Dimple

Chapter 8: Jealousy


BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M


.

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.


Pagi itu suasana tenang di mansion keluarga Kim mendadak terusik oleh teriakan lantang dari sang nyonya besar. Mengagetkan segenap pelayan, tukang kebun, asisten pribadi, sampai suaminya sendiri yang sedang menikmati kudapan paginya di halaman belakang rumah. Kim Yunho-sang suami-tampak berjalan tergopoh-gopoh ke arah dapur, diikuti oleh tiga orang pelayan dan seorang asisten pribadi keluarga Kim bernama Mingyu.

"Sayang?! Ada apa?"

Pria cantik dengan apron berwarna kuning menoleh ke arah sang suami dengan ekspresi wajah terkejut dan mata berkaca-kaca.

"Namjoon-ku benar-benar sudah besar."

"Huh?"

Pria itu menunjukkan foto sepasang pria yang tengah tidur sambil berpelukan di layar ponselnya kepada sang suami.

"Namjoon tidur seranjang, berdua, dengan Seokjin!" Ujarnya antusias.

Yunho seketika menghembuskan napas lega seraya mengusap dada kirinya. Ia lalu memberi kode kepada para pelayan dan Mingyu untuk meninggalkan dapur yang langsung dilakukan oleh mereka.

"Kau benar-benar membuatku kaget yeobo." Yunho mendekati sang istri yang kembali fokus pada foto di ponselnya. "Omong-omong dari mana kau mendapatkan foto itu?"

"Dari Hoseok dan aku yakin foto ini seratus persen asli, bukan editan."

Sang suami tampak menganggukkan kepalanya, menyetujui pernyataan Jaejoong.

"Jadi, menurutmu apa hubungan yang sedang dijalani oleh mereka? Kau masih ingat kan jika kemarin mereka setengah mati mengelak saat ditanya tentang hal itu."

"Mungkin sebenarnya mereka saling suka, tapi tak ada yang mau menyatakan duluan. Kalau memang mereka benar-benar sama sekali tak memiliki perasaan itu, tidak mungkin mereka akan berada dalam posisi sedekat dan seintim ini." Jelas Jaejoong.

"Aku sependapat denganmu. Perlukah kita meminta bantuan Mingyu untuk mendapatkan informasi tentangsiapa namanya?"

"Kim Seokjin dan ya, panggil Mingyu sekarang juga. Apapun yang terjadi aku mau Seokjin untuk jadi menantuku."

Yunho mengambil ponselnya dari dalam saku kemudian segera menghubungi Mingyu yang ia yakini sudah kembali ke halaman belakang.

"Halo, Mingyu. Aku ingin kau mencari informasi tentang seseorang bernama Kim Seokjin, selengkap-lengkapnya."

"Baik tuan. Kapan anda menginginkan berkas-berkasnya?" Sahut pria di seberang.

"Malam ini. Kau berikan semuanya pada Jaejoong karena malam nanti aku ada makan malam dengan klien."

"Baik. Semuanya akan saya siapkan untuk anda tuan."

"Terimakasih Mingyu." Yunho memutuskan sambungan teleponnya. "Mingyu akan membawakan berkasnya nanti malam."

"Good. Setelah kita tahu semuanya tentang Seokjin, kita harus membicarakan kelanjutan hubungan anak kita dengannya. Seandainya latar belakang Seokjin serta keluarganya baik dan memenuhi kriteria kita, langsung nikahkan saja mereka." Ujar Jaejoong gemas.

Yunho tertawa kecil.

"Kita memang boleh membuat rencana, tapi yang memiliki hak untuk memutuskan semuanya adalah mereka sendiri sayang."

"Iya aku tahu. Tapi tak ada salahnya juga kan kita mendekati Seokjin dan keluarganya. Apalagi untuk bicara pada Namjoon yang merupakan anak kita sendiri. Jackson sahabat kecilnya saja sudah menikah dengan Mark, aku tidak mau dia menikah di usia yang terlalu tua."

Kepala keluarga Kim tampak merangkul sang istri seraya menepuk-nepuk pelan lengannya.

"Tenanglah, aku punya feeling kalau Namjoon akan mengambil langkah lebih dulu kali ini."

Jaejoong mengangguk pelan.

"Semoga saja. Aku ingin segera menggendong cucu."


.

.

~Buttermints~

.

.


"Jadi siapa pria cantik tadi? One night stand? Pacar baru?"

Hoseok menaik turunkan alisnya seraya melemparkan tatapan jahil pada Namjoon.

"Berhenti bicara yang aneh-aneh atau kusiram kau dengan air panas." Sahut pria bersurai ash brown yang tengah sibuk menyeduh teh di counter dapur.

"Oh ayolah tidak usah malu untuk mengakuinya. Apalagi yang akan kau gunakan sebagai alasan eh? Semuanya sudah dibuktikan dengan momen tidur bersama tadi pagi." Hoseok menyeruput kopinya perlahan. "Aku sudah jadi temanmu sejak kecil dan aku tahu betul kau tidak akan mau berada sedekat itu dengan sembarang orang."

Namjoon mengerang kesal. Dia bersyukur karena Seokjin sudah meninggalkan rumahnya sejak setengah jam yang lalu, jadi ia tidak perlu mendengarkan percakapan konyol ini.

"Dia hanya mahasiswa di kelasku, oke? Kami tidak memiliki hubungan apapun dan kuharap kau bisa berhenti untuk mengompor-ngompori kedua orang tuaku."

Ujaran bernada kesal itu membuat pria bersurai oranye terbahak di kursinya, mengundang tatapan tajam dari sang pemilik rumah.

"Seandainya perkataanmu barusan itu benar, kenapa pria cantik tadi begitu gugup ketika melihatku dan langsung pulang begitu saja dengan pakaiannya yang acak-acakan? Terlebih lagi"

Hoseok menurunkan pandangannya ke bagian tengah celana pendek abu-abu yang dipakai Namjoon.

"Benda kebanggaanmu itu menjulang begitu tinggi saat kau bangun tadi."

Sebuah perempatan imajiner seketika muncul di dahi Namjoon. Semua kata-kata yang keluar dari mulut temannya yang laknat itu benar-benar membuat emosinya naik sampai ubun-ubun. Ya wajar saja kan kalau dia mendapatkan ereksi di pagi hari, dia ini pria muda yang sehat jadi hal seperti itu sangat lumrah terjadi. Lalu dimana letak keanehannya?

"Mau ereksi atau tidak, itu bukan urusanmu." Jawabnya seraya melangkahkan kaki-kaki jenjangnya keluar dari dapur.

"Aish, tentu saja jadi urusanku eoh. Mana tega aku melihat sahabatku sendiri tiba-tiba jadi impoten. Melihatmu sehat adalah kebahagiaan tersendiri untukku."

Hoseok tampak mengekor di belakang sang tuan rumah sambil kembali menyeruput kopinya. Ia lalu mendudukkan diri di sofa hitam milik Namjoon dan menyalakan televisi untuk menonton acara favoritnya.

"Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Namjoon seraya menghidupkan laptopnya.

"Aku benar-benar hanya ingin mengajakmu sarapan di luar. Sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu kesenanganmu."

Seringai lebar kembali muncul di wajah Hoseok, membuat si pria berkacamata kembali memutar matanya malas.

"Sudah kubilang, berhenti bicara yang tidak-tidak. Bukan hanya aku yang akan dirugikan Hoseok, tapi Seokjin juga."

"Oow manis sekali kau membela kekasihmu." Hoseok terkekeh.

"Dia-bukan-kekasihku." Jawab Namjoon penuh penekanan. Matanya tak lepas memandang tajam ke arah Hoseok yang sama sekali tak terpengaruh.

Hoseok sudah kebal ditatap seperti itu, jadi sebenarnya sia-sia saja Namjoon memberikan ancaman lewat tatapan mata.

"Baik baik aku mengerti. Kurasa aku sudah menemukan partnerku yang baru kalau begitu."

Mata Namjoon seketika menyipit.

"Maksudmu?"

Hoseok kembali menunjukkan seringai lebarnya.

"Yaa sebenarnya Seokjin itu masuk ke dalam tipeku. Wajah cantik, bibir penuh, tubuh ramping, bokong padat yang seksiㅡ"

Pemilik surai oranye itu bicara seraya menatap ke arah Namjoon, memperhatikan segala ekspresi yang muncul di wajah sahabatnya.

"ㅡdan kau tahu Joon? Aku benar-benar penasaran bagaimana Seokjin saat di ranjang. Kurasa aku akan coba untuk mendekatinya mulai sekaㅡ yak!"

Pekikan dari Hoseok seketika menggema di ruangan itu, bersamaan dengan bunyi seretan sepatu miliknya yang bergesekan dengan lantai.

Sungguh, dia benar-benar merasa kesulitan untuk bernapas karena Namjoon menyeret tubuhnya dengan menarik kerah hoodie miliknya. Tapi memang inilah yang menjadi tujuannya, melihat apakah sahabat batunya itu cemburu atau tidak.

Dan berdasarkan apa yang pria itu lakukan sekarang, hasilnya sudah sangat jelas.

Namjoon cemburu.

CKLEK!

"Pulanglah, aku ada pekerjaan." Ujarnya seraya mendorong Hoseok keluar dari dalam rumah.

"Aish! Kau ini kenapa eoh? Biasanya juga kau membiarkanku di dalam meski sedang bekerja."

Hoseok melemparkan tatapan pura-pura kesalnya pada Namjoon.

"Kau membuatku tidak bisa konsentrasi. Datang saja lain kali."

BRAK!

"Pfft!"

Pintu kayu itu kemudian tertutup cukup kencang tepat di depan wajah Hoseok yang sudah tidak sanggup lagi menahan tawanya. Ia hampir saja mengacaukan skenarionya sendiri karena ekspresi Namjoon yang terihat begitu konyol barusan. Biarlah bajunya kusut karena ditarik paksa oleh Namjoon, yang penting ia sudah berhasil mendapatkan informasi yang dia inginkan.

"Dengan melihat saja orang-orang sudah pasti tahu jika sebenarnya kau menyukai mahasiswamu itu. Hanya dirimu saja yang kelewat polos, dasar payah."

Sementara Hoseok sibuk terkekeh di depan pintu, Namjoon tampak memasuki kamar mandi kemudian segera menghidupkan shower tanpa melepas pakaiannya. Tubuh tingginya sedikit mengejang ketika guyuran air dingin mengenai kulitnya. Ia sengaja tidak menggunakan air hangat, berharap rasa terbakar yang menjalar di sekujur tubuhnya menghilang setelah terkena air.

Tubuhnya mendadak bereaksi aneh ketika Hoseok membahas Seokjin tadi. Apalagi saat teman kecilnya itu berkata bahwa dia akan mendekati Seokjin, amarahnya seketika memuncak naik dengan sendirinya. Jika biasanya dia merasa tidak peduli dengan partner satu malam yang sering diceritakan oleh Hoseok, entah kenapa kali ini dia merasa seperti ingin menjahit mulut pria itu agar tak lagi menyebutkan nama Seokjin.

Dia tidak suka.

Dia tidak suka saat nama Seokjin keluar dari mulut Hoseok, dia tidak suka saat Hoseok mendeskripsikan fisik Seokjin, dia tidak suka saatㅡ

Namjoon mengerang seraya mengusak helaian ash brownnya yang basah terkena air. Jantungnya kembali berdetak cepat seperti semalam, namun bukannya merasakan rasa sesak yang menyenangkan, dada kirinya justru terasa nyeri.

"What's wrong with me?"


.

.

~Buttermints~

.

.


Seokjin menatap kosong layar laptop yang tengah menyala di depannya. Awalnya ia berniat untuk menyelesaikan tugas esai untuk besok, tapi segala konsep yang telah tertusun rapi di kepalanya mendadak dikacaukan oleh ingatan beserta pertanyaan-pertanyaan seputar kejadian semalam. Ia sudah berusaha sekeras mungkin untuk tidak mengingatnya, tapi memori otaknya seakan tak mengijinkan dirinya untuk lupa.

Sungguh, semua tindakan memalukan itu benar-benar diluar kendali dan jiwanya seakan ingin meloncat keluar ketika pagi ini ia terbangun tepat di sebelah pria yang disukainya. Semua itu menandakan bahwa mereka tidur seranjang sejak semalam entah apa sebabnya.

Apa mungkin aku dan Namjoon melakukan sesuatu?

BLUSH!

Seokjin menggeleng cepat, menghilangkan segala bayang-bayang aneh yang kembali bermunculan di benaknya.

"Tidak tidak. Aku bangun dengan pakaian lengkap dan tubuhku sama sekali tidak merasakan sakit yang aneh." Seokjin menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. "Lalu kenapa aku bisa tidur satu ranjang dengannya?"

"Sudah kuperingatkan untuk tidak minum terlalu banyak saat main ke bar, jadinya kau tidak bisa mengingat dengan jelas kejadiannya kan."

Tubuh Seokjin tersentak kaget ketika mendengar suara milik seseorang yang begitu familiar. Kepalanya menoleh ke arah suara itu berasal dan ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya begitu melihat sosok sang ibu tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.

"E- eomma? Sejak kapan eomma disitu?!"

Pria yang tak kalah cantik dari Seokjin itu tampak melipat tangan di depan dada seraya menyandarkan setengah tubuhnya pada pintu.

"Sejak kau membahas-bahas masalah ranjang. Katakan, siapa pria kurang ajar yang telah membawa anak kesayanganku ke ranjangnya saat dia sedang mabuk?"

Oh ini tidak bagus.

"Bㅡ bukan begitu kejadiannya. Eomma salah paham." Ujar Seokjin terbata-bata.
Sang ibu tampak menaikkan alis.

"Lalu?"

Seokjin menghela napas pelan seraya menatap ragu pada pria cantik bernama lengkap Kim Heechul itu. Sang ibu memang sedikit sensitif jika berurusan dengan pria yang sedang dekat dengan dirinya. Hal itu memuat Seokjin harus berkali-kali memutuskan hubungannya karena tidak direstui.

Jujur saja Seokjin tidak nyaman dengan sikap ibunya yang seperti itu. Dia ini sudah dua puluh empat tahun, bukan remaja belia yang masih butuh tuntunan orang tua. Meski begitu ia tak bisa menyuarakan protesnya karena ia tahu alasan sang ibu bersikap seperti itu.

Ya, Heechul memiliki trauma masa lalu karena ditinggal oleh kekasihnya saat tengah mengandung Seokjin. Karena itulah Heechul menjadi sedikit over protektif, ia tidak mau anaknya mengalami hal yang sama dengannya.

"Errㅡ kenapa eomma tidak duduk saja dulu?"

Heechul sama sekali tidak beranjak dari posisinya seraya melemparkan tatapan minta penjelasan ke arah Seokjin.

Bibir Seokjin tampak maju beberapa senti karena ucapannya tak dihiraukan oleh sang ibu.

"Eomma"

"Aku menunggu."

Seokjin kembali menghela napas pelan. Kalau sudah begini ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ibunya akan jadi menyeramkan jika sudah marah.

"Jadi semalam aku pergi untuk menjemput ponselku yang ditemukan oleh seseorang. Ternyata yang menemukannya adalah asisten dosenku di kampus." Seokjin memainkan jari-jarinya. "Lalu semalam hujan lebat dan aku terpaksa menginap di rumahnya d- dan entah kenapa pagi ini aku bisa terbangun satu ranjang dengannya."

Sang ibu tampak mengurut dahinya yang mulai terasa pening.

"Berikan aku alamat rumahnya. Akan kuberi pelajaran pria kurang ajar itu."

"Tㅡ tidak eomma, bukan begitu!" Jawab Seokjin cepat.

"Tidak begitu bagaimana?! Eomma tidak peduli apa jabatan pria itu! Jika dia berani bertindak tidak sopan pada anakku, dia akan berurusan dengan Kim Heechul. Dan jangan sekali-sekali kau membelanya." Heechul berucap tegas.

"Kㅡ kami tidak melakukan apapun. Uhㅡ saat terbangun tadi pakaianku masih lengkap seperti sebelumnya dan tubuhku sama sekali tidak ada yang sakit." Jelas Seokjin. "Aku hanya bingung saja, kenapa aku bisa tidur bersamanya. Karena yang kuingat semalam aku tidur sendirian."

Penjelasan sang anak semakin membuat inner Heechul berapi-api.

"Berikan aku alamatnya."

"No!"

"Kim Seokjin!"

Seokjin menggeleng cepat.

"Dia orang baik, aku yakin dia tidak berbuat sesuatu yang aneh padaku eomma."

Sang ibu tampak menyipitkan matanya.

"Sejak tadi kau terus saja membelanya. Kau menyukai pria itu?"

BLUSH!

Seokjin buru-buru menutup wajahnya dengan telapak tangan, berharap Heechul tidak melihat rona merah yang muncul di wajahnya.

"Sudah kuduga." Gumam Heechul.

PING!

Heechul mengalihkan atensinya pada layar ponsel yang menampilkan notifikasi pesan baru. Ia segera membuka pesan yang berasal dari asistennya itu.

"Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti, eomma ada meeting untuk membahas pembukaan cabang restoran kita yang baru." Heechul kembali mengalihkan pandangannya pada Seokjin. "Eomma akan berkunjung lagi lain kali."

Seokjin mengangguk.

"Hati-hati. Ku antar ke depan?"

"Tidak usah, kau lanjutkan saja tugasmu." Heechul beranjak dari pintu kamar Seokjin, namun kembali berbalik setelahnya. "Seokjin?"

"Hum?" Seokjin menolehkan kepalanya.

"Siapa nama pria itu?"

"Uㅡ untuk apa eomma menanyakan hal itu?"

Heechul mengedikkan bahunya.

"Hanya bertanya. Cepat, eomma sudah ditunggu."

Pria berbahu lebar tampak menatap bimbang pada sang ibu.

Kurasa tak apa jika hanya nama.

"Kㅡ Kim Namjoon."

"Oke. Eomma pergi, jangan lupa makan dan minum vitaminmu. Beritahu aku jika kau perlu sesuatu."

Heechul melangkahkan kakinya menjauhi kamar sang anak dengan dahi yang berkerut.

"Kim Namjoon? Kenapa nama itu seperti tidak asing di telingaku?"


.

.

~Buttermints~
.

.


"Hyung, omuricemu sudah siap!" Jimin meletakkan dua piring omurice di atas meja.

Tak ada jawaban.

"Yoongi-hyung!"

Kembali tak ada jawaban.

"Apa dia tidur lagi? Aish."

Pemilik surai blonde tampak menggantungkan apronnya kemudian menyusul sang kekasih yang berada di kamar mereka.

CKLEKㅡ

"Hyung?"

Pria bersurai gelap tampak mendongakkan kepalanya ke arah Jimin.

"Hm?"

Jimin tersenyum kecil.

"Kukira kau tidur lagi. Makan siang sudah siap."

Yoongi memindahkan laptopnya ke atas nightstand.

"Come here."

Pemilik surai blonde tampak menyilangkan tangannya di depan dada, tidak bergerak se-inchi pun dari posisinya.

Karena Jimin tahu apa yang akan terjadi jika ia menuruti permintaan kekasihnya.

"Tidak mau."

"Hanya sebentar. Aku butuh pelukan."

Jimin menghela napas pelan. Kekasih albinonya itu memang kembali sibuk dengan pekerjaannya akhir-akhir ini. Padahal baru seminggu yang lalu kekasihnya memiliki waktu senggang untuk beristirahat. Tapi begitulah resiko seorang produser musik, mereka harus rela menghabiskan hampir seluruh waktu santainya untuk menyelesaikan lagu-lagunya yang sudah masuk deadline.

"Baiklah, hanya sebentar. Setelah itu kau harus makan." Ujarnya seraya berjalan mendekati Yoongi.

Jimin segera naik ke pangkuan Yoongi kemudian menyandarkan kepala pria itu ke dadanya.

"Kau sudah mandi?" Yoongi mengendus ceruk leher Jimin, menghirup aroma manis vanilla yang selalu bisa menenangkan syaraf-syaraf tegangnya.

"Uhum, tadi saat kau masih tidur."

Pria berpipi tembam itu tampak mengusap pelan helai hitam milik Yoongi, membuat sang pemilik semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggang Jimin.

"Hari ini tidak ke kantor?"

Yoongi menggeleng.

"Libur. Ingin denganmu saja di rumah."

Jimin terkekeh pelan. Ia suka momen-momen seperti ini, saat kekasihnya yang terkenal batu dan cuek bermanja-manja padanya seperti anak kecil. Benar-benar menggemaskan.

"Baiklah... sekarang ayo makan dulu. Kau perlu mengisi perutmuㅡ aw!"

Tubuh Jimin tersentak ketika merasakan sengatan kecil di perpotongan lehernya.

"Hyung"

"Ssh... aku sedang makan."

"Tapi bukanㅡ ah!" Tubuhnya kembali tersentak karena gigitan Yoongi pada tulang selangkanya.

"You smell good baby." Yoongi menyusuri garis punggung Jimin dengan jemari panjangnya seraya mengecupi bekas gigitan yang ia buat. "So tempting."

Suara berat itu berhasil membuat sesuatu di antara paha Jimin terbangun. Jimin meremas surai gelap milik Yoongi, melampiaskan segala kenikmatan yang mulai menjalar ke seluruh sel-sel tubuhnya. Sentuhan-sentuhan sang kekasih selalu bisa melemahkan tubuh dan pikirannya. Sekeras apapun Jimin menolak, dia akan tetap menjadi mangsa pada akhirnya.

Thanks to Yoongi's magic hands.

SRET!

Dalam sekejap Jimin sudah terbaring di atas ranjang dengan posisi terlentang. Yoongi tampak berada di antara kaki Jimin yang terbuka cukup lebar, jemari panjangnya tampak menurunkan celana pendek Jimin dengan tergesa. Dia benar-benar sudah tidak mampu menahan hasratnya yang sudah terkumpul sejak Jimin masuk ke kamar tadi.

Salahkan celana super pendek dan kaos dengan kerah longgar yang menampilkan sepasang paha kokoh serta tulang selangka Jimin secara bersamaan. Bagaimana bisa Yoongi tidak terangsang melihat semua pemandangan menggiurkan itu.

"Ahk!"

Jimin reflek merapatkan kedua pahanya saat kejantanannya mendadak dilingkupi oleh kehangatan. Jemarinya tampak meremat kuat bed cover di bawahnya untuk melampiaskan rasa nikmat yang tiba-tiba melanda syaraf tubuhnya.

"Hyungh!"

Pria yang lebih tua tampak menyeringai di sela-sela kegiatan mengulumnya. Iris gelapnya tak lepas menatap ke arah Jimin, mengamati setiap ekspresi dan gestur yang dibuat olehnya ketika tengah dilanda kenikmatan. Betapa Jiminnya saat ini terlihat begitu menggairahkan dan siap untuknya.

Ya, hanya untuknya. Untuk Min Yoongi.

"Kenapa kau selalu membuatku gila Min Jimin." Ujarnya seraya menjilat ujung kejantanan sang kekasih.

Dada Jimin terlihat naik turun bersamaan dengan deru napasnya yang tak beraturan. Rona merah pada pipinya nampak semakin pekat setelah Yoongi mengucapkan namanya dengan marga yang diganti menjadi Min, mengklaim dirinya sebagai milik Yoongi seorang.

Gambaran Yoongi yang posesif di ranjang membuat Jimin semakin dekat dengan ujung gairahnya. Jemari kakinya tampak menggulung akibat rangsangan tanpa henti pada kejantannya.

"Ahh, berㅡberhenti." Ujarnya susah payah.

Yoongi sama sekali tak mempedulikan rintihan Jimin. Ia malah semakin gencar menghisap kejantanan Jimin di bawah sana, menggiring sang kekasih untuk menjemput puncaknya.

"Ah! Yooㅡngi ngh!" Jimin merasakan otot di bagian bawah tubuhnya menegang, menandakan bahwa dia akan sampai sebentar lagi.

Pria bersurai hitam mengeluarkan benda lunak itu dari mulutnya kemudian mengurutnya dengan tempo cepat.

"Come for me baby, come for hyung."

"Hhyung ahk!"

Tubuh Jimin mengejang bersamaan dengan keluarnya cairan putih yang mulai mengotori kaos hitamnya. Bibir plushynya tampak terbuka lebar, berusaha mengais oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya.

Sementara Jimin menikmati sisa-sisa pelepasannya, Yoongi tampak merebahkan diri di sebelah Jimin kemudian mengecupi pipi tembamnya.

"Sepertinya kau harus mandi lagi. Tubuhmu berkeringat." Yoongi menyeringai.

"Dㅡ dasar mesum."

Jimin menyembunyikan wajahnya di dada sang kekasih. Yoongi tergelak seraya memeluk pria bersurai blonde itu.

DRRT!

Yoongi sontak menolehkan kepalanya ke arah suara yang berasal dari belakang tubuhnya.

"Ponselmu bergetar."

"Ambilkan." Ujar Jimin dengan wajah yang masih tenggelam di dada bidang Yoongi.

"Dasar manja."

Yoongi kembali tergelak. Tangannya meraih benda persegi yang layarnya menyala dan menampilkan satu notifikasi baru. Alis Yoongi seketika terangkat ketika melihat preview isi pesan yang tampil di homescreen.

Kenapa orang ini mengirimkan pesan dengan banyak emoji hati?

"Jimin?"

"Hngg?"

Hening sejenak.

"Siapa Heosokie?"


.

.

TBC

.

.


Hadiah buat Yoonmin shipper kkk.

Updateee.

Oh iya, menurut readernim sekalian dibikin Mpreg atau tidak nih bagusnya?
Tulis di kolom review yaa.

Sekali lagi terima kasih buat yang udah sempetin mampir ke ff ini, I love you all.
Bagi yang kemarin-kemarin nanyain akun wattpad, silahkan search username sexykimbab di sana yaa.

Kritik dan saran yang membangun selalu Ata terima, silahkan tulis juga di kolom review ehehe.

See you in the next chapter!