Dimple

Chapter 6: Son-in-law?


BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M


.

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.


Taehyung tampak memandangi pria berkacamata di depannya sambil mengetuk-ngetukkan kaki tak sabar. Sudah lima belas menit sejak ia dan Namjoon masuk ke ruang baca miliknya, namun pria yang menjabat sebagai hyungnya itu sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya duduk diam seraya memandang kosong ke arah meja kayu di hadapannya.

"Hyung?"

Tidak ada jawaban.

"Namjoon-hyung."

Masih diam.

"Kim Namjoon!"

Namjoon sontak mengalihkan pandangannya ke arah Taehyung kemudian menggaruk kikuk belakang lehernya tanpa bicara.

"Tingkahmu aneh sekali. Kenapa? Stres karena pekerjaan?" Tanya Taehyung seraya memperhatikan gerak gerik Namjoon yang tampak gugup.

Tidak biasanya hyung bertingkah seperti ini meskipun dia sedang banyak pekerjaan. Pasti bukan karena itu.

"Hyung ikuti instruksiku, oke?" Namjoon tampak mengangguk kaku. "Tarik napas... lalu hembuskan perlahan... ya bagus, seperti itu."

Taehyung kembali mengawasi ekspresi dan gerak tubuh Namjoon. Ia harus memastikan jika treatment yang dia berikan berhasil menyurutkan rasa gugup yang menguasai pria itu.

"Kau boleh menyandarkan tubuhmu hyung, cari posisi duduk yang membuatmu nyaman dan rileks."

Sekali lagi Namjoon mengikuti instruksi yang lebih muda. Punggungnya tampak bersandar pada sandaran sofa, mencoba melemaskan otot-ototnya yang kaku karena gugup. Insiden ciuman gagal tadi benar-benar membuat rasa percaya dirinya menguap entah kemana. Ia sendiri tak yakin jika setelah ini ia dan seokjin bisa berkomunikasi dengan normal seperti sebelumnya.

Sepertinya ia harus minta maaf pada Seokjin nanti.

"Bagaimana hyung? Bisa kita mulai sekarang?" Suara rendah Taehyung memecah keheningan yang kembali tercipta di ruangan itu.

"Ne, kurasa bisa."

"Take your time brother. Jika kau belum tenang, aku bisa menunggu."

Namjoon buru-buru menggelengkan kepalanya.

"Tidak-tidak, kau ada janji dengan Jungkook siang nanti. Aku tidak mau merusak rencana kalian."

"Aish, jangan pikirkan kelinci bodoh itu. Aku sudah profesional dalam menghadapi kelinci yang mengamuk." Taehyung tertawa kecil.

"Memang benar kau bisa, tapi aku yang akan kena sindirannya nanti. Dia pasti akan mengungkit masalah statusku lagi."

Tawa pria bersurai blonde semakin meledak ketika melihat ekspresi kesal yang terpatri di wajah Namjoon.

"Kenapa kau tertawa?" Ujar Namjoon kebingungan.

"Uh– hahaha tidak tidak. Kau bisa mulai bercerita sekarang, maafkan aku." Taehyung mengusap air mata di sudut matanya.

Pria bersurai ash brown itu tampak menghela napas pelan sebelum memulai ceritanya.

"Jadi, beberapa hari lalu aku melakukan tes ECG di rumah sakit"

"Wait! Tes untuk jantung?" Ekspresi Taehyung berubah serius ketika Namjoon menganggukkan kepalanya. "Kau merasakan gejala penyakit jantung?"

"Ya. Gejala itu mulai kurasakan saat aku menggantikan posisi salah satu pegawaiku di cafe. Jantungku mendadak berdetak tidak beraturan dan membuat dadaku sesak, jadi hari itu juga aku langsung pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes."

"Lalu bagaimana hasilnya?"

"Semuanya normal."

Taehyung mendesah lega. Sungguh, sejak Namjoon mengucapkan kata ECG, dirinya langsung dilingkupi oleh perasaan khawatir yang amat besar. Bagaimana tidak, penyakit jantung termasuk dalam sepuluh penyakit paling mematikan menurut WHO. Seseorang yang mengidap penyakit ini harus segera mendapat penanganan medis serta konsultasi kesehatan agar kondisinya tidak semakin parah dan menimbulkan kematian.

"Baik, lanjutkan hyung."

"Gejala itu masih kurasakan sampai saat ini meskipun hasil tesnya negatif. Maka dari itu aku coba untuk konsultasi padamu."

"Oke, memang ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi ritma jantung seseorang. Bisa karena gangguan-gangguan seperti panic attack, anxiety disorder, konsumsi obat-obatan, dan faktor yang paling sering muncul adalah stres."

Namjoon mengangguk paham.

"Kurasa yang paling memungkinkan adalah stres. Karena aku sama sekali tidak punya gangguan seperti yang kau sebutkan tadi, juga tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan."

"Mungkin saja. Meskipun kau merasa tidak sedang stres, tapi tubuh dan otakmu tetap perlu waktu untuk istirahat hyung, setidaknya satu kali seminggu. Hidup tidak selalu tentang pekerjaan, masih banyak hal penting lain yang perlu kau perhatikan."

Pemilik surai ash brown tampak merenungi kata-kata Taehyung. Jika dipikir-pikir perkataan Taehyung ini ada benarnya juga. Selama ini dia selalu mengisi hari-harinya dengan bekerja seharian penuh dan hanya akan istirahat jika pekerjaannya sudah selesai. Jangankan untuk memikirkan masalah liburan, mengurus jam tidurnya saja dia tidak bisa.

"Kau benar. Kurasa aku akan atur ulang jadwalku mulai sekarang."

Senyum Taehyung seketika mengembang.

"Kau bisa mulai dengan pergi ke taman dekat apartemenmu untuk jalan-jalan atau membaca buku. Kebetulan kau juga suka membaca kan hyung."

Namjoon mengangguk-angguk pelan. "Ne, aku akan coba pergi kesana. Lagipula taman itu tidak terlalu ramai, kurasa aku bisa merilekskan diri disana."

"Bagus. Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"

"Ah iya, apakah hal-hal seperti itu juga bisa membuat seseorang berhalusinasi?"

"Bisa saja, tapi jika levelnya sudah sangat parah atau orang tersebut memiliki salah satu gangguan psikologis. Kenapa? Apa kau mengalami halusinasi?"

Seketika ruangan itu kembali diliputi dengan ketegangan. Wajah Taehyung kembali berkerut serius, memperhatikan Namjoon yang terlihat sedikit gugup di depannya.

"Berjanjilah padaku untuk tidak mengatakannya pada siapapun. Hanya antara kau dan aku."

Taehyung menganggukan kepala sambil menggumamkan kata 'oke'.

"Beberapa hari ini bayangan seseorang selalu menghampiri pikiranku bahkan dia sampai masuk ke dalam mimpi. Detak jantungku selalu meningkat ketika bayangannya muncul."

Alis milik Taehyung tampak naik beberapa senti dari tempatnya.

Apa mungkin stress level Namjoon-hyung sebenarnya lebih tinggi daripada yang kuperkirakan?

"Bagaimana perasaanmu saat bayangan itu muncul?" Tanya yang lebih muda.

"Entahlah, aku tak bisa menjelaskannya. Seperti terasa hangat dan menyenangkan."

Eh?

"Umm- kalau kau tidak keberatan, bisakah kau memberitahukan identitas orang itu padaku? Agar aku bisa mengidentifikasi kasusnya."

"Dia"

Namjoon menggantungkan kalimatnya untuk sekedar menstabilkan debaran yang kembali muncul.

"Kim Seokjin."

PFFT!

Taehyung benar-benar berusaha keras untuk menahan tawanya yang siap meledak saat itu juga. Sungguh, jika Jungkook sampai tahu tentang hal ini, dia pasti akan tertawa terpingkal-pingkal sambil mengumpati hyungnya yang kelewat polos dan tidak peka. Taehyung sendiri tahu apa yang sedang terjadi pada Namjoon. Jangankan Taehyung, anak remaja baru puber juga pasti tahu.

Ya, Namjoon sedang jatuh cinta, pada Kim Seokjin sahabatnya.

"Tae?"

Pria berkacamata itu tampak mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Taehyung. Dia cukup bingung dengan perubahan ekspresi Taehyung yang begitu cepat, dari serius menjadi dipenuhi senyum kelewat lebar khas Taehyung.

"Taehyung, hey."

Tubuh Taehyung tersentak ketika pundaknya ditepuk oleh Namjoon.

"Ah- maaf hyung hehe. Kau bilang apa tadi?"

"Kau mendadak mematung setelah aku mengucapkan nama Seokjin. Ada apa?" Tanyanya serius.

Baiklah Tae, kau bisa lakukan ini.

Taehyung menyeringai. Saatnya dia menjalankan love operation untuk menyatukan sepasang lovebird yang tersesat ini. Di dalam kepalanya sudah tersusun berbagai macam rencana untuk mereka berdua dan tentunya dia tidak akan melakukan semuanya sendirian. Si kelinci Jeon harus ikut membantunya menjalankan semua rencana itu.

Ya, harus. Meski pantat sintalnya yang nanti jadi korban.

"Ekhm. Jadi begini, karena faktor yang memicu terjadinya peningkatan detak jantungmu adalah bayangan Seokjin, kusarankan agar kau melakukan pertemuan langsung dengan Seokjin selama beberapa hari."

"Hum? Kalau itu tanpa kau suruh pun aku pasti akan menemuinya Taehyung-ah."

Taehyung seketika melongo. Seorang Kim Namjoon berani mengambil langkah duluan? Mimpi apa dia semalam.

"Aaa... kalau begitu bagus. Dimana kau berencana menemuinya hyung?"

Pria yang lebih tua tampak mengangkat alisnya.

"Tentu saja di kampus. Sekarang aku mengajar di kelasnya kan, jadi aku akan sering bertemu dengan Seokjin."

Taehyung tampak memijit-mijit dahinya sambil menghembuskan napas lelah. Mendadak kepalanya pusing setelah mendengar kata-kata bernada polos yang diucapkan oleh Namjoon.

Pantas saja single, siapa yang akan tahan dengan kadar ketidak pekaanmu yang sudah mencapai tahap overdosis ini hyung. Dasar payah.

"Maksudku pertemuan yang lebih personal hyung, hanya kau dan Seokjin tanpa kehadiran orang lain."

"Hm? Memang apa bedanya?"

"Tentu saja berbeda. Saran yang kusampaikan tadi memiliki tujuan untuk mencari tahu apa hubungan antara Seokjin dan detak jantungmu. Maka dari itu tes dilakukan dalam satu pertemuan personal tanpa keberadaan subjek lain selain kau dan Seokjin. Munculnya subjek lain bisa menyebabkan hasil tes jadi tidak valid karena ditakutkan subjek itu justru ikut mempengaruhi detak jantungmu." Jelas Taehyung.

Namjoon mengangguk paham.

"Baiklah, kurasa aku sudah selesai." Namjoon berdiri seraya melemparkan senyum pada Taehyung. "Masalah tes itu, aku akan coba bicara pada Seokjin secepatnya. Maaf sudah menganggu waktumu Tae."

"Datanglah kapan saja kau ingin hyung." Taehyung tersenyum kotak.

CKLEK

"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan sampai-sampai menghabiskan waktu setengah jam di dalam sini eoh?"

Sepasang pria itu kompak menoleh ke arah pintu, tempat dimana penyandang marga Jeon berdiri dengan tangan terlipat di depan dada dan wajah yang ditekuk sedemikian rupa.

Mirip seperti anak kecil yang merajuk karena ditinggal ibunya ke pasar.

"Kau pernah diajari bagaimana cara mengetuk pintu kan Jeon Jungkook?" Ujar Taehyung tajam.

"Aish, kau tidak tahu bagaimana menderitanya diriku di luar tadi hyung. Seokjin-hyung terus-terusan mengomel tidak jelas sementara kau tak kunjung keluar dari sini. Entah apa yang membuat moodnya jelek hingga dia mendadak jadi cerewet dan aku yang jadi korbannya." Jelas Jungkook kesal.

"Sudah jangan bertengkar. Lagipula aku sudah selesai, kalian bisa pergi jalan-jalan setelah ini." Ujar Namjoon berusaha menengahi mereka berdua. "Taehyung, sekali lagi terimakasih untuk waktumu."

"Ah ne, hati-hati di jalan hyung. Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan lagi, hubungi aku."

Pemilik surai ash brown mengangguk kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu. Ia menepuk pundak Jungkook saat lewat di depan pria itu.

"Aku pulang dulu Kook."

"Ya ya. Hati-hati." Sahut Jungkook seraya mengikuti Namjoon ke ruang tengah.

"Ah iya, mana Seokjin?" Tanya Namjoon tiba-tiba.

"Dia pulang duluan tadi, katanya ada urusan. Yoongi-hyung yang jemput."

Langkah Namjoon seketika terhenti ketika mendengar Jungkook menyebutkan nama yang asing di telinganya.

Yoongi? Siapa?

"Yoongi-hyung kemari? Kenapa tidak kau suruh duduk dulu Kook?" Sahut Taehyung.

"Dan membuat moodku semakin buruk karena kehadiran pak tua itu? Tidak terimakasih."

Taehyung mendengus sambil menggumamkan kata 'terserah', malas untuk berdebat lebih jauh dengan kekasihnya. Matanya beralih pada Namjoon yang berdiri mematung di depan pintu apartemennya.

"Hyung? Apa ada yang ketinggalan?"

Teguran dari yang lebih muda membuat Namjoon tersadar dari lamunannya.

"A ah tidak, aku hanya sedang memikirkan akan makan siang dengan apa nanti." Namjoon tersenyum kecil. "Baiklah, aku pulang ne, annyeong."

Pemilik surai ash brown tampak melambai kecil pada dua orang di depannya kemudian melangkah keluar dari apartemen itu dengan berbagai macam pertanyaan di kepalanya.

Siapa Yoongi? Kenapa tiba-tiba aku merasa tidak nyaman saat Jungkook mengatakan jika Seokjin pulang dengannya?

Namjoon mendesah seraya mengusap dahinya yang mulai terasa pusing.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"


.

.

~Buttermints~

.

.


Sebuah mobil Maserati Ghibli hitam tampak melaju melewati jalanan kota yang terlihat lengang. Mobil itu dikendarai oleh dua orang pria yang sama-sama berwajah tampan, namun berbeda sifat dan tinggi badan. Pria berkulit pucat tampak menyetir sambil menggumamkan lirik lagu Havana yang sedang diputar di radio. Sesekali matanya melirik pada pria berbahu lebar di sebelahnya yang tengah memandang ke luar jendela. Sejujurnya ia merasa aneh dengan tingkah teman kecilnya itu. Pasalnya sejak ia menjemputnya tadi, temannya ini sama sekali tak bicara sepatah katapun padanya. Ia hanya duduk diam di kursi sambil memainkan jari-jarinya dan memandang keluar jendela seperti sekarang.

Benar-benar berbanding terbalik dengan Seokjin yang biasanya.

"Hyung, kau oke?" Tanyanya seraya kembali melirik Seokjin.

Pria berkaus putih itu hanya menggumamkan 'hmm' sebagai jawaban. Membuat Yoongi-si pria pucat-menghela napas jengah. Ia tak suka diacuhkan.

"Kau berhutang banyak penjelasan padaku Kim Seokjin. Tentang telepon kemarin malam dan ponselmu yang sama sekali tak bisa kuhubungi."

DEG!

Tubuh Seokjin seketika bereaksi ketika mendengar kata ponsel yang meluncur dari bibir Yoongi. Ia baru sadar jika sejak kejadian itu, ia sama sekali tidak menyentuh bahkan melihat ponselnya. Bodohnya lagi, ia tidak bertanya pada Jungkook ataupun Taehyung tadi.

"Aish! Bodoh bodoh bodoh!" Seokjin mengusak rambutnya kesal.

Umpatan yang meluncur tiba-tiba itu membuat Yoongi tersentak kaget di kursinya. Beruntung kakinya yang sedang menginjak pedal gas tidak ikut terpengaruh, sehingga mobilnya masih bisa melaju dengan normal di jalan.

"Jika setelah ini terjadi tabrakan, kau orang pertama yang akan kumintai pertanggung jawaban Kim." Ujarnya tajam.

"Maaf, aku hanya sedang merutuki kebodohanku sendiri." Jawab Seokjin.

"Demi tuhan, sebenarnya ada apa eoh? Tadi kau diam saja sejak masuk ke dalam mobil, lalu tiba-tiba mengumpat tidak jelas. Lama-lama kau membuatku kesal."

Seokjin menghela napasnya pelan.

"Sepertinya aku sudah kehilangan ponselku."

"Heh? Kau jadi korban pencopetan?"

Seokjin menggeleng cepat.

"Bukan bukan, uh kurasa tertinggal di suatu tempat dan aku lupa dimana." Seokjin menggaruk belakang lehernya.

"Pantas saja dia menelponku dengan nomor Jungkook tadi." Gumam Yoongi.

Pria bersurai silver tampak meraih ponselnya di dasbor mobil lalu menyodorkannya pada Seokjin, membuat yang lebih tua menautkan alisnya heran.

"Apa?"

"Gunakan ponselku untuk menghubungi nomormu. Barangkali ada orang baik yang menemukan ponselmu dan menyimpannya." Jelas Yoongi.

"Ahh... kenapa sama sekali tak terpikirkan olehku."

Buru-buru diambilnya benda persegi itu dan mencari kontaknya disana. Ia benar-benar berharap ponselnya bisa ditemukan karena banyak data-data penting dan berharga di dalam sana.

"Loudspeaker hyung."

Seokjin mengangguk seraya menekan tombol loudspeaker. Tak lama, terdengar nada sambung putus-putus dari ponsel Yoongi, menandakan bahwa nomor Seokjin aktif.

"Kurasa pertanda bagus karena tadi pagi nomormu masih tak bisa dihubungi." Ujar Yoongi yang diangguki Seokjin.

"Ya, kuharap"

"Halo?"

Mata Seokjin membelalak ketika mendengar suara pria dari seberang sana.

"Ya tuhan syukurlah!" Pekiknya senang. "H Halo, aku Kim Seokjin, pemilik ponsel yang sedang kau gunakan."

"Aaa... jadi kau pemilik ponsel ini?" Jawab pria di seberang.

"Benar! Ya tuhan, terimakasih karena sudah menyimpan ponselku."

"Err– sebenarnya bukan aku yang menyimpannya, tapi sepertinya temanku. Kebetulan aku di rumahnya sekarang dan dia sedang keluar, jadi aku yang mengangkat teleponmu. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah lancang menghidupkannya hehe. Tapi tenang, aku tidak melihat isinya."

"Ah tak apa, jika kau tak menghidupkannya, mungkin aku tak bisa segera menemukan ponselku. Sekali lagi terimakasih." Ujar Seokjin penuh kelegaan.

"Apa kau akan menjemput ponselmu sekarang? Jika iya, kau bisa datang ke Lux Apartment lantai 67."

What?

"L Lux?" Tanyanya, memastikan jika telinganya tidak salah dengar.

"Yup!" Sahut pria di seberang.

"B baiklah, Lux Apartment lantai 67. Aku akan segera kesana."

"Okay, aku dan temanku akan menunggu di sana. Sampai jum–"

"Ah! Tunggu! Kau belum menyebutkan namamu!"

"Panggil saja J-Hope. Sampai bertemu nanti!"

PIP

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu hingga ponselmu bisa ada di tangan seseorang yang tinggal di kawasan paling elit di Gangnam Kim Seokjin?"

"Jangan tanya. Aku juga tidak tahu kenapa ponselku bisa menyasar sampai kesana." Jawab Seokjin seraya memijit pelan kepalanya yang kembali terasa pusing.


.

.

~Buttermints~

.

.


TING!

Seokjin melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri begitu pintu lift terbuka. Bibirnya kembali meloloskan decakan kagum ketika melihat interior milik apartemen yang terkenal paling elit dan mahal di Gangnam itu. Jujur, ini pertama kalinya Seokjin masuk ke tempat yang hanya dimiliki oleh orang-orang kelewat kaya. Meskipun keluarganya masuk ke dalam kategori orang kaya, tapi statusnya tidak sampai setinggi ini.

"Jinjja, aku benar-benar penasaran dengan orang yang sudah menemukan ponselku." Gumamnya seraya menekan bel yang beada di samping pintu.

KLEK

Kepala Seokjin reflek mendongak ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Di hadapannya berdiri seorang pria berwajah cantik yang entah kenapa terlihat familiar di mata Seokjin.

"Ya? Mencari siapa?" Ujar pemilik wajah cantik itu.

"Ah, annyeonghaseyo Kim Seokjin imnida." Seokjin membungkukkan tubuhnya. "Maaf, apa"

"Jadi kau yang bernama Kim Seokjin?!" Tanya pria itu antusias.

Seokjin menatap bingung pada pria yang mendadak tersenyum lebar di depannya.

"Y ya, aku Kim Seokjin."

"Oh my god, tak kusangka anakku yang kaku itu pintar memilih pasangan. Hosiki benar-benar tidak bohong ketika dia bilang dirimu cantik." Ujarnya lagi sambil tertawa.

Oke, Seokjin mulai takut sekarang.

"M maaf tapi aku Yah!"

Seokjin memekik kala tubuhnya ditarik masuk oleh pria cantik yang ternyata cukup kuat itu. Berbagai macam pikiran buruk mulai menari-nari di dalam kepalanya. Bagaimana jika dirinya ternyata dijebak dan dijadikan mangsa untuk lelaki hidung belang.

Dia akan tamat jika semua itu benar-benar terjadi.

"Yeobo! Calon menantumu sudah datang! Cepat turun dan sapa dia!"

Teriakan itu sontak menyadarkan Seokjin dari segala pikiran-pikiran buruknya. Pandangannya tampak mengedar ke sekeliling ruangan yang ternyata merupakan sebuah ruang keluarga.

Gila, besar sekali.

Dirinya sibuk terpana dengan ruangan luas bergaya minimalis dengan dinding kaca transparan itu sampai-sampai tidak sadar jika sudah didudukkan paksa oleh sang pemilik rumah.

"Bisa-bisanya anak itu menyembunyikan identitas kekasihnya dariku, ibunya sendiri. Awas saja kalau dia pulang nanti." Gerutu pria yang lebih tua seraya mendudukkan diri di depan Seokjin. "Jadi, sejak kapan kalian berdua resmi hmm?"

Satu pertanyaan itu berhasil mengembalikan atensi Seokjin. Rasa gugup bercampur panik kembali menguasai tubuhnya.

"U uh s sebenarnya aku"

"Hahaha... tidak usah gugup begitu sayang. Santai saja, aku tidak akan menyuruhmu meninggalkan anakku." Ujarnya gemas. "Tenang oke?"

Seokjin meneguk ludahnya susah payah. "A aku"

"Aaa... jadi ini pria yang disebut-sebut oleh Hoseok tadi?"

Sepasang pria yang duduk berhadapan itu kompak menolehkan kepalanya ke arah tangga. Mata Seokjin sontak membelalak ketika melihat sosok pria tampan yang tengah berdiri di tangga dengan senyum di wajahnya. Dia tahu siapa pria itu, pemilik perusahaan properti berskala internasional, Kim Yunho. Itu berarti pria cantik di depannya ini adalah istrinya, Kim Jaejoong.

Dan kalau ternyata ini adalah kediaman mereka, berarti anak yang tadi disebut-sebut oleh Jaejoong adalah-

"Mom? Dad? Bukannya kalian masih di luar negeri?"

Suara berat yang terdengar khas di telinga Seokjin seketika memecah keheningan yang mendadak tercipta di ruangan itu. Seokjin menolehkan kepalanya takut-takut dan menemukan Namjoon yang tengah berdiri dengan ekspresi bingung tak jauh dari kursinya. Ia buru-buru menundukkan kepalanya saat iris gelap Namjoon beralih memandangnya.

"Seokjin?" Ujarnya kaget.

Rasanya Seokjin ingin loncat dari gedung ini sekarang juga.

"Seokjin apa yang"

"Ah kebetulan sekali kau datang anak durhaka. Yeobo, bawa anakmu itu kemari. Kita interogasi mereka." Potong Jaejoong.

Yunho hanya bisa tertawa melihat tingkah bossy istrinya itu. Ia tampak merangkul Namjoon dan membawanya ke sebelah Seokjin.

"Kerja bagus Son, aku bangga padamu." Ujarnya seraya menepuk pelan pundak sang anak lalu duduk di sebelah istrinya. "Duduklah."

Namjoon mengangguk kaku dan mendudukkan dirinya tepat di sebelah Seokjin yang masih setia menundukkan kepala. Ia bisa melihat tangan Seokjin yang gemetar, persis seperti malam ketika mereka terkunci di ruangannya.

Ia harus segera tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Mau sampai kapan kau diam Kim Namjoon? Jadilah jantan dan ceritakan semuanya pada ayah dan ibumu."

Pemilik surai ash brown sontak mengalihkan pandangannya pada sang ibu.

"Apa yang harus kujelaskan jika pokok permasalahannya saja aku tidak tahu mom."

"Tch, anak ini benar-benar. Sampai kapan kau akan menyembunyikan semuanya hmm? Kalau bukan karena Hosiki, kurasa kami tidak akan pernah tahu jika ternyata kau sudah memiliki kekasih." Omel sang ibu.

Namjoon menggeram kesal begitu nama 'Hosiki' masuk ke dalam indera pendengarannya.

Kuda bangsat, awas saja nanti.

"Mom, ini salah paham. Seokjin"

"Salah paham bagaimana eoh?! Hosiki menemukan ponsel Seokjin di kamarmu, dia bilang Seokjin tak sengaja meninggalkannya disana setelah malam panas kalian!" Timpal Jaejoong menggebu-gebu.

BLUSH!

Seokjin buru-buru mendongakkan wajahnya yang mulai dipenuhi rona merah.

"Tidak tidak kami tidak melakukan itu, sungguh! N Namjoon, cepat jelaskan pada orangtuamu!" Tangannya bergerak mengguncang lengan Namjoon dengan panik.

"Tenang, oke?" Namjoon mengusap punggung tangan Seokjin lembut, berusaha mengusir rasa panik yang menguasai Seokjin.

Hoseok dan mulut rusaknya itu akan benar-benar tamat setelah ini.

"Kalian tidak perlu takut kami berdua marah. Hal seperti itu sudah lumrah dilakukan oleh pasangan muda seperti kalian. Malah kami berdua senang, benar kan yeobo?"

Jaejoong mengiyakan ujaran sang suami.

"Benar. Itu artinya kalian sudah siap untuk melakukan komitmen yang lebih jauh. Ah, sepertinya aku juga perlu bertemu dengan orangtua Seokjin secepatnya."

"O orangtuaku? Untuk apa?" Sahut Seokjin makin bingung.

"Tentu saja untuk mengenal lebih dekat keluargamu sekaligus membahas pernikahan kalian."

"HAH?!"


.

.

TBC

.

.


Sumpah ini panjang banget sampe 3k. Terlalu bersemangat.
Semoga readernim sekalin gak bosen baca panjang-panjang gini *berdoa*
Terimakasih buat yang udah mau baca dan menunggu ehee :*

Next aku bakal update secepatnya. Tunggu aku ya readernimm