Dimple

Chapter 12: Answer


BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M


.

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.


"The answer is you."

"UHUK!"

Namjoon memijit tengkuk Seokjin yang sibuk memuntahkan isi perutnya ke kloset. Saat ini mereka berdua sedang berada di salah satu kamar mandi yang disediakan oleh everland. Mereka baru saja menaiki roller coasteratas permintaan Seokjindan langsung bergegas ke kamar mandi setelahnya karena Seokjin mual.

"Jika tidak kuat kenapa kau tadi minta naik roller coaster hm?"

Pria berlesung pipi menyodorkan sebotol air mineral yang langsung diterima oleh Seokjin.

"Terima kasih." Ia segera berkumur-kumur dengan air itu kemudian memuntahkannya ke dalam kloset. "Uh, kepalaku pusing."

Namjoon membantu Seokjin berdiri dan memapahnya keluar dari bilik kamar mandi. "Kita pulang saja ya?"

"Pulang? Tapi kita baru naik tiga wahana." Sahutnya tak setuju.

"Kau harus istirahat, kita bisa datang lagi lain waktu."

Seokjin menggeleng cepat dengan bibir yang mengerucut.

"Tidak mau."

"Seokjin."

"Noo!"

Namjoon menghela napas dengan senyum tipis di bibirnya. Sikap Seokjin yang seperti anak kecil ini membuatnya tak bisa menolak keinginan pria itu. Sebelumnya ia sangat kebal dengan aegyo jenis apapun, tapi entah kenapa yang satu ini seakan-akan menyuruhnya untuk menyerah dan mengabulkan apapun yang Seokjin inginkan.

"Alright, tapi setelah ini tidak ada acara naik wahana ekstrim seperti roller coaster." Putus Namjoon.

"What?! Tapi aku ingin naik Hurricane!" Seokjin kembali melayangkan protes pada pria yang lebih muda.

"Ikuti saranku atau kita pulang." Kalimat itu mengundang decihan kesal dari bibir Seokjin. "Aku ganti baju dulu, kau tunggu sebentar."

Rasa kesal Seokjin seketika menghilang begitu Namjoon menyebutkan kata 'baju'. Ia jadi mengingat kejadian saat turun dari roller coaster tadi. Karena tak bisa menahan mual, ia sempat muntah sedikit di baju milik Namjoon ketika pria itu memapahnya ke toilet.

Benar-benar memalukan.

Untung saja Namjoon membawa baju ganti yang sempat ia titipkan di ranselnya tadi saat masih di parkiran. Meskipun begitu ia tetap merasa bersalah karena sudah membuat suasana jadi tidak nyaman.

"Harusnya hari ini jadi hari yang menyenangkan. Stupid Kim Seokjin." Gumamnya pada cermin wastafel.

"Tak perlu kau pikirkan kejadian tadi." Tubuh Seokjin tersentak begitu mendengar suara Namjoon dari belakangnya. "Muntah itu manusiawi Seokjin."

Pria berlesung pipi tampak sedikit merapikan rambutnya kemudian kembali memakai topi yang berwarna senada dengan kaosnya. Seokjin tak merespon ucapan Namjoon, ia justru sibuk terpana dengan sosok tinggi di sebelahnya.

Kenapa dia bisa terlihat begitu tampan hanya dengan kaos hitam, kalung, dan topi di kepalanya?

"Aku titip bajuku di ranselmu, tak apa? Sudah kubungkus dengan plastik agar noda dan baunya tidak mengenai bagian dalam tasmu."

Seokjin sontak menundukkan kepalanya saat mata mereka tak sengaja saling bertatapan.

"Aㅡ ah ya, tidak apa-apa." Ujarnya seraya meraih ransel hitam yang dipegang Namjoon, namun pegangan pada pergelangan tangannya membuat Seokjin melemparkan tatapan heran pada pria di depannya. "Huh?"

"Biar aku yang bawa tasnya." Namjoon tersenyum kecil seraya memakai tas berwarna hitam itu di punggungnya.

"Jangan! Biar aku saja yang bawa."

"Tak apa. Lagipula kau kan baru sembuh dari pusing dan mual, akan lebih baik jika sementara waktu kau tak membawa beban apapun sampai tubuhmu kembali normal." Jelas Namjoon.

"Uh tapiㅡ"

"Ayo."

Dan Seokjin sama sekali tak bisa berkata apa-apa lagi ketika Namjoon menarik tangannya dan membawanya keluar dari toilet. Andai saja ia tak menundukkan kepalanya, orang-orang sudah pasti akan melihat rona merah yang sangat kentara di kedua pipi tembamnya. Sikap gentleman yang ditunjukkan Namjoon selalu berhasil membuatnya tersipu.

Seokjin benar-benar lemah jika sudah menyangkut hal yang satu itu.

"Hmm, kita kemana sekarang?"

Namjoon tampak memandang lekat-lekat peta lokasi yang ia dapatkan di pintu masuk tadi. Sebelah tangannya masih setia menggenggam tangan Seokjin yang sama sekali tak bersuara.

"Di sini ada area Plantopia dan Zootopia, kau pilih yang mana?" Tanyanya.

"Pplantopia."

Suara lirih yang terbata-bata itu membuat Namjoon menolehkan kepalanya ke samping. Lengannya langsung merangkul pinggang Seokjin defensif.

"Pusing lagi? Suaramu bergetar. Jika tidak kuat lebih baik kita pulang saja, jangan memaksakan diri."

"Tㅡ tidak tidak! Aㅡ aku uhㅡ baik!" Sahut Seokjin cepat. Nada bicaranya semakin kacau akibat gerakan mendadak yang dilakukan oleh Namjoon.

Demi tuhan posisi mereka saat ini sangat dekat! Terlebih lagi ini di tempat umum!

"Kau yakin? Wajahmu semakin merah Seokjin." Tanya Namjoon khawatir.

"Yㅡ yakin! Uhㅡ seratus persen!"

Namjoon mengamati cengiran gugup pria yang lebih tua dengan sedikit curiga.

"Kㅡ kita pergi sekarang ya?"

Pria berlesung pipi tampak menghela napas pelan. Lagi-lagi ia harus kalah dengan tatapan memohon yang diberikan oleh Seokjin.

Damn it!

"Baiklah, kita pergi sekarang." Jawab Namjoon akhirnya.

Sebuah senyum lebar seketika terbit di wajah Seokjin, membuat bibir Namjoon juga ikut menyunggingkan senyum tipis seolah-olah dia turut merasakan perasaan senang yang sedang dirasakan oleh Seokjin.

Keraguan itu, sudah mulai hilang sekarang.


.

.

~Buttermints~

.

.


"Namjoon! Foto di sini!"

Seokjin menunjuk dinding putih polos yang terdapat di sisi dalam gedung.

"Hum? Kenapa tidak di luar saja? Backgroundnya lebih bagus." Ujar Namjoon heran.

Pria bersurai blonde tampak menggelengkan kepalanya. "Aku mau di sini, kita sudah banyak mengambil foto di luar tadi."

"Baiklah... berdiri di situ, biar kufotokan." Ujaran itu kembali mengundang gelengan dari yang lebih tua, membuat Namjoon menaikkan kedua alisnya bingung. "No?"

"Foto denganmu."

"Huh? Denganku? Lalu siapa yangㅡ"

Kalimat Namjoon terhenti ketika Seokjin merebut kamera polaroid dari tangannya. Pandangannya bergerak mengikuti tubuh Seokjin yang terlihat menghampiri dua orang wanita asing. Pria bersurai blonde itu tampak menyampaikan sesuatu pada salah satu wanita kemudian membawanya ke tempat Namjoon.

"Kemari!"

Pria berlesung pipi tampak menurut-menurut saja ketika Seokjin menarik tangannya ke depan tembok putih.

"Bisa lebih dekat sedikit?" Ujar wanita berambut panjang yang tengah melihat posisi mereka dari viewfinder.

Seokjin menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Namjoon. Seperempat tubuhnya sedikit tersembunyi di belakang pria yang lebih muda. "Seperti ini?"

"Good! Satu! Dua! Tiga!"

KLIK!

"Boleh kulihat hasilnya?"

Wanita itu mengangguk seraya mengibas-ibaskan lembar foto di tangannya. Setelah gambarnya terlihat, ia segera memberikannya pada Seokjin.

"Temanmu tampak tegang." Kekehnya pelan. "Kurasa kau harus ambil satu foto lagi."

Seokjin tampak mengangguk setuju. DI foto itu wajah Namjoon memang terlihat tegang. Ia bisa melihat garis-garis tegang di wajah Namjoon, termasuk senyum pria itu yang terlihat sangat tidak natural.

"Apa tak masalah jika sekali lagi? Temanmu menunggu di sana." Tanya Seokjin.

"Tak apa, santai saja hehe." Wanita itu segera kembali ke posisinya semula, bersiap untuk memotret sepasang pria di depannya.

"Foto lagi?" Tanya Namjoon yang langsung diangguki oleh Seokjin.

"Ekspresimu seperti orang yang sedang membuat pas foto untuk SIM." Dengusnya. "Umㅡ coba bentuk huruf 'V' dengan tanganmu di sini, yak seperti itu. Lalu buat duckface seperti ini."

Seokjin tampak memajukan bibirnya, memberi contoh pose duckface pada Namjoon yang langsung ditirukan oleh pria jenius itu.

"Good! Terakhir pejamkan padamu."

Namjoon melirik heran ke arah Seokjin. "Kenapa harus tutup mata?"

"Lakukan saja. Cepat, nona Im menunggu." Paksanya.

Pemilik surai ash brown mendengus pelan seraya menuruti perintah Seokjin. Ia sedikit berdoa dalam hati agar pose fotonya ini tak terlihat konyol di kamera.

"Siap? Satu! Dua! Tiga! Good!"

KLIK!

"Yang ini bagus." Ujar wanita bersurai cokelat itu puas. "Ini kamera dan fotonya. Apa ada lagi yang bisa kubantu?"

"Ah tidak ada. Terima kasih, maaf sudah merepotkan."

Mereka berdua kompak menundukkan tubuh masing-masing dan langsung dibalas oleh wanita itu. Setelah sang wanita pergi, Seokjin langsung memeriksa lembaran foto yang ia pegang. Sebuah kekehan geli meluncur dari bibirnya saat melihat hasil fotonya dan Namjoon.

"Kau terlihat menggemaskan Namjoon-ah."

Namjoon langsung memalingkan kepalanya untuk menyembunyikan ekspresi malu dan salah tingkah yang mendadak muncul di wajahnya.

"I'm not."

Pria yang lebih tua kembali terkekeh melihat respon Namjoon. Ia terlihat meraih jari-jari tangan Namjoon untuk mengembalikan perhatian pria berlesung pipi itu.

"Kita pulang sekarang ya? Sudah sore dan aku masih belum menyelesaikan revisi skripsiku."

"Okay." Jawab Namjoon singkat. Ia masih setia melihat ke arah yang berlawanana dengan Seokjin.

"Namjoon."

Tarikan pelan pada tangannya membuat Namjoon akhirnya menoleh ke arah Seokjin.

"Terima kasih."

Dan jantungnya serasa akan berhenti saat itu juga begitu melihat senyum bahagia yang mengembang di wajah Seokjin.

He found it, the answer he had been searching for.


.

.

~Buttermints~

.

.


"Maaf babe, hari ini aku sedikit pulang terlambat. Namjoon-hyung mendadak ingin bertemu denganku."

Sosok pria bersurai gelap tampak mendudukkan diri di sofa hitam dengan sebuah benda persegi yang menempel di telinganya. Jemarinya bergerak melepaskan dasi yang terasa mencekik leher jenjangnya karena terpasang terlalu lama.

"Namjoon-hyung? Tumben sekali dia mengajakmu bertemu di kantor, biasanya dia langsung datang ke apartemen."

"Entahlah. Aku juga sedikit heran sebenarnya." Pria itu menyandarkan tubuh lelahnya ke sandaran sofa. "Awalnya aku ingin menolak tadi, tapi tidak jadi karena nada bicara Namjoon-hyung yang terdengar serius saat di telepon."

"Serius?"

"Uhum, seperti ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting."

"Aaa... kalau begitu bersikap baiklah padanya, siapa tahu dia memang benar-benar membutuhkan bantuanmu Kookie." Jawab pria di seberang.

"Aku selalu bersikap baik pada oang lain, kau tahu sendiri kan Taetae."

Suara decihan dari seberang memancing kekehan dari si pria kelinci.

"Ya ya, terseserah. Kira-kira jam berapa kau pulang? Perlu kubuatkan makan malam atau tidak?"

Pria itu bersiul. "Kau terdengar seperti seorang istri yang menanyakan kepulangan suaminya. Sudah siap berubah marga menjadi Jeon Taehyung huh?."

"Hentikan omong kosongmu itu tuan Jeon Jungkook. Harusnya kau bersyukur tidak kuterlantarkan." Sahut Taehyung kesal.

Jungkook terkekeh senang. Memiliki Taehyung di sisinya benar-benar membawa energi positif di hidupnya. Contohnya seperti sekarang, rasa lelahnya menghilang hanya karena sedikit bercanda dengan Taehyung.

"Aku bersyukur memilikimu Kim Taehyung."

Pernyataan Jungkook yang tiba-tiba itu tak ayal membuat wajah Taehyung merona di seberang sana. Sayangnya Jungkook tak bisa melihatnya dan Taehyung bersyukur karena hal itu.

"Cepat pulang dan hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada Namjoon-hyung." Sahutnya dengan nada yang dibuat setenang mungkin.

"Itu saja?" Desah Jungkook kecewa.

"Sampai jumpa di rumah, I love you."

PIP!

"Dia pasti sedang salah tingkah sekarang." Pria bersurai hitam tergelak. "Menggemaskan."

CKLEK!

"Jungkook?"

Pria yang dipanggil terlihat menolehkan kepalanya ke arah pintu. "Ah, masuklah Namjoon-hyung."

Namjoon menutup pintu kaca buram itu kemudian berjalan menghampiri Jungkook.

"Maaf mengganggu waktumu Kook. Aku janji hanya sebentar." Ujarnya seraya mendudukkan diri di sofa panjang.

"Santai saja hyung." Jungkook tersenyum kecil seraya menegakkan posisi duduknya. "Tumben kau mengajakku bertemu di kantor."

"Aku hanya ingin membicarakan hal ini berdua saja. Jika aku datang ke rumahmu, Taehyung pasti akan ikut mendengarnya."

Jawaban serta raut wajah yang serius itu mau tak mau membuat tubuh Jungkook menjadi sedikit tegang. Well, meskipun Namjoon hanya sepupunya, tapi pria itu sudah banyak sekali membantu Jungkook, jadi jika hyungnya itu ada masalah dia juga merasa memiliki kewajiban untuk membantunya.

"Ada apa?"

Namjoon terlihat melepas jaketnya sebelum bicara. "Aku ingin bertanya tentang awal hubunganmu dengan Taehyung."

"Hah?"

"Apa saja yang kau lakukan saat meminta Taehyung menjadi kekasihmu?"

What?

"Aku mengajaknya jalan-jalan ke night fair lalu menyewa area danau yang ada di taman, mendekorasinya, dan menyatakan perasaanku di sana. Terdengar kekanakan karena waktu itu aku memang masih anak-anak. Kenapa memangnya?"

Namjoon tampak diam sejenak. Otaknya sedang mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh pria kelinci itu.

"Hyung? Kenapa kauㅡ tunggu, apa itu?" Jungkook meraih selembar foto polaroid yang terjatuh di atas sofa.

Namjoon-hyung dan Seokjin-hyung?

Otaknya seperti mendapat pencerahan setelah melihat selembar foto yang saat ini sedang ia pegang.

"Apa kau berencana untuk menyatakan perasaanmu pada Seokjin-hyung?"

Kepala Namjoon seketika terangkat. "Darimana kau tahu?"

"Foto kalian berdua terjatuh. Kau habis kencan?" Pria bermarga Jeon menyodorkan foto yang langsung diambil oleh sang empunya.

"Jalan-jalan." Koreksinya seraya kembali mengantongi foto polaroid yang diberikan Jungkook.

"Ya ya terserah kau saja. Sekarang kutanya padamu, apa kau benar-benar serius ingin menyatakan perasaan pada Seokjin?"

"Sebenarnya aku masih sedikit ragu."

Alis Jungkook seketika terangkat. "Ragu dengan Seokjin-hyung?"

"Bukan. Ragu dengan jenis perasaan yang kurasakan sekarang. Aku hanya takut jika salah mengartikan perasaan ini. Bisa saja kan jika ini bukan perasaan suka ataupun cinta. Situasi ini merupakan yang pertama bagiku, jadi aku merasa sedikit bingung." Jelasnya.

"Kalau kau masih ragu kenapa kau terburu-buru untuk menyatakan perasaanmu pada Seokjin-hyung?"

"I don't know, Kook." Namjoon mendesah pelan. "Feelingku mengatakan jika aku harus segera melakukannya."

"Hyung, menyatakan perasaan bukan hanya sekedar mengikuti feeling belaka. Kau harus punya komitmen yang kuat untuk memulai sebuah hubungan. Apalagi kau baru pertama kali mengalami hal ini, kau tentunya membutuhkan kesiapan yang lebih daripada orang-orang yang sudah pernah berpacaran sebelumnya." Ujar pria yang lebih muda dengan nada serius. "Patah hati itu tidak enak hyung, percayalah padaku."

Penjelasan panjang dari Jungkook membuat Namjoon kembali berpikir. Ia akui semua kata-kata Jungkook memang ada benarnya, tapi keinginan hatinya yang begitu besar seolah tak bisa dipatahkan begitu saja oleh penjelasan itu. Jika bicara tentang komitmen, ia siap berkomitmen untuk Seokjin. Memang ia sedikit ragu dengan perasaannya, namun persentase rasa yakin yang ia miliki jauh lebih besar daripada keraguan itu.

Ia sudah memikirkannya selama semalaman dan salah satu tujuannya mengajak Seokjin bertemu hari ini adalah untuk meyakinkan perasaannya.

"Namjoon-hyung?"

"Aku akan tetap melakukannya." Ujar pria berlesung pipi dengan yakin.

"Okay." Jungkook menghela napas pelan. "Jika itu memang keputusanmu, aku tak akan menghalanginya. Sekarang apa yang bisa kulakukan untukmu?"

"Beritahu aku apa saja yang harus kusiapkan. Tidak perlu yang terlalu berlebihan."

Pria yang lebih muda tampak melipat tangannya di depan dada seraya bersandar ke kepala sofa. Dahinya berkerut samar, pertanda bahwa dia sedang berpikir.

"Aku punya ide." Ujar Jungkook tiba-tiba. "Kapan kau akan melaksanakan rencanamu?"

"Umㅡ maybe in three days?"

"Oke, semuanya akan siap dalam tiga hari. Serahkan semuanya padaku." Jungkook tersenyum lebar seraya menepuk pelan pundak sang hyung.


.

.

~Buttermints~

.

.


Tiga orang pria muda tampak asik mengobrol di sebuah cafe outdoor yang cukup ramai. Salah satu pria yang memiliki tubuh paling tinggi terlihat meneguk Caramel Macchiatonya seraya memperhatikan dua orang pria di hadapannya. Sesekali ia tertawa geli melihat interaksi sepasang kekasih yang terlihat menggemaskan itu.

"Kalian benar-benar terlihat cocok. Omong-omong apa yang membuatmu bisa jatuh hati pada si kakek ini Jimin-ah?" Tanya pria itu.

"Umㅡ waktu itu aku bertemu Yoongi-hyung di acara kampus. Yoongi-hyung menjadi salah satu guest di acara seminar dan aku menjadi panitia pendampingnya. Dia dulu yang tiba-tiba meminta ID Lineku sedetik setelah aku memperkenalkan diri kemudianㅡ hmfft!"

Kalimat Jimin langsung terhenti ketika Yoongi menyuapkan sesendok besar Tiramisu ke mulutnya. Pria yang duduk di depan Jimin buru-buru menyodorkan minuman ke depan Jimin yang saat ini sedang batuk-batuk karena tersedak.

"Woah santai sedikit Yoongs. Kekasihmu bisa mati tersedak jika kau menjejalinya dengan potongan kue sebesar itu."

"Dia sudah biasa tersedak dan dia menyukainya."

Jawaban bernada santai itu mengundang delikan tajam dari pria berpipi tembam yang duduk tepat di sebelah Yoongi.

"Jadi, hal apa yang akan kau bicarakan denganku, Ken?" Tanya Yoongi.

"Ah mengenai hal itu, sebelumya aku ingin bertanya dulu padamu."

"Silahkan."

"Seokjin, apa dia sudah punya kekasih?"

Alis Yoongi terangkat begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ken.

"Kurasa belum."

"Kau yakin?"

Pria pucat itu mengangguk. "Selama ini Seokjin selalu cerita padakku jika ia sedang dekat dengan seseorang, tapi belakangan ini dia tak bercerita apapun masalah itu."

Ken tampak menghela napas lega setelah mendengar penjelasan Yoongi. Kedua pria yang duduk di depannya tampak saling melempar pandang seperti sedang berkomunikasi lewat telepati.

"Jadi begini, aku memiliki niatan untuk kembali dengan Seokjin."

Sepasang kekasih itu kompak mengembalikan pandangan mereka pada Ken.

"Aku membutuhkan bantuan kalian."


.

.

.

My heart is ripping, just set it on fire
So the pain and the feelings won't remain

.

.

.


TBC


I'm backk!

Seokjin pilih mana dong? Eheeee~

Terima kasih banyak buat readernimm yang nyempetin diri buat mampir! Terima kasih juga buat yang udah fav, follow, dan review ff ini!

Kutunggu komentar kalian di kolom review yaa! Aku kangen dikomentarin kkkk~

Ada yang bisa tebak judul chapter selanjutnya?
(Clue: potongan lirik lagu bts di akhir chapter )

See you in the next chapter!