Dimple

Chapter 13: Tear


BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M


.

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.


My heart is ripping, just set it on fire
So the pain and the feelings won't remain

BTS - Outro: Tear


"Baik, kurasa cukup untuk hari ini. Jangan lupa kumpulkan tugas kalian paling lambat besok siang di ruanganku. Terima kasih."

Seluruh penghuni ruangan kompak menjawab kalimat itu dengan nada malas. Mereka segera membereskan barang masing-masing kemudian pergi meninggalkan kelas. Tak sampai sepuluh menit kelas itu sudah terlihat kosong, hanya tersisa dua orang saja di sana.

Sang dosen tampak melirik ke arah satu-satunya mahasiswa di sana sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas. Sudut bibirnya seketika terangkat begitu melihat siapa mahasiswa itu.

"Seokjin, tidak pulang?"

Pria yang dipanggil sontak mendongakkan kepalanya. "Umㅡ sebentar lagi. Aku masih menyelesaikan revisiku."

"Revisi lagi? Bukankah kemarin lusa kau baru berkonsultasi pada pembimbingmu?"

"Memang sudah, tapi menurutnya masih ada yang perlu diperbaiki." Seokjin mendengus pelan. "Padahal menurutku semuanya sudah benar dan sesuai."

Namjoon mengambil ranselnya lalu berjalan menghampiri temap duduk Seokjin. "Need some help?"

"Aㅡ ah, tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu."

Pria berlesung pipi tersenyum kecil seraya mendudukkan diri di sebelah Seokjin.

"Tak apa, lagipula setelah ini aku tidak ada jam mengajar. Boleh kulihat draftmu sebentar?"

Seokjin mengangguk pelan. Digesernya posisi laptop yang berada di depannya hingga menghadap ke arah Namjoon. Pria bersurai ash brown segera membaca tulisan yang tertera di layar, sementara pria yang satu lagi tampak duduk diam seraya memandangi orang di sebelahnya. Kaki jenjang yang dibalut celana kain berwarna hitam, kemeja lengan pendek berwarna cokelat susu yang dimasukkan ke dalam celana, dan sebuah kaca mata yang semakin menyempurnakan penampilannya.

Seokjin benar-benar tidak bisa konsentrasi jika begini caranya.

"Sebenarnya tidak ada yang salah dengan analisismu, hanya saja bagian ini perlu sedikit ditambah penjelasan." Ujarnya seraya mengetikkan sesuatu di layar. "Aku memberikan beberapa poin di sini, kau bisa mengembangkannya sendiri nanti."

Hening.

Namjoon menolehkan kepalanya ketika ia tak mendapatkan respon apapun dari Seokjin. Sudut bibirnya lagi-lagi terangkat begitu melihat ekspresi lucu yang dibuat oleh pria bersurai blonde. Ya, pria itu sedang memandangnya lekat dengan bibir yang sedikit terbuka dan mata yang sama sekali tidak berkedip.

"Seokjin?"

Ia menggenggam punggung tangan Seokjin di atas meja, membuat sang empunya langsung kembali ke alam sadarnya.

"Yㅡ ya?"

"Sudah kuberi beberapa poin di draftmu, kau tinggal mengembangkannya saja."

"Aㅡ ah terima kasih Namjoon-ah."

Namjoon tersenyum kecil. "Kalau masih ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, kau bisa hubungi aku."

"Uhum." Pria bersurai blonde menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu aku duluan. Ah, apa nanti sore kau di rumah?"

"Aku ada acara dengan teman setelah ini, tapi kurasa sore nanti aku sudah di rumah. Ada apa?"

Pria bersurai ash brown tampak menggaruk belakang kepalanya gugup.

"Nanti hubungi aku jika kau sudah di rumah. Aku pergi dulu."

Seokjin melemparkan tatapan bingung pada sosok tinggi yang tengah berjalan ke arah pintu dengan begitu terburu-buru. Dia yang salah lihat atau memang pipi Namjoon sedikit memerah barusan?

Ah entahlah, mungkin hanya perasaannya saja.

"Tersisa dua jam lagi. Aku akan selesaikan ini, lalu pergi ke food festival!" Ujarnya semangat.

Sementara Seokjin kembali fokus pada laptopnya, Namjoon harus berusaha mati-matian untuk menenangkan debaran jatungnya yang berdetak begitu cepat. Sial! Kenapa semakin lama ia semakin tak bisa mengontrol diri saat berada di sebelah Seokjin. Apa karena ia sedang berada dalam tekanan karena memikirkan rencananya nanti malam?

Tidak tidak ia harus tenang. Ia tidak ingin rencana yang sudah ia siapkan dengan susah payah itu jadi sia-sia hanya karena tidak fokus.

DRRT! DRRT!

"Halo?"

"Kau sudah selesai mengajar?"

"Ya, baru saja. Ada apa Kook?" Ujarnya seraya berjalan menuju parkiran.

"Jangan lupa untuk mengambil buket bunga di florist!" Teriak Taehyung di seberang.

Namjoon terkekeh ketika mendengar protesan yang diucapkan oleh Jungkook karena Taehyung menyerobot teleponnya secara tiba-tiba.

"Ya ya, aku akan berangkat ke florist sebentar lagi. Bagaimana dengan persiapan yang lainnya?"

"Semua sudah beres. Live music, restoran outdoor yang menghadap langsung ke pantai, dan menu favorit Seokjin-hyung. Kau juga sudah survey tempatnya kan kemarin?"

"Sudah dan aku menyukainya." Ia tertawa kecil. "Sederhana namun terkesan elegan. Sesuai dengan seleraku."

"Good. Untuk baju dan lain-lainnya, kurasa aku dan Taehyung tak perlu mengurusnya lagi. Kau sudah cukup fashionable untuk menentukan pakaianmu."

"Masalah itu, aku sudah menyiapkannya sejak kemarin."

"Sesuai dengan dugaanku." Jungkook terkekeh. "Ya sudah. Jangan lupa untuk datang jam lima tepat atau kau akan kehilangan momen sunsetmu."

"Aku sudah pasang pengingat, kau tidak perlu khawatir."

"Ya ya, kalau begitu kututup dulu. Semoga berhasil hyung, jangan lupa kabari aku nanti."

"Pasti. Terima kasih karena sudah mau membantu. Sampaikan salamku pada Taehyung." Namjoon memasuki mobilnya.

"Semoga berhasil hyungg!"

Teriakan Taehyung dari seberang, membuat pria bersurai ash brown kembali mengeluarkan kekehan kecil.

"Terima kasih Taehyung-ah. Kututup dulu."

PIP!

Namjoon meletakkan ponselnya di dasbor mobil seraya menghembuskan napas pelan. Malam nanti ia akan mengungkapkan perasaannya pada Seokjin. Dia benar-benar berharap jika semuanya bisa berjalan dengan lancar. Selama dua hari belakangan, ia jadi tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan hal itu.

"Ternyata segugup ini rasanya." Ia kembali menghela napas.

"Kau benar-benar yang pertama untukku, Seokjin, dan mungkin, juga akan jadi yang terakhir."


.

.

~Buttermints~

.

.


"Apa kau yakin jika bunga-bunga ini tidak akan layu selama kalian pergi." Tanya si pria pucat.

"Yakin. Temanku pernah mencobanya dan bunganya masih tetap segar meskipun ditinggal selama beberapa jam. Lagipula kami pergi tak sampai dua jam, aku paham betul dengan Seokjin."

Si pria pucat tampak mengangguk pelan. "Ya sudah kalau begitu. Nyalakan acnya selama perjalanan dan cari tempat dingin untuk parkir. Kurasa itu bisa membantu."

"Yup! Sudah kuperkirakan semuanya hehe."

Bagus."

Pria bersurai gelap itu kemudian beranjak mendekati sang kekasih yang sedang sibuk menata bunga dan lampu-lampu kecil di bagian belakang mobil. Sebuah senyum jahil seketika terbit di wajahnya begitu melihat posisi Jimin yang tengah menundukkan tubuh hingga menunjukkan bokong padat favoritnya.

"Perfect! Tinggalㅡ ah!" Jimin buru-buru menolehkan kepalanya begitu merasakan remasan pada aset berharganya. "Yoongi-hyung!""

Yoongi tampak terkekeh seraya melingkarkan lengannya ke pinggang sang kekasih.

"Sorry babe, can't help it." Jawabnya polos.

"Aish hyung! Ada Ken-hyung di sini!"

Jimin berusaha melepaskan rengkuhan pada pinggangnya, namun sayang usahanya itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Si pria pucat malah menumpukkan dagunya di pundak Jimin dan mempererat pelukannya. Pelukan Yoongi memang sangat nyaman, ia tak akan bohong soal itu, tapi masalahnya mereka berdua sedang berada di halaman rumah dan ada Ken yang dari tadi sibuk berlalu-lalang membawa barang.

Tidak lucu jika Ken akhirnya salah paham ketika melihat posisi mereka yang terlalu dekat seperti sekarang.

"Hyung lepas dulu, aish!"

"No."

"Hyungㅡ"

"No."

Pria chubby itu mendengus kesal.

"Be a good boy and you'll get your reward."

Wajah Yoongi seketika terangkat begitu mendengar kata reward.

"Sungguh?"

"Uhum." Jimin mengangguk kecil. "Lepas sekarang sebelum tawaran itu hangus."

Yoongi buru-buru melepaskan pelukannya dengan senyum lebar di wajah. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

"Okay princess, take your time."

Jimin benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak blushing ketika sang kekasih memanggilnya dengan sebutan princess.

"Jimin-ah bagaimana? Apa ada kesulitan?"

"Aㅡ ah tidak, sudah selesai. Tinggal memasang balonnya saja." Jawabnya seraya kembali menyibukkan diri dengan bunga-bunga di tangannya.

"Oke! Aku sudah bawa balonnya, eh? Telingamu kenapa merah begitu?"

Ken tampak mengernyitkan dahinya begitu melihat warna merah terbakar pada telinga Jimin.

"Tㅡ tidak tidak. Tidak apa-apa."

Pria tinggi itu melirik ke arah Yoongi kemudian mengeluarkan tawa kecil dari bibirnya.

"Kau habis digoda Yoongi?"

BLUSH!

"Tㅡ tidak!" Jawabnya panik.

"Wajahmu semakin merah Jim." Kekehnya seraya menata balon-balon di dalam mobil. "Dia memang begitu sejak dulu, sedikit tidak tahu tempat."

"Hum? Maksudnya?"

"Dia pernah punya kekasih saat SMA dan sering menunjukkan kemesraan di depan kami ketika sedang berkumpul." Ceritanya. "Aku dengan Seokjin dan dia dengan kekasihnya."

Jimin melirik ke arah sang kekasih. "Yoongi-hyung pernah punya kekasih lain?"

"Yup! Memang dia tidak cerita padamu?"

Pria manis itu menggeleng cepat.

"Kalau begitu kau minta Yoongi saja yang cerita. Aku tidak mau jadi bulan-bulanan kakek itu karena dianggap membuka rahasianya." Guraunya.

"Umㅡ apa aku boleh tahu siapa nama mantan kekasihnya?"

"Kau tahu Jennie Kim? Penyanyi solo yang sedang naik daun itu?" Jimin mengangguk. "Dia mantan kekasih Yoongi."

What?

"Kalau tidak salah mereka satu manajemen kan?"

"Y- ya. Mereka memang satu manajemen dan Yoongi-hyung sering berkontribusi dalam pembuatan lagunya." Jawab Jimin.

"Aaa... tapi sepertinya orang-orang memang tidak tahu tentang masa lalu mereka berdua. Mungkin Yoongi sengaja menyembunyikannya untuk menghindari rumor."

"Entahlah, mungkin memang begitu."

Jimin melirik ke arah sang kekasih yang tampaknya tak mendengar pembicaraan mereka. Jujur saja ia merasa begitu kecewa pada pria pucat itu. Ia tak masalah jika Yoongi bekerja dengan mantan kekasihnya, toh sekarang yang ada di hati Yoongi adalah dirinya. Ia juga bisa memahami jika Yoongi memang ingin merahasiakan masa lalunya dari orang-orang untuk melindungi karir mereka berdua.

Tapi kenapa dia harus merahasiakannya dari Jimin yang merupakan kekasihnya sendiri? Apa dia takut Jimin akan marah dan melarangnya bekerja karena ada Jennie? Atau karena ada alasan lain?

"Done! Jimin-ah tolong geser sedikit, biar kututup pintunya."

"Aㅡ ah, ya hyung." Jimin menggeser tubuhnya ke samping. "Umㅡ Ken-hyung, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu!."

"Kalau boleh tahu, apa alasanmu ingin kembali dengan Jin-hyung?"

"Karena aku masih mencintai Seokjin." Ken menyandarkan punggungnya ke badan mobil.

"Saat itu kami berpisah bukan karena kemauan kami, tapi karena orangtua Seokjin. Aku bisa menerima alasan yang dikatakan nyonya Kim waktu itu, jadi aku tidak pernah menyalahkan nyonya Kim sama sekali." Ia tersenyum kecil. "Karena itulah dengan keadaanku yang sekarang ini, aku ingin membuktikan pada nyonya Kim bahwa aku benar-benar serius dengan Seokjin dan bukan hanya sebatas kekasih saja."

Jimin seketika menegakkan tubuhnya. "Maksudmu?"

"Jika nanti Seokjin mau menerimaku lagi, aku akan segera melamarnya beberapa bulan kedepan."

"Oh my god." Ia menutup bibirnya dengan telapak tangan. "Kau serius?"

Ken mengangguk dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

"Serius. Maka dari itu doakan aku agar semuanya berjalan dengan lancar. Oke Jimin-ah?"

"Pasti! Oh god, aku masih tidak percaya ini."

Pemilik tubuh tinggi itu tertawa kecil seraya memeriksa ponselnya yang baru saja bergetar.

"Sepertinya aku harus berangkat sekarang. Seokjin sudah selesai."

"Bagus. Berangkatlah sekarang agar aku bisa segera pulang bersama Jimin." Yoongi merangkul pinggang Jimin dari samping. "Kami ada urusan penting."

"Dasar tidak berubah." Ken menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sekali lagi terima kasih karena sudah mau membantuku hari ini."

"Ya ya, kutunggu makan gratis yang kau janjikan kemarin. Ayo sayang."

Jimin segera melepaskan diri dari rangkulan Yoongi hingga mengundang tatapan bingung dari sang kekasih.

"Semoga berhasil hyung, kami pulang dulu." Ujarnya seraya melemparkan senyum pada Ken.

"Yup! Hati-hati!"

Pria bersurai blonde kemudian berjalan menuju mobil hitam yang terparkir di sisi kanan mobil Ken, meninggalkan sang supir yang tengah memasang ekspresi melongo di wajahnya. Tanpa menunggu lama, ia bergegas menyusul sang kekasih setelah sebelumnya menepuk pelan pundak Ken sebagai salam perpisahan. Ken hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya masuk ke dalam mobil.

"I'm coming, Jinnie."


.

.

~Buttermints~

.

.


Namjoon merapikan lengan kemeja bergarisnya yang sengaja ia gulung sampai siku. Matanya melirik ke arah jam digital yang sudah menunjukkan pukul tiga lebih empat puluh lima menit. Beberapa menit yang lalu Seokjin meneleponnya dan mengatakan jika dia sudah selesai dan akan segera pulang. Mendengar hal itu, Namjoon bergegas untuk merapikan penampilannya dan menyiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa.

"Dompet, kunci mobilㅡ ah! Bunga!" Serunya seraya meraih buket mawar berwarna salmon di atas meja. "Hampir saja lupa."

Bibirnya tampak menyunggingkan senyum tipis ketika melihat buket yang sedang ia pegang. Dia sengaja memilih mawar berwarna salmon karena bunga tersebut melambangkan tiga perasaan yang ia rasakan setelah bertemu dengan Seokjin, yaitu desire, excitement, dan enthusiasm.

"Semoga hari ini bisa menjadi awal yang baik untukku dan Seokjin."

Namjoon mengecup singkat rangkaian bunga itu sambil memejamkan mata.

"Wish me luck."

Ia menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamar. Selama perjalanan ke parkiran apartemennya, ia terus mencoba untuk menenangkan diri dan fokus. Sungguh, baru kali ini ia mengalami rasa gugup yang begitu besar. Padahal biasanya, dirinya tetap bisa bersikap tenang apapun masalah dan situasinya.

Semua ini benar-benar pengalaman yang baru bagi Namjoon.

DRRT! DRRT!

Namjoon tampak melirik layar ponsel seraya memasang sabuk pengaman. Begitu ia melihat nama Jungkook di layar, ia segera mengaktifkan bluetooth headset kemudian menjawab panggilan itu.

"Halo?"

"Hyung kau sudah berangkat?" Tanya pria bersuara berat di seberang sana.

"Hum? Taehyung?"

"Hehe ya, ini aku. Aku meminjam ponsel Jungkook. Bagaimana? Kau sudah berangkat?"

"Ya, aku baru saja keluar dari basement. Aku akan sampai sekitar dua puluh menit lagi."

"Good! Aku dan Kookie tidak sabar untuk mengumumkan pergantian statusmu pada paman dan bibi Kim." Ujarnya semangat.

"Kau terlalu bersemangat Taehyung-ah." Namjoon tertawa kecil. "Lagipula belum tentu Seokjin menerimaku nanti."

Pria di seberang mendengus. "Kau kenapa jadi pesimis begitu? Aku yakin jika Seokjin-hyung nanti akan mengatakan iya."

Sejujurnya hal inilah yang menjadi ketakutan Namjoon sejak dua hari yang lalu. Ia selalu ingat bahwa ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu satu, ia akan pulang dengan status sebagai Kekasih Seokjin, atau dua, ia akan pulang dalam keadaan yang sama seperti ini, bahkan mungkin lebih parah.

Apa yang harus ia lakukan jika Seokjin nanti menolaknya?

"Halo? Namjoon-hyung? Kau masih di sana?"

Tubuh Namjoon tersentak. "Ah, ya, maaf Tae."

"Relax hyung, everything's gonna be alright."

Pria berlesung pipi itu tampak beberapa kali menghela napas, berusaha untuk menenangkan dirinya yang kembali diserang rasa gugup.

"I'll try." Ia menarik napas kemudian kembali melepaskannya dengan perlahan. "Terima kasih Taehyung-ah."

"Ya ya. Kalau begitu kututup dulu, hati-hati di jalan hyung. Semangat!"

"Terima kasih, sampaikan salamku untuk Jungkook."

PIP!

Namjoon membelokkan mobilnya memasuki basement di gedung apartemen Seokjin. Ia segera memarkirkan mobilnya di lahan parkir yang kosong kemudian membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun, ia kembali menenangkan dirinya dengan cara memejamkan mata dan menghembuskan napasnya beberapa kali.

"Kau bisa lakukan ini Kim Namjoon."

Pria berlesung pipi itu meraih buket bunga yang ia letakkan di jok mobil lalu keluar dari sana. Setelah memastikan mobilnya terkunci, ia berjalan menuju lift yang ada di bagian belakang basement. Parkiran yang cukup luas ini terlihat sepi, hanya terdapat kurang lebih sepuluh mobil yang terparkir rapi di beberapa sisi.

"Terima kasih untuk makan gratisnya Ken."

Sebuah suara yang begitu familiar membuat langkah kaki Namjoon seketika terhenti. Kepalanya sontak menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari sebelah kirinya.

"Seokjin?" Pandangannya lalu bergeser pada sosok pria lain yang baru saja keluar dari mobil. "Ken?"

Ia reflek memundurkan tubuhnya hingga sedikit tertutupi oleh bagian badan sebuah mobil yang terparkir dekat dengan posisinya. Bukan maksud untuk menguping pembicaraan mereka, namun insting Namjoon menyuruhnya untuk tetap berdiri di sana.

"Sama-sama. Kita bisa pergi lagi lain waktu jika kau ingin." Ujar pria bersurai hitam seraya menghampiri Seokjin yang berdiri di bagian belakang mobil.

"Ya ya, aku tahu kau banyak uang." Seokjin mencibir. "Kalau begitu aku masuk dulu, kau hati-hati di jalan."

"Tunggu!" Ken menahan pergelangan tangan Seokjin, mengundang tatapan bingung dari pria bersurai blonde. "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Ia tampak melepaskan pegangan tangannya kemudian membuka pintu belakang mobilnya. Seokjin dan Namjoon tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya begitu melihat berbagai macam lampu-lampu kecil, foto polaroid yang digantung, balon, dan bunga yang telah ditata sedemikian rupa di bagian dalam mobil.

"Kㅡ Ken? Apa yangㅡ"

Seokjin tak bisa melanjutkan kata-katanya begitu pria tinggi di depannya itu mendadak berlutut dan menggenggam kedua tangannya.

"Mungkin ini memang terlalu cepat, tapi aku ingin kau tahu bahwa perasaanku sejak dulu, sama sekali tidak berubah. Aku minta maaf jika saat itu aku kau merasa kecewa padaku. Aku janji akan memperbaiki semuanya dan membahagiakanmu." Ujarnya seraya menatap mata Seokjin. "Kim Seokjin, maukah kau kembali bersamaku?"

Buket bunga di tangan Namjoon seketika terlepas dari pegangan tangannya. Ia tampak membalikkan tubuhnya kemudian berjalan menjauhi tempat itu. Sudah cukup, ia tak mau melihat ataupun mendengar lebih jauh lagi.

Ketika sampai di depan mobil, pria bersurai ash brown tampak mencari kontak seseorang di ponselnya dan menempelkan benda persegi berwarna hitam itu ke telinganya setelah menekan tombol dial.

"Halo? Ada apa hyung?"

"Batalkan reservasinya."

"Huh? Tapi kenaㅡ"

"It's over Kook."

Namjoon masuk ke dalam mobil lalu menyandarkan kepalanya ke kursi.

"It's over."


.

.

TBC

.

.


Kasian mas namjoonku, maafin aku mas udah bikin mas galau :"))
Dan ya! Potongan lirik kemarin itu dari lagu BTS – Tear ehee.

Sekali lagi terima kasih buat yang udah sabar menunggu! Kutunggu komentar kalian di kolom review yaaa.

Oh iya, aku mau bilang sekali lagi kalau kemungkinan ff ini bakalan m-preg. Masih kemungkinan sih, belum aku putusin ehehe. Kira-kira gimana pendapat kalian?

See you in the next chapter!