Dimple
Chapter 9: Connection
BTS Fanfiction
Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy
Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv
Rating: M
.
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu, Heechul-hyung."
Istri dari pemilik JJ Corp itu tampak mengaduk-aduk tehnya dengan pelan.
"Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu setelah sekian lama, Jaejoong-ah." Jawab Heechul.
Mereka tampak saling melemparkan pandangan satu sama lain, seolah tengah berbicara melalui kontak mata yang sangat intens itu.
"Pfftㅡ hahaha!"
Keheningan seketika terpecah karena tawa dari sepasang pria paruh baya yang masih sama-sama terlihat muda dan cantik. Atmosfer tegang yang tadi sempat melingkupi mereka mendadak menguap entah kemana.
"Bagaimana kabarmu nyonya besar Kim? Aku sempat kaget saat menerima telepon darimu semalam." Ujar Heechul seraya menyesap tehnya.
"Aish, kau ini masih saja suka menggodaku hyung." Jaejoong tertawa kecil. "Kabarku baik, bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat, bahagia, sehat, dan masih seksi."
Seringai dari yang lebih tua membuat Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Kau benar-benar tidak berubah."
Heechul meletakkan cangkir tehnya ke atas meja.
"Sejak kepergianku ke luar negeri waktu itu, kita sama sekali kehilangan kontak. Maaf aku tidak mengabarkan kepulanganku padamu Jaejoong-ah, aku benar-benar merasa bersalah karena meninggalkanmu secara mendadak."
Jaejoong bisa menangkap perasaan bersalah dari kalimat yang disampaikan oleh sahabatnya itu.
"Aku mengerti keadaanmu saat itu hyung. Kau tidak perlu merasa bersalah kepadaku." Jawabnya seraya menepuk-nepuk pelan punggung tangan Heechul.
Jaejoong dan Heechul menjadi sahabat dekat semenjak pria yang lebih tua itu membantunya untuk mendekati Yunho saat masih di sekolah menengah atas. Mereka berdua kemudian dikenal sebagai diva ketika di universitas karena prestasi serta penampilan mereka yang sempurna.
Akan tetapi mereka harus terpisah karena Heechul yang mendadak pindah ke luar negeri setelah kejadian tidak mengenakkan yang disebabkan oleh kekasihnya. Sejak itulah Jaejoong sama sekali kehilangan kontak dengan Heechul, namun berkat informasi yang Mingyu berikan semalam, ia akhirnya dapat menghubungi sahabatnya itu setelah sekian lama.
Karena Heechul ternyata adalah ibu dari Kim Seokjin, pria yang sedang dekat dengan anak semata wayangnya.
"Baik, lupakan hal itu. Sekarang yang ingin kutanyakan, darimana kau mendapatkan nomorku dan kenapa kau mendadak mengajakku bertemu?" Tanya Heechul penasaran.
Jaejoong menyesap tehnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Heechul.
"Aku mendapatkan nomormu dari file yang dibawakan oleh asistenku."
Heechul tampak menaikkan alisnya bingung.
"File? Kau memata-mataiku?"
Pria bersurai cokelat menggeleng cepat.
"Bukan kau, tapi anakmu, Kim Seokjin."
Heechul seketika menghentikan kunyahannya.
"Seokjin? Kau memata-matai Seokjinku?" Nada suara Heechul terdengar naik, sensitif karena keterlibatan sang anak pada apapun itu yang sedang direncanakan oleh Jaejoong.
"Tenang hyung, aku tidak sedang merencanakan hal-hal yang buruk." Jaejoong tertawa kecil. "Aku hanya ingin tahu latar belakang calon menantuku."
Dahi Heechul tampak berkerut, bingung dengan kata-kata Jaejoong.
"Calon menantu?"
"Uhum, aku menginginkan Seokjin untuk menjadi istri anak semata wayangku, Kim Namjoon." Jelasnya.
Kim Namjoon? Nama yang familiarㅡ oh!
"Apa anakmu sekarang sedang menjalani profesi sebagai asisten dosen di universitas Seokjin?"
"Yup! Tunggu, darimana kau tahu?"
Heechul tertawa pelan.
"Kemarin Seokjin cerita tentang kejadian tidur satu ranjang dengan seseorang bernama Kim Namjoon, jadi itu anakmu? Pantas saja aku seperti familiar dengan namanya." Jelas Heechul. "Awalnya aku ingin menghajar pria itu karena sudah berani kurang ajar pada anakku, tapi Seokjin melarangku karena ternyata dia menyukai anakmu."
"Seokjin menyukai Namjoon?"
"Ya, anak itu bilang sendiri padaku saat kuinterogasi kemarin."
Jaejoong mendesah puas. Sepertinya tuhan benar-benar merestui rencananya ini.
"Bagus, dengan begitu rencanaku akan berjalan semakin mudah. Keputusan terakhir hanya tinggal padamu hyung."
Pria yang lebih tua menyesap teh yang tersisa di gelasnya.
"Jelaskan."
"Namjoon menyukai Seokjin, begitu pula sebaliknya. Aku menginginkan Seokjin untuk jadi menantuku dan karena kau adalah orang tuanya aku tidak perlu merasa ragu lagi tentang latar belakang keluarganya." Jaejoong melemparkan senyumnya pada Heechul. "Dan terakhir, apa kau mau memberikan ijin pada anakku Kim Namjoon untuk bersama dengan anakmu, Kim Seokjin di masa depan?"
Heechul tampak diam sejenak, membuat Jaejoong mau tak mau merasakan rasa was-was karena takut sahabatnya itu menolak tawarannya. Meskipun Heechul adalah sahabatnya, ia tetap tidak bisa memaksa jika Heechul pada akhirnya menolak.
"Tentu saja."
Dan seketika senyum Jaejoong mengembang begitu lebar sampai ke telinga, diikuti oleh Heechul yang juga menyunggingkan senyum lebarnya.
"Selamat datang di keluarga Kim."
.
.
~Buttermints~
.
.
Seorang pria bersurai ash brown tampak sibuk membaca kertas-kertas yang ia tumpuk di atas meja. Sesekali tangannya bergerak memberikan catatan-catatan pendek di beberapa bagian kertas. Pria itu terlihat serius mendalami setiap kata-kata yang tertulis di atas kertas sampai-sampai tak menyadari kehadiran pria lain yang baru saja duduk di depannya.
"Umㅡ selamat siang Namjoon-ssi."
Kepala Namjoon sontak mendongak begitu sapaan bernada lembut itu masuk ke telinganya. Sudut bibirnya seketika terangkat begitu tinggi ketika melihat pria yang memang sudah ditunggunya sejak tadi.
"Kau datang."
Pria di depannya tampak menyunggingkan senyum kecil seraya meremas-remas lutut di bawah meja karena gugup. Jantungnya sudah berdebar tak karuan ketika ia berjalan kesini tadi, ditambah sekarang ia dihadapkan dengan senyuman manis serta lesung pipi menawan milik sang asisten dosen.
Sungguh rasanya ia ingin mengabadikan wajah tampan itu dengan kameranya kemudian mencetaknya besar-besar dan menempelkannya di dinding kamar.
"Tentu saja, aku sudah berjanji padamu." Seokjin melirik kertas-kertas yang tertumpuk di atas meja. "Sedang menilai tugas?"
"Hanya memeriksa beberapa paper saja sambil menunggumu datang." Jawabnya seraya membereskan kertas-kertas itu dan memasukkannya ke dalam map.
"Uh, maaf jika aku membuatmu menunggu lama. Tadi aku masih konsultasi skripsi dengan Mrs. Yoon."
"Hum? Kau sudah menulis skripsi?"
Seokjin mengangguk pelan.
"Aku mahasiswa semester akhir, ikut kelasmu karena dulu Mrs. Jang tidak meluluskanku." Bibirnya mengerucut tanpa sadar.
Namjoon tersenyum saat melihat perubahan ekspresi Seokjin. Pria itu terlihat menggemaskan dengan pipi sedikit menggembung dan bibir plushy yang mengerucut.
DEG!
Ia buru-buru melihat heart rate monitor berbentuk jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
115bpm? Kenapa tiba-tiba detak jantungku naik cukup besar setelah melihat ekspresi Seokjin?
"Namjoon-ssi? Ada apa?"
Pria yang lebih muda kembali memusatkan perhatiannya pada Seokjin yang tengah menatapnya khawatir.
"Nothing." Namjoon tersenyum kecil. "Ah, kau ingin pesan apa? Biar kupesankan."
"Eo? Tidak tidak, biar aku pesan sendiri." Jawab Seokjin cepat.
"It's okay Seokjin, let me."
BLUSH!
Perkataan bernada lembut itu berhasil membuat wajah Seokjin memerah sampai ke telinga, karena sungguh Namjoon terlihat seperti seorang gentleman ketika mengucapkan kata-kata itu.
Dan dia menyukainya.
"Bㅡ baiklah, uh aㅡ aku mau Iced Vanilla Latte."
"Itu saja? Tidak pesan makan?" Tanyanya lagi.
"Um, Spaghetti Bolognese."
"Oke, tunggu sebentar."
Namjoon bangkit dari kursinya kemudian beranjak ke counter untuk memesankan makanan Seokjin.
"Ya tuhan, dia benar-benar tipeku." Seokjin membentur-benturkan dahinya ke atas permukaan meja.
Tampan, jenius, kaya, ditambah lagi sikapnya yang lembut dan bertanggung jawab. Namjoon punya segala sesuatu yang diidam-idamkan oleh pria dan wanita lajang di luar sana, termasuk juga Seokjin.
"Dia pasti akan jadi seorang ayah dan suami yang baik nanti." Gumamnya seraya mulai membayangkan Namjoon dengan seorang anak kecil di gendongannya. "Oh my god!"
Seokjin menutup wajahnya dengan dua telapak tangan, berusaha meredam pekikan bak seorang fanboy yang keluar dari bibirnya.
"Ini minumanmu, makananmu akan segera datang."
Namjoon meletakkan cup di depan Seokjin dan kembali duduk di kursinya.
"Ah, terima kasih."
Pria yang lebih muda tersenyum kecil.
"Sebelumnya maaf sudah mengganggu waktumu dengan memintamu kemari Seokjin-ssi."
Seokjin menggeleng pelan seraya menyesap minumannya.
"Sama sekali tidak, lagipula aku memang sedang kosong hari ini."
"Syukurlah. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
DEG!
Ekspresi Seokjin seketika menegang saat nada bicara Namjoon berubah menjadi serius.
"Sesuatuㅡ apa?"
Namjoon menghela napas pelan.
"Beberapa hari belakangan ini aku merasakan sesuatu yang tidak normal pada jantungku."
Napas Seokjin tercekat begitu mendengar pernyataan Namjoon.
Dia sakit?
"Saat itu juga aku segera melakukan tes untuk mengetahui apa yang salah, namun nihil, hasil menunjukkan bahwa semuanya normal."
Seokjin menghembuskan napas lega seraya mengusap-usap dadanya.
"Kau benar-benar membuatku takut."
Namjoon tertawa kecil.
"Maaf. Boleh kulanjutkan?"
Seokjin menganggukkan kepalanya.
"Setelah itu aku mencoba berkonsultasi dengan Taehyung dan menurutnya bisa saja perubahan ritma jantung secara mendadak disebabkan oleh faktor-faktor psikologi seperti stres."
"Aaa jadi karena itu kau memakai heart rate monitor? Aku sempat heran saja tadi karena beberapa hari kemarin kau sama sekali tidak memakainya."
"Ya, aku memakainya untuk memantau kenaikan ritma jantungku." Namjoon menatap iris gelap Seokjin. "Sekaligus sebagai alat ukur untuk tes yang sedang aku lakukan."
Seokjin menaikkan alisnya.
"Tes?"
"Ya, dengan kau sebagai subjeknya."
Iris gelap Seokjin seketika melebar.
"Aㅡ aku? Mㅡ maksudmu?"
"Kami memiliki dugaan jika kaulah yang menyebabkan detak jantungku meningkat dalam waktu cepat."
Jawaban bernada serius itu membuat Seokjin benar-benar shock.
Dia yang membuat Namjoon sakit? Tapi dia tidak pernah melakukan hal yang aneh kepada pria itu. Apa yang membuat Namjoon dan Taehyung bisa menyimpulkan bahwa dialah penyebabnya?
"Tㅡ tapi aku tidak melakukan apapun, sungguh! Aku tidak bisa menerima tuduhan kalian jika kalian tidak memiliki bukti yang kuat."
Seokjin sedikit menaikkan nada bicaranya. Perasaannya benar-benar campur aduk sekarang. Marah, tegang, takut, semuanya bercampur menjadi satu.
"Tenang Seokjin." Namjoon mengusap punggung tangan Seokjin di atas meja, berusaha menenangkan pria manis di depannya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang! Kau baru saja menuduhku!"
Seokjin berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Salah satu hal yang menjadi reflek tubuhnya saat sedang dihadapkan pada situasi yang membingungkan dengan emosi campur aduk seperti ini.
"Please calm down and let me continue, okay?" Namjoon menggenggam erat tangan Seokjin seraya meyakinkan yang lebih tua dengan tatapan matanya.
Seokjin mengalihkan pandangannya, masih kesal dengan kata-kata Namjoon tadi meski tak dapat dipungkiri bahwa genggaman Namjoon pada tangannya membuat hatinya sedikit lebih tenang.
"Please?"
"Baiklah." Jawab Seokjin akhirnya.
Pria bersurai ash brown tampak menghembuskan napas lega karena berhasil menenangkan Seokjin.
"Jadi kami punya alasan kenapa memiliki asumsi seperti itu." Namjoon kembali mengunci pandangannya dengan Seokjin. "Tubuhku selalu bereaksi aneh ketika aku sedang bersamamu atau tidak sengaja memikirkanmu dan yang paling terasa efeknya adalah jantungku."
Seokjin kembali dibuat tertegun oleh pernyataan yang keluar dari bibir yang lebih muda.
Tungguㅡ kenapa Namjoon terdengar seperti sedang menyatakan perasaannya padaku?
"Aㅡ apa sebenarnya maksudmu? Aku tidak mengerti."
Namjoon menarik pelan tangan Seokjin dan menempelkannya di dada sebelah kiri, tempat jantungnya berada.
"Apa kau bisa merasakannya?"
Seokjin mengangguk kaku.
"Hal inilah yang terjadi jika aku berada dekat denganmu atau tidak sengaja memikirkanmu. Aku tidak pernah begini sebelumnya dengan orang lain."
BLUSH!
Wajah Seokjin terlihat kembali memerah sampai ke telinga. Sungguh kata-kata Namjoon barusan itu memberikan pengaruh yang sangat besar kepada jantungnya. Ia benar-benar tak tahu harus merespon seperti apa dan dia mulai panik sekarang.
"Seokjin? Kau tak apa? Denyut nadimu cepat sekali." Tanya Namjoon khawatir.
"Aㅡ aku tak apa." Jawabnya dengan kepala menunduk, tak berani menatap pria yang tengah memberikan tatapan khawatir padanya.
"Kita bertemu Taehyung sekarang."
Seokjin sontak mengangkat kepalanya, kelopak matanya tampak mengerjap beberapa kali karena bingung.
"Untuk apa?"
"Konsultasi, aku sudah mengiriminya pesan barusan."
"Tapiㅡ yah!" Seokjin memekik saat Namjoon tiba-tiba menarik tangannya menuju pintu cafe.
Demi koleksi Gucci milik Taehyung ia benar-benar bingung dengan situasi ini. Ia hanya bisa pasrah ketika Namjoon menyuruhnya masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi dari cafe saat itu juga.
.
.
~Buttermints~
.
.
CKLEK!
"Yoongi-hyung?"
Seorang pria bersurai blonde tampak menyembulkan kepalanya dari celah pintu. Senyum di bibirnya seketika mengembang saat menemukan sosok yang dicarinya sedang duduk di depan komputer dengan earphone terpasang di telinga.
"Syukurlah dia ada." Gumamnya seraya berjalan memasuki studio.
Ia meletakkan lunch bag di atas meja kemudian menghampiri sang kekasih yang masih fokus dengan pekerjaannya.
"Hyungie."
Yoongi hanya melirik pria manis yang tengah memeluk manja lehernya dari samping kemudian kembali fokus ke layar di depannya.
Bibir Jimin tampak maju beberapa senti karena kekasihnya sama sekali tak merespon tindakannya. Biasanya Yoongi akan langsung menghentikan pekerjaannya jika tahu Jimin datang.
Catat: saat sedang tidak marah.
Sejak kemarin pria pucat itu memang marah kepadanya karena salah paham dengan chat yang dikirimkan oleh Hoseok, teman satu klubnya di kampus. Ia sudah mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman Yoongi yang menganggap bahwa dia dan Hoseok memiliki hubungan khusus.
Yoongi itu sebenarnya pencemburu, hanya saja tertutup dengan wajah dingin dan sikapnya yang masa bodoh.
"Bukankah di depan pintu sudah ada tanda bahwa aku sedang tak ingin diganggu?" Ujarnya seraya memiringkan sebelah earphonenya.
"Aku sudah minta ijin pada Junhyung-hyung dan dia memperbolehkanku masuk." Jimin mendudukkan diri di kursi kosong sebelah kekasihnya. "Aku bawa makan siang, makan dulu ya?"
"Letakkan saja disana. Kau pulanglah."
Jimin menghela napas pelan.
"Hyungㅡ"
"Leave me alone."
Raut wajah Jimin seketika berubah menjadi sedih. Ia benar-benar tidak suka saat Yoongi bicara menggunakan nada dingin kepadanya.
Rasanya ia ingin menangis saat itu juga.
"Baiklah, tapi jangan lupa untuk menghabiskan makan siangmu hyung. Aku tak ingin kau sakit."
Jimin mengecup pipi Yoongi yang masih tetap fokus pada layar monitor di depannya.
"Maaf jika aku mengganggumu, aku pergi."
Pemilik surai blonde segera beranjak dari kursinya menuju pintu studio. Ia sempat menoleh ke arah kekasih pucatnya sebelum membuka pintu dan melangkah ke luar ruangan.
"Jimin?"
Kepala Jimin sontak mendongak begitu mendengar suara yang familiar di telinganya. Pegangan tangannya pada gagang pintu yang masih setengah terbuka seketika terlepas begitu melihat sosok di hadapannya.
"Hoseoki-hyung?"
Hoseok tersenyum lebar.
"Tak kusangka bisa bertemu denganmu di sini. Apa kau sedang ada project khusus dengan salah satu produserku?"
Kedua alis Jimin sontak terangkat begitu mendengar kata 'produserku' dari bibir pria bersurai oranye itu.
"Produsermu?"
"Ah! Maksudku produser di kantor tempatku bekerja hehe..."
Hoseok menggaruk belakang tengkuknya seraya melemparkan senyum lebar pada Jimin, berharap jika pria berpipi tembam itu mempercayai kata-katanya.
"Jadi kau bekerja disini? Woah, hebat!" Jimin membelalakkan matanya tak percaya.
"Begitulah hehe, pekerjaan sampingan. Oh iya, bagaimana kalau kita makan siang sambil mengobrol di cafetaria? Aku yang traktir." Tawar Hoseok.
Pria yang lebih muda tampak berpikir sejenak, jujur saja perutnya lapar karena setelah pulang kuliah tadi ia langsung meluncur ke kantor Yoongi, tapi jika ia pergi dengan Hoseok bisa-bisa masalahnya dan Yoongi semakin besar.
"Akuㅡ yah!"
Jimin memekik ketika tubuhnya mendadak ditarik ke dalam studio. Ia berusaha menyeimbangkan badannya yang oleng karena tarikan cukup keras yang dilakukan oleh sang kekasih.
"Stay away from him. He's mine." Ujar pria bermarga Min penuh ancaman.
BRAK!
Pintu studio tertutup begitu kencang setelahnya, meninggalkan si pria matahari yang tengah asik mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya.
"Min Yoongi? Kenapa dia bisa kenal dengan Jimin?"
.
.
TBC
.
.
Siapa sebenernya si Hoseok ini? Ehee
Yoonmin bakalan dibahas secara khusus sampai chapter depan ya readernimm, setelah itu fokus lagi sama Namjin. Selingan aja biar readernimm sekalian ga bosen bacanya.
Tapi jujur aku gregetan banger pingin nulis adegan NC si Namjin hahaha.
Aku ucapin banyak-banyak terima kasih buat yang udah mampir, follow, dan ngefav ff ini.
I really love you all!
Jangan lupa ketik komentar kalian di kolom review yaa!
See you in the next chapter!
