Dimple

Chapter 11: Ex


BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M


.

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.


Seokjin melemparkan tubuhnya ke sofa berwarna baby blue yang berada di ruang tengah apartemennya. Detak jantungnya benar-benar tidak bisa dikontrol sejak Namjoon melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat seluruh kata-katanya tersangkut di tenggorokan.

"Beritahu aku bagaimana rasanya jatuh cinta."

God! Apa yang harus Seokjin katakan jika model pertanyaannya seperti itu?! Alhasil dia tak menjawab dan membiarkan pertanyaan Namjoon menguap begitu saja tadi.

Oke, Seokjin memang pernah beberapa kali terlibat dalam hubungan percintaan, tapi pengalamannya itu tak serta merta bisa membuatnya menjelaskan bagaimana rasanya jatuh cinta. Setiap orang itu berbeda, tanda-tanda yang dirasakan pun juga pasti akan berbeda. Lagipula untuk apa Namjoon bertanya hal seperti itu padanya, dia kan bukan anak remaja yang baru pertama kaliㅡ

Tunggu.

Pria bersurai gelap langsung menegakkan tubuhnya begitu sebuah kemungkinan yang terdengar sedikit bodoh terlintas di benaknya.

"Apa jangan-jangan Namjoon memang tidak pernah jatuh cinta?" Ujarnya ragu. "Aish, tapi apa iya begitu?"

Seokjin menghela napas lelah. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini sampai-sampai membuat pikiran dan hatinya menjadi kacau. Rasanya hari ini ia ingin tidur saja sampai besok pagi dan mengesampingkan revisi skripsinya untuk sementara waktu. Ia tak rela memori indahnya dengan Namjoon tadi terhapus begitu saja oleh serentetan coretan di kertas draftnya.

"Lebih baik aku segera mandi dan istirahat. Konsultasi berikutnya masih besok lusa, aku bisa mengerjakan revisiku besok." Ujarnya.

PING!

1 New Message from Namjoon!

"Namjoon?" Gumamnya heran.

Fr: Namjoon

Datanglah ke Sugar Cube besok saat jam makan siang.

"Dia mengajakku bertemu lagi?" Seokjin kembali membaca isi pesan singkat itu, memastikan jika dia memang tidak salah baca. "Oh god."

Sudut bibirnya seketika terangkat begitu tinggi. Ia menenggelamkan wajahnya ke atas bantal sofa kemudian mulai berteriak girang seperti anak remaja. Meskipun ia belum bisa memastikan apakah pertemuan besok itu merupakan sebuah kencan, tapi ia tetap merasa senang. Asalkan berdua saja, kencan atau tidak bukan masalah untuknya.

He's madly in love, with Kim Namjoon.

"Aku akan datang ke cafe lebih awal lalu mengerjakan revisi sampai Namjoon datang. Dengan begitu semua urusan akan selesai tepat waktu." Gumamnya antusias.

DRRT! DRRT!

Seokjin kembali membawa ponsel dengan case bermotif pisang itu ke depan wajahnya.

Unknown Number's calling...

"Unknown number?" Ia menggeser tombol hijau di layar dengan dahi yang berkerut. "Halo?"

"Ah syukurlah, kukira kau sudah ganti nomor." Ucap pria di seberang penuh kelegaan.

Seokjin menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara yang begitu familiar di telinganya itu.

Suara ini

"Ken?"

Pria di seberang terkekeh pelan.

"Kau masih mengingatku ternyata. Apa kabar Jinnie?"


.

.

~Buttermints~

.

.


Namjoon menutup pintu rumahnya dengan wajah berseri-seri. Entah kenapa hari ini rasanya ia begitu bahagia. Pekerjaannya memang masih menumpuk seperti biasanya, tapi ia sama sekali tidak merasa stres seperti hari-hari kemarin.

Sejak Seokjin datang, ia merasa hidupnya lebih bahagia.

Jangan tanya kenapa, sebab ia juga tak terlalu paham alasannya. Namun ia yakin, seiring berjalannya waktu, ia pasti bisa menemukan alasan mengapa Seokjin seperti menjadi begitu penting untuknya.

"Kuselesaikan pekerjaanku malam ini agar besok aku bisa lebih bebas mengobrol dengan Seokjin." Gumamnya dengan senyum yang begitu lebar.

Suara televisi yang berasal dari ruang tengah membuat senyumnya luntur seketika. Ada tiga orang yang bisa masuk dengan bebas ke rumahnya, yaitu ayahnya, ibunya, dan si kuda mood breaker.

Ia benar-benar tak berharap Hoseok yang datang karena moodnya sekarang sedang bagus danㅡ

"Kau sudah pulang? Wellcome home brother!" Sambut pria bersurai oranye di depan televisi.

ㅡia tak sudi jika moodnya dirusak dengan kehadiran pria matahari itu.

Namjoon menghela napasnya pelan.

"Bukankah sudak kubilang berkali-kali jangan jadi intruder di rumahku? Kau itu melanggar privasi orang."

"Aku hanya menumpang sebentar untuk menonton." Sahutnya seraya menyuap potato chips rendah lemak yang ia curi dari kulkas Namjoon.

"Kau itu punya satu set home theatre yang bahkan lebih lengkap daripada milikku! For a god sake."

"Tak baik marah-marah setelah pulang kerja Namjoonie, lebih baik kau duduk sini dan menonton denganku." Hoseok menepuk-nepuk kursi ruang kosong di sebelahnya dengan tatapan yang masih fokus ke layar televisi.

"Film apa?"

"Trilogi Fifty Shades."

"No."

"Ayolah, ini bahkan lebih menarik daripada acara National Geographic yang sering kau tonton itu." Bujuk Hoseok.

"Aku lebih suka melihat beruang kutub berburu anjing laut daripada film yang sedang kau tonton."Namjoon melipat tangannya di depan dada. "Oh ya, besok kau tidak perlu datang ke cafe."

Kepala Hoseok otomatis menoleh dengan alis yang terangkat begitu tinggi.

"Kenapa?"

"Tidak ada alasan. Lagipula untuk apa kau masih bekerja di cafeku hah? Kau sudah punya pekerjaan bagus dan uang yang banyak. Beri kesempatan untuk orang lain yang lebih butuh pekerjaan." Sahut pria bersurai ash brown sedikit sewot.

"Aish, aku bosan terus-terusan berhadapan dengan kertas dan layar komputer." Keluhnya. "Lagipula cafemu juga jadi berkali lipat lebih ramai berkat ketampanan wajahku."

Namjoon memutar matanya bosan. Pria kuda satu ini benar-benar.

"Mereka datang bukan untuk melihat wajahmu Jung Horse-seok. Pegawaiku yang lain bahkan jauh lebih menarik untuk dilihat daripada dirimu."

Hoseok menggumamkan kata 'whatever' kemudian kembali memfokuskan perhatiannya ke televisi.

"Jangan-jangan kau ada kencan di cafemu besok, jadi kau melarangku datang kesana."

Tak ada jawaban.

Kepala Hoseok kembali menoleh ke sebelahnya secara instan. Seringai lebar tampak mengembang di wajahnya saat melihat ekspresi pura-pura tak peduli yang ditampakkan oleh Namjoon.

"Tepat sasaran, saudaraku?"

"Bukan urusanmu."

"Aaa kutebak kau pergi kencan dengan pria cantik yang beberapa hari lalu kesini itu, benar kan?"

Hoseok menaik turunkan alisnya, menggoda sang pemilik rumah yang masih setia memasang wajah datar dan melayangkan tatapan malas ke arahnya.

"Jangan datang besok atau kau kupecat." Pria bersurai ash brown melangkahkan kakinya menuju tangga. Sama sekali tak mengindahkan pertanyaan yang diucapkan oleh Hoseok. "Dan cepat pergi dari sini, aku butuh ketenangan untuk menyelesaikan pekerjaanku."

Hoseok menggelengkan kepalanya pelan. Ia tahu jika sebenarnya pria batu itu merasa malu karena ketahuan, hanya saja dia pintar mengontrol ekspresinya hingga menutupi perasaan yang sebenarnya dia rasakan. Orang lain boleh saja tertipu, tapi tidak dengan Hoseok.

"Setidaknya dia sudah mengalami kemajuan. Semoga saja pria yang sedang bersamanya sekarang bisa sabar menghadapi ketidak pekaan Namjoon yang di atas rata-rata itu." Ujarnya seraya kembali fokus ke adegan Anastasia Steele dan Christian Gray di layar.


.

.

~Buttermints~

.

.


Siang itu cafe milik Namjoon terlihat lebih ramai dari biasanya. Banyak anak-anak berseragam sekolah yang mengantri di kasir untuk memesan menu yang disediakan oleh cafe. Hari ini memang sedang ada festival seni di 21st Century University, jadi maklum saja jika banyak anak-anak sekolah berkeliaran di area sekitar universitas.

"Huff, untung saja masih dapat tempat di bawah." Desah Seokjin seraya meletakkan ranselnya di atas meja.

Tasnya terlalu berat jika harus dibawa naik tangga, ia tidak mau sampai sakit pinggang hanya karena buku-buku di tasnya itu. Rasa sakit sudah pasti akan membuat moodnya jelek.

Tidak mungkin kan dia menemui Namjoon dengan mood yang jelek. Bisa-bisa pria tampan itu malah menjauhinya nanti dan perjuangan Seokjin merubah warna rambutnya jadi sia-sia.

"Good, masih satu jam lagi. Lebih baik aku mulai sekarang."

Seokjin segera menghidupkan laptopnya seraya menyesap Raspberry Lemonade yang sudah dia pesan.

PING!

Pandangannya seketika beralih ke layar ponselnya yang menyala. Ia meraih benda persegi itu kemudian tersenyum kecil saat mengetahui siapa orang yang baru saja mengiriminya pesan.

Fr: Kennn

Jangan lupa makan siang Jin. Tubuhmu butuh nutrisi agar tetap seksi ;)

"Menyebalkan." Kekehnya seraya membalas pesan yang berasal dari sang mantan kekasih.

Ya, Ken atau Lee Jaehwan merupakan mantan kekasihnya. Mereka mulai menjadi sepasang kekasih sejak kelas tiga SMA dan mengakhiri hubungan sekitar tiga tahun lalu karena permintaan ibu Seokjin. Pada awalnya sang ibu memang menyetujui hubungan mereka, tapi karena Ken harus melanjutkan kuliah di Inggris, sang ibu meminta Seokjin untuk mengakhiri hubungan mereka.

Karena menurut sang ibu, long distance relationship terlalu beresiko untuk Seokjin.

Saat itu merupakan saat yang berat untuk mereka berdua. Ayolah, pasangan mana yang rela berpisah disaat kedua belah pihak masih sama-sama saling mencintai. Meski akhirnya mereka berpisah, tetap saja rasanya sulit untuk menerima keadaan. Hubungan mereka pasca berpisah baik-baik saja sampai di tahun kedua dimana Ken menghilang secara mendadak. Mereka benar-benar kehilangan kontak selama dua tahun dan sejak saat itulah Seokjin mulai bisa move on dari Ken.

Baginya move on itu menghilangkan perasaannya pada seseorang, bukan melupakan kenangan ataupun orang yang dulu pernah bersamanya. Maka dari itu ketika Ken mendadak menghubunginya lagi kemarin, ia merespon dengan senang hati.

Sebagai teman lama.

"Seokjin?"

Seokjin tampak mendongakkan kepalanya dan terkejut ketika melihat sosok pria yang sedang berdiri di samping mejanya.

"Ken?"

Pria tinggi itu bergegas memeluk Seokjin yang masih berada dalam posisi duduk tanpa ragu. Ia sama sekali tak peduli jika tindakannya ini menarik perhatian para pengunjung cafe karena yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Seokjin.

Sang mantan kekasih yang sudah lama tak ditemuinya.

"Oh god, I really miss you Jinnie."

Seokjin terkekeh seraya menepuk-nepuk pelan punggung Ken.

"I miss you too."

Ken melepas pelukannya dengan perlahan. Oh, betapa dia begitu merindukan sosok di depannya ini. Jika saja ia dan Seokjin masih menjadi sepasang kekasih, ia tak akan ragu untuk mencium pria itu saat ini juga.

"Tak kusangka kita bertemu di sini. Duduklah." Seokjin melemparkan senyum kecil pada Ken.

Pria itu tampak mengangguk kemudian mendudukkan diri di hadapan Seokjin.

"Jadi kau akan bertemu dengan temanmu di sini?"

Seokjin menganggukkan kepalanya.

"Ah ya, maaf semalam aku menolak ajakanmu untuk bertemu. Aku benar-benar tidak bisa membatalkan janji dengan temanku."

Ken tersenyum kecil. "Tak apa. Toh sekarang kita sudah bertemu meskipun tak sengaja hehe. Lagipula tidak enak juga jika kau harus membatalkan janji dengan temanmu hanya untuk menemuiku."

"Kau tetap pengertian, seperti dulu."

"Kau juga tetap cantik, bahkan lebih cantik daripada dulu."

PLAK!

Ken tampak mengaduh kesakitan akibat geplakan sayang yang baru saja diberikan oleh Seokjin.

"Berhenti bicara omong kosong. Lagipula aku ini pria tulen tahu!"

Ucapan bernada kesal itu tak ayal membuat Ken tertawa kencang.

He missed a moment like this, really.

"Kau tetap terlihat cantik di mataku, meskipun kau adalah seorang pria tulen." Ia tersenyum seraya menggenggam lembut tangan Seokjin di atas meja. "My pretty Seokjin."

TAK!

"Satu porsi Cheese Twist tanpa mayo atas nama Kim Seokjin."

Sepasang pria itu kompak menoleh ke arah pegawai cafe yang baru saja meletakkan pesanan. Seokjin buru-buru menarik tangannya dari genggaman Ken.

"Aㅡ ah ya, terima kasih."

Pria bersurai oranye tampak menyunggingkan senyum lebar sebelum beranjak meninggalkan meja Seokjin. Begitu ia sampai di dapur, senyum menyilaukannya tadi berubah menjadi raut penasaran.

"Mereka mencurigakan." Gumamnya seraya merogoh benda persegi yang tersimpan di kantong celananya.

Ia tampak mencari kontak seseorang kemudian menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo? Ada apa menelepon?"

"Kau jadi bertemu dengan Seokjin hari ini?"

"Memang kenapa?" Tanya pria di seberang.

"Begini dude, sekarang aku sedang ada di cafe danㅡ"

"What?! Bukankah sudah kubilang jika kau tidak perlu datang ke cafe hari ini?!"

"Aish, tenang dulu akuㅡ"

"Aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu Jung Hoseok!"

Hoseok mendesah malas.

"Ya ya, terserah. Aku hanya ingin menyampaikan informasi penting kepadamu."

"Apa?" Sahut pria di seberang tak tertarik.

"Seokjin sudah di cafe dan dia sedang bersama seorang pria."

"Ya, lalu?"

"Kenapa kau tampak tenang sekali? Pujaan hatimu sedang bersama pria lain bodoh!" Ujar Hoseok kesal.

"Hoseok, pria itu bisa saja teman atau saudaranya yang tak sengaja bertemu dengan Seokjin di cafe. Apa yang aneh dengan hal itu? Dan satu lagi, Seokjin bukan pujaan hatiku."

Pria bersurai oranye tertawa mengejek.

"Oh mungkin kau benar jenius, tapi teman atau saudara tak mungkin melakukan pelukan erat, menggoda Seokjin sampai dia salah tingkah, atau memegang tangannya di atas meja."

Sambungan telepon itu mendadak hening. Pria di seberang sana tak merespon penjelasan yang dilontarkan oleh Hoseok selama beberapa detik.

"Aku akan sampai dalam 10 menit."

Hoseok menyeringai.

"Bagus, datang dan buktikan sendiri jika apa yang kukatakan tadi itu memang benar. Selamat siang jenius."

"Ah, Hoseok!"

Hoseok batal mematikan sambungan teleponnya dan kembali menempelkan ponsel ke telinganya.

"Ya? Apa lagi?"

"Tolong awasi Seokjin, aku takut terjadi sesuatu padanya. Terima kasih."

PIP!

"Pfft! Bukan pujaan hati kepalamu." Gumam Hoseok setengah tertawa.

Ia tampak mengantongi ponselnya dan kembali ke counter cafe di bagian depan untuk menjalankan tugasnya sebagai mata-mata. Sementara Hoseok sibuk mencari posisi yang pas untuk melakukan pengawasan, Seokjin dan Ken tampak kembali mengobrol seperti tadi. Sama sekali tak sadar jika mereka sedang diawasi.

"Jadi sekarang kau sedang menyelesaikan skripsimu?" Ken menyesap Iced Mochaccinonya perlahan.

"Uhum, revisi terakhir. Jika semuanya berjalan dengan baik, satu bulan lagi aku sudah bisa sidang." Jawab Seokjin yang kemudian mendapat anggukan pelan dari pria di depannya. "Kau sendiri bagaimana? Semalam kau belum cerita tentang pendidikanmu."

"Aku sudah lulus awal tahun kemarin." Ken tersenyum lebar. "Sekarang aku bekerja sebagai animator di perusahaan game Triangle."

"Woah! Triangle? Itu kan perusahaan game terkenal di Korea! Kau kerja di sana?" Ujar Seokjin tak percaya.

Ken tertawa kecil.

"Aku juga tak percaya bisa kerja di perusahaan itu. Kalau bukan karena rekomendasi dari universitasku, akan sulit sekali masuk kesana. Seleksinya sangat ketat."

"Hebat! Kau harus mentraktirku kapan-kapan."

"Dengan senang hati Jin. Kau boleh minta apapun."

Sudut bibir Seokjin seketika terangkat, membentuk senyum yang begitu lebar. Well, beberapa hari lalu Seokjin berencana untuk datang ke acara food festival bersama Yoongi dan Jimin, tapi daripada dia harus membayar makanannya sendiri dan menjadi obat nyamuk, lebih baik dia mengajak Ken saja kesana.

Makan banyak tanpa membayar? Oh, Seokjin suka sekali itu.

"Jin? Hey, kau melamun?"

Seokjin segera tersadar dari lamunannya saat tangannya kembali dipegang oleh Ken. Mereka berdua kemudian sama-sama tertawa. Bagi orang-orang yang tidak tahu, mereka pasti menganggap jika Seokjin dan Ken merupakan sepasang kekasih. Bagaimana tidak, interaksi yang sejak tadi mereka lakukan terlihat romantis layaknya pasangan yang sedang diliputi kebahagiaan.

"Jin akuㅡ"

"Seokjin."

Pasangan berstatus mantan kekasih itu kompak menolehkan kepalanya ke sebelah mereka. Seokjin seketika terpana begitu melihat sosok tinggi bersurai ash brown yang tengah mengenakan kaos turtleneck hitam dengan lengan kaos yang digulung sampai siku, rambut sedikit acak-acakan, dan sebuah kacamata yang terpasang manis di wajahnya.

Oh god, he looks hot.

"Maaf membuatmu lama menunggu."

"Ahㅡ um tak apa Namjoon-ah." Jawab Seokjin gugup.

Namjoon tampak berdiri kaku di sebelah meja sambil memandang lurus ke tangan mereka berdua yang masih bertautan di atas meja. Matanya kemudian melirik ke arah pria yang duduk di hadapan Seokjin.

Hoseok benar, mereka tidak terlihat seperti teman biasa.

Perasaan Namjoon sekarang benar-benar campur aduk, penasaran, kesal, dan entah kenapa ia juga merasa kecewa. Ia tak begitu yakin dengan apa yang tengah dirasakannya saat ini, yang jelas ia sangat ingin menarik tangan Seokjin agar terlepas dari genggaman pria asing itu kemudian membawa Seokjin pergi dari sini.

Tenang Namjoon, emosi tak akan menyelesaikan masalah.

Pria berkacamata itu tampak menghela napas sebelum bicara.

"Apa aku mengganggu kalian?" Ucapnya seraya kembali menatap tautan tangan mereka.

Seokjin yang menyadari tatapan itu segera menarik tangannya dari genggaman Ken.

"Tㅡ tidak, kami tak sengaja bertemu tadi. Um, duduklah." Ia bergegas menggeser duduknya kemudian memindahkan barang-barangnya, memberikan ruang untuk Namjoon.

Entah kenapa rasa gugup mendadak menghampiri Seokjin, terutama saat Namjoon melemparkan tatapan dingin pada Ken sedetik setelah Seokjin melepaskan tautan tangan mereka. Sumpah ia benar-benar tidak sadar jika Ken masih memegang tangannya.

Sial, kenapa aku merasa seperti seorang kekasih yang baru saja ketahuan selingkuh?!

Seokjin melirik takut-takut ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Sungguh aura Namjoon saat ini begitu dingin dan menakutkan, sangat berbeda dari biasanya. Ia benar-benar takut untuk memulai pembicaraan, tapi jika ia tak memulainya duluan suasana pasti akan canggung.

"Aㅡ ah Namjoon perkenalkan ini Ken. Ken ini Namjoon, temanku."

Ken tampak mengulurkan tangan dengan senyum lebar di wajahnya.

"Namaku Lee Jaehwan, tapi orang-orang sering memanggilku Ken."

"Kim Namjoon." Jawabnya singkat seraya menyambut uluran tangan Ken

"Senang bertemu denganmu Namjoon-ssi." Ken melepas tangan Namjoon kemudian mengalihkan pandangannya pada Seokjin. "Kalau begitu aku kembali saja sekarang."

"Bㅡ baiklah kalau begitu, salam untuk ibumu ya." Seokjin tersenyum kecil.

"Uhum, salam juga untuk nyonya Kim. Kapan-kapan aku akan main ke restorannya." Sahut Ken seraya berdiri dari duduknya. "Aku duluan Namjoon-ssi."

"Ya, terima kasih sudah menemani Seokjin."

"Bukan masalah hehe. Bye bye Jinnie."

Seokjin tertawa kecil seraya melambaikan tangannya pada Ken, tak sadar dengan kondisi pria di sebelahnya yang kembali tegang setelah mendengar kata 'Jinnie' yang diucapkan oleh Ken.

"Jinnie?"

Pria bersurai blonde reflek menoleh ke arah Namjoon.

"Ah itu nama panggilan untukku."

"Apa dia kekasihmu?" Tanya Namjoon.

"Iㅡ itu kami memang pernah menjadi kekasih, tㅡ tapi itu dulu."

Namjoon menoleh. "Maksudmu?"

"Dia mantan kekasihku."

Jawaban singkat yang diucapkan oleh Seokjin itu membuat Namjoon bisa kembali bernapas dengan lega. Meskipun belum sepenuhnya hilang, setidaknya rasa kesal yang dia rasakan sudah tidak sebesar tadi saat dia baru datang kemari.

Ya, dia masih sedikit sensitif karena pria itu mantan kekasih Seokjin.

"Nㅡ Namjoon? Apa sebelum kemari kau mengalami sesuatu?" Tanya Seokjin takut-takut.

Namjoon menaikkan alisnya. "Kurasa tidak, kenapa memangnya?"

"Tadi moodmu terlihat jelek saat datang kemari, kukira ada sesuatu yang terjadi."

"Apa aku menakutimu?"

"Sedikit hehe." Seokjin tampak menggaruk belakang lehernya sambil mengeluarkan tawa canggung.

Pria yang lebih muda tersenyum tipis. "Aku minta maaf. Um, bagaimana jika kita pindah tempat saja agar kau lebih nyaman?"

Seokjin menggeleng cepat.

"Tidak tidak, tidak perlu. Kita di sini saja, sungguh aku tidak apa-apa."

"Tak apa, kau boleh tentukan tempatnya. Anggap saja sebagai permintaan maafku." Namjoon tersenyum lebar hingga memunculkan lesung pipi miliknya.

Sungguh Seokjin lemah dengan cekungan di pipi Namjoon itu.

"Bㅡ baiklah kalau begitu." Jawabnya gugup. "Aku yang menentukan tempatnya?"

Namjoon mengangguk mantap.

"Kemana saja?"

Namjoon kembali mengangguk.

"Jika aku minta ke Everland apa kau akan mengabulkannya?"

Seokjin menatap ragu pada pria yang masih setia menyunggingkan senyum tampan di wajahnya.

"Tentu saja, ayo kita ke Everland."

Dan Seokjin tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.


.

.

TBC

.

.


Mohon maaf kl beberapa chapter belakangan rasanya agak membosankan *bow*. Aku bakal berusaha lagi di chapter-chapter selanjutnya.
Oh iya, apa menurut readernim alur ceritanya terlalu lambat?

Untuk selanjutnya mungkin bakal ada sedikit drama di chapter depan ehee, biar ada panas-panasnya dikit XD

Terima kasih bagi yang masih setia menunggu dan membaca ff ini! Kutunggu komentar kalian di kolom review yaa!

See you in the next chapter!