Dimple

Chapter 10: In Love?


BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M


.

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.


Siang ini matahari bersinar begitu terik tanpa ada satupun awan yang berusaha untuk menghalangi sinarnya. Keadaan cuaca yang begitu panas membuat Taehyung menyetel pendingin ruangan ke suhu yang paling rendah. Satu cup jus jeruk berukuran besar berjejer dengan kipas portabel yang sengaja dinyalakan untuk membantu kerja pendingin ruangan.

Hari ini dia sengaja tidak turun ke kafetaria untuk makan siang karena harus memeriksa file-file pasien yang mengajukan konsultasi padanya. Selain itu pesan mendadak yang dikirimkan oleh Namjoon juga menjadi salah satu alasannya untuk tetap tinggal di ruang kerjanya. Jujur saja ia cukup penasaran dengan kunjungan Namjoon yang cukup mendadak ini.

"Kira-kira apa yang mau pria jenius itu bicarakan? Apakah dia sudah mulai menyadari perasaannya pada Seokjin?"

Taehyung merapikan tumpukan map yang baru saja selesai dia periksa kemudian meraih jus jeruk yang sudah tidak dingin.

CKLEK!

"Babe?"

Pemilik surai blonde menolehkan kepalanya ke asal suara itu. Punggungnya seketika menegak begitu melihat sosok sang kekasih yang mendadak muncul di depan pintu.

"Jungkook? Apa yang kau lakukan di sini?"

Si pria kelinci tampak menyunggingkan senyum lebar sambil melangkahkan kakinya mendekati Taehyung.

"Aku ingin makan siang dengan kekasihku."

Ia mengangkat tubuh Taehyung dari kursi kemudian membawanya ke sofa yang berada di sudut ruangan tanpa mempedulikan pekikan kencang dari kekasihnya.

"Jeon Jungkook! Turunkan aku!" Protesnya sambil tak henti memukul-mukul punggung lebar Jungkook. "Yah!"

Pria yang lebih muda menurunkan Taehyung di atas pangkuannya dengan hati-hati, membuat posisi mereka menjadi saling berhadapan.

"Begini lebih enak." Jungkook tersenyum licik kemudian berbisik rendah tepat di telinga Taehyung.

"I miss you hyung."

Tubuh Taehyung seketika meremang begitu mendengar suara bernada rendah nan seksi yang sengaja dikeluarkan oleh kekasihnya. Ia paham betul keinginan pria muda itu dan Taehyung akan senang hati memberikannya jika mereka sedang di rumah.

"Kita sedang di rumah sakit bodohㅡ yak! Dimana tanganmu menyentuhku?!"

Delikan kesal dari Taehyung mengundang kekehan gemas dari Jungkook.

"Cute." Ujarnya seraya memberikan kecupan singkat di bibir sang kekasih.

"Aku bersumpah jika kau macam-macam akan kuminta ibumu untuk menjemputmu di sini." Ancam Taehyung.

"Kenapa kau selalu mengancamku dengan membawa-bawa ibu."

Taehyung dibuat tertawa dengan ekspresi wajah Jungkook yang merengut seperti anak kecil. Jemari panjangnya kemudian menangkup kedua pipi Jungkook dan memutar-mutar pipinya pelan.

"Karena hanya nyonya Jeon yang bisa membuat anak nakal ini menurut."

"Afwu bwuhan awhnah hwecilh!" Jawabnya tak jelas.

"Hmm? What did you say little boy?" Kekeh Taehyung sambil terus memainkan pipi kekasihnya.

CKLEK!

"Selamat siang."

Oh shit!

Taehyung cepat-cepat bangun dari pangkuan Jungkook kemudian merapikan rambutnya yang sedikit kusut.

"Taehyung?"

Sepasang kekasih itu kompak mengalihkan pandangannya ke arah pintu begitu mendengar suara berat yang familiar di telinga mereka.

"Namjoon-hyung?" Alis Jungkook seketika terangkat begitu melihat sosoo lain di belakang sepupunya. "Jin-hyung?"

"Hㅡ hai." Seokjin tersenyum canggung.

Tatapan Jungkook kemudian teralih ke tangan mereka berdua yang saling bertautan.

"Oh? Kalian berdua sudah resmi? Baguslah." Komentarnya.

Pernyataan pria kelinci itu sontak membuat tiga pria lainnya melemparkan tatapan tanya padanya.

"Ck! Kalian datang dengan bergandengan tangan. Bukankah itu sebuah tanda jika kalian memang sudah lebih dari sekedar teman?" Jungkook melipat tangannya di depan dada. "Lagipula baru kali ini aku melihat Namjoon-hyung mau bergandengan tangan dengan seseorang."

Pipi Seokjin seketika merona. Buru-buru ia lepaskan tautan tangannya dengan Namjoon, mengundang rasa kecewa di hati yang lebih muda.

"Kookie tolong belikan aku Onigiri dan Lemon Tea di kafetaria ya?"

Taehyung menatap Jungkook penuh arti. Pria itu mendengus, paham dengan maksud tatapan yang diberikan oleh sang kekasih.

Ya, dia sedang diusir. Secara halus.

"Baik baik. Tuna?" Taehyung mengangguk cepat. "Anything else?"

Pria bersurai blonde tampak berpikir sejenak.

"Abaikan godaan suster-suster genit itu, mengerti?"

Jungkook tertawa kecil seraya beranjak menghampiri sang kekasih.

"Don't worry about that. I'm all yours baby." Ia mengecup singkat bibir Taehyung kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.

Taehyung bergegas duduk di kursinya begitu sang kekasih sudah menghilang dari ruangannya.

"Silahkan duduk Namjoon-hyung, Seokjin-hyung." Ia tersenyum kotak.

"Terima kasih."

Namjoon tersenyum kecil seraya mendudukkan diri di kursi diikuti oleh Seokjin yang duduk di sebelahnya.

"Jadi, ada masalah apa?"

Taehyung memandangi Namjoon dan Seokjin secara bergantian.

"Ini tentang program yang kita bicarakan beberapa hari lalu."

Sudut bibir Taehyung terangkat.

"Ow, jadi bagaimana? Apa kau sudah mengetahui hasilnya?"

Namjoon menggeleng.

"Belum." Ia menatap Taehyung serius. "Dan aku punya pertanyaan mengenai hal itu."

Pria bersurai blonde melirik ke arah Seokjin yang saat ini tengah menundukkan kepala sambil memainkan jari-jarinya di atas meja.

Ada apa ini sebenarnya?

"Oke, silahkan hyung."

"Saat di cafe tadi aku terus memonitor detak jantungku dan memang kecepatan detaknya naik secara mendadak ketika Seokjin datang." Namjoon melirik pria di sebelahnya. "Lalu secara tidak sengaja aku memegang nadi Seokjin dan ternyata irama jantungnya sama denganku."

Taehyung memandangi sang hyung tak percaya.

What thejangan bilang dia datang ke sini hanya untuk menanyakan hal itu?!

"Kenapa hal itu bisa terjadi? Apakah Seokjin juga mengalami hal yang sama denganku?"

Oh, betapa Taehyung ingin sekali meneriaki hyungnya yang kelewat tidak peka ini.

"Oh? Apa benar begitu Jin-hyung?" Tanyanya setenang mungkin.

Bagaimanapun juga ia harus tetap sabar meskipun gemas dengan tingkah Namjoon.

"Uㅡ um aku hanya merasa jantungku berdetak sedikit cepat saja." Jawab Seokjin lirih.

"Tidak. Detak jantungnya sama denganku, begitu juga dengan iramanya."

Pria bersurai ash brown menatap Taehyung yakin. Ia tak menyadari rona kemerahan yang kembali mewarnai wajah manis Seokjin.

"Baik." Sang psikolog menghela napas pelan. "Sebenarnya aku sudah tahu apa yang terjadi pada kalian berdua."

Sudut bibir Namjoon seketika terangkat, menampakkan sepasang lubang kecil di sisi kanan dan kiri pipinya.

"Good. Jadi apa yangㅡ"

"Tapi aku memutuskan untuk tidak memberitahu kalian karena alasan-alasan tertentu."

Ujaran Taehyung itu membuat Namjoon menautkan alisnya bingung.

"Kenapa? Hal itu penting untukku dan Seokjin." Ujarnya seraya menggenggam tangan Seokjin di bawah meja.

"Aku tahu, tapi akan lebih baik jika kalian berdua yang menemukan sendiri permasalahannya."

"Taeㅡ"

"Hyung, kau dan Seokjin tidak sakit. Semua gejala yang kau alami itu ada hubungannya dengan hatimu." Taehyung bisa menangkap ekspresi kebingungan di wajah Namjoon. "Aku tahu kau belum pernah mengalami ini sebelumnya, tapi aku ingin dirimu bisa menemukan sendiri titik permasalahan yang sedang kau alami."

Pria bersurai blonde mengetuk-ngetukkan pensilnya ke atas meja.

"Banyak-banyaklah melakukan kegiatan bersama Seokjin jika kau ingin mengetahui jawabannya."

Seokjin melemparkan tatapan tak percaya pada Taehyung. Apa sahabatnya ini sedang mencoba mendekatkan Namjoon dengan dirinya?

"Baiklah."

Ia sontak menolehkan kepalanya ke arah pria bersurai ash brown di sebelahnya. Iris gelapnya tampak membola karena kaget dengan jawaban yang diberikan Namjoon.

What?

"Aku akan sering menghabiskan waktu dengan Seokjin mulai besok."

Apa aku sedang bermimpi?

"Bagus, hubungi aku jika kau punya pertanyaan lainnya." Taehyung tersenyum kotak, pandangannya kemudian beralih pada Seokjin yang masih memasang ekspresi shock di wajahnya.

"Dan Seokjin hyung, kusarankan untuk segera menutup mulutmu sebelum kursiku basah karena air liur. Setelah ini aku masih ada sesi konsultasi lain, aku tak mau klienku duduk di tempat yang basah."

Pria yang lebih tua buru-buru menundukkan kepalanya sambil mengusap sudut bibirnya dengan lengan sweater. Kedua telinganya tampak memerah karena malu.

Sungguh Seokjin merasa bodoh dengan tingkah lakunya sendiri.

"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"

"Kurasa tidak. Kalau begitu terima kasih Taehyung-ah, maaf sudah mengganggu jam makan siangmu." Namjoon bangun dari duduknya diikuti oleh yang lebih tua.

"Rrrㅡ Taehyung, dimana kamar mandinya?" Tanya Seokjin.

"Dari sini lurus saja ke kanan, letaknya di ujung lorong."

"Terima kasih. Aku ke kamar mandi dulu, nanti tunggu saja di mobil."

Seokjin segera beranjak ke luar dari ruangan Setelah mendapat anggukan dari Namjoon. Begitu pintu ruangan itu tertutup, Taehyung mengatakan sesuatu yang membuat otak Namjoon kembali berpikir.

"Kau tahu Namjoon-hyung, keadaan emosi juga bisa mempengaruhi detak jantung seseorang, salah satunya saat mereka sedang jatuh cinta."

Pria yang lebih tua tak merespon ucapan Taehyung.

Apa mungkin aku sedang jatuh cinta?


.

.

~Buttermints~

.

.


"Hhyung." Jimin mencoba menahan pergerakan tangan Yoongi yang bergerak menggerayangi tubuhnya.

Mereka sedang ada di studio, demi tuhan. Bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk ke dalam dan melihat mereka beradegan tidak pantas seperti ini. Jimin tak akan berani untuk memunculkan wajah di sini lagi dan hal itu pasti akan berdampak juga pada karir Yoongi.

"Hyungh! Bㅡ berhenti!

Yoongi sama sekali tak mendengarkan protesan sang kekasih. Ia terus saja melancarkan aksinya yang kali ini menyasar ke bagian leher. Mencoba memberi tanda kepemilikan di kulit Jimin.

"Hyung!"

Tubuh si pria pucat tampak tersentak menjauh beberapa senti akibat dorongan yang diberikan oleh Jimin.

"Kita sedang ada di studiomu hyung. Bagaimana jika ada yang melihat?!"

Yoongi mendecih.

"Takut dilihat Hoseok maksudnya? Kenapa? Takut dia menjauh karena tahu kau sudah punya kekasih?"

Ucapan bernada tajam dari Yoongi itu membuat Jimin menghela napas lelah.

"Hyung, aku sudah bilang kalau kami hanya teman di klub dance. Dia tak menganggapku lebih dari itu."

"Tahu darimana jika dia sama sekali tak memiliki maksud terselubung terhadap dirimu?" Tanyanya dengan wajah datar.

"Berhenti menuduh yang bukan-bukan." Jimin berusaha menahan rasa kesalnya yang mulai memuncak. "Kau tidak punya hak untuk menuduh Hoseok-hyung seperti itu meskipun kau adalah kekasihku."

Yoongi tersenyum sinis.

"Oh, jadi sekarang aku tidak punya hak? Meskipun aku tahu siapa sebenarnya Hoseok yang sedang kau bela itu?"

"Dia hanya seorang teman yang baik dan menyenangkan! Kenapa kau tidak paham-paham juga?!" Jawab Jimin frustasi. "Aku hanya ingin punya teman di kampus hyung. Tolong kau mengerti."

"Silahkan jika kau ingin berteman dengan siapapun, aku tak akan melarang. Aku hanya minta dirimu untuk menjauhi Hoseok, itu saja."

Pria yang lebih muda kembali menghela napas jengah.

"Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku tidak akan meninggalkan temanku hanya karena keegoisanmu. Pembicaraan ini selesai. Sampai jumpa di rumah."

Jimin mendorong pelan tubuh Yoongi agar dirinya bisa bergerak keluar dari himpitan antara sang kekasih dan tembok studio. Percuma bicara dengan Yoongi di saat seperti ini, bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah. Lebih baik dia pulang lebih dulu dan mendinginkan kepalanya di rumah.

"Hoseok adalah pemilik entertainment ini."

Langkah Jimin seketika terhenti begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh sang kekasih.

"Kemarin saat kau menyebut namanya kukira dia adalah orang lain, tapi saat kulihat wajahnya tadi, ternyata mereka adalah orang yang sama."

What?

Pria bersurai blonde membalikkan tubuhnya ke arah Yoongi.

"Jangan bercanda hyung, tidak mungkin diaㅡ"

"Dia Jung Hoseok, produser musik di bawah nama J-Hope. Selain pemilik entertainment ini, dia juga pemilik dance academy bernama Hopes. Kalau kau masih tidak percaya tanya saja pada Junhyung-hyung."

Jimin tampak terdiam di tempat, sama sekali tak merespon kata-kata Yoongi. Otaknya masih berusaha memproses informasi mengejutkan yang masuk secara mendadak ke kepalanya.

Jika seperti itu faktanya, apa Yoongi-hyung takut aku mengacaukan karirnya?

"Aku melarangmu bukan karena takut karirku akan rusak Jiminie."

Tubuhnya tersentak pelan saat merasakan napas hangat menyapu permukaan bibirnya.

"Dia itu playboy. Aku tak akan pernah rela jika kau sampai direbut oleh pria seperti dia."

Yoongi mengangkat dagu Jimin, mempertemukan kedua iris gelap milik mereka.

"Aku lebih takut kehilangan dirimu daripada karirku." Ujarnya seraya mengusap pelan pipi tembam sang kekasih. "Aku mencintaimu, Park Jimin. Tak akan kubiarkan seorangpun menyakitimu, apalagi mengambilmu dariku."

Oh betapa Jimin saat ini berusaha sekeras mungkin untuk menahan air matanya yang sudah mengambang di pelupuk mata.

"I'm sorry." Ujarnya dengan suara yang bergetar.

"No, don't cry baby."

Pria yang lebih tua segera membawa Jimin ke dalam pelukannya kemudian memberikan kecupan-kecupan ringan di puncak kepala sang kekasih. Ia bisa merasakan tubuh ramping itu bergetar di pelukannya.

Jimin menangis, dan itu semua karena dirinya.

"Aku yang salah karena terlalu emosi dan tak menjelaskan padamu secara baik-baik. Aku minta maaf Jiminie." Yoongi mengusap sayang kepala kekasihnya. "Stop crying, okay?"

"Aㅡ aku juga mㅡ minta maaf kㅡkarena sudah membentakmu taㅡtadi."

Jimin sedikit mengangkat wajahnya, menatap penuh rasa bersalah pada Yoongi dengan mata yang basah karena air mata. Hal itu tentu saja membuat hati Yoongi mencelos. Dia memang tipikal orang yang dingin dan masa bodoh, tapi jauh di dalam dirinya ia selalu punya soft spot khusus untuk Jimin.

"I'ts okay." Yoongi tersenyum kecil. "Dan untuk masalah Hoseok, kau boleh berteman dengannya."

"Jㅡ jika hyung tidak suka, aku akan menjauhinya."

Yang lebih tua tampak menggelengkan kepala seraya mengusap pipi tembam sang kekasih.

"Selama dia baik padamu, kurasa tidak masalah. Tapi berjanjilah untuk melapor padaku jika dia mulai berbuat yang aneh-aneh padamu."

Sudut bibir Jimin seketika terangkat membentuk sebuah senyuman lebar.

"Aku janji! Terima kasih hyung!" Ujarnya seraya memeluk erat tubuh Yoongi.

Yoongi menyunggingkan senyum lega karena Jimin sudah kembali tersenyum seperti biasanya.

"Anything for my baby."


.

.

~Buttermints~

.

.


"Maaf aku lama."

Seokjin buru-buru memasang sabuk pengamannya, sedikit merasa tidak enak karena terlalu lama membuat Namjoon menunggu.

"Tak apa."

Pria bersurai ash brown tersenyum kecil, menampilkan sepasang lesung pipi yang akhir-akhir ini menjadi pemandangan favorit Seokjin.

"Seokjin."

Pria yang lebih tua mengalihkan pandangannya ke arah pria di sampingnya.

"Hum?"

"Apa kau pernah merasakan jatuh cinta?"

Seokjin mengerjap matanya bingung.

"Umm pernah, kenapa memangnya?"

Jantung Seokjin mendadak berdetak kencang saat Namjoon menatapnya tepat di mata.

"Beritahu aku bagaimana rasanya jatuh cinta.

"Hㅡ huh?"


.

.

TBC

.

.


Updateee~

Maafkan hamba yang kembali ngaret update ehehe.

Terima kasih buat yang udah ngefollow, ngefave dan ngereview ff ini! Juga buat readernim kesayangan saya yang udah setia dan sabar menunggu, Terima kasih banyak!

Kutunggu komentar kalian di kolom review yaaa!

See you in the next chapter!