhnya ke kursi ketika pertanyaan Hoseok tadi kembali terngiang di benaknya.
"Kekasih..."
Pria bermarga Kim itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sepertinya otakku mulai teracuni oleh kata-kata Hoseok. Sudahlah, lebih baik aku mulai kerja sekarang."
.
.
~Buttermints~
.
.
"Harusnya aku yang membuat sarapan untukmu hyung."
Bibir Taehyung tampak maju beberapa senti karena Seokjin melarangnya untuk ikut memasak. Padahal kan dia ingin membuktikan bahwa dia sudah bisa-sedikit-memasak sekarang.
"Terakhir kali kau menyentuh penggorengan kau hampir menghanguskan seisi dapur Taehyung-ah."
"Itu kan dulu sebelum aku ikut kursus memasak. Sekarang aku sudah bisa membuat beberapa macam masakan rumahan dan Jungkook bilang rasanya lumayan." Taehyung tersenyum bangga.
"Ya, Jungkook itu kekasihmu, mana berani dia mengatakan jika masakanmu sebenarnya tidak enak."
Senyuman Taehyung seketika memudar setelah mendengar kata-kata Seokjin. Kalau dipikir-pikir perkataan Seokjin ada benarnya juga. Bisa saja Jungkook sengaja tidak bicara jujur untuk menyenangkan dirinya.
Dan Taehyung tidak suka dibohongi.
"Selamat pagi."
Kedua pria di dapur kompak menolehkan kepalanya ke arah Jungkook yang baru saja memasuki dapur dengan langkah terseok.
"Tumben kau bangun pagi di saat libur."
Pernyataan Seokjin hanya dijawab dengan 'hmm' oleh Jungkook. Ia tampak meletakkan kepalanya ke atas meja seraya melirik sepasang benda bulat yang tercetak jelas di celana super pendek milik kekasihnya.
Andai saja Seokjin tidak ada, Taehyung pasti sudah jadi santapan si kelinci buas saat ini.
"Selamat pagi Taetae."
Tak ada jawaban dari pria yang tengah sibuk memindahkan sup ke mangkok berukuran sedang. Hal itu membuat Jungkook mengerutkan dahinya bingung.
Semalam dia sudah biasa-biasa saja, kenapa sekarang dia mengabaikanku lagi?
Jungkook semakin dibuat bingung ketika Taehyung mendudukkan diri di samping Seokjin, bukan di kursi sebelahnya yang jelas-jelas kosong tak berpenghuni.
"Hari ini kalian tidak kencan?" Tanya Seokjin seraya mulai menyantap supnya.
"Masih jam 9, kami akan pergi ke Everland jam–"
"Tidak."
Taehyung memotong kalimat Jungkook begitu saja tanpa mempedulikan tatapan protes yang tengah dilayangkan Jungkook padanya.
"Bukankah semalam kau yang merengek minta pergi ke Everland hyung? Kenapa sekarang tidak jadi?"
"Aku lupa jika ada janji dengan Namjoon." Jawabnya acuh.
"Oh ayolah, kita bisa pergi setelah itu. Namjoon-hyung tak akan memakai jasa konselingmu sepanjang hari."
Seokjin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pasangan yang mulai cekcok di depannya. Ia tak habis pikir dengan pola hubungan Jungkook dan Taehyung yang seperti harga saham. Sebentar-sebentar naik, sebentar-sebentar turun. Berdebat panjang kemudian berakhir dengan Jungkook yang mengalah pada Taehyung.
Benar-benar mirip siaran telenovela yang sering ditonton ibunya di rumah.
"Ya ya, jangan ribut di meja makan. Kim Taehyung, turunkan sendokmu."
Seokjin melayangkan peringatan pada Taehyung yang sedang mengacung-ngacungkan sendoknya ke arah Jungkook.
"Pembohong!"
Jungkook mencoba menahan emosinya yang mulai naik ke ubun-ubun. Oh ayolah, siapa yang tidak kesal ketika kau baru saja bangun tidur lalu diserang oleh tuduhan yang kau sendiri tak tahu apa sebabnya.
"Tae–"
"Don't talk to me you liar!"
Oh cukup sudah. Jungkook meletakkan sendoknya kemudian berjalan ke arah Taehyung dan menggendong paksa kekasihnya itu.
"Yak! Apa yang lakukan! Turunkan aku!"
Taehyung meronta sekuat tenaga agar bisa terlepas dari gendongan Jungkook. Tapi tentu saja usahanya sia-sia mengingat tenaga Jungkook yang memang lebih besar daripada dirinya.
"Seokjin-hyung! Suruh kelinci raksasa ini berhenti! Seokjin–"
BLAM!
Seokjin kembali dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah dua sejoli itu.
"Mereka bahkan meninggalkan sarapannya begitu saja. Benar-benar."
Pemuda bersurai gelap itu melanjutkan sarapannya sendirian. Sesekali matanya melirik ke ambang dapur, berharap Taehyung dan Jungkook kembali sesegera mungkin ke meja makan.
PRANG!
Seokjin seketika batal melahap ayam gorengnya saat mendengar suara barang pecah dari ruang sebelah.
"Taehyung?"
Tak ada jawaban. Seokjin tampak panik, ia bergegas meninggalkan meja makan untuk memeriksa keadaan Taehyung.
Ia benar-benar tak bisa membayangkan jika salah satu di antara Taehyung dan Jungkook terluka. Bagaimanapun juga, sebuah masalah harus diselesaikan secara baik-baik kan.
"Ah shit!"
Seokjin menolehkan kepalanya arah umpatan itu dan mendapati pria bersurai ash brown tengah berlutut di depan pecahan keramik.
"Namjoon-ssi?"
Namjoon mengangkat wajahnya. Darahnya seketika berdesir saat manik gelapnya bertemu dengan milik Seokjin.
"Um maaf mengagetkanmu Seokjin-ssi, aku tak sengaja menyenggol guci kecil ini dan akhirnya pecah."
Namjoon tersenyum kikuk seraya mengumpulkan pecahan guci itu.
"Akan kubereskan kau tidak usah– akh!"
Mata Seojin membola ketika jari Namjoon mulai mengeluarkan darah akibat tersayat pecahan keramik.
"Namjoon! Jarimu!" Teriak Seokjin panik.
"Tenang saja hanya luka kecil, aku sudah biasa-"
"Lukamu bisa infeksi jika tidak segera diobati!" Ujarnya seraya menghampiri pria yang lebih muda lalu menariknya ke sofa.
"Tapi–"
"Duduk diam disitu! Aku akan ambil kotak obat."
Belum sempat Namjoon mengeluarkan protes, Seokjin sudah lebih dulu berlari meninggalkannya. Pria berlesung pipi itu terdiam di sofa sambil memandangi Seokjin yang sudah menghilang dari ruang tengah.
Kenapa dia terlihat sangat panik?
Namjoon tampak berpikir seraya menekan-nekan jarinya yang terluka. Menurutnya respon Seokjin barusan sedikit berlebihan. Luka di jarinya hanya berupa sayatan yang tidak terlalu dalam, cukup ditekan-tekan sedikit dan ditutupi dengan plester.
Dia sudah terlalu sering mengalami hal seperti ini. Merusak barang tanpa sengaja kemudian terluka. Itulah mengapa dia dijuluki god of destruction oleh orang-orang.
Dan sepertinya ia harus rela diceramahi Taehyung karena sudah memecahkan guci miliknya.
"Ya tuhan, darahmu banyak sekali."
Namjoon menoleh ke arah Seokjin yang entah sejak kapan sudah duduk tepat di sebelahnya. Pria bersurai hitam itu tampak sibuk mengeluarkan beberapa benda dari dalam kotak obat.
"Luka ini hanya perlu di plester, aku–"
"Ssh! Aku yang akan mengobatinya. Lukamu bisa infeksi jika tidak diobati dengan benar." Potongnya seraya menuangkan antiseptik pada kapas.
"Tapi aku–"
"Kim Namjoon!"
Bentakan Seokjin membuat Namjoon seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Menelan kembali segala protesan yang siap meluncur dari bibirnya.
"Apa kau ingin jarimu diamputasi karena infeksi?"
Namjoon menggeleng cepat.
"Kalau begitu duduk diam sampai aku selesai membalut lukamu. Mengerti?"
Seokjin tersenyum puas ketika yang lebih muda menganggukkan kepalanya. Ia sedikit menggeser duduknya lebih dekat dengan Namjoon dan mulai membersihkan lukanya dengan antiseptik.
Seokjin benar-benar mirip dengan ibu.
Namjoon tersenyum kecil. Ia tampak duduk diam sambil memperhatikan Seokjin yang berada sangat dekat dengannya. Sampai-sampai dia bisa mencium aroma mint segar yang menguar dari rambut Seokjin.
Tanpa ia sadari detak jantungnya kembali meningkat seiring intensnya tatapan Namjoon pada figur samping pria yang lebih tua.
"Selesai!" Seokjin tersenyum puas melihat jari Namjoon yang sudah terbalut dengan sempurna.
Pria berlesung pipi tampak diam tak merespon. Tatapannya masih terfokus pada pria cantik di sebelahnya.
Manis.
"Namjoon-ssi jarimu sudah–"
Seokjin memutus kalimatnya saat ia mendongak dan matanya bertemu dengan milik Namjoon. Posisi mereka sangat dekat, sampai-sampai Seokjin bisa merasakan deru napas pria di depannya.
Sial! Sejak kapan jaraknya jadi sedekat ini? Dan kenapa dia menatapku seperti itu?
Sungguh, Seokjin ingin sekali lari dari sana saat ini juga. Tapi tatapan tajam itu seakan memakunya di tempat, membuat tubuhnya tak bisa bergerak barang sedikitpun.
Sementara Seokjin sibuk menetralkan degup jantungnya yang menggila, Namjoon tampak menatap tertarik pada belah kemerahan milik Seokjin. Entah apa yang merasuki Namjoon hingga ia berani mendekatkan wajahnya pada Seokjin.
Hal yang sama sekali tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Deg!
Jantung Seokjin kembali berdetak lebih cepat saat wajah Namjoon terasa semakin dekat dengannya. Kelopak matanya tampak menutup perlahan, seperti pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Namjoon selanjutnya.
Semakin dekat.
Seokjin bisa merasakan deru napas Namjoon mengenai pucuk hidungnya.
Lebih dekat.
BRAK!
Pria bersurai ash brown terlonjak kaget hingga tak sengaja membenturkan kepalanya ke dahi Seokjin. Cukup keras hingga menimbulkan pekikan disusul umpatan dari sepasanv pria itu.
"Agh!"
"Shit!"
Keduanya sibuk mengusap dahi masing-masing ketika sebuah suara yang mereka kenal menggema di ruang tengah yang sedang mereka tempati.
"Aku memaafkan bukan berarti kau boleh menyentuhku seenak jidatmu kelinci mesum! Jauhkan tangan kotormu dari– Namjoon-hyung?"
Taehyung menatap Namjoon dan Seokjin secara bergantian. Alisnya tampak bertaut heran saat mendapati dahi mereka yang sedikit memerah.
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
.
.
TBC
.
.
Update~~
Apakah masih ada yang menunggu? Hehehe
Maafkan saya yang slow updateT-T
Upcoming next Critical Beauty and Sugar Boy
See you in the next chapter!
Love
Buttermints
