Dimple

Chapter 7: Warmth


BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M


.

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.


Sepasang pria bersurai ash brown dan hitam tampak saling diam di posisinya masing-masing. Tak ada satupun dari mereka yang bicara untuk sekedar membahas kejadian tak diinginkan yang baru saja terjadi.

Orangtua Namjoon sudah pulang sejak sepuluh menit yang lalu. Tentunya setelah mendengar klarifikasi atas kesalahpahaman yang 'sengaja' dibuat oleh Hoseok.

Jujur Seokjin lega ketika kedua orangtua Namjoon akhirnya bisa memahami jika dirinya dan Namjoon tidak memiliki hubungan spesial selain hubungan dosen-mahasiswa. Meski demikian, kalimat tegas yang diucapkan oleh nyonya besar Kim sebelum pergi tadi benar-benar tidak bisa hilang dari kepala cemerlangnya.

"Baiklah, jika memang kalian sekarang ini tidak memiliki hubungan tak apa, aku tidak marah. Tapi satu hal, aku tetap ingin Seokjin menjadi menantuku bagaimanapun caranya. Aku tidak ingin menantu yang lain selain dirinya. Titik."

Hahh–

Sebenarnya Seokjin terima-terima saja jika orangtua Namjoon senang dengan dirinya. Siapa yang tidak bahagia ketika orang tua incaranmu menginginkanmu untuk jadi menantu mereka. Tapi di balik rasa senang itu, dia juga merasa takut.

Takut jika Namjoon tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Alias bertepuk sebelah tangan.

"Namjoon/Seokjin."

Dua pria dewasa itu sontak menoleh dan saling melempar pandang satu sama lain.

"Uh– kau dulu." Seokjin kembali menundukkan kepalanya.

Namjoon mendesah pelan seraya membenarkan posisi duduknya.

"Aku mau minta maaf atas nama teman dan orang tuaku karena telah membuatmu tidak nyaman. Aku akan membereskan semua kesalah pahaman ini dan membuat ibuku mengerti." Ujarnya. "Sekali lagi maafkan kami."

Seokjin tampak sibuk memainkan jari-jari tangannya dengan kepala menunduk. Sama sekali tak berani memandang ke arah Namjoon.

"Seokjin?"

Pemilik surai hitam itu terkesiap.

"Ah– uh– kau tidak perlu memikirkannya. A- aku tadi hanya kaget karena tiba-tiba orang tuamu bersikap seperti itu." Jawabnya terbata-bata.

"Ibuku memang keras kepala dan sedikit egois." Namjoon tersenyum kecil. "Tapi aku janji akan bicara dan menjelaskan semuanya pada ibuku."

Seokjin hanya menganggukkan kepalanya pelan.

"Baiklah, giliranmu."

"Uh– aku juga ingin minta maaf karena mendadak datang kemari. Tujuanku benar-benar hanya untuk mengambil ponselku, tidak untuk yang lainnya."

"Ah! Ponsel berwarna pink dengan motif pisang itu?" Seru Namjoon tiba-tiba.

Seokjin mengangguk kecil. "Y– ya, itu milikku."

"Ponsel itu kutemukan di dalam tas. Mungkin pada saat kejadian mati listrik itu Hoseok tidak sengaja memasukkannya ke dalam ranselku. Aku belum sempat memeriksanya karena aku sibuk menyelesaikan pekerjaanku sampai tengah malam." Jelas yang lebih muda. "Ngomong-ngomong dari mana kau tahu kalau ponselmu ada di sini?"

"Tadi aku menelepon nomorku menggunakan ponsel lain, lalu seseorang bernama J-Hope mengangkat teleponnya dan memberiku alamat ini."

Sudah kuduga. Awas saja kau kuda liar.

Namjoon mengumpati teman kecilnya itu di dalam hati. Ia benar-benar akan membuat perhitungan dengannya nanti, lihat saja.

"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar, akan kuambilkan ponselmu."

Pria bersurai ash brown tampak bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah tangga yang berada di sudut ruangan. Seokjin menghembuskan napas lega ketika pria incarannya itu sudah menghilang dari pandangannya. Berada di sebelah Namjoon benar-benar membuat jantungnya menggila, apalagi hanya berdua seperti ini.

Sungguh rasanya Seokjin mau mati saja.

"Hhh- aku masih tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi padaku." Gumamnya seraya menatap dinding kaca di depannya. "Eo? Kenapa tiba-tiba langit jadi mendung sekali?"

Bibir Seokjin tampak maju beberapa senti begitu melihat keadaan langit yang berwarna abu-abu gelap, siap untuk menumpahkan titik-titik air kapan saja.

"Kalau hujan pasti sulit mencari taksi. Ck, tahu begini aku terima saja tawaran Yoongi untuk menungguku tadi."

"Kekasihmu?"

Seokjin sontak menolehkan kepalanya ke arah Namjoon yang sedang berjalan menuruni tangga.

"Hum?"

"Yoongi, apa dia kekasihmu?" Tanyanya lagi.

Wajah Seokjin seketika berubah panik.

"Bukan bukan! Yoongi itu temanku, lebih tepatnya teman masa kecilku." Jelasnya panik.

Namjoon mau tak mau tergelak melihat ekspresi panik Seokjin yang menurutnya lucu.

"Aku hanya bertanya Seokjin, kenapa kau sampai panik begitu?"

Pria yang lebih tua seketika mematung.

Benar juga, kenapa aku jadi bertingkah seperti orang yang ketahuan selingkuh?

"Seokjin? Kau tak apa? Wajahmu merah."

Pertanyaan bernada polos itu sukses membuat wajah Seokjin semakin memerah sampai ke telinga.

Sumpah! Seokjin malu sekali!

"A- aku tak apa. Uh– boleh kuminta ponselku sekarang? Aku h- harus segera pulang."

"Ah ya, ini ponselmu. Baterainya sudah terisi penuh. Kau bisa langsung memakainya."

Namjoon menyerahkan ponsel berwarna pink itu kepada Seokjin.

"T– terimakasih. Kalau begitu aku akan pulang sekarang." Ujarnya seraya berdiri dari duduknya diikuti oleh Namjoon.

"Kau tidak sekalian pesan taksi di sini? Agar tidak terlalu lama menunggu saat di bawah."

"Kurasa tidak, aku–"

PATS!

"Hyah!"

Namjoon reflek menangkap tubuh Seokjin yang terlonjak kaget karena kilatan petir yang menembus dinding kaca. Seokjin tampak meringkuk di pelukan Namjoon dengan tubuh yang bergetar, menyembunyikan seluruh wajahnya dari kilatan petir yang kembali menembus dinding.

"A– aku takut. T– takut N– Namjoon." Ia meremas kuat meja bermotif garis milik Namjoon.

Deja vu.

Kejadian ini persis seperti waktu itu, dimana Seokjin juga meringkuk ketakutan di dalam pelukannya karena kegelapan. Namjoon segera mengikuti instingnya untuk mengusap lembut surai hitam milik yang lebih tua dengan sebelah tangan, sementara tangannya satu lagi melingkar erat di bagian pinggang.

Apa Seokjin juga takut dengan petir?

"It's okay, I'm here." Bisiknya. "You're save with me."

Namjoon bisa merasakan tubuh Seokjin perlahan-lahan mulai kembali rileks. Meskipun pegangan pada kemejanya masih terasa kencang, tapi setidaknya tremor akibat rasa takut yang berlebihan tadi sudah hilang.

"Lebih baik kau di sini dulu untuk sementara. Di luar sedang hujan angin, kau tidak mungkin pulang di cuaca seburuk ini."

Seokjin hanya bisa mengangguk lemah di dalam dekapan Namjoon.

"Kau bisa jalan?"

Gelengan pelan dari yang lebih tua membuat Namjoon seketika berpikir bagaimana cara mengamankan Seokjin dari ruangan ini. Dinding kaca itu memang memiliki tirai, namun cahaya dari luar masih bisa menembus masuk melalui sela-sela tirai yang jaraknya memang renggang.

Apa aku harus menggendongnya?

PATS!

"Uhng!"

Tubuh Seokjin berjengit kaget begitu kilatan petir kembali menembus dinding kaca.

"N– Namjoon."

Tanpa berlama-lama lagi, Namjoon segera menggendong tubuh ramping itu dan membawanya naik ke lantai dua.

Ya, ia sudah memutuskan untuk menempatkan Seokjin di kamarnya untuk sementara waktu. Setidaknya sampai hujan dan petirnya reda.

Di rumah ini hanya ada dua kamar, yaitu kamar pribadinya dan kamar tamu yang sudah di klaim menjadi kamar khusus untuk orangtuanya saat berkunjung. Tidak mungkin Namjoon menempatkan Seokjin di kamar tamu, bisa-bisa ia diomeli oleh ibunya nanti. Satu-satunya tempat yang bisa dipakai Seokjin untuk istirahat hanyalah kamar pribadinya.

"Kau bisa istirahat di kamarku sampai hujan reda dan keadaanmu kembali normal." Ujarnya seraya melangkah masuk ke dalam kamar.

"T– terimakasih." Cicit Seokjin.

Sungguh Seokjin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jauh di dalam hatinya dia benar-benar merasa malu karena sudah bertingkah tidak sopan dan merepotkan Namjoon. Tapi apa mau dikata, segala logikanya mendadak sirna hanya karena rasa takut sialan yang dia miliki. Sekali rasa takut itu menyerangnya, ia benar-benar tidak bisa melakukan apapun.

Dan Seokjin benci itu. Dia benci terlihat lemah di hadapan orang lain.

"Tirai di sini lebih rapat daripada di bawah, jadi kilatan petir itu tidak akan bisa masuk ke dalam ruangan." Namjoon mendudukkan tubuh Seokjin di atas ranjang dengan hati-hati. "Ah dan kedap suara, jadi kau bisa beristirahat dengan tenang.

Jantung Seokjin serasa berhenti berdetak ketika melihat ukiran senyum lembut di wajah sang dosen. Senyuman itu terlihat begitu menawan sekaligus memberikan efek menenangkan pada tubuhnya yang tengah diserang rasa panik.

Betapa ia ingin melihat senyuman itu setiap hari.

"Seokjin?"

Pria bersurai hitam itu segera tersadar dari lamunannya.

Sial, kendalikan dirimu Kim Seokjin!

"Hey, kau tak apa? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" Tanya Namjoon.

"M– maaf."

Alis Namjoon terangkat. "Hum? Kenapa kau minta maaf?"

Seokjin menundukkan kepalanya seraya memainkan ujung hoodienya.

"Beberapa hari ini aku terus saja merepotkanmu karena hal yang tidak penting. Padahal kita baru saja bertemu dan terlebih lagi kau adalah dosenku di kampus." Seokjin menghela napas pelan. "Aku minta maaf, karena diriku waktumu jadi terbuang sia-sia begini."

Pria yang lebih muda kembali menyunggingkan senyum kecil. Entah kenapa ia merasa figur Seokjin saat ini terlihat begitu menggemaskan.

Jantungku, mulai lagi.

Jemari panjangnya tampak merayap ke dada sebelah kiri, merasakan debaran yang cukup kencang dari organ vital miliknya itu.

"Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu Namjoon-ssi."

Namjoon sontak mengembalikan atensinya pada Seokjin yang masih betah menunduk di posisinya.

"Manusia hidup untuk saling tolong menolong Seokjin, kau tidak perlu memikirkan hal itu." Jawabnya.

"Tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Bagaimanapun juga, aku sudah banyak berhutang budi padamu." Cicit Seokjin.

Namjoon mendesah pelan.

"Baiklah kalau begitu, apa hari Senin kau ada kuliah?"

Seokjin sontak mendongak dengan ekspresi wajah terkejut.

"Ada, sampai jam 11. Kenapa?"

"Setelah itu ada kegiatan lain?"

Pria yang lebih tua menggeleng.

"Makan siang? Kebetulan ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Iris gelap Seokjin seketika membola. "M– makan siang?"

"Uhum. Kau bisa?"

Seokjin menatap pria di depannya dengan tatapan tak percaya.

Kim Namjoon, penerus JJ Corp sekaligus pria idamannya, baru saja mengajaknya makan siang? Apa dia tidak salah dengar?

"Seokjin? Bagaimana?"

"Hah? Uh– y– ya aku bisa." Jawabnya terbata.

"Good." Namjoon tersenyum kecil. "Ah kau suka cokelat panas?"

Seokjin mengangguk pelan.

"Kalau begitu tunggu sebentar, akan kubuatkan di bawah. Kau tak apa kutinggal sendiri?"

"A– ah tidak usah, aku–"

"Tak apa, kau istirahatlah." Ujarnya seraya melangkah keluar kamar.

Iris gelap Seokjin mengikuti pergerakan Namjoon sampai pria berlesung pipi itu menghilang di balik pintu. Setelah memastikan bahwa Namjoon sudah benar-benar pergi-dengan menunggu selama beberapa saat-Seokjin menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Menenggelamkan wajahnya ke bantal dengan wangi maskulin yang khas itu kemudian mulai menggeram dan menendang-nendang bed cover berwarna navy di bawahnya.

"Affu fasfti mimphfi!" Pekiknya tidak jelas.

Seokjin senang sekali, sumpah! Rasanya seperti baru saja mendapat lotere dengan hadiah seperangkat kitchen set mahal, bahkan lebih baik dari itu. Bayangkan saja, baru kemarin lusa dia bertemu dengan Namjoon dan sekarang pria itu mengajaknya makan siang?

Sekarang ia jadi berpikir, berapa banyak pria dan wanita yang akan iri padanya ketika mereka semua tahu jika Seokjin diajak pergi makan siang oleh penerus JJ Corp.

Aku benar-benar tidak sedang mimpi kan?

NYUT!

Seokjin mencubit pergelangan tangannya kuat-kuat.

"Sakit." Gumamnya pelan. "Oh my god."

Pria berbahu lebar itu tampak menutup wajahnya dengan punggung tangan. Ia merasa seluruh tubuhnya dikuasai oleh euforia menyenangkan yang membuat jantungnya terus berdebar kencang. Seokjin memang pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi efeknya tidak sampai sebegini hebat.

"Kim Namjoon, apa yang sudah kau lakukan padaku." Ujarnya seraya memeluk guling yang ada di sebelahnya, menyamankan tubuhnya di atas ranjang yang dipenuhi oleh aroma maskulin milik Namjoon.

Aroma yang terasa begitu menenangkan membuat kesadaran Seokjin sedikit demi sedikit menghilang. Mata besarnya tampak mengerjap perlahan sebelum akhirnya benar-benar menutup sempurna. Ruangan yang awalnya dipenuhi oleh suara erangan dan teriakan seketika berubah sunyi.

CKLEK–

"Maaf aku lama, barusan– eo?"

Namjoon sontak menghentikan langkahnya ketika melihat Seokjin yang meringkuk di atas ranjang sambil memeluk guling.

"Seokjin?"

Pria yang lebih tua sama sekali tidak merespon. Hanya dengkuran halus yang keluar dari bibir pria itu.

"Apa dia tidur?" Ujarnya seraya meletakkan cangkir di atas night stand kemudian bergegas menyelimuti tubuh Seokjin.

"Ung–"

Sudut bibir Namjoon seketika terangkat.

Cute.

Tanpa sadar jemari panjangnya bergerak mengusap helaian hitam milik Seokjin dengan lembut. Tatapannya sama sekali tak lepas dari wajah damai Seokjin, memperhatian setiap lekuk wajah yang sempurna itu.

Ini benar-benar pertama kalinya Namjoon berinteraksi begitu dekat dengan orang yang baru saja dikenalnya. Ia tak pernah membawa siapapun selain keluarga dan teman dekatnya ke rumah ini, terlebih lagi ke dalam kamar pribadinya. Tapi entah kenapa sejak kejadian malam itu ia jadi memiliki keinginan untuk melindungi Seokjin.

Aneh bukan? Sebelumnya ia tak pernah sama sekali merasakan hal yang seperti itu.

"Nggh."

Namjoon buru-buru menjauhkan tangannya saat Seokjin merubah posisi tidur menjadi menghadap ke arahnya.

"Ah, apa yang kulakukan." Pria bersurai ash brown segera bangkit dari duduknya. "Lebih baik aku kerja saja sekarang."

GREP!

Sebuah tarikan pelan pada lengan kemejanya membuat Namjoon menolehkan kepalanya ke arah Seokjin yang masih terlelap.

"Stay, please." Gumam Seokjin.

Ah, dia mengigau?

Namjoon berusaha melepaskan tangan Seokjin dari lengannya, namun bukannya terlepas, pegangan itu justru terasa semakin erat.

"Please." Kali ini suara Seokjin terdengar bergetar seperti akan menangis.

Perubahan Seokjin yang tiba-tiba itu membuat Namjoon gelagapan. Ia bingung harus melakukan apa sekarang.

Apa aku harus membangunkannya? Tidak tidak. Melepaskan tangannya lalu pergi? Aish tidak, dia akan menangis jika aku melakukannya.

Namjoon tampak diam selama beberapa saat sampai satu ide terlintas di benaknya.

Apa aku harus menemaninya tidur? Tidak Kim Namjoon, apa yang-

"Hiks–"

Sebuah isakan kecil dari Seokjin membuat Namjoon segera membalikkan tubuhnya dan membaringkan diri tepat di sebelah Seokjin, menyisihkan segala keraguan yang tadi sempat menghampiri pikirannya. Ia kembali mengusap lembut surai hitam milik Seokjin, berusaha menenangkan pria yang sepertinya sedang mendapatkan mimpi buruk itu.

SRET!

Tubuh Namjoon menegang saat Seokjin memeluknya dengan tiba-tiba. Jantungnya kembali berdebar kencang seperti akan meloncat keluar dari tulang rusuknya. Posisi ini terasa begitu intim bagi Namjoon hingga membuat adik kecilnya perlahan terbangun.

Tidak tidak! Kenapa di saat seperti ini aku malah ereksi?! Tenang Namjoon, tenang. Kendalikan pikiranmu.

Ia berusaha memberi jarak antara tubuhnya dengan tubuh Seokjin, namun pelukan Seokjin yang kelewat erat membuatnya kesulitan untuk bergerak. Karena merasa semua usahanya sia-sia, dia memutuskan untuk berhenti bergerak dan balas memeluk Seokjin yang terlihat makin tenggelam di dadanya.

"Semoga saja dia bukan tipe yang suka bergerak saat tidur." Gumamnya seraya mengusap pelan surai gelap milik Seokjin.

"Sleep well– Jin."


.

.

~Buttermints~

.

.


Pagi itu matahari kembali menunjukkan sinarnya di langit kota Seoul setelah sempat dikalahkan oleh hujan badai kemarin sore. Hiruk pikuk kendaraan mulai nampak memadati jalanan, bersamaan dengan orang-orang yang sibuk berlalu lalang di sepanjang trotoar.

Hujan badai baru berhenti pukul dua dini hari tadi. Beruntung ramalan cuaca yang disiarkan pagi ini menunjukkan bahwa cuaca akan cerah seharian penuh, jadi orang-orang bisa menghabiskan hari Minggunya dengan tenang.

Termasuk sepasang pria yang masih setia bergelung di dalam selimut dengan posisi saling berpelukan. Berbagi kehangatan satu sama lain.

Bias-bias cahaya tampak masuk dari sela-sela tirai yang menutupi dinding kaca. Ruangan itu tampak remang-remang karena hanya diterangi dua lampu tidur dan bias-bias samar dari luar sama sekali tidak menambah intensitas cahaya di sana, membuat mereka semakin betah berada di alam mimpi.

CKLEK!

"Good mor–ning." Pemilik surai oranye itu sontak mengecilkan suaranya begitu melihat pemandangan yang sangat langka di depannya.

"Oh–my–fucking–god."

Pria itu buru-buru mengambil ponsel di kantong celananya kemudian berjalan mengendap-endap mendekati dua insan yang terlelap di atas ranjang.

"Padahal semalam aku hanya asal bicara pada Bibi Kim, tak kusangka jika apa yang aku omongkan itu benar-benar nyata." Sudut bibirnya seketika terangkat membentuk seringai.

"Namjoon kita ternyata sudah besar huh?" Kekehnya seraya mengarahkan kamera ponsel ke sepasang pria itu.

KLIK! KLIK! KLIK!

"Nngh–" Pria bersurai ash brown tampak menggeliat pelan, sedikit terganggu dengan suara kamera yang rupanya cukup keras.

"Ah~ selamat pagi Namjoon saudaraku. Malam yang indah hmm?" Ujarnya seraya menaik-turunkan alis.

Mata Namjoon sontak menjeblak terbuka begitu mendengar suara khas milik seseorang yang diumpatinya sejak semalam. Pria berlesung pipi itu sedikit mendongakkan kepalanya dan menemukan sosok berambut oranye yang tengah tersenyum lebar bak kuda tak jauh dari ranjangnya.

"Hoseok, apa yang kau lakukan di kamarku?!"

Namjoon menggeram pelan, berusaha sebisa mungkin agar tidak membangunkan Seokjin yang masih terlelap di rengkuhannya.

"Tadi aku berniat untuk mengajakmu sarapan di luar, tapi ternyata kau sedang bersama kekasihmu. Jadi aku memutuskan untuk mengabadikan momen langka ini sebelum membangunkanmu."

"Aku belum membuat perhitungan denganmu masalah semalam. Jangan macam-macam atau kau akan menyesal pernah dilahirkan di dunia ini."

"Wow wow tenang bung, aku hanya mengambil beberapa fotomu saja." Hoseok mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Hapus sekarang atau aku akan–"

"Aku sudah mengirim semuanya pada Bibi Kim."

"Shit!"


.

.

TBC

.

.


Lagi-lagi keinginan hamba untuk bisa update seminggu sekali harus kandas karena jadwal kuliah yang hectic banget huhuhu.
Chapter ini rasanya agak garing ya ehehe maafkan hamba readernimm *sujud*.
Mungkin bakalan ada side couple yang muncul di chapter depan buat selingan biar readernimm sekalian nggak bosan.

Terimakasih buat yang udah sempetin mampir ke ff ini, Ata sayang kalian semuaa.
Kalau punya saran-saran dan komentar bisa langsung tulis di kolom review yaa.

See you in the next chapter!