Dimple

Chapter 14: The Truth Untold


.

.

BTS Fanfiction

Romance, Humor, University!AU, BoyxBoy

Main!Namjin, Slight!Yoonmin, Kookv

Rating: M

.

.

.


.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah bebe"

PIP!

Seokjin menghempaskan kepalanya ke atas bantal seraya menghela napasnya frustasi. Ini sudah empat hari sejak terakhir kali Namjoon menghubunginya sebelum pria itu menghilang entah kemana.

Ia benar-benar khawatir.

Iris gelapnya melirik ke arah bunga mawar berwarna salmon di dalam vas yang masih terlihat segar meskipun sudah empat hari. Bunga itu diantarkan oleh Jinwootetangga sebelahnyasekitar empat hari yang lalu. Jinwoo mengatakan jika ia menemukan buket bunga itu di tempat parkir apartemen. Ia langsung mengantarkannya ke tempat Seokjin begitu melihat kartu nama bertuliskan 'for Kim Seokjin' yang juga tertempel di sana. Saat Seokjin bertanya siapa pengirimnya, Jinwoo menjawab tidak tahu karena sama sekali tak melihat siapapun ketika ia menemukan buket bunga itu.

Sebenarnya ada satu nama yang terbersit dalam benak Seokjin, yaitu Namjoon. Sebab hari itu hanya dialah yang memiliki rencana untuk datang ke apartemennya, tapi memang tak menutup kemungkinan jika ada orang lain yang mengirimkan buket itu padanya lewat kurir.

Sekarang yang ia herankan kenapa buket itu bisa tergeletak di tempat parkir?

Sungguh, Seokjin benar-benar dibuat pusing dengan semua itu sampai-sampai ia jadi tidak fokus untuk mengerjakan skripsinya yang tinggal sedikit lagi. Pikirannya terpecah, apalagi dengan menghilangnya Namjoon yang terasa begitu mendadak selama beberapa hari.

"Kenapa aku semakin yakin jika bunga itu memang ada hubungannya dengan Namjoon?" Gumamnya. "Bunga yang tergeletak di parkiran, Namjoon yang tiba-tiba menghilang, ponsel yang tidak aktif"

Tubuh Seokjin seketika menegang ketika sebuah bayang-bayang tidak menyenangkan lewat di kepalanya.

"Jjangan-jangan dia diculik saat datang kemari dan bunga itu terjatuh ketika ia diseret oleh orang tak dikenal." Ujarnya panik. "Tidaktidak, tidak mungkin jika dia diculik. Penjagaan di tempat parkir cukup ketat dan banyak orang berlalu-lalang di sana, jadi tidak mungkin jika hal itu terjadi, terlalu beresiko."

Seokjin berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang dan menghilangkan bayang-bayang kejadian penculikan bersenjata dari kepalanya. Namun semakin ia berusaha menghilangkannya, seperti semakin nyata saja bayang-bayang mengerikan itu.

"Tenang Kim Seokjin, ya tuhan."

Sayangnya usaha Seokjin untuk menenangkan diri sama sekali tidak berhasil. Tangannya mulai diserang tremor dan keringat dingin tampak membahasahi bagian telapak tangan dan tengkuknya.

"God, Namjoon, aapa yang harus kulakukan." Suaranya terdengar bergetar. "Ah! Jungkook! Kenapa tidak terpikirkan olehku?!"

Ia segera meraih ponselnya kemudian mencari kontak Jungkook dengan tangan yang masih gemetar.

TUUTTUUT

"Halo? Seokjin-hyung?"

"Aah Kookie! Ssyukurlah kau mengangkat teleponku!"

"Hyung? Kau kenapa? Kenapa suaramu terdengar panik?" Tanyanya.

"Kook, apa kau tahu dimana Namjoon?"

"Namjoon-hyung? Ada apa dengannya?" Suara Jungkook mulai terdengar serius di seberang sana.

"Dㅡ dia menghilang Kook."

"Menghilang?"

"Um, terakhir kali dia menghubungiku sekitar empat hari yang lalu. Saat itu dia berencana untuk pergi ke apartemenku, tapi dia tidak datang. Saat kuhubungi, ponselnya tidak aktif sampai sekarang. Di kampus juga aku sama sekali tidak melihatnya. Dan hari itu tetanggaku mengantarkan buket bunga dengan identitas namaku yang ia temukan di parkiran." Jelas Seokjin. "Aku khawatir Kook, bagaimana jikaㅡ"

"Tunggu, seperti apa rupa buket bunga itu?"

"Sebuah buket mawar berwarna salmon."

Jungkook terdengar menggumamkan sesuatu yang tak bisa dipahami oleh Seokjin.

"Kook?"

"Hyung, kemungkinan bunga itu memang milik Namjoon-hyung."

Tubuh Seokjin seketika menegang.

"Terakhir kami berkomunikasi juga sekitar empat hari yang lalu dan setelah itu aku tidak bertemu lagi dengannya karena harus pergi ke Busan."

"God." Ia menutup wajahnya dengan sebelah tangan. "Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya Kook? Apapun bisa terjadi padanya melihat statusnya yang sangat penting di keluarga Kim. Bagaimana jika tiba-tiba dia disandera, bagaimana jikaㅡ"

"Hyung, kumohon tenang dulu, oke? Aku akan mencoba menghubungi Hoseok-hyung dan orang-orang terdekatnya terlebih dulu."

"Bagaimana aku bisa tenang jika seperti ini. Namjoon hilang dan penyebab hilangnya dia adalah aku." Seokjin berusaha untuk menahan air matanya yang sudah siap meluncur. "Kalau saja dia tidak kemari, dia tidak akan seperti ini."

"Hyung ini bukan salah siapa-siapa. Berhenti menyalahkan diri sendiri dan cobalah untuk tenang. Aku akan menyuruh Taehyung datang kesana untuk menemanimu."

Seokjin tidak menjawab. Hanya isakan-isakan kecil yang keluar dari bibir pria cantik itu.

"Percayalah padaku, Namjoon-hyung akan baik-baik saja. Aku akan berusaha untuk mencari tahu keberadaannya." Ujar Jungkook. "Kututup dulu. Aku janji akan mengabarimu jika mendapatkan informasi."

"Yㅡ ya. Terima kasih Jungkook-ah."

"Taehyung akan segera datang ke sana. Sampai nanti hyung."

PIP!

Seokjin melemparkan ponselnya ke atas ranjang kemudian menenggelamkan wajahnya ke bantal. Bulir-bulir air mata terlihat mulai membasahi permukaan benda empuk itu. Ia tak akan bisa tenang sampai mendengar kabar atau bertemu lagi dengan Namjoon.

"Semoga kau baik-baik saja Namjoon-ah."


.

.

~Buttermints~

.

.


TING!

Sosok bersurai oranye tampak keluar dari dalam lift dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Sosok itu kemudian berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu dan terlihat menekan kombinasi angka untuk membuka pintu tersebut.

"Tch, sial. Dia mengganti passwordnya." Decih pria itu seraya kembali memasukkan kombinasi angka yang berbeda.

BEEP!

"Salah juga. Apa kira-kira passwordnya kali ini." Ia tampak diam selama beberapa detik. "Ah! Coba kombinasi antara tanggal lahir kedua orangtuanya dan dirinya. Enam digit, semoga saja bisa terbuka."

Pemilik surai oranye kembali mengetikkan kombinasi angka pada mesin pengunci otomatis itu dengan harapan tebakannya benar dan dia bisa masuk ke dalam.

DING!

"Gotcha."

Ia bergegas masuk ke dalam pent house sambil memanggil nama sang pemilik rumah.

"Namjoon!"

Tak ada jawaban.

"Oh ayolah Kim, jangan bermain petak umpet denganku." Ujarnya seraya berjalan menaiki tangga. "Namjooniee kenapa kau tidak menyambut sepupumu yang tampan ini eoh?"

Masih tak ada jawaban.

Pria itu berjalan memasuki kamar Namjoon yang ternyata kosong. Ia lalu mengecek bagian kamar mandi dan walk in closet yang ternyata juga kosong.

"Di mana sebenarnya pria jenius itu. Tidak mungkin jika dia sedang di luar, kulihat tadi mobilnya terparkir di basement." Gumamnya seraya beranjak meninggalkan kamar.

Kabar jika Namjoon tiba-tiba menghilang sedikit mengagetkannya tadi ditengah-tengah rapat. Maklum saja, seminggu belakangan ini ia sedang direpotkan dengan urusan entertainment, termasuk proses produksi lagu yang membuatnya mendekam di studio selama berhari-hari. Banyak artis-artis yang akan memasuki masa comeback dan debut, jadi permintaan pembuatan musik meningkat begitu tajam. Dan ia tak menyangka jika telah melewatkan berita sepenting ini.

Kalau saja Jungkook tidak meneleponnya tadi, ia tak akan tahu jika Namjoon ternyayata sudah menghilang selama beberapa hari. Bodohnya lagi, ia sendiri juga tidak sadar jika pria itu sama sekali tak menghubunginya selama seminggu belakangan.

CKLEK!

"Aah disana kau rupanya." Ujarnya begitu melihat sosok yang dicarinya sedang duduk bersandar di kursi kerja. "Aku mencarimu kemana-mana Joon. Kepala Choi bilang jika kau sedang ambil libur selama seminggu."

Pria bersurai ash brown tak merespon ujaran itu. Ia tampak memejamkan mata dengan tangan kiri yang menyangga sebelah kepalanya. Tak seperti biasanya, wajah tampan pria itu terlihat kuyu dengan rambut berantakan dan piyama tidur yang masih melekat di tubuh tingginya.

Benar-benar bukan Namjoon sekali.

"Hey, kau sedang ada masalah? Penampilanmu kacau sekali Joon."

"Aku sedang tidak mood. Pergilah." Usir Namjoon.

"Semua orang mencarimu. Mereka semua panik karena kau menghilang secara tiba-tiba." Hoseok mendudukkan diri di sofa. "Terutama Seokjin."

DEG!

"Jangan bicarakan dia."

Hoseok menyeringai tipis. "Why?"

"None of your business."

Pria berlesung pipi tampak memutar kursinya hingga membelakangi Hoseok. Sebenarnya tanpa diberi tahupun Hoseok sudah paham apa yang sedang dialami oleh sang sepupu. Terima kasih pada Jungkook yang sudah menceritakan semuanya tadi.

"Apa jangan-jangan dia yang membuatmu jadi kacau seperti ini?"

Tak ada jawaban.

"Sepertinya aku benar." Hoseok kembali menyeringai. "Ingin cerita?"

"Pergilah." Sahutnya. "Aku sedang tidak ingin diganggu."

Hoseok terlihat bangun dari duduknya kemudian berjalan mendekati meja kerja milik Namjoon. Ia menyandarkan pinggangnya ke pinggiran meja dengan tangan yang terlipat di depan dada.

"Setidaknya bagilah sedikit agar beban pikiranmu berkurang Joon. Siapa tahu aku bisa membantu mencarikan jalan keluar untuk masalahmu."

"Aku benar-benar sedang ingin sendiri." Jawab Namjoon frustasi. "Just, leave please."

Pria bersurai oranye tampak diam selama beberapa saat sambil melirik Namjoon dari samping.

"Baik, aku pergi. Tapi kau harus ingat bahwa tidak baik terus berlarut-larut dalam kesedihan. Jika melepaskan merupakan cara untuk mendapatkan kebahagiaan, maka kau harus melakukannya." Hoseok terlihat menegakkan tubuhnya kemudian berjalan ke arah pintu. "Hubungi aku jika kau butuh sesuatu."

Tak ada respon apapun dari pria berlesung pipi hingga Hoseok keluar dari ruangan itu. Hal tersebut membuat Hoseok menggeleng pelan. Ia masih sedikit tidak percaya jika putus cinta bisa merubah sikap Namjoon sampai seperti ini. Biasanya pria itu akan tetap bersikap tenang begitu menghadapi satu masalah, tidak seperti sekarang.

Benar-benar efek yang luar biasa.

"Ternyata dia bisa frustasi juga." Gumamnya seraya menempelkan ponsel ke telinga. "Halo Kook? Ya, aku sudah menemukan Namjoon. Dia ada di rumahnya."


.

.

~Buttermints~

.

.


TING TONG!

"Sebentar!" Pria bersurai blonde tampak melangkahkan kaki ke pintu depan dengan sedikit terburu-buru. Tak ingin membuat siapapun di depan pintu menunggu terlalu lama.

CKLEK!

"Ya adaㅡ Kookie!" Pria itu langsung meloncat ke pelukan sang kekasih yang berdiri di hadapannya. "I miss you."

Jungkook membalas pelukan Taehyung sambil terkekeh pelan. Ia lalu mendaratkan beberapa kecupan ringan di pipi sang kekasih.

"Aku juga merindukanmu sayang."

"Tapi bukannya kau baru pulang besok siang?" Pelukan yang tiba-tiba dilepas oleh sang kekasih mengundang desahan kecewa dari Jungkook.

"Tak bisakah kita bicara sambil berpelukan? Akuㅡ agh!" Jungkook mengaduh kesakitan ketika merasakan cubitan keras pada perutnya.

"Masuklah. Aku tidak mau jadi tontonan orang karena bermesraan di tempat umum."

Taehyung tampak meminggirkan tubuhnya, memberi ruang untuk Jungkook masuk. Pria kelinci itu tampak masuk ke dalam apartemen dengan bibir sedikit maju, diikuti oleh Taehyung di belakangnya.

"Jadi apa alasan kepulanganmu yang mendadak ini Tuan Jeon?" Tanya pria bersurai blonde seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.

"Aku khawatir pada Namjoon-hyung, jadi aku memutuskan untuk pulang lebih cepat dari jadwal. Ah ya, kemana Jin-hyung?"

"Hyung masih tidur." Taehyung menghela napas pelan. "Dia baru bisa istirahat saat mendengar kabar tentang keberadaan Namjoon-hyung darimu."

Jungkook tersenyum kecil seraya merangkul pinggang sang kekasih.

"Syukurlah, terima kasih karena sudah mau membantuku hyung."

"Tidak masalah. Seokjin-hyung kan temanku, sudah sewajarnya aku menemani dirinya di saat seperti ini. Lagipula kenapa kau tak menceritakan apapun tentang rencana Namjoon-hyung padaku eoh?" Kesalnya.

"Namjoon-hyung melarangku dan aku sudah berjanji padanya untuk tidak membocorkan semua rencananya." Ia mengecup lembut pipi Taehyung. "I'm sorry babe."

Taehyung mendengus. Jujur saja ia merasa kesal karena sama sekali tak diberitahu masalah Namjoon yang akan menyatakan cintanya pada Seokjin. Seandainya mereka berdua bilang, sudah tentu Taehyung akan membantu Namjoon dengan sekuat tenaga hingga Namjoon berhasil mendapatkan Seokjin.

"Ya ya kumaafkan." Sahutnya. "Tapi Kook, apa benar jika Jin-hyung menolak Namjoon-hyung? Kau yakin tidak salah dengar?"

"Sebenarnya Namjoon-hyung tidak berkata secara langsung jika Jin-hyung menolaknya. Ia hanya bilang It's over saat itu, jadi aku menyimpulkan jika dia ditolak."

Dahi Taehyung seketika mengerut. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang aneh di sini. Menurutnya, Seokjin tak mungkin menolak Namjoon begitu saja karena ia tahu jika sebenarnya Seokjin juga menyukai pria berlesung pipi itu. Jika benar Seokjin menolaknya, pasti ada satu alasan kuat yang membuat perasaan Seokjin berubah.

Atau mungkin ada hal lain yang mereka semua tidak tahu?

"Kalau tidak salah kau tadi bilang jika ada seseorang yang menemukan buket bunga Namjoon-hyung dan mengantarkannya kepada Jin-hyung kan?"

Jungkook mengangguk cepat.

"Menurutmu kenapa buket bunga itu bisa tergeletak di parkiran? Harusnya jika mereka berdua memang bertemu, bunga itu pasti akan langsung diterima oleh Seokjin bukan malah terjatuh di tempat lain."

Tubuh Jungkook seketika menegak. "Benar juga. Jin-hyung tadi bilang jika Namjoon-hyung tidak datang menemuinya. Lalu kenapa hyung bisa mengatakan hal itu padaku?"

Mereka berdua kemudian sama-sama terdiam. Memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa terjadi. Seperti dugaan Taehyung sebelumnya bahwa memang terdapat komplikasi pada kejadian yang diceritakan oleh Jungkook dan kunci kebenarannya ada pada buket bunga serta pernyataan yang diucapkan Namjoon.

Kenapa Namjoon bisa mengatakan bahwa semuanya sudah berakhir sementara dia tidak pernah bertemu dengan Seokjin?

TING TONG!

"Biar aku saja."

Jungkook mengangguk seraya melepaskan rangkulannya. Sang kekasih segera beranjak ke depan untuk membuka pintu.

CKLEK!

"Taehyung?"

"Ah halo Yoongi-hyung!" Ia tersenyum kotak. "Mencari Jin-hyung?"

Pria pucat itu mengangguk. "Aku tidak bisa lama-lama, bisa kau panggilkan dia?"

"Dia sedang tidur. Apa perlu kubangunkan?"

"Ah jangan, tidak usah. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatnya." Ujar Yoongi seraya menyodorkan sebuah paperbag berukuran sedang ke hadapan Taehyung. "Tolong berikan ini padanya nanti. Bilang jika ini dari Ken."

Alis Taehyung seketika terangkat begitu mendengar nama yang diucapkan oleh Yoongi.

"Ken? Mantan kekasih Jin-hyung?"

Yoongi mengangguk. "Seokjin tidak cerita padamu jika dia sudah kembali ke Korea?"

What?

"Tidak. Dia tidak cerita apapun padaku."

"Jangan-jangan dia juga tidak cerita jika beberapa hari lalu Ken mengajaknya untuk kembali bersama."

Bagai tersambar petir di siang bolong, Taehyung sama sekali tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya begitu mendengar penuturan dari si pria pucat.

"Kㅡ kembali bersama? Kapan?"

"Sekitar empat hari yang lalu kurasa." Yoongi melirik jam di pergelangan tangannya. "Tanyakan saja pada Seokjin nanti jika dia sudah bangun. Aku harus pergi sekarang."

"Aㅡ ah ya, akan kuberikan titipan ini pada hyung nanti." Taehyung tersenyum kecil.

Setelah mengucapkan terima kasih pada Taehyung, Yoongi bergegas meninggalkan unit apartemen milik Seokjin. Pria bersurai blonde terlihat menutup pintu kemudian menghampiri sang kekasih dengan terburu-buru.

Ya, semuanya sudah jelas sekarang. Kepingannya sudah lengkap dan ia yakin jika bayangan kejadian yang sedang berputar di kepalanya saat ini sama persis dengan kejadian empat hari lalu.

"Siapa yangㅡ huh? Ada apa dengan wajahmu?"

"Aku tahu Kook." Taehyung melemparkan tubuhnya di sebelah Jungkook. "Aku tahu apa yang terjadi pada Namjoon."

Raut wajah Jungkook seketika berubah serius.

"Mantan kekasih Jin-hyung sudah kembali ke Korea dan dia telah mengajak Jin-hyung untuk kembali bersama sekitar empat hari yang lalu. Itu berarti hari yang sama saat Namjoon-hyung akan menyatakan perasaannya pada Jin-hyung." Jelas Taehyung.

"Mantan kekasih? Dari mana kau tahu semua informasi ini?"

"Yoongi-hyung baru saja mengantarkan paperbag ini." Ia meletakkan paperbag di atas meja. "Dan dia menceritakan hal itu padaku."

Mereka berdua kemudian saling melempar pandangan satu sama lain.

"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku?"

Sang kekasih tampak mengangguk. "Kurang lebih."

Mereka tampak terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya pria bersurai gelap kembali angkat bicara.

"Aku punya rencana."

"Rencana?" Taehyung mengangkat alisnya.

"Uhum. Tolong kau tanyakan masalah Ken itu pada Jin-hyung nanti, setelah itu akan kuberitahu rencana selanjutnya."

"Kenapa tidak kau ceritakan sekarang saja eoh? Jangan membuatku penasaran." Kesal Taehyung.

"Kelanjutan rencana ini bergantung pada apa yang diceritakan Seokjin padamu nanti." Jungkook merangkul pinggang sang kekasih. "Sabar, oke?"

Taehyung menghela napas pelan seraya menyandarkan tubuhnya ke dada sang kekasih.

"Okay."


.

.

~Buttermints~

.

.


PING!

...

1 New message from Hobi

...

Pria berlesung pipi membuka pesan itu dengan malas. Ia baru saja menyalakan ponselnya setelah empat hari dan berpuluh-puluh notifikasi terus membanjiri ponselnya sejak tadi.

Dia hanya ingin istirahat god damnit.

...

Fr: Hobi

Jangan lupa untuk datang ke perayaan ulang tahunku besok di club King Cards jam 8 malam. Kau harus datang karena kau sudah berjanji padaku waktu itu, tadi aku lupa mengingatkanmu ;))

Lelaki sejati tidak pernah mengingkari janjinya, got that?

...

"Sial. Kenapa waktu itu aku mau membuat janji dengan kuda menyebalkan ini." Geram Namjoon seraya mengusak kasar surai ash brown miliknya hingga berantakan.


.

.

TBC

.

.